Antara Bantuan , Sumbangan, dan Pungutan di Sekolah

Program dan kegiatan di sekolah sangat komplek membutuhkan pendanaan dan  pengelolaan yang baik, termasuk pengelolaan keuangan sekolah. Pengelolaan keuangan ini sangat penting karena setiap kegiatan di sekolah pasti membutuhkan biaya. Semakin banyak program yang disusun  untuk meningkatkan mutu pendidikan dan percepatan  mencapai 8 standar nasional pendidikan, maka semakin banyak pula biaya yang dibutuhkan sekolah.

Untuk memenuhi biaya tersebut  sekolah harus menggali sumber-sumber pendanaan yang sah atau sesuai dengan aturan yang berlaku. Sumber pendanaan dapat berasal dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah seperti  BOS dan BOSDA. Sumber dana dari swadaya sekolah misalnya, pengelolaan kantin, koperasi, kebun, wartel dan lain-lain. Ada juga   yang berasal dari pembiayaan alternatif berupa proyek pemerintah misalnya blockgrant dan machinggrant (imbal swadaya).

Selain itu pendanaan ada juga yang bersumber dari masyarakat yang dikenal dengan istilah bantuan, sumbangan dan pungutan. Sumber dana dari masyarakat ini harus mengacu pada  Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang pendanaan pendidikan. Pada  pasal 2 ayat 1 dan 2  dinyatakan :
Pasal 2

(1) Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

(2) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
     a. penyelenggara atau satuan pendidikan yang didirikan masyarakat;
     b. peserta didik, orang tua atau wali peserta didik; dan
     c. pihak lain selain yang dimaksud dalam huruf a dan huruf b yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.

Pendanaan yang berasal dari masyarakat lebih teknis diatur dalam Permendikbud RI Nomor 44 Tahun 2012 tentang Pungutan dan Sumbangan Biaya Pendidikan Pada Satuan Pendidikan Dasar dan Permendikbud RI Nomor 75 tahun 2016 tentang komite sekolah.

Dalam  kedua Permendikbud  tersebut ditas dijelaskan pengertian bantuan, sumbangan di sekolah  sebagai berikut:

1. Bantuan  Pendidikan 

Bantuan Pendidikan, yang selanjutnya disebut dengan Bantuan adalah pemberian berupa uang/barang/jasa oleh pemangku kepentingan satuan pendidikan di luar peserta didik atau orangtua/walinya, dengan syarat yang disepakati para pihak.

Dari pengertian diatas jelas bantuan yang dimaksud berupa pemberian dalam bentuk uang atau barang maupun jasa dari pemangku kepentingan satuan pendidikan diluar peserta didik atau orang tua /wali.(masyarakat bukan orang tua peserta didik) dan pemberian tersebut bersifat kesepakatan.

Maka jelas bantuan ini bersifat relative dan sulit diperhitungkan dalam program dan hal itu mungkin dapat dilingkungan masyarakat tertentu. Penggalangan dana berupa bantuan ini dilakukan oleh komite sekolah.

2. Sumbangan Pendidikan 

Sumbangan Pendidikan, yang selanjutnya disebut dengan sumbangan adalah pemberian berupa uang/barang/jasa oleh peserta didik, orangtua/walinya baik perseorangan maupun bersama-sama, masyarakat atau lembaga secara sukarela, dan tidak mengikat satuan pendidikan.

Sama halnya dengan bantuan, sumbangan juga merupakan pemberian boleh berupa uang/barang /jasa namun sumbernya adalah  peserta didik, orang tua/walinya baik perseorangan maupun bersama , masyarakat atau lembaga yang bersifat sukarela dan tidak mengikat. Penggalangan dana sumbangan pendidikan ini juga dilakukan oleh komite sekolah.

Bantuan dan/atau  sumbangan  seperti penjelasan diatas ada juga batasannya yaitu tidak diperbolehkan berasal dari a) perusahaan rokok dan/atau lembaga yang menggunakan merek dagang, logo, semboyan dan/atau warna yang dapat diasosiasikan sebagaiciri khas perusahan rokok; b) perusahaan minuman beralkohol dan/atau lembaga yang menggunakan merek dagang, logo, semboyan, dan/atau warna yang dapat diasosiasikan sebagai ciri khas perusahan minuman beralkohol; dan/atau c) partai politik.

Adapun penggunaan dana bantuan dan sumbangan diperuntukkan untuk 1) menutupi kekurangan biaya satuan pendidikan,2) pengembangan sarana prasarana 3) Pembiayaan kegiatan operasional Komite Sekolah dilakukan secara wajar dan harus dipertanggungjawabkan secara transparan dan  dana hasil Penggalangan dibukukan di rekening bersama antara Komite ekolah dan Sekolah

3. Pungutan Pendidikan

Pungutan Pendidikan, yang selanjutnya disebut dengan pungutan adalah penarikan uang oleh sekolah kepada peserta didik, orangtua/walinya yang bersifat wajib, mengikat, serta jumlah dan jangka waktu pemungutannya ditentukan.

Berbeda dengan bantuan dan sumbangan, pengutan bukan berupa pemberian akan tetapi penarikan dari peserta didik, orang tua/walinya dan bersifat wajib dengan jumlah dan jangka yang ditentukan, yang melakukannya adalah sekolah itu sendiri bukan komite. Komite tidak boleh melakukan pungutan akan tetapi boleh melakukan penggalangan dana melalui bantuan dan sumbangan.

Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan dalam tabel berikut:


Aspek
Bantuan
Sumbangan
Pungutan
Pungutan Liar
Tindakan
)
Pemberian
Pemberian
Penarikan
Penarikan yang tidak seharusnya
Bentuk

Uang/Barang
/Jasa
Uang/Barang
/Jasa
Uang
Uang/barang/Jasa
Pelaku

Pemangku
kepentingan
satuan pendidikan
di luar peserta didik
atau orangtua
/walinya
Peserta didik,
orangtua/walinya baik
perseorangan maupun
bersama-sama,
masyarakat atau
lembaga

Sekolah

Oknum/Lembaga
Sifat
(Syarat
dan
Ketentuan
Disepakati para
pihak
Sukarela, dan tidak
mengikat satuan
pendidikan
Wajib, mengikat,
serta jumlah dan
jangka waktu
pemungutannya
ditentukan
Tidak ada dasar hukum /Tidak ada kesepakatan




Apakah pungutan pendidikan dapat dilakukan sekolah ?

Untuk menjawab pertanyan tersebut, tentu dikembalikan kepada aturan yang berlaku seperti yang dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 pada bab V pasal 51 dan 52 seperti berikut:

BAB V
SUMBER PENDANAAN PENDIDIKAN

Pasal 51

(4) Dana pendidikan satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dapat bersumber dari:
a. anggaran Pemerintah;
b. bantuan pemerintah daerah;
c. pungutan dari peserta didik atau orang tua/walinya yang dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan;
d. bantuan dari pemangku kepentingan satuan pendidikan di luar peserta didik atau orang tua/walinya;
e. bantuan dari pihak asing yang tidak mengikat; dan/atau
f. sumber lainnya yang sah.

Pasal 52
Pungutan oleh satuan pendidikan dalam rangka memenuhi tanggung jawab peserta didik, orang tua, dan/atau walinya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 dan Pasal 51 ayat (4) huruf c, ayat (5) huruf c, dan ayat (6) huruf d wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:

a. didasarkan pada perencanaan investasi dan/atau operasi yang jelas dan dituangkan dalam rencana strategis, rencana kerja tahunan, serta anggaran tahunan yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan;

b. perencanaan investasi dan/atau operasi sebagaimana dimaksud pada huruf  a diumumkan secara transparan kepada pemangku kepentingan satuan pendidikan;

c. dana yang diperoleh disimpan dalam rekening atas nama satuan pendidikan;

d. dana yang diperoleh dibukukan secara khusus oleh satuan pendidikan terpisah dari dana yang diterima dari penyelenggara satuan pendidikan;

e. tidak dipungut dari peserta didik atau orang tua/walinya yang tidak mampu secara ekonomis;

f. menerapkan sistem subsidi silang yang diatur sendiri oleh satuan pendidikan; g. digunakan sesuai dengan perencanaan sebagaimana dimaksud pada huruf a;

h. tidak dikaitkan dengan persyaratan akademik untuk penerimaan peserta didik, penilaian hasil belajar peserta didik, dan/atau kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan;

i. sekurang-kurangnya 20% (dua puluh persen) dari total dana pungutan peserta didik atau orang tua/walinya digunakan untuk peningkatan mutu pendidikan;

j. tidak dialokasikan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk kesejahteraan anggota komite sekolah/madrasah atau lembaga representasi pemangku kepentingan satuan pendidikan;

k. pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan dana diaudit oleh akuntan public dan dilaporkan kepada Menteri, apabila jumlahnya lebih dari jumlah tertentu yang ditetapkan oleh Menteri;

l. pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan dana dipertanggung jawabkan oleh satuan pendidikan secara transparan kepada pemangku kepentingan pendidikan terutama orang tua/wali peserta didik, dan penyelenggara satuan pendidikan; dan

m. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dari peraturan perundang-undangan di atas, jelas sekolah dapat dan dimungkinkan melakukan pungutan untuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah namun harus memenuhi aturan yang berlaku. 

Sekolah harus terlebih dahulu menyusun perencanaan yang matang dalam bentuk RKJM, RKT dan RKAS yang mengacu pada standar nasional pendidikan , kemudian dirapatkan dengan orang tua peserta didik dengan penuh pertimbangan tidak memungut dari orang tua yang tidak mampu, melakukan subsidi silang dan tidak boleh dikaitkan dengan persyaratan akademik. Ketentuan tersebut dituangkan AD/ART sebagai kesepakatan sah dengan orang tua/wali peserta didik. 

Dalam hal ini sekolah harus melakukan pendataan yang akurat dan transpran sehingga tidak menimbulkan kecemburuan diantara sesama orang tua peserta didik. Sekolah juga tidak boleh melakukan pungutan sebelum ada kesepakatan bersama antara sekolah, komite dan orang tua peserta didik.

Khusus untuk pendidikan dasar SD/SMP (wajib belajar) masih merujuk kepada permendikbud Nomor 44 tahun 2012 dimana sekolah tidak diperkenankan melakukan pungutan kecuali kepada sekolah yang dikembangkan/dirintis menjadi sekolah bertaraf internasional. 

Bahan bacaan:
1. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 Tentang Pendanaan Pendidikan
2. Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 Tentang Komite Sekolah 
3.Permendikbud Nomor 44 Tahun 2012 Tentang Pungutan dan Sumbangan Biaya Pendidikan Dasar
3. Surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudanyaan Nomor 82954/A-A.4/RK/2017 Tentang Penjelasan Larangan Pungutan di SMA/SLB







Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, Dan Model Pembelajaran


Dalam penyusunan rencana pembelajaran sering ditemukan tidak selarasnya antara perencanaan yang disusun guru  dengan  pelaksanaan pembelajaran yang disajikan guru. Ditemukan  tumpang tindih antara pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan Model Pembelajaran. Artinya masih banyak guru yang mengalami kesulitan dalam membedakan istilah di atas. Untuk sekedar berbagi pengalaman di bawah ini disajikan tentang pengertian istilah –istilah di tas dengan harapan guru semakin memahaminya dan mampu menyusun rencana pelaksanaan yang lebih baik .

1. Pendekatan Pembelajaran

Dalam Permendikbud No.103 Tahun 2014, disebutkan bahwa pendekatan pembelajaran merupakan cara pandang pendidik yang digunakan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dan tercapainya kompetensi yang ditentukan. Hal ini sejalan dengan pendapat T. Raka Joni (dalam Abimanyu, 2008) yang menyatakan bahwa pendekatan sebagai cara umum dalam memandang permasalahan atau objek kajian, sehingga berdampak ibarat seseorang menggunakan kacamata dengan warna tertentu di dalam memandang alam.
Secara umum, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
(1) pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered approach) dan
(2) pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered approach).
Pendekatan yang disarankan dalam implementasi kurikulum 2013 adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pendekatan yang paling populer dan disarankan adalah 

a. Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi, 2002). Prinsip dalam CTL yaitu:
(1) konstruktivisme, (2) penemuan (inquiry), (3) bertanya (questioning), (4) masyarakat belajar (learning community), (5) pemodelan (modelling), (6) refleksi, dan (7) penilaian autentik.

b. Pendekatan Saintifik
Pendekatan saintifik adalah suatu pendekatan pembelajaran yang mengikuti kegiatan ilmiah,dengan alur urutan kegiatan mengamati,menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan yang biasa di sebut 5M. Dalam implementasinya urutan kegiatan tidak harus hirarkis sangat tergantung kondisi saat pembelajaran.

Pada awal pembelajaran, guru memfasilitasi dengan aktivitas di mana siswa untuk pertama kali belajar dengan mengamati, dengan menggunakan inderanya dan juga pikirannya. Bentuk aktivitas dapat berupa problem/masalah, alat peraga, kasus, contoh dan bukan contoh, dan lain sebagainya. Selanjutnya, siswa akan bertanyatanya (baik mandiri maupun dibimbing oleh guru), mengenai apa yang belum dipahami, apa yang perlu dicari, bagaimana cara mencarinya, alternatif apa yang dapat dilakukan, bagaimana melakukannya, dsb. 

Siswa menerapkan alternatif cara pemecahan dengan sambil mengumpulkan informasi yang ditemui sebanyakbanyaknya dan seselektif mungkin. Setelah mengumpulkan informasi dengan menerapkan strategi  emecahan atau percobaan, siswa menalar (mencari kesimpulan) atau mengasosiasikan hasil-hasil hingga membentuk satu atau beberapa kesimpulan. Siswa juga difasilitasi untuk mengkomunikasikan hasilnya dengan berdiskusi atau dilaporkan, baik dengan siswa lainnya maupun dengan guru.

2. Strategi Pembelajaran

Berdasarkan pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Contohnya, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dapat menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran kooperatif. Strategi pembelajaran merupakan langkah-langkah sistematik dan sistemik yang digunakan pendidik untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses
pembelajaran dan tercapainya kompetensi yang ditentukan (Permendikbud No.103 Tahun 2014).
Secara umum strategi pembelajaran dapat dibedakan ke dalam beberapa klasifikasi:

a. Expository versus discovery
Expository merupakan strategi pembelajaran yang menitikberatkan dalam penyampaikan bahan materi secara sistematis dan lengkap, dimana posisi siswa sebagai penerima. Sementara discovery dimaksudkan sebagai strategi yang menempatkan siswa lebih aktif dengan kegiatan menemukan dimana materi disampaikan tidak dalam bentuk final.

b. Group versus Individual
Strategi group mementingkan peran siswa dalam kegiatan kelompok untuk bekerjasama dan terlibat dalam aktivitas kelompok. Sementara strategi individual dimaksudkan lebih menitikberatkan pada peran individu secara mandiri dalam mencapai kemajuan belajarnya.
Dari keterangan di atas strategi yang umum dilaksanakan guru adalah ekspository, discovery, group dan individual, tentunya masing-masing strategi tersebut mempunyai kelemahan dan kelebihan. Dari empat strategi tersebut dikembangkan strategi-strategi lainnya.

3. Metode Pembelajaran

Metode merupakan langkah operasional atau implementatif dari strategi pembelajaran yang dipilih dalam mencapai tujuan belajar. Ketepatan penggunaan suatu metode akan menunjukkan berfungsinya suatu strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran masih bersifat konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu.
Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “away in achieving something” (Wina Sanjaya, 2010).

Dalam  Permendikbud No.103 Tahun 2014, bahwa metode pembelajaran merupakan cara atau teknik yang digunakan oleh pendidik untuk menangani suatu kegiatan pembelajaran yang mencakup antara lain ceramah, tanya-jawab, diskusi. Ini senada dengan pendapat Hasibuddin dan Moedijono (2002: 3) bahwa metode pembelajaran adalah alat yang dapat merupakan bagian dari perangkat alat dan cara dalam pelaksanaan suatu pembelajaran misalnya : ceramah, diskusi, demonstrasi, laboratorium, tanya jawab, latihan (drill), pemecahan masalah, proyek, praktikum dan sebagainya.

4. Teknik Pembelajaran

Metode pembelajaran selanjutnya dapat dijabarkan ke dalam teknik pembelajaran. Teknik pembelajaran menurut T. Raka Joni (dalam Abimanyu, 2008) menunjuk kepada ragam khas penerapan sesuatu metode dengan latar tertentu, seperti kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan peralatan, kesiapan siswa dan sebagainya. Sementara Sanjaya (2010) mengartikan teknik pembelajaran sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Ada beberapa teknik yang perlu dipahami guru dalam pembelajaran misalnya, teknik bertanya, teknik mengelola diskusi, teknik menjelaskan dan lain-lain.

5. Taktik Pembelajaran

Taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual (Sanjaya, 2010). Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Misalnya dalam penyajiannya, guru A cenderung banyak berkeliling kelas dan diselingi dengan humor, sementara guru B  dominan di depan kelas menggunakan presentasi berbantuan komputer dan kurang memiliki sense of humor. Taktik pembelajaran sangat berpengaruh pada aktivitas siswa. Bisa saja Guru A dan B menggunakan model, pendekatan dan metode yang sama tapi taktik pasti berbeda sehingga guru A lebih disenangi para siswa dengan rasa humornya.  

6. Model Pembelajaran

Di dalam Permendikbud No.103 Tahun 2014 dinyatakan bahwa: model pembelajaran merupakan kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan, dan budaya. Di lain pihak, model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujuan belajar tertentu  danberfungsi sebagai  pedoman dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar (Syaiful Sagala, 2005).  

Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan pada prinsip-prinsip pendidikan, teori psikologis, sosiologis, psikiatri, analisis sistem, atau teori lain (Joyce dan Weil, 1980). Adapun  model pembelajaran  memiliki  ciri  sebagai berikut:

a. Adanya urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax)
Suatu model pembelajaran memuat sintaks atau urutan atau tahap-tahap kegiatan belajar yang diistilahkan dengan fase, yang menggambarkan bagaimana praktik model tersebut, misalnya bagaimana memulai dan mengakhiri pelajaran.doman dalam merencanakan dan melaksanakan
aktivitas belajar mengajar (Syaiful Sagala, 2005).

b. Adanya prinsip-prinsip reaksi (principles of reaction)
Prinsip reaksi menjelaskan bagaimana guru menghargai dan/atau menilai peserta didik serta bagaimana menanggapi apa yang dilakukan oleh peserta didik dalam proses pembelajaran.

c. Sistem sosial (sosial system)
Sistem sosial menggambarkan bentuk kerjasama guru dan siswa dalam pembelajaran atau peran guru dan siswa dan hubungannya satu sama lain serta jenis-jenis aturan yang harus iterapkan/dilaksanakan.

d. Sistem pendukung (support system)
Sistem pendukung menunjuk pada kondisi yang diperlukan untuk mendukung keterlaksanaan model pembelajaran, termasuk sarana dan prasarana, misalnya alat dan bahan, lingkungan belajar, kesiapan guru dan siswa.

e. Adanya hasil belajar yang diperoleh langsung dan dari luar (instructional dan nurturant effects)
yaitu hasil belajar yang diperoleh langsung dan hasil belajar diluar yang ditetapkan

Dalam rangka implementasi pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013,  ada 7 model pembelajaran yang dianjurkan yaitu :
 1. Model Pembelajaran Berbasis  Penemuan (Discovery Based Learning)
 2. Model Pembelajaran Berbasis masalah (Problem Based Learning)
 3. Model Berbasis Proyek (Projec Based Learning)
 4. Model Pembelajaran Dengan Pendekatan Kooperatif (Cooperative Learning)
  a. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw      
  b. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) 
  c. Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI
 5. Integrasi Pendekatan Saintifik dengan Model Pembelajaran Kooperatif
 6. Model Pembelajaran Dengan  Pendekatan( Differentiated Instruction)
 7. Model Pembelajaran Dengan Pendekatan Open-Ended

Selain model pembelajaran di atas masih ada model pembelajaran lain yang dapat digunakan guru sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang diajarnya. Dengan demikian pendekatan, strategi, metode, teknik dan taktik pembelajaran terangkai dalam satu kesatuan yang utuh teerbentuklah model pembe;ajaran. Akan lebih baik penulisan dalam RPP dimulai dengan urutan : Model pembelajaran, pendekatan dan metode atau metode, pendekatan dan model pembelajaran. Sedangkan Teknik dan taktik tidak perlu dicantumkan dalam RPP 

Baca Kumpulan Model dan Stategi Pembelajaran 

Semoga tulisan ini bermanfaat dan membuka ruang diskusi dalam penerapannya.

Bahan bacaan: 
Abimanyu, S. (2008). Strategi pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Depdikbud. (2014). Permendikbud No.103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta: Depdikbud.
Dirjen GTK (2016). Model Pembelajaran Matematika . Jakarta Kemendikbud.
Sanjaya, W. (2010).Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.



Cara Menyusun Rekomendasi Pada Laporan Pemantauan


Salah satu  tugas pengawas sekolah setelah melakukan pemantauan adalah membuat rekomendasi . Hal ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan pemantauan terhadap 8 standar pendidikan. Tanpa rekomendasi yang baik suatu laporan pengawasan/pemantauan  tidak dapat membuat tindaklanjut yang jelas dan pasti.

Selain itu, rekomendasi menjadi bagian penting yang dinantikan untuk dibaca oleh pemangku kepentingan khususnya kepala sekolah. Oleh karena itu rekomendasi hasil pemantauan harus disusun dengan teliti dan akurat yang memenuhi standar berikut:

   1. Rekomendasi disusun berdasarkan hasil analisis data-data hasil pemantauan yang dilihat dari
       sudut pandang dan disiplin ilmu.
   2. Rekomendasi disusun berdasarkan pada kesimpulan yang dibuat
   3. Rekomendasi harus manpu menjelaskan dan menunjukkan prioritas tindakan yang harus diambil
   4. Rekomendasi harus memberikan konstribusi konstruktif penyelesaian masalah pemenuhan SNP
   5. Rekomendasi seyoyanya membentuk suatu landasan untuk evaluasi dan tindaklanjut berkala

Untuk dapat menyusun rekomendasi yang memenuhi standar di atas, pengawas sekolah perlu memahami sepuluh prinsip yang menjadi pertimbangan ketika menyusun rekomendasi yaitu:

1. Spesific (khusus/fokus)
Rekomendasi hanya berisi satu tindakan khusus. Jika lebih dari satu tindakan, maka tindakan tersebut harus dijelaskan satu persatu dan terpisah menggunakan tanda urutan atau nomor

2. Measurable (terukur)
Rekomendasi yang disusun harus bisa diukur pelaksanaan dan hasil dengan prosedur pengukuran yang tepat.

3. Achievable (dapat dicapai)
Tindakan yang direkomendasikan harus dapat dipraktikkan, diimplementasikan dan dapat dicapai atau alternatif tindakan yang paling sedikit

4. Result-oriented (berorientasi terhadap hasil)
Rekomendasi berisi tindakan-tindakan mengarahkan pada perubahan hasil secara kongkret

5. Time bound ( terikat waktu)
Rekomendasi memberi gambaran waktu yang realistis untuk memulai dan mengakhiri suatu tindakan baik dengan segera, jangka pendek maupun jangka panjang,

6. Sulution suggestive
Rekomendasi tindakan berupa solusi akurat, kongkret, ringkas dan memuat detil-detil teknis yang relevan sehingga tidak menimbulkan salah tafsir dan salah tindak,

7.Mindful of priotisation, sequencing and risk (mempertimbangkan prioritas, tata urutan 
   dan resiko)
Rekomendasi harus mengarahkan pada hal-hal yang lebih mendesak, sesuai hirarki atau urutan kepentingan dan memberi gambaran resiko yang mungkin muncul

8. Argued (beralasan)
Rekomendasi harus berbasis data, fakta , hasil analisis yang obyektif, kesimpulan yang logis dan berdasar hukum yang pasti

9. Root cause responsive (merespon akar permasalahan)
Rekomendasi harus berbasis akar masalah bukan gejala, artinya tindakan yang diusulkan lebih diarahkan kepada penyebab masalah gejala.

10. Tergeted (memilkik target)
Rekomendasi harus jelas dan akurat siapa yang melaksanakan dan kepada siapa ditujukan atau siapa sasaran yang dituju dengan mempertimbangkan tugas, tanggungjawab dan wewenang masing-masing
Aktivitas yang dianjurkan dalam rekomendasi dapat dipilih dengan pertimbangan prinsip diatas seperti : melalui konsultasi, diskusi, pemberian contoh, worshop, pengajuan proposal, upaya mandiri, pemenuhan melalui MBS, lokakarya, dan lain-lain.

Contoh pemberian rekomendasi, Seorang pengawas sekolah memperoleh data hasil pemantauan terhadap:
1.Standar sarana dan prasarana
   a.  Memiliki ruang pimpinan dengan luas tidak sesuai ketentuan
   b. Tidak memiliki ruang konseling
   c. Tidak memiliki ruang UKS
   d. Memilki jamban dengan jumlah, ukuran, dan sarana tidak sesuai ketentuan
   e. Tidak memiliki gudang

Dari data di atas disusun rekomendasi dapat disusun sebagai berikut:
Sekolah diharapkan melengkapi ruang pimpinan, ruang konseling, jamban dan gudang dengan menyusun proposal pengadaan bangunan dan mengajukan kepada komite, pihak dinas pendidikan dan pihak terkait lainnya.

2. Standar pengelolaan:
Hasil pemantauan standar pengelolaan terhadap suatu sekolah diperoleh data sebagai berikut:
   a. Belum menyusun  RKS/RKJM
   b. Belum memiliki RKT
   c. Sekolah memiliki RKAS

Rekomendasi dapat disusun sebagai berikut:
Sekolah diharapkan menyusun rencana kerja jangka menengah dan rencana kerja tahunan . Penyusunan RKAS  agar berdasarkan rencana kerja tahunan dan  melaksanakan program pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan.

Dengan pemberian rekomendasi yang jelas dan akurat sekolah akan dapat melaksanakan tindakan perbaikan   tentang apa yang harus dilaksanakan untuk mengatasi kendala atau permasalahan yang dihadapi.

Konsep dan Langkah Memilih Model Pembelajaran

A.  Konsep Model Pembelajaran

Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual (bingkai)  yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dikatakan sebuah model pembelajaran menurut naskah model pembelajaran kajian konstitusional oleh Dit. PSMA tahun 2016  apabila memenuhi  lima unsur dasar sebagai berikut:

1. Syntax atau fase yaitu langkah-langkah operasional pembelajaran yang akan dilaksanakan

2. Social system yaitu  suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran

3. Principles of reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan   merespon peserta didik

4.  Support system yaitu  segala , bahan, alat,  sarana atau lingkungan belajar yang mendukung  pembelajaran, dan

5. Instructional dan nurturant effects yang merupakan hasil belajar yang diperoleh langsung      berdasarkan tujuan yang ditetapkan (instructional effects) dan hasil belajar di luar yang   ditetapkan (nurturant effects)

Sedangkan Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 tentang model Pembelajaran adalah kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan, dan budaya. Untuk lebih jelasnya kita perhatikan prosedur pembelajaran yang dilakukan oleh guru A dan guru B dengan materi jarak antara titik dan garis dalam ruang dimensi tiga  sebagai berikut.


Guru A
Guru B
1.       Setelah memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran peserta didik, guru meminta peserta didik duduk    berdasarkan kelompok yang telah ditentukan sebelumnya
2.        Guru membagikan bangun ruang dimensi tiga (kubus, balok, limas, dll) kepada setiap kelompok, dan    masing-masing kelompok mendapat bangun ruang yang berbeda.
3.        Guru meminta peserta didik untuk menentukan jarak sebuah titik terhadap garis yang harus didiskusikan    dalam kelompok.
4.        Peserta didik mengerjakan tugas dengan berdiskusi dalam kelompok, sambil sesekali bertanya kepada guru,    atau mencari dari buku peserta didik maupun buku lain yang relevan, atau dari internet.
5.        Sambil berjalan berkeliling guru mengarahkan peserta didik untuk menemukan jarak tersebut dengan berbagai    cara, termasuk mengukur, atau dengan menggunakan aturan yang telah dipelajarinya.
6.        Guru meminta perwakilan kelompok mengemukakan hasil diskusi masing-masing kelompok untuk    ditanggapi oleh kelompok lain, (guru mencatat hasil dari semua kelompok sambil sesekali memberi    arahan atau masukan).
7.        Setelah semua kelompok memaparkan hasil    diskusinya, guru mengulas kembali hasil paparan kelompok dan meminta peserta didik menyimaknya.
8.        Guru dan peserta didik membuat simpulan berdasarkan hasil diskusi kelas.
9.       Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan memberikan tugas dan meminta peserta didik mempelajari materi    yang akan dibahas pada kegiatan selanjutnya, kemudian memberi mengakhiri dengan memberi salam.

1.        Setelah memberi salam, berdoa, dan mengecek kehadiran peserta didik, guru meminta peserta didik untuk    membuka buku Matematika peserta didik halaman yang memuat materi dimensi tiga.
2.        Guru meminta peserta didik membaca dan mempelajari materi tersebut, kemudian duduk di kursinya sambil    memeriksa hasil ulangan kelas lain.
3.        Peserta didik membaca buku sesuai dengan yang ditugaskan guru. Setelah 30 menit, guru (sambil tetap    duduk) meminta salah seorang peserta didik menjelaskan isi halaman yang dibacanya, dan meminta peserta didik lain    untuk menanggapinya. Sambil masih duduk di kursinya guru bertanya mengerti atau tidak, kemudian    menjelaskan materi yang sedang dipelajari peserta didik di buku.
4.        Guru meminta peserta didik untuk mengerjakan soal-soal yang ada di buku (waktu yang disediakan sampai jam    pelajaran selesai).
5.        Setelah bel berbunyi namun peserta didik belum selesai mengerjakan, maka guru meminta melanjutkan    pekerjaannya di rumah.
6.        Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan memberi salam.


 Guru A dan guru B  telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan prosedurnya    masing-masing, namun belum bisa disebut telah menerapkan model pembelajaran tertentu, dengan alasan bahwa     pembelajaran yang dilakukan oleh guru A dan guru B belum memenuhi di antara lima unsur dasar model pembelajaran, yaitu syntax, social system, principles of reaction, support system, dan instructional dan nurturant effects.

Dari contoh di atas maka semakin jelas bagi kita tentang pengertian model pembelajaran. Model pembelajaran yang dipilih hendaknya dapat menciptakan lingkungan belajar  berbasis aktivitas berdasarkan karakteristik (1) interaktif dan inspiratif; (2) menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif; (3) kontekstual dan kolaboratif; (4) memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian peserta didik; dan (5) sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, serta perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Hal tersebut sesuai dengan tuntutan permendikbud nomor 22 tahun 2016.

B. Langkah Pemilihan Model Pembelajaran

Pemahaman tentang konsep model pembelajaran akan membantu guru dalam menentukan model yang digunakan dalam pembelajaran. Cara menentukan sebuah model pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran  berbeda untuk setiap mata pelajaran, karena tiap mata pelajaran memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Untuk itu guru perlu menyesuaikan model pembelajaran yang dipilih dengan karakteristik mata pelajaran yang diajarkanya.  Secara umum langkah-langkah memilih model pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran adalah sebagai berikut:

1. Memahami Karakteristik Mata Pelajaran

Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristik pasangan KD pada KI-1 dan/atau KD pada KI-2 yang dapat mengembangkan kompetensi sikap, dan kesesuaian materi pembelajaran dengan tuntutan pada pasangan KD pada KI -3 dan/atau KD pada KI- 4 untuk mengembangkan kompetensi pengetahuan dan/atau keterampilan.

2. Cermati Indikator Pencapaian

Kesesuaian model pembelajaran dengan indikator pencapaian Kompetensi yang telah dijabarkan dar KD, dapat dilihat dari tuntutan indikator yang digambarkan oleh kata kerja operasional.

3. Cermati Tujuan Pembelajaran yang Disusun

Kesesuaian model pembelajaran dengan tujuan pembelajaran yang spesifik dalam mengembangkan potensi dan kompetensi, misalnya untuk mengembangkan interaksi sosial, atau mengolah informasi  maka dapat dipilih model pembelajaran yang cocok.

4. Memahami karakterisitik Peserta didik

Kesesuian model pembelajaran dengan karakteristik dan modalitas peserta didik, dan sarana pendukung belajar lainnya  dimana karakter dan kemampuan peserta didik yang berbeda dapat berpengaruh terhadap kebermanfaatan penggunaan model pembelajaran.

5. Kesesuaian model pembelajaran dengan pendekatan yang akan digunakan

Penggunaan model pembelajaran disesuaikan dengan pendekatan yang akan digunakan. Pendekatan pembelajaran merupakan cara pandang yang digunakan seorang guru untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran misalkan menyesuaikan dengan pendekatan berbasis keilmuan yang mengembangkan pengalaman belajar peserta didik melalui kegiatan mengamati/menanya/mengumpulkan data/mengasosiasi/mengomunikasikan, ataupun dengan menyesuaikan pendekatan berbasis genre yang bertujuan mengoptimalkan kompetensi berbahasa peserta didik, dan lain-lain.

6. Kesesuaian dengan dimensi pengetahuan

Kesesuaian dengan tuntutan dimensi pengetahuan, misalnya untuk mendorong kemampuan peserta didik menghasilkan karya kontekstual maka disarankan menggunakan model Project Based Learning, menyingkap sesuatu konsep yang belum mengemuka menggunakan Discoveri Learning, menemukan sesuatu konsep secara sistematis menggunakan Inquiry Learning, melatihkan keterampilan menyelesaikan masalah menggunakan Problem Based Learning, melatih kerjasama menggunakan Cooperatif Learning, dan lain-lain.

7. Kesesuaian dengan pendekatan penilaian yang dilakukan

Hal yang terakhir yang menjadi pertimbangan adalah  Kesesuaian pendekatan penilaian dengan model pembelajaran dan/atau metode pembelajaran. Penilaian Penilaian seharusnya dilaksanakan melalui tiga pendekatan, yaitu assessment of learning (penilaian akhir pembelajaran), assessment for learning (penilaian untuk pembelajaran), dan assessment as learning (penilaiansebagai pembelajaran).

Demikian konsep dan pemilihan model pembelajaran yang dapat diterapkan guru, sehingga tercipta pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan bagi peserta didik.