Langkah Efektif Penerapan Metode Pembelajaran Brainstorming

A. Pengertian 

Untuk memahami pengertian metode pembelajaran Brainstorming atau metode curah pendapat mari kita pahami pendapat para ahli tentang pengertian metode brainstorming seperti di bawah ini: 

Menurut Mufidah (2010) bahwa, Metode brainstorming adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman dari semua peserta. 

Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode brainstorming pendapat orang lain tidak perlu ditanggapi. 

Sedangkan Aqib, Zainal (2013) mengemukakan bahwa, Metode brainstorming adalah suatu teknik atau cara mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Metode ini digunakan dengan melontarkan suatu masalah oleh guru kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru. 

Metode ini dapat pula di artikan sebagai suatu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang sangat singkat

Selanjutnya Widowati (2008) mendefinisikan metode brainstorming adalah suatu situasi di mana sekelompok orang berkumpul untuk menggeneralisasikan ide-ide baru seputar area spesifik yang menarik. 

Brainstorming dapat juga diartikan sebagai suatu teknik konferensi di mana tiap-tiap kelompok berusaha mencari suatu solusi pada suatu permasalahan yang spesifik melalui pemunculan ide-ide secara spontan oleh masing-masing anggota kelompok. Brainstorming merupakan alternatif upaya pengembangan kemampuan berpikir kreatif. 

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran brainstorming(curah pendapat) merupakan metode pembelajaran yang digunakan guru dengan cara mengumpulkan pendapat , gagasan, informasi dan pengalaman  dari semua  peserta didik berkaitan dengan topik atau materi pelajaran yang dibahasnya, dari berbagai pendapat yang dihimpun guru tersebut kemudian dilakukan evaluasi sejauh mana pemahaman peserta didiknya. 

Metode brainstorming digunakan dengan cara  melontarkan suatu masalah oleh guru kemudian masing-masing  peserta didik secara bergiliran  menyatakan pendapat , gagasan , informasi atau komentar dan guru atau pemimpin kelompok mengumpulkannya. 

Metode ini dapat pula di artikan sebagai suatu cara untuk mendapatkan banyak ide dari peserta didik  dalam waktu yang sangat singkat, pendapat yang dikemukakan peserta didik tidak langsung ditanggapi oleh peserta lain. 

Metode  brainstorming dapat yang merangsang berpikir kritis  peserta didik  dan membandingkan pendapatnya dengan pendapat peserta didik lain sehingga memperluas wawasan mereka. 

Dalam pelaksanaannya tiap peserta didik di beri kesempatan untuk menyampaikan  pendapat atau gagasannya terhadap topik atau permasalahan yang dikemukakan guru. Peserta didik yang tidak dibolehkan  mengkritik atau mendebat terhadap gagasan atau pendapat yang  disampaikan temannya. 

Pendapat atau gagasan itu di tulis di papan tulis atau pada kertas lebar yang disediakan. Selesai di tulis pendapat atau gagasan itu di kaji dan di nilai oleh kelompok tersebut atau oleh tim yang di tunjuk untuk melakukan kajian. 

Metode Brainstorming merupakan cara cerdas untuk menggeneralisasikan ide-ide baru ataupun ide-ide yang kreatif. Dalam brainstorming seseorang dapat mengkombinasikan ide-ide sendiri dengan ide orang lain untuk memunculkan ide baru atau pun menggunakan ide orang lain untuk merangsang munculnya ide. 

Baca juga: Model Kompetensi Dalam Pengembangan Profesi Guru

Proses pembelajaran yang menggunakan teknik tersebut, siswa akan merasa lebih bebas dalam berpikir dan berpindah menuju suatu area pikiran baru sehingga dapat menghasilkan sejumlah ideide baru dan pemecahan masalah.

B. Tujuan Pembelajaran Brainstorming

Menurut Wahyudi (2008) bahwa tujuan brainstorming adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mind map) untuk menjadi pembelajaran bersama". 

Pembelajaran brainstorming merupakan salah satu metode pembelajaran yang memiliki manfaat agar tujuan pembelajaran tercapai melalui kegiatan belajar mandiri dan peserta didik mampu menjelaskan temuannya pada pihak lain. Yang diharapkan, selain agar tujuan pembelajaran tersebut tercapai, maka kemampuan siswa dalam belajar mandiri dan mengemukakan pendapat kritis dapat ditingkatkan.

C. Langkah-langkah Efektif Penerapan Metode Brainstorming

Langkah ke -1

Guru melakukan analisis Kompetensi Dasar (KD)  sehingga dapat di pilih materi mana yang tepat di bahas dengan metode brainstorming. Selanjutnya guru menuangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Langkah ke - 2 

Guru menyusun pertanyaan-pertanyaan atau kasus berupa tulisan atau gambar untuk diajukan kepada peserta didik, memilih sumber -sumber, memperkirakan waktu yang digunakan, hambatan yang mungkin ditemui dan menentukan apakah peserta didik dikelompokkan atau disajikan secara klasikal.

Langkah ke - 3

Pemberian Informasi dan motivasi, membuka pelajaran, memberikan informasi, mengajukan pertanyaan-pertanyan secara berurutan kepada seluruh peserta didik dalam kelompok, mengajak mereka untuk memberikan gagasan. Dalam hal ini guru memberikan waktu berfikir kepada peserta didik sebelum mereka memberikan tanggaban.  

Selain itu, guru menjelaskan aturan-aturan yang harus diperhatikan oleh para peserta didik, seperti : setiap orang menyampaikan satu pendapat atau gagasan dengan cepat, menyampaikan jawaban secara langsung dan  tidak boleh mengeritik atau menyela (mengintrupsi) pendapat orang lain.

Langkah ke - 4

Identifikasi, pada langkah ini peserta didik diberi kesempatan untuk memberikan sumbang saran secara bergiliran. Guru dapat mencatat/manampung semua tanggaban peserta didik atau ditunjuk dari pemimpin kelompok, hal ini sesuai dengan kesepakatan yang dibangun di awal. 

Langkah ke - 5

Klasifikasi, tanggaban atau sumbang saran yang terkumpul dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria atau struktur yang telah direncanakan guru  atau disepakati dengan peserta didik.

Langkah ke - 6

Verivikasi, secara klasikal atau kelompok diberi kesempatan untuk meninjau kembali tanggaban/ sumbang saran yang telah diklasifikasikan 

Langkah ke - 7

Konklusi, pemimpin kelompok atau secara bersama mencoba menyimpulkan (penyepakatan) butir-butir alternatif pemecahan masalah atau topik yang dibahas.

Dalam penerapan metode brainstorming guru perlu menggondisikan agar peserta didik tidak ada yang mendominasi, dan semua peserta didik harus mendapat giliran. Jika ada peserta didik yang kesulitan dalam mengajukan pendapat guru perlu menuntun dan memotivasi. 

Sebaiknya guru menunjuk seseorang penulis untuk mencatat pendapat dan jawaban yang diajukan peserta didik dan dapat pula menunjuk sebuah tim untuk mengevaluasi bagaimana proses dan hasil penggunaan teknik ini. 

Guru dapat memimpin kelompok agar kelompok itu dapat mengevaluasi jawaban dan pendapat yang terkumpul. Pendidik menghindarkan dominasi seseorang peserta dalam menyampaikan gagasan dan pendapat.

Baca juga: 5 Metode Terbaik Dalam pembelajaran PJJ

D. Keunggulan dan Kelemahan Metode Brainstorming

Menurut Sudjana (2005) bahwa bahwa keunggulan dan kelemahan teknik atau metode brainstorming yaitu:

1. Keunggulan 

  • Merangsang semua peserta didik untuk mengemukakan pendapat dan gagasan baru
  • Menghasilkan jawaban atau pendapat melalui reaksi berantai
  • Penggunaan waktu dapat dikontrol dan teknik ini dapat digunakan dalam kelompok besar atau kelompok kecil
  • Tidak memerlukan banyak alat tenaga profesional 
  • Peserta didik termotivasi dalam belajar
  • Melatih peserta didik untuk berfikir kritis 
  • Melatih diri untuk menghormati pendapat orang lain
  • Suasana pembelajaran demokratis dan menumbuhkan disiplin dalam diri peserta didik

2. Kelemahan 

  • Peserta didik yang kurang perhatian dan kurang berani mengemukakan pendapat akan merasa terpaksa untuk menyampaikan buah pikirannya.
  • Jawaban cenderung mudah terlepas dari pendapat yang berantai
  • Peserta didik cenderung beranggapan bahwa semua pendapat diterima
  • Memerlukan evaluasi lanjutan untuk menentukan prioritas pendapat yang disampaikan 
  • Menggunakan waktu yang lebih lama sehinga tidak semua materi dapat dibelajarkan dengan metode brainstorming
  • Peserta didik tidak segera mengetahui apakah pendapat yang dikemukakan itu salah atau sudah benar
  • Topik yang dibahas bisa melebar keluar dari yang diharapkan
  • Tidak menjamin bahwa masalah atau topik yang dibahas dapat tuntas terselesaikan

Metode pembelajaran brainstorming memiliki kelebihan dan kekurangan, guru perlu memperhatikan agar kelebihan dapat tetap dipertahankan sedangkan kekurangan diminimalisir atau jika mungkin dihindarkan. 

Baca juga; Tanya Jawab Seputar Assesmen Nasional 

E. Kesimpulan 

Metode ini tepat digunakan karena dalam waktu singkat dapat terhimpun gagasan, pendapat dan jawaban inovatif dimana tidak menghambat spontanitas penyampaian pernyataan peserta didik. Dengan teknik ini akan terjadi situasi belajar yang saling memupuk dan saling melengkapi saran dan pendapat di antara peserta didik

Perlu diketahui tidak semua materi dapat diajarkan dengan metode brainstorming, sangat tergantung karakteristik materi yang dimuat kompetensi dasar. 

Guru perlu melakukan identifikasi materi maupun karakteristik peserta didiknya apakah cocok metode ini digunakan. Selanjutnya tidak satu pun metode pembelajaran yang dapat berdiri sendiri, tapi harus dilengkapi dengan metode lain. 

Baca juga: Cara Membuat Handout Yang Berkualitas

Penerapan metode ini diawali dengan melakukan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pada bagian inti dilangkah-langkah pembelajaran dituangkan/dituliskan langkah-langkah metode pembelajaran brainstorming. Selamat mencoba.

Bahan Bacaan:
Budiyanto, Moch. Agus Krisno.(2016).  Sintaks 45 Metode Pembelajaran Dalam Student Centered Learning, Malang : UMM Pres

Strategi Menumbuhkan 6 Profil Karakter Pelajar Pancasila

Sumber daya manusia yang unggul di masa depan adalah pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesui dengan nilai-nilai Pancasila. Pengembangan Sumber Daya Manusia yang unggul harus menyentuh keseluruhan dan melibatkan berbagai pihak melalui kemitaraan yang solid antara orang tua siswa, masyarakat dan satuan pendidikan. 

Baca juga: Apa itu Asesmen Nasional 

Pelajar Pancasila  sebagai generasi masa depan bangsa ditunjukkan dengan 6 profil karakter, yaitu 1) Pribadi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak mulia 2) Mandiri, 3) Bernalar kritis, 4) Berkebhinekaan global, 5) Gotong royong dan 6) Kreatif.  

1. Beriman, Bertaqwa kepada  Tuhan YME, dan Berakhlak  Mulia

Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME , dan berakhlak  mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang  Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan  pemahaman tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Hal ini ditandai dengan:

a. Iman dan Taqwa kepada Tuhan YME: Menerapkan pemahamannya tentang  kualitas atau sifat-sifat Tuhan dalam kehidupan

b. Akhlak pribadi: Menyadari bahwa menjaga dan merawat diri penting  dilakukan bersamaan dengan menjaga dan merawat orang lain dan  lingkungan sekitarnya

c. Akhlak kepada manusia: Mengutamakan persamaan dan kemanusiaan di atas perbedaan serta menghargai perbedaan yang ada dengan orang lain

d. Akhlak kepada alam: Menyadari pentingnya merawat lingkungan sekitarnya  sehingga dia tidak merusak atau menyalahgunakan lingkungan alam, agar  alam tetap layak dihuni oleh seluruh makhluk hidup saat ini maupun  generasi mendatang

e. Akhlak bernegara: Memahami serta menunaikan hak dan kewajibannya  sebagai warga negara yang baik serta menyadari perannya sebagai warga  negara

2. Kebinekaan Global

Kebinekaan global adalah kemampuan mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, dan  tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga  menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya  baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa.

Ciri-ciri seseorang yang memiliki  kebinekaan golbal adalah:

a. Mengenal dan Menghargai Budaya: mengenali, mengidentifikasi dan mendeskripsikan berbagai macam kelompok berdasarkan perilaku, cara komunikasi dan budayanya, serta mendeskipsikan pembentukan identitas dirinya dan kelompok, juga menganalisis bagaimana menjadi anggota kelompok sosial di tingkat lokal, regional, nasional dan global 

b. Komunikasi dan interaksi Antar Budaya: Kemampuan berkomunikasi  dengan budaya yang berbeda dari dirinya secara setara dengan memperhatikan,  memahami, menerima keberadaan, dan menghargai keunikan masing-masing  budaya sebagai sebuah kekayaan perspektif sehingga terbangun  kesalingpahaman dan empati terhadap sesama 

Baca Juga: Tanya Jawab Seputar Asesmen Nasional

c. Refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan: secara  reflektif memanfaatkan kesadaran dan pengalaman kebhinekaannya agar  terhindar dari prasangka dan stereotip terhadap budaya yang berbeda, sehingga  dapat menyelaraskan perbedaan budaya agar tercipta kehidupan yang harmonis  antar sesama; dan kemudian secara aktif-partisipatif membangun masyarakat  yang damai dan inklusif, berkeadilan sosial, serta berorientasi pada  pembangunan yang berkelanjutan.

3. Gotong Royong

Kemampuan gotong-royong, adalah  kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan  suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah  dan ringan.

Ciri-ciri seseorang yang  memiliki kemampuan  bergotong royong adalah:

a. Kolaborasi: bekerja bersama dengan orang lain disertai perasaan  senang ketika berada bersama dengan orang lain dan menunjukkan  sikap positif terhadap orang lain atau keadaan di lingkungan fisik sosial.

b. Berbagi: memberi dan menerima segala hal yang penting bagi kehidupan pribadi dan bersama, serta mau dan mampu menjalani  kehidupan bersama  yang  mengedepankan penggunaan bersama  sumber daya dan ruang yang ada di masyarakat secara sehat

4. Mandiri

Pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu  kemampuan bertanggung jawab atas proses dan hasil  belajarnya atau tindakannya, dengan karakteristik sebagai berikut: 

a. Kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi : Melakukan refleksi  terhadap kondisi dirinya dan situasi yang dihadapi dimulai dari memahami  emosi dirinya dan kelebihan serta keterbatasan dirinya, sehingga ia akan  mampu mengenali dan menyadari kebutuhan pengembangan dirinya yang  sesuai dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi.

b. Regulasi diri: mampu mengatur pikiran, perasaan, dan perilaku dirinya untuk mencapai tujuan belajarnya

5. Bernalar Kritis

Kemampuan bernalar kritis yaitu mampu secara objektif memproses informasi baik        kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai nformasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Kemampuan bernalar kritis ditandai dengan  :

a. Memperoleh dan memproses informasi dan gagasan: memiliki rasa  keingintahuan, mengajukan pertanyaan yang relevan, mengidentifikasi dan  mengklarifikasi gagasan dan informasi yang diperoleh, serta mengolah  informasi tersebut

b. Menganalisis dan mengevaluasi penalaran: dalam pengambilan keputusan,  menggunakan nalarnya sesuai dengan kaidah sains dan logika dalam  pengambilan keputusan dan tindakan dengan melakukan analisis serta  evaluasi dari gagasan dan informasi 

c. Merefleksi pemikiran dan proses berpikir: melakukan refleksi terhadap  berpikir itu sendiri (metakognisi) dan berpikir mengenai bagaimana jalannya  proses berpikir tersebut sehingga ia sampai pada suatu simpulan

d. Mengambil keputusan: mengambil keputusan dengan tepat berdasarkan  informasi yang relevan dari berbagai sumber, fakta dan data yang mendukung.

6. Kreatif

Merupakan kemampuan memodifikasi dan menghasilkan sesuatu  yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Kemampuan ini ditandai dengan: 

a. Menghasilkan gagasan yang orisinal: menghasilkan gagasan yang terbentuk dari hal paling sederhana, seperti ekspresi pikiran dan/ata perasaan, sampai dengan  gagasan yang  kompleks untuk  kemudian  mengaplikasikan ide baru sesuai dengan konteksnya guna mengatasi  persoalan dan memunculkan berbagai alternatif penyelesaian.

b. Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal: menghasilkan karya yang  didorong oleh minat dan kesukaannya pada suatu hal, emosi yang ia  rasakan, sampai dengan  mempertimbangkan dampaknya  terhadap   lingkungan sekitarnya.

Bagaimana strategi agar kita dapat menjadikan pelajar yang memiliki profil Pancasila. Pekerjaan ini tidaklah mudah namun dapat dicapai dengan secara bertahap dimulai dari tahap: aware, understand, join,  and do. 

Tahap 1. Awere 

Membuat orang sadar (peserta didik) melalui sosialisasi  di kelas , sekolah dan pertemuan-pertemuan dimasyarakat. 

Tahap 2. Understand 

Membuat peserta didik  paham melalui pengajaran oleh guru mata pelajaran, ektrakurikuler  dan berbagai pelatihan yang diadakan di sekolah. 

Tahap 3. Join  

Membuat orang untuk dapat bergabung menjadi orang yang turut bersama bauik kelompok atau organisasi untuk ikut dalam berbagai kegiatan 

Tahap 4. Do    

Membuat orang melakukan kebiasaan baik, melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan penanaman karakter.  

Agar dapat memenuhi karakter seperti diuraikan di atas harus  dimulai dari mengajarkan, dibiasakan, dilatih konsisten, menjadi kebiasaan, menjadi karakter, dan menjadi budaya. 

Enam profil karakter pelajar Pancasila dapat ditumbuhkan melalui strategi yaitu  pembelajaran dikelas seperti teringtegrasi dalam mata pelajaran, optimalisasi muatan lokal, manajemen kelas. Hal ini dapat dilakukan semua guru mata pelajaran, wali kelas dan guru muatan lokal.

Melalui  budaya sekolah seperti, pembiasaan nilai-nilai dalam keseharian sekolah, menumbuhkan budaya literasi, branding sekolah, keteladanan guru dan tenaga pendidik serta ekosistem sekolah. 

Melalui masyarakat seperti keteladanan dan pengawasan  orang tua, komite sekolah, dunia usaha, pelaku seni, pelaku budaya, pelaku bahsa dan sastra, pemerintah pusat maupun daerah. 

Baca juga: Jenis Publikasi Ilmiah Dalam Kenaikan Pangkat Guru

Tulisan ini diambil dari ringkasan penjelasan Ir. Hendarman, M.Sc., Ph.D Kepala Pusat Penguatan Karakter dalam acara webinar disampaikan pada Sosialisasi Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila (PPP) mewujudkan Generasi Madani Provinsi Sumatera Barat kepada Kepala Cabang Dinas, Pengawas, Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran PKN, Pembina,  dan Anggota OSIS SMA, SMK dan SLB.


Model Kompetensi Dalam Pengembangan Profesi Guru

Terbitnya Peraturan Direktur Jenderal Guru Dan Tenaga Kependidikan Nomor 6565/B/Gt/2020 tanggal 13 November 2020 tentang model kompetensi dalam pengembangan profesi guru, meliputi dua hal yaitu model kompetensi guru dan model kepemimpinan sekolah. 

Model Kompetensi adalah representasi dari kompetensi guru.  Model kompetensi guru meliputi kategori: pengetahuan professional, praktik pembelajaran professional; dan pengembangan profesi .

Sedangkan kompetensi kepemimpinan pendidikan menjadi  kompetensi yang terintegrasi. Model kompetensi kepemimpinan sekolah meliputi kategori: pengembangan diri dan orang lain, kepemimpinan pembelajaran dan kepemimpinan manajemen sekolah

Pengembangan Profesi adalah kegiatan pengembangan kompetensi Guru yang harus dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan secara bertahap dan berkelanjutan. Guru harus melaksanakan Pengembangan Profesi dalam rangka meningkatkan keprofesionalannya paling sedikit melaluI dua kategori yaitu : 1) pendidikan, dan 2)  pendidikan dan pelatihan  

Pendidikan yang dimaksud adalah  pendidikan profesi yang menggunakan model kompetensi untuk :

• Pengembangan materi dan penilaian pada program pendidikan profesi guru;

• Pengembangan instrumen kompetensi teknis untuk kenaikan jenjang jabatan guru;

• Pengembangan materi dan penilaian pada program pendidikan guru penggerak;  

• Pengembangan materi dan penilaian pada pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah dan calon pengawas sekolah.

Pendidikan dan pelatihan merupakan kegiatan untuk meningkatkan kompetensi dalam tugas dapat menggunakan model kompetensi yang penggunaanya untuk:

• Pengembangan instrumen penilaian pada program pemilihan guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah berprestasi; dan/atau

• Pembinaan secara berkelanjutan bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. 

Baca juga: Standar Proses Pembelajaran Dalam PP 57 Tahun 2021

Sebagai pendidik professional maka Perdirjen 6565/B/Gt/2020 tanggal 13 November 2021 menguraikan lingkup model kompetensi dan model kompetensi kepemimpinan pada Lamiran I dan II  peraturan tersebut. 

A. Model Kompetensi Guru

Model Kompetensi Guru adalah representasi dari kompetensi guru yang terintegrasi.

Model kompetensi Guru meliputi tiga kategori yang dijabarkan kepada beberapa kegiatan guru, kemudian untuk mengukur kegiatan tersebut dijabarkan kepada indikator capaian . Dari indikator dapat dilihat jenjang kompetensi (tingkat penguasaan kompetensi) yang dimulai dari  berkembang, layak, cakap dan mahir

Adapun lingkup model kompetensi guru meliputi:

1. Pengetahuan profesional dengan kompetensi:

a. menganalisis struktur dan alur pengetahuan untuk pembelajaran;

b. menjabarkan tahap penguasaan kompetensi murid; dan

c. menetapkan tujuan belajar sesuai dengan karakteristik murid, kurikulum, dan profil pelajar Pancasila.

2. Praktik pembelajaran profesional dengan kompetensi:

a. mengembangkan lingkungan kelas yang memfasilitasi murid belajar secara aman dan nyaman;

b. menyusun desain, melaksanakan, dan merefleksikan pembelajaran yang efektif;

c. melakukan asesmen, memberi umpan balik, dan menyampaikan laporan belajar; dan

d. mengikutsertakan orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pembelajaran.

Baca juga: Contoh Laporan pengembangan Diri (Edisi Terbaru)

3. Pengembangan profesi dengan kompetensi:

a. menunjukkan kebiasaan refleksi untuk pengembangan diri secara mandiri;

b. menunjukkan kematangan spiritual, moral, dan emosi, untuk berperilaku sesuai kode etik guru;

c. menunjukkan praktik dan kebiasaan bekerja yang berorientasi pada anak;

d. melakukan pengembangan potensi secara gotong royong untuk menumbuhkan perilaku kerja; dan

e. berpartisipasi aktif dalam jejaring dan organisasi profesi untuk mengembangkan karier.

B. Model Kompetensi Kepemimpinan Sekolah

Model Kompetensi Kepemimpinan Sekolah adalah representasi dari kompetensi kepemimpinan pendidikan yang erintegrasi. Model kompetensi kepemimpinan sekolah ini meliputi kategori:

1. Pengembangan diri dan orang lain dengan kompetensi sebagai berikut:

a. menunjukkan praktik pengembangan diri berdasarkan kesadaran dan kemauan pribadi;

b. mengembangkan kompetensi warga sekolah untuk meningkatkan kualitas  pembelajaran;

c. berpartisipasi aktif dalam jejaring dan organisasi yang relevan dengan kepemimpinan sekolah untuk mengembangkan karier; dan

d. menunjukkan kematangan spiritual, moral, dan emosi untuk berperilaku sesuai dengan kode etik.

2. kepemimpinan pembelajaran dengan kompetensi sebagai berikut:

a. memimpin upaya pengembangan lingkungan belajar yang berpusat pada murid;

b. memimpin perencanaan dan pelaksanaan proses belajar yang berpusat pada murid;

c. memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses belajar yang berpusat pada murid; dan

d. melibatkan orang tua/wali murid sebagai pendamping dan sumber belajar di sekolah.

3. kepemimpinan manajemen sekolah dengan kompetensi sebagai berikut:

a. mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berorientasi pada murid; dan

b. memimpin dan mengelola program sekolah yang berdampak pada murid.

4. Kepemimpinan pengembangan sekolah dengan kompetensi sebagai berikut:

a. memimpin program pengembangan sekolah untuk mengoptimalkan proses belajar murid dan mendukung kebutuhan masyarakat sekitar sekolah yang relevan; dan

b. melibatkan orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pengembangan sekolah. 

Secara lengkap model kompetensi dalam pengembangan profesi guru dapat di baca dalam Peraturan Direktur Jenderal Guru Dan Tenaga Kependidikan Nomor 6565/B/Gt/2020 tanggal 13 November 2020 (UNDUH DISINI)


Standar Proses Pembelajaran Dalam PP 57 Tahun 2021

Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem  pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur standar nasional pendidikan sudah beberapa kali mengalami perubahan.  

Pertama Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bertahan sampai 10 tahun, kemudian di ubah  dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional, dan terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 yang diundangkan  tanggal 31 Maret 2021 Tentang Standar Nasional  Pendidikan sebagai  penyempurnaan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 yang telah berlaku sejak diundangkan artinya telah berlaku mulai tanggal 31 Maret 2021 dan seterusnya sampai mengalami perubahan. 

Baca juga: Implementasi Pembelajaran Berdifrensiasi di Kelas

Standar Nasional Pendidikan pada PP Nomor 57 Tahun 2021 mencakup:

1.Standar kompetensi lulusan;

2.Standar isi;

3.Standar proses;

4.Standar penilaian pendidikan;

5.Standar tenaga kependidikan;

6.Standar sarana dan prasarana;

7.Standar pengelolaan; dan

8.Standar pembiayaan.

Standar Nasional Pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum dan penyelenggaraan Pendidikan untuk mewujudkan tujuan Pendidikan nasional.  Salah satu standar yang sangat penting dalam implementasi kurikulum adalah standar proses yang memuat kriteria minimal proses pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru  berdasarkan jalur, jenjang, dan jenis Pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.

Standar proses  dalam PP 57 Tahun 2021 yang menjadi acuan pendidik dalam melaksanakan tugasnya meliputi: 

A. Perencanaan pembelajaran

Perencanaan pembelajaran merupakan aktivitas yang dilakukan oleh  untuk merumuskan:

1.Capaian pembelajaran yang menjadi tujuan belajar dari suatu unit pembelajaran;

2.Cara untuk mencapai tujuan belajar; dan

3.Cara menilai ketercapaian tujuan belajar

Baca Juga: Penerapan Model Pembelajaran Think, Pair And Share (TPS) 

B. Pelaksanaan pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran diselenggarakan oleh pendidik dengan memberikan keteladanan, pendampingan dan fasilitasi dalam suasana belajar yang : 

1.interaktif; adalah suasana belajar yang dirancang untuk memfasilitasi interaksi yang sistematis dan produktif antara pendidik dengan Peserta Didik, antar Peserta Didik, dan antara Peserta Didik dengan materi belajar

2.inspiratif; adalah suasana belajar yang dirancang untuk memberi  keteladanan dan menjadi sumber inspirasi positif bagi Peserta Didik.

3.menyenangkan; adalah suasana belajar yang dirancang agar Peserta Didik mengalami proses belajar sebagai pengalaman yang menimbulkan emosi positif.

4.menantang; adalah suasana belajar yang dirancang untuk mendorong Peserta Didik terus meningkatkan kompetensinya melalui tugas dan aktivitas dengan  tingkat kesulitan yang tepat

5.memotivasi Peserta Didik untuk berpartisipasi aktif; dan

6.memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis Peserta Didik.

Baca juga: Jenis Publikasi Ilmiah Dalam Kenaikan Pangkat Guru

C. Penilaian proses pembelajaran

Penilaian proses pembelajaran  yang dilakukan oleh pendidik merupakan asesmen terhadap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran untuk digunakan meningkatkan kualitas pembelajaran . Selain dari pada pendidik penilaian proses pembelajaran dapat juga dilaksanakan oleh : 

1. Penilaian yang dilakukan sesama pendidik;

Merupakan asesmen oleh sesama pendidik atas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan

2. Penilaian yang dilakukan kepala satuan pendidikan;

Penilaian proses pembelajaran oleh kepala Satuan Pendidikan merupakan asesmen oleh kepala Satuan Pendidikan pada Satuan Pendidikan tempat pendidik yang bersangkutan atas perencanaan dan pelaksanaan  pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan

3. Penilaian yang dilakukan peserta didik.

Penilaian proses pembelajaran oleh Peserta Didik merupakan asesmen oleh Peserta Didik yang diajar langsung oleh pendidik yang bersangkutan atas pelaksanaan pembelajaran yang dilakukannya

Baca juga: Kegiatan Observasi dan Refleksi Dalam PTK

Demikianlah standar proses minimal yang yang harus dilakukan oleh setiap guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. 

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 UNDUH DISINI


Implementasi Pembelajaran Berdifrensiasi Di Kelas

 A. Pengertian

Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha yang dilakukan guru dalam  menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu peserta didik. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam satu kelas peserta didik pastilah berbeda-beda dalam hal kecepatan belajar, dasar pengetahuan yang dimiliki, latar belakang individu, minat, sosial dan lain-lain maka pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodasi dari semua perbedaan peserta didik  secara terbuka dan guru melayani  kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap individu. 

Keberagaman dari setiap individu peserta didik  harus selalu diperhatikan, karena setiap peserta didik tumbuh di lingkungan dan budaya yang berbeda sesuai dengan kondisi geografis tempat tinggal mereka. 

Baca juga: Penerapan Pembelajaran Model Think Pair and Share(TPS)

Untuk mengatasi keberagaman tersebut guru perlu melakukan  beragam cara untuk memahami informasi baru bagi semua peserta didik dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara untuk: mendapatkan konten; mengolah, membangun, atau menalar gagasan; dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran evaluasi sehingga semua peserta didik di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif. Guru  juga perlu  memastikan setiap peserta didik di kelasnya mengetahui akan selalu ada dukungan untuk mereka dalam proses pembelajaran. 

B. Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi 

Ada tiga  strategi implementasi pembelajaran berdifrensiasi yang perlu dipahami dan dilakukan guru  yaitu: diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.

1. Diferensiasi Konten

Difrensiasi konten adalah difrensiasi yang merujuk pada strategi membedakan pengorganisasian dan format penyampaian konten. Konten adalah materi yang dimuat oleh kompetensi dasar yaitu pengetahuan berupa fakta, konsep, prosedur, dan meta kognitif serta keterampilan yang perlu dipelajari peserta didik sesuai dengan kurikulum. 

Untuk menerapkan pembelajaran difrensiasi konten guru perlu  mempertimbangkan pemetaan kebutuhan belajar peserta didik baik itu dalam aspek kesiapan belajar, aspek minat peserta didik dan aspek profil belajar peserta didik atau kombinasi dari ketiganya yang dimulai dari penyusunan RPP.

Kesiapan belajar peserta didik bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki peserta didik saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan.

Baca juga: Pentingnya Refleksi Dalam Pembelajaran 

Minat merupakan salah satu motivator penting bagi peserta didik untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran. Peserta didik yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk “menghubungkan” peserta didik pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat peserta didik tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja peserta didik dalam hal ini salah satu contohnya setiap peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda.

Pemetaan kebutuhan belajar peserta didik berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara natural dan efisien dengan demikian guru perlu memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka.

2. Diferensiasi Proses

Difrensiasi proses adalah merujuk pada strategi membedakan proses yang harus dijalani oleh peserta didik yang memungkinkan mereka untuk berlatih dan memahami isi (content) materi. 

Dalam kegiatan ini guru perlu memahami apakah peserta didik lebih tepat  belajar secara berkelompok atau individu dan menetapkan sejumlah bantuan yang diberikan.  Selanjutnya guru mengetahui siapa sajakah peserta didik yang membutuhkan bantuan dan siapa  peserta didik yang membutuhkan pertanyaan pemandu untuk dapat belajar secara individu. Dalam hal tersebut guru sudah menyusunnya dalam perencanaan pembelajaran. 

Penerpan diferensiasi proses dapat dilakukan dengan cara :

a. Kegiatan berjenjang, di mana semua peserta didik bekerja membangun pemahaman yang sama tetapi dilakukan dengan dukungan, tantangan dan kompleksitas yang berbeda.

b. Menyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan melalui sudut-sudut minat, dengan demikian akan mendorong peserta didik mengeksplorasi berbagai materi yang dipelajari.

Baca juga: Standar Proses Dalam PP 57 Tahun 2021

c. Membuat agenda individual untuk peserta didik, misalnya guru membuat daftar tugas berisi pekerjaan umum untuk semua kelas serta daftar pekerjaan yang terkait dengan kebutuhan individual peserta didik. Jika peserta didik telah selesai mengerjakan pekerjaan umum maka mereka dapat selesai melihat agenda individual dan pekerjaan yang dibuat khusus untuk mereka

d. Memfasilitasi lama waktu yang peserta didik dapat ambil untuk menyelesaikan tugas. Dalam hal ini untuk memberikan dukungan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan atau sebaliknya mendorong peserta didik yang cepat untuk mengejar topik secara lebih mendalam.

e. Mengembangkan kegiatan yang bervariasi yang mengakomodasi gaya belajar visual, auditori dan kinestetik.

f. Menggunakan pengelompokan yang fleksibel yang sesuai dengan kesiapan, kemampuan dan minat peserta didik.

3. Diferensiasi Produk

Difrensiasi produk adalah merujuk pada strategi memodifikasi produk hasil belajar peserta didik , hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari. Produk adalah hasil karya, pekerjaan atau unjuk kerja  karangan, tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dan sebagainya. Produk  yang dihasilkan peserta didik harus mencerminkan pemahaman tentang  tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Cara mendiferensiasi produk dapat dilakukan dengan berbagai cara dengan mempertimbangkan kebutuhan belajar peserta didik terlebih dahulu sebelum memberikan penugasan produk. Penugasan produk harus membantu peserta didik secara kelompok  atau individu, menentukan kembali atau memperluas apa yang mereka pelajari selama periode waktu tertentu (satu semester atau satu tahun). 

Produk sangat penting karena mewakili pemahaman dan aplikasi pengetahuan dari elemen kurikulum yang langsung dimiliki oleh peserta didik.

 Diferensiasi produk meliputi dua hal yaitu memberikan tantangan atau keragaman dan memberikan peserta didik pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan. 

Dalam difrensiasi produk guru perlu  untuk menentukan ekspetasi pada peserta didik seperti:

a. Kualitas pekerjaan apa yang diinginkan; 

b. Konten apa yang harus ada pada produk; 

c. Cara atau proses  mengerjakannya; 

d. Sifat dari produk akhir apa yang diharapkan

Walaupun peserta didik memberikan informasi tambahan membantu guru memodifikasi prasyarat produk yang harus dihasilkan agar sesuai dengan kesiapan, minat dan kebutuhan belajar individu namun gurulah yang tetap harus mengetahui dan mengkomunikasikan indikator kualitas dari produk tersebut.

 C. Lingkungan yang Mendukung Pembelajaran yang Berdiferensiasi

Agar pembelajaran berdifrensiasi berhasil maka guru perlu menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi. Lingkungan adalah sesuatu yang berada disekitar peserta didik dan mempengaruhi proses pembelajaran. Linkungan pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun dengan “learning community” atau komunitas belajar yaitu komunitas yang semua anggotanya adalah pembelajar. 

Guru akan mengembangkan peserta didiknya untuk mengembangkan sikap-sikap dan praktik-praktik yang selalu mendukung lingkungan belajar.  Ada beberapa komunitas belajar yang efektif mendukung pembelajaran berdiferensiasi yaitu: 

1. Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik. 

Iklim ini bukan hanya dilihat dari sikap dan tindakan guru yang ramah dan menyabut peserta didik tetapi juga sikap yang ditunjukkan antar peserta didik. Ruang kelas akan dipenuhi dengan berbagai kegiatan belajar dimana masing-masing  peserta didik berperan di dalamnya. Guru berperan menciptakan kondisi dimana semua orang dikelas merasa dihargai saling menyambut dan merasa disambut. 

2. Setiap orang dalam kelas akan saling menghargai

Semua peserta didik dan guru memiliki kebutuhan, perasaan diterima, dihargai, dihormati, rasa aman,  ingin sukses dan sebagainya. Apapun perbedaan yang dimiliki mereka semua tentu memiliki perasaan dan emosi manusia yang sama oleh karena itu dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi guru akan membelajarkan peserta didiknya untuk membedakan perasaan yang mereka miliki terhadap apa yang dilakukan oleh seseorang dan nilai dari orang tersebut. Guru membantu peserta didik memecahkan permasalahan mapun kendala secara konsruktif dan selalu berusaha membanggakan peserta didiknya. 

3. Peserta didik akan merasa aman

Aman tidak hanya secara fisik tetapi juga secara psikis. Peserta didik-peserta didik yang berada dalam kelas tahu persis mereka boleh bertanya jika membutuhkan bertanya, mengatakan tidak tahu jika tidak tahu. Mereka tahu bahwa dalam belajar mereka dapat mengambil risiko untuk mencoba berbagai ide-ide kreatif.

4. Ada harapan bagi pertumbuhan

Tujuan pembelajaran berdiferensiasi untuk membantu setiap peserta didik tumbuh semaksimal mungkin sesuai kemampuannya. Dengan demikian guru akan berusaha mengetahui perkembangan setiap peserta didiknya dan perkembangan kelasnya secara keseluruhan. Peserta didik juga akan belajar memaknai pertumbuhan mereka sendiri. Mereka akan berbicara tujuan pembelajaran dan cara pencapaiannya. 

Semua pertumbuhan yang ditunjukkan setiap peserta didik seberapa pun kecilnya perlu dicatat dan diperhatikan oleh guru untuk dihargai dan dirayakan bersama. Tentu saja pertumbuhan yang dimaksud berbeda-beda porsi dan bentuknya dari masing-masing peserta didik. 

5. Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan 

Guru mencari tahu di mana posisi peserta didik dikaitkan dengan tujuan pembelajaran utama yang ingin dicapai dan kemudian memberikan pengalaman belajar yang akan mendorong peserta didik sedikit lebih jauh dan lebih cepat dari pada kemampuan mereka saat ini atau zona nyaman mereka. 

Baca juga: Bentuk Laporan Pembuatan Alat Praktikum dan AK nya.

Guru akan merancang pembelajaran yang sedikit melampaui apa yang peserta didik kuasai saat itu, pada saat itu peserta didik akan keluar dari zona nyaman mereka dan merasakan sedikit tantangan. Saat peserta didik mengalami tantangan tersebut guru akan memastikan bahwa dukungan akan diberikan pada setiap peserta didik  baik secara individu maupun kelompok sehingga tantangan tersebut dapat dilampaui tanpa mereka mengalami menjadi frustasi. Bantuan atau dukungan inilah yang disebut “scaffolding” yang menjadikan  setiap peserta didik dapat merasakan kesuksesan.

6. Ada keadilan dalam bentuk nyata. 

Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, adil berarti berusaha memastikan semua peserta didik mendapatkan apa yang dia butuhkan untuk tumbuh dan sukses. Peserta didik dan guru adalah sebuah tim yang sama  berusaha memastikan bahwa kelas berjalan dengan baik untuk semua orang di kelas tersebut.

7. Guru dan berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama 

Setiap orang harus mengambil tanggung jawab baik untuk kesejahteraan diri mereka sendiri maupun kesejahteraan orang lain. Untuk itu guru dan peserta didik bekerja sama untuk kesuksesan bersama. Walaupun guru pemimpin kelas, namun peserta didik juga secara sadar mengambil tanggung jawab untuk kesuksesan kelasnya. Mereka akan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, memecahkan semua permasalahan dengan cara yang konstruktif dan akan membantu mengembangkan rutinitas yang efektif.

Demikianlah uraian pembelajaran berdifrensiasi di kelas, semoga guru sebagai ujung tombak peningkatan mutu pendidikan dapat mengimplementasikannya di dalam kelas. 


Pentingnya Refleksi Dalam Pembelajaran

 A. Konsep  Refleksi Pembelajaran

Salah satu komponen yang sangat penting dalam proses pembelajaran adalah melakukan refleksi. Selama ini menyadari atau tidak guru kurang memberikan perhatian terhadap perbaikan ini sehingga proses pemaknaan dan berfikir mendalam  untuk perbaikan pada kegiatan berikutnya sering tertinggal.

Refleksi dalam pembelajaran merupakan kegiatan berpikir secara  mendalam tentang apa yang telah dilakukan. Guru yang melakukan refleksi artinya guru yang berpikir mendalam tentang pembelajaran yang telah dilaksanakannya.

Secara esensi, refleksi merupakan suatu kritik terhadap suatu praktik, nilai implisit dalam praktik tersebut, nilai personal, sosial, institusional, dan kebijakan yang lebih luas tempat praktik itu berlangsung, serta implikasi dari perbaikan praktik tersebut (Day, 1999).

Artinya, guru yang reflektif akan senantiasa memikirkan kembali atau mengkritik pembelajaran yang telah dilakukannya, memikirkan cara untuk memperbaiki pembelajarannya dan memikirkan implikasi dari perbaikan pembelajaran itu.

Schon (1983) memperkenalkan dua macam proses refleksi yaitu refleksi on action dan in action. Refleksi on action adalah proses refleksi yang dilakukan setelah kejadian berlangsung. Sedangkan refleksi in action adalah refleksi yang dilakukan selama kejadian masih berlangsung.

Meskipun kedua macam proses refleksi diri tersebut perlu dilaksanakan dalam konteks pembelajaran, refleksi in action sering kali sulit dilaksanakan. Oleh karena itu, guru didorong untuk melaksanakan refleksi on action.

Baca juga : Memahami AKM dan SK

Schon (dalam Wallace, 1991) memaparkan bahwa refleksi merupakan suatu proses yang berkelanjutan yang melibatkan dua hal pertama received knowledge yaitu pengetahuan tentang berbagai konsep, data, dan teori yang relevan dengan bidang yang diajarkan, serta pengetahuan tentang metodologi pengajaran sampai pengetahuan tentang penilaian pembelajaran.

Kedua  previous experiential knowledge  yaitu pengetahuan yang diperoleh selama melaksanakan pembelajaran.

Contoh pertanyaan/pernyataan  refleksi yang dilihat dari sisi peserta didik.
1. Apakah peserta didik saya telah :
a. memahami apa yang saya ajarkan
b. merasa senang selama proses pembelajaran
c. merasa terlibat dalam pembelajaran
d. mendapatkan pengetahuan baru

2.Contoh pertanyaan/pernyataan refleksi dilihat dari sisi guru (dirinya sendiri)
a. Apakah saya selalu mendengarkan siswa-siswa saya
b. Apakah saya telah mengajar sesuai dengan perencaanaan
c. Apakah saya telah adil  kapada semua siswa dalam proses pembelajaran
d. Apakah saya telah menemukan hal-hal yang perlu saya perbaiki dalam pembelajaran
a. Bagaimana saya berupaya memperbaiki proses pembelajaran
b.Bagaimana saya  merencanakan perbaikan pembelajaran
c.Bag imana saya meningkatkan pengetahuan saya sudah cukup untuk mengajarkan bahasan ini

Baca juga: Contoh RPP Daring, Luring dan Komboinasi

Refleksi yang dilakukan dalam pembelajaran dapat dibedakan menurut tahapan perkembangan professional  dan pendekatan pragmatis  oleh para ahli.  Tingkatan refleksi dengan pendekatan berdasarkan tahapan dalam perkembangan professional (Sandars, 2009)

1. Refleksi berkomitmen
Refelksi berkomitmen ditandai dengan terdapat diskusi tentang apa yang telah dipelajari dari suatu kejadian, bagaimana hal tersebut telah mempengaruhi dirinya dan bagiamana perasaannya mengenai kejadian tersebut telah mengubah dirinya. Diskusi ini juga disertai bukti untuk mendukung refleksinya

2. Eksplorasi emosional
Eksplorasi emosional ditandai dengan adanya bukti dari dampak emosional dari kejadian yang dialami, termasuk kesan dan diskusi mengenai keyakinan dan nilai-nilai diri sendiri, termasuk bagaimana sikap mereka dalam menghadapi pengalaman ini

3. Laporan yang bertujuan
Laporan bertujuan ditandai dengan hanya terdapat deskripsi tentang suatu pengalaman tanpa disertai bukti refleksi atau bagaimana pengalaman tersebut mengubah dirinya

4. Laporan difus
Laporan difus hanya deskripsi pengalaman yang dilakukan secara tidak fokus dan tidak teratur

Tingkatan refleksi berdasarkan pendekatan pragmatis (Sandars, 2009) dapat dibedakan atas beberapa grade Grade

Grade A
Cirinya Adanya gambaran perasaan yang dialami. Ia mungkin ingin mengubah caranya untuk menanggapi peristiwa serupa di masa mendatang dengan disertai penjelasan termasuk referensi.

Grade B
Cirinya Melibatkan pertimbangan yaitu apakah sesuatu berjalan dengan baik atau tidak disertai dengan alasan

Grade C
Cirinya Menggambarkan peristiwa dengan mengenali bagaimana peristiwa tersebut mempengaruhi perasaan, sikap dan keyakinan dan atau mempertanyakan apa yang telah dipelajari dan membandingkannya dengan pengalaman sebelumnya.

Grade D
Cirinya Menggambarkan peristiwa dengan mengenali bahwa ada sesuatu yang penting namun tidak disertai alasannya.

Grade E
Menggambarkan peristiwa dengan mengulang-ulang rincian peristiwa tanpa ada interpretasi dari peristiwa tersebut.

Grade F
Cirinya Menggambarkan peristiwa dengan deskripsi yang kurang baik

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang reflektif penting dilakukan guru apakah berdasarkan tahap professional atau pendekatan prakmatis sehingga peserta didik diajak berfikir kritis dan metakognitif, dengan demikian kegiatan pembelajaran yang diikuti peserta didik semakin bermakna dan guru dapat memperbaiki pembelajaran secara kontiniu.

Penerapan Model Pembelajaran Think, Pair And Share (TPS)

 A. Pengertian 

Think Pair and Share merupakan model pembelajaran terdiri dari tiga kegiatan penting yaitu Think = berfikir , Pair = berpasangan dan Share = berbagi. Model pembelajaran ini termasuk kedalam model pembelajaran cooperative learning  yang dikembangkan oleh frank lyman 1985 dan STAD ( Slavin 1995). 

Pada model think, pair and share siswa berpikir tentang permasalah yang diberikan kemudian berpasangan untuk mengutarakan pemikiran masing-masing dan  diadakan sharing melalui pleno kelomnpok kecil. 

Penerapan model ini dapat memotivasi siswa karena mereka  diajak untuk mencoba terlebih dahulu memikirkan tentang permasalah yang diberikan kemudian membicarakannya dengan berpasangan. 

TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain. Misalkan seorang guru baru saja menyelesaikan suatu penyajian singkat, atau siswa telah membaca suatu tugas dan guru menginginkan siswa memikirkan lebih mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami. 

B. Fase atau Sintaks Model Pembelajaran TPS

Ada tiga fase penting dalam penerapan model pembelajaran TPS yaitu: 

Fase I : Thinking ( berpikir ) 

Guru mengajukan pertanyaan atau soal yang berhubungan dengan pelajaran. Selanjutnya siswa diminta untuk memikirkan jawaban pertanyaan atau soal tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.

Fase II : Pairing ( berpasangan )

Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban atau berbagi ide. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.

Fase III : Sharing ( berbagi ). 

Pada tahap akhir ini, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan kelompoknya tentang apa yang telah mereka bicarakan. Salah satu ciri pembelajaran kooperatif adalah kemampuan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok kecil yang heterogen. 

Masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Karena pada pembelajaran kooperatif keberhasilan kelompok sangat diperhatikan, maka siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu temannya yang lemah dalam kelompoknya. 

Dengan demikian, siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya, sedangkan siswa yang lemah terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan dalam kelompok tersebut.

C. Contoh Penerapan Model Pembelajaran TPS 

Dengan mengadopsi model pembelajaran TPS dalam pembelajaran , maka seorang guru mata pelajaran  dapat menerapkan  tahapan pembelajaran sebagai berikut.

1. Guru menentukan suatu pokok bahasan yang akan disajikan kepada siswanya dengan mengadopsi model pembelajaran TPS.

2. Guru menjelaskan kepada seluruh siswa tentang akan diterapkannya model pembelajaran TPS, sebagai suatu variasi model pembelajaran.

Baca juga: RPP Model Pembelajaran PBL

3. Guru menyiapkan materi bahan ajar yang harus dikerjakan kelompok. 4. Guru membentuk kelompok-kelompok kecil dengan anggota 4-5 siswa. Kelompok dibuat heterogen tingkat kepandaiannya dengan mempertimbangkan keharmonisan kerja kelompok .

5. Guru menjelaskan materi baru secara singkat, kemudian memberikan soal latihan dalam bentuk Lembar Kerja Siswa.

6. Siswa diminta untuk mengerjakan soal secara mandiri untuk beberapa saat.

7. Siswa mendiskusikan hasil pemikirannya sendiri dengan pasangannya, sehingga didapatkan jawaban soal yang merupakan hasil diskusi dalam pasangan yang nantinya akan digunakan sebagai bahan berbagi/sharing dengan kelompoknya.

8. Guru memberi kesempatan kepada kelompok untuk melaporkan hasil diskusinya di depan kelas, diikuti dengan kelompok lain yang memperoleh hasil yang berbeda sehingga terjadi proses berbagi/sharing pada diskusi kelas.

Baca juga: 6 Langkah Model Pembelajaran  Discovery Learning

9. Guru memberikan kesimpulan akhir dari diskusi kelas.

10. Menjelang akhir waktu, guru memberikan latihan pendalaman secara  klasikal dengan menekankan strategi pemecahan masalah.

11. Guru merefleksi hasil kegiatan belajar bersama siswa.

12. Guru dapat memberikan tes formatif, sesuai dengan Indikator/kompetensi yang ditentukan

Demikian uraian tentang penerapan model pembelajaran TPS (Think, Pair and Share) dan guru diharapkan dapat mencoba sehingga mutu pembelajaran semakin baik dan guru berhasil.  


Pendaftaran Guru Penggerak Angkatan 3

Pendaftaran seleksi Pendidikan Guru Penggerak (PGP) dibuka mulai 18 Januari 2021 sampai 15 Maret 2021 untuk 56 Kabupaten /Kota dari 25 Provinsi yang tersebar di enam pulau besar di Indonesia. Kegiatan Pendidikan Guru Penggerak dapat diikuti oleh  guru jenjang TK, SD, SMP dan SMA . 

Selain itu  Calon Pengajar Praktik Angkatan ke tiga dapat diikuti  dari unsur  guru, kepala sekolah, pengawas sekolah dan praktisi pendidikan  melalui seleksi  terbuka mulai  18 Januari 2021 sampai 15 Maret 2021.  

Adapun jadwal lengkapnya dapat dilihat pada  berikut:

Angkatan

Jml Calon PGP

Jml Daerah

Pengajar / Fasilitator

Calon PGP

Tgl. Mulai Pendidikan

3

2800

56

15 Januari 2021

15 Januari 2021

12 Agustus 2021

4

8000

160

1 Maret 2021

8 Mei 2021

25 Oktober 2021

5

8000

160

8 Oktober 2021

8 Oktober 2021

8 Aptil 2022

6

8050

161

15 Januari 2022

15 Januari 2022

12 Agustus 2022

 A. Jawa

  1. Kaeawang
  2. Kab. Bantu
  3. Kab. Saleman
  4. Kab. Suka Bumi
  5. Kab. Klaten
  6. Kab. Jember
  7. Kab. Banyuwangi
  8. Kab. Subang
  9. Kab. Kab. Tangerang
  10. Kab. Kuningan
B. Kalimantan:
  1. Kota Banjar Baru
  2. Kab, Barito Selatan
  3. Kota Bontang
  4. Kab. Tana Kidung
  5. Kab. Hulu Sungai Selatan
  6. Kab. Hulu Sungai Utara
  7. Kab. Barito Kuala
  8. Kab. Ketapang
  9. Kab. Barito Utara

C. Sumatera 

  1. Kab. Batu Bara
  2. Kab. Labuhan Batu
  3. Kab. Kuantan Singingi
  4. Kab. Lampung Selatan
  5. Kab. Kampar
  6. Kab. Lampung Utara
  7. Kab. Tapanuli Utara
  8. Kab. Muara Enim
  9. Kab. Ogan Ilir
  10. Kab. Bireun
  11. Bali Dan Nusa Tenggara 
  12. Kab. Mataram
  13. Kab. Jembrana
  14. Kab. Manggarai
  15. Kab. Kupang
  16. Kab. Ngada
  17. Kab. Klungkung
  18. Kab. Bangli
  19. Kab. Nakegeo
  20. Kab. Bima

Baca juga: Penilaian Pada Kondisi Khusus Di SMA

D. Sulawesi

  1. Kab. Pangkajene Kepulauan
  2. Kab. Kepulauan Selayar
  3. Kab. Tomohon 
  4. Kota Menado
  5. Kab. Poso
  6. Kab. Sidenreng Rappang
  7. Kab. Majene
  8. Kab. Mamuju
  9. Kab. Buol

E. Papua dan Maluku

  1. Kab. Halmahera Timur
  2. Kab. Halmahera Barat 
  3. Kab. Raja Ampat
  4. Kab. Halmahera Selatan 
  5. Kab. Merauke
  6. Kab. Pulau Taliabu
  7. Kab. Jaya Pura 
  8. Kab. Sorong Selatan 

Jadwal pendaftaran sampai hasil final guru penggerak dan Pengajar paraktik  angkatan 3 tahun 2021 adalah sebagai berikut: 

 A.      Jadwal Pendaftaran sampai Pengumuman Hasil Calon Pengajar Praktik  Angkatan 3

15 Januari – 15 maret 15 15 Januari – 15 Maret 2021

Seleksi Tahap I

  • Pengisian Biodata
  • Esai
  • Unggah Dokumen

19 – 26 Maret 2021

Verifikasi dan Validasi data pendaftaran

30 maret -16 April 2021

Penilaian Tahap Seleksi I

27 April – 21 Mei 2021

Pengumuman hasil tahap 1 dan penjadwalan seleksi tahap 2

24 Mei – 11 Juni 2021

Seleksi Tahap II: Survey Kebhinekaan, SM dan WW

18 – 23 Juni 2021

Pengumuman hasil seleksi tahap 2 dan penjadwalan pembekalan

28 Juni – 6 Agustus 2021

Pembekalan pengajar praktik

13 Agustus 2021

Pengumuman  calon pengajar praktik

 B.      Jadwal Pendaftaran sampai Pengumuman Hasil Calon Guru Penggerak  Angkatan 3

15 Januari – 15 Maret 2021

Seleksi Tahap I

  • Pengisian Biodata
  • Esai
  • Unggah Dokumen

5 – 20 Maret 2021

Verivikasi dan Validasi data pendaftaran

8 maret -12 April 2021

Seleksi tahap 1: Tes Skolastik

13 April – 20 April 2021

Penilaian dan Pleno Tahap 1

27 April  – 7 Mei 2021

Pengumuman seleksi tahap I dan Seleksi Tahap II

31 Mei – 10 Juli 2021

Seleksi Tahap II dan Simulasi Mengajar

13 Agustus 2021

Pengumuman Kelulusan Calon Guru Penggerak

23 Agustus 2021

Pendidikan guru penggerak

 C.      Jadwal Pendaftaran sampai Pengumuman Hasil Calon Fasilitator   Angkatan 2

17-29 Januari 2021

Pendaftaran Calon Fasilitator melalui link.

Sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/gurupenggerak

5- 9 Februari 2021

Seleksi administrasi

12 Februari 2021

Pengumuman hasil tahap I

16-19 Februari 2021

Simulasi Mengajar

22 – 25 Februari 2021

Wawan cara dan esei

01 Maret 2021

Pengumuman Hasil Tahap 2

8-9 Maret 2021

Pembekalan fasilitator PGP

23 Maret 2021

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap III (Penetapan Fasilitator)

 Bagi bapak/ ibu yang belum sempat  ikut pada angkatan 3 guru pengerak dan pengajar praktik serta fasilitator angkatan 2 masih punya kesempatan untuk mengikuti angkatan selanjutnya.

 Surat Dirjen tentang Rekrutmen Pendidikan Guru Penggerak dan Calon Pengajar Praktik dapat di UNDUH DISINI