Pentingnya Asesmen Diagonosis Kognitif Berkala

A. Konsep Asesmen Diagonosis Kognitif

Sebagai guru professional tentu akan merasa bahagia apabila dapat membantu peserta didiknya sehinga dapat mencapai kemajuan belajar secara maksimal sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Akan tetapi dalam kondisi pandemi covid-19 saat ini harapan tersebut sulit terpenuhi, dimana pembelajaran tatap muka belum dapat dilaksanakan di sekolah maka banyak peserta didik yang tidak mampu mengikuti pembelajaran apakah pembelajaran pola daring , luring atau kombinasi  secara maksimal.

Tentunya kendala atau kesulitan yang mereka alami beragam ada yang tidak punya fasilitas, tempat tingga yang sulit dijangkau sinyal dan lain-lain . Salah satu kegiatan penting agar kesulitan belajar peserta didik dapat teratasi maka  guru perlu  melakukan asesmen diagonosis kognitif secara berlala. 

Asesmen diagonosis kognitif adalah asesmen yang digunakan untuk mengetahui kelemahan – kelemahan peserta didik khususnya  dalam materi esensial dan materi prasyarat sehingga berdasarkan kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.

Menurut buku panduan yang dikeluarkan Kemdikbud (2020) Asesmen Diagnosis Kognitif adalah asesmen diagnosis yang dapat dilaksanakan secara rutin, pada awal ketika guru akan memperkenalkan sebuah topik  pembelajaran baru, pada akhir ketika guru sudah selesai menjelaskan dan membahas sebuah topik, dan waktu yang lain selama semester (setiap dua minggu/ bulan/ triwulan/ semester).

B. Tujuan Asesmen Kognitif 

Asesmen Diagnosis Kognitif bertujuan untuk mendiagnosis kemampuan dasar peserta didik  dalam topik/materi esensial pada   mata pelajaran. Asesmen diagnosis dapat mengandung satu atau lebih dari satu topik/materi pokok termasuk dari semester sebelumnya.

Dengan kata lain asesmen diagonosis kognitif bertujuan untuk mendapatkan potret kesulitan belajar peserta didik untuk dijadikan bahan perbaikan pembelajaran.

C. Pentingnya  Asesmen Diagnosis Kognitif  Secara Berkala 

Seperti kita ketahui bahwa kemampuan dan keterampilan peserta didik  di dalam sebuah kelas berbeda-beda. Ada yang lebih cepat paham dalam topik tertentu, namun ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami topik tersebut. Peserta didik  yang cepat paham dalam satu topik, belum tentu cepat paham dalam topik lainnya.

Asesmen diagnosis memetakan kemampuan semua peserta didik  di kelas secara cepat, untuk mengetahui siapa saja yang sudah paham, siapa saja yang agak paham, dan siapa saja yang belum paham.

Baca juga: KI-KD Kurikulum 13 Untuk Kondisi Khusus

Dengan demikian guru dapat menyesuaikan materi pembelajaran dengan kemampuan peserta didik sesuai dengan KI-KD yang telah disusun pemerintah.

Dalam buku petunjuk pelaksanaan Asesmen Diagnosis Berkala, kegiatan terdiri dari tiga tahap: (1) Persiapan; (2) Pelaksanaan; (3) Diagnosis dan Tindak Lanjut.

D. Langkah-Langkah Asesmen Diagonosis Kognitif

1. Tahap Persiapan 

a. Menyusun rencana pelaksanaan asesmen
Kegiatan yang dilakukan misalnya menentukan mata pelajaran, untuk kelas berapa, jadwal, tempat pelaksanaan dan lain-lain

b. Identifikasi materi asesmen 
Kegiatan yang dilakukan dalam identifikasi materi adalah mengenali materi esensial dan materi prasyarat untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya  sesuai KD yang telah ditentukan pemerintah

c. Menyusun soal asesmen kognitif 
Soal yang disusun tidak perlu banyak namun soal yang dibuat berasal dari materi esensial dan prasyarat dengan rincian sebagai berikut:

- Soal berasal dari materi esensial  2 tingkat dibawah kelasnya sekarang 20%
- Soal berasal dari materi esensial 1 tingkat dibawah kelasnya sekarang 60%
- Soal berasal dari materi esensial yang akan dipelajari semester ini 20%

Ketentuan ini dapat dimodifikasi sesuai karakteristik mata pelajaran. Selanjutnya disusun kisi-kisi soal kemudian  penulisan butir soal. Bentuk soal yang dibuat boleh isian singkat , pilihan ganda  dan lainnya.

Pilihan  jawaban peserta didik  harus dapat ditafsirkan gambaran kesulitan yang dialami oleh peserta didik tersebut, apakah kesalahan konsep, prinsip, prosedur, dan lain-lain.

Dengan demikian alternatif pilihan jawaban tes diagonosis kognitif akan dapat memberi gambaran tentang kesulitan yang dialami peserta didik.

2. Pelaksanaan Asesmen Diagonosis Kognitif
Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan tes  asesmen untuk semua peserta didik  di kelas, baik secara tatap muka, daring  ataupun belajar dari rumah, selanjutnya hasil tes tersebut diperiksa.

3 Diagnosis dan Tindak Lanjut Asesmen 
Kegiatan dalam tahap ini adalah:

a. Lakukan pengolahan hasil asesmen dan lakukan analisis 
Tentukan distribusi jawaban peserta didik, cari rata-rata pencapaian , tentukan dan cermati dimateri mana yang sudah dikuasai dan yang belum dikuasai.

b. Berdasarkan hasil penilaian, bagi siswa menjadi 3 kelompok 
Pengelompokan dapat menurut kemampuan atau hasil yang diperoleh. berdasarkan kelompok soal , atau kategori pencapaian misalnya rendah, sedang dan tinggi atau belum tuntas, tuntas , percepatan kondisinya situasional

c. Lakukan remidi (perbaikan) dengan perlakuan yang berbeda menurut kesulitan yang dialami peserta didik tersebut.

d. Ulangi proses yang sama, sampai siswa mencapai tingkat kompetensi yang diharapkan

Buku Saku Asesmen Diagonosis Kognitif UNDUH DISINI 

Dengan melakukan asesmen diagnosis berkala, guru dapat menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan rata-rata kemampuan peserta didik. Dengan demikian, landasan pengetahuan dan keterampilan dasar peserta didik  menjadi lebih kuat, sebelum mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang lebih sulit.

KI-KD Kurikulum 2013 Untuk Kondisi Khusus

Untuk melaksanakan kebijakan mengenai kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran bagi peserta didik dalam kondisi khusus (Masa pandemi covid-19) sesuai Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus.

Kepala Badang Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan menerbitkan keputusan Nomor 018/H/Kr/2020 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Berbentuk Sekolah Menengah Atas untuk Kondisi Khusus;

Inti keputusan tersebut adalah penyesuaian kompetensi inti dan kompetensi dasar pada kurikulum 2013 dalam kondisi khusus untuk digunakan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran pada:

1. Pendidikan Usia Dini
2. Pendidikan Dasar
3. Pendidikan Menengah atas

Kurikulum tersebut merupakan kurikulum 2013 yang disederhanakan capaian pembelajarannya. Tujuannya agar tidak membebani siswa, guru, dan orang tua. Materi  yang dipilih adalah  materi esensial, perampingan sampai 50%.

Sekolah diberi kebebasan untuk memilih  menggunakan: 1) kurikulum 2013 secara penuh, 2) kurikulum kondisi khusus, atau 3) kurikulum 2013 yang sudah disederhanakan sendiri oleh sekolah.

Selain KI-KD penyederhanaan Kemdikbud juga meluncurkan modul kurikulum darurat untuk jenjang PAUD dan SD. Modul tersebut bisa dioperasikan oleh guru, siswa, dan orang tua (atau siapa pun yg membantu siswa belajar).

Selain modul juga termasuk asesmen, yang fokus pada literasi, numerasi, pendidikan karakter, dan kecakapan hidup. Diperkirakan kurikulum darurat ini berlaku sampai akhir tahun ajaran 2020/2021, meski nanti kondisi sudah normal.

Baca juga: Pentingnya Asesmen Diagonosis Kognitif Berkala

Guru diharapkan segera mengadopsi dan mempelajari KI-KD menurut jenjangnya untuk dituangkan RPP adaptif kemudian diimplementasikan.

Dalam penerapan kurikulum tersebut Pemerintah pusat membolehkan (bukan mewajibkan) kegiatan pembelajaran  tatap muka di sekolah zona hijau dan kuning (total area 43% dari seluruh wilayah RI) dengan protokol kesehatan yang ketat. 

 Cek zona di http://covid19.go.id/peta-risiko

Namun demikian,  orang tua diberi kewenangan penuh dilevel individu untuk menolak berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran tatap muka.

Secara lengkap KI-KD Penyederhanaan untuk PAUD, SD, SMP, SMA dan SMK dapat diunduh di Link ini : 

https://simpandata.kemdikbud.go.id/index.php/s/69GscKjj5DzSzkP

Diharapkan sekolah dapat menetapkan kurikulum yang digunakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah apakah kurikulum 2013,kurikulum kondisi khusus atau kurikulum 2013 yang telah disederhanakan sekolah. 



Cara Membuat Perencanaan Supervisi Akademik

Supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya dalam mengelola proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kompetensi paedagogik dan profesional, yang muaranya kepada peningkatan mutu lulusan peserta didik (Glickman. 2007) .

Hal yang senada dengan Daresh (2001) menyebutkan bahwa supervisi akademik merupakan upaya membantu guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pengajaran

Secara umum supervisi akademik dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu
1. Perencanaan,
2. Pelaksanaan supervisi, dan
3. Tindak lanjut hasil supervisi.

Dalam perencanaan supervisi akademik perlu diperhatikan prinsip-prinsip pererencanaan sebagai berikut (1) objektif, (2) bertanggung jawab, (3) berkelanjutan, (4) berdasarkan SNP, (4) didasarkan atas kebutuhan sekolah.

Baca Juga: Pelaksanaan Kurikulum Dalam Kondisi Khusus

Adapun ruang lingkup yang direncanakan dalam supervisi akademik adalah (1) pengelolaan KTSP, (2) persiapan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran, (3) pencapaian Standar Kompetensi Lulusan, Standar Proses, dan Standar Isi (4) peninjauan mutu pembelajaran.

Langkah-langkah penyusunan perencanaan supervisi akademik dimulai dari  (1) merumuskan tujuan (2) menetapkan jadwal (3) memilih pendekatan, teknik, dan model (4) memilih instrumen.

Susunan perencanaan supervisi akademik sehingga dapat digunakan sebagai pedoman pelaksanaan supervisi  adalah sebagai berikut:

1. Latar belakang
    Latar belakang berisi tentang arti penting supervisi dan alasan perlunya pelaksanaan supervisi akademik.

2. Landasan hukum
    Landasan hukum berisi berbagai peraturan yang digunakan sebagai landasan pelaksanaan supervisi akademik dan peraturan yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi dari sasaran supervisi.

3. Tujuan
    Tujuan supervisi memuat hal-hal yang diinginkan dari adanya program supervisi dan  pelaksanaan supervisi.

4. Indikator keberhasilan supervisi akademik.

Agar supervisi akademik terukur keberhasilannya, perlu dideskripsikan indikator keberhasilan, baik dilihat dari awal, proses pelaksanaan maupun hasil supervisi akademik.

Kriteria keberhasilan merupakan tolak ukur untuk menetapkan tingkat keberhasilan sebuah aktivitas. Keberhasilan pelaksanaan supervisi akademik, ditandai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Pra-observasi atau Pertemuan awal
  • Terciptanya suasana akrab dengan guru
  • Membahas persiapan yang dibuat oleh guru dan disepakatinya fokus pengamatan
  • Disepakatinya instrumen observasi yang akan digunakan
b. Observasi  atau Pengamatan pembelajaran
  • Dilaksanakan pengamatan sesuai dengan fokus yang telah disepakati
  • Digunakannya instrumen observasi
  • Adanya catatan (fieldnotes) berdasarkan hasil pengamatan yang mencakup perilaku guru dan peserta didik, selama proses pembelajaran (mulai pendahuluan sampai penutup).
  • Tidak mengganggu proses pembelajaran
c. Pasca-observasi atau Pertemuan balikan
  • Terlaksananya pertemuan balik setelah observasi
  • Menanyakan pendapat guru mengenai proses pembelajaran yang baru berlangsung
  • Menunjukkan data hasil observasi (instrumen dan catatan) dan memberi kesempatan guru mencermati dan menganalisisnya
  • Mendiskusikan secara terbuka hasil observasi terutama pada aspek yang telah disepakati dan memberikan penguatan terhadap penampilan guru
  • Menghindari kesan menyalahkan, usahakan guru menemukan sendiri kekurangannya
  • Memberikan motivasi bahwa guru mampu memperbaiki kekurangannya
  • Menentukan bersama rencanapembelajaran dan supervisi berikutnya.
5. Sasaran
 Sasaran supervisi adalah guru atau tenaga kependidikan  yang akan disupervisi.

6. Pendekatan dan teknik supervisi.
Pendekatan dan teknik supervisi berisi tentang pendekatan dan teknik yang diplih dalam pelaksanaan supervisi sesuai dengan kebutuhan.

7. Ruang lingkup supervisi
 Ruang lingkup berisi cakupan bidang yang disupervisi, antara lain analisa perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.

8. Jadwal pelaksanaan supervisi.
 Jadwal supervis berisi daftar nama guru yang disupervisi seta kapan supervisi tersebut dilaksanakan.

9. Instrumen yang digunakan, telah dibahas di awal.

Ruang lingkup seperti diuraikan di atas dapat disusun dalam bentuk naratif dengan susunan per bab seperti Bab I, II, III dan Bab IV. Dapat juga disusun dalam bentuk matriks. Prerencanaan tersebut biasanya disebut program supervisi yang dilengkapi dengan lampiran SK supervisor.

Asesmen Pada Kondisi Khusus Di Sekolah

Asesmen adalah proses sistematis dalam pengumpulan, pengolahan, dan penggunaan data aspek kognitif dan non-kognitif untuk meningkatkan kualitas belajar peserta didik.

Asesmen atau penilaian  pembelajaran dalam kondisi khusus dilakukan dengan berpedoman kepada Permendikbud Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan Dalam Kondisi Khusus.

Bacajuga: Contoh RPP Daring, Luring dan kombinasi

1. Asesmen dalam Kondisi Khusus

Asesmen dalam kondisi khusus dilakukan dengan memenuhi prinsip:

a. Valid yaitu asesmen menghasilkan informasi yang sahih mengenai pencapaian peserta didik;

b. Reliabel yaitu asesmen menghasilkan informasi yang konsisten dan dapat dipercaya tentang pencapaian peserta didik;

c. Adil yaitu asesmen yang dilaksanakan tidak merugikan peserta didik tertentu;

d. Fleksibel yaitu asesmen yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan;

e. Otentik yaitu asesmen yang terfokus pada capaian belajar peserta didik dalam konteks  penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari;

f. Terintegrasi yaitu asesmen dilaksanakan sebagai bagian integral dari pembelajaran sehingga menghasilkan umpan balik yang berguna untuk memperbaiki proses dan hasil belajar peserta
didik.

2. Hasil asesmen digunakan oleh pendidik, peserta didik, dan orang tua/wali sebagai umpan balik dalam perbaikan pembelajaran.

Kondisi saat ini (pandemi covid-19)  pembelajaran yang dilakukan sekolah ada yang pola daring, luring maupun  kombinasi dengan media beraneka ragam seperti google clasroom, edmodo, sicadiak pandai dan lain-lain.

Baca Juga: Pelaksanaan Kurikulum Pada kondisi Khusus

Dalam melakukan asesmen atau penilaian   guru perlu mempedomani aturan pemerintah di atas dalam melaksanakan  penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Penilaian sikap dapat dilakukan dari sisi kehadiran, keaktifan memberi respon saat pembelajaran, ketaatan mengumpulkan tugas.

Penilaian pengetahuan dapat dilakukan melalui tes, kuis dan penugasan. Tes dapat dilakukuan dengan bentuk pilihan ganda, uraian, isian singkat, menjodohkan, benar salah, sebab akibat.

Kuis dapat dilakukan diawal, saat dan akhir pembelajaran.  Sedangkan penugasan dapat dilakuan dengan melalui penugasan terstruktur atau tidak terstruktur dengan pertimbangan tingkat kesulitan, jumlah dan waktu yang digunakan untuk menyelesaikan.

Penilaian keterampilan pola pembelajaran daring atau luring dapat dilakukan melalui penugasan proyek atau portofolio.

Nilai sikap  kemudian diadministrasikan dengan baik, nilai pengetahuan dan keterampilan dilakukan analisis yang kemudian dilakukan tindak lanjut.

Demikian uraian asesmen/penilaian dalam kurikulum khusus, semoga bermanfaat.




Pelaksanaan Kurikulum Dalam Kondisi Khusus (Masa Pandemi Covid-19)

Kondisi khusus adalah suatu keadaan bencana yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah.  Sebagai pedoman pelaksanaan kurikulum di sekolah dalam kondisi khusus (pandemic  covid-19) pemerintah mengeluarkan   Keputusan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 7 19/P/2020 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Pada Satuan Pendidikan Dalam Kondisi Khusus.

Dalam pedoman tersebut diatur beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipedomani tentang tujuan, pelaksanaan kurikulum dan pembelajaran sebagai berikut:

A. Tujuan Pelaksanaan Kurikulum Pada Kondisi Khusus

Pelaksanaan kurikulum pada kondisi khusus bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi Satuan Pendidikan untuk menentukan Kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik.

B. Kurikulum pada Kondisi Khusus

l. Pelaksanaan Kurikulum harus memperhatikan:

a. Usia dan tahap perkembangan Peserta Didik pada PAUD
b. Capaian kompetensi pada Kurikulum, kebermaknaan, dan kebermanfaatan pembelajaran untuk Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah termasuk pada pendidikan khusus dan program pendidikan kesetaraan.

2. Satuan pendidikan pada kondisi khusus dalam pelaksanaan pembelajaran dapat:

a. Tetap mengacu pada Kurikulum nasional yang selama ini dilaksanakan oleh Satuan Pendidikan;
b. Mengacu pada:
  • kurikulum nasional untuk PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah yang berbentuk sekolah menengah atas dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar yang disederhanakan untuk Kondisi Khusus yang ditetapkan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan  perbukuan; atau
  • kurikulum nasional untuk pendidikan menengah yang berbentuk sekolah menengah kejuruan dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar yang disederhanakan untuk Kondisi Khusus yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi.
c. Melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri.

Satuan Pendidikan dalam kondisi khusus tidak diwajibkan untuk menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan

C. Pelaksanaan Pembelajaran 

1. Pembelajaran dalam Kondisi Khusus tetap dilaksanakan berdasarkan prinsip:
  • Aktif yaitu pembelajaran mendorong keterlibatan penuh Peserta Didik dalam perkembangan belajarnya, mempelajari bagaimana dirinya dapat belajar, merefleksikan pengalaman belajarnya, dan menanamkan pola pikir bertumbuh;
  • Relasi sehat antar pihak yang terlibat yaitu pembelajaran mendorong semua pihak yang terlibat untuk menaruh pengharapan yang tinggi terhadap perkembangan belajar Peserta Didik, menciptakan rasa aman, saling menghargai, percaya, dan peduli, terlepas dari keragaman latar belakang Peserta Didik;
  • Inklusif yaitu pembelajaran yang bebas dari diskriminasi Suku, Agama, Ras dan Antar  golongan (SARA), tidak meninggalkan peserta didik manapun, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus/penyandang disabilitas, serta memberikan pengembangan ruang untuk identitas, kemampuan, minat, bakat, serta kebutuhan peserta didik;
  • Keragaman budaya yaitu pembelajaran mencerminkan danmerespon keragaman budaya Indonesia yang menjadikannya sebagai kekuatan untuk merefleksikan pengalaman kebhinekaan serta menghargai nilai dan budaya bangsa; e. berorientasi sosial yaitu mendorong peserta didik untuk memaknai dirinya sebagai bagian dari lingkungan serta melibatkan keluarga dan masyarakat;
  • Berorientasi pada masa depan yaitu pembelajaran mendorong peserta didik untuk  mengeksplorasi isu dan kebutuhan masa depan, keseimbangan ekologis, sebagai warga dunia yang bertanggung jawab dan berdaya;
  • Sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik yaitu pembelajaran difokuskan pada tahapan dan kebutuhannya, berfokus pada penguasaan kompetensi, berpusat pada Peserta
  • Didik untuk membangun kepercayaan dan keberhargaan dirinya; dan
  • Menyenangkan yaitu pembelajaran mendorong peserta didik untuk senang belajar dan terus menumbuhkan rasa tertantang bagi dirinya, sehingga dapat memotivasi diri, aktif dan kreatif,serta bertanggung jawab pada kesepakatan yang dibuat bersama.
2. Pembelajaran diawali dengan Asesmen Diagnostik.

Asesmen Diagnostik adalah asesmen yang dilakukan secara spesifik untuk mengidentifikasi  kompetensi, kekuatan, keiemahan peserta didik, sehingga pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan kompetensi dan kondisi peserta didik.

3. Peserta didik yang perkembangan atau hasil belajarnya paling tertinggal berdasarkan hasil asesmen diagnostik, diberikan pendampingan belajar secara afirmatif.

4. Pembelajaran dalam kondisi khusus

Pembelajaran dilaksanakan secara kontekstual dan bermakna dengan menggunakan berbagai strategi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik, satuan pendidikan, dan daerah serta memenuhi prinsip pembelajaran.

Lengkapnya dapat dibaca Permendikbud 719/P/2020 Dwonload DISINI

Baca juga : Asesesmen Dalam Kondisi Khusus

Model Rencana Kerja Sekolah (RKS)

Rencana Kerja Sekolah (RKS) adalah dokumen yang sangat  penting di sekolah. RKS digunakan sebagai salah satu pedoman sekolah untuk menjalankan tugas dan fungsi sekolah. 

Oleh karena itu, RKS harus memuat hal-hal penting yang dapat memberikan gambaran secara menyeluruh terhadap kebutuhan pengembangan sekolah.

Sekolah dapat menetapkan standar mutu baru di atas SNP apabila seluruh standar dalam SNP telah terpenuhi. Acuan utama RKS adalah pengembangan sekolah berdasarkan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan.

Istilah RKS dan RKJM tidak dapat dipisahkan, RKS bungkus keseluruhan yang didalamnya memuat RKJM dan RKT. RKJM digunakan selama 4 tahun sedangkan RKT adalah RKJM yang dipenggal atau pisahkan pertahun sesuai tingkat urgensi dari program.

RKS berupa RKJM dan RKT,  RKJM yang baik minimal memenuhi komponen sebagai berikut:

  1. Analisis lingkungan strategis
  2. Analisis kondisi saat Ini dilihat dari keterlaksanaan SNP
  3. Analisis pendidikan 4 tahun mendatang
  4. Visi dan misi sekolah
  5. Tujuan sekolah 4 (empat) tahun mendatang
  6. Identifikasi tantangan nyata (kesenjangan kondisi antara kondisi saat ini terhada kondisi pendidikan 4 tahun mendatang)
  7. Program strategis
  8. Rencana kerja yang mencakup 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan, meliputi program, kegiatan, indikator keberhasilan atau hasil yang diharapkan, waktu pelaksanaan, kebutuhan pembiayaan, penanggungjawab atau pelaksana.
  9. Jadwal kegiatan monitoring dan supervisi.

Komponen RKT hampir sama dengan  komponen RKJM, perbedaannya terletak dimana  RKT tidak
mencantumkan komponen 3 (analisis pendidikan 4 tahun mendatang) dan komponen 5 (Tujuan sekolah 4 tahun mendatang)

A. Model sistematika RKJM 

Bab I. Pendahuluan
a. Latar Belakang
b. Landasan Hukum
c. Tujuan
d. Manfaat
e. Ruang Lingkup RKJM

Bab II. Profil Sekolah
Memuat visi, misi, tujuan sekolah, dan data-data penting sekolah.

Bab III. Proses Penysusunan RKJM
Menguraikan rekomendasi hasil EDS atau hasil analisis lainnya dan proses penetapan skala prioritas.

Bab IV. Rencana Kerja 4 tahun
Menguraikan rencana kerja empat tahun secara komprehensif. Biasanya dibuat dalam bentuk matriks, memuat program, kegiatan, indikator keberhasilan atau hasil yang diharapkan, waktu pelaksanaan, kebutuhan pembiayaan, penanggungjawab atau pelaksana.

Bab V. Penutup
Berisi tujuan, harapan, kebermanfaatan RKJM, rencana pengembangan dan rekomendasi.

B. Model sistematika  RKT 

Bab I.  Pendahuluan
a. Latar Belakang
b. Landasan Hukum
c. Tujuan
d. Manfaat
e. Ruang Lingkup RKT

Bab II.  Profil Sekolah
Memuat visi, misi, tujuan sekolah, dan data penting sekolah lainnya.

Bab III.  Rencana Kerja tahun berjalan

Menguraikan rencana kerja satu tahun, mencakup seluruh standar dalam SNP. Biasanya dibuat dalam bentuk matriks, berisi program, kegiatan, indikator keberhasilan atau hasil yang diharapkan, waktu pelaksanaan, kebutuhan pembiayaan, penanggung jawab atau pelaksana.

Bab IV.  Penutup
Berisi tujuan, harapan, kebermanfaatan RKT, rencana pengembangan dan rekomendasi.

Dari RKT diturunkan program yang lebih teknis dan berisi biaya yang dibutuhkan selama satu tahun yaitu Rencana Anggaran Kegiatan Sekolah (RKAS). Format RKAS sangat fleksibel karena dapat mengikuti pentunjuk pedoman BOS reguler dan format yang disusun Pemerintah Daerah setempat.

Tentunya model sistematika  RKS seperti di tas dapat dimodifikasi tergantung kebutuhan sekolah.