Pembelajaran Matematika Realistik Dan Strategi Penerapannya Di Kelas

      
Pembelajaran Matematika Realistik dan Penerapannya
Matematika Realistik 
     Tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran matematika pada intinya adalah agar siswa mampu menggunakan matematika yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari dan  membantu untuk mempelajari pengetahuan lain. 


      Dengan belajar matematika diharapkan siswa akan memiliki kemampuan bernalar yang tercermin melalui kemampuan berfikir kritis, logis, sistematis dan memiliki sifat obyektif, jujur, disiplin dalam memecahkan sesuatu permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain atau dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu dengan belajar matematika siswa dapat memanfaatkan matematika untuk komunikasi dan mengemukakan pendapat.   Untuk mencapai tujuan tersebut maka guru matematika dalam proses pembelajaran  idealnya harus mampu mengaitkan matematika dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Tidak hanya sekedar peserta didik dapat mengerjakan soal tanpa mengetahui aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.  



Kenyataannya pembelajaran  matematika  di sekolah belum terkait  dengan  dunia nyata  siswa . Pembelajaran dominan menghafal rumus yang digunakan   untuk latihan  menyelesaikan soal sehingga kurang memahami makna dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Karena pembelajaran cenderung berupa hafalan maka siswa mengalami kesulitan memahami  matematika di kelas.

A.     Pengertian  Pembelajaran Matematika Realistik

Pembelajaran matematika yang realistik dikenal dengan nama matematika kontekstual telah berkembang sejak tahun 1970-an hingga sekarang ini. Di Belanda dikenal dengan nama RME (Realistic Mathematics Education). Di Amerika berkembang dengan nama CTL (Contextual Teaching Learning in Mathematics) atau CME (Contextual Mathematics Education).

Pembelajaran matematika realistik atau kontektual di dukung dengan dua alasan pertama, pembelajaran matematika mekanistik yaitu pembelajaran matematika yang berfokus pada prosedur penyelesaian soal belum sepenuhnya dapat disingkirkan.

Pembelajaran matematika realistik berlandaskan pada paham bahwa matematika merupakan kegiatan manusia sehingga teori pembelajaran matematika bukanlah teori yang mandeg. (Suryanto, 2001: 2). 

Pendekatan Pembelajaran matematika  realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, sehingga mencapai tujuan pembelajaran matematika secara lebih baik dari pada sebelumnya.

Lingkungan juga dapat diartikan kehidupan sehari-hari peserta didik. Pembelajaran matematika realistik menggunakan masalah konstektual sebagai titik tolak dalam belajar matematika. Oleh karena itu bersifat kontekstual  dilingkungan peserta didik belum tentu konstektual di tempat lain.

B.    Prinsip Pembelajaran Matematika Realistik

  Ada tiga prinsip utama dalam pembelajaran matematika realistik yaitu:

1. Prinsip penemuan kembali. 
Dalam pembelajaran matematika masalah konstektual yang diberikan oleh guru di awal pembelajaran dalam penyelesaiannya peserta didik diarahkan dan diberi bimbingan, sehinga peserta didik dapat menemukan kembali konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika.


Prinsip penemuan kembali ini menyatakan bahwa pengetahuan tidak ditransfer atau diajarkan ke pada peserta didik , melainkan peserta didik sendirilah yang harus mengkontruksi (membangun) sendiri pengetahuan itu melalui kegiatan aktif dalam belajar. 


2. Prinsip fenomena pembelajaran
Prinsip ini menekankan pentingnya masalah konstektual dalam pembelajaran matematika untuk memperkenalkan topik-topik matematika kepada peserta didik. Guru hendaknya mempertimbangkan aspek kecocokan masalah konstektual yang dipilih untuk disajikan dengan topik matematika yang diajarkan , konsep, prinsip, rumus dan prosedur matematika yang akan ditemukan kembali oleh peserta didik.



3. Prinsip model-model di bangun sendiri
Prinsip ini menekankan bahwa model-model yang dibangun berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Dalam menyelesaikan masalah konstektual peserta didik diberi kebebasan untuk membangun sendiri model matematika terkait dengan masalah konstektual yang dipecahkan.

C.    Ciri-ciri  Pembelajaran Matematika Realistik

Berdasarkan prinsip dan karakteristik model pembelajaran RME maka ada beberapa ciri-ciri dari pendekatan pembelajaran matematika realistik, yakni: 


1.  Pembelajaran dirancang berawal dari pemecahan masalah yang ada disekitar peserta didik dan berbasis pengalaman yang telah dimiliki peserta didik, sehingga mereka tertarik secara pribadi terhadap aktivitas matematika yang bermakna;


2.  Urutan pembelajaran haruslah menghadirkan suatu aktivitas dimana peserta didik menciptakan dan mengelaborasi model-model simbolik dak aktivitas matematika mereka secara formal, misalnya menggambar, membuat diagram, membuat table, atau menggambar notasi informal;


3.  Pembelajaran matematika tidak mementingkan langkah-langkah prosedural (allogaritna) serta keterampilan;
4.  Memberi penekanan pada pemahaman konsep dan pemecahan masalah;
5.  Peserta didik mengalami proses pembelajaran secara bermakna dan memahami matematika dengan penalaran;
6.  Peserta didik belajar matematika dengan pemahaman secara aktif membangun pengetahuan baru dari pengalaman dari pengetahuan awal;
7.  Dalam pembelajaran peserta didik dilatih untuk mengikuti pola kerja , intuisi, coba-salah-dugaan, spekulasi hasil;
8.  Terdapat interaksi yang kuat antara peserta didik yang satu dengan peserta didik lainnya;

9.  Terdapat interaksi yang kuat antara siswa yang seimbang antara matematisasi horizontal dan matematika vertical. (Nur, 2000:8)

D.     Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Matematika Realistik 


1.   Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada peserta didik tentang kehidupan sehari-hari dan kegunaannya bagi manusia;

2.   Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada peserta didik cara penyelesaikan suatu soal atau masalah tidak harus sama  dan tidak sama satu dengan yang lainnya;

3.    Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada peserta didik dimana matematika adalah suatu bidang kajian yang dikontruksi dan dikembangkan sendiri oleh peserta didik;
4.  Pembelajaran matematika realistik mengutamakan dimana peserta didik harus melakukan proses dan berusaha menemukan sendiri konsep-konsep matematika dengan bantuan guru. (Suarsono, 2005:5)

   Sedangkan kelemahan dari pembelajaran matematika realistik adalah :

1. Tidak mudah untuk mengubah pandangan yang mendasar tentang berbagai hal seperti, peserta didik, guru dan peranan sosial atau masalah konstektual;
2.  Tidak mudah bagi guru untuk mendorong peserta didik agar bisa menemukan berbagai cara dalam menyelesaikan soal atau masalah matematika;
3.  Guru mengalami kesulitan untuk memberi bantuan kepada peserta didik agar dapat melakukan penemuan kembali konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika yang akan dibelajarkan; 

 4. Tidak mudah bagi guru untuk mencari soal-soal yang konstektual yang terkait dengan materi yang disajikan. 
     
     Untuk mengatasi masalah di atas maka guru perlu dilatih, menemukan soal-soal yang sesuai dalam arti dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, pengalaman, lingkungan sekolah maupun tempat tinggal. 

F.      Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik

Langkah –langkah dalam pendekatan pembelajaran  matematika realistik adalah sebagai berikut:  

 1.  Memahami dan mempersiapkan masalah kontekstual
     Guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut.

 2.  Menjelaskan masalah kontekstual, 
     Jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami;.
 3.  Menyelesaikan masalah kontekstual, 
     Siswa secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Dengan menggunakan lembar kerja, siswa mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.
 4.   Membandingkan dan mendiskusikan jawaban
     Guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara berkelompok. Siswa dilatih untuk mengeluarkan ide-ide yang mereka miliki dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran.
 6.   Menyimpulkan, 
      Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.
 
F.    Strategi   Pembelajaran Matematika Realistik di Kelas

Implementasi pembelajaran matematika realistik dalam pembelajaran di kelas tidak dapat dilepaskan dari berbagai karakteristik dan prinsip-prinsip yang mendasari model pembelajaran ini. Oleh karena itu, sebelum mengimplementasikan pembelajaran matematika realistik, guru harus memahami dengan sungguh-sungguh berbagai karakteristik dan prinsip-prinsip tersebut.

Secara umum implementasi pembelajaran matematika realistik di kelas dilakukan dengan:

1  Memulai pembelajaran dengan masalah kontekstual yang diambil dari dunia nyata. Masalah yang digunakan sebagai titik awal pembelajaran harus nyata bagi siswa agar mereka dapat langsung  erlibat dalam situasi yang sesuai dengan pengalaman mereka.

2  Menjembatani dunia abstrak dan nyata dengan model. Model harus sesuai dengan tingkat abstraksi yang harus dipelajari siswa. Di sini model dapat berupa keadaan atau situasi nyata kehidupan siswa, seperti cerita-cerita lokal atau bangunanbangunan yang ada di tempat tinggal siswa. Model dapat pula berupa alat peraga yang dibuat dari sekitar siswa. 

3. Memberi keleluasaan siswa menggunakan strategi, bahasa, atau simbol mereka sendiri dalam proses mematematikakan dunia mereka. Artinya, siswa memiliki kebebasan mengekspresikan hasil kerja dalam menyelesaikan masalah nyata yang diberikan guru.

4.  Membangun proses pembelajaran yang interaktif. Interaksi baik antara guru dan siswa maupun antara siswa dengan siswa merupakan elemen yang penting dalam pembelajaran matematika. Di sini siswa dapat berdiskusi dan bekerjasama dengan siswa lain, bertanya dan menanggapi pertanyaan, serta mengevaluasi pekerjaan.

5.  Menghubungkan bagian-bagian dalam matematika, dengan disiplin ilmu lain, dan dengan masalah dari dunia nyata diperlukan sebagai satu kesatuan yang saling kait mengait dalam penyelesaian  masalah

G. Tahapan yang perlu dilakukan guru

1. Persiapan

a.       Pemilihan masalah kontekstual.
Tahap persiapan ini dilakukan dengan menyiapkan masalah kontekstual yang akan digunakan dalam pembelajaran.

Selanjutnya guru menyiapkan skenario pembelajaran yang akan digunakan di kelas. Berbagai strategi yang mungkin dari siswa dalam pembelajaran sebaiknya sudah diantisipasi pada langkah ini, sehingga guru bisa mengendalikan proses pembelajaran di kelas.

b.      Pemilihan metode.
Dalam penerapan pembelajaran matematika realistik, metode yang terutama digunakan adalah pemecahan masalah, yang diikuti dengan kerja kelompok, diskusi, dan presentasi. Metode pembelajaran juga dapat diterapkan sepanjang mendukung kerangka kerja penerapan pembelajaran matematika realistik.

c.      Pemilihan media dan sumber belajar.
Untuk kelas-kelas pemula biasanya digunakan benda-benda langsung, seperti manik-manik, kelereng, mobil-mobilan, batang korek api dan masih banyak contoh lain. Untuk kelas-kelas lanjutan digunakan media yang lebih formal seperti bagan, garis bilangan dan simbol-simbol lainnya.

d.       Rencana pembelajaran.
Penerapan pembelajaran matematika realistik diawali sejak tahap pengembangan silabus, rancangan penilaian, dan RPP. Pada pengembangan silabus, guru harus mampu menjabarkan kurikulum menjadi uraian pembelajaran lebih rinci dengan memperhatikan prinsip-prinsip dan karakteristik pembelajaran matematika realistik.

Rancangan penilaian juga merupakan aspek yang penting dicermati. Pada tahap ini, guru harus menskenariokan bagaimana umpan balik selama pembelajaran dengan pembelajaran matematika realistik akan dilakukan.

Penyusunan RPP juga harus sesuai dengan pembelajaran matematika realistik. Guru harus mampu merancang pembelajaran yang menjamin langkah-langkah dasar pembelajaran matematika realistik dilaksanakan dan memberikan hasil seperti yang diharapkan.

2. Pelaksanaan pembelajaran
                    
BACA : RPP DENGAN  MODEL PEMBELAJARAN  PROBLEM BASIC LEARNING (PBL)

Secara umum pembelajaran matematika realistik dilaksanakan mengikuti 4 fase, yaitu: memahami masalah kontekstual, menyelesaikan masalah kontekstual, membandingkan dan mendiskusikan jawaban, dan menyimpulkan.

Secara operasional, Yuwono (2007: 5-6) menjelaskan implementasi  embelajaran matematika realistik dalam pembelajaran di kelas dapat diuraikan sebagai berikut:

a.        Tahap awal.
Secara garis besar, guru menyampaikan tujuan dan topik yang akan dipelajari oleh siswa. Guru menyampaikan aktivitas yang akan dilalui siswa, misalnya membaca pengantar dilanjutkan mengerjakan masalah kontekstual, negosiasi, konfirmasi, dan penarikan kesimpulan. 

Bila diperlukan guru dapat mengingatkan siswa tentang materi prasyarat yang perlu diingat oleh siswa kembali. Bila diperlukan, guru dapat mengecek secara acak tugas.

b.       Tahap inti.
Siswa melakukan kegiatan yang telah ditetapkan oleh guru, misalnya membaca pengantar, mengerjakan masalah kontekstual. Siswa dapat bekerja secara individual, pasangan atau dalam kelompok kecil untuk menjawab masalah dalam buku siswa. 

Guru berkeliling kelas untuk memberikan pertanyaan pancingan kepada iswa yang membutuhkan. Pertanyaan pancingan itu dapat berupa pertanyaan yang menggiring siswa pada jawaban masalah, pertanyaan yang merangsang berpikir siswa, memberi petunjuk terbatas agar siswa melihat masalah yang sebenarnya. 

Bila siswa telah menemukan suatu rumus, siswa dapat melanjutkan latihan keterampilan prosedural, berupa mengerjakan soal latihan.

c.   Tahap akhir.
Guru menunjuk seorang anggota kelompok yang akan menyajikan hasil dislusi kelompok secara kelas (pleno).Peserta didik menyajikan hasil kerjanya dari kerja individual atau kerja kelompok dalam diskusi kelas. 

Guru berusaha membimbing siswa untuk memperoleh konsep (algoritma). Pada diskusi kelas dan mengarahkan peserta  untuk menyimpulkan hasil diskusi kelas. Siswa mengerjakan latihan keterampilan prosedural berupa soal latihan. 
Guru memberikan tugas rumah sebagai bahan latihan untuk menginternalisasi konsep (algoritma) yang telah didapat.


Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika realistik dapat dilaksan nakan melalui 4 (empat) fase, yaitu: memahami masalah kontekstual, menyelesaikan masalah kontekstual, membandingkan dan mendiskusikan jawaban, dan menyimpulkan. 

Guru diharapkan dapat mengembangkan fase tersebut sesuai dengan kondisi dalam pembelajaran yang dihadapinya. Dengan demikian. 

Kesulitan siswa dalam belajar matematika dapat diatasi oleh guru dengan menerapkan pembelajaran matematika realistik di kelas, sehingga matematika tidak lagi dipahami peserta didik sebagai konsep yang abstrak yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Semoga

Bahan Bacaan:

Gravemeijer,    K. ( 1994) . Developing     realistic       mathematics        educationUtrech   CD_Press/ Freudenthal Institute.         
Hadi, Sutarto. (2000). Teori Matematika Realistik- The Second Tryout of RME Based Inse 2000. Surabaya: Usaha Nasional
 Hudoyo, Herman . (1988). Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi P2LPTK
Sutarto, Hadi. 2005. Pendidikan Matematika      Realistik  dan ImplementasinyaBanjarmasin: Tulip.
Suparno, P . (2001), Konstruktivisme Dalam Pendidikan Matematika. Makalah tidak dipublikasikan pada Lokakarya Widyaiswara BPG se- Indonesia tanggal 27 Maret s.d 29 April 2001 di PPPG Matematika Yokyakarta.
 Tarigan      Daitin. ( 2006) .    Pembelajaran   Matematika      Realistik
 Jakarta :  Departemen Pendidikan Nasional.
 Wijaya,   Ariyadi.  (2012) .  Pendidikan    Matematika Realistik Suatu Alternatif  Pendekatan  Pembelajaran Edisi  Pertama. Yogyakarta : Graha Ilmu

10 Variasi metode diskusi yang kreatif


10 Variasi Metode Diskusi Yang Kreatif
Variasi Metode Diskusi
Metode diskusi dalam pembelajaran adalah metode yang sudah lama digunakan oleh guru, metode ini dapat mengembangkan sikap kebersamaan, menghargai teman, keterampilan bertanya , melatih kematangan sosio-emosional, kemampuan berkomunikasi, keberanian dan kemampuan memberikan gagasan serta berlatih untuk memecahkan masalah.

Sayangnya metode diskusi masih banyak yang melakukan secara konvensional (peserta didik dibagi 3-5 orang kemudian diberi topik untuk didiskusikan) . Jika beberapa kali hal ini dilakukan tentunya akan menimbulkan kebosanan , dan tidak akan memberikan hasil yang lebih baik.


Untuk mengatasi hal tersebut, guru perlu melakukan variasi sehingga pembelajaran menjadi efektif, dan dapat mencapai tujuan. Berikut ini disajikan beberapa alternative dalam penggunaan metode diskusi.


1. Group Discussion (Diskusi Kelompok)


Diskusi kelompok ini ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk saling mengemukakan pendapat dalam mengenal, memahami dan memecahkan suatu permasalahan yang telah dipersiapkan guru.


Jumlah peserta dalam diskusi kelompok ini idealnya 3-5 orang, penentuan peserta kelompok dapat dilakukan secara acak atau ada kategori tertentu yang dipandang guru dapat memacu pemahaman peserta. Kegiatan diskusi kelompok diharapkan akan dapat membatu peserta didik yang malu berbicara dalam kelompok besar.


2. Whole Group ( Seluruh Peserta)


Whole group melibatkan semua peserta didik dalam satu kelas, agar diskusi terlaksana dengan baik maka dilakukan setting tempat duduk dengan formasi setengah lingkaran atau berbentuk “U” yang dipimpin oleh guru.


Kegiatan seperti ini akan membuat suasana informal atau lebih fresh, sehingga peserta didik dapat secara terbuka mengemukakan pendapat / mendiskusikan satu atau beberapa topik. Tentunya materi yang akan dibahas sudah dipersiapkan guru secara matang dengan berbagai variasi pertanyaan.


3. Focus Group Discussion (Diskusi Kelompok Fokus)


Diskusi kelompok fokus adalah diskusi kelompok yang lebih difokuskan pada satu masalah atau bidang tertentu. Yang membedakan dengan diskusi kelompok biasa adalah pembagian kelompok dan topik yang dibahas. Peserta kelompok biasanya bersifat homogen atau yang mempunyai pengalaman /pengetahuan yang hampir sama atau sejenis.


Penerapannya dalam pembelajaran dapat dengan menentukan topik/materi untuk masing-masing kelompok secara berbeda atau sama untuk dibahas dikelompoknya secara mendalam.


4. Panel Discussion (Diskusi Panel)


Panel diskusi digunakan untuk membahas materi atau permasalahan tertentu. Guru memberikan topik kepada peserta diskusi,kemudian 2 atau 3 orang diminta menyajikan permasalahan atau pendapatnya tentang topik yang dikemukakan guru. Selanjutnya, seluruh peserta diminta untuk memberikan tanggaban dan terlibat untuk mendiskusikannya.


5. Debat Informal


Debat informal dilakukan dengan cara kelompok besar (satu kelas) dibagi menjadi dua kelompok yang sama jumlahnya, satu kelompok disebut kelompok “pro” dan yang lainnya disebut kelompok “kontra”. Kemudian guru memberikan topik diskusi atau permasalahan yang sama kepada dua kelompok tersebut dengan tugas yang berbeda.


Secara bergantian kelompok tersebut akan mengemukakan pendapatnya terhadap tugas yang dikerjakan dan kelompok lain memberikan tanggaban. Dengan demikian maka topik tersebut akan diperdebatkan, sampai akhirnya guru bersama peserta dapat memberikan kesimpulan.


6. Buzz Group


Peserta didik dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (3-4) orang untuk mendiskusikan suatu topik yang telah ditentukan guru. Kemudian guru memberikan waktu untuk masing-masing kelompok mendiskusikan topik tersebut secara bebas. Tempat duduk di atur sedemikian rupa sehingga peserta dapat berhadapan muka.


Diskusi seperti ini memberikan kesempatan kepada peserta/individu untuk menguji dan memperdalam pemikirannya dalam memecahkan suatu persoalan dan diharapkan dapat membangun rasa percaya diri pada tiap peserta. Hasil-hasil diskusi mereka akan dikumpulkan guru dan dianalisa sampai dimana peserta dapat mencapai pengetahuan yang ditargetkan oleh guru.


7. Syndicate Group


Adalah suatu kelompok besar dibagi menjadi kelompok kecil dengan anggota tidak lebih dari 5 orang. Guru menjelaskan permasalahan secara umum, kemudian setiap kelompok kecil diberi tugas mempelajari materi tertentu yang berbeda dengan kelompok kecil lainnya. Guru terlibat memberi bimbingan untuk tiap kelompok dalam mengerjakan tugasnya. Setelah waktu yang ditentukan tiba, maka setiap kelompok menyajikan hasil diskusinya dalam siding pleno untuk dibahas bersama secara mendalam.


8. Fish Bowl (Diskusi Lingkaran dalam lingkaran)


Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok; Guru dapat menunjuk salah satu kelompok yang disebut kelompok “dalam” kemudian ditugaskan untuk mendiskusikan satu masalah tertentu. Kelompok lainnya disebut kelompok “luar” yang tugas mereka adalah mendengarkan, melakukan analisis dan menerjemahkan apa yang dibahas, didiskusikan dan dibicarakan menjadi tindakan nyata.


Istilah kelompok dalam dapat disebut sebagai panitia pelaksana dan kelompok dalam menjadi panitia pengarah. Agar hal ini terlaksana dengan lancar maka formasi duduk harus dirubah, kelompok dalam membentuk lingkaran kecil, dan mereka berdikusi dengan suara yang jelas sedangkan kelompok luar membentuk lingkaran besar yang siap mendengarkan diskusi kelompok kecil.


Baca : 31 Model Pembelajaran Untuk Mendorong Siswa Kreatif   


9. Role Play (Bermain peran)


Peserta dibagi beberapa kelompok untuk melakukan peran tertentu atau menyajikan peran melalui dialog-dialog tertentu yang menekankan kepada sikap, sifat dan karakter yang perlu dianalisis dan dipikirkan. Sebelum kegiatan dilakukan guru terlebih dahulu mempersiapkan scenario dan bahan-bahan yang akan digunakan dalam simulasi.


Dalam Bermain peran ini harus dipilih topik tertentu yang dapat mengungkapkan kondisi nyata yang akan digunakan sebagai bahan diskusi. Setelah masing-masing atau kelompok yang ditunjuk selesai melakukan peran, dilanjutkan dengan menganalisis peran tersebut. Masing –masing peserta diminta untuk mengemukakan perasaan mereka tentang peran yang dimainkan.


10. Simulasi (Simulation)


Simulasi adalah kegiatan meniru atau perbuatan pura-pura/menyerupai atau tidak dalam kondisi sesungguhnya. Tujuannya adalah melalui kegiatan simulasi menanamkan konsep atau memahami sesuatu materi bahasan melalui pengalaman berbuat.


Maka simulasi sangat tepat dalam meningkatkan keterampilan tertentu atau melakukan sesuatu dalam kondisi tidak sebenarnya. Guru dapat membagi beberapa orang peserta didik untuk melakukan simulasi terhadap materi yang bersifat keteerampilan, misalnya mempraktikkan pemakaian alat, simulasi pelaksanaan pemilihan kepala daerah dll.


Dari sepuluh variasi metode diskusi ini guru dapat memilih yang cocok untuk membahas materi sesuai dengan tuntutan kompetensi ayang akan diperoleh peserta didik. Metode tersebut tentunya tidak kaku masih dapat dikembangkan dan divariasikan guru, perlu juga penggunaan alat bantu pembelajaran ataupun media pembelajaran . Silahkan dipraktikkan.


3 Praktik Pengajaran Guru Dalam Merdeka Belajar


MERDEKA BELAJAR
Ungkapan “Merdeka Belajar”  sangat populer saat ini bukan hanya dikalangan  siswa, guru dan tenaga kependidikan, pejabat,  lembaga pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi  juga  dikalangan orang tua, dan masyarakat. 

Memang kalimat ‘ Merdeka Belajar” enak diungkapkan, sangat mudah diingat, menjadi sebuah slogan yang mudah meresap dipikiran.

Namun tidak semua yang dapat memahami makna “merdeka belajar” seolah merdeka belajar bebas tanpa ikatan , tanpa bingkai,  tanpa rambu-rambu, tanpa regulasi, norma  dan tardisi yang selama ini sudah baik.
    
Pandangan seperti itu jelas salah, merdeka yang dimaksud tetap ada bingkai yang tidak bisa ditabrak, merdeka belajar mengarahkan kepada cara untuk mencapai tujuan belajar, tujuan pendidikan dengan pola yang berbeda yang selama ini dilakukan tapi tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, budaya dan kemajuan teknologi.

Siapa yang merdeka ?  semua instansi dalam sistem pendidikan terutama guru sebagai ujung tombak dalam  pelaksanaan pembelajaran  dan peningkatan mutu. Seperti pernah diungkapkan oleh Mendikbud dalam pertemuan CEO Forum di Ritz Carlton Hotel Kuningan, Jakarta Selatan tahun yang lalu bahwa kebijakan merdeka belajar diwarnai beberapa alasan.

1. Keberagaman di Indonesia begitu besar sehingga apapun yang dilakukan untuk menstandardisasi akan ada dampak buruk,  daerah di Indonesia sangat banyak maka tidak bisa  satu cara yang dilakukan untuk seluruhnya.

2. Sistemnya dalam pembelajaran yang  selama ini sifatnya administratif  tidak ada kelonggaran. Semua harus mengejar silabus  sampai tuntas sehingga banyaka nak-anak yang tertinggal,”maka diperlukan perubahan. 

Filsafat perubahan itu adalah konsep merdeka belajar, dan yang merdeka itu semua instansi dalam sistem pendidikan

3. Sekolah yang selama ini  sifatnya mengawasi harus dirubah menjadi konsep  melayani. Merdeka dari aturan administratif,  kemerdekaan guru dalam berkreasi dalam kelasnya sendiri dan kemerdekaan murid dalam menentukan arah dan level yang cocok untuk dia,”

Baca juga: Tips Agar Program Belajar Dirumah Efeftif
Sebagai tindak lanjut merdeka belajar tersebut maka ada tiga  praktik pengajaran merdeka belajar yang perlu diketahui dan diimplementasikan oleh guru  dalam proses pembelajaran yaitu:
1. Membangun Komitmen Pada Tujuan

Guru harus fokus dan mengarahkan siswa dalam mencapai tujuan yang dicapai dalam belajar dengan melakukan kegiatan berikut:
a. Menyuburkan motivasi internal
b. Melibatkan murid menetapkan tujuan
c. Menunjukkan murid manfaat belajar
d. Memberi umpan balik yang konstruktif
e. Menyediakan tantangan yang bertingkat dan bermanfaat

2. Membangun kemandirian Belajar

Guru perlu membangun kebiasaan kemandirian bagi siswa dengan kegiatan sebagai berikut:
a. Meminta murid mencari informasi
b. Menfasilitasi pengalaman sukses
c. Membangun rutinitas kelas yang positif
d. Menantang murid memantau kemajuan
e. Melakukan diferensiasi pengajaran

Baca Juga Penerapan Model Pembelajaran TSTS 

3. Menumbuhkan Kebiasaan Refleksi

Guru dalam menumbuhkan kebiasaan refleksi melakukan kegiatan sebagai berikut:
a. Memvariasikan pertanyaan saat belajar
b. Dokumentasikan proses dan hasil belajar
c. Melibatkan murid melakukan asesmen diri
d. Sediakan waktu belajar tidak terstruktur
e. Menunjukkan toleransi terhadap kekeliruan
 
Demikianlah tiga praktik pengajaran guru dalam merdeka belajar sesuai dengan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Semoga para guru dapat mempraktikkannya.


UN Batal: Ini Opsi Kelulusan Siswa

UN DIBATALKAN
Terbitnya Surat Edaran Mendikbud (SE)  Nomor 4 Tahun 2020 , memastikan bahwa Ujian Nasional (UN) resmi ditiadakan atau batal.

Kebijakan tersebut diambil berkenaan dengan situasi darurat penyebaran corona virus disease (covid-19) yang semakin meningkat.

Kesehatan lahir dan batin peserta didik, guru dan kepala sekolah serta seluruh warga sekolah menjadi pertimbangan utama.
Pembatalan Ujian Nasional ini, walaupun mengundang pro- kontra namun harus disingkapi dan diterima semua pihak untuk kebaikan bersama.
Yang menjadi pertanyaan  bagi orang tua siswa adalah bagaimana nilai kelulusan anak mereka yang duduk di kelas 6 SD, 9 SMP,  kelas 12 SMA/SMK  dan bagaimana pula ulangan kenaikan kelas untuk kelas 1 - 5 SD, 7-8 SMP,  dan 10-11 SMA/SMK

Berikut ini diuraikan tentang kelulusan siswa dari Satuan Pendidikan menurut  Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020

1. Untuk kelulusan Sekolah Dasar/ sederajat ditentukan berdasarkan nilai rapor lima semester (kelas 4, kelas 5, dan kelas 6 semester gasal). Nilai semester genap kelas 6 dapat digunakan sebagai sebagai tambahan kelulusan.

Dalam hal ini tentu guru harus mengumpulkan nilai rapor dan melakukan rekap nilai, jika ada sekolah yang telah melakukan penilaian pada  semester 6 maka nilai itu dapat digunakan sebagai penambah nilai kelulusan. Maka tugas sekolah adalah melakukan rekap nilai siswa untuk 5 semester seperti digambarkan dalam tabel berikut:

Nama
Kls 4/Smt.
Kls 5/Smt.
Kls.6/Smt
Jml
NA

1
2
1
2
1
2


































Karena semester 2 kelas 6 berfungsi sebagai penambah maka sekolah dapat membuat alternatif misalnya:

a. Rata-rata nilai 5 semester x 2 + nilai semester 6 dibagi 2 atau

b. Semester 6 berfungsi nilai penambah untuk pertimbangan terhadap siswa yang belum memenuhi ambang batas kelulusan  yang ditentukan sekolah.

2. Kelulusan SMP/sederajat dan SMA/sederajat ditentukan berdasarkan nilai lima semester terakhir. Sedangkan nilai semester genap kelas 9 dan kelas 12 dapat digunakan sebagai tambahan nilai kelulusan.

Nah, kelulusan SMP/SMA tidak jauh berbeda dengan ketentuan yang berlaku pada SD/sederajat. Maka tugas sekolah melakukan rekap nilai untuk 5 semester seperti tabel berikut:

a. Untuk SMP/Sederajat
Nama Kls 7/Smt. Kls 8/Smt. Kls.9/Smt Jml NA

1
2
1
2
1
2






























b. Untuk SMA/Sederajat
Nama Kls 10/Smt. Kls 11/Smt. Kls.12/Smt Jml NA

1
2
1
2
1
2





























Karena semester genap  kelas 9 dan kelas 12  berfungsi sebagai penambah maka sekolah dapat membuat alternatif misalnya:

a. Rata-rata nilai 5 semester x 2 + nilai semester genap kelas 9 / kelas 12  dibagi 2 atau
b. Semester genap pada kelas 9 dan kelas 12  berfungsi sebai nilai penambah untuk pertimbangan terhadap siswa yang belum memenuhi ambang batas kelulusan  yang ditentukan sekolah.

c. Nilai yang diisikan dalam tabel tetap mempertimbangkan nilai keterampilan pada rapor, maka yang diisikan pada tabel  adalah nilai rata –rata nilai ( pengetahuan + pengetahuan ), kecuali nilai pada ijazah dipisahkan antara nilai pengetahuan  dengan keterampilan.

Ketentuan diatas berlaku untuk sekolah yang belum melaksanakan ujian sekolah. Sedangkan  sekolah yang telah melaksanakan ujian sekolah dapat menggunakan ujian nilai sekolah untuk menentukan kelulusan siswa. 

3. Kululusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/ sederajat dilakukan berdasarkan nilai rapor , nilai praktik kerja lapangan, portofolio dan nilai praktik selama lima (5)  semester terakhir . Nilai semester genap tahun terakhir  dapat digunakan sebagai bahan kelulusan.

Untuk SMK/ sederajat sebaiknya dikelompokkan menurut kelompok pelajaran produktif, adaftif dan normatif. Kelompok produktif dilihat dari nilai praktik kerja lapangan dan rata-rata nilai praktik selama lima semester terakhir ditambah dengan portofolio, sedangkan kelompok adaptif dan normatif dilihat dari nilai aspek pengetahuan.  Sedangkan nilai semester genap pada kelas 12 dapat digunakan tambahan kelulusan.

a. Mata Pelajaran Produktif
Nama
Nilai Praktik
PKL
Porto
folio
NA

Kls 10
Kls 11
Kls 12

1
2
1
2
1















































b. Mata Pelajaran Adaptif/Normatif
Nama Kls 10/Smt. Kls 11/Smt. Kls.12/Smt Jml NA

1
2
1
2
1
2






























Nilai semester dapat diperhitungkan sebagai penambah, maka sekolah punya kewenangan memberikan bobot atau difungsikan sebagai pertimbangan penilaian bagi peserta didik yang belum mencapai ambang batas kelulusan yang ditentukan sekolah.

Untuk kelompok adptif dan normatif tetap mempertimbangkan nilai keterampilan maka nilai yang diisikan adalah rata-rata nilai pengetahuan dan nilai keterampilan.

Demikianlah uraian penentuan kelulusan menurut Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam masa darurat penyebaran corona virus disease khususnya kelulusan siswa dari satuan pendidikan. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Cara Melakukan Peneliaian Proyek

Penilaian Portofolio Pada Kurikulum 2013

Bahan Bacaan:

1. SE Nomor 14 Tahun 2020 Donwload