Teori Belajar Orang Dewasa

Sebagai pengawas atau kepala sekolah maupun instruktur yang sering terlibat dalam menyajikan materi bagi orang dewasa, maka perlu memahami metode pembelajaran yang tepat sehingga apa maksud dan tujuan dapat tercapai. 

Menurut ahli pendidikan bernama Edwart L. Thorndike (1928)  mengemukakan teori belajar dan mengajar orang dewasa yang disebut dengan aliran “ Scientific Stream dan artistic” bahwa dalam belajar orang dewasa yang terpenting adalah pengalaman. Asumsi tentang pembelajar orang dewasa yang dijadikan teori belajar dewasa yaitu : 

  1. Pembelajar dewasa akan termotivasi untuk belajar karena kebutuhan dan minat dimana belajar akan memberikan kepuasan.
  2. Orientasi pembelajar orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan sehingga unit-unit pembelajar sebaiknya adalah kehidupan nyata (penerapan) bukan subjek matter,
  3. Pengalaman  adalah sumber terkaya  bagi pembelajar orang dewasa, sehingga  metode pembelajaran adalah analisa pengalaman (experiental learning),
  4.  Perbedaan diantara pembelajar orang dewasa semakin meningkat dengan bertambahnya usia, oleh karena itu pendidikan orang dewasa harus memberi pilihan dalam perbedaan gaya belajar, waktu, tempat dan kecepatan belajar.   

Carl R.Rogers (1951) mengajukan konsep pembelajaran pada orang dewasa yaitu “Student- Centered Learning” yang intinya :

  1. Kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya bisa memfasilitasi belajarnya,Seseorang akan belajar secara signifikan hanya pada hal-hal yang dapat memperkuat/menumbuhkan selfnya.
  2. Manusia tidak bisa belajar kalau berada dibawah tekanan,
  3. Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara signifikan bila tidak ada tekanan terhadap peserta dan adanya perbedaan persepsi/pendapat difasilitasi dikoordinir.

Konsep pembelajaran yang dikemukakan di atas sangat sesuai dengan model pembelajaran orang dewasa yaitu  andragogi. Andragogi  mulai digunakan di Netherlands oleh Professor T.T Ten Have pada tahun 1959.  

Model andragogi mempunyai konsep bahwa : kebutuhan untuk tahu (the need to know), konsep diri pembelajar (the learner,s concept), peran pengalaman pembelajar (the role of the leaner,s experience), kesiapan belajar (readiness to learn), orientasi belajar (orientation of learning) dan motivasi lebih banyak ditentukan dari dalam diri si pembelajar itu sendiri.  

Baca juga: 7 Pendekatan Supervisi Dalam Kurikulum 2013

Maka dalam pembelajaran orang dewasa seseorang instruktur  kurang tepat melakukan pembelajaran seperti kepada siswa atau  menggurui, tetapi memancing dan memfasilitasi peserta sehingga peserta dapat belajar dari pengalamannya dan mekanisme yang sudah disepakati.   

Dalam pendekatan andragogi, seorang instruktur perlu mempersiapkan lebih dahulu sejumlah prosedur untuk melibatkan pembelajar dalam belajar. Ada pun prosedur adalah sebagai berikut: 

  1. Menciptakan kondisi yang kondusif untuk belajar bagi pembelajar orang dewasa,
  2. Menciptakan mekanisme perencanaan,
  3. Mendiagonosis kebutuhan belajar,
  4. Memformulasikan tujuan program yang memenuhi kebutuhan institusi, pembelajar dan masyarakat,
  5. Merencanakan pola pengalaman belajar,
  6. Melaksanakan pengalaman belajar (kegiatan) yang sesuai dengan materi dan metode pembelajaran, 
  7. Melaksanakan evaluasi hasil belajar dan mendiagonosa ulang kebutuhan belajar (Knowles, 1980)

Penekanan pembelajaran pada andragogi adalah menyediakan prosedur dan sumber-sumber untuk membantu belajar peserta untuk meningkatkan pengetahuan, skill, kebiasaan, nilai-nilai, dan kemampuan yang dibutuhkan. 

Pengembangan Teknik Penilaian Formatif

1. Pengembangan teknik penilaian formatif untuk aspek sikap

Penilaian sikap bertujuan untuk mengetahui perkembangan sikap siswa baik sikap spiritual maupun sosial dan memfasilitasi tumbuhnya perilaku yang ingin dikembangkan di satuan pendidikan. Perkembangan sikap dapat terlihat. 

Dari kegiatan/ aktivitas sehari-hari siswa selama proses pembelajaran sehingga teknik yang dapat dikembangkan adalah teknik yang dapat melihat perkembangan sikap siswa tersebut disertai dengan tindak lanjut yang harus dilakukan sehingga terjadi perubahan dari sikap siswa. 

Teknik observasi (pengamatan) dengan menggunakan instrumen lembar observasi atau buku jurnal sangat mudah digunakan untuk mengamati perilaku siswa sehingga teknik ini dapat digunakan dan umpan balik dapat langsung diberikan kepada siswa untuk memperbaiki sikapnya. 

Baca juga: Teknik dan Lingkup Penilaian Formatif 

Penilaian sikap pada kegiatan yang dirancang dalam bentuk aktivitas di kelas atau bentuk kegiatan lainnya (misalnya praktik membuat pantun dan membacakannya di depan kelas, praktik di laboratorium, diskusi, konferensi) dapat dilakukan dengan baik apabila guru menginformasikan rubrik/kriteria untuk sikap yang baik dalam melakukan aktivitas tersebut. 

Teknik penilaian formatif dalam bentuk-bentuk kegiatan penilaian sikap lainnya  juga dapat menggunakan instrumen lembar observasi. Seperti kegiatan penilaian diri sendiri, penilaian antar teman  dapat juga digunakan untuk melihat  Objektivitas berdasarkaan masukan-masukan/umpan balik dari guru maupun teman sejawat.

Teknik penilaian formatif juga dapat dilakukan dengan jurnal berupa catatan guru tentang perilaku siswa yang bersifat positif maupun negatif. Sifat positif perlu dipresiasi untuk dipertahankan dan dikembangkan sedangkan sikap negatif secepatnya dicegah dengan cara pembinaan.

2. Pengembangan teknik penilaian formatif untuk aspek pengetahuan 

Penilaian aspek pengetahuan merupakan penilaian yang dilakukan guru untuk mengukur kemampuan siswa yang meliputi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif serta kecakapan berpikir tingkat rendah (LOT) hingga tingkat tinggi (HOT). 

Baca juga: Cara Praktis Membuat Soal HOTS

Penilaian formatif pada aspek pengetahuan dilakukan untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan penguasaan pengetahuan siswa selama proses pembelajaran sehingga teknik penilaian dan instrumen penilaian yang dikembangkan harus menunjukkan diagnosis dari kelemahan dan kekuatan penguasaan pengetahuan siswa tersebut. 

Kegiatan penilaian dapat dilakukan melalui bentuk-bentuk kegiatan penilaian yang sudah dijelaskan di atas (pemberian pertanyaan, diskusi, aktivitas, konferensi, intervieu, maupun penilaian diri). 

Pengembangan teknik penilaian formatif untuk aspek pengetahuan dapat mengacu pada bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilakukan untuk penilaian formatif disesuaikan dengan metode pembelajaran yang dilakukan.

Contoh pengembangan teknik penilaian formatif aspek pengetahuan:

a. Pada kegiatan penilaian bentuk pertanyaan, pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dapat bergradasi dimensi pengetahuannya (fakta, konseptual, procedural, dan metakognitif) dan juga level kognitifnya (LOTS – HOTS).

Pertanyaan juga harus menunjukkan diagnosis untuk konsep-konsep yang saling berkaitan, atau kesalahan konsep yang sering dilakukan siswa.

b. Kegiatan penilaian bentuk aktivitas dapat juga digunakan untuk meningkatkan penguasaan konsep pengetahuan siswa. Penguasaan konsep yang kuat dapat diterapkan dalam aktivitas untuk menunjukkan performance yang baik bahkan

akan muncul kreativitas untuk dapat melaksanakan aktivitas tersebut dengan baik. Penilaian formatif dalam bentuk aktivitas juga dapat disertai dengan kegiatan pertanyaan atau intervieu atau yang lainnya sehingga guru mengetahui betul penguasaan pengetahuan setiap siswa sehingga jika terdapat kelemahan konsep dapat langsung ditindaklanjuti.

c. Kegiatan penilaian bentuk diskusi dan konferensi sangat memungkinkan untuk meningkatkan kemampuan pengetahuan siswa dalam hal berpikir kritis dan pemecahan masalah serta kemampuan menyampaikan masalah (komunikasi).

d. Kegiatan bentuk penilaian diri dengan menggunakan/melihat portofolio hasil ulangan yang sudah diberi umpan balik. Portofolio adalah kumpulan karya/capaian hasil ulangan yang dapat menggambarkan perkembangan kemampuan siswa untuk kompetensi tertentu. Siswa dapat melihat kelemahan penguasaan pengetahuannya. Kegiatan ini juga bisa dilanjutkan dengan kegiatan interviu siswa untuk dapat meningkatkan kemampuannya.

3. Pengembangan teknik penilaian formatif untuk aspek keterampilan 

Penilaian aspek keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu di berbagai macam konteks sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi. Penilaian keterampilan meliputi ranah berpikir dan bertindak. 

Keterampilan ranah berpikir meliputi antara lain keterampilan membaca, menulis, menghitung, dan mengarang. Keterampilan dalam ranah bertindak meliputi antara lain menggunakan, mengurai, merangkai, modifikasi, membuat, merancang, dan lain-lain.  

Baca juga: Cara Penilaian Jenis Penilaian Portofolio

Penilaian formatif aspek keterampilan sangat banyak dilakukan dalam bentuk kegiatan aktivitas. Pada kegiatan aktivitas sangat memungkinkan semua aspek (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) teramati. Teknik yang dapat digunakan untuk kegiatan aktivitas antara lain penilaian kinerja (praktik, produk, atau rancangan proyek) atau yang diberikan berkaitan dengan proses pembelajaran. 

Instrumen penilaian yang dapat digunakan untuk menilai aktivitas siswa antara lain lembar observasi yang mengacu pada rubrik yang ada atau jurnal. Kegiatan diskusi dan konferensi juga dapat digunakan untuk melihat keterampilan berkomunikasi dan berpikir.

Contoh pengembangan penilaian formatif untuk aspek keterampilan antara lain:

a. Kegiatan penilaian dalam bentuk aktivitas dapat dilakukan dengan cara meminta siswa untuk melakukan tugas yang diberikan guru. 

Bentuk tugas yang dilakukan tergantung pada kemampuan keterampilan apa yang akan dicapai siswa (misalnya berpidato di depan kelas, bermain peran di kelas, melakukan percobaan di ruang laboratorium, merancang sebuah proyek, dll). 

Teknik portofolio yang meminta siswa untuk mengumpulkan hasil karyanya yang menonjol pada penugasan keterampilan yang sudah dilakukan juga merupakan teknik penilaian formatif dalam bentuk aktivitas. 

Teknik inisangat bagus untuk melihat perkembangan dan meningkatkan kualitas kemampuan keterampilan siswa secara individu untuk menunjukkan performancenya menjadi lebih baik.

b. Kegiatan penilaian dalam bentuk konferensi atau diskusi juga memungkinkan untuk meningkatkan kemampuan keterampilan, terutama pada keterampilan berpikir dan mengkomunikasikan. 

Teknik-teknik penilaian formatif di sekolah dapat dikembangkan oleh guru sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai selama pembelajaran dan metode pembelajaran yang digunakan. 

Teknik penilaian yang dipilih hendaknya menggunakan sarana dan prasarana yang ada di sekolah dan kegiatannya menyenangkan siswa sehingga siswa tidak merasa bahwa mereka sedang dinilai. 

Setiap pertemuan guru dapat menggunakan lebih dari satu teknik penilaian formatif sehingga guru dapat mengetahui dengan pasti peningkatan penguasaan kemampuan siswa.

Demikian pengembangan teknik penilaian formatif .  Semoga bermanfaat.



Teknik Dan Lingkup Penilaian Formatif

Seiring dengan perkembangan penilaian kurikulum 2013, akhir-akhir ini muncul lagi istilah penilaian formatif seperti bentuk penilaian yang dilakukan versi lama atau sebelum kurikulum 2013. 

Namun pada hakekatnya  sama dengan Penilaian Harian (PH) untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran dan pencapaian kompetensi dasar pada saat proses pembelajaran dilakukan yang meliputi sasesmen for learning dan assesmen as learning. 

Sedangkan assesmen of learning berkaitan dengan penilaian sumatif. Berikut ini akan dijelaskan teknik penilaian formatif yang dapat dilakukan guru.  

Teknik penilaian formatif tidak bisa lepas dari  metode pembelajaran yang dilakukan seorang guru. Metode pembelajaran yang tepat dalam kurikulum 2013 adalah metode pembelajaran yang dapat mengukur ketercapaian kompetensi yang diharapkan pada keterampilan abad ke-21. 

Baca juga: Jenis-Jenis Penilaian Non Tes 

 Metode pembelajaran yang memenuhi kriteria di tersebut atas adalah penerapan  metode ilmiah seperti inquiry learning, discovery learning, pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning), pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) dan coperative learning. 

Metode metode pembelajaran tersebut dapat mengukur kemampuan keterampilan abad ke-21 yang mencakup 3 hal, yaitu literasi dasar  yaitu kemampuan bagaimana siswa dapat menerapkan keterampilan dasar sehari-hari, kompetensi 4 C (critical thingking/problem solving, creativity, communication, dan colaboration), dan kualitas karakter (bagaimana siswa beradaptasi pada lingkungan yang dinamis). 

Berdasarkan metode pembelajaran yang digunakan, guru dapat merencanakan teknik penilaian formatif dan instrumen penilaian yang tepat untuk memantau ketercapaian kompetensi yang diharapkan. 

eknik penilaian yang dapat digunakan dalam penilaian formatif berkaitan dengan beberapa metode pembelajaran di atas dapat dikelompokkan dalam ke dalam beberapa bentuk  kegiatan antara lain:

1. Pertanyaan Lisan dan Tertulis

Teknik penilaian formatif dalam bentuk pertanyaan dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan terkait dengan materi yang sedang disampaikan. Pertanyaan dapat diberikan pada saat awal pembelajaran, selama proses pembelajaran, atau setelah pembelajaran selesai. 

Pertanyaan dapat diberikan secara lisan atau tertulis yang diberikan pada setiap siswa, kelompok, atau semua siswa di kelas. 

Pertanyaan dapat diberikan mulai dari pemahaman yang rendah atau Lower Order Thinking Skills (LOTS) sampai ke pemahaman yang tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) sehingga terlihat pada level mana siswa belum menguasai materi yang sudah disampaikan.

Baca juga: Tanya Jawab Asesmen Nasional (AN)

Pertanyaan yang dimaksud di atas harus benar-benar direncanakan guru dan dituangkan dalam lampiran RPP, sehingga tidak mendadak atau asal-asalan, akan tetapi harus mengacu ketercapaian tujuan pembelajaran dan tuntutan kompetensi dasar sesuai dengan mata pelajaran yang diampu guru. 

2. Diskusi

Teknik penilaian formatif dalam bentuk kegiatan diskusi dilakukan dengan cara menyajikan suatu masalah yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama dalam kelompok atau kelas berkaitan dengan materi yang akan disampaikan. 

Diskusi memungkinkan siswa untuk meningkatkan wawasan dan kedalaman pemahaman mereka untuk mengklarifikasi informasi yang terbaru atau informasi yang salah, kemampuan berargumentasi, dan kemampuan berkomunikasi.

3. Aktivitas

Teknik penilaian formatif dalam bentuk aktivitas dilakukan dengan cara meminta siswa untuk menunjukkan pemahaman konsep yang dimilikinya melalui aktivitas yang dilakukan di dalam kelas, di laboratorium, maupun di luar kelas. 

Teknik penilaian ini memungkinkan siswa untuk terampil/kreatif dalam melakukan/mengerjakan suatu tugas dengan menerapkan konsep-konsep yang sudah dipahaminya sesuai dengan capaian kompetensi yang diharapkan pada pembelajaran yang dilakukan. 

Penilaian seperti ini sering dikaitkan dengan pengerjaan tugas atau lembar kerja setelah guru memberikan konsep-konsep materi yang diperlukan. 

4. Konferensi

Konferensi adalah pertemuan untuk menyampaikan pendapat atau bertukar pendapat mengenai suatu masalah/topik tertentu yang dihadapi bersama. Dalam konteks penilaian formatif, konferensi dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman

siswa mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama sehingga kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan komunikasi dapat teramati dengan baik.

5. Interviu

Interviu dilakukan untuk mengetahui kesalah pahaman umum dengan cara memprediksi tentang kesalahan konsep, prinsip, atau proses yang sering dilakukan siswa. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara bertanya kepada siswa apakah mereka setuju atau tidak dengan pernyataan dari suatu masalah dan menjelaskan alasannya. 

Interviu biasanya dilakukan antara guru dan satu orang siswa atau lebih. Pertanyaan-pertanyaan pada interviu sangat fokus untuk menggali seberapa jauh pemahaman siswa untuk konsep tertentu.

6. Penilaian diri

Penilaian diri dilakukan dengan cara meminta siswa untuk menilai hasil pekerjaan dengan merujuk pada rubrik /kriteria yang harus dicapai, umpan balik yang ditulis guru pada hasil tugas yang dilakukan, atau masukan hasil diskusi pada saat siswa menunjukkan kinerjanya. 

Siswa diberi kesempatan untuk mengevaluasi proses pembelajarannya dengan mencermati kriteria yang sudah diberikan, berdiskusi dengan teman sejawatnya, dan diberi kesempatan untuk menunjukkan hasil evaluasi dirinya.

Pada saat tatap muka pembelajaran. pengembangan teknik penilaian formatif tidak harus satu jenis kegiatan saja, tetapi dapat mengacu pada lebih dari satu jenis kegiatan penilaian tergantung pada waktu yang disediakan, misalnya:

  • Kegiatan diskusi membahas suatu topik dapat dilanjutkan dengan kegiatan pemberian pertanyaan;
  • Kegiatan dalam bentuk aktivitas di laboratorium dapat dilanjutkan dengan diskusi terkait hasil percobaan atau kasus yang berkaitan dengan proses/hasil percobaan;
  • Pertanyaan tertulis dapat dilanjutkan dengan penilaian diri setelah diberi kunci jawaban setelah siswa selesai menjawab pertanyaannya.

Penilaian formatif dilakukan untuk mengetahui kemajuan dalam menguasai kompetensi yang diharapkan baik untuk aspek sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. 

Prinsip dari kegiatan penilaian formatif dilakukan terintegrasi dengan proses pembelajaran sehingga teknik penilaian formatif yang dapat dikembangkan diharapkan dapat mencakup ketiga aspek tersebut yaitu aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan.

Baca juga: Apa dan Bagaimana Penilaian Portofolio?

Demikianlah teknik dan lingkup penilaian yang dapat dilakukan guru untuk penilaian formatif sebelum, pada saat dan sesudah berlangsung proses pembelajaran. Semoga bermanfaat. 


Langkah Efektif Penerapan Metode Pembelajaran Brainstorming

A. Pengertian 

Untuk memahami pengertian metode pembelajaran Brainstorming atau metode curah pendapat mari kita pahami pendapat para ahli tentang pengertian metode brainstorming seperti di bawah ini: 

Menurut Mufidah (2010) bahwa, Metode brainstorming adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman dari semua peserta. 

Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode brainstorming pendapat orang lain tidak perlu ditanggapi. 

Sedangkan Aqib, Zainal (2013) mengemukakan bahwa, Metode brainstorming adalah suatu teknik atau cara mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Metode ini digunakan dengan melontarkan suatu masalah oleh guru kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru. 

Metode ini dapat pula di artikan sebagai suatu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang sangat singkat

Selanjutnya Widowati (2008) mendefinisikan metode brainstorming adalah suatu situasi di mana sekelompok orang berkumpul untuk menggeneralisasikan ide-ide baru seputar area spesifik yang menarik. 

Brainstorming dapat juga diartikan sebagai suatu teknik konferensi di mana tiap-tiap kelompok berusaha mencari suatu solusi pada suatu permasalahan yang spesifik melalui pemunculan ide-ide secara spontan oleh masing-masing anggota kelompok. Brainstorming merupakan alternatif upaya pengembangan kemampuan berpikir kreatif. 

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran brainstorming(curah pendapat) merupakan metode pembelajaran yang digunakan guru dengan cara mengumpulkan pendapat , gagasan, informasi dan pengalaman  dari semua  peserta didik berkaitan dengan topik atau materi pelajaran yang dibahasnya, dari berbagai pendapat yang dihimpun guru tersebut kemudian dilakukan evaluasi sejauh mana pemahaman peserta didiknya. 

Metode brainstorming digunakan dengan cara  melontarkan suatu masalah oleh guru kemudian masing-masing  peserta didik secara bergiliran  menyatakan pendapat , gagasan , informasi atau komentar dan guru atau pemimpin kelompok mengumpulkannya. 

Metode ini dapat pula di artikan sebagai suatu cara untuk mendapatkan banyak ide dari peserta didik  dalam waktu yang sangat singkat, pendapat yang dikemukakan peserta didik tidak langsung ditanggapi oleh peserta lain. 

Metode  brainstorming dapat yang merangsang berpikir kritis  peserta didik  dan membandingkan pendapatnya dengan pendapat peserta didik lain sehingga memperluas wawasan mereka. 

Dalam pelaksanaannya tiap peserta didik di beri kesempatan untuk menyampaikan  pendapat atau gagasannya terhadap topik atau permasalahan yang dikemukakan guru. Peserta didik yang tidak dibolehkan  mengkritik atau mendebat terhadap gagasan atau pendapat yang  disampaikan temannya. 

Pendapat atau gagasan itu di tulis di papan tulis atau pada kertas lebar yang disediakan. Selesai di tulis pendapat atau gagasan itu di kaji dan di nilai oleh kelompok tersebut atau oleh tim yang di tunjuk untuk melakukan kajian. 

Metode Brainstorming merupakan cara cerdas untuk menggeneralisasikan ide-ide baru ataupun ide-ide yang kreatif. Dalam brainstorming seseorang dapat mengkombinasikan ide-ide sendiri dengan ide orang lain untuk memunculkan ide baru atau pun menggunakan ide orang lain untuk merangsang munculnya ide. 

Baca juga: Model Kompetensi Dalam Pengembangan Profesi Guru

Proses pembelajaran yang menggunakan teknik tersebut, siswa akan merasa lebih bebas dalam berpikir dan berpindah menuju suatu area pikiran baru sehingga dapat menghasilkan sejumlah ideide baru dan pemecahan masalah.

B. Tujuan Pembelajaran Brainstorming

Menurut Wahyudi (2008) bahwa tujuan brainstorming adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mind map) untuk menjadi pembelajaran bersama". 

Pembelajaran brainstorming merupakan salah satu metode pembelajaran yang memiliki manfaat agar tujuan pembelajaran tercapai melalui kegiatan belajar mandiri dan peserta didik mampu menjelaskan temuannya pada pihak lain. Yang diharapkan, selain agar tujuan pembelajaran tersebut tercapai, maka kemampuan siswa dalam belajar mandiri dan mengemukakan pendapat kritis dapat ditingkatkan.

C. Langkah-langkah Efektif Penerapan Metode Brainstorming

Langkah ke -1

Guru melakukan analisis Kompetensi Dasar (KD)  sehingga dapat di pilih materi mana yang tepat di bahas dengan metode brainstorming. Selanjutnya guru menuangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Langkah ke - 2 

Guru menyusun pertanyaan-pertanyaan atau kasus berupa tulisan atau gambar untuk diajukan kepada peserta didik, memilih sumber -sumber, memperkirakan waktu yang digunakan, hambatan yang mungkin ditemui dan menentukan apakah peserta didik dikelompokkan atau disajikan secara klasikal.

Langkah ke - 3

Pemberian Informasi dan motivasi, membuka pelajaran, memberikan informasi, mengajukan pertanyaan-pertanyan secara berurutan kepada seluruh peserta didik dalam kelompok, mengajak mereka untuk memberikan gagasan. Dalam hal ini guru memberikan waktu berfikir kepada peserta didik sebelum mereka memberikan tanggaban.  

Selain itu, guru menjelaskan aturan-aturan yang harus diperhatikan oleh para peserta didik, seperti : setiap orang menyampaikan satu pendapat atau gagasan dengan cepat, menyampaikan jawaban secara langsung dan  tidak boleh mengeritik atau menyela (mengintrupsi) pendapat orang lain.

Langkah ke - 4

Identifikasi, pada langkah ini peserta didik diberi kesempatan untuk memberikan sumbang saran secara bergiliran. Guru dapat mencatat/manampung semua tanggaban peserta didik atau ditunjuk dari pemimpin kelompok, hal ini sesuai dengan kesepakatan yang dibangun di awal. 

Langkah ke - 5

Klasifikasi, tanggaban atau sumbang saran yang terkumpul dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria atau struktur yang telah direncanakan guru  atau disepakati dengan peserta didik.

Langkah ke - 6

Verivikasi, secara klasikal atau kelompok diberi kesempatan untuk meninjau kembali tanggaban/ sumbang saran yang telah diklasifikasikan 

Langkah ke - 7

Konklusi, pemimpin kelompok atau secara bersama mencoba menyimpulkan (penyepakatan) butir-butir alternatif pemecahan masalah atau topik yang dibahas.

Dalam penerapan metode brainstorming guru perlu menggondisikan agar peserta didik tidak ada yang mendominasi, dan semua peserta didik harus mendapat giliran. Jika ada peserta didik yang kesulitan dalam mengajukan pendapat guru perlu menuntun dan memotivasi. 

Sebaiknya guru menunjuk seseorang penulis untuk mencatat pendapat dan jawaban yang diajukan peserta didik dan dapat pula menunjuk sebuah tim untuk mengevaluasi bagaimana proses dan hasil penggunaan teknik ini. 

Guru dapat memimpin kelompok agar kelompok itu dapat mengevaluasi jawaban dan pendapat yang terkumpul. Pendidik menghindarkan dominasi seseorang peserta dalam menyampaikan gagasan dan pendapat.

Baca juga: 5 Metode Terbaik Dalam pembelajaran PJJ

D. Keunggulan dan Kelemahan Metode Brainstorming

Menurut Sudjana (2005) bahwa bahwa keunggulan dan kelemahan teknik atau metode brainstorming yaitu:

1. Keunggulan 

  • Merangsang semua peserta didik untuk mengemukakan pendapat dan gagasan baru
  • Menghasilkan jawaban atau pendapat melalui reaksi berantai
  • Penggunaan waktu dapat dikontrol dan teknik ini dapat digunakan dalam kelompok besar atau kelompok kecil
  • Tidak memerlukan banyak alat tenaga profesional 
  • Peserta didik termotivasi dalam belajar
  • Melatih peserta didik untuk berfikir kritis 
  • Melatih diri untuk menghormati pendapat orang lain
  • Suasana pembelajaran demokratis dan menumbuhkan disiplin dalam diri peserta didik

2. Kelemahan 

  • Peserta didik yang kurang perhatian dan kurang berani mengemukakan pendapat akan merasa terpaksa untuk menyampaikan buah pikirannya.
  • Jawaban cenderung mudah terlepas dari pendapat yang berantai
  • Peserta didik cenderung beranggapan bahwa semua pendapat diterima
  • Memerlukan evaluasi lanjutan untuk menentukan prioritas pendapat yang disampaikan 
  • Menggunakan waktu yang lebih lama sehinga tidak semua materi dapat dibelajarkan dengan metode brainstorming
  • Peserta didik tidak segera mengetahui apakah pendapat yang dikemukakan itu salah atau sudah benar
  • Topik yang dibahas bisa melebar keluar dari yang diharapkan
  • Tidak menjamin bahwa masalah atau topik yang dibahas dapat tuntas terselesaikan

Metode pembelajaran brainstorming memiliki kelebihan dan kekurangan, guru perlu memperhatikan agar kelebihan dapat tetap dipertahankan sedangkan kekurangan diminimalisir atau jika mungkin dihindarkan. 

Baca juga; Tanya Jawab Seputar Assesmen Nasional 

E. Kesimpulan 

Metode ini tepat digunakan karena dalam waktu singkat dapat terhimpun gagasan, pendapat dan jawaban inovatif dimana tidak menghambat spontanitas penyampaian pernyataan peserta didik. Dengan teknik ini akan terjadi situasi belajar yang saling memupuk dan saling melengkapi saran dan pendapat di antara peserta didik

Perlu diketahui tidak semua materi dapat diajarkan dengan metode brainstorming, sangat tergantung karakteristik materi yang dimuat kompetensi dasar. 

Guru perlu melakukan identifikasi materi maupun karakteristik peserta didiknya apakah cocok metode ini digunakan. Selanjutnya tidak satu pun metode pembelajaran yang dapat berdiri sendiri, tapi harus dilengkapi dengan metode lain. 

Baca juga: Cara Membuat Handout Yang Berkualitas

Penerapan metode ini diawali dengan melakukan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pada bagian inti dilangkah-langkah pembelajaran dituangkan/dituliskan langkah-langkah metode pembelajaran brainstorming. Selamat mencoba.

Bahan Bacaan:
Budiyanto, Moch. Agus Krisno.(2016).  Sintaks 45 Metode Pembelajaran Dalam Student Centered Learning, Malang : UMM Pres

PP Nomor 63 Tahun 2021 Tentang THR


Presiden Republik Indonesia telah menerbitkan Peraturan pemerintah Nomor 63 Tahun 2001 tentang pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji ke -13  kepada  PNS, PPPK,TNI, POLRI, Pejabat Negara dan Penerima Pensiun.

Pemberian Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas merupakan kebijakan Pemerintah sebagai wujud penghargaan atas pengabdian Aparatur Negara, Pensiunan, Penerima pensiun, dan penerima tunjangan dalam mencapai tujuan pembangunan nasional. 

Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas diberikan sebesar gaji/pensiun pokok dan tunjangan yang melekat pada gaji/pensiun pokok atau dengan sebutan lain (tanpa tunjangan kinerja atau dengan sebutan lain) dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara termasuk kemampuan Keuangan daerah. 

Namun demikian, diantara Aparatur Negara dan Pensiunan yang memenuhi persyaratan untuk menerima lebih dari 1 (satu) Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas, hanya diberikan Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas yang nilainya paling besar.

1. Tunjangan Hari Raya dan Gaji ke-13 bagi PNS, PPPK, Prajurit TNI, Anggota Polri, Pejabat Negara, Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi, Pimpinan Lembaga Penyiaran Publik, dan Pegawai Non-Pegawai Aparatur Sipil Negara yang bertugas pada Lembaga Penyiaran Publik, terdiri atas:

a. gaji pokok;

b. tunjangan keluarga;

c. tunjangan pangan; dan

d. tunjangan jabatan atau tunjangan umum, sesuai jabatannya dan I atau pangkatnya.

2. Tunjangan Hari Raya dan Gaji ke-13 bagi Calon PNS terdiri atas:

a. 80% (delapan puluh persen) dari gaji pokok PNS;

b. tunjangan keluarga;

c. tunjangan pangan; dan

d. tunjangan umum, sesuai jabatannya dan / atau pangkat golongan/ruang

3. Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas bagi Pensiunan dan Penerima Pensiun terdiri atas:

a. pensiun pokok;

b. tunjangan keluarga;

c. tunjangan pangan; dan

d. tambahan penghasilan.

Adapun besaran gaji ASN untuk golongan I hingga IV sesuai dengan PP No. 15 Tahun 2019 adalah sebagai berikut:


Golongan I

Golongan Ia : Rp. 1.560.800 - Rp. 2.335.800

Golongan Ib : Rp. 1.704.500 - Rp. 2.472.900

Golongan Ic : Rp. 1.776.600 - Rp. 2.577.500

Golongan Id : Rp. 1.851.800 - Rp. 2.686.500

Golongan II

Golongan IIa : Rp. 2.022.200 - Rp. 3.373.600

Golongan IIb : Rp. 2.208.400 - Rp. 3.516.300

Golongan IIc : Rp. 2.301.800 - Rp. 3.665.000

Golongan IId : Rp. 2.399.200 - Rp. 3.820.000

Golongan III

Golongan IIIa. Rp. 2.579.400 - Rp.4.236.400

Golongan IIIb. Rp. 2.688.500 - Rp. 4.415.600

Golongan IIIc : Rp. 2.802.300 - Rp. 4.602.400

Golongan IIId : Rp. 2.920.800- Rp. 4.797.000

Golongan IV

Golongan IVa : Rp.3.044.300 - Rp. 5.000.000

Golongan IVb : Rp. 3.173.100 - Rp.5.211.500

Golongan IVc : Rp. 3.307.300- Rp. 5.431.900

Golongan IVd : Rp. 3.447.200 - Rp. 5.661.700

Golongan IVe : Rp. 3.593.100 - Rp. 5.901.200

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 32 tahun 2018, tunjangan makan sebesar Rp. 35.000 per hari untuk golongan I dan II, Rp. 37.000 per hari untuk golongan III, dan Rp. 41.000 per hari untuk golongan IV.

Tunjangan suami atau istri besarannya adalah 5 persen dari gaji pokok PNS, sedangkan tunjangan anak sebesar 2 persen dari gaji pokok dengan ketentuan maksimal 2 orang anak. 

Masing-masing ASN telah dapat memperkiran besaran THR yang akan mereka terima, sedangkan  pencairan Tunjangan hari Raya ini diperkiran dilakukan H-10 sebelum raya Idul fitri. 

PP Nomor 63 Tentang THR DAN GAJI KE-13 UNDUH DISINI

PMK Nomor 42 Tahun 2021 Tentang JUKNIS THR DAN GAJI KE-13 DISINI

Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas tidak termasuk:

a. tunjangan kinerja;

b. tunjangan kinerja daerah atau sebutan lain;

c. tambahan penghasilan pegawai atau sebutan lain;

d. insentif kinerja;

e. insentif kerja;

f. tunjangan pengelolaan arsip statis;

g. tunjangan bahaya, tunjangan resiko, tunjangan kompensasi, atau tunjangan lain yang sejenis;

h. tunjangan pengamanan;

i. tunjangan profesi atau tunjangan khusus guru dan dosen atau tunjangan kehormatan;

j. tambahan penghasilan bagi guru PNS;

k. insentif khusus;

l. tunjangan khusus;

m. tunjangan pengabdian;

n. tunjangan operasi pengamanan;

o. tunjangan selisih penghasilan;

p. tunjangan penghidupan luar negeri;

q. tunjangan atau insentif yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan atau peraturan internal instansi pemerintah;

Adapun gaji ke-13 akan disalurkan pada Juni 2021. Gaji ke-13 bagi ASN, TNI/POLRI adalah gaji pokok dan tunjangan melekat. 

Dengan recana baik ini semoga seluruh ASN, PPPK, CPNS, TNI/POLRI pejabat negara diseluruh tanah air semakin dapat meningkatkan kinerjanya untuk Nusa dan Bangsa.  




Peran Guru BK Dalam Penetapan Peminatan Peserta Didik

Mekanisme penetapan peminatan peserta didik baru SMA dapat dilaksanakan dengan menggunakan salah satu alternatif yang meliputi pemilihan dan penetapan peminatan bersamaan dengan proses penerimaan peserta didik baru dan penetapan peminatan pada minggu pertama awal tahun pelajaran baru setelah calon peserta didik baru dinyatakan diterima sebagai peserta didik baru. 

Baca juga: Mekanisme dan Strategi Layanan BK di Sekolah

Penetapan peminatan peserta didik dilaksanakan oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK)  bekerja sama dengan wakil kepala sekolah, panitia PPDB dan Tenaga Administrasi Sekolah.

A. Peminatan Dilakukan Bersamaan dengan PPDB

Apabila sekolah memutuskan bahwa peminatan dilakukan bersamaan dengan PPDB maka guru BK memiliki peran yang sangat penting sebagai berikut: 

1. Memberikan usulan dalam musyawarah bersama Kepala Sekolah, Wakasek dan Panitia PPDB berkaitan dangn kriteria calon peserta didik, tata cara peminatan sampai dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) tentang penetapan peminatan yang dikeluarkan oleh Kepala Sekolah.

2. Membagikan instrumen non tes untuk mengungkap kecenderungan peserta didik sehingga dapat  ditempatkan pada peminatan tertentu. 

3. Menyiapkan dan menyampaikan informasi peminatan yang meliputi kuota, macam peminatan, cara, komponen, dan kriteria dalam penetapan pemilihan peminatan kepada calon peserta didik.

4. Mengumpulkan data peminatan: nilai rapor SMP/MTs, nilai ujian sekolah , pemilihan peminatan dari peserta didik dengan persetujuan orang tua, rekomendasi guru BK SMP/MTs.

5. Melakukan anailis data,  menetapkan, dan mengelompokkan peserta didik pada kelompok peminatan tertentu, serta menempatkan pada kelas tertentu. 

6. Memberikan layanan konsultasi kepada orang tua atau peserta didik yang memerlukan atau yang merasa tidak sesuai antara penetapan peminatan dengan pilihan peminatan peserta didik atau orang tua.

7. Menyelenggarakan pendampingan dalam pembelajaran sesuai dengan peminatan peserta didik dengan memberikan layanan konseling individual, konseling kelompok, bimbingan kelompok, dan bimbingan klasikal.

8. Melakukan evaluasi penyelenggaraan program peminatan dan tindak lanjut untuk pengembangan potensi peserta didik.

9. Menyusun laporan kegiatan penetapan peminatan. Format laporan berisi: judul laporan, nomor urut, nama kegiatan, waktu pelaksanaan, pelaksana, hasil kegiatan, kendala yang dihadapi, kesimpulan dan saran. Laporan diserahkan kepada kepala satuan pendidikan segera setelah selesai kegiatan.

Baca juga: Cara Menghitung Beban Kerja BK di Sekolah

B. Peminatan Dilakukan Setelah dengan PPDB

Peminatan bisa juga dilakukan setelah selesai dilaksanakan PPDM, maka guru BK melakukan kegiatan dalam penetapan peminatan sebagai berikut: 

1. Pemberian informasi dan orientasi kepada peserta didik  tentang macam dan kuota peminatan, mekanisme, komponen yang dipergunakan dalam penetapan, krtiteria penetapan.

2. Menyiapkan dan menggunakan instrumen dan atau format peminatan untuk mengumpulkan data peminatan peserta didik dan orang tua.

3. Mengumpulkan data peminatan peserta didik seperti:  nilai rapor SMP/MTs, nilai Ujian Nasional, pemilihan peminatan dari peserta  didik dengan persetujuan orang tua, dan rekomendasi guru BK SMP/MTs.

4. Melakukan analisis  data, menetapkan, dan mengelompokkan peserta didik pada kelompok peminatan tertentu, serta menempatkan pada kelas tertentu.

5. Memberikan layanan konsultasi kepada orang tua atau peserta didik yang memerlukan atau yang merasa tidak sesuai antara penetapan peminatan dengan pilihan peminatan peserta didik atau orang tua.

6. Menyenggarakan pendampingan dalam pembelajaran sesuai dengan peminatan peserta didik dengan memberikan layanan konseling individual, konseling kelompok, bimbingan kelompok, dan bimbingan klasikal.

7. Melakukan evaluasi penyelenggaraan program peminatan dan tindak lanjut untuk pengembangan potensi peserta didik.

8. Menyusun laporan kegiatan penetapan peminatan. Format laporan berisi tentang: judul laporan, nomor urut, nama kegiatan, waktu pelaksanaan, pelaksana, hasil kegiatan, kendala yang dihadapi, kesimpulan dan saran. 

Format laporan berisi: judul laporan, nomor urut, nama kegiatan, waktu pelaksanaan, pelaksana, hasil kegiatan, kendala yang dihadapi, kesimpulan dan saran. Laporan diserahkan kepada kepala satuan pendidikan segera setelah selesai kegiatan.

Baca Juga: Sistematika Laporan PTK

Peran guru BK dalam membantu peserta didik untuk menentukan peminatan di sekolah sangat besar, karena peminatan peserta didik yang tepat akan menetukan keberhasilan mereka dalam mengikuti pembelajaran dan sukses masa depannya.