Kegiatan Pembelajaran Dalam Kurikulum 2013

Dalam implementasi kurikulum 2013, setiap guru perlu memahami standar proses yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses pendidikan Dasar dan Menengah. Standar ini menjadi acuan bagi setiap guru ketika melaksanakan kegiatan  pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. 

Dalam standar tersebut ada tiga kegiatan yang perlu diperhatikan yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Masing-masing kegiatan tersebut dijabarkan menjadi beberapa indikator, dimana setiap indikator perlu diperhatikan dan dipedomani guru dalam setiap pelaksanaan kegiatan pembelajaran. 

Adapun uraian masing-masing kegiatan dan indikatornya adalah sebagai berikut:  

A. Kegiatan Pendahuluan
  1. Membangun sikap religius sesuai dengan ajaran agama yang di anut peserta didik
  2. Memotivasi peserta didik untuk belajar
  3. Memberikan apersepsi dengan cara menghubungkan materi pembelajaran  dengan pengalaman peserta didik
  4. Menyampaikan tujuan pembelajaran, dan kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik
  5. Menyampaikan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan kompetensi yang akan dinilai yang mencerminkan
  6. Penguatan nilai karakter berbasis budaya sekolah
B. Kegiatan Inti

B1. Penguasaan Materi Pembelajaran
  1. Kemampuan menyesuaikan materi pembelajaran dengan tujuan pembelajaran
  2. Kemampuan mengkaitkan materi pembelajaran dengan pengetahuan lain yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
  3. Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat dan lengkap sesuai dengan konsep yang benar dan yang mencerminkan
  4. Penguatan nilai karakter berbasis kelas
  5. Menyajikan materi secara sistematis (dari materi mudah ke yang sulit, dari materi sederhana ke yang kompleks, dari materi konkrit ke abstrak atau sebaliknya) sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai peserta didik.
B2. Implementasi Pembelajaran
  1. Melaksanakan pembelajaran mengikuti kerangka RPP yang telah disusun 
  2. Pembelajaran yang dilaksanakan bersifat interaktif yang mendorong munculnya interaksi multi-arah, yaitu antar peserta didik, peserta didik dengan guru, dan peserta didik dengan sumber belajar, serta peserta didik dengan lingkungan belajar sehingga memiliki kemampuan komunikatif dan kerjasama yag baik
  3. Pembelajaran yang dilaksanakan bersifat inspiratif dan multifaset (variasi proses berpikir C1-C6) untuk memunculkan kebiasaan positip peserta didik yaitu terbangunnya karakter dan berkembangnya Higher Order Thinking Skills (HOTs) atau Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi peserta didik.
  4. Pembelajaran yang dilaksanakan menarik,  menyenangkan,  menggunakan multimoda dan  pembelajarkan lebih lanjut
  5. Pembelajaran yang dilaksanakan menantang sehingga memunculkan kemampuan berpikir kritis.
  6. Pembelajaran yang dilaksanakan memotivasi pesertadidik untuk berpartisipasi aktif dan bermakna (meaningfull)
  7. Pembelajaran yang dilaksanakan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
  8. Pembelajaran yang dilaksanakan menumbuhkan  kreativitas sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik
  9. Pembelajaran yang dilaksanakan menumbuhkan kemandirian berpikir dan bertindak sesuai dengan bakat, minat, dan  perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
  10. Pembelajaran yang dilaksanakan menumbuhkan kemampuan berliterasi
  11. Guru menerapkan teknik bertanya dengan tidak memunculkan jawaban serempak (chorus answer) dari peserta didik
  12. Guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik dengan pertanyaan pelacak (probing question) untuk mendorong kemampuan bernalar (berpikir kritis, logis dan sistematis)
  13. Pembelajaran yang dilaksanakan menumbuhkan kemandirian berpikir dan bertindak sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
  14. Pembelajaran yang dilaksanakan menumbuhkan kemampuan berliterasi
  15. Guru menerapkan teknik bertanya dengan tidak memunculkan jawaban serempak (chorus answer) dari peserta didik
  16. Guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik dengan pertanyaan pelacak (probing question) untuk mendorong kemampuan bernalar (berpikir kritis, logis dan sistematis)
  17. Guru mendorong peserta didik untuk mengembangkan keterampilan bertanya untuk membangun kebiasaan mencari tahu (inquisiveness)
B3. Pemanfaatan Media Dan Sumber Belajar 
  1. Mengakomodasi perkembangan teknologi pembelajaran sesuai dengan konsep dan prinsip Techno-Pedagogical Content Knowledge
  2. Menunjukkan keterampilan dalam menggunakan media pembelajaran
  3. Menunjukkan keterampilan dalam pemanfaatan sumber belajar
  4. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran
  5. Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar
  6. Media dan sumber belajar yang digunakan mampu menghasilkan pesan yang menarik dan mengesankan
B4. Interaksi Pembelajaran
  1. Guru menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi  intarpeserta didik, peserta didik dengan guru, peserta didik dengan media dan sumber belajar
  2. Guru memberikan respon positif terhadap partisipasi peserta didik
  3. Guru menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik
  4. Guru menunjukkan hubungan pribadi yang kondusif dan konstruktif
  5. Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme peserta didik dalam pembelajaran
B5. Menggunakan Bahasa Yang Benar Dan Tepat 
  1. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan kontekstual
  2. Menggunakan pilihan kata yang mudah dipahami oleh peserta idik
C. Kegiatan Penutup
  1. Membuat rangkuman dan/atau kesimpulan dengan melibatkan peserta didik
  2. Melaksanakan penilaian pembelajaran (secara lisan/tertulis)
  3. Mengumpulkan hasil kerja peserta didik sebagai bahan portofolio
  4. Memberikan tindak lanjut hasil penilaian   remedial/pengayaan)
  5. Melakukan refleksi pembelajaran (kebermaknaan pembelajaran bermuara pada KI1 dan KI2)
  6. Penguatan karakter berbasis masyarakat
Diharapkan guru dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan tuntutan masing-masing indikator sehingga tercapai standar mutu dalam kegitan pembelajaran. Tentunya standar tersebut tidak menutup kreativitas guru namun  terbuka untuk dikembangkan  sesuai dengan karakteristik peserta didik dan perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan

Bahan Bacaan 
Permendikbud Nomor 22 tahun 2016 Tentang Standar Proses Pembelajaran Pendidikan Dasar dan Menengah 

Keterampilan Pedagogik Guru di Kelas

Kata pedagogi berasal dari kata Yunani Kuno yang terdiri dari dua suku kata  paedos dan agogos, paedos berarti anak laki-laki, sedang agogos yaitu membimbing, mengantar dan  mendidik. Secara singkat diartikan bahwa pedagogik adalah membimbing atau mendidik anak. Pengertian ini berkembang  sehingga pedagogik adalah seorang ahli yang mengantarkan atau Membimbing seseorang (siswa) untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan pedagogi adalah ilmu atau seni bagi seorang guru yang merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  pedagogi didefenisikan sebagai ilmu pengajaran atau ilmu pendidikan Sedangkan pedagogik adalah bersifat pedagogi atau bersifat mendidik. Salah satu bagian ilmu pedagogik yang harus dipahami seorang guru adalah kemampuan melaksanakan keterampilan dasar dalam  pembelajaran yaitu:

  1. Keterampilan Membuka dan Menutup
  2. Ketrampilan Bertanya
  3. Keterampilan Memberi penguatan
  4. Ketrampilan Mengadakan Variasi Pelajaran
  5. Keterampilan Membimbing Perorangan/ kelompok Kecil
  6. Ketrampilan Menjelaskan
  7. Ketrampilan Mengelola Kelas
  8. Keterampilan Memimpin Diskusi

A. Mengapa penting membuka dan menutup pelajaran ?

Secara rasioal suatu kegiatan pembelajaran tanpa dibuka maka peserta didik akan mengalami tiga hal. 1) peserta didik kurang atau tidak siap mental dalam mengikuti pelajaran, 2) perhatian peserta didik belum terpusat, 3) pelajaran yang akan diikuti susah dipahami.

Demikian juga pembelajaran tanpa ditutup maka ada dua  yang dialami siswa dan guru yaitu 1) peserta didik tidak tahu apa yang telah dipelajari secara menyeluruh, 2) guru tidak tahu keberhasilan peserta didiknya

1. Tujuan Membuka Pelajaran

  • Menimbulkan motivasi
  • Menjelaskan batas Tugas
  • Mengetahui hubungan materi
  • Mengetahui Tingkat Pemahaman 
2. Prinsip Penggunaan
  • Bermakna
  • Berurutan dan Berkesinambungan
3. Komponen dalam Membuka Pelajaran
     a. Menarik Perhatian
  • Gaya mengajar guru
  • Penggunaan alat-alat bantu mengajar
  • Pola interaksi yang bervariasi
     b. Menimbulkan Motivasi
  • Dengan kehangatan dan keantusiasan
  • Dengan menimbulkan rasa ingin tahu
  • Mengemukakan ide yang bertentangan
  • Dengan memperhatikan minat siswaMembuka Pelajaran
c. Memberi Acuan
  • Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas
  • Menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan
  • Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas
  • •Mengajukan pertanyaan-pertanyaan
d. Membuat Kaitan
  • Membuat kaitan antar aspek-aspek yang relevan dari pelajaran yang telah dikenal siswa
  • Guru membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah diketahui
  • Memberi Acuan Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas
  • Menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan
  • Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas
  • Mengajukan pertanyaan-pertanyaan Membuat Kaitan
  • Membuat kaitan antar aspek-aspek yang relevan dari pelajaran yang telah dikenal siswa
  • Guru membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah diketahui
Menutup Pelajaran
1. Meninjau Kembali
  • Merangkum inti pelajaran
  • Membuat ringkasan
2. Mengevaluasi
  • Mendemonstrasikan keterampilan
  • Mengaplikasikan ide baru pada situasi lain
  • Mengekspresikan pendapat siswa sendiri 
  • Soal- soal tertulis
B. Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya ada dua pertama 1) Keterampilan bertanya dasar yaitu komponen dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan jenis pertanyaan 2) Kerampilan bertanya lanjut
merupakan lanjutan dari keterampilan bertanya dasar yang telah mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berfikir

1. Hal yang perlu diperhatikan dalam bertanya
a. Hangat dan Antusias
b. Kebiasaan yang perlu dihindari
  • mengulangi pertanyaan sendiri
  • mengulangi jawaban siswa
  • menjawab pertanyaan sendiri
  • pertanyaan memancing jawaban serentak
  • menunjuk siswa yang akan menjawab
  • sebelum mengajukan pertanyaan
  • pertanyaan ganda
2. Tujuan bertanya kepada peserta didik
    a. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu
    b. Memusatkan perhatian siswa
    c. Mendiagnosis kesulitan
    d. Mengembangkan cara berfikir siswa aktif
    e. Memberikan kesempatan mengasimilasikan informasi
    f. Mendorong mengemukakan pendapat
    g. Menguji dan mengukur hasil belajar

3. Komponen Keterampilan Bertanya Dasar
   a. Jelas dan singkat
   b. Pemberian acuan
   c. Pemusatan
   d. Pemindahan giliran
   e. Penyebaran
   f. Pemberian waktu berfikir
   g. Pemberian tuntunan
  • Mengungkapkan sekali lagi dengan bahasa sederhana
  • Mengajukan pertanyaan lain yang berkaitan
  • Mengulangi penjela  
4.Keterampilan Bertanya Lanjut
   a. Manfaat
  • Mengembangkan kemampuan menemukan, mengorganisasikan dan menilai informasi
  • Meningkatkan kemampuan membentuk dan mengungkapkan pertanyaan yang berdasarkan informasi yang lengkap dan relevan
  • Memberi kesempatan memperoleh sukses melebihi yang biasa dicapai.
     b Prinsip Penggunaan Bertanya lanjut
  • Hangat dan antusias
  • Waktu berpikir yang lebih lama
  • Siapkan pertanyaan pokok lebih dulu sehingga muncul pertanyaan makin lama makin tinggi tingkatannya
3. Komponen Keterampilan Bertanya Lanjut
    a. Pengubahan Tuntutan kognitif
    b. Pengaturan urutan pertanyaan
    c. Penggunaan pertanyaan pelacak
  • Klarifikasi
  • Meminta siswa memberi alasan
  • Meminta kesepakatan pandangan
  • Meminta ketepatan jawaban
  • Meminta jawaban yang lebih relevan
  • Meminta contoh
  • Meminta jawaban yang lebih kompleks
  • Peningkatan terjadinya interaksi
C. Keterampilan Memberi Penguatan

Penguatan adalah Respon terhadap tingkah laku (positif) yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut
1. Tujuan pemberian penguatan
   a. Meningkatkan perhatian
   b. Membangkitkan dan memelihara motivasi
   c. Memudahkan siswa belajar
   d. Mengontrol tingkah laku negatif dan mendorong tingkah laku yang positif

2. Prinsip Penggunaan
   a. Kehangatan dan keantusiasan
   b. Kebermaknaan
   c. Hindari penggunaan respon  egative
   d. Jelas sasaran

3. Cara Penggunaan
   a. Kepada pribadi
   b. Kepada kelompok
   c. Segera
   d. Variasi dalam penggunaan

4. Komponen-komponen
    a. Penguatan Verbal
    b. Penguatan non verbal
  • Mimik dan gerakan badan
  • Mendekati
  • Sentuhan
  • Kegiatan yang menyenangkan
  • Simbol atau benda
  • Tdak penuh
D. Keterampilan Mengadakan Variasi 

Perubahan dalam pembelajaran sehinga tidak membosankan peserta didik
1. Prinsip Penggunaan
    a. Variasi digunakan dengan maksud tertentu
    b. Variasi digunakan secara lancar dan Berkesinambungan
2. Komponen-Komponen
   a.  Variasi dalam Gaya Mengajar
  • Suara
  • Memusatkan perhatian
  • Kesenyapan
  • Kontak pandang
  • Variasi gerakan badan
  • Mengubah posisi
b. Variasi dalam Penggunaan Media
  • Visual
  • Audio
  • Taktil
3. Variasi pola interaksi dan Kegiatan
  • Klasikal
  • Kelompok
  • Perorangan
E. Keterampilan Menjelaskan

Keterampilan menjelas adalah kemampuan menyajikan informasi lisan yang diorganisasikan secara sistematik untuk menunjukkan hubungan:
  • sebab dengan akibat
  • diketahui dengan tidak diketahui
  • hukum dengan bukti/contoh sehari-hari
1. Permasalahan:
  • Guru cenderung lebih mendominasi
  • Penjelasan guru tidak jelas
  • Tidak semua siswa dapat menggali sendiri
  • pengetahuan dari sumber lainnya.
  • Kurangnya sumber tersedia yang dapat
  • dimanfaatkan siswa dalam proses belaja
2. Penggunaan dalam Kelas
  • Penjelasan dapat diawal, ditengah atau di akhir pertemuan.
  • dapat diselingi tanya jawab
  • harus relevan dengan tujuan
  • Penjelasan diberikan bila ada
  • pertanyaan siswa atau direncanakan sebelumnya
  • materinya harus bermakna bagi siswa
3. Komponen-komponen
a. Merencanakan Isi pesan (materi)
  • Menganalisis masalah secara keseluruhan
  • Menentukan jenis hubungan
  • Menggunakan hukum, rumus atau generalisasi
  • Penerima pesan
  • Penjelasan relevan
  • Penjelasan memadai
  • Penjelasan cocok
b. Menyajikan suatu penjelasan
  • Kejelasan
  • Penggunaan contoh dan ilustrasi
  • Pengorganisasian
  • Pemberian tekanan
3. Umpan balik
Menunjukkan pemahaman/keraguan/ketidakmengertian ketika penjelasan berlansung

F. Keterampilan Mengelola Kelas

Keterampilan bertujuan untuk menciptakan dan mengembalikan kondisi belajar yang optimal atau mendisiplinkan kelas

1. Prinsip Penggunaan
  • Kehangatan dan keantusiasan: menciptakan kelas yang menyenangkan
  • Tantangan: mengurangi perilaku yang menympang
  • Bervariasi: menghindari kejenuhan
  • Keluwesan: mencegah gangguan yang mungkin timbul
  • Penekanan pada hal-hal yang positif: memberikan penguatan yang positif
  • Penanaman disiplin diri: disiplin guru
2. Komponen-komponen
   a. Penciptaan Pemeliharaan kondisi belajar yang optimal
   b. Menunjukan sikap tanggap
  • Memandang secara seksama
  • Gerak mendekati
  • Memberi pernyataan
  • Memberi reaksi terhadap ketakacuhan Siswa
  • Menyiagakan siswa
  • Menuntut tanggung jawab siswa
    c. Memberikan petunjuk yang jelas
    d. Menegur
    e. Memberi penguatan
  • Menyiagakan siswa
  • Menuntut tanggung jawab siswa
3. Menentukan dan mengatasi tingkah laku yang menimbulkan masalah

Keterampilan  pedagogik seperti diuraikan di atas penting dikuasai oleh guru agar mereka sukses dalam melaksanakan pembelajaran di kelas.


Model Pembelajaran Inquiry Learning (Penyingkapan)

Pengertian inquiry dapat diartikan sebagai  pernyataan, atau pemeriksaan, penyelidikan dan peningkapan. Inquiry Learning (penyingkapan) sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi. Model pembelajaran Inkuiri Learning adalah  suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuan dengan penuh percaya diri.

Joyce, Weil, dan Calhoun (2000:46) mengemukakan bahwa sumber energi utama inkuiri adalah tumbuhnya kesadaran diri siswa dalam mencari, menemukan, memeriksa, dan merumuskan cara pemecahan masalah secara mandiri. tujuan menggunakan metode inkuiri antara lain untuk mengembangkan ketrampilan kognitif dalam penyelidikan dan memproses data, mengembangkan logika untuk menyerap konsep-konsep yang berkualitas.

Inquiry dibentuk dan meliputi melebihi dari discovery. Dengan kata lain, inquiry adalah suatu perluasan proses-proses discovery yang digunakan dalam cara lebih sempurna. Sebagai tambahan pada proses-proses discovery, inquiry mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problema sendiri, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya.

Ada 5 fase/sintaks dalam penerapan model pembelajaran inquiry learning
1. Tahapan penyajian masalah
2. Tahapan verifikasi data
3. Megadakan eksperimen dan pengumpulan data
4. Merumuskan penjelasan
5. Membuat laporan

Contoh penjabaran sintaks penerapan pembelajaran Inquiry

a. Tahapan penyajian masalah
Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memancing siswa untuk mengumpulkan informasi. Keterlibatan siswa pada tahap ini adalah; (1) memberi respon positif terhadap masalah yang dikemukakan, (2) mengungkapkan ide awal.

b. Tahapan verifikasi data
Guru memberikan pertanyaan pengarah sehingga siswa mampu mengidentifikasi dan merumuskan hipotesis. Keterlibatan siswa pada tahap ini yaitu; (1)melakukan pengamatan terhadap masalah yang diberikan, (2)merumuskan masalah, (3)mengidentifikasi masalah, (4)membuat hipotesis,dan (5)merancang eksperimen.

c. Megadakan eksperimen dan pengumpulan data
Pada tahap ini siswa diajak melakukan eksperimen atau mengumpulkan data dari permasalahan yang ada. Peran siswa dalam tahap ini yaitu; (1) melakukan eksperimen atau pengumpulan data, dan (2) melakukan kerjasama dalam mengumpulkan data.

d .Merumuskan penjelasan
Guru mengajak siswa untuk melakukan analisis dan diskusi terhadap hasil yang diperoleh sehingga siswa mendapatkan konsep dan teori yang benar sesuai konsepsi ilmiah.Keterlibatan siswa dalam tahap ini adalah (1) melakukan diskusi, dan (2) menyimpulkan hasil pengumpulan data.

e. Mengadakan analisis inquiry
Guru meminta kepada siswa untuk mencatat informasi yang diperoleh serta diberi kesempatan bertanya tentang apa saja yang berkaitan dengan informasi yang mereka peroleh sebelumnya lalu kemudian guru memberikan latihan soal-soal jika dipelukan.Keterlibatan siswa dalam tahap ini yaitu; (1) mencatat informasi yang diperoleh, (2) aktif bertanya, dan (3) mengerjakan latihan soal.

f. Membuat laporan
Siswa membuat laporan hasil temuan dalam seluruh proses pembelajaran dalam kompetensi dasar tersebut.

Bahan Bacaan:
Suherman, Dkk. (2001). Common Texbook Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika UPI Bandung.
Suprijono, A. 2011. Cooperative Learning. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Rustaman, N. 2002. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Malang : FIPS UPI

Model Pembelajaran Discovery Learning


Pembelajaran discovery (temuan) mengacu pada situasi pembelajaran, upaya siswa mencapai tujuan pembelajaran dengan bimbingan yang sangat terbatas atau tanpa bimbingan sama sekali oleh guru.

Metode discovery adalah suatu prosedur pembelajaran yang menekankan pada belajar mandiri, memanipulasi obyek, melakukan eksperimen atau penyelidikan dengan siswa-siswa lain sebelum membuat  generalisasi.

Metode discovery memberikan kesempatan secara luas kepada siswa dalam mencari, menemukan, dan merumuskan konsep-konsep dari materi pembelajaran.
Metode penemuan adalah cara penyajian pelajaran yang banyak melibatkan siswa dalam proses-proses mental dalam rangka penemuannya.

Menurut Sund (Sudirman N, 1992 ), discovery adalah proses mental, dan dalam proses itu individu mengasimilasi konsep dan prinsip-prinsip. Tiga ciri utama belajar menemukan yaitu:
  • Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan;
  • Berpusat pada siswa;
  • Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Model pembelajaran Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa hukum, konsep dan prinsip, melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi (pengambilankeputusan/kesimpulan).

Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilating concepts and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).
Secara umum ada 9 fase/sintaks  yang harus dipedomani dalam menerapkan model pembelajaran discovery learning yaitu:
1. Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
2. Problem Statement (pernyataan/identifikasi masalah)
3. Data Collection (pengumpulan data)
4. Data Processing (pengolahan data)
5. Verification (pembuktian)
6. Generalization (menarik kesimpulan)
7. Membuat Laporan

Sebagai contoh penerapan model  ini melalui strategi deduktif dimana peserta didik diberikan tugas untuk menentukan rumus luas lingkaran melalui permainan kertas berbentuk lingkaran yang dibagi dalam‘n’sektor yang sama besar,  kemudian menyusunnya sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti persegi panjang dan rumus keliling sudah diketahui sebelumnya. Dari permainan kertas tersebut peserta didik dapat menemukan bahwa luas lingkaran adalah ....;

Contoh penjabaran sintaks pembelajaran Discovery Learning

a) Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
Pada tahap ini guru memberikan stimulan kepada peserta didik dengan menampilkan media/alat peraga/bahan tayang yang relevan dengan materi pembelajaran.

Media/alat peraga/bahan tayang tersebut berdasarkan orientasi akan menimbulkan tanda tanya bagi peserta didik. Jawaban dari pertanyaan tersebut tidak digeneralisir atau disimpulkan secara bersama, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.

Berdasarkan aktivitas pertama di atas, guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

b) Problem Statement (pernyataan/identifikasi masalah)
Guru memberi kesempatan peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin permasalahan yang relevan dengan stimulasi yang ditampilkan pada langkah sebelumnya.

Permasalahan tersebut selanjutnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan atau hipotesis, yakni pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.

Bagian ini memberi kesempatan peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang dihadapi. Kegiatan ini sekaligus membangun kemampuan peserta didik untuk menemukan suatu masalah.

c) Data Collection (pengumpulan data)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis.

Dengan demikian siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

d) Data Processing (pengolahan data)
Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22).

Data processing disebut juga dengan pengkodean/kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.

e) Verification (pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244).

Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.

Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.

f) Generalization (menarik kesimpulan)
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244).

Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

g) Membuat Laporan
Siswa membuat laporan hasil temuan dalam seluruh proses pembelajaran dalam kompetensi dasar tersebut.

Suprijono, A. 2011. Cooperative Learning. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Rustaman, N. 2002. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Malang : FIPS UPI


Tupoksi Kepala Laboratorium di Sekolah

Salah satu tugas tambahan yang mengurangi jam mengajar di sekolah adalah menjadi kepala laboratorium sekolah. Jika seorang guru diangkat menjadi kepala laboratorium sekolah maka tugas tambahan yang diemban setara dengan 12 jam mengajar. Artinya jika jumlah beban mengajar (tatap muka) guru minimal 24 jam maka seorang guru yang ditugaskan kepala sekolah sebagai kepala laboratorium cukup mengajar 12 jam tatap muka.

Beban mengajar sebagai kepala laoratorium tentu sangat menarik, apa lagi di sekolah tersebut guru masih ada yang kekurangan jam mengajar. Namun demikian tidak semua guru dapat diangkat menjadi kepala laboratorium, karena menjadi kepala laboratorium harus memenuhi syarat kualifikasi dan standar kompetensi yang telah ditentukan pemerintah.

Agar dapat diangkat menjadi kepala laboratorium di sekolah harus memenuhi syarat berikut:
1. Jika diangkat dari jalur guru
    a. Pendidikan minimal sarjana (S1);
    b. Berpengalaman minimal 3 tahun sebagai pengelola praktikum;
    c. Memiliki sertifikat kepala laboratorium sekolah/madrasah dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan oleh pemerintah.

2.Jika diangkat dari  jalur laboran/teknisi
   a. Pendidikan minimal diploma tiga (D3);
   b. Berpengalaman minimal 5 tahun sebagai laboran atau teknisi;
   c. Memiliki sertifikat kepala laboratorium sekolah/madrasah dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan oleh pemerintah.

Selain syarat di atas, sebagai kepala laboratorium harus memenuhi 4 kompetensi yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi professional, dan kompetensi sosial. (Baca Permendiknas no. 26 tahun 2008) Dari kompetensi tersebut maka dapat dijabarkan tugas pokok kepala laboratorium sekolah (tupoksi) dalam mengelola laboratorium sekolah.

Mengelola laboratorium sekolah adalah serangkaian kegiatan mulai dari perencanaan kegiatan laboratorium, pengoperasian peralatan dan penggunaan bahan , pemeliharaan/perawatan peralatan dan bahan, pengevaluasian sistem kerja laboratorium , dan pengembangan kegiatan laboratorium baik untuk pendidikan , penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga dapat menambah/menerapkan pengetahuan dan keterampilan  peserta didik sesuai dengan tuntutan kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum.

Adapun tupoksi kepala laboratorium dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Menyusun rencana pengembangan laboratorium
    a. Merencanakan pengelolaan laboratorium
    b. Mengembangkan sistem administrasi laboratorium
    c. Merencanakan kegiatan dan pengembangan laboratorium sekolah/madrasah
    d. Menyusun prosedur operasi standar (POS) kerja laboratorium

2. Mengelola kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
    a. Mengkoordinasikan kegiatan praktikum dengan guru
    b. Menyusun jadwal kegiatan laboratorium
    c. Memantau pelaksanaan kegiatan laboratorium
    d. Mengevaluasi kegiatan laboratorium
    e. Menyusun laporan kegiatan laboratorium

3. Membagi tugas teknisi dan laboran laboratorium sekolah/ madrasah
   a. Merumuskan rincian tugas teknisi dan laboran
   b. Menentukan jadwal kerja teknisi dan laboran
   c. Mensupervisi teknisi danlaboran
   d. Membuat laporan secara periodik

4. Memantau sarana dan prasarana laboratorium sekolah/madrasah
   a. Memantau kondisi dan keamanan bahan serta alat laboratorium
   b. Memantau kondisi dan keamanan bangunan laboratorium
   c. Membuat laporan bulanan dan tahunan tentang kondisi dan pemanfaatan  laboratorium

5. Mengevaluasi kinerja teknisi dan laboran serta kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
   a. Menilai kinerja teknisi dan laboran laboratorium
   b. Menilai hasil kerja teknisi dan laboran
   c. Menilai kegiatan laboratorium
   d. Mengevaluasi program laboratorium untuk perbaikan selanjutnya

6. Menerapkan gagasan, teori, dan prinsip kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
   a. Mengikuti perkembangan pemikiran tentang pemanfaatan kegiatan laboratorium sebagai wahana pendidikan
   b. Menerapkan hasil inovasi atau kajian laboratorium
   c. Mengikuti perkembangan pemikiran tentang pemanfaatan kegiatan laboratorium sebagai wahana pendidikan
   d. Menerapkan gagasan, teori, dan prinsip kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
   e. Menerapkan hasil inovasi atau kajian laboratorium

7. Memanfaatkan laboratorium untuk kepentingan pendidikan dan penelitian di sekolah /madrasah
   a. Menyusun panduan/penuntun(manual) praktikum
   b. Merancang kegiatan laboratorium untuk pendidikan dan penelitian
   c. Melaksanakan kegiatan laboratorium untuk kepentingan pendidikan dan penelitian
   d. Mempublikasikan karya tulis ilmiah hasil kajian/inovasi

8.  Menjaga kesehatan dan keselamatan kerja di laboratorium sekolah/madrasah
   a. Menetapkan ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja
   b. Menerapkan ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja
   c. Menerapkan prosedur penanganan bahan berbahaya dan beracun
   d. Memantau bahan berbahaya dan beracun, serta peralatan keselamatan kerja

Agar tupoksi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik maka kepala laboraorium menyusun program jangka pendek, menengah dan program jangka panjang. Adapun struktur program minimal dapat disusun sebagai berikut:

HALAMAN PEMBUKA
 Halaman Judul
 Lembaran Pengesahan
 Kata Pengantar
 Daftar Isi
 Daftar Tabel /Gambar/Grafik

I. PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang/Rasional
 B. Dasar Hukum
 C. Tujuan
 D. Manfaat
II. PROGRAM DAN RUANG LINGKUP
 A. Struktur Organisasi Laboratorium
 B. Rincian Tugas Pengelola Laboratorium
 C. Program Jangka Pendek
 D. Program Jangka menengah
 E. Program Jangka Panjang
III. PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS)
 A. Tata Tertib Penggunaan Laboratorium
 B. Prosedur Operasional Standar (POS)
 C. Monitoring dan Evaluasi
IV. PENUTUP
 A. Kesimpulan
 B. Saran/Rekomendasi

Semoga guru yang diangkat menjadi kepala laboratorium dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Keterampilan Bertanya Dalam Pembelajaran Kurikulum 2013

Salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru dalam pembelajaran kurikulum 2013 adalah keterampilan bertanya dan menjawab pertanyaan peserta didik. Hal ini selaras dengan pendekatan saintifik dimana peserta didik diharapkan dapat mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin dari apa yang diamati, dirasakan dan dialami.

Apabila peserta didik belum atau tidak ada yang bertanya maka guru harus aktif mengajukan beberapa pertanyaan untuk memotivasi mereka berfikir kritis dan memecahkan permasalahan yang dihadapi.

Dalam pembelajaran yang  berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOTS, peran guru tidak banyak menerangkan.  Sebaliknya guru diharapkan banyak melakukan stimulasi pertanyaan untuk mendorong memunculkanya pikiran-pikiran orsinil peserta didik, pertanyaan-pertanyaan tersebut mencakup:
  • Pertanyaan untuk memfokuskan perhatian atau kajian untuk diperdalam. 
  • Pertanyaan untuk mendorong peserta didik berpikir menemukan alasan atau mengambil posisi pendapat. 
  • Pertanyaan untuk mengklarifikasi suatu konsep dengan arah bisa merumuskan definisi yang jelas lewat memperbandingkan, menghubungkan dan mencari perbedaan atas konsep-konsep yang ada. 
  • Pertanyaan untuk mendorong munculnya gagasan-gagasan yang kreatif dan alternative lewat imajinasi. 
  • Pertanyaan untuk mendorong peserta didik mencari data dan fakta pendukung serta bukti-bukti untuk mengambil keputusan atau posisi. 
  • Pertanyaan untuk mendorong peserta didik mengembangkan pikiran lebih jauh dan lebih mendalam, dengan mencoba mengaplikasikan sesuatu informasi pada berbagai kasus dan kondisi yang berbeda-beda, sehingga memiliki lebih banyak argumentasi. 
  • Pertanyaan untuk mengembangkan kemampuan mengaplikasikan aturan atau teori yang lebih umum pada kasus yang tengah dikaji. 
Dalam praktik pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir ingkat tinggi atau HOTS, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diklasifikasikan kedalam empat macam pertanyaan yang menjadi sarana penting bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik. Pertanyaan tersebut adalah.

1. Pertanyaan Inferensial. 

Pertanyaan inferensial adalah pertanyan yang segera dijawab setelah peserta didik melakukan pengamatan maupun pengkajian atas bahan yang diberikan oleh guru. Bahan informasi tersebut bias berupa potret, gambar, tulisan singkat, sanjak, berita, dan sebagainya.

Pertanyaan ini bertujuan mengungkap apa yang dilihat atau didapati dan apa yang difahami oleh peserta didik setelah mengamati atau membaca bahan yang disajikan oleh guru.

Pertanyaan inferensial juga mencakup membangkitkan minat peserta didik, dagonese atau checking, mengingat sesifik informasi dari suatu peristiwa dan manejerial.

Contoh:
  • Apa yang saudara temukan ? 
  • Apa yang saudara ketahui dengan … Ini? 
  • Bagaimana pendapat saudara? 
  • Adakah saudara menemukan kelebihan atau kelemahan apa yang saudara baca? 
  • Bagaimana sikap saudara dengan makna yang saudara peroleh … 
  • Siapakah orang paling heibat di Indonsia? Bagaimana proses kehidupannya? 
  • Apa yang saudara ketahui dengan korupsi? 
  • Kapan terjadi tsunami di aceh? Berapa kurban nyawa akibat gempa tersebut? 
  • Bagaimana cara menegakan disiplin di sekolah? 
2. Pertanyaan pertanyaan interpretasi. 

Pertanyaan interpretasi diajukan pada peserta didik berkaitan dengan informasi yang tidak lengkap, atau tidak ada dalam bahan yang disajikan oleh guru, dan para peserta didik mesti bisa memberikan makna.

Pertanyaan ini ditujukan agar para peserta didik bisa memberikan makna suatu konswensi dari suatu gejala atau sebab yang ada.

Pertanyaan interpretasi juga untuk mendorong proses berfikir, struktur dan mengarahkan learning, membangkitkan sikap emosi, mendalami masalah, dan intrepretasi, apa akibat yang terjadi.

Contoh :
  • Mengapa saudara memiliki pendapat itu?,
  • Apa penyebab kegagalan dari upaya untuk ...? 
  • Apa penyebab banjir besar hang terjadi di …? 
  • Pertanyaan interptretasi mencakup pula, 
  • Apa yang saudara ketahui dengan vandalisme? 
  • Apa penyebabnya? 
  • Bagaimana cara mengatasinya? 
  • Ada beberapa bentuk korupsi: terpaksa, tamak, dan dirancang secara berjamaah? 
  • Bentuk mana yang paling berbahaya? 
  • Bagaimana seandainya saudara menjadi orang miskin yang ditolak berobat di rumah sakit, karena tidak mampu membayar? 
  • Apa kesimpulan sauadara setelah melihat film tersebut? 
  • Bagaimana dengan karakter pemainnya? 
  • Setelah membaca trilogi Andra Herata, kira-kira apa novel keempat? 
3. Pertanyaan pertanyaan transfer. 

Apabila dua macam pertanyaan sebelumnya merupakan upaya untuk mendalami masalah atau hakekat sesuatu, pertanyaan transfer merupakan upaya untuk memperluas wawasan atau bersifat horizontal, Mengaplikasikan ilmu pada kasus yang lain. Contoh:
  • Apakah perbedaan teori … dengan teori …? 
  • Bisakah saudara menjelaskan lebih detail jawaban saudara? 
  • Apabila didetailkan ada berapa macam gagasan saudara ini? 
  • Bagaimana, apabila jawaban saudara dipisah antara yang negatif dan positif? 
  • Bagaimana kalau teori ini diterapkan pada kasus …? 
  • Apakah mungkin apabila hal tsb dilaksanakan di …? 
  • Adakah kemungkinan lain dari upaya untuk …?
4. Pertanyaan pertanyaan hipotetik 

Pertanyaan hipotesis memiliki arah untuk mendorong peserta didik melakukan prediksi atau peramalan dari sesuatu permasalahan yang dihadapi dan/atau mengambil kesimpulan untuk generalisasi.

Sudah barang tentu hipotesis dan kesimpulan ini merupakan hasil pemahaman permasalahan ditambah data atau informasi yang telah dimiliki dan/atau data yang sengaja telah diperoleh karena untuk mengkaji permasalahan tersebut lebih jauh.

Pertanyaan Hipotetik mencakup,pertanyaan sebab akibat, pertanyaan reflektif, mempertanyakan kebenaran. Contoh:
  • Apa yang terjadi manakala cuaca panas dingin berubah cepat silih berganti? 
  • Bagaimana hasilnya kalua orang tidur diatas banyak paku dan bagaimana pula kalau tidur diatas dua atau tiga paku? 
  • Bagaimana seandainya, kebijakan kendaraan genap ganjil yang dijalankan di Jakarta dilaksanakan di kota saudara.Adaah yang perlu direvisi atau dikembangkan? 
  • Bagaimanakah kalau suporter yang melakukan kekerasan kesebelasannya dibekukan dilarang bertanding? 
  • Apa yang akan terjadi apabila minyak bumi habis? 
  • Bagaimana saudara tahu kalau yang disajikan di tayangan infonet itu benar? 
Selain jenis pertanyaan seperti dijelaskan jika  ditinjau dari bentuk-bentuk  pertanyaan yang diajukan maka bentuk pertanyaan yang diajukan dapat dibagi menjadi :

1. Pertanyaan untuk klarifikasi atas sesuatu hal 

Misalnya guru IPS membahas materi tentang demokrasi maka contoh  pertanyaan yang dapat dikembangkan berkaitan pertanyaan klarifikasi :
  • Dapatkah saudara menjelaskan apa yang dimaksud dengan sistem politik yang demokratis? 
  • Apa yang saudara maksudkan dengan demokrasi? 
  • Dapatkan saudara memberikan contoh negara yang demokratis dan yang tidak? 
2. Pertanyaan untuk menggali bukti

Contoh :
  • Dapatkan saudara memberikan bukti bahwa Negara “X” adalah Negara yang demoktratis? 
  • Apa data dan fakta yang ada? 
  • Bagaimana kita tahu suatu Negara dikatakan tidak demokratis? 
  • Coba saudara memberikan alas an yang jelas 
  • Apakah Alasan saudara memiliki bukti? Jelaskan. 
  • Apakah saudara bisa memberikan contoh lain. 
3. Pertanyaan untuk mendalami jawaban 

Contoh :
  • Bisakah saudara menjelaskan dengan cara lain bahwa Negara “X” adalah Negara bersistem politisi demokrasi dan Negara “Y” tidak bersistim demokrasi? 
  • Mungkinkah suatu Negara tidak termasuk diantara kedua system tersebut? 
  • Adakah diantara saudara berpendapat lain? 
  • Apa perbedaan diantara pendapat diatas? 
4. Pertanyaan untuk testing implikasi dan konsekuensi 

Contoh:
  • Jika suatu Negara semula tidak bersistem demokrasi kemudian berubah ke sistem demokrasi, apa yang akan terjadi? 
  • Apa saudara yang lain setuju dengan yang telah disampaikan ini? 
  • Kalau demikian apa yang harus dilakukan agar semua Negara menjadi Negara demokrasi? 
  • Dapatkan saudara memberikan bukti bahwa ini benar? 
5. Pertanyaan tentang evaluasi diskusi 

Contoh:
  • Apakah saudara ada pertanyaan tentang apa yang kita bicarakan 
  • Kalau ada jelaskan pertanyaan saudara 
  • Apakah pendapat saudara ini berkaitan dengan apa yang sudah kita bicarakan? 
  • Apakah kita sudah memiliki kesimpulan? 
  • Apakah pembicaraan kita sudah menjawab pertanyaan apa Negara demokrasi itu? 
Nah, dengan memahami jenis dan bentuk-bentuk pertanyaan di atas diharapakan guru dapat melaksanakan proses pembelajaran  yang aktif, kreatif dan memotivasi peserta didik untuk berfikir kritis.

KLIK UNTUK AKSES CEPAT

Tupoksi Kepala Laboratorium di Sekolah

Salah satu tugas tambahan yang mengurangi jam mengajar di sekolah adalah menjadi Kepala Laboratorium Sekolah. Jika seorang guru diangkat menjadi kepala laboratorium sekolah maka tugas tambahan yang diemban setara dengan 12 jam mengajar. Artinya jika jumlah beban mengajar (tatap muka) guru minimal 24 jam maka seorang guru yang ditugaskan kepala sekolah sebagai kepala laboratorium cukup mengajar 12 jam tatap muka.

Beban mengajar sebagai kepala laoratorium tentu sangat menarik, apa lagi di sekolah tersebut guru masih ada yang kekurangan jam mengajar. Namun demikian tidak semua guru dapat diangkat menjadi kepala laboratorium, karena menjadi kepala laboratorium harus memenuhi syarat kualifikasi dan standar kompetensi yang telah ditentukan pemerintah.

Agar dapat diangkat menjadi kepala laboratorium di sekolah harus memenuhi syarat berikut:
1. Jika diangkat dari jalur guru
  a. Pendidikan minimal sarjana (S1);
  b. Berpengalaman minimal 3 tahun sebagai pengelola praktikum;
  c. Memiliki sertifikat kepala laboratorium sekolah/madrasah dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan oleh pemerintah.

2.Jika diangkat dari  jalur laboran/teknisi
  a. Pendidikan minimal diploma tiga (D3);
  b. Berpengalaman minimal 5 tahun sebagai laboran atau teknisi;
  c. Memiliki sertifikat kepala laboratorium sekolah/madrasah dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan oleh pemerintah.

Selain syarat di atas, sebagai kepala laboratorium harus memenuhi 4 kompetensi yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi professional, dan kompetensi sosial. (Baca Permendiknas no. 26 tahun 2008) Dari kompetensi tersebut maka dapat dijabarkan tugas pokok kepala laboratorium sekolah (tupoksi) dalam mengelola laboratorium sekolah.

Mengelola laboratorium sekolah adalah serangkaian kegiatan mulai dari perencanaan kegiatan laboratorium, pengoperasian peralatan dan penggunaan bahan , pemeliharaan/perawatan peralatan dan bahan, pengevaluasian sistem kerja laboratorium , dan pengembangan kegiatan laboratorium baik untuk pendidikan , penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga dapat menambah/menerapkan pengetahuan dan keterampilan  peserta didik sesuai dengan tuntutan kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum.

Adapun tupoksi kepala laboratorium dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Menyusun rencana pengembangan laboratorium
  a. Merencanakan pengelolaan laboratorium
  b. Mengembangkan sistem administrasi laboratorium
  c. Merencanakan kegiatan dan pengembangan laboratorium sekolah/madrasah
  d. Menyusun prosedur operasi standar (POS) kerja laboratorium

2. Mengelola kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
  a. Mengkoordinasikan kegiatan praktikum dengan guru
  b. Menyusun jadwal kegiatan laboratorium
  c. Memantau pelaksanaan kegiatan laboratorium
  d. Mengevaluasi kegiatan laboratorium
  e. Menyusun laporan kegiatan laboratorium

3. Membagi tugas teknisi dan laboran laboratorium sekolah/ madrasah
  a. Merumuskan rincian tugas teknisi dan laboran
  b. Menentukan jadwal kerja teknisi dan laboran
  c. Mensupervisi teknisi danlaboran
  d. Membuat laporan secara periodik

4. Memantau sarana dan prasarana laboratorium sekolah/madrasah
  a. Memantau kondisi dan keamanan bahan serta alat laboratorium
  b. Memantau kondisi dan keamanan bangunan laboratorium
  c. Membuat laporan bulanan dan tahunan tentang kondisi dan pemanfaatan  laboratorium

5. Mengevaluasi kinerja teknisi dan laboran serta kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
  a. Menilai kinerja teknisi dan laboran laboratorium
  b. Menilai hasil kerja teknisi dan laboran
  c. Menilai kegiatan laboratorium
  d. Mengevaluasi program laboratorium untuk perbaikan selanjutnya

6. Menerapkan gagasan, teori, dan prinsip kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
  a. Mengikuti perkembangan pemikiran tentang pemanfaatan kegiatan laboratorium sebagai wahana pendidikan
  b. Menerapkan hasil inovasi atau kajian laboratorium
  c. Mengikuti perkembangan pemikiran tentang pemanfaatan kegiatan laboratorium sebagai wahana pendidikan
  d. Menerapkan gagasan, teori, dan prinsip kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
  e. Menerapkan hasil inovasi atau kajian laboratorium

7. Memanfaatkan laboratorium untuk kepentingan pendidikan dan penelitian di
sekolah/madrasah
  a. Menyusun panduan/penuntun(manual) praktikum
  b. Merancang kegiatan laboratorium untuk pendidikan dan penelitian
  c. Melaksanakan kegiatan laboratorium untuk kepentingan pendidikan dan penelitian
  d. Mempublikasikan karya tulis ilmiah hasil kajian/inovasi

8.  Menjaga kesehatan dan keselamatan kerja di laboratorium sekolah/madrasah
  a. Menetapkan ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja
  b. Menerapkan ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja
  c. Menerapkan prosedur penanganan bahan berbahaya dan beracun
  d. Memantau bahan berbahaya dan beracun, serta peralatan keselamatan kerja

Agar tupoksi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik maka kepala laboraorium menyusun program jangka pendek, menengah dan program jangka panjang. Adapun struktur program minimal dapat disusun sebagai berikut:

HALAMAN PEMBUKA
Halaman Judul
Lembaran Pengesahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel /Gambar/Grafik

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang/Rasional
B. Dasar Hukum
C. Tujuan
D. Manfaat

II. PROGRAM DAN RUANG LINGKUP
A. Struktur Organisasi Laboratorium
B. Rincian Tugas Pengelola Laboratorium
C. Program Jangka Pendek
D. Program Jangka menengah
E. Program Jangka Panjang

III. PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS)
A. Tata Tertib Penggunaan Laboratorium
B. Prosedur Operasional Standar (POS)
C. Monitoring dan Evaluasi

IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran/Rekomendasi

Semoga guru yang diangkat menjadi kepala laboratorium dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.