Contoh Laporan Pengembangan Diri ( Edisi Terbaru)

Penyusunan laporan pengembangan diri  menjadi kewajiban masing-masing  guru untuk membuat  setiap akhir  tahun. Laporan pengembangan diri tersebut selain untuk memenuhi angka kredit unsur utama dalam kenaikan pangkat juga   merupakan bukti pertanggungjawaban bahwa guru tersebut telah melakukan kegiatan peningkatan kompetensinya khususya yang terkait dengan kompetensi pedagogik dan profesional melalui berbagai kegiatan berupa diklat fungsional maupun kegiatan kolektif guru.  

Idealnya jenis kegiatan pengembangan diri yang dilakukan guru dalam satu tahun dituangkan dalam Sasara Kerja Pegawai (SKP) yang disusun setiap awal tahun, selanjutnya dilaksanakan dan dibuat laporannya. 

Karena kegiatan pengembangan diri tersebut lebih umumnya lebih dari satu kegiatan maka pada akhir tahun semua laporan yang telah disusun dikumpulkan atau direkap menjadi satu laporan utuh yang disebut Laporan Pengembagan Diri  selanjutnya dibuat surat pernyataan (Lampiran II) bahwa guru tersebut telah melakukan berbagai macam kegiatan pengembangan diri yang dilengkapi dengan angka kreditnya. 

Baca Juga: Model Laporan Pengembangan Diri (Mulai 2019)

Jika laporan pengembangan diri dibuat tiap tahun dengan tertib oleh masing-masing guru maka akan sangat memudahkan mereka untuk naik pangkat. Masalahnya masih banyak guru kurang memperhatikan penyusunan laporan pengembangan diri tersebut membuat mereka kesulitan mengumpulkan angka kredit dai unsur pengembangan diri. 

Salah satu penyebab guru kurang tertarik melengkapi laporan pengembangan diri adalah kurangnya informasi tentang bagaimana susunan laporan pengembangan diri tersebut harus mereka buat. Untuk membantu  para guru menyusun laporan pengembangan guru tersebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan buku pedoman revisi  buku 4 dan buku 5 tahun 2019  yang  mengalami mengalami perubahan laporan pengembangan diri antara lain 

1. Laporan  Pengembangan Diri terdiri dari dua bagian yaitu laporan kegiatan diklat fungsional dan  laporan kegiatan kolektif guru  (dibuat dalam satu laporan tapi dikelompokkan). Sebagai pedoman untuk perhitungan angka kredit dapat dipedomani tabel berikut: 

Kegiatan Diklat Fungsional

No

Lama Diklat

AK

1.             

Antara 641 s/d 960

9

2.

Antara 481 s/d 640

6

3.

Antara 181 s/d 480

3

4.

Antara 81 s/d 180

2

5.

Antara 30 s/d 80        

1

 Kegiatan Kolektif Guru 

No

Kegiatan Kolektif

AK

1.             

Lokakarya/IHT kegiatan bersama

0,15

2.

MGMP/KKG/MKKS per paket

0,15

3.

Kegiatan ilmiah, seperti seminar, koloqium, diskusi panel atau bentuk pertemuan ilmiah yang lain:

Pembahas atau pemakalah

0,2

Peserta

0,1

4.

Kegiatan kolektif lainnya yang sesuai dengan tugas dan kewajiban guru

0,1


2. Bukti fisik, seperti surat tugas dan surat keterangan /sertifikat diletakkan di bagian awal, yang sebelumnya dilampirkan

3. Surat keterangan mengikuti kegiatan kolektif guru di KKG/MGMP cukup satu surat yang menyatakan kegiatan guru selama satu tahun terhitung bulan Januari sampai Desember tahun berjalan.

Contoh Laporan Pengembangan Diri  Klik DISINI 

Catatan: Format laporan tersebut sebenarnya boleh saja berbeda-beda yang terpenting adalah substansi yang harus dilaporkan guru yang berkaitan pengembangan diri yang diikuti selama satu tahun dapat dipertanggungjawabkan dengan bukti-bukti yang akurat.

Di bagian bawah tulisan ini diberikan cntoh laporan pengembangan diri kegiatan diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru silahkan di download dan modivikasi. 

Hal yang perlu dilampirkan dalam laporan 

1. Foto Copy Sertifikat/Surat Keterangan

2. Foto Copy Surat Penugasan Kepala Sekolah/Madrasah (Bila penugasan bukan dari kepala sekolah/madrasah (misalnya dari institusi lain atau kehendak sendiri), harus disertai dengan surat persetujuan mengikuti kegiatan dari kepala sekolah/ madrasah)

3. Makalah  bagi yang bertindak sebagai pembahas atau pemakalah 

Baca juga: Jenis Publikasi Ilmiah Untuk Kenaikan Pangkat Guru 

Demikianlah contoh laporan pengembangan diri sesuai dengan buku 4 terbaru tahun 2019. Perlu dipahami contoh laporan tentu dapat dikembangkan namun substansi yang dimuat laporan harus sesuai dengan aturan. 

Cara Menysun LKPD Yang Baik

Proses pembelajaran masa pandemi  covid-19 dengan kondisi new normal dominan dilakukan dengan bantuan Lembar kerja Peserta Didik (LKPD), dengan harapan membantu para siswa dalam memahami materi pelajaran yang diberikan. Namun harapan tersebut kenyataanya sebagian besar justru memberikan kejenuhan dan membuat kebingungan para siswa karena yang disajikan kurang memenuhi syarat bahan ajar yang baik. 

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) atau Lembar Kerja Siswa(LKS) ataupun jobsheet (untuk SMK) merupakan jenis bahan ajar cetak yang digunakan guru untuk membantu peserta didik dalam mencapai kompetensi yang diinginkan sesuai tuntutan kurikulum. Umumnya penggunaan LKPD/LKS/Jobsheet diperlukan ketika materi tersebut berkaitan dengan langkah-langkah, mekanisme, dan prosedur melakukan sesuatu.  

A. Kriteria LKPD/LKS yang Baik 

Agar LKPD yang disusun dapat berfungsi dengan baik,   efektif dan efisian dalam membantu belajar peserta didik maka perlu  memenuhi persyaratan bahan ajar yang baik seperti  :

• Menimbulkan minat baca 

• Ditulis dan dirancang untuk siswa 

• Menjelaskan tujuan instruksional 

• Disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel 

• Struktur berdasarkan kebutuhan siswa dan kompetensi akhir yang akan dicapai. 

• Memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih 

• Mengakomodasi kesulitan siswa 

• Memberikan rangkuman 

• Gaya penulisan komunikatif dan semi formal 

• Kepadatan berdasar kebutuhan siswa 

Baca juga: Cara Membuat Handout Yang Berkualitas 

Untuk mendapatkan  LKPD yang disusun sesuai dengan kreteria di atas maka perlu mengikuti langkah-langkah berikut: 

B. Langkah-langkah Menyusun LKPD yang Baik

1. Melakukan analisis kurikulum; KI, KD, indikator dan materi pembelajaran.

Langkah pertama yang dilakukan dalam menyusun LKPD adalah analisis kurikulum KD  terutama tuntutan KD yang dijabarkan dalam indikator. Dari analisis ini akan dapat diketahui apakah LKPD yang dibuat atau berupa handout. Seperti dijelaskan di atas LKPD sangat dibutuhkan jika tuntutan KD berupa langkah-langkah melakukan seuatu, mekanisme, prosedur, penerapan maupun mendrill peserta didik. 

2. Menyusun peta kebutuhan LKS

Menyusun peta kebutuhan LKS sangat tergantung keluasan materi yang dimuat KD, bisa saja dalam satu KD dibutuhkan  dua sampai tiga LKPD. Disini guru harus memperhatikan keluasan materi/tugas yang dituntut KD (tentukan berapa banyak kebutuhan LKPD)

3. Menentukan judul LKS

Judul LKS dapat ditulis dari materi yang dimuat indikator atau kompetens dasar 

4. Menulis LKS

Tulislah LKPD sesuai dengan urutan dalam struktur LKPD ( seperti dijelaskan di bawah ini)

5. Menentukan alat penilaian

Tentukan alat penilaian berupa soal/tes uraian,  pilihan ganda dan lain-lain 

C. Struktur Lembar Kegiatan Peserta Didik 

Judul, MP, SK, KD, Indikator, Tempat

• Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru) 

• Tujuan yang akan dicapai

• Informasi pendukung

• Latihan-latihan

• Petunjuk kerja /Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja

• Penilaian 

Baca juga: Tanyajawab Seputar Asesmen Nasional

Sebaiknya setiap LKPD yang telah digunakan diarsipkan, kemudian  LKPD dalam  satu semester dapat disatukan dan diedit sehinga dapat  dijadikan modul yang diusulkan guru untuk kelengkapan bahan naik pangkat unsur publikasi ilmiah dengan angka kredit 0,5 per modul. Demikianlah penyusunan LKPD yang baik semoga bermanfaat.  


Cara Membuat Handout Berkualitas

Salah satu jenis bahan ajar cetak yang sangat penting dalam era pembelajaran jarak jauh(PJJ) dalam bentuk daring maupun luring adalah handout. Handout adalah  bahan tertulis atau  informasi/berita/surat lembaran  yang dipersiapkan guru untuk membantu dan memperkaya pengetahuan peserta didik. 

Handout dapat dibuat dalam bentuk word, powerpoint maupun excel kemudian di print dan dibagikan kepada peserta didik. Adapun tujuan dan manfaat handout dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: 

  • Penjelasan guru dapat diwakilkan kepada bahan ajar
  • Waktu penjelasan menjadi waktu belajar 
  • Siswa dapat memahami konsep lebih optimal di dalam dan di luar jam pelajaran 
  • Penjelasan guru terdokumentasi dengan jelas 
  • Siswa lambat, normal, dan cepat dapat belajar optimal
  • Individu mendapat kesempatan belajar yang sama dalam ruang dan waktu yang berbeda 
  • Individu mendapat pelayanan belajar yang sama meskipun kapasitas untuk belajar tidak sama 

Handout yang berkualitas apabila handout tersebut dapat membantu peserta didik dalam mencapai kompetensi sesuai dengan tuntutan KI/KD/KI, mudah dipahami, tidak berbelit-belit dan memenuhi aspek keterbacaan. 

Lalu bagaimana membuat handout yang berkualitas ?

Langkah 1. Pahami prinsip penyusunan bahan ajar

1. Relevansi (relevan dengan pencapaian  kompetensi dasar) artinya  jika KD meminta konsep, berikan konsep, jika KD minta prosedur sajikan prosedur dan seterusnya. 

2. Konsistensi (memiliki sifat ajeg) artinya jika KD yang harus dikuasai dua macam, materi juga harus disajikan dua macam, jika KD yang harus dikuasai 4 macam maka harus disajikan empat macam  dan seterusnya.

3. Kecukupan artinya materi yang disusun cukup memadai untuk membantu siswa menguasai kompetensi dasar, jangan terlalu sedikit dan jangan terlalu banyak 

Prinsip ini sangat penting dipahami penyusun handout agar materi yang ditunut KD dapat tercapai, namun demikian handout ini dapat dibuat dengan cara berseri. 

Langkah 2: Lakukan identifikasi Materi  

Identifikasi materi perlu dilakukan untuk mengetahui jenjang atau tingkatan kompetensi baik dimensi proses kognitif maupun dimensi pengetahuan. 

Proses kognitif berkaitan dengan gradasi berfikir yang dimulai level mengingat(C1), memahami(C2), menerapkan(C3), menganalisis(c4), mengevaluasi(C5) dan mengereasi/mencipta(C6). Sedangkan dimensi pengetahuan adalah jenjang materi dimulai dari pengetahuan factual, konseptual, procedural dan pengetahuan meta kognitif. 

Baca Juga: 5 Metode Pembelajaran Dalam Pembelajaran PJJ Luring

Oleh sebab  itu dalam menyusun handout harus dilakukan identifikasi/analisis kompetensi dasar(KD) dengan cermat apakah proses kognitifnya sampai memahami, menerapkan dan seterusnya. Begitu juga dari sisi dimensi pengetahuan apakah KD tersebut menuntut tingkat pengetahuan konseptual atau sampai ke meta kognitif. 

Langkah ke-3: Melakukan Pemetaan Materi 

Melakukan pemetaan materi artinya si penyusun handout membuat/mengisi kisi-kisi dengan pokok-pokok materi yang perlu diuraikan dalam handout. Hal ini dapat dilakukan apabila telah dapat mengidentifikasi KD pada langkah -2. 

Langkah-4: Mengorganisasikan Materi 

Materi yang akan dituangkan ke handout perlu diorganisasikan berdasarkan indikator , mulai dari indikator sederhana ke kompleks (ditinjau dari segi dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan)sehingga mudah dipahami peserta didik. Untuk mendukung kemudahan pemahaman peserta akan lebih baik jika disertai gambar, grafik, bagan, diagram atau gambar lainnya.  

Langkah-5: Membaca Sumber Materi

Buku sumber bukan hanya buku cetak/pegangan siswa dan guru akan tetapi harus mencari lebih banyak informasi dari sumber lain seperti jurnal, hasil penelitian, internet, nara sumber dan lain-lain. 

Langkah-6: Menetapkan Bentuk/struktur Penyajian 

Struktur handout tidak mengingat dan sangat feleksibel menurut keperluan. Namun secara umum handout harus berisi: 

Judul : ……

Uraian Materi : …..

Contoh-contoh yang berkaitan dengan tuntutan KD : ….

Latihan/bahan diskusi  (Jika diperlukan): ….

Bahan bacaan : ….

Langkah-7: Penyusunan Draf 

Pada langkah ini guru menyusun draf membahasakan, membuat ilustrasi, mempertimbangkan keluasan materi , dsb). Penyusunan draf dapat dibuat dalam word, powerpoint atau excel tergantung kebutuhan.  

Langkah-8: Merevisi dan Membagikan Handout

Bahan ajar yang berkualitas idealnya  harus melalui uji coba, namun demikian karena pembelajaran yang dilakukan terus berlangsung maka bahan ajar berupa handout  yang sudah dibagikan tetap dilakukan revisi untuk perbaikan untuk  penggunaan berikutnya. 

Demikianlah cara menyusun handout yang berkualitas  yang merupakan salah satu bahan ajar cetak dalam memermudah peserta didik dan guru dalam melangsungkan proses pembelajaran.  

Klik Disini Contoh  Handout

Tanya Jawab Seputar Asesmen Nasional

Pemerintah melalui Mendikbud telah mencanangkan Assesmen Nasional yang akan dimulai tahun 2021. Asesmen nasional terdiri dari Asesmen Kompotensi Minimum(AKM) dan Survei Karakter (SK) dan Survei Lingkungan Belajar (SLB)

Menurut rencana pemerintah  pelaksanaan AKM untuk murid kelas VIII jenjang SMP/MTs, serta kelas IX jenjang SMA/MA, dan SMK akhir Maret 2021, pelaksanaan AKM untuk murid kelas V jenjang SD/MI adalah di bulan Agustus 2021. Untuk mengetahui lebih jelas tentang asesmen nasional dapat dipahami dari tanyajawab berikut ini: 

1. Apa itu asesmen Nasional ?

Jawab. 

Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. 

Baca Juga: Memahami Konsep AKM dan Survei Karakter 

Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

2. Mengapa perlu ada Asesmen Nasional? 

Jawab

Asesmen Nasional perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Asesmen ini dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid. 

Asesmen Nasional menghasilkan informasi untuk memantau (a) perkembangan mutu dari waktu ke waktu, dan (b) kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya di satuan pendidikan: antara kelompok sosial ekonomi, di satuan wilayah antara sekolah negeri dan swasta, antar daerah, ataupun antar kelompok berdasarkan atribut tertentu).

3. Apa tujuan asesmen nasional ?

Jawab. 

Asesmen Nasional bertujuan untuk menunjukkan apa yang seha-rusnya menjadi tujuan utama sekolah, yakni pengembangan kompe¬tensi dan karakter murid. Asesmen Nasional juga memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah sekolah yang efektif untuk mencapai tujuan utama tersebut.

4. Apakah Asesmen Nasional menentukan kelulusan peserta didik? 

Jawab. 

Tidak, Asesmen Nasional tidak menentukan kelulusan. Asesmen Nasional diberikan kepada murid bukan di akhir jenjang satuan pendidikan. Asesmen Nasional juga tidak digunakan untuk menilai peserta didik yang menjadi peserta asesmen. 

Baca juga; Contoh AKM dan Survei Karakter 

Hasil Asesmen Nasional tidak akan memuat skor atau nilai peserta didik secara individual. Seperti dijelaskan sebelumnya, hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Dengan demikian, Asesmen Nasional tidak terkait dengan kelulusan peserta didik. Penilaian untuk kelulusan peserta didik merupakan kewenangan pendidik dan satuan pendidikan.

5. Siapa yang menjadi peserta Asesmen Nasional? 

Jawab. 

Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah di Indonesia, serta program kesetaraan yang dikelola oleh PKBM. Di tiap satuan pendidikan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh sebagian peserta didik kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh Pemerintah. Untuk program kesetaraan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh peserta didik yang berada pada tahap akhir program belajarnya. 

Selain peserta didik, Asesmen Nasional juga akan diikuti oleh guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan. Informasi dari peserta didik, guru, dan kepala sekolah diharapkan memberi informasi yang lengkap tentang kualitas proses dan hasil belajar di setiap satuan pendidikan.

6. Mengapa Asesmen Nasional hanya diikuti oleh sebagian murid? 

Jawab. 

Hal ini terkait dengan tujuan dan fungsi Asesmen Nasional. Asesmen Nasional tidak digunakan untuk menentukan kelulusan menilai prestasi murid sebagai seorang individu. Evaluasi hasil belajar setiap individu murid menjadi kewenangan pendidik. Pemerintah melalui Asesmen Nasional melakukan evaluasi sistem. 

Asesmen Nasional merupakan cara untuk memotret dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, tidak semua murid perlu menjadi peserta dalam Asesmen Nasional. Yang diperlukan adalah informasi dari sampel yang mewakili popu¬lasi murid di setiap sekolah pada jenjang kelas yang menjadi target dari Asesmen Nasional.

7. Mengapa yang menjadi sampel adalah murid kelas V, VIII dan XI? 

Jawab. 

Hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Pemilihan jenjang kelas V, VIII dan XI dimaksudkan agar murid yang menjadi peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di sekolah tersebut. 

Selain itu, Asesmen Nasional juga digu¬nakan untuk memotret dampak dari proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan. Murid kelas V,VIII, dan XI telah mengalami proses pembelajaran di sekolahnya, sehingga sekolah dapat dikatakan telah berkontribusi pada hasil belajar yang diukur dalam Asesmen Nasional.

8. Apakah Asesmen Nasional menggantikan UN? 

Jawab. 

Asesmen Nasional tidak menggantikan peran UN dalam mengeva-luasi prestasi atau hasil belajar murid secara individual. Namun Asesmen Nasional menggantikan peran UN sebagai sumber infor¬masi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan. 

Sebagai alat untuk mengevaluasi mutu sistem, Asesmen Nasional akan menghasilkan potret yang lebih utuh tentang kualitas hasil belajar serta proses pembelajaran di sekolah. Laporan hasil Asesmen Nasional akan dirancang untuk menjadi “cermin” atau umpan balik yang berguna bagi sekolah dan Dinas Pendidikan dalam proses evaluasi diri dan perencanaan program.

9. Mengapa yang diukur adalah literasi dan numerasi? 

Jawab. 

Asesmen Nasional mengukur dua macam literasi, yaitu Literasi Membaca dan Literasi Matematika (atau Numerasi). Keduanya dipilih karena merupakan kemampuan atau kompetensi yang mendasar dan diperlukan oleh semua murid, terlepas dari profesi dan cita-citanya di masa depan. 

Literasi dan numerasi juga merupakan kompetensi yang perlu dikembangkan secara lintas mata pelajaran. Kemampuan membaca yang diukur melalui AKM Literasi sebaiknya dikembangkan tidak hanya melalui pelajaran Bahasa Indonesia, tapi juga pela¬jaran agama, IPA, IPS, dan pelajaran lainnya. 

Kemampuan berpikir logis-sistematis yang diukur melalui AKM Numerasi juga sebaiknya dikembangkan melalui berbagai pelajaran. Dengan mengukur literasi dan numerasi, Asesmen Nasional mendorong guru semua mata pela¬jaran untuk berfokus pada pengembangan kompetensi membaca dan berpikir logis-sistematis.

10. Mengapa Asesmen Nasional juga mengukur karakter murid? 

Jawab. 

Asesmen Nasional bertujuan tidak hanya memotret hasil belajar kognitif murid namun juga memotret hasil belajar sosial emosional. Asesmen nasional diharapkan dapat memotret sikap, nilai, keyakinan, serta perilaku yang dapat memprediksi tindakan dan kinerja murid di berbagai konteks yang relevan. Hal ini penting untuk menyam¬paikan pesan bahwa proses belajar-mengajar harus mengembangkan potensi murid secara utuh baik kognitif maupun non kognitif.

11. Bagaimana kaitan antara Asesmen Nasional dengan kurikulum? 

Jawab. 

Asesmen Nasional mengukur kompetensi mendasar (general capa¬bilities) yang dapat diterapkan secara luas dalam segala situasi. Kompetensi mendasar ini perlu dipelajari oleh semua murid dan sekolah, sehingga dibangun melalui pembelajaran beragam materi kurikulum lintas mata pelajaran. 

Target asesmen yang sekedar mengukur penguasaan murid akan konten atau materi kurikulum menjadi tidak relevan karena di era informasi saat ini, pengetahuan faktual semakin mudah diperoleh dan diakses oleh hampir setiap orang. 

Sekedar mengetahui menjadi tidak cukup dan kurang relevan. Asesmen Nasional berfokus mengukur pada kemampuan murid untuk menggunakan dan mengevaluasi pengetahuan yang diperoleh dari beragam materi kurikulum untuk merumuskan serta menyelesaikan masalah. Asesmen Nasional menggeser fokus dari keluasan pe-ngetahuan menuju kedalaman kompetensi dari kurikulum.

12. Apa peran Asesmen Nasional dalam pendidikan jalur non-formal? 

Jawab. 

Warga belajar diwajibkan menempuh ujian kesetaraan untuk dinyatakan lulus pendidikan non-formal. Asesmen Nasional meru¬pakan ujian kesetaraan yang menjadi salah satu syarat kelulusan. 

Oleh karena itu, peserta Asesmen Nasional dalam pendidikan jalur non-formal tidak dipilih secara acak oleh Kemdikbud. Peserta Asesmen Nasional pendidikan jalur non formal adalah warga belajar yang mendaftarkan diri untuk ujian kesetaraan. Hasil ujian kese¬taraan tersebut sekaligus digunakan sebagai Rapor PKBM.

Baca Juga: Pelaksanaan Asesmen Nasional 

Sumber :

Assesmen Nasional Lembar Tanya Jawab Pusat Assesmen dan Pembelajaran Kemdikbud


10 Sumber Materi Untuk Menyusun Bahan Ajar

Mengajar bukanlah menyelesaikan satu buku, tetapi membantu siswa mencapai kompetensi. Karena itu, hendaknya guru menggunakan banyak sumber materi. Sumber utama untuk mendapatkan materi pembelajaran adalah buku teks dan sumber lain seperti bahan ajar .

Bahan ajar yang disusun guru sangat penting dalam membantu dan mempermudah siwa dalam belajar, bahan ajar juga dapat menampung perbedaan kecepatan belajar siswa sehingga siswa yang cepat dapat melanjutkan belajaranya dengan materi yang ada di bahan ajar sedangkan siswa yang kurang cepat akan terbantu juga dengan bahan ajar. 

Sayangnya belum semua guru manpu membuat bahan ajar, baik bahan ajar cetak maupun non cetak. Salah satu faktor ketidakmampuan guru menyusun bahan ajar tersebut disebabkan kurannya  informasi tentang sumber materi bahan  ajar  yang mereka peroleh.  

Baca juga: 5 Metode Terbaik Dalam pembelajaran Luring 

Dibawah ini ada 10 sumber materi yang dapat digunakan guru sesuai tuntutan  kompetensi dasar untuk dituangkan dalam bahan ajar, yaitu:

1. Buku teks/Buku Pelajaran

Buku teks yang diterbitkan oleh berbagai penerbit dapat dipilih untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Buku teks yang digunakan sebagai sumber bahan ajar untuk suatu jenis matapelajaran tidak harus hanya satu jenis, apa lagi hanya berasal dari satu pengarang atau penerbit. Gunakan sebanyak mungkin buku teks agar dapat diperoleh wawasan yang luas.

2. Laporan hasil penelitian

Laporan hasil penelitian yang diterbitkan oleh lembaga penelitian atau oleh para peneliti sangat berguna untuk mendapatkan sumber bahan ajar yang atual atau mutakhir.

3. Buku kurikulum

Buku kurikulm penting untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Karena berdasar kurikulum itulah standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi bahan dapat ditemukan. Hanya saja materi yang tercantum dalam kurikulum hanya berisikan pokok-pokok materi. Gurulah yang harus menjabarkan materi pokok menjadi bahan ajar yang terperinci

4. Jurnal (penerbitan hasil penelitian  dan pemikiran ilmiah) 

Penerbitan berkala yang berisikan hasil penelitian atau hasil pemikiran sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Jurnal-jurnal tersebut berisikan berbagai hasil penelitian dan pendapat dari para ahli di bidangnya masing-masing yang telah dikaji kebenarannya.

5. Pakar bidang studi

Pakar atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber bahan ajar. Pakar tadi dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran materi atau bahan ajar, ruang lingkup, kedalaman, urutan, dsb.

6. Profesional

Kalangan professional adalah orang-orang yang bekerja pada bidang tertentu. Kalangan perbankan misalnya tentu ahli di bidang ekonomi dan keuangan. Sehubungan dengan itu bahan ajar yang berkenaan dengan eknomi dan keuangan dapat ditanyakan pada orang-orang yang bekerja di perbankan.

7. Penerbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan.

Penerbitan berkala seperti Koran banyak berisikan informasi yang berkenaan dengan bahan ajar suatu matapelajaran. Penyajian dalam koran-koran atau mingguan menggunakan bahasa popular yang mudah dipahami. Karena itu baik sekali apa bila penerbitan tersebut digunakan sebagai sumber bahan ajar. 

8. Internet

Bahan ajar dapat pula diperoleh melalui jaringan internet. Di internet kita dapat memperoleh segala macam sumber bahan ajar. Bahkan satuan pelajaran harian untuk berbagai matapelajaran dapat kita peroleh melalui internet. Bahan tersebut dapat dicetak atau dikopi.

9. Media audiovisual (TV, Video, VCD, kaset audio)

Berbagai jenis media audiovisual berisikan pula bahan ajar untuk berbagai jenis mata pelajaran. Kita dapat mempelajari gunung berapi, kehidupan di laut, di hutan belantara melalui siaran televisi.

10. Lingkungan ( alam, sosial, senibudaya, teknik, industri, ekonomi)

Berbagai lingkungan seperti lingkungan alam, lingkungan social, lengkungan seni budaya, teknik, industri, dan lingkungan ekonomi dapat digunakan sebgai sumber bahan ajar. Untuk mempelajari abrasi atau penggerusan pantai, jenis pasir, gelombang pasang misalnya kita dapat menggunakan lingkungan alam berupa pantai sebagau sumber.

Baca juga: Contoh Soal AKM 

Perlu diingat, dalam  pembelajaran kurikulum 2013,buku teks atau buku pelajaran bukan satu-satunya sumber bahan ajar yang dapat digunakan guru. Buku teks hanya bahan rujukan maka guru bertanggungjawab dalam mengembangkan materi pembelajaran dari berbagai sumber yang dituangkan ke dalam bahan ajar. 10 sumber bahan ajar yang dijelaskan di atas dapat dimanfaatkan guru dan tidaklah sulit untuk mendapatkannya di era digital sekarang ini.  


Gaji dan Tunjangan PPPK (Perpres 98 Tahun 2020)

Terbitnya  Peraturan Presiden (Perpres ) Nomor 98 Tahun 2020 tanggal 28 September 2020 tentang gaji dan tunjangan PPPK telah membawa angin segar buat semua anggota  Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja ( PPPK ). 

Dalam Perpres tesebut dinyatakan bahwa PPPK  adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat  tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka pelaksanakan tugas jabatan pemerintahan.

PPPK diangkat dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Baca: Tata Cara Sertifikasi Guru Dalam Jabatan 

Sebagai pegawai pemerintah mereka menerima gaji yaitu  imbalan dalam bentuk uang yang wajib dibayarkan oleh pemerintah secara adil dan layak kepada PPPK sesuai dengan beban kerja, tanggung jawab, dan resiko pekerjaan.

Adapun besaran gaji PPPK didasarkan golongan dan masa kerja golongan. Gaji terendah dengan golongan I (satu)  masa kerja nol tahun menerima sebesar Rp. 1.794.900 sedangkan PPK golongan tertinggi yaitu golongan XVII dengan masakerja 32 tahun menerima sebesar Rp. 6.786.000. 

Apabila dibandingkan dengan penggajian PNS sesuai dengan PP Nomor 15 tahun 2019 maka sistem penggajian PNS lebih kecil dibanding dengan sistem penggajian PPPK. PNS dengan golongan terendah (I) dengan masa kerja nol tahun menerima sebesar Rp. 1.486.500 , Sedangkan golongan tertinggi IVe dengan masa kerja 32 tahun menerima sebesar Rp.  5.620.300     

Artinya program perintah tersebut harus disyukuri dan diapresiasi bahwa kebijakan tersebut telah membawa perubahan besar terhadap  PPPK yang selama ini belum sulit mereka dapatkan. 

Baca juga: PP Nomor 17 tahun 2020, Guru Dapat Cuti Tahunan 

Selain gaji, dalam Perpres tersebut juga dinyatakan bahwa PPPK yang diangkat untuk melaksanakan tugas jabatan diberikan tunjangan sesuai dengan tunjangan Pegawai Negeri Sipil pada Instansi Pemerintah tempat PPPK bekerja. Tunjangan PPPK tersebut  terdiri atas:

a. tunjangan keluarga;

b. tunjangan pangan;

c. tunjangan jabatan struktural;

d. tunjangan jabatan fungsional; atau

e. tunjangan lainnya.

Adapun besaran tunjangan PPPK seperti tersebut di atas diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang tunjangan sebagaimana yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil.

Secara lengkap tentang Perpres 98 Tahun 2020 tentang Gaji dan Tunjangan PPPK dapat DI UNDUH DISINI. 

Dengan adanya kebijakan tentang penggajian PPPK diharapkan kinerja mereka semakin baik. Semoga.