Alasan Penolakan Karya Tulis Pengawas Sekolah

Pada artikel sebelumnya sudah dijelaskan alasan penolakan karya tulis pengawas sekolah yang berkaitan dengan kriteria APIK (Asli, Perlu, Ilmiah dan Konsisten). Selanjutnya akan dibahas alasan penolakan karya ilmiah pengawas sekolah yang berkaitan dengan teknis seperti susunan, kelengkapan lampiran, kelengkapan tanda tangan, seminar dan lain-lain seperti dijelaskan di bawah ini. 

A. Buku laporan hasil penelitian yang diterbitkan secara nasional

1. Dinyatakan sebagai Buku hasil penelitian yng diterbitkan secara Nasional akan tetapi tidak ada bukti fisik yang menunjukkan hal itu misalnya tidak disahkan oleh BSNP atau Puskurbuk

Disarankan untuk melengkapi bukti fisik yang sesuai dengan kriteria, misalnya buku harus ber ISBN, dan ada bukti pengesahkan PUSKURBUK/BSNP

Baca Juga: Mengapa Karya Ilmiah Pengawas Ditolak?

2. Dinyatakan sebagai buku hasil Penelitian diterbitkan secara Nasional akan tetapi kerangka isi buku belum mengikuti kerangka isi penelitian

Disarankan untuk membuat pubikasi ilmiah baru yang sesuai tupoksi pengawas atau membuat buku baru dengan kerangka yang disesuikan denga kerangka laporan  penelitiannya

B. Makalah Hasil penelitian yang dimuat di Jurnal Ilmiah Nasional terakreditasi

1. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah dalam jurnal ilmiah namun belum ada ISSN, tidak jelas tingkat peredarannya, waktu terbitnya, dan/atau jumlah artikel dalam satu jurnal. Selain itu dalam jurnal tidak ditemukan SK Jurnal terakreditasi Nasional

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

2. Dinyatakan sebagai artikel dimuat dijurnal ilmiah terakreditasi nasional, namun juranl tersebut kurang atau tidak memenuhi syarat sebagai jurnal ilmiah terakreditasi/sebagai jurnal ilmiah

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru yang berisi aau mempermasalhkan permasalahan nyata di bidang pendidikan formal atau di sekolaah binaannya sesuai dengan tugas pengawas yang bersangkutan.

C. Laporan Hasil Penelitian Umum (Penelitian selain PTS)

1. Laporan hasil penelitian belum disajikan dengan kerangka dan sajian isi yang sesuai.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, atau memperbaiki laporan hasil penelitiannya dengan menggunakan kerangka isi sebagai berikut:

Bagian Awal  yang  terdiri dari: halaman judul; lembaran persetujuan; kata pengantar; daftar isi, daftar label, daftar gambar dan lampiran, serta abstrak atau ringkasan.

Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:

Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian;

Bab Kajian Teori / Tinjauan Pustaka;  

Bab Metode Penelitian;

Bab  Hasil-hasil dan Diskusi Hasil Penelitian;, serta

Bab Kesimpulan dan Saran.

Bagian Penunjang sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang selengkap-lengkapnya (seperti instrumen yang digunakan, contoh hasil kerja subyek penelitian, contoh isian instrumen, foto-foto kegiatan, surat ijin penelitian, dan dokumen pelaksanaan penelitian lain yang menunjang keaslian penelitian tersebut);

2. Laporan hasil penelitian namun latar belakang masalah tidak jelas sehingga tidak dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas. Latar belakang masalah penelitian harus dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas dan  hubungan masalah tersebut dengan upaya  Pengawas dalam  mengembangkan profesinya. Latar belakang masalah juga harus didukung oleh fakta spesifik yang berkaitan dengan masalah yang nyata terjadi di sekolah binaannya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Laporan hasil penelitian namun rumusan masalah tidak jelas sehingga kurang dapat diketahui apa sebenarnya yang akan diungkapkan pada publikasi ilmiah nya. Rumusan masalah harus benar-benar dapat menunjukkan variabel-variabel apa saja, dan bagaimana hubungan antar variablel tersebut yang akan dikaji dalam penelitian. Rumusan masalah hendaknya mampu memberikan gambaran yang jelas apa sebenarnya yang akan dikaji pada penelitian tersebut.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

4. Laporan hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) kebenarannya tidak terdukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta  dan kebenaran analisisnya, dan atau (b) metode penelitian,  sampling,  data, analisis hasil yang tidak /kurang  benar.

Kajian teori atau kajian hasil-hasil penelitian terdahulu hendaknya sesuai dengan variabel-variabel penelitian. Metode penelitian, sampling dan analisis hasil harus dapat mendukung ketercapaian hasil penelitian.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

5. Isi laporan hasil penelitiannya tidak atau kurang jelas mengungkapkan  laporan kegiatan yang dilakukan Pengawas  pada bidang pendidikan yang telah dilaksanakan Pengawas di sekolah dan  sesuai dengan tupoksinya,

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

6. Dinyatakan sebagai laporan penelitian pendidikan namun berisi pembahasan isi/materi pelajaran atau berupa penelitian keilmuan di bidang studi  tertentu dan  tidak terkait dengan kegiatan nyata yang bersangkutan dalam kegiatan pengembangan profesinya sebagai Pengawas dalam proses pembelajaran.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

7. Laporan penelitian berupa  laporan hasil penelitian perbandingan  tetapi, (a) tidak jelas kegiatan nyata apa yang telah dilakukan Pengawas dalam kegiatan penelitian pembandingan tersebut dalam kaitannya kegiatan pengembangan profesi., (b) bahasan hanya sebatas membandingkan  variabel yang telah jelas jawabannya dan tidak berkaitan dengan tindakan profesional Pengawas dalam peningkatan profesinya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

8. Dinyatakan sebagai laporan penelitian deskriptif, namun : (a) tidak jelas manfaat apa yang dihasilkan Pengawas sesuai dengan pengembangan profesinya, (b) bahasan hanya sebatas mendeskripsikan data tentang dalam kaitannya dengan sesuatu keadaan.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

9. Dinyatakan sebagai laporan penelitian laporan penelitian korelasi, tetapi, (a) tidak jelas manfaat apa yang telah dihasilkan sesuai dengan kegiatan pengembangan profesi, (b) bahasan hanya sebatas mengkorelasikan variabel-variabel yang telah jelas jawabannya, dan tidak berkaitan dengan tindakan professional Pengawas dalam peningkatan profesinya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

10. Dinyatakan sebagai penelitian eksperimen, belum dapat diterima karena tidak mengikuti kaidah penulisan laporan penelitian eksperimen. Penentuan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak tepat, dan pelaksanaan perlakuannya tidak jelas.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

11. Secara umum isi laporan penelitian ini telah cukup baik. Namun beberapa lampiran penting belum dilampirkan, untuk itu  segera di lampirkan.

Disarankan untuk memperbaiki melengkapi lampiran-lampirannya. Dokumen pelaksanaan penelitian yang harus dilampirkan paling tidak adalah: (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, (b) contoh pengisian  instrumen oleh responden (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin,  foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

D. Laporan PTS

1. Dinyatakan sebagai laporan PTS, namun:  tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan, juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuan siklus-siklus berikutnya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

2. Dinyatakan sebagai laporan PTS, namun apa yang dijelaskan dalam laporan tersebut hanya berupa  laporan pembelajaran yang  biasa, tidak ada tindakan yang merupakan pembaharuan dari kegiatan yang biasa dilakukan, tahapan dalam siklus sama dengan tahapan pembelajaran biasa. PTS bukan pembelajaran biasa tetapi merupakan proses mencoba dan menganalisis penggunaan metode baru yang  diutamakan bukan hanya hasil tetapi prosesnya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Publikasi ilmiah yang diajukan berupa penelitian tindakan Sekolah, namun  (a) metode penelitian belum mengemukakan tahapan dan tindakan tiap siklus dan indikator keberhasilannya, (b) pada laporan hasil dan pembahasan belum melaporkan data lengkap tiap siklus, perubahan yang terjadi pada subyek, Pengawas atau sekolah binaan serta bahasan terhadap keseluruhan hasil penelitian dan (c) lampiran belum lengkap.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, atau memperbaiki laporan hasil penelitiannya dengan menggunakan kerangka isi sebagai berikut:

Bagian Awal  yang  terdiri dari: halaman judul; lembaran persetujuan; kata pengantar; daftar isi, daftar label, daftar gambar dan lampiran, serta abstrak atau ringkasan.

Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:

Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian;

Bab Kajian Teori/ Tinjauan Pustaka;  

Bab Metode Penelitian;

Bab  Hasil-hasil dan Diskusi Hasil Penelitian; serta

Bab Simpulan dan Saran-Saran.

Bagian Penunjang sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang selengkap-lengkapnya (seperti instrumen yang digunakan, contoh hasil kerja subyek penelitian, contoh isian instrumen, foto-foto kegiatan, surat ijin penelitian, dan dokumen pelaksanaan penelitian lain yang menunjang keaslian penelitian tersebut).

4. Secara umum isi laporan PTS  ini telah cukup baik. Namun beberapa lampiran penting belum dilampirkan, untuk itu agar segera dilampirkan.

Disarankan untuk memperbaiki, melengkapi lampiran-lampirannya. Dokumen pelaksanaan penelitian yang harus dilampirkan paling tidak adalah: (a) semua Rencana untuk semua siklus, (b) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, (c) contoh hasil kerja subyek penelitian dan Pengawas  (d) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, surat ijin,  foto-foto kegiatan beserta penjelasannya, daftar hadir untuk semua pertemuan, surat pernyataan dari kepala sekolah mengenai berita acara seminar, dan lain-lain.

5. Laporan PTS belum diseminarkan.

Disarankan untuk segera melakukan seminar disekolah penulis dengan mengundang 2 sekolah binaan dengan jumlah peserta seminar minimal 10 orang pengawas, 5 orang pengawas dan memenuhi segala kelengkapan kegiatan seminar di antaranya surat keterangan dari kepala sekolah dan panitia seminar, berita acara seminar, daftar hadir, notulen seminar dan persyaratan lain sesuai dengan aturan. 

E.  Buku Hasil Gagasan yang diterbitkan secara Nasional

Alasan penolakan dan saran : 

1. Dinyatakan sebagai Buku hasil gagasan yng diterbitkan secara Nasional akan tetapi tidak ada bukti fisik yang menunjukkan hal itu misalnya tidak disahkan oleh BSNP atau Puskurbuk

Disarankan untuk melengkapi bukti fisik yang sesuai dengan kriteria, misalnya buku harus ber ISBN, dan ada bukti pengesahkan PUSKURBUK/BSNP

F. Makalah Hasil Gagasan yang dimuat di Jurnal Ilmiah terakreditasi

1. Dinyatakan sebagai artikel dimuat dijurnal ilmiah terakreditasi nasional, namun juranl tersebut kurang atau tidak memenuhi syarat sebagai jurnal ilmiah terakreditasi/sebagai jurnal ilmiah. Selain itu dalam jurnal tidak ditemukan SK Jurnal terakreditasi Nasional

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru yang berisi aau mempermasalhkan permasalahan nyata di bidang pendidikan formal atau di sekolaah binaannya sesuai dengan tugas pengawas yang bersangkutan.

2. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah, namun isinya hanya berupa laporan penelitian biasa yg hanya mengkorelasikan, membandingkan hal-hal yang tidak bermanfaat dalam pembelajaran dan pengembangan profesi Pengawas serta Tidak ditemukan Gagasan atau Ide Pengawas yang bersangkutan

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah hasil gagasan dalam jurnal ilmiah namun belum ada ISSN, tidak jelas tingkat peredarannya, waktu terbitnya, dan/atau jumlah artikel dalam satu jurnal.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

G. Buku Hasil Gagasan tidak diterbitkan secara nasional

Alasan Penolakan dan Saran :

1. Dinyatakan sebagai Buku hasil gagasan yng diterbitkan tidak secara Nasional akan tetapi tidak ada bukti fisik yang menunjukkan hal itu misalnya tidak ada ISBN

Disarankan untuk melengkapi bukti fisik yang sesuai dengan kriteria, misalnya buku harus  ber ISBN

2. Dinyatakan sebagai buku hasil gagasan yang tidak diterbitkan secara nasional akan tetapi isinya diluar bidang Kepengawasan dan diluar Bidang Pendidikan dan Pembelajaran

Disarankan membuat publikasi ilmiah baru  yang sesuai dengan Pengembangan Profesi Pengawas di sekolah binaan Pengawas yang bersangkutan

G. Makalah Gagasan Ilmiah di jurnal tingkat Regional/Tidak terakreditasi Nasional atau Makalah Tinjauan Ilmiah

1. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah hasil gagasan dalam jurnal ilmiah namun belum ada ISSN, tidak jelas tingkat peredarannya, waktu terbitnya, dan/atau jumlah artikel dalam satu jurnal.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

2. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah, namun isinya hanya berupa laporan penelitian biasa yg hanya mengkorelasikan, membandingkan hal-hal yang tidak bermanfaat dalam pembelajaran dan pengembangan profesi Pengawas.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Dinyatakan sebagai Gagasan/Tinjauan Ilmiah, namun belum mengikuti sistematika penulisan dan alur berpikir ilmiah sebagai karya tinjauan ilmiah sesuai dengan pedoman.

Disarankan memperbaiki publikasi ilmiah  tersebut dengan memakai sistematika publikasi ilmiah  tinjauan ilmiah, yang paling tidak memuat:

  • Bagian Awal yang terdiri dari: halaman judul; lembaran persetujuan; kata pengantar; daftar isi, daftar label, daftar gambar dan lampiran, serta abstrak atau ringkasan.
  • Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:
  • Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah. 
  • Bab Kajian Teori/Tinjauan Pustaka.   
  • Bab Pembahasan Masalah yang didukung data-data yang ada di satuan pendidikannya. 

Yang sangat perlu disajikan pada bab ini adalah kejelasan ide atau gagasan asli  si penulis  yang terkait dengan upaya pemecahan masalah di satuan pendidikannya (di sekolah binaannya).

  • Bab  Kesimpulan.

Bagian Penunjang sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran tentang data yang dipakai untuk menunjang tinjauan atau gagasan ilmiah.

4. Dinyatakan sebagai Tinjauan Ilmiah, namun tidak dijumpai adanya data pendukung dan gagasan penulis dalam membahas/mengatasi masalah.

Disarankan memperbaiki publikasi ilmiah  tersebut dengan memakai sistematika publikasi ilmiah  tinjauan ilmiah, yang paling tidak memuat :

Bagian Awal yang terdiri dari: halaman judul; lembaran persetujuan; kata pengantar; daftar isi, daftar label, daftar gambar dan lampiran, serta abstrak atau ringkasan.

 Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:

  • Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah. 
  • Bab Kajian Teori/Tinjauan Pustaka.  
  • Bab Pembahasan Masalah yang didukung data-data yang ada di satuan pendidikannya. 

Yang sangat perlu disajikan pada bab ini adalah kejelasan ide atau gagasan asli  si penulis  yang terkait dengan upaya pemecahan masalah di satuan pendidikannya (di sekolah binaannya).

  • Bab Kesimpulan.

Bagian Penunjang sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran tentang data yang dipakai untuk menunjang tinjauan atau gagasan ilmiah.

5. Dinyatakan sebagai tinjauan ilmiah namun isinya terlalu luas, tidak terkait dengan tugas penulis dalam mengembangkan profesinya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada satuan pendidikannya/sekolah binaannya yang sesuai dengan tugas pengawas yang bersangkutan.

H. Karya Terjemahan yang diterbitkan jadi buku

Alasan penolakan dan saran:

1. Dinyatakan sebagai Buku hasil terjemahan yng diterbitkan secara Nasional akan tetapi tidak ada bukti fisik yang menunjukkan hal itu misalnya tidak disahkan oleh BSNP atau Puskurbuk

Disarankan untuk melengkapi bukti fisik yang sesuai dengan kriteria, misalnya buku harus ber ISBN, dan ada bukti pengesahkan PUSKURBUK/BSNP

2. Dinyatakan sebagai Buku hasil terjemahan yng diterbitkan tidak secara Nasional akan tetapi tidak ada bukti fisik yang menunjukkan hal itu misalnya tidak ada ISBN

Disarankan untuk melengkapi bukti fisik yang sesuai dengan kriteria, misalnya buku HARUS ber ISBN

3. Dinyatakan sebagai buku hasil terjemahan yang tidak diterbitkan secara nasional akan tetapi isinya diluar bidang Kepengawasan dan diluar Bidang Pendidikan dan Pembelajaran

Disarankan membuat publikasi ilmiah baru  yang sesuai dengan Pengembangan Profesi Pengawas di sekolah binaan Pengawas yang bersangkutan

4. Dinyatakan sebagai buku karya hasil terjemahan, namun belum mengikuti sistematika penulisan dari karya/buku yang diterjemahkan. 

Disarankan memperbaiki publikasi ilmiah  tersebut dengan memakai sistematika publikasi ilmiah  tinjauan ilmiah hasil terjemahan, yang disesuiakan dengan daftar isi karya yang diterjemahkan. 

5. Dinyatakan buku hasil terjemahan tetapi hanya menterjemahkan sebagian atau beberapa bab saja dari buku yang diterjemahkan.

Disarankan untuk Memperbaiki karya buku terjemahan tersebut dengan menterjemahkan seluruhnya dan menyesuiakan sistematika sesuai dengan daftar isi/sistematika buku yang diterjemahkan.

I. Makalah Terjemahan diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah

Alasan penolakan dan saran : 

1. Dinyatakan sebagai artikel terjemahan dimuat dijurnal ilmiah terakreditasi nasional, namun juranl tersebut kurang atau tidak memenuhi syarat sebagai jurnal ilmiah terakreditasi/sebagai jurnal ilmiah. Selain itu dalam jurnal tidak ditemukan SK Jurnal terakreditasi Nasional

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru yang berisi aau mempermasalhkan permasalahan nyata di bidang pendidikan formal atau di sekolaah binaannya sesuai dengan tugas pengawas yang bersangkutan.

2. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah hasil terjemahan, namun isinya hanya berupa laporan penelitian biasa yg hanya mengkorelasikan, membandingkan hal-hal yang tidak bermanfaat dalam pembelajaran dan pengembangan profesi Pengawas serta  Isinya tidak sesuai dengan karya yang diterjemahkan 

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah hasil terjemahan dalam jurnal ilmiah namun belum ada ISSN, tidak jelas tingkat peredarannya, waktu terbitnya, dan/atau jumlah artikel dalam satu jurnal.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

4. Dinyatakan sebagai tinjauan ilmiah hasil terjemahan namun isinya terlalu luas, tidak terkait dengan tugas penulis dalam mengembangkan profesinya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada satuan pendidikannya yang sesuai dengan tugas pengawas yang bersangkutan.

J. Alasan lain

1. Publikasi ilmiah sudah baik namun belum ada pengesahan terutama dari korwas

Untuk itu, segera dilengkapi dengan persetujuan/ pengesahan sesuai dengan pedoman. Terutama pengesahan dari Korwas.

2. Publikasi ilmiah  ini sudah cukup baik,  namun tidak jelas apa peran pengawas sekolah yang terkait dengan permasalahan yang dibahas dalam publikasi ilmiah -nya.

Disarankan untuk memperbaiki publikasi ilmiah  tersebut dengan menunjukkan dengan jelas dan rinci peran pengawas sekolah dalam permasalahan yang dibahas dalam publikasi ilmiah  tersebut.

Baca juga: Teknik dan Alat Pengumpulan Data 
















Mengapa Karya Ilmiah Pengawas Sekolah Ditolak ?

Tidak jarang pengawas sekolah mengeluh setelah mendapat informasi tertulis dari tim penilai pusat atau provinsi/kabupaten  bahwa karya tulis yang diajukan untuk naik pangkat belum dapat dinilai atau angka kreditnya nol. Kejadian seperti ini harusnya tidak perlu terjadi apabila pengawas sekolah bersangkutan memahami  syarat dan kriteria penilaian karya tulis pengawas yang dapat dinilai angka kreditnya. 

Dari pada kecewa tentang hasil penilaian bagi yang akan mengusulkan naik pangkat atau hasil karya tulisnya ditolak  sebaiknya perlu disiasati dan dipahami alasan-alasan karya tulis pengawas sekolah ditolak tim penilai dipropinsi maupun tim penilai pusat. 

Secara umum ada 2 bagian alasan penolakan, pertama terkait dengan kriteria bahwa karya tulis harus memenuhi APIK (Asli, Perlu, ilmiah dan Konsisten); kedua, terkait dengan teknis dan kelengkapan karya tulis seperti tanda tangan korwas, seminar , lampiran kurang lengkap dan lain-lain seperti dijelaskan di bawah ini. 

I. Penolakan yang berkaitan dengan Kriteria A P I K 

A. Terkait dengan alasan Keaslian

1 . Keaslian PUBLIKASI ILMIAH diragukan, sehubungan adanya berbagai data yang tidak konsisten seperti nama, nama sekolah, lampiran, foto dan data yang tidak sesuai.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, karya sendiri, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

2. Keaslian publikasi ilmiah  diragukan, sehubungan dengan waktu pelaksanaan kegiatan penelitian yang kurang wajar, terlalu banyak penelitian yang dilakukan dalam waktu yang terbatas (satu tahun maksimal dua penelitian).

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, karya sendiri, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Keaslian publikasi ilmiah diragukan, sehubungan   adanya  perbedaan kualitas, cara penulisan, gaya bahasa yang mencolok  di antara  karya-karya  yang dibuat oleh seorang Pengawas yang sama.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, karya sendiri, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

4. Keaslian publikasi ilmiah diragukan, sehubungan adanya terlalu banyak kesamaan mencolok di antara  publikasi ilmiah yang dinyatakan dibuat pada waktu yang berbeda. Seperti foto-foto, dokumen, surat pernyataan yang dinyataka dibuat dalam waktu yang berbeda, sama antara yang satu dengan yang lain.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, karya sendiri, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

5. Keaslian publikasi ilmiah diragukan, sehubungan adanya kemiripan yang mencolok dengan skripsi, tesis atau disertasi, baik mungkin karya yang bersangkutan maupun karya orang lain.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, karya sendiri, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan  yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

6. Keaslian publikasi ilmiah diragukan, sehubungan adanya   berbagai kesamaan mencolok dengan publikasi yang dibuat oleh orang lain, dari daerah yang sama, seperti di sekolah, kabupaten, kota, atau wilayah yang sama.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, karya sendiri, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

Baca juga: Cara Membuat Laporan Best Practice

B. Terkait dengan Alasan Perlu

1. Isi dari hal dipermasalahkan, merupakan tentang hal yang terlalu luas/terlalu umum, yang tidak terkait dengan permasalahan nyata yang ada di sekolah binaannya atau tidak ada hal yang berkaitan langsung dengan kegiatan ybs sebagai pegawas disekolah binaannya yang sesuai dengan tugas pengawas yang bersangkutan.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

2. Isi dari hal dipermasalahkan, merupakan kajian tentang hal spesifik bidang keilmuan, tidak terkait dengan permasalahan nyata yang ada di sekolah binaan atau tidak ada hal yang berkaitan langsung dengan kegiatan ybs sebagai Pengawas di sekolah binaan  yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Isi dari hal dipermasalahkan, merupakan kajian tentang hal di luar bidang pendidikan/pembelajaran, tidak terkait  dengan permasalahan nyata yang ada di sekolah atau tidak ada hal yang berkaitan langsung dengan kegiatan ybs sebagai Pengawas di sekolah binaan  yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

4. Isi dari hal dipermasalahkan, tidak termasuk dari macam publikasi ilmiah yang dapat diajukan untuk dinilai sebagai bagian kegiatan pengembangan Profesi, seperti misalnya RPP, contoh-contoh soal ujian, LKS, kumpulan kliping, dan sejenisnya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

C. Terkait dengan Alasan Ilmiah

1. Kerangka penulisan dan isi sajian belum mengikuti kaidah yang umumnya digunakan dalam penulisan ilmiah.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan, dengan menggunakan kerangka penulisan dan isi sajian yang sesuai untuk suatu publikasi ilmiah.

D. Terkait dengan Alasan Konsisten

1. Isi permasalahan yang disajikan tidak atau kurang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan, pada lokasi dan sekolah binaan yang sesuai.

2. Publikasi ilmiah yang diajukan untuk dinilai telah kadaluwarsa.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang belum kadaluwarsa dan berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Publikasi ilmiah yang diajukan pernah dinilai dan sudah pernah disarankan untuk melakukan perbaikan, namun perbaikan yang diharapkan belum sesuai.

Disarankan kembali memperbaiki sesuai dengan saran terdahulu, atau membuat publikasi ilmiah baru, berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

4. Publikasi ilmiah yang diajukan pernah dinilai dan sudah dinyatakan tidak dapat dinilai dan  disarankan untuk  membuat publikasi ilmiah baru tetapi diajukan lagi.

Disarankan kembali untuk  membuat publikasi ilmiah baru, yang belum kadaluarsa dan berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

Baca juga: Sistematika PTK (Edisi Revisi)

5. Publikasi ilmiah tidak dapat dinilai, karena tidak jelas jenis publikasi ilmiah-nya atau tidak termasuk yang dapat dinilai berdasar pada peraturan yang berlaku.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan, pada lokasi dan sekolah binaan yang sesuai.

Penolakan Masalah Teknis BERSAMBUNG KLIK DISINI


Penilaian Pada Kondisi Khusus Di SMA

Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Penilaian  dilaksanakan melalui tiga pendekatan, yaitu penilaian atas pembelajaran (assessment of learning), penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning), dan penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning)

Penilaian atas pembelajaran dilakukan untuk mengukur capaian siswa terhadap kompetensi yang telah ditetapkan. Penilaian untuk pembelajaran memungkinkan guru menggunakan informasi kondisi siswa untuk memperbaiki pembelajaran, sedangkan penilaian sebagai pembelajaran  memungkinkan siswa melihat capaian dan kemajuan belajarnya untuk menentukan target belajar.

Penilaian pada kondisi khusus adalah penilaian yang dilakukan pada pembelajaran jarak jauh sehingga membutuhkan adaptasi (penyesuaian) dalam melakukan pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. 

Penyesuaianpenilaian pada kondisi khusus memiliki keterbatasan, antara lain: tatap muka langsung, sumber belajar, alat, dan bahan praktik, serta proses bimbingan dan pengawasan.

Penilaian yang dilakukan guru  dalam kondisi khusus tetap harus menilai tiga aspek yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran pada kondisi khusus di SMA adalah:

  1. Sikap terhadap materi pelajaran;
  2. Sikap terhadap guru/pengajar;
  3. Sikap terhadap proses pembelajaran; dan
  4. Sikap terhadap nilai dan norma dalam keluarga maupun di lingkungan.

Untuk memperoleh nilai sikap diatas digunakan 3 bentuk penilaian yaitu pengamatan (observasi), penilaian diri dan penilaian antar teman. Guru perlu menyusun lembar observasi untuk pengamatan  dan instrument berupa angket untuk penilaian diri dan antar teman.

Penilaian pengetahuan mencakup dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif. Dimensi pengetahuan mencakup pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif sedangkan dimensi proses kognitif terdiri atas mengingat, memahami,menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta (taksonomi Bloom/revisi Anderson). Untuk mendapatkan penilaian pengetahuan ini dapat dilakukan melalui tes tertulis, lisan  dan penugasan.

 Penilaian keterampilan meliputi ranah konkrit dan ranah abstrak. Keterampilan konkrit adalah kemampuan bertindak terkait dengan kemampuan motorik atau kemampuan anggota tubuh melakukan suatu tindakan atau kegiatan prosedural. 

Keterampilan abstrak adalah kemampuan berpikir dan belajar atau kemampuan menggunakan pengetahuan (konsep, prinsip, prosedur, dan metakognitif) dalam bertindak atau memecahkan masalah nyata (kontekstual).

Baca juga: Pentingnya Asesmen Diagonosis Kognitif 

Penilaian keterampilan digunakan untuk memperoleh informasi kemampuan berpikir (abstrak) dan bertindak (konkrit) yang dapat diamati dan diukur. Tingkat kompetensi ketrampilan dan contoh berpikir, dan atau bertindak yang dapat diukur adalah sebagai berikut.

  1. Mengamati, antara lain: melihat, membaca, meneropong, merekam, memotret, endengarkan, menonton.
  2. Menanya, antara lain: bertanya lisan/tertulis, mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, memancing pertanyaan. 

Penilaian keterampilan meliputi ranah konkrit dan ranah abstrak. Keterampilan konkrit adalah kemampuan bertindak terkait dengan kemampuan motorik atau kemampuan anggota tubuh melakukan suatu tindakan atau kegiatan prosedural. 

Keterampilan abstrak adalah kemampuan berpikir dan belajar atau kemampuan menggunakan pengetahuan (konsep, prinsip, prosedur, dan metakognitif) dalam bertindak atau memecahkan masalah nyata (kontekstual).

Penilaian keterampilan digunakan untuk memperoleh informasi kemampuan berpikir (abstrak) dan bertindak (konkrit) yang dapat diamati dan diukur. Tingkat kompetensi ketrampilan dan contoh berpikir, dan atau bertindak yang dapat diukur adalah sebagai berikut.

  1. Mengamati, antara lain: melihat, membaca, meneropong, merekam, memotret, endengarkan, menonton.
  2. Menanya, antara lain: bertanya lisan/tertulis, mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, memancing pertanyaan.
  3. Mencoba, antara lain: meniru, melakukan instruksi, mengoperasikan,menuliskan, melafalkan, membacakan, mempraktikan, mendemonstrasikan, mencoba resep.
  4. Menalar, antara lain: mengelompokan, mengurutkan, menyusun, menabelkan, membuat grafik, memadukan, menyimpulkan, merumuskan, mewarnakan, memantaskan, merangkai.
  5. Menyaji, antara lain: mempresentasikan, melaporkan, memilemkan, memerankan, endongeng, memainkan, memamerkan, menceritakan, memajang, menghidangkan, menjajakan, mementaskan, memasarkan.
  6. Mencipta, antara lain: meramu, menambahkan, mengganti, memodifikasi, merekomendasikan, mengusulkan, memperbaiki, mereviu, merekayasa, membuat, merancang, mendesain,  membentuk.

 Penilaian keterampilan tersebut dapat dilakukan dengan bentuk praktik/unjuk kerja, proyek, produk dan fortofolio.

 Untuk lebih jelas nya penilaian pada masa kondisi kusus pada guru dapat mempelajari dalam buku panduan penilaian kondisi khusus di SMA DOWNLOAD DISINI.

 

Jadwal Bimtek Materi AKM Guru Belajar 2021

 Bimbingan teknis (Bimtek) guru belajar seri Asesmen Kompetensi Minimun (AKM) merupakan program pembelajaran yang dirancang untuk membantu para guru , kepala sekolah, pengawas sekolah mulai jenjang SD,SMP, SMA/SMK dan PKBM sederajat.

Tujuannya adalah untuk dapat memaknai konsep AKM dan bentuk pelaksanaan AKM yang direncanakan sudah diterapkan tahun 2021. Selain itu peserta dimaksud diharapkan dapat melakukan analisis terhadap contoh-contoh AKM , literasi membaca dan numerasi yang sudah disebarluaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan baik berupa cetak maupun online. 

Peserta yang mengikuti kegiatan Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) akan dapat memberikan banyak manfaat seperti: 

  1. Pengalaman belajar dan mengajar yang lebih baik
  2. Pengalaman belajar bersama dengan guru lain, kepala sekolah dan pengawas sekolah sehingga dapat memperluas wawasan dalam pendidikan dan pembelajaran.

Peserta yang mengikuti Bimtek Guru Belajar Seri AKM akan diberi sertifikat setara 32 jam ditambah dengan piagam yang dapat digunakan guru untuk menambah angka kreditnya pada komponen pengembangan diri berupa keikutsertaan dalam diklat fungsional. 

Baca juga: Tanya Jawab Seputar AKM

Syarat peserta untuk ikut dalam kegiatan ini adalah memiliki akun dalam SIM PKB, dengan mengetikkan Nomor Peserta UKG dan username Tanggal Lahir pendaftar, kemudian klik CAPTCHA yang tersedia dilanjutkan dengan register.

Bagi guru-guru , kepala sekolah, pengawas dan PKBM yang berminat dalam kegiatan Bintek Guru Belajar Seri AKM tahun 2021 melalui laman guru belajar Kemendikbud telah dibuka pendaftaran yang telah dimuai 22 Desember 2020 sampai 20 Februari 2021 dengan 11 angkatan. Adapun Jadwal pelaksanaan  adalah sebagai berikut:

1. Angkatan I tanggal 1–5 Januari 2021   

2. Angkatan II  tanggal 6 –10 Januari 2021   

3. Angkatan III tanggal 11–15 Januari 2021   

4. Angkatan IV tanggal 16–20 Januari 2021   

5. Angkatan V tanggal 21–25 Januari 2021   

6. Angkatan V tanggal 26–30 Januari 2021   

7. Angkatan VII tanggal 31– 4 Februari 2021   

8. Angkatan VIII tanggal 5–9 Februari 2021   

9. Angkatan IX tanggal 10–14 Februari 2021   

10. Angkatan X tanggal 15–19 Februari 2021   

11. Angkatan XI tanggal 20 – 24 Februari 2021   

Untuk Link Pendaftaran Jadwal Bimtek Materi AKM Guru belajar 2021 Klik DISINI

Demikian informasi pendaftaran dan pelaksanaan kegiatan Bimbingan Teknis Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Tahun 2021. Semoga bermanfaat. 


Perangkat Akreditasi Sekolah 2020


Mulai tahun 2020  instrumen yang digunakan untuk akreditasi sekolah jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MA dan SLB adalah instrument yang sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1005/P/2020 Tentang  Kriteria dan Perangkat Akreditasi Pendidikan Dasar dan Menengah yang terdiri dari 5 lampiran yaitu: 

  1. Lampiran I tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah;
  2. Lampiran II tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah;
  3. Lampiran III tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah;
  4. Lampiran IV tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah
  5. Lampiran V tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Luar Biasa; yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan ini.

Dalam masing-masing perangkat akreditasi perjenjang   terdiri dari empat bagian 1. Instrument kinerja inti (Butir kinerja inti), 2. Butir kekhususan, 3. Butir pemenuhan relative,  dan 4. Teknik penskoran dan pemeringkatan hasil akreditasi. 

A. Instrumen Kinerja Inti

Instrumen kinerja inti terdiri dari 4 komponen  yaitu:  mutu lulusan, pembelajaran, mutu guru dan manajemen. Masing-masing komponen ini dijabarkan menjadi sub komponen/Indikator yang berisi pernyataan berupa standar yang seharusnya terpenuhi. Untuk melihat apakah indikator tersebut terpenuhi atau tidak disertai dengan level  yang dimulai dari 1, 2, 3 dan 4 yang disandingkan dengan capaian kinerja. Selanjutnya perangkat dilengkapi dengan petunjuk teknis yang didalamnya memuat defenisi, pembuktian kinerja dan kesimpulan. 

Defenisi digunakan untuk memahami pengertian/maksud dari istilah yang ada dalam instrument sehingga sekolah maupun asesor tidak multi tafsir dalam memahaminya. Peembuktian kinerja berfungsi sebagai metode pengumpulan data yang terdiri dari empat metode yaitu: Observasi, telaah dokumen, wawancara dan angket. Sedangkan kesimpulan merupakan kesimpulan hasil dari gabungan empat metode yang digunakan setelah digunakan triangulasi. 

B. Butir kekhususan 

Butir kekhususan adalah butir kinerja yang dimiliki jenjang tertentu untuk jenjang SD/MI ada 1 butir kinerja kekhusuan, SMK/MA memiliki 9 butir kekhususan dan SLB/MLB memiliki 5 butir kekhususan 

C. Butir Pemenuhan Relatif 

Butir Pemenuhan Relatif berupa persyaratan relatif terkait dengan pemenuhan  administrasi. Jumlah IPR ini berbeda-beda setiap jenjang seperti berikut:   

Indikator Pemenuhan Relatif (IPR) untuk jenjang SD/MI terdiri atas 8 (delapan) butir pernyataan di mana masing-masing butir memiliki bobot yang sama. Setiap butir memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang masingmasing memiliki skor 1, 2, 3, dan 4, sehingga skor maksimum IPR untuk jenjang SD/MI sebesar 8 x 4 = 32. 

Baca juga:  Daftar Dokumen Dalam Sistem Akreditasi baru 

Indikator Pemenuhan Relatif (IPR) untuk jenjang SMP/MTs terdiri atas 9 (sembilan) butir pernyataan di mana masing-masing butir memiliki bobot yang sama. Setiap butir memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang masingmasing memiliki skor 1, 2, 3, dan 4, sehingga skor maksimum IPR untuk jenjang SMP/MTs sebesar 9 x 4 = 36.

Penskoran Indikator Pemenuhan Relatif (IPR).Indikator Pemenuhan Relatif (IPR) untuk jenjang SMA/MA terdiri atas 9 (sembilan) butir pernyataan di mana masing-masing butir memiliki bobot yang sama. Setiap butir memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang masingmasing memiliki skor 1, 2, 3, dan 4, sehingga skor maksimum IPR untuk jenjang SMA/MA sebesar 9 x 4 = 36. 

Indikator Pemenuhan Relatif (IPR) untuk jenjang SMK/MAK terdiri atas 10 (sepuluh) butir pernyataan di mana asing-masing butir memiliki bobot yang sama. Setiap butir memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang masingmasing memiliki skor 1, 2, 3, dan 4, sehingga skor maksimum IPR untuk jenjang SMK/MAK sebesar 10 x 4 = 40 

Indikator Pemenuhan Relatif (IPR) untuk jenjang SLB/MLB terdiri atas 10 (sepuluh) butir pernyataan di mana asing-masing butir memiliki bobot yang sama. Setiap butir memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang masing-masing memiliki skor 1, 2, 3, dan 4, sehingga skor maksimum IPR untuk jenjang SLB/MLB sebesar 10 x 4 = 40

D. Teknik Penskoran Dan Pemeringkatan Hasil Akreditasi. 

Setiap butir indikator dari butir kinerja maupun instrument pemenuhan relatif  memiliki 4 pilihan jawaban yaitu skor 1, 2, 3 dan 4. Sehingga skor maksimum dari butir kinerja dan Instrumen Pemenuhan Relatif (IPR) dapat dihitung dengan jumlah instrument perjenjang dikalikan dengan 4. 

Nilai Akhir Akreditasi

Nilai Akhir (NA) akreditasi dihitung berdasarkan skor IPR dan skor total

komponen sesuai dengan bobot masing-masing sehingga NA dihitung dengan

rumus:

NA= (0,15 × Skor IPR) + (0,85 × Skor Total Komponen Kenerja Inti )

Pemeringkatan Hasil Akreditasi

Sekolah/madrasah memperoleh peringkat akreditasi sebagai berikut:

1. Peringkat akreditasi A (Unggul) jika sekolah/madrasah memperoleh nilai akhir akreditasi sebesar 91 sampai dengan 100 (91< NA < 100).

2. Peringkat akreditasi B (Baik) jika sekolah/madrasah memperoleh nilai akhir akreditasi sebesar 81 sampai dengan 90 (81 < NA < 90).

3. Peringkat akreditasi C (Cukup) jika sekolah/madrasah memperoleh nilai akhir akreditasi sebesar 71 sampai dengan 80 (71 < NA < 80).

4. Tidak Terakreditasi (TT) jika sekolah/madrasah memperoleh nilai akhir akreditasi di bawah 71. 


ISTRUMEN  LENGKAP KLIK DISINI  

Instrumen Akreditasi 2020 Jenjang SD/MI

Instrumen Akreditasi 2020 Jenjang SMP/MTs

Instrumen Akreditasi 2020 Semua Jenjang Lengkap 

Demikianlah uraian tentang perangkat akreditasi yang telah digunakan mulai tahun 2020. Semoga bermanfaat. 

Mengapa PTK Guru Ditolak?

Tidak sedikit guru kecewa ketika mengetahui laporan penelitian tindakan yang diajukan untuk memenuhi angka kredit dari publikasi ilmiah belum dapat dinilai angka kreditnya.  Tentunya tim penilai punya alasan yang kuat bahwa PTK yang diajukan tersebut belum dapat dihargai angka kreditnya karena berbagai alasan sesuai dengan ketentuan yang digariskan dalam pedoman penilaian publikasi ilmiah (Buku 5 Pedoman Penilaian PKB Tahun 2019). 

Laporan hasil penelitian tindakan kelas, berisi laporan hasil penelitian yang dilakukan guru pada bidang pendidikan yang telah dilaksanakan guru di sekolahnya dan berupa tindakan kelas. Penulisan laporan penelitian tindakan kelas harus memenuhi APIK (Asli, Perlu, Ilmiah dan Konsisten). 

Baca Juga: Langkah Analisis Data Penelitian 

Berdasarkan APIK tersebut berikut ini ada 5 jenis alasan atau penyebab  penolakan terhadap laporan penelitian tindakan kelas(PTK) dan solusi untuk perbaikannya.  

Alasan Penolakan Jenis 1

Dinyatakan sebagai laporan PTK, namun: tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan, tidak jelas tindakan yang dilakukan pada tiap sikulus dan  bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi untuk kelanjutan  siklus-siklus berikutnya.

Jika PTK yang disusun guru tidak dapat dinilai dengan alasana jenis 1 maka disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berisi atau mempermasalahkan permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada satuan pendidikannya yang sesuai dengan tugas guru yang bersangkutan.

Alasan Penolakan Jenis 2

Dinyatakan sebagai laporan PTK, namun apa yang dijelaskan dalam laporan tersebut hanya berupa laporan pembelajaran biasa, tidak ada tindakan yang merupakan pembaharuan dari kegiatan yang biasa dilakukan, tahapan dalam siklus sama dengan tahapan pembelajaran biasa (misalnya satu siklus hanya satu kali pertemuan). 

PTK bukan pembelajaran biasa tetapi  merupakan proses mencoba dan menganalisis penggunaan metode baru yang diutamakan bukan hanya hasil tetapi prosesnya (satu siklus minimal dua kali pertemuan).

Jika penolakan PTK dengan alasan jenis 2 maka  disarankan kepada guru agar membuat untuk membuat publikasi ilmiah baru atau PTK baru , yang berisi atau mempermasalahkan permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada satuan pendidikannya yang sesuai dengan tugas guru yang bersangkutan.

Alasan Penolakan jenis 3

PTK yang diajukan belum memenuhi isi dan lampiran sebuah laporan PTK seperti:  

1) metode penelitian belum mengemukakan tahapan dan tindakan tiap siklus dan indikator keberhasilannya, 2) pada laporan hasil dan pembahasan belum melaporkan data lengkap tiap siklus, perubahan yang terjadi pada peserta didik, guru atau kelas serta bahasan terhadap keseluruhan hasil penelitian dan 3) lampiran belum lengkap.

Jika alasan penolakan jenis 3 maka kepada guru yang mengajukan PTK disarankan  untuk membuat PTK yang  baru  atau memperbaiki laporan hasil penelitiannya dengan menggunakan kerangka isi sebagai berikut: Bagian Awal yang terdiri dari: halaman judul; lembaran persetujuan; kata pengantar; daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan lampiran, serta abstrak atau ringkasan. Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:

  • Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang : Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah , Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian;
  • Bab Kajian Teori/ Tinjauan Pustaka;
  • Bab Metode Penelitian;
  • Bab Hasil-hasil dan Diskusi Hasil Penelitian; serta
  • Bab Simpulan dan Saran-Saran.

Bagian Penunjang sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang selengkap-lengkapnya (seperti instrument yang digunakan, contoh hasil kerja peserta didik, contoh isian instrumen, foto-foto kegiatan, surat ijin penelitian, rencana pembelajaran (RPP), dan dokumen pelaksanaan penelitian lain yang menunjang keaslian penelitian tersebut).

Baca Juga: Kumpulan Contoh Judul PTK-PTS

Alasan Penolakan Jenis 4

Secara umum isi laporan PTK yang diajukan telah cukup baik, akan tetapi  beberapa lampiran penting belum dilampirkan. Jika masalahnya kelengkapan lampiran solusinya guru bersangkutan agar segera melampirkan minimal 

  • Semua RPP untuk semua siklus, 
  • Semua instrumen yang digunakan dalam penelitian,
  • Contoh hasil kerja peserta didik dan guru
  • Surat ijin penelitian 
  • Foto-foto kegiatan beserta penjelasannya, 
  • Daftar hadir untuk semua pertemuan, 
  • Bukti-bukti bahwa PTK telah diseminarkan 

Alasan Penolakan Jenis 5

Laporan PTK belum diseminarkan.

Jika PTK ditolak dengan alasan belum diseminarkan maka solusinya adalah untuk segera melakukan seminar di sekolahnya, dengan mengundang minimal 3 sekolah di sekitarnya dengan jumlah peserta seminar minimal 15 orang (kecualiuntuk daerah 3T dan SPILN) atau disemninarkan di forum MGMP tingkat kabupaten. Bukti seminar harus memenuhi segala kelengkapan kegiatan seminar seperti: 

  • Undangan peserta seminar 
  • Surat keterangan dari kepala sekolah /panitia seminar, 
  • Berita acara seminar
  • Daftar hadir (minimal 15 orang)  
  • Notulen seminar 
  • Foto-foto seminar 

Demikianlah alasan penolakan terhadap PTK yang diajukan guru dan solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi penolakan tersebut.