Contoh Assesmen Kompetensi Minimal (AKM)

A. Pengertian 

Agar lebih mudah memahami contoh-contoh AKM, sebaiknya perlu memahami ulang konsep, komponen AKM, Jenis dan aspek yang diukur.  Seperti kita ketahui AKM terdiri dari dua komponen yaitu literasi dan numerasi 

1. Literasi

Kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan  mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat.

Baca juga: Konsep AKM dan Literasi

2. Numerasi

Kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia.

B. Komponen AKM

Komponen AKM dikelompokkan Komponen numerasi dan literasi yang ditinjau  dari tiga aspek yaitu konten, proses kognitig dan konteks maka soal AKM sangat berkaitan dalam 3 komponen seperti digambarkan tabel berikut : 

 Komponen Numerasi terdiri dari 1)  Konten (materi) yaitu bilangan, pengukuran dan geometri, data dan uncertainty serta aljabar. 2) Proses kognitif yaitu pemahaman, aplikasi, dan penalaran 3) Konteks yang terdiri dari personal, sosial kultural dan saintifik.

Baca juga: Pentingnya Assesmen Diagonosis Kognitif

Komponen Literasi terdiri  1) Konten (materi) yaitu teks informasi dan teks sastra; 2) Proses kognitif yaitu menemukan informasi (retrieve and access), interpretasi , evaluasi dan refleksi; 3) Konteks yaitu personal, sosial budaya dan saintifik

C. Jenis AKM Numerasi- Literasi

Asesmen Kompetansi  Minimal (AKM) dapat dibedakan atas 3 jenis yaitu:  

1. AKM Nasional  diberikan pada kelas 5,kelas  8, dan kelas 11 yang tujuanya untuk: 

  • Mengukur kinerja/mutu sekolah 
  • Administrasi terstandar 

2. AKM Kelas awal SD dilakukan untuk: 

  • Mengukur hasil belajar siswa 
  • Formatif, alat untuk teach at the right level
  • Administrasi tidak terstandar 

3. AKM Sertifikasi dilaksanakan pada jenjang SMA/SMK kelas 12 untuk : 

  • Mengukur hasil belajar siswa 
  • Administrasi terstandar

D. Model Pelaksanaan  AKM 

Hal yang diukur

 

Capaian kompetensi pada literasi

Membaca dan numerasi

•Karakter siswa

•Gambaran lingkungan belajar

Target Pengukuran

 

Semua satuan pendidikan dengan

Sampel peserta didik kelas5, 8, dan 11

Moda asesmen

Komputer

Metode asesmen

Multistage adaptive test

Pelaporan

Satuan pendidikan dan agregat wilayah

Fokus laporan

Perbaikan pembelajaran serta peningkatan

Lingkungan belajar yang kondusif

Kebutuhan pengakuan  Kompetensi individu

Peserta didik kelas12 yang memerlukan pengakuan  akan mendaftarkan diri untuk AKM individu/siswa

E. Bentuk soal AKM 

Bentuk soal AKM terdiri dari beberapa jenis misalnya 

1. Objektif

  • Pilihan Ganda (hanya1 jawaban benar)
  • Pilihan Ganda kompleks (jawaban benar lebih dari 1)
  • Menjodohkan
  • Benar-Salah

2. Isian Singkat (angka, nama/benda yang sudah fixed)

3. Non-Objektif (essay)

F. Contoh AKM 

Contoh AKM Literasi: Ironi Komsumsi Ikan Di Indonesia . Kenapa ?

Potensi sumber daya ikan di Indonesia selama ini dikenal sangat berlimpah. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, potensi sumber daya ikan saat ini sudah mencapai 9,9 ton. Selain itu, potensi luas lahan budi daya ikan juga mencapai 83,6 juta hectare. Namun, dari semua potensi tersebut, minat masyarakat untuk mengomsumsi ikan sebagai lauk masih harus terus ditingkatkan . 

Komsumsi masyarakat Indonesia terhadap ikan masih terbilang rendah. Rata-rata tingkat komsumsi ikan di Indonesia baru mencapai 14 kilogram (kg) per kapita per tahun.  Meski mengalami kenaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya di 37-38 kg per kapita per tahun, tingkat komsumsi ikan di Indonesia masih kalah jauh dibangdingkan negara tetangga seperti Malasya (70 kg per kapita per tahun) dan Singapura (80 kg perkapita per tahun), bahkan kalah telak telak dengan Jepang (mendekati 100 kg pe kapita per tahun ) 

Beberapa hal yang menjadi penyebab masih rendahnya tingkat komsumsi ikan di Indonesia, diantaranya adalah 1) Kurangnya pemahamanan masyarakat tentang gizi dan manfaat ikan bagi kesehatan dan kecerdasan, 2) Rendahnya supply ikan akibat kurang lancarnya distribusi, 3) Belum berkembangnya teknologi pengolahan dan atau pengaaetan ikan sebagai bentuk keanekaragaman dalam ikut memenuhi rendahnya komsumsi.

Pernyataan

Jawaban

Tingkat komsumsi ikan di Indonesia jauh lebih rendah dari negara tetangga

Fakta    

 

Opini

 

Pendestribusian ikan tidak berjalan baik

Fakta    

Opini

Pengolahan maupun pengawetan ikan masih tertingal                 

Fakta    

Opini

Potensi ikan di Indonesia hampir mencapai 10 juta ton     

Fakta    

 

Opini

 

Manakah pernyataan yang merupakan fakta atau opini terkait ironi komsumsi ikan di Indonesia.?

Dari contoh di atas termasuk  AKM jenis literasi setelah membaca teks di atas diharapkan  peserta didik mampu membedakan mana  fakta dan mampu opini dari suatu pernyataan . 

 Contoh-contoh  yang lebih lengkap UNDUH DISINI 



10 Kewenangan Plh dan Plt Dalam Kepegawaian

 A. Pengertian 

Pelaksana Harian (Plh) adalah pejabat yang melaksanakan tugas rutin dari pejabat defenitif yang berhalangan sementara. Sedangkan Pelaksana Tugas (Plt) adalah pejabat yang melaksanakan tugas rutin dari pejabat yang berhalangan tetap.

Penunjukan  seseorang memangku tugas  Plh atau  Plt dilakukan oleh badan dan/atau pemerintahan diatasnya untuk menetapkan dan/atau melakukan tugas rutin yang menjadi wewenang jabatannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Plh dan Plt tidak perlu dilantik atau diambil sumpahnya namun cukup surat perintah. 

Baca juga: Membuat SKP Guru dan Contoh Aplikasinya

 Karena Plh dan Plt bukan jabatan definitif, maka  PNS yang diperintahkan sebagai Pelaksana Harian atau Pelaksana Tugas tersebut  tidak diberikan tunjangan jabatan struktural sehingga dalam surat perintah tidak dicantumkan besaran tunjangan jabatan. Adapun jabatan defenitif yang bersangkutan beserta tunjangan jabatan yang dibayarkan tetap seperti jabatan defenitif  (sebelum ditunjuk Plh dan Plt)

B. 10 Kewenangan Plh dan Plt pada Aspek Kepegawaian. 

Menurut Surat Edaran Nomor 2/SEA/1v2019 tentang kewenangan Pelaksana Harian dan Pelaksana Tugas ada  10 kewenangan yang dapat dilakukan  pada aspek kepegawaian   antara lain : 

1. Melaksanakan tugas sehari-hari pejabat definitif sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;

2. Menetapkan sasaran kerja pegawai (SKP) dan penilaian prestasi kerja (PPK) pegawai;

3. Menetapkan surat kenaikan gaji berkala;

4. Menetapkan cuti selain cuti di luar tanggungan negara dan cuti yang akan dijalankan di luar negeri;

5. Menetapkan surat tugas/surat perintah pegawai;

6. Menjatuhkan hukuman disiplin pegawai tingkat ringan;

7. Menyampaikan usul mutasi kepegawaian kecuali perpindahan antar instansi;

8. Memberikan izin belajar;

9. Memberikan izin mengikuti seleksi tinggi/adm in istrasi ; dan jabatan pimpinan

10. Mengusulkan pegawai untuk mengikuti pengembangan kompetensi.

C. Hal yang Tidak Diperbolehkan Dilakukan Plh dan Plt

Pelaksana Harian dan Pelaksana Tugas tidak benrvenang mengambil keputusan dan/atau tindakan yang bersifat strategis yang berdampak pada perubahan status hukum pada aspek kepegawaian. Keputusan adan /atau tindakan yang bersifat strategis artinya keputusan dan/atau tindakan yang memiliki dampak besar misalnya perubahan rencana strategis dan rencana kerja pemerintah. 

Baca juga: PermenPAdan RB Nomor 58 Tahun 2020

Pelaksana Harian dan Pelaksana Tugas tidak berwenang mengambil keputusan dan/atau tindakan pada aspek kepegawaian yang meliputi pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian pegawai.

Pelaksana Harian dan Pelaksana Tugas memiliki kewenangan mengambil keputusan dan/atau tindakan selain keputusan dan/atau tindakan yang bersifat strategis dan berdampak pada perubahan status hukum pada aspek kepegawaian . 

Dasar Hukum (Klik di Bawah ini)

1.  SE No. 2/SEA/1v2019 Tentang Kewenangan Pelaksana Harian dan Pelaksana Tugas

2. UU Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan 



Jenis Publikasi Ilmiah Dalam Kenaikan Pangkat Guru

Jenis p[ublikasi ilmiah/karya inovatif untuk setiap jenjang jabatan yang harus dipenuhi oleh guru yang akan mengajukan kenaikan pangkat/jabatan guru, sesuai dengan ketentuan pada Permendiknas Nomor 35 tahun 2010 tentang Petunjuk teknis kenaikan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya serta Buku 4 Pedoman Kegiatan  PKB dan Angka Kreditnya  Tahun 2019 adalah sebagai berikut:

Menulis buku pelajaran, buku pendidikan, laporan penelitian,  menulis artikel yang dijurnalkan , artikel ilmiah, best practice, tinjauan ilmiah, diktat, modul, buku pedoman guru, laporan mengikuti pengembangan standar.

Ketentuan karya ilmiah  dan karya inovetif yang wajib disusun guru untuk kenaikan pangkat tergantung pada jenjang jabatan dan pangkat guru.

Baca juga: Konsep, Jenis dan Sistematika Makalah terbaru

A. Jenis Publikasi Ilmiah yang Disesuaikan Dengan Jenjang Jabatan/Pangkat 

1. Guru Pertama Golongan III/a ke Guru Pertama Golongan III/b

Guru pertama golongan III/a mau naik pangkat ke guru pertama golongan III/b, kepada mereka tidak perlu membuat publikasi ilmiah atau karya inovatif. Namun jika mereka mampu membuat maka angka kreditnya tetap dihargai sesuai dengan besaran yang telah ditetapkan. Maka guru golongan III/a ke III/b hanya dibutuhkan laporan pengembangan diri berupa kegiatan kolektif dan diklat jabatan fungsional.

2. Guru Pertama Golongan III/b ke Guru Muda Golongan III/c

Guru pertama golongan III/b mau naik pangkat ke guru muda golongan III/c , maka mereka harus membuat publikasi ilmiah atau karya inovatif. Jenis karya ilmiah atau karya inovatif bebas jenisnya. boleh semua diktat, buku pedoman guru dan lain-lain  yang penting angka kreditnya terpenuhi 4 dari publikasi ilmiah atau dari karya inovatif

3. Guru Muda Golongan III/c ke Guru Muda Golongan III/d

Guru muda golongan III/c mau naik pangkat ke guru muda golongan III/d , maka mereka harus membuat publikasi ilmiah atau karya inovatif. Jenis karya ilmiah atau karya inovatif bebas boleh semua diktat, buku pedoman guru dan lain-lain  yang penting angka kreditnya terpenuhi 6 dari publikasi ilmiah atau dari karya inovatif

Baca juga: Contoh Laporan Kegiatan Diklat dan Kolektif Guru

4. Guru Muda Golongan III/d ke Guru Madya Golongan IV/a

Guru muda golongan III/d mau naik pangkat ke guru madya  golongan IV/a , maka berlaku ketentuan berikut:
  • Angka kredit dari publikasi ilmiah/karya inovatif minimal 8
  • Salah satu publikasi ilmiah harus berasal dari unsur penelitian. Penelitian dimaksud tidak harus PTK boleh penelitian kwantitatif, kualitatif, pengembangan dan lain-lain. Penelitian tersebut harus diseminarkan, dimana peserta seminar  minimal dihadiri 15 peserta yang berasal dari lebih dari 2 sekolah atau di forum MGMP kabupaten/kota
  • Jumlah publikasi yang berbentuk diktat, karya terjemahan, atau tulisan ilmiah populer paling banyak 3 (tiga) buah,                        
  • Buku pedoman guru dibuat paling banyak 1 (satu) buah, untuk setiap periode penilaian angka kredit.
  • Penulisan laporan penelitian maksimal 2 laporan per tahun.
  • Karya Inovatif maksimal 50% dari angka kredit yang dibutuhkan.
Baca juga: Model Laporan Pengembangan Diri Guru (Mulai 2019)

5. Guru Madya Golongan IV/a ke Guru Madya Golongan IV/b

  • Angka kredit dari publikasi ilmiah/karya inovatif minimal 12
  • Salah satu publikasi ilmiah harus berasal dari unsur penelitian. Penelitian dimaksud tidak harus PTK boleh penelitian kwantitatif, kualitatif, pengembangan dan lain-lain. Penelitian tersebut harus diseminarkan, dimana peserta seminar  minimal dihadiri 15 peserta yang berasal dari lebih dari 2 sekolah atau di forum MGMP kabupaten/kota
  • Salah satu hasil penelitian diartikelkan  dimuat dalam jurnal  dan diterbitkan ber ISSN 
  • Jumlah publikasi yang berbentuk diktat, karya terjemahan, atau tulisan ilmiah populer paling banyak 3 (tiga) buah, 
  • Buku pedoman guru dibuat paling banyak 1 (satu) buah, untuk setiap periode penilaian angka kredit.
  • Penulisan laporan penelitian maksimal 2 laporan per tahun.
  • Karya Inovatif maksimal 50% dari angka kredit yang dibutuhkan.
6. Guru Madya Golongan IV/b ke Guru Madya Golongan IV/c
  • Angka kredit dari publikasi ilmiah/karya inovatif minimal 12
  • Salah satu publikasi ilmiah harus berasal dari unsure penelitian. Penelitian dimaksud tidak harus PTK boleh penelitian kwantitatif, kualitatif, pengembangan dan lain-lain. Penelitian tersebut harus diseminarkan, dimana peserta seminar  minimal dihadiri 15 peserta yang berasal dari lebih dari 2 sekolah atau di forum MGMP kabupaten/kota
  • Salah satu hasil penelitian diartikelkan  dimuat dalam jurnal  dan diterbitkan ber ISSN 
  • Jumlah publikasi yang berbentuk diktat, karya terjemahan, atau tulisan ilmiah populer paling banyak 3 (tiga) buah, 
  • Buku pedoman guru dibuat paling banyak 1 (satu) buah, untuk setiap periode penilaian angka kredit.
  • Penulisan laporan penelitian maksimal 2 laporan per tahun.
7.Guru Madya Golongan IV/c ke Guru Utama Golongan IV/d
  • Angka kredit dari publikasi ilmiah/karya inovatif minimal 14
  • Salah satu publikasi ilmiah harus berasal dari unsure penelitian. Penelitian dimaksud tidak harus PTK boleh penelitian kwantitatif, kualitatif, pengembangan dan lain-lain. Penelitian tersebut harus diseminarkan, dimana peserta seminar  minimal dihadiri 15 peserta yang berasal dari lebih dari 2 sekolah atau di forum MGMP kabupaten/kota
  • Salah satu hasil penelitian diartikelkan  dimuat dalam jurnal  dan diterbitkan ber ISSN 
  • Jumlah publikasi yang berbentuk diktat, karya terjemahan, atau tulisan ilmiah populer paling banyak 3 (tiga) buah, 
  • Buku pedoman guru dibuat paling banyak 1 (satu) buah, untuk setiap periode penilaian angka kredit.
  • Penulisan laporan penelitian maksimal 2 laporan per tahun.
  • Minimal satu buku pelajaran atau buku pendidikan yang ber- ISBN.
  • Khusus Guru Madya, golongan ruang IV/c, yang akan naik jabatan menjadi Guru Utama, golongan ruang IV/d, wajib melaksanakan presentasi ilmiah. (Syarat Presentasi Ilmiah Lihat Bagian Bawah Tulisan ini) 
8. Guru Madya Golongan IV/d  ke Guru Utama Golongan IV/e
  • Angka kredit dari publikasi ilmiah/karya inovatif minimal 20
  • Salah satu publikasi ilmiah harus berasal dari unsure penelitian. Penelitian dimaksud tidak harus PTK boleh penelitian kwantitatif, kualitatif, pengembangan dan lain-lain. Penelitian tersebut harus diseminarkan, dimana peserta seminar  minimal dihadiri 15 peserta yang berasal dari lebih dari 2 sekolah atau di forum MGMP kabupaten/kota
  • Salah satu hasil penelitian diartikelkan  dimuat dalam jurnal  dan diterbitkan ber ISSN 
  • Jumlah publikasi yang berbentuk diktat, karya terjemahan, atau tulisan ilmiah populer paling banyak 3 (tiga) buah, 
  • Buku pedoman guru dibuat paling banyak 1 (satu) buah, untuk setiap periode penilaian angka kredit.
  • Penulisan laporan penelitian maksimal 2 laporan per tahun.
  •  Minimal satu buku pelajaran atau buku pendidikan yang ber- ISBN.
B. Presentasi Ilmiah Bagi Guru Madya IV/c ke IV/d(Khusus)

Kegiatan presentasi ilmiah bagi guru yang akan naik jabatan dari Guru Madya golongan ruang IV/c ke Guru Utama golongan ruang IV/d dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut.

1. Guru yang bersangkutan telah memiliki 5 (lima) angka kredit dari subunsur pengembangan diri dan 14 (empat belas) angka kredit dari subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif.

2. Presentasi ilmiah dilakukan secara terbuka di hadapan Tim Penilai Tingkat Pusat, akademisi, dan pejabat terkait setempat yang waktu dan pelaksanaannya diatur oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, yang dapat dilaksanakan di instansi Pusat, Provinsi, LPMP atau tempat lain yang memenuhi syarat. Waktu presentasi akan ditetapkan oleh tim penilai, disesuaikan dengan jumlah dan lokasi guru yang akan presentasi.

3. Guru yang akan melakukan presentasi wajib membuat ringkasan dari publikasi ilmiah/karya inovatif yang menjelaskan secara ringkas yang terkait dengan perolehan persyaratan 5 (lima) angka kredit dari subunsur pengembangan diri dan 14 (empat belas) angka kredit dari subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif.

4. Uraian kegiatan publikasi dan/atau karya inovatif yang telah dilakukan, meliputi macam publikasi dan/atau karya inovatif dan ringkasan penjelasan hasil publikasi dan/atau karya inovatif.

5. Berdasarkan hasil presentasi yang telah dilakukan, tim penilai menetapkan kelayakan yang bersangkutan untuk naik jabatan dari Guru Madya golongan ruang IV/c menjadi Guru Utama golongan ruang IV/d. Apabila hasil pertimbangan belum dianggap layak, yang bersangkutan diwajibkan memperbaiki publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif dan mengulang presentasinya

Demikian ketentuan  dan jenis publikasi ilmiah dalam kenaikan pangkat guru. masing-masing guru perlu mengetahui dan mempersiapkan yang didokumenkan setiap tahun seiring dengan angka kredit yang berasal dari unur utama lainnya.

Bahan bacaan:
Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 Tentang Jafung Guru dan Angka kreditnya
Buku 4 Pedoman PKB Guru dan Angka Kreditnya Tahun 2019
Buku 5 Pedoman PKB Guru dan Angka Kreditnya Tahun 2019


5 Metode Terbaik Dalam Pembelajaran PJJ Luring

Saat ini sebagian besar sekolah di Indonesia masih melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk melayani hak peserta didik . Alternatif ini diambil sesuai dengan kondisi masa pandemi covid-19 yang tak kunjung reda, bahkan beberapa daerah yang semula zona hijau dan kuning berubah menjadi zona orange dan merah atau sebaliknya.

Baca juga: 5 Metode Terbaik Dalam Pembelajaran Jarak Jauh Pola Daring 

Pembelajaran jarak jauh (PJJ)  dilakukan guru dengan tiga pola yaitu: luring, daring dan kombinasi. Agar pembelajaran yang dilakukannya efektif maka guru dituntut mampu memilih dan  mengimplementasikan metode pembelajaran yang terbaik, sehingga tujuan yang diharapkan dari pembelajaran tersebut dapat tercapai.

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) pola luring , selain metode pembelajaran harus dibantu dengan bahan yang digunakan seperti modul, diktat, hand out, lembar kerja peserta didik (LKPD) , ringkasan materi dan lain-lain.

Berikut ini ada 5 Metode pembelajaran jarak jauh (PJJ)  dengan pola luring (luar jaringan) yang paling populer/terbaik  yang dapat dimanfaatkan  guru yaitu:   

1. Metode Pemberian Tugas (Resitasi)

Metode resitasi sering disebut metode pekerjaan rumah (PR), yaitu cara mengajar yang dilakukan guru dengan cara memberikan tugas khusus kepada peserta didik untuk dikerjakan di saat  pembelajaran atau  diluar jam jam pelajaran.

Peserta didik dapat mengerjakan tugas, dirumah, diluar rumah dan hasil pekerjaan tugas tersebut harus dipertanggungjawabkan dengan cara mengirimkan tugas melalui WA , email, blog atau mengantarkan ke sekolah.

Tugas yang diberikan guru ke peserta didik harus direncanakan dengan baik dari segi materi, waktu mengerjakan, jumlah tugas, tingkat kesulitan dan penilaian

a. Beberapa keunggulan metode pemberian tugas seperti:
  • Peserta didik terbiasa mengisi waktunya dengan hal-hal yang konstruktif
  • Memupuk rasa tanggungjawab dan harga diri atas segala tugas yang dikerjakan.
  • Melatih peserta didik berfikir kritis, tekun, giat dan rajin belajar
  • Pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar akan lebih mendalam dan lama tersimpan dalam ingatan.
b. Kelemahan metode resitasi yang perlu  diminimalisir seperti: 
  • Tidak jarang tugas yang diselesaikan dengan cara meniru atau minta pertolongan orang lain, sehingga anak tersebut tidak mengalama peristiwa belajar yang berrarti. 
  • Karena perbedaan individual peserta didik sehingga tugas yang diberikan secara umum mungkin beberapa orang merasa kesulitan, sedangkan yang lain merasa mudah.
  • Apabila tugas ini diberikan terlalu sering dan tanpa pertimbangan jumlah dan tingkat kesukarannya maka  dapat menimbulkan ketegangan atau stres
c. Langkah  merumuskan tugas yang baik
  • Rumuskan tujuan pembelajaran atau target  yang hendak dicapai dari pemberian tugas.
  • Rencanakanlah tugas sesuai dengan target yang dicapai sehingga tidak terlalu banyak dan dengan mengerjakan tugas tersebut tujuan pembelajaran diharapkan tercapai.
  • Tugas yang diberikan terhadap peserta didik harus jelas dan peserta didik  harus mengerti cara mengerjakan tugas.
  • Waktu yang disediakan untuk menyelesaikan tugas harus cukup
  • Guru perlu mempersiapkan cara pengawasan yang sistematis dan efektif, sehingga mendorong peserta didik bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh.
  • Bentuk dan jenis tugas yang diberikan kepada peserta didik hendaknya bersifat menarik minat, sesuai dengan tingkat perkembangan, dapat merangsang untuk berusaha sendiri menyelesaikan tugas, bersifat praktis dan konstektual dan bernilai ilmiah. 
2. Metode Latihan Siap (Drill)

Metode latihan siap ialah cara mengajar yang dilakukan oleh guru dengan jalan melatih ketangkasan atau keterampilan peserta didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan.

Metode ini dikemukakan oleh Herbart yang terkenal dengan asosiasi yang berpendapat bahwa dengan mengulang-ulang pelajaran akan memperkuat tanggapan dan ingatan para peserta didik.

Metode latihan siap (drill) tepat digunakan:
  •  Untuk melatih ulang pelajaran yang telah diberikan atau sedang berlangsung .
  •  Apabila guru ingin memperkuat daya ingatan dan tangkapan peserta didik terhadap pelajaran. 
a. Kebaikan atau kekuatan  metode latihan siap (drill)
  • Dengan metode drill peserta didik dalam waktu relativ singkat peserta didik segera memperoleh penguasaan dan keterampilan yang diharapkan
  • Peserta didik memiliki sejumlah besar pengetahuan siap
  • Peserta didik terlatih belajar rutin dan disiplin
b. Kelemahan Metode latihan Siap
  • Daya kreativitas peserta didik dan minatnya kurang berkembang
  • Penyesuaian peserta didik terhadap lingkungan menjadi statis
  • Membentuk belajar peserta didik yang mekanis, otomatis dan kaku
  • Membentuk pengetahuan yang bersifat rutin
c. Cara mempersiapkan metode latihan siap
  • Rumuskan tujuan yang ingin dicapai
  • Pertimbangkan KD yang tepat digunakan dengan metode dril
  • Waktu latihan harus dipertimbangkan sehingga tidak meresahkan peserta didik dan membuat bosan
  • Latihan yang diberikan harus memberikan arti dan tujuan yang lebih luas
  • Proses latihan hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga benar-benar b ersifat menarik , dan dapat menimbulkan motivasi belajar. 
3. MetodePemecahan Masalah  (Problem solving)

Metode pemecahan masalah ialah cara mengajar yang dilakukan dengan jalan melatih peserta didik menghadapi berbagai masalah untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.

Baca juga: Penilaian Dalam Pembelajaran Jarak Jauh

a. Kekuatan metode pemecahan masalah :
  • Dengan metode pemecahan masalah peserta didik menjadi lebih aktif, bersemangat dan berdaya guna
  • Merupakan latihan berfikir ilmiah dalam menghadapi sesuatu masalah apa saja.
  • Menumbuhkan sikap obyektif, percaya pada diri sendiri , kesungguhan , keberanian serta rasa tanggungjawab mengatasi permasalahan yang dihadapi.
b. Kelemahan metode pemecahan masalah
  • Sulit menentukan alternatif permasalahan yang tepat untuk diajukan sesuai kemampuan anak, sebab untuk memecahkan suatu masalah diperlukan pemikiran yang sistematis dan logis.
  • Apabila problema yang diajukan terlalu berat , peserta didik dapat merasa putus asa atau merasa rendah diri
  • Guru mengalami kesulitan dalam mengevaluasi secara tepat proses pemecahan masalah yang dilakukan peserta didik.
c. Cara mempersiapkan pemecahan masalah yang efektif.
  • Problema yang diajukan hendaknya benar-benar sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik
  • Peserta didik hendaknya terlebih dahulu diberikan penjelasan-penjelasan tentang maksud dan tujuan serta cara-cara memecahkan masalah
  • Maslah yang dipecahkan peserta didik hendaknya masalah yang actual, dan konstektual.
  • Perlu pertimbangan kecukupan waktu yang digunakan untuk memecahkan masalah  yang diberikan.
d. Langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah
  • Memahami masalah yang akan diselesaikan, maka perlu merumuskan masalah dengan teliti
  • Mengumpulkan keterangan atau data
  • Merumuskan hipotesis atau jawabn yang mungkin memberikan penyelesaian
  • Menilai hipotesis
  • Mengadakan test atau ekspermen
  • Membuat kesimpulan
  • Dari penjelasan di atas menggunakan metode pemecahan masalah berarti menggunakan metode ilmiah, berfikir lebih sistematis, lebih logis, lebih teratur dan lebih teliti.
4. Metode Proyek (Unit)

Metode proyek ialah cara mengajar yang dilakukan dengan cara menggabungkan (mengorganisisr) bahan pelajaran dengan aspek-aspek kehidupan masyarakat sedemikian rupa, sehingga merupakan kesatuan yang dapat memenuhi  prinsip-prinsip didaktik .

a. Kebaikan metode proyek
  • Mendekatkan kehidupan peserta didik dengan kehidupan dimasyarakat
  • Melatih sikap tanggungjawab terhadap persoalan disekitar atau masyarakat
  • Merubah keadaan statis menjadi dinamis
  • Dapat mengembangkan bakat individual peserta didikan
b. Kelemahan metode proyek yang perlu diminimalisir :
  • Tidak tertata urutan yang sistematis dalam proyek
  • Banyak memerlaukan waktu dan alat yang dibutuhkan
  • Metode ini memerlukan perencanaan yang teliti
c. Cara mempersiapkan
  • Rumuskan proyek dengan jelas, dan peserta didik diberi pengertian tentang proyek.
  • Rencanakan bahan/alat serta keperluan lain dalam proyek.
  • Tetapkan aturan penyampaian progress report
 5. Metode Penemuan (Discovery)

Metode penemuan (discovery) adalah proses mental dimana peserta didik mampu mengasimilasi sesuatu komnsep dan prinsip. Proses mental yang dimaksud adalah kegiatan peserta didik dalam mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya.

Baca juga: RPP Luring, Daring dan Kombinasi di SMP

Suatu konsep misalnya : segitiga, panas, demokrasi dan lain-lain, sedangkan prinsip yang berkaitan dengan hubungan sebab akibat, postulat , menggunakan rumus dan sebagainya.

Dalam metode penemuan peserta didik dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental , guru hanya membimbing, memberikan instruksi dan mengarahkan boleh secara langsung atau melalui modul, hand out, lembaran kerja yang didalamnya sudah direncanakan langkah yang harus dikerjakan peserta didik.

a. Keungulan metode penemuan 
  • Mampu membantu peserta didik untuk mengembangkan, dan penguasaan keterampilan
  • Peserta didik mendapatkan pengetahuan bersifat mengalami sendiri sehingga kokoh melekat dalam ingatan.
  • Dapat memberikan kesempatan terhadap peserta didik untuk berkembang menurut kemampuan masing-masing
  • Menambah kepercayaan diri peserta didik, memiliki motivasi kuat untuk belajar lebih giat
Baca juga: Pelaksanaan Kurikulum Dalam Kondisi Khusus Masa Pandemi Covid-19

b. kelemahan metode penemuan 
  • Tidak semua peserta didik memiliki mental dan motivasi belajar yang kuat  sehingga membuat sebagian dapat justru merasa bingung.
  • Cenderung peserta didik bekerja individual sehingga sulit untuk membangun sikap kerja sama.
c. Langkah-langkah melakukan metode penemuan
  • Pelajari KD yang cocok digunakan dengan metode penemuan umumnya KD yang menuntut penguasaan konsep dan prinsip
  • Persiapkan lembaran kerja siswa, dimana dalam lembaran tersebut sudah ada tuntunan sehingga peserta didik dapat melanjutkannya
  • Tentukan target atau batasan maupun ruang lingkup yang harus mereka temukan atau dapatkan. 
Demikianlah 5 metode pembelajaran terbaik atau populer yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran jarak jauh dengan pola luring (luar jaringan). Tentu saja metode tersebut dapat dimodivikasi dan  dikombinasikan. Karena tidak ada satu metode pembelajaran  yang dapat berdiri sendiri.

Bahan bacaan :
NK, Roestiyah.(1989). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara
Alipandie, Imansyah.1984). Didaktik Metodik Pendidikan Umum. Surabaya: Usaha Nasional 

Langkah-Langkah Supervisi Klinis

Supervisi akademik yang menggunakan model pendekatan berbasis kebutuhan guru disebut supervisi klinis. Supervisi klinis berlangsung dalam bentuk hubungan tatap muka antara supervisor  dan guru.

Supervisor dimaksud boleh pengawas sekolah, kepala sekolah atau guru senior yang ditugaskan kepala sekolah untuk melakukan supervisi. Namun dalam praktiknnya supervisi klinis lebih banyak dilakukan pengawas sekolah dan kepala sekolah. 

Fokus pengamatan pada  supervisi klinis adalah hal yang menjadi permasalahan bagi guru yang disupervisi, dan pengamatan harus dilakukan secara teliti dan mendetail dengan menggunakan instrument supervisi dan catatan pendukung yang telah dipersiapkan oleh supervisor.

Hubungan antara supervisor dan guru  yang disupervisi harus dijaga sebagai hubungan kolegial, bukan otoriter, terbuka dan dipusatkan pada unsur-unsur yang akan diperbaiki.

Baca juga: 7 Pendekatan Supervisi Dalam Kurikulum 2013 

Supervisor melakukan supervisi klinis atas dasar permintaan guru yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Karena itu, supervisor  dalam melaksanakan supervisi klinis   haruslah didasarkan pada semangat tolong- menolong atau membantu memecahkan permasalahan guru.

Berikut ini langkah-langkah supervisi klinis 

1. Tahap Pertemuan Awal 

Pertemuan awal, disebut juga dengan preobservation conference atau planning conference, yang bertujuan agar supervisor  dan guru bersama-sama mengembangkan kerangka kerja observasi kelas yang akan dilaksanakan.

Guru yang akan disupervisi menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran , dan supervisor mempelajari dan memahami tujuan pembelajaran yang akan dicapai,  menetapkan waktu dan tempat pelaksanaan supervisi proses pelaksanaan pembelajaran, dan menentukan aspek-aspek yang akan diobservasi dan cara mengobservasinya. Hasil akhir pertemuan awal ini adalah kesepakatan (contract) kerja antara supervisor dan guru.

Tujuan supervisi klinis dapat dicapai apabila dalam pertemuan awal tercipta kerja sama, hubungan kemanusiaan dan komunikasi yang baik antara kepala sekolah sebagai supervisor dengan guru yang akan disupervisi.

Kualitas hubungan yang baik antara supervisor  dan guru akan berdampak secara signifikan terhadap kesuksesan tahap berikutnya dalam proses supervisi klinis.

Hal-hal yang penting diperhatikan supervisor  dalam tahap pertemuan awal  supervisi klinis ini, yaitu:
  • menciptakan hubungan yang akrab dan terbuka antara kepala sekolah dan guru, 
  • mengidentifikasi hal yang perlu dikembangkan guru dalam proses pembelajaran, 
  • menerjemahkan permasalahan guru dalam perilaku yang bisa diobservasi, 
  • menentukan langkah-langkah untuk memperbaiki proses pembelajaran guru, 
  • membantu guru menentukan tujuan perbaikannya sendiri, 
  • menentukan waktu pelaksanaan dan instrumen observasi kelas, 
  • memperjelas konteks proses pembelajaran dengan menentukan data apa yang akan peroleh. 
2. Tahap Observasi Pembelajaran 

Tahap kedua dalam proses supervisi klinis adalah mengamati proses pembelajaran secara sistematis dan objektif, dimana supervisor mengamati guru mengajar sebagaimana yang dituangkan  dalam RPP (Quiroz, 2015).

Aspek-aspek yang akan diobservasi harus sesuai dengan hasil diskusi antara kepala sekolah dan guru pada pertemuan awal. Apa yang dilihat, didengar, diamati dan dirasakan oleh supervisor dituliskan dalam lembar observasi (instrumen dan catatan pengamatan)

3. Tahap Pertemuan Balikan 

Pertemuan balikan atau pertemuan pemberian umpan balik dilakukan segera setelah melaksanakan observasi proses pembelajaran, dengan ketentuan bahwa hasil observasi sudah dianalisis terlebih dahulu..

Tujuan utama pertemuan balikan ini adalah bersama-sama membahas hasil pengamatan proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Baca Juga: Tindak Lanjut Hasil Supervisi Akademik

Pertemuan balikan dapat dilakukan dengan cara wawancara atau diskusi tentang penampilan guru. Inti pembicaraan dalam pertemuan balikan ini difokuskan pada identifikasi dan analisis persamaan dan perbedaan antara perilaku guru dan peserta didik, identifikasi keberasilan dan kelemahan , keterampilan yang perlu ditingkatkan dan gagasan untuk memperbaikinya,  serta membuat keputusan tentang apa dan bagaimana langkah yang seharusnya diambil untuk menindaklanjuti perbedaan tersebut.

Ada lima manfaat pertemuan balikan bagi guru yaitu:
  • guru bisa termotivasi dalam pekerjaannya dengan diberikannya penguatan dan kepuasan; 
  • kepala sekolah dan guru dapat bersama-sama mendefinisikan secara tepat isu-isu dalam pengajaran; 
  • bila perlu dan memungkinkan, kepala sekolah dapat mengintervensi secara langsung untuk memberikan bantuan didaktis dan bimbingan bagi guru; 
  • guru bisa dilatih untuk melakukan supervisi terhadap dirinya sendiri; dan 
  • guru bisa diberi pengetahuan tambahan untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan  kemampuan analisis diri secara profesional pada masa yang akan datang. (Goldhammer, Anderson, & Krajewski, 1981),
Demikian langkah supervisi klinis, setelah tahap umpan balik atau pertemuan akhir guru perlu melaksanakan tindak lanjut yang telah dirumuskan dan disepakati bersama antara supervisor dengan guru. Dapat pula supervisi klinis ini dilanjutkan ke siklus berikutnya sesuai dengan kebutuhan guru.

Panduan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Tahun 2020

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi alternatif pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dimasa pandemi covid-19  saat ini. Peserta didik harus terus belajar meskipun kegiatan sekolah normal terganngu, mereka harus  dimotivasi dalam menghadapi ketidakpastian yang belum kunjung mereda.

Mengajar jarak jauh tidak mudah bagi guru dan juga tidak disukai para siswa ,  akan tetapi PJJ menjadi solusi di era pademik covid-19 ini.

Untuk itu diperlukan  dukungan professional, emosional dan dukungan teknis kepada para guru.Berikut ini panduan yang perlu diikuti guru dalam melaksanakan PJJ

1. Pembelajaran Yang Dilakukan Tidak Membahayakan

Pembelajaran yang dilaksanakan harus mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan siswa  (students well-being) harus menjadi hal terpenting untuk dipikirkan guru. Artinya penyampaian kurikulum/materi pembelajaran  secara jarak jauh tidak menciptakan lebih banyak stres dan kecemasan bagi siswa dan keluarganya.

2. Pembelajaran Harus Realistis 

Guru hendaknya memiliki ekspektasi yang realistis mengenai apa yang dapat dicapai dengan pembelajaran jarak jauh, dan menggunakan penilaian profesional untuk menilai konsekuensi dari rencana pembelajaran tersebut.

3. Pembelajaran Mengikuti arahan dan panduan PJJ dari Pemerintah 

a. Mengikuti arahan atau panduan resmi yang diberikan Kepala Sekolah tentang apa yang harus diajarkan dan bagaimana cara mendapatkannya.

b. Selalu memberikan laporan perkembangan pembelajaran, kendala selama proses pembelajaran untuk mendapatkan umpan balik dari kepala sekolah. Mengikuti pertemuan atau diskusi kelompok dengan kepala sekolah menggunakan saluran formal dan informal.

c. Melakukan komunikasi dengan sesama guru untuk berbagi pengalaman dan mencari solusi atas kendala yang dihadapi.

d. Memastikan persetujuan dari kepala kepala sekolah tentang kurikulum dan rencana pembelajaran yang akan diberikan selama proses pembelajaran jarak jauh.

4. Lakukan Review Kurikulum 

a. Menentukan target kurikulum yang akan dicapai yang mencakup pengetahuan dan keterampilan inti, dengan lebih memfokuskan pada kesejahteraan (well-being) para siswa.

b. Memastikan ada arahan atau panduan resmi yang harus diikuti untuk menerapkan rencana pembelajaran tersebut, dan sumber daya yang akan digunakan, serta rekomendasi narasumber yang harus dihubungi jika diperlukan bantuan teknis.

Baca juga: cara menumbuhkan Kreativitas dan Inovasi Siswa

c. Memberikan pengalaman belajar tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum, atau fokus pada konten dan kegiatan yang akan membantu siswa mengatasi krisis saat ini.

d. Memulai pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disiapkan dan disetujui kepala sekolah dengan tetap mengikuti perkembangan kebijakan berikutnya.

5. Pahami Kondisi Siswa , Profil Pembelajaran dan Kebutuhan Saat ini 

a. Mengetahui siswa mana yang dapat menyelesaikan tugas sekolah mereka dengan baik dan mana yang masih belum bisa.

b. Mengetahui siswa mana saja saya yang dapat bekerja secara mandiri dan siapa yang akan  membutuhkan lebih banyak bimbingan dan dukungan belajar dari jarak jauh.

c. Mengetahui siswa mana saja yang merasa nyaman menggunakan teknologi dan siapa saja yang akan membutuhkan lebih banyak bantuan.

d. Mengetahui siswa mana saja yang dapat membantu teman sekelas dengan kegiatan belajar menggunakan teknologi.

e. Menentukan strategi pengajaran dan kegiatan belajar yang terbaik untuk siswa, diferensiasi atau strategi personalisasi yang paling efektif

6. Memahami Status dan Kebutuhan saat  ini

a. Memahami lokasi dan lingkungan rumah tinggal siswa, ditinjau dari aspek kenyamanan, keamanan, ketersediaan kebutuhan dasar yang memadai.

b. Mengetahui kondisi mental dan emosi siswa, apakah cemas atau takut, apakah mereka memiliki jaringan dukungan  yang kuat di dalam rumah atau di komunitasnya.

c. Mengetahui kepemilikan akses ke teknologi untuk pembelajaran jarak jauh, jenisnya, seberapa sering, untuk berapa lama, dan berapa biayanya, bagaimana mereka akan mengakses materi pembelajaran, bagaimana komunikasi satu sama lain, dan siapa yang akan paling membutuhkan bantuan dalam hal akses.

d. Mengetahui orang tua siswa atau orang lain dalam rumah siswa yang dapat membantu dalam menyelesaikan tugas sekolah, siswa mana yang akan membutuhkan lebih banyak bimbingan dan dukungan dari guru

7. Menjalin Komunikasi dan Orang Tua Siswa

a. Perlu diingat, bagaimanapun, bahwa orangtua bukan guru terlatih dan diminta untuk mengambil tugas yang menantang, sementara mereka juga berurusan dengan tugas dan tuntutan lain di rumah. Mereka akan membutuhkan banyak bimbingan dan dorongan dari guru.

b. Memastikan bahwa hasil yang diharapkan, panduan belajar, dapat disampaikan dengan jelas dari awal kepada orang tua atau wali murid dan sumber daya dan alat apa yang harus disediakan.

c. Menggunakan pola komunikasi dan memberikan umpan balik yang baik kepada orangtua dengan menyepakati waktu untuk berkomunikasi.

d. Memberikan dukungan, dorongan, dan motivasi kepada orangtua atau walimurid untuk tetap termotivasi membantu dan memberikan perhatian/monitoring  kepada siswa belajar di rumah.

8. Meminta Dukungan Keluarga 

a. Lakukan pengumpulan informasi terlebih dahulu mengenai kesiapan orangtua dalam mendampingi siswa melakukan pembelajaran jarak jauh. Faktor yang setidaknya perlu dipertimbangkan: akses orangtua terhadap teknologi, pola kerja orangtua dan tingkat pendidikan orangtua.

b. Sediakan waktu berbincang bebas dengan orangtua dan murid untuk mendapatkan gambaran kondisi yang mereka alami. Membangun kepercayaan diri murid dan orangtua, menghadirkan dukungan, pendorong semangat dan bantuan professional.

c. Memperkirakan durasi pengerjaan tugas yang akan diberikan. Pastikan durasinya maksimal 80% dari jam belajar normal untuk menyediakan waktu belajar tidak terstruktur. Durasi ini bisa disesuaikan melalui koordinasi dengan guru yang mengajar pada kelas yang sama dan dengan siswa/orangtua

d. Membangun kesepakatan dengan orangtua terkait cara pengerjaan tugas murid, jadwal dan durasi konferensi guru.

9. Lakukan Desain dan Implementasi Pembelajaran Jarak Jauh

a. Menyadari peran sebagai guru telah berubah sebagai akibat dari penutupan sekolah dan  menyadari kesiapan untuk mengambil peran yang berubah ini secara fisik, intelektual, mental dan emosional.

b. Menyikapi segala kekhawatiran atau ketakutan untuk mengajar jarak jauh dan menyiapkan diri dengan lebih baik agar merasa lebih mampu untuk mengambil tantangan ini.

c. Menyiapkan sarana teknologi dan sumber daya yang tersedia yang dapat digunakan secara nyaman, dan mendapatkan akses lebih banyak terhadap teknologi yang dibutuhkan.

d. Menyadari kemampuan diri terhadap teknologi, mengikuti pelatihan ekstra untuk pengajaran jarak jauh jika diperlukan sesuai dengan kebutuhan pribadi.

e. Menyiapkan dan membuat alat dan sumber daya sesuai dengan waktu yang tersedia dan target kurikulum yang telah ditetapkan.

f. Bangun kekuatan pribadi dan profesional, akui tantangan dan mengatasinya, serta ulurkan tangan kepada sesama guru dan kepala sekolah untuk bantuan dan bimbingan

10. Aktif Membangun Kerja Sama 

a. Mencari informasi saluran resmi untuk dukungan guru seperti hotlines, helpdesk, atau grup online.

b. Melakukan komunikasi dengan kelompok guru di sekolah sendiri atau kelompok guru sejenis terkait dengan dukungan teknologi atau motivasi yang diperlukan.

c. Memastikan guru sudah memiliki kelompok yang akan memberikan dukungan baik dari   sekolah sendiri maupun dengan guru dari sekolah lain.

d. Memastikan dan mencari model pembelajaran jarak jauh yang sudah berhasil dilaksanakan secara efektif selama masa pandemi corona ini yang dapat dicontoh.

11. Mempertimbangkan Sumberdaya yang Dapat Digunakan 

a. Memastikan teknologi, platform, peralatan dan sumber daya yang tersedia bagi GURU dan siswa - cetak, audio dan radio, video dan TV, berbasis komputer, berbasis Internet dan berbasis telepon.

b. Manakah dari sumber daya ini yang dapat digunakan oleh semua atau sebagian besar siswa dan manakah yang termudah untuk digunakan untuk komunikasi, instruksi langsung, diskusi, berbagi pekerjaan dan penilaian? Manakah dari siswa yang tidak memiliki akses ke telepon, komputer, internet?

c. Memastikan materi pengajaran dan pembelajaran yang dapat diadaptasikan untuk pembelajaran jarak jauh. Mencari sumber daya pendidikan yang dapat bebas diakses dan memastikan sumberdaya tersebut berkualitas

12.  Menyusun Rencana Pembelajaran Dengan menggunakan Beberapa Skenario 

a. Skenario A: RPP disusun lengkap, pelajaran terstruktur mengikuti kurikulum standar

b. Skenario B: RPP disusun lengkap, sesuai dengan kurikulum khusus dimana KI-KD Kurikulum 2013 khusus telah dikeluarkan Kemdikbud.

c. Skenario C: Konten pembelajaran dan kegiatan yang dipilih ditentukan sekolah  untuk membantu siswa mengatasi krisis saat ini

13. Pelaksanaan Pembelajaran 

a. Mengadakan kelas jarak jauh dan memastikan jadwal proses pembelajaran dilaksanakan, alat untuk berkomunikasi satu sama lain, mempertimbanghkan biaya, pola pelaksanaan secara serentak (pada saat yang sama) atau asinkronus (tidak pada saat yang sama) atau campuran keduanya.

b. Instruksi langsung dan sumber daya. Memastikan bahan pengajaran berupa presentasi yang sesuai dengan materi kurikulum disiapkan dengan cara mengadopsi atau mengadaptasi dari bahan lain atau mengembangkan baru.

c. Tugas disiapkan dengan cara menyederhanakan kegiatan lama atau membuat yang baru untuk dikerjakan siswa sendiri atau dengan bantuan dari orang tua atau wali murid.

Bagaimana cara terbaik untuk memupuk rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar melalui self-direction, penemuan, penyelidikan, dan kolaborasi? Memastikan berapa banyak waktu yang akan diberikan kepada mereka untuk setiap kegiatan yang akan dikerjakan baik secara individu atau dalam kelompok.

Baca juga: Refleksi Dalam Pembelajaran 

d. Memberikan panduan kepada murid saat mereka bekerja dengan cara pemberian satu-satu, dalam kelompok kecil atau keseluruh kelas. Berkominukasi dengan orang tua atau wali murid untuk meminta kerjasamanya agar dapat bekerja secara efektif bersama mereka untuk menjaga anak mereka tetap terlibat dan membuat kemajuan dalam pembelajarannya.

14. Mengusahakan Kesejahteraan (well-being) psikososial- Inklusi .

a. Memberikan dukungan kepada siswa secara mental dan emosional saat menghadapi tantangan pembelajaran jarak jauh.

b. Jumlah pekerjaan yang diberikan kepada siswa harus mempertimbangkan keseimbangan kesejahteraan psikososial siswa dengan tuntutan kurikulum dan berkomunikasi dengan orang tua untuk bekerja sama dalam mencapai keseimbangan tersebut.

c. Sumber daya dan alat apa yang dapat ditawarkan kepada siswa untuk membantu mengatasi dan tindakan apa yang hendaknya diambil bagi mereka yang memerlukan perjuangan khusus.

d. Memastikan bahwa semua siswa dapat berpartisipasi dalam pembelajaran jarak jauh. Apabila ada siswa dengan keterbatasan atau tidak memiliki akses ke internet atau telepon, maka disiapkan:

e. Lakukan pola komunikasi dan jadwalnya dengan alternatif pola pembelajaran instruksi langsung, sumber daya, kegiatan, dan penilaian untuk siswa

f. Fasilitasi pembelajaran siswa, mendukung secara mental dan emosional, dan memeriksa kemajuan mereka.

g. Pengaturan alternatif yang akan diperlukan untuk mereka dengan kepala sekolah, orang tua, atau pengasuh.

15. Berikan Dukungan dan Umpan Balik kepada Siswa

a. Rencanakan dan laksanakan tugas yang mendukung pembelajaran pada setiap fase dengan pertimbangan  aturan penugasan terstruktur dan tidak tersrtuktur pada kurikulum sehingga tidak membuat siswa stress karena setiap mata pelajaran memberikan tugas.


b. Menentukan cara terbaik untuk mendukung pembelajaran siswa dengan mencari jenis bantuan yang diberikan kepada siswa untuk membimbing mereka melalui berbagai tugas belajar.

c. Memilih saluran komunikasi yang harus digunakan secara maksimal sehingga siswa mendapat umpan balik secara tepat waktu.

d. Memberikan dukungan kepada siswa secara mental dan emosional agar menjaga siswa tetap terlibat dan termotivasi untuk belajar, serta membantu mereka mengatasi kecemasan dan ketakutan.

e. Memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar dan saling mendukung sesama siswa.

16 . Lakukan Penilaian Sesuai Tujuan Pembelajaran 

Penilaian harus direncanakan dan dilekatkan dalam kegiatan belajar. Hal ini akan memungkinkan guru untuk memonitor dan memfasilitasi kemajuan belajar siswa, dan membantu siswa mengelola pembelajaran mereka sendiri. Metode penilaian yang digunakan sangat tergantung kepada tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

17. Lakukan Penilaian formatif Sumatif 

Cara memantau, menilai, dan memfasilitasi kemajuan belajar dari jarak jauh untuk menilai tugas yang diberikan pada kegiatan pembelajaran.

Menentukan alat penilaian yang digunakan untuk memberikan tanggapan rutin kepada siswa dan menjaga pekerjaan siswa selaras dengan tujuan pembelajaran.

Baca juga: Memahami Kosep AKM dan SK 

Memberikan kesempatan kepada siswa melakukan refleksi apa yang mereka pelajari dan menyampaikannya kepada teman sekelas.

Menentukan dan membuat alat penilaian summatif yang dapat digunakan untuk memberikan penilaian siswa sesuai dengan materi pembelajaran yang diberikan.


Demikian isi panduan pembelajaran PJJ sesuai dengan panduan pembelajaran yang dikeluarkan oleh Kemdikbud tahun 2020.