Bantuan Biaya Pendidikan BIDIK MISI Tahun 2019


I. Bidik Misi SNMPTN dan  SBMPTN Tahun 2019

A. Pengertian dan Tujuan
Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan dari pemerintah bagi lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat yang memiliki potensi akademik baik tetapi memiliki keterbatasan ekonomi.

Bidikmisi bertujuan untuk meningkatkan akses dan kesempatan belajar di perguruan tinggi;meningkatkan prestasi mahasiswa; menjamin keberlangsungan studi mahasiswa dengan tepat waktu; dan melahirkan lulusan yang mandiri, produktif serta memiliki kepedulian sosial sehingga mampu berperan dalam upaya memutusan mata rantai kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat

B. Penerima Bidik Misi SNMPTN dan  SBMPTN Tahun 2019

Penerima Bidikmisi adalah siswa SMA atau sederajat yang akan lulus pada tahun berjalan atau lulus 1 (satu) tahun sebelumnya; memiliki potensi akademik baik tetapi memiliki keterbatasan ekonomi yang didukung bukti dokumen yang sah dan lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru pada perguruan tinggi.

Keterbatasan ekonomi dibuktikan dengan kepemilikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau pendapatan kotor gabungan orang tua/wali sebesar Rp 4.000.000,00 (empat juta rupiah) atau pendapatan kotor gabungan orang tua/wali dibagi jumlah anggota keluarga maksimal Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah). Calon penerima bidikmisi wajib terdaftar pada sistem Bidikmisi dengan memasukkan NPSN dan NISN yang valid.

C. Fasilitas Bidik Misi
Pembebasan biaya pendaftaran seleksi masuk SBMPTN serta seleksi lain yang ditetapkan oleh masing-masing panitia dan perguruan tinggi. Penggantian biaya kedatangan pertama untuk pendaftar Bidikmisi yang ditetapkan sebagai penerima Bidikmisi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

 Pembebasan biaya pendidikan yang dibayarkan ke perguruan tinggi. Subsidi biaya hidup sebesar Rp. 700.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah) per bulan.

D. Jangka Waktu Pemberian Bidik Misi

Program Sarjana maksimal 8 (delapan) semester; Program Profesi:
Dokter maksimal 4 (empat) semester Dokter Gigi maksimal 4 (empat) semester. Dokter Hewan maksimal 4 (empat) semester Ners maksimal 2 (dua) semester. Apoteker maksimal 2 (dua) semester

Tata cara dan waktu pendaftaran baca Panduan Klik DISINI

II. Bidikmisi PMDK-PN, UMPN, DAN MANDIRI Tahun 2019

A. Fasilitas Bagi Penerima Bidikmisi PMDK-PN, UMPN, DAN MANDIRI

Penggantian biaya kedatangan pertama untuk pendaftar Bidikmisi yang ditetapkan sebagai penerima Bidikmisi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pembebasan biaya pendidikan yang dibayarkan ke perguruan tinggi.

Subsidi biaya hidup sekurang-kurangnya sebesar Rp. 700.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah) per bulan.

B. Jangka Waktu Pemberian Bidikmisi Jalur PMDK-PN, UMPN, DAN MANDIRI

Program Diploma I maksimal 2 (dua) semester
Program Diploma II maksimal 4 (empat) semester
Program Diploma III maksimal 6 (enam) semester
Program Diploma IV / Sarjana maksimal  8 (delapan) semester

Program Profesi:
Dokter maksimal 4 (empat) semester
Dokter Gigi maksimal 4 (empat) semester
Dokter Hewan maksimal 4 (empat) semester
Ners maksimal 2 (dua) semester
Apoteker maksimal 2 (dua) semester
 Tata cara pendaftaran Bidikmisi jalur PMDK-PN, UMPN dan Seleksi Mandiri dilakukan secara online melalui laman Bidikmisi

 Tata cara dan waktu pendaftaran baca Panduan Klik DISINI

Demikian informasi tentang Bidik Misi untuk para peserta didik yang memenuhi kriteria.

TUNJANGAN PROFESI GURU 2019

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Nomor 33 tahun 2018 yang diterbitkan pada bulan Desember 2018 adalah perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 10 pada tahun yang sama. Peraturan tersebut menjadi pentunjuk teknis atau acuan  penyaluran tunjangan profesi, tunjangan khusus dan tambahan penghasilan bagi guru Pegawai Negeri Sipil Daerah  yang berlaku tahun 2019.

Dalam petunjuk teknis  tersebut tidak lagi dicantumkan kriteria untuk kepala sekolah dan pengawas sekolah, namun hanya mengatur tunjangan untuk guru saja. Hal ini berarti kepala sekolah dan pengawas tidak lagi menerima tunjangan dengan nama  tunjangan profesi, namun akan diatur tersendiri yang sampai saat ini belum diketahui apakah tunjangan kinerja, atau tunjangan profesi atau yang lain.

Peraturan tersebut terdiri dari 3 lampiran. Lampiran I, mengatur kriteria , mekanisme  dan cuti penerima tunjangan profesi, lampiran II mengatur kriteria mekanisme dan cuti penerima tunjangan khusus dan lampiran III mengatur kriteria, mekanisme dan cuti  penerima tambahan penghasilan.

Sekolah dalam hal ini para guru penting memahami petunjuk teknis tersebut, sehingga dapat mempersiapkan administrasi yang dibutuhkan begitu juga dengan mekanisme penyaluran, kehadiran guru dan cuti yang boleh dibayarkan tunjangan tersebut.

Dibawah ini dijelaskan kriteria guru penerima tunjangan profesi, khusus dan tambahan penghasilan  serta  ketentuan cuti dan Kehadiran dalam tugas sebagai berikut:

A. Kriteria Penerima Tunjangan Profesi Guru PNSD

1.Berstatus sebagai Guru PNSD yang diangkat oleh Pemerintah Daerah dan mengajar pada sekolah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah yang tercatat pada Dapodik;

2.Aktif mengajar sebagai guru mata pelajaran/Guru kelas atau aktif membimbing sebagai guru bimbingan konseling/guru teknologi informasi dan komunikasi, pada satuan pendidikan yang sesuai dengan peruntukan Sertifikat Pendidik yang dimiliki;

3.Memiliki satu atau lebih sertifikat pendidik;

4.Memiliki Nomor Registrasi Guru (NRG) yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;

5.Memenuhi beban kerja Guru PNSD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

6.Memiliki nilai hasil penilaian kinerja paling rendah dengan sebutan “Baik”;

7.Mengajar di kelas sesuai rasio Guru dan siswa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

8.Tidak beralih status dari Guru, Guru yang diberi tugas sebagai kepala satuan pendidikan, Guru yang mendapat tugas tambahan atau Guru yang diangkat sebagai pengawas satuan pendidikan; dan

9.Tidak terikat sebagai tenaga tetap pada instansi selain satuan pendidikan bagi Guru PNSD atau dinas pendidikan bagi pengawas sekolah.

Ketentuan pada angka 1 sampai dengan angka 9 berlaku juga bagi:

1.Guru yang mengikuti program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dengan pola Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) paling banyak 100 (seratus) jam (14 hari kalender) dalam bulan yang sama, dan mendapat izin/persetujuan dari dinas pendidikan setempat;

2.Guru berstatus CPNSD, maka tunjangan profesinya dibayarkan sebesar 80% (delapan puluh persen) dari gaji pokoknya;

3.Guru PNSD dalam golongan ruang II;

4.PNSD dalam golongan ruang II, III, atau IV yang diberi tugas mengajar pada satuan pendidikan, maka tunjangan profesinya akan dibayarkan setelah ada perubahan menjadi jabatan fungsional guru berdasarkan Surat Keputusan dari Badan Kepegawaian Negara; dan

5.Guru PNSD yang berdasarkan kepentingan nasional dan merupakan Guru Garis Depan (GGD), dapat serta merta menerima Tunjangan Profesi selama 2 (dua) tahun sejak yang bersangkutan bertugas di lokasi penempatan pada bulan tahun berkenaan, dan/atau sesuai dengan ketersediaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Selanjutnya, GGD tersebut tetap menerima Tunjangan Profesi pada tahun ketiga dan seterusnya apabila yang bersangkutan memenuhi kriteria penerima Tunjangan Profesi.

B. Kriteria Penerima Tunjangan Khusus Guru PNSD

1. Guru PNSD yang bertugas pada satuan pendidikan di Daerah Khusus yang daerahnya ditetapkan oleh Menteri dan/atau surat rekomendasi dari Menteri yang menangani bidang desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi dengan kriteria:

a.Jumlah penerima Tunjangan Khusus pada satuan pendidikan tidak melebihi kebutuhan guru ideal pada satuan pendidikan tersebut;

b.Daerah Khusus merupakan desa sangat tertinggal berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dan/atau surat rekomendasi dari Menteri yang menangani bidang desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi.

2. Guru PNSD yang menerima Tunjangan Khusus juga dapat ditentukan berdasarkan:

a.kepentingan nasional;
b.program prioritas Pemerintah Pusat; dan/atau

c.ketersediaan anggaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

d.Guru PNSD yang berdasarkan kepentingan nasional dan merupakan Guru Garis Depan (GGD), dapat menerima Tunjangan Khusus pada tahun berjalan terhitung sejak bertugas di lokasi penempatan pada tahun berkenaan dan sampai dengan akhir tahun pada tahun berikutnya, dan/atau sesuai dengan ketersediaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Selanjutnya, GGD tersebut tetap menerima Tunjangan Khusus pada tahun ketiga dan seterusnya apabila yang bersangkutan bertugas pada Daerah Khusus.

3. Memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK); dan

4. Memiliki surat keputusan penugasan mengajar di satuan pendidikan pada Daerah Khusus yang dikeluarkan oleh kepala dinas pendidikan.

C. Kriteria Penerima Tambahan Penghasilan Guru PNSD

1. Guru PNSD yang belum memiliki sertifikat pendidik;

2. Berkualifikasi akademik paling rendah S-1/D-IV;

3. Memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK);

4. Hadir dan aktif mengajar sebagai Guru mata pelajaran/Guru kelas atau aktif membimbing sebagai guru bimbingan konseling/guru teknologi  informasi dan komunikasi;

5. Memenuhi beban kerja sebagai guru PNSD; dan

6. Terdata dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).


D. Cuti Guru PNSD Penerima Tunjangan Profesi, Khusus dan Tambahan Penghasilan 

Guru PNSD yang sedang cuti sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Kepala BKN Nomor 24 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti Pegawai Negeri Sipil berhak untuk mendapatkan Tunjangan Profesi dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Cuti Tahunan
PNS yang menduduki jabatan guru PNSD yang mendapat liburan menurut peraturan perundang-undangan, disamakan dengan PNS yang telah menggunakan hak cuti tahunan. Hal ini berarti mengambil liburan bagi Guru PNSD sama dengan mengambil cuti tahunan bagi Guru PNSD.

2. Cuti Haji
Guru PNSD yang melaksanakan ibadah haji, berhak untuk mendapatkan cuti haji apabila yang bersangkutan melaksanakan ibadah haji untuk pertama kalinya dengan melampirkan jadwal keberangkatan/kelompok terbang (kloter) yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan haji. Guru PNSD yang bersangkutan harus mengajukan permintaansecara tertulis dan mendapat ersetujuan dari pejabat yang berwenang memberikan cuti.

3. Cuti sakit
Guru PNSD yang sakit 1 (satu) hari sampai dengan 14 (empat belas) hari dalam 1 (satu) bulan berhak atas cuti sakit, dengan ketentuan bahwa PNS yang bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis dan mendapat persetujuan dari pejabat yang berwenang memberikan cuti dengan melampirkan surat keterangan dari dokter pemerintah.

4. Cuti Ibadah Keagamaan
Guru PNSD dapat melaksanakan ibadah keagamaan seperti umrah pada saat liburan akademik, namun apabila tidakmemungkinkan melaksanakan ibadah umrah pada saat liburanakademik, maka Guru PNSD dapat mengajukan cuti ibadahkeagamaan paling banyak 14 (empat belas) hari dalam 1 (satu)tahun dengan ketentuan bahwa Guru PNS yang bersangkutanharus mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti. Pejabat yang berwenang wajib memperhatikan keberlangsungan proses kegiatan belajar mengajar dalam memberikan cuti ibadah keagamaan.

5. Cuti Melahirkan

a.Guru PNSD dapat mengajukan permintaan secara tertulis dan mendapat persetujuan cuti melahirkan anak pertama sampai dengan kelahiran anak ketiga pada saat menjadi PNSD, dari pejabat yang berwenang memberikan cuti.

b.Lamanya cuti melahirkan sebagaimana dimaksud pada angka 1) adalah 3 (tiga) bulan.

6. Cuti Alasan Penting

Guru PNSD dapat menggunakan cuti alasan penting sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Kepala BKN Nomor 24 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti Pegawai Negeri Sipil paling lama 1 (satu) bulan dengan ketentuan bahwa Guru PNSD yang bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis dan mendapat persetujuan dari pejabat yang berwenang memberikan cuti.

E. Kehadiran GTK 

Aplikasi Kehadiran Guru dan Tenaga Kependidikan (Hadir GTK)

a.Aplikasi Hadir GTK merupakan aplikasi yang dirancang untuk mempercepat proses pembayaran Tunjangan Profesi.

b.Pencatatan kehadiran Guru PNSD dilakukan secara daring (online) melalui aplikasi Hadir GTK yang terdapat pada laman http://hadir.gtk.kemdikbud.go.id.

c.Tata cara penggunaan aplikasi Hadir GTK diatur dalam pedoman penggunaan aplikasi Hadir GTK yang dapat diunduh di laman http://hadir.gtk.kemdikbud.go.id.

d.Aplikasi Hadir GTK efektif berlaku pada tahun ajaran 2018-2019.

e.Dinas pendidikan sesuai dengan kewenangannya dapat  mengunduh hasil rekapitulasi kehadiran GTK melalui aplikasi Hadir GTK. Bagi satuan pendidikan yang berada di daerah khusus yang sulituntuk mendapatkan jaringan internet tidak diwajibkan untuk menggunakan Aplikasi Hadir GTK ini.

Permendikbud No. 33 Tahun 2018    DOWNLOAD DISINI





Model-Model Pembelajaran Kreatif di SMK


Pembelajaran di SMK memiliki karakteristik tersendiri (beda dengan SMA)  karena tujuan  utama SMK untuk menyiapkan peserta didik memasuki dunia kerja. Proses pembelajaran yang dilakukan guru di SMK  perlu memperhatikan karakteristik sebagai berikut.

1.Pembelajaran  diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki lapangan kerja;

2.Pembelajaran yang dilakukan didasarkan atas kebutuhan dunia kerja;

3.Fokus isi pembelajaran  ditekankan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dibutuhkan oleh dunia kerja;

4.Penilaian yang sesungguhnya terhadap kesuksesan peserta didik harus pada “mind-on, heart-on, hands-on” atau cara cara pikir, sikap dan keterampilan kerja di dunia usaha atau produksi;

5.Pembelajaran  harus melibatkan dunia kerja sebagaikunci keberhasilan pendidikan kejuruan;

6.Pembelajaran harus responsif dan antisipatif terhadap kemajuan teknologi;

7.Pembelajaran  lebih ditekankan pada “learning by doing”, dan

8.Pembelajaran memerlukan fasilitas praktik sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri.

Berdasarkan karakteristik di atas maka  pemilihan suatu model pembelajaran sangat ditentukan oleh isi rumusan Kompetensi Dasar dan atau materi pembelajaran. Model pembelajaran tertentu hanya tepat digunakan untuk materi pembelajaran tertentu. 

Sebaliknya materi pembelajaran tertentu akan dapat berhasil maksimal jika menggunakan model pembelajaran tertentu pula. 

Pemilihan model pembelajaran dapat dilakukan dengan cara   berikut:

1.Menganalisis rumusan pernyataan setiap kompetensi dasar (KD);

2.Memahami tujuan dari setiap model pembelajaran;

3.Menentukan apakah rumusan KD cenderung pada pembentukan konsep/prinsip atau pada pembentukan hasil karya;

4.Kompetensi Dasar(KD dari KI-3 dan KD dari KI-4) pada kelompok mata pelajaran Dasar Kejuruan (C1) dan kelompok mata pelajaran Dasar Keahlian (C2) yang cenderung pada penguasaan konsep/prinsip yang membentuk kemampuan eksplanasi (konsep dan prinsip) sangat tepat menggunakan model pembelajaran Inquiry/Discovery Learningsebagai fondasi untuk mempelajari mata pelajaran kelompok Kompetensi Keahlian (C3).

5.Kompetensi Dasar (KD dari KI-3 dan KD dari KI-4) pada kelompok mata pelajaran Kompetensi Keahlian (C3) yang cenderung membentuk kemampuan solusi-solusi teknologi dan rekayasa atau hasil karya, dapat menggunakan model belajar Problem Based Learning(PBL), Production Based Trainning (PBT), Project Based Learning (PjBL) dan Teaching Factory (TEFA)

Setelah guru melakukan analisis kompetensi dasar dan materi pembelajaran selanjutnya guru dapat memilih model yang sesuai untuk diterapkan. Dibawah ini ada 4 model pembelajaran yang disarankan sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 di SMK. 

A. Model pembelajaran penemuan (Discovery Learning)

Model pembelajaran penemuan (Discovery Learning) adalahmenekankan terhadap pemahaman  konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). 

Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa hukum, konsep dan prinsip, melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi(pengambilan keputusan/kesimpulan). 

1. Tujuan pembelajaran model Discovery Learning

a.Meningkatkan kesempatan peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran;

b.Peserta didik belajar menemukan pola dalam situasi konkrit maupun abstrak;

c.Peserta didik belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan;

d.Membantu peserta didik membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi serta mendengarkan dan menggunakan ide-ide orang lain;

e.Meningkatkan keterampilan konsep dan prinsip peserta didik yang lebih bermakna;

f.Dapat mentransfer keterampilan yang dibentuk dalam situasi belajar penemuan ke dalam aktivitas situasi belajar yang baru.

2. Sintak (Fase) model Discovery Learning

a. Pemberian rangsangan (Stimulation)
Langkah ini dilakukan dapat berupa cerita atau gambar dari suatu kejadian sehingga memberikanarahan pada persiapan menemukan suatu konsep/prinsip atau formulasi.

b. Pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement)
Tahap ini peserta didik diajak untuk mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan masalah dari kejadian dan selanjutnya dikembangkan jawaban sementaraatau hipotesis terhadap konsep/prinsip atau formulasi.

c. Pengumpulan data (Data Collection)
Dapat berupa observasi terhadap objek atau uji coba dalam kaitan hipotesis

d. Pembuktian (Verification)
Pada tahap ini dilakukan pengolahan dan verifikasi data terhadap hipotesis.

e. Menarik simpulan/generalisasi (Generalization)
Melakukan generalisasi konsep/prinsip atau formulasi yang sudah dibuktikan.

B. Model Inquiry LearningTerbimbing dan Sains

Model pembelajaran Inkuiri terbimbing merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara sistematis kritis dan logis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri temuannya dari sesuatu yang dipertanyakan. 

Sedangkan Inkuiri Sains esensinya adalah melibatkan siswa pada kasus yang nyata di dalam penyelidikan dengan cara mengkonfontasi dengan area yang diselidiki, dengan cara membantu mereka mengidentifikasi konsep atau metodologi pada area investigasi serta mendorong dalam cara-cara mengatasi masalah.

1. Tujuan model pembelajaran Inquiry

Untuk mengembangkan kemampuan berfikir secara sistimatis, logis dan kritis sebagai bagian dari proses mental.

2. Sintak/tahap model inkuiri terbimbing

a. Orientasi masalah
Memberikan suatu permasalahan pada peserta didik yang harus dipecahkan seperti: contohbola lampu putus.

b. Pengumpulan data dan verifikasi
Pada tahapan ini peserta didik mengumpulkan data berkaitan dengan bahan/bagian/kondisi yang berhubungan dengan permasalahan.

c. Pengumpulan data melalui eksperimen
Peserta didik melakukan pengumpulan data dengan memeriksa fungsi bahan/bagian dan kondisi.

d. Pengorganisasian dan formulasi eksplanasi
Pada tahap ini peserta didik melakukan perumusan atauformulasi berdasarkan hasil eksperimen berkaitan dengan permasalah.

e. Analisis proses inkuiri
Pada tahap ini peserta didik melakukan generalisasi berkaitan dengan permasalahan.

3. Sintak (fase)  model inkuiri Sains 

a. Siswa disajikan suatu bidang penelitian
Pada tahap ini peserta didik disajikan bidang penelitian seperti contoh: “pencemaran sungai”,termasuk metodologi yang digunakan pada penelitian tersebut.

b. Menstrukturkan (Menyusun) problem/masalah
Peserta didik diajak untuk mengembangkan masalah dan mengidentifikasi masalah yang terdapat dalam penelitian tersebut. Pada tahap ini, bisa saja siswa akan mengalami beberapa kesulitan yang harus mereka atasi, sepertiinterpretasi data, generalisasi data, kontrol ujicoba, atau pembuatan kesimpulan.

c. Mengidentifikasi masalah dalam penelitian
Peserta didik diminta untuk berspekulasi tentang masalah tersebut; sehingga mereka dapat mengidentifikasi kesulitan dalam proses penelitian.

d. Menyelesaikan kesulitan/masalah 
Peserta didik diminta untuk berspekulasi tentang cara untuk mengatasi kesulitan/masalah, dengan merancang kembali ujicoba, mengolah data dengan cara yang berbeda, mengeneralisasikan data danmengembangkan konstruk.

C. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Pembelajaran berbasis masalah didasarkan pada teori belajar konstruksivistik yang menggunakan berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok serta lingkungan nyata (autentik) untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna, relevan, dan kontekstual 

1. Tujuan pembelajaran PBL

Untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan konsep-konsep pada permasalahan baru/nyata, pengintegrasian konsep High Order Thinking Skills (HOTS) yakni pengembangan kemampuan berfikir kritis, kemampuan pemecahan masalah dansecara aktif mengembangkan keinginan dalam belajar dengan mengarahkan belajar diri sendiri dan keterampilan belajar.
Pembelajaran pendekatan pemecahan masalahakan memberikan pengalaman belajar pada peserta didik yang lebih mendalam terhadap kompetensi yang dipelajarinya dibanding dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan tradisional..

2. Prinsip-prinsip pembelajaran PBL

Prinsip-prinsip penting yang harus diperhatikan oleh guru  dalam menerapkan model pembelajaran pemecahan masalah adalah sebagai berikut:

a.Pemecahan masalah yang berkaitan dengan keterampilan kerja atau pekerjaan pada dunia nyata (real job), penekanan pengajarannya harus dilakukan secara tepat dalam hal pengidentifikasian pengetahuan konsep, prinsip) dan pengetahuan prosedural.

b.Dalam langkah pendahuluan berkaitan dengan kontek pemecahan masalah, pembelajaran  bisa dilakukan dengan cara penyajian pengetahuan prosedural atau pengetahuan konsep dan prinsip  lebih awal, atau juga dapat dilakukan dengan cara pengintegrasian kedua pengetahuan tersebut 

c.Ketika mengajar pengetahuan deklaratif , penekanan dilakukan pada model mental yang sesuai dengan pemecahan masalah yang akan dihadapi melalui cara penjelasan struktur pengetahuan dan menanyakan kepada peserta didik untuk memprediksi apa yang akan terjadi atau penjelasan mengapa sesuatu itu terjadi.

d.Menekankan pada pengajaran pemecahan masalah bentuk strukturmoderat dan struktur tidak beraturan sejauh pembahasannya untuk mencapaitujuan pembelajaran.

e.Mengajarkan keterampilan pemecahan masalah sesuai dengan kontek yang akan digunakan peserta didik. Menggunakan masalah-masalah yang otentik, juga dalam praktek dan penilaiannya baik dalam skenario belajar berbentuk simulasi atauproyek. 

f.Gunakan strategi pembelajaran  deduktif untuk pengetahuan konseptual dan bentuk pemecahan masalah terstruktur/sistiematis

g.Gunakan strategi mengajar induktif untuk meningkatkan model berpikir sintesis dan bentuk pembelajaran pemecahan masalah moderat serta struktur tidak beraturan  .

h.Menggunakan latihan permasalahan, langkah ini akan membantu peserta didik memahami tujuan dan membantu mereka menguraikan kedalam tujuan-tujuan antara.

i.Gunakan kesalahan-kesalahan yang dibuat peserta didik dalam pemecahan masalah sebagai bukti konsepsi yang tidak tepat dan menebak-nebak. Jika dimungkinkan tentukan konsepsi yang salah dan konsepsi yang tepat.

j.Ajukan pertanyaan dan berikan saran tentang strategi untuk meningkatkan peserta didik melakukan refleksi pada strategi pemecahan masalah yang sedang mereka gunakan. Langkah ini dapat dilakukan sebelum atau sesudah peserta didik melakukan tindakan pemecahan masalah.

k.Memberikan latihan denganstrategi pemecahan masalah yang hampir sama dalam berbagai kontek untuk meningkatkan pegeneralisasian.

l.Ajukan pertanyaan yang dapat meningkatkan peserta didik dalam menyerap keterampilan megeneralisasi dalam berbagai permasalahan dengan materi yang berbeda.
m.Gunakan berbagai jenis kontek, masalah dan gaya mengajar yang akan meningkatkan keingin tahuan, motivasi, percaya diri, ketekunan dan pengetahuan tentang diri sertamereduksi kehawatiran peserta didik.

n.Rencanakan serangkaian pembelajaran yang menumbuhkan hingga kesempurnaan dari tingkat pemula hingga pemahaman tingkat akhli/kompeten daristruktur pengetahuan yang digunakan.

o.Jika guru menggunakan  bentuk pemecahan masalah dengan struktur tersusun baik yakinkan peserta didik dapat mengikuti pembelajaran pemecahan masalah dengan baik. 

p.Jika guru dengan pendekatan pemecahan masalah bentuk struktur moderat, dorong peserta didik menggunakan pengetahuan konseptual untuk mengembangkan strategi yang sesuai dengan kontek dan permasalahannya. 

q.Jika guru  dengan pendekatan pemecahan masalah bentuk struktur yang tidak beraturan, dorong peserta didik menggunakan pengetahuan konseptualnya  untuk menetapkan tujuan dengan solusi yang dapat diterima dan dikembangkan. Ikuti strategi pemecahan dan solusi yang tepat kemudian bandingkan oleh peserta didik hingga mana yang paling efektif dan efisien dari berbagai strategi dan solusi tersebut.

3. Sintak(fase)  model Problem Based Learning ( PBL) adalah:

a. Mengidentifikasi masalah
Pada tahapan ini dilakukan pengidentifikasian masalah melalui curah pendapat dari kasus yang diberikan.

b. Menetapkan masalah melalui berpikir tentang masalah dan menyeleksi informasi-informasi yang relevan
Pada tahap ini peserta didik diajak mendata sejumlah fakta pendukung sesuai dengan masalah, dan pengetahuan-pengetahuan yang harus diketahui berupa konsep dan prinsip berkenaan dengan masalah.

c. Mengembangkan solusi melalui pengidentifikasian alternatif-alternatif, tukar-pikiran dan mengecek perbedaan pandang

Pada tahap ini peserta didik diajak berfikir untuk mengembangkan pemecahan masalah melalui berfikir prosedur untuk melakukan penelaahan letak penyebab masalah melalui pengumpulan imformasi dari setiap langkah melalui pemeriksaan hingga ditemukan penyebab utama masalah.

d. Melakukan tindakan strategis
Peserta didik diajak mengembangkan tindakan strategis yang didasarkan atas temuan untuk memecahkan masalah. 

e. Melihat ulang dan mengevaluasi pengaruh-pengaruh dari solusi yang dilakukan
Peserta didik diajak memeriksa pengaruh hasil tindakan terhadap permasalahan yang terjadi di dalam sistem, dengan menggunakan rujukan seperti contoh service manual hingga sistem bekerja secara normal sesuai tuntutan rujukan.

D.  Model pembelajaran Problem Solving Learning Jenis Trouble Shooting

Hamper sama dengan model pembelajaran  Problem Based Learning ( PBL) namun ada perbedaan pada tahap-tahap atau sintak pelaksanaan Adapun sintak model Problem Solving Learning Jenis Trouble Shooting terdiri atas:

1. Merumuskan uraian masalah
Pada tahap ini, peserta didik dihadapkan pada kasus, mengidentifikasi masalah dan merumuskan kemungkinan penyebab masalah.

2. Mengembangkan kemungkinan penyebab
Pengembangan kemungkinan penyebab dilakukan berdasarkan observasi dan pemeriksaan terhadap fungsi yang di dasarkankonsep atau prinsip.

3. Mengetes penyebab atau proses diagnosis
Menganalisis data-data hasil pemeriksaan dan menentukan penyebab utama menggunakan berfikir prosedur serta melakukan perlakuan/perbaikan.

4. Mengevaluasi
Memeriksa hasil perlakuan/perbaikan dan membandingkannya dengan acuan rujukan atau service manual untuk menentukan kasus/permasalahan telah dapat diatasi.

E. Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL)

Model pembelajaran PjBL merupakan pembelajaran dengan menggunakan proyek nyata dalam kehidupan yang didasarkan pada motivasi tinggi, pertanyaan menantang, tugas-tugas atau permasalahan untuk membentuk penguasaan kompetensi yang dilakukan secara kerja sama dalam upaya memecahkan masalah. 

1. Kriteria Penerapan PjBL

Model pembelajaran ini akan efektif apabila memenuhi tiga kriteria yakni:

a.Kompetensi Dasar yang akan diajarkan dari kurikulum kompetensi keahlian di konstruk dalam permasalahan kontektual yang menekankan pada keterampilan kognitif(higher order thingking skill) dan pengetahuan pada bentuk metakognitif.

b.pembelajaran dikembangkan berpusat pada peserta didik (Student Centre Learning) dalam bentuk grup-grup kecil yang aktif dimana guru berfungsi sebagai fasilitator.

c.Hasil pembelajaran difokuskan pada pengembangan keterampilan, motivasi dan penumbuhan belajar sepanjang hayat (life long learning).

2. Tujuan Project Based Learning

Meningkatkan motivasi belajar, team work, keterampilan kolaborasi dalam pencapaian kemampuan akademik level tinggi/taksonomi tingkat kreativitas yang dibutuhkan pada abad 21 (Cole & Wasburn Moses, 2010).

3. Sintak (fase) model pembelajaran Project Based Learning

a. Penentuan pertanyaan mendasar (Start with the Essential Question)
Pada tahap ini peserta didik secara kelompok/individu dihadapkan pada bagaimana cara mengatasi permasalahan dan menentukan projek yang paling tepat cara mengatasi masalah.

b. Mendesain perencanaan proyek
Peserta didik merancang projek yang telah di tentukan baik desain/perencanaan, gambar, bahan maupun teknis pengerjaannya.

c. Menyusun jadwal (Create a Schedule)
Tahap ini peserta didik menyusun jadwal (waktu pelaksanaan), distribusi kerja dan presentasi.

d. Memonitor kemajuan proyek (Monitor the Progress of the Project)
Tahap ini peserta didik mengerjakan projek sesuai rancangan dan distribusi kerja serta menyampaikan progres/kemajuan pengerjaan projek.

e. Menguji hasil (Assess the Outcome)
Peserta didik memeriksa hasil projek dengan membandingkan dengan rancangan dan pendidik menilai kemajuan peserta didik.

f. Mengevaluasi pengalaman (Evaluate the Experience)
Melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan.

F. Model pembelajaran Production Based Training/Production Based Education and Training

Model inimerupakan proses pendidikan dan pelatihan yang menyatu pada proses produksi, dimana peserta didik diberikan pengalaman belajar pada situasi yang kontekstual mengikuti aliran kerja industri mulai dari perencanaan berdasarkan pesanan, pelaksanaan dan evaluasi produk/kendali mutu produk, hingga langkah pelayanan pasca produksi.

1. Tujuan

Menyiapkan peserta didik agar memiliki kompetensi kerja yang berkaitan dengan kompetensi teknis serta kemampuan kerjasama(berkolaborasi) sesuai tuntutan organisasi kerja.

2. Sintaksmodel pembelajaran Production Based Trainning

a. Merencanakan produk
Membuat perencanaan produk dapat berupa benda hasil produksi/layanan jasa/perencanaan pertunjukanyang dapat dilakukan dari mulai menggambar detail/membuat pamflet (berisi tgl waktu pertunjukan,isi cerita),perhitungan kebutuhan bahan/kostum, peralatan, dan teknik pengerjaanserta alur kerja/koordinasi kerja.

b. Melaksanakan proses produksi
Pada sintak ini peserta didik diajak melakukan tahapan produksi berdasarkan rencana produk benda/layanan jasa/perencanaan pertunjukan, alur kerja/koordinasi kerja serta memonitor proses produksi.

c. Mengevaluasi produk (melakukan kendali mutu)
Pada langkah ini peserta didik diajak untuk memeriksa hasil produk melalui membandingkan dengan tuntutan pada perencanaan teknis.

d. Mengembangkan rencana pemasaran
Peserta didik diajak mempersiapkan rancangan pemasaran baik dalam jejaring (daring) maupunluar jejaring (luring) berbentuk brosur/pamflet dan mempresentasikannya.

F. Model pembelajaran Teaching Factory

1. Konsep Teaching Factory pada SMK
Pembelajaran Teaching Factory adalah model pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. 

Pelaksanaan Teaching Factorymenuntut keterlibatan mutlak pihak industri sebagai pihak yang relevan menilai kualitas hasil pendidikan di SMK. 

Pelaksanaan Teaching Factory (TEFA) juga harus melibatkan pemerintah,pemerintah daerah dan stakeholders dalam pembuatan regulasi, perencanaan, implementasi maupun evaluasinya.

Pelaksanaan Teaching Factorysesuai Panduan TEFA Direktorat PMK terbagi atas 4 model, dan dapat digunakan sebagai alat pemetaan SMK yang telah melaksanakan TEFA. Adapun model tersebut adalah sebagai berikut:

Model pertama, Dual Sistem dalam bentuk praktik kerja lapangan adalah pola pembelajaran kejuruan di tempat kerja yang dikenal sebagai experience based training atau enterprise based training.

Model kedua, Competency Based Training (CBT) atau pelatihan berbasis kompetensi merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pengembangan dan peningkatan keterampilan dan pengetahuan peserta didik sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. 

Pada model ini, penilaian peserta didik dirancang untuk memastikan bahwa setiap peserta didik telah mencapai keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan pada setiap unit kompetensi yang ditempuh.

Model ketiga,Production Based Education and Training(PBET) merupakan pendekatan pembelajaran berbasis produksi. Kompetensi yang telah dimliki oleh peserta didik perlu diperkuat dan dipastikan keterampilannya dengan memberikan pengetahuan pembuatan produk nyata yang dibutuhkan dunia kerja (industri dan masyarakat).

Model keempat, Teaching Factoryadalah konsep pembelajaran berbasis industri (produk dan jasa) melalui sinergi sekolah dan industri untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dengan kebutuhan pasar.

1. Tujuan pembelajaran Teaching Factory

a.Mempersiapkan lulusan SMK menjadi pekerja dan wirausaha;

b.Membantu siswa memilih bidang kerja yang sesuai dengan kompetensinya;

c.Menumbuhkan kreatifitas siswa melalui learning by doing;

d.Memberikan keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja;

e.Memperluas cakupan kesempatan rekruitmen bagi lulusan SMK;

f.Membantu siswa SMK dalam mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja, serta membantu menjalin kerjasama dengan dunia kerja yang aktual;

g.Memberi kesempatan kepada siswa SMK untuk melatih keterampilannya sehingga dapat membuat keputusan tentang karier yang akan dipilih.

2. Sintaks Teaching Factory

Adapun intaksis pembelajaran teaching factory dapat menggunakan sintaksis dari model  PBET atau PBT  dengan langkah-langkah yang disesuaikan dengan kompetensi keahlian :

a. Merancang produk
Pada tahap ini peserta didik mengembangkan produk baru/cipta resep atau produk kebutuhan sehari-hari (consumer goods)/merancang pertunjukankontemporer dengan menggambar/membuat scrip/merancang pada komputer atau manual dengan data spesifikasinya.

b. Membuat prototype
Membuat produk/ kreasi baru /tester sebagai proto type sesuai data spesifikasi.

c. Memvalidasi dan memverifikasi prototype
Peserta didik melakukan validasi dan verifikasi terhadap dimensi data spesifikasi dari prototype/kreasi baru/tester yang dibuatuntuk mendapatkan persetujuan layak diproduksi/dipentaskan.

d. Membuat produk masal
Peserta didik mengembangkan jadwaldan jumlah produk/pertunjukan sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

Selain sintak di atas, Dadang Hidayat (2011) berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, mengembangkan langkah-langkah pembelajaran Teaching Factory sebagai berikut.

1. Menerima order
Pada langkah belajar ini peserta didik berperan sebagai penerima order dan berkomunikasi dengan pemberi order berkaitan dengan pesanan/ layanan jasa yang diinginkan. Terjadi komunikasi efektif dan santun serta mencatat keinginan/keluhan pemberi order. 

2. Menganalisis order
Peserta didik berperan sebagai teknisi untuk melakukan analisis terhadap pesanan pemberi order baik berkaitan dengan benda produk/layanan jasa sehubungan dengan gambar detail, spesifikasi, bahan, waktu pengerjaan dan harga di bawah supervisi guru yang berperan sebagai supervisor.

3. Menyatakan Kesiapan mengerjakan order
Peserta didik menyatakan kesiapan untuk melakukan pekerjaan berdasarkan hasil analisis dan kompetensi yang dimilikinya sehingga menumbuhkan motivasi dan tanggung jawab.

4. Mengerjakan order
Melaksanakan pekerjaan sesuai tuntutan spesifikasi kerja yang sudah dihasilkan dari proses analisis order. Siswasebagaipekerjaharusmenaatiprosedur kerja yang sudah ditentukan. Dia harus menaati keselamatan kerja dan langkah kerja dengan sungguh-sunguh untuk menghasilkan benda kerja yang sesuai spesifikasi yang ditentukan pemesan

5. Mengevaluasi produk
Melakukan penilaian terhadap benda kerja/layanan jasa dengan cara membandingkan parameter benda kerja/layanan jasa yang dihasilkan dengan data parameter pada spesifikasi order pesanan atau spesifikasi pada service manual.

6. Menyerahkan order
Peserta didik menyerahkan order baik benda kerja/layanan jasa setelah yakin semua persyratan spesifikasi order telah terpenuhi, sehingga terjadi komunikasi produktif dengan pelanggan.

Demikian model pembelajaran kreatif yang dapat digunakan oleh guru SMK, yang disesuaikan dengan KD dari KI-3 dan KI-4 masing-masing  kompetensi kejuruan, dasar keahlian dan kompetensi keahlian. Semoga. 

Bahan Bacaan
 Kemdikbud. 2016. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemdikbud

Kemdikbud. 2016. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Jakarta: Kemdikbud

Kemdikbud. (2018) .Spektrum Keahlian  Pendidikan Menengah Kejuruan.    Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan: Jakarta : Kemdikbud.

Kemdikbud.(2017).  Pedoman Pembelajaran Pada Sekolah Menengah Kejuruan. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan: Jakarta : Kemdikbud.



Contoh PTS Pengawas Sekolah (Bab IV-V)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 Pada bagian ini dipaparkan hasil pelaksanaan tindakan /temuan penelitian  sesuai dengan  prosedur penelitian yang dilaksanakan

A. Deskripsi  Siklus I
1. Perencanaan
Sesuai dengan rumusan masalah dalam penelitian ini, disusun rencana tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus I sebagai berikut:
a. Menyusun panduan pelaksanaan  workshop;

b. Menyusun Rencana Pelaksanaan Workshop (RPW) untuk tiap pertemuan;

c. Merencanakan pendekatan/strategi dan metode pelaksanaan workshop;

d.Mempersiapkan handout dan materi tanyangan dalam benruk powerpoint;

e. Menyusun lembar observasi atau lembar pengamatan selama kegiatan;

f. Menyusun tugas-tugas kelompok dan individual;

g. Menyusun pre-tes dan postes untuk melihat perkembangan kemampuan setelah diberikan tindakan.

h. Mempersiapkan catatan-catatan dan media  yang diperlukan dalam kegiatan.


2. Pelaksanaan
Pada pertemuan I dilaksanakan pada hari Kamis, 13 September  2012 mulai pukul 8.00 s.d 12.00 WIB dengan jumlah peserta yang hadir 24 orang.  Peneliti membuka kegiatan dengan memberikan pengarahan tentang sekenario dan ruang lingkup materi workshop,  kemudian peneliti memberikan pre tes  untuk mengetahui  kemampuan awal guru tentang materi pembelajaran matematika realistik.

Kegiatan dilanjutkan dengan braimstorming (curah pendapat) tentang pembelajaran matematika realistik sekaligus uraian materi  tentang pendekatan pembelajaran matematika realistik: Pengertian, tujuan, prinsip, langkah-langkah pelaksanaan, kelebihan dan kelemahan yang harus diantisipasi agar dapat diminimalkan.  Selesai penjelasan peneliti membuka pertanyaan tentang materi yang disajikan, dalam hal ini ada lima pertanyan yang menjadi topik dalam diskusi berkaitan dengan materi pembelajaran matematika realistik yang mengarah kepada beda pembelajaran matematika realistik dengan pembelajaran yang selama ini diterapkan.

Setelah pertanyaan tidak ada lagi peneliti membagi kelompok diskusi menurut tingkat kelas mengajar di sekolah, yaitu kelompok guru yang mengajar di kelas X (kelompok A), XI (kelompok B) dan kelas XII (kelompok C)  pengelompokan ini dimaksudkan untuk mempermudah pembahasan materi dan pemberian bimbingan maka sengaja dikelompokkan menurut jenjang mengajarnya, kemudian  diberikan tugas kelompok dalam menjawab pertanyaan seputar teori pembelajaran matematika realistik, dan akhir kegiatan ini peneliti memberikan resume pembelajaran.   

Pertemuan II dilaksanakan pada hari Kamis, 20 September 2012 mulai  pukul 8.00 s.d 12.15 WIB dengan jumlah yang hadir 23 orang sakit 1 orang. Setelah peneliti membuka kegiatan peserta dipersilahkan bergabung dengan kelompoknya menurut tingkat kelas mengajar di sekolah, yaitu kelompok guru yang mengajar di kelas X, XI dan kelas XII seperti pada pertemuan I.

Masing-masing kelompok diminta untuk menampilkan tugasnya terkait dengan ciri-ciri pendekatan matematika realistik  dan perbedaannya dengan pendekatan matematika mekanistik, empiristik, strukturalis dimana  kelompok lain menanggapinya.  Peneliti membagikan  hand out (bahan ajar) kepada masing-masing peserta untuk dipelajari/dibahas secara individu dalam kelompoknya masing-masing berkaitan dengan perencanaan pembelajaran matematika realistik.

Peneliti melanjutkan dengan penjelasan tentang teori pembelajaran matematika realistik dengan bantuan powerpoint, kepada peserta dianjurkan untuk bertanya berkaitan dengan materi tersebut. Ada 4 pertanyaan yang diajukan kepada peneliti berkaitan dengan pembelajaran perencanaan pendekatan matematika realistik dan pertanyaan tersebut menjadi topik diskusi karena sebelum peneliti menjawab terlebih dahulu diminta tanggaban dari kelompok lain.

Selanjutnya peneliti memberikan tugas kelompok menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran matematika realistik dan mengacu pada Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses, karena alokasi waktu tidak mencukupi maka kegiatan ini dilanjutkan diluar pertemuan. Pertemuan III dilaksanakan pada hari Kamis, 27 September  2012 dengan jumlah yang hadir 24 orang.

Materi yang dibahas adalah diskusi tentang RPP pembelajaran matematika realistik dan perakitan tes sesuai dengan indikator yang dirumuskan dalam RPP. Peneliti memberikan bimbingan kepada kelompok secara bergilir sambil merespon setiap pertanyaan yang diajukan. Kelihatannya kegiatan ini cukup efektif karena peserta antusias untuk berdikusi Peneliti meminta agar salah satu kelompok menampilkan hasil pekerjaannya kemudian kelompok lain menanggapinya.

Dalam hal ini yang tampil adalah kelompok yang mengajar di kelas XI. Setelah pemaparan hasil oleh kelompok yang mengajar di kelas XI atau kelompok B diberikan kepada kelompok A dan C untuk menanggapi, dalam hal ini terjadi diskusi yang intensif, terjadi sedikit perdebatan tentang model RPP, sehingga peneliti meminta kelompok C menampilkan RPP yang disusun sebagai pembanding.

Dari dua RPP yang ditampilkan secara subtansi tidak ada perbedaan tapi dalam urutan langkah-langkah pembelajaran ada perbedaan disebabkan model pembelajaran yang digunakan kedua kelompok tidak sama. Kelompok A menggunakan pendekatan problem basic learning sedangkan kelompok C mengarah ke model pembelajaran inquiri.

Peneliti bersama dengan peserta workshop mencermati kedua RPP apakah didalamnya tergambar matematika realistik. Langkah selanjutnya peneliti memberikan kesimpulan-refleksi  terhadap materi yang dibahas pada pertemuan tersebut.    Pertemuan III ini diakhiri dengan memberikan tes untuk melihat sejauh mana penguasaan peserta menguasai materi yang dipelajarinya.

2. Observasi

Sesuai dengan tujuan penelitian ini, dalam rangka peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran matematika realistik  melalui workshop  MGMP, maka pemantauan dilakukan melaui :

a. Lembaran pengamatan terhadap kegiatan workshop
Pengamatan dilakukan oleh peneliti selama berlangsungnya kegiatan workshop dengan bantuan lembar observasi   . Pada pertemuan I, terlihat masing-masing peserta serius dalam mengerjakan pre tes. Setelah kegiatan pre tes selesai,  curah pendapat dibuka peneliti berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran tuntas ada 3 orang peserta yang memberikan tanggabannya, dilanjutkan penjelasan-penjelasan dari peneliti dengan bantuan power poin, dalam hal ini ada 5 orang peserta yang bertanya tentang materi yang dijelaskan. Peneliti  mencoba melempar pertanyaan tersebut kepada peserta  lain untuk ditanggapi, ada 3 peserta yang  memberikan jawabannya. 

Peneliti menguatkan jawaban yang diberikan peserta.  Ketika diskusi peserta cukup aktif terutama diskusi tentang prinsip pembelajaran matematika realistik, hal ini disebabkan peserta belum pernah membahas materi yang berkaitan dengan matematika realistik, walaupun istilah itu sudah lama mereka dengar namun bagaimana teori pembelajaran tersebut belum dipahami. 

Dalam pertemuan II, ketika masing-masing kelompok  menampilkan tugasnya banyak diwarnai beberapa kritikan dan masukan dari kelompok lain yang cukup memperkaya pemahaman peserta tentang materi pembelajaran matematika realistik tercatat ada 6 masukan/saran  berkaitan dengan pengertian, tujuan, prinsip yang digunakan dalam pembelajaran matematika realistik. Kegiatan   dilanjutkan dimana masing-masing peserta bekerja didalam kelompoknya.

Ketika mempelajari/mendalami materi melalui lembaran yang ada , tergambar  bahwa perhatian peserta cukup tinggi.  Keaktifan masing-masing peserta maupun kelompok untuk terlibat diskusi dan diantara kelompok  ada sedikit perdebatan mengenai  materi yang dibahas.  Dalam pertemuan ini dapat dikatakan bahwa partisipasi peserta dalam bertanya atau menanggapi pertanyaan kelompok lain cukup aktif dan perlu dipertahankan.

Mengakhiri pertemuan tatap muka dalam pertemuan II ini, peneliti memberikan tugas yang berkaitan dengan  perbedaan  pembelajaran matematika realistik dengan pembelajaran matematika mekanistik dan strukturalis secara berkelompok. Tugas yang diberikan peneliti kepada peserta dikerjakan diluar kegiatan workshop  dan peneliti memintanya untuk diserahkan minggu berikutnya.

Dalam  pertemuan III,  hasil observasi yang dilakukan peneliti bahwa diskusi terlaksana cukup efektif , peneliti melakukan pembimbingan terhadap kelompok  . Kelompok yang tampil untuk presentasi kerjanya adalah  kelompok peserta yang mengajar di kelas XI, sedangkan kelompok lain memberikan tanggabannya.

Kelihatannya kegiatan ini cukup produktif karena masing-masing kelompok memberikan argumentasinya. Pertemuan III diakhiri dengan memberikan tes untuk melihat kemajuan peserta selama mengikuti kegiatan.

 b. Format penilaian hasil kegiatan guru dalam workshop
   Tabel 4.Hasil pre tes dan postes pada siklus I

Nilai
Pre tes
Tes siklus I
% Peningkatan
Rata-rata
34,34
59,50
25,16
Tertinggi
43
69
18
Terendah
16
35
19

Hasil tes awal yang diberikan menunjukkan bahwa, paling tinggi tingkat penguasaan oleh guru sebesar 43 % dan paling rendah 16 %, rata-rata tingkat penguasaanya adalah 34,34 %. Data tersebut menunjukkan bahwa peserta worshop telah memiliki pengetahuan dan pemahaman awal tentang pembelajaran matematika relistik. Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh sebagian besar telah mengikuti pelatihan tentang yang berkaitan dengan pembelajaran matematika realistik

Setelah diadakan tindakan sesuai dengan rencana, maka diperoleh tingkat penguasaan guru paling tinggi 69 %, dan paling rendah 35 %, sedangkan rata-rata tingkat penguasaan adalah 59,50 %, berarti telah terjadi kenaikan  rata-rata tingkat penguasaan rata-rata sebesar 25,16 %. Disamping itu hasil observasi menunjukkan bahwa jalannya diskusi cukup aktif dan keterbukaan peserta untuk mengajukan pertanyan dan respon terhadap pertanyaan yang muncul cukup baik.

6. Refleksi
Kegiatan workshop yang dilakukan oleh peneliti terlaksana sebagaimana yang diharapkan atau sesuai dengan rencana tindakan yang ditentukan. Pembentukan kelompok yang dilakukan berdasarkan tingkat kelas dimana guru itu mengajar cukup berpengaruh terhadap kegiatan diskusi.

Hal tersebut disebabkan rasa tanggungjawab akan tugasnya, Penyusunan rencana pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran di kelas.  Selanjutnya aktifitas antar kelompok  terlihat cukup produktif ketika  satu kelompok menampilkan hasil kerjanya sedangkan kelompok lain menanggapinya. Namun dilihat dari hasil kegiatan/belajar peserta belum sesuai dengan yang diharapkan atau belum mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan.

Pada umumnya peserta belum memahami dan menguasai dengan sempurna langkah-langkah pendekatan matematika realistik dan pemilihan soal-soal matematika yang tepat.

Untuk menyempurnakan kemampuan peserta  secara utuh tentang pembelajaran matematika realistik dibutuhkan tindakan berikutnya dalam siklus II, dengan kegiatan seperti berikut:

a. Mempertahankan kelompok yang sudah ada, karena terlihat aktifitas dalam kelompok cukup tinggi.
b. Setiap kelompok diberi kesempatan dalam kelompoknya masing-masing untuk menyempurnakan tugas/latihan untuk memperbaiki kekurangan atau kesalahannya.
c. Pengaturan waktu yang lebih efektif sehingga rencana yang disusun dapat terlaksana.
d. Bimbingan intensif secara individu kepada guru yang mengalami kesulitan. Sehingga dengan demikian guru akan memperoleh pemahaman dan memiliki kemampuan yang sempurna dalam penyusunan rencana pembelajaran dan pelaksanaannya.

B. Deskripsi Siklus II

1. Perencanaan
Berdasarkan refleksi tentang proses dan hasil belajar yang dikemukakan pada siklus I, disusunlah sekenario pembelajaran pada siklus II. Dengan harapan terjadi perubahan signifikan terhadap kesempurnaan proses dan kemampuan peserta workshop berkelanjutan  dalam melaksanakan pendekatan  matematika realistik.  Jika hal ini dapat terlaksana dan dapat dicapai dengan baik, serta sesuai dengan indikator yang diharapkan berarti terjadinya peningkatan kemampuan peserta dalam melaksanakan pembelajaran matematika realistik.

Adapun rencana tindakan yang akan dilakukan adalah:

a.Menyusun rencana pelaksanaan workshop (RPW) untuk 3 kali pertemuan berikutnya;
b. Menyiapkan materi workshop dalam bentuk powerpoin dan hand out sebagai bahan yang akan disampaikan/dijelaskan kepada guru,
c. Menyiapkan tugas/latihan yang akan  dibagikan kepada masing-masing peserta  untuk dikerjakan, dengan harapan melalui latihan yang diberikan kemampuan guru dalam pembelajaran matematika realistik semakin meningkat.
d. Mempertahankan kelompok diskusi seperti pada siklus I
e. Menyiapkan instrumen pengamatan  proses pembelajaran dan penilaian . Format penilaian kemampuan menyusun bahan ajar cetak juga dipakai pada siklus I
f. Memberikan penjelasan/menyajikan materi yang telah dituangkan dalam bentuk powerpoint, mengajukan  dan merespon pertanyaan peserta.
g. Melaksanakan bimbingan kelompok, braimstorming serta memberikan motivasi terhadap peserta.

2. Pelaksanaan
Pertemuan ke IV dilaksanakan pada hari Kamis, 18 Oktober  2012 pukul 8.00 s.d 12.00 WIB. Langkah awal yang dilakukan oleh peneliti adalah membuka kegiatan , curah pendapat tentang keiatan yang telah dilaksanakan  kemudian  menyajikan materi yang telah disusun dalam bentuk power poin tentang menyusun rencana pembelajaran matematika relistik dan penerapannya di kelas. Setelah materi disajikan diberikan kesempatan untuk tanya jawab.

Tanya jawab hanya sekitar 10 menit dan dilanjutkan dengan mempersilahkan peserta menempati   posisi kelompoknya maka peneliti membagikan tugas/latihan untuk dikerjakan masing-masing masing kelompok.Tugas kelompok adalah menyusun RPP mini dengan durasi waktu 2 x 45 menit yang ditampilkan oleh salah satu anggota kelompok tentang penerapan matematika realistik. 

Dalam kelompok terjadi interaksi  sesama anggota kelompok dan peneliti berkeliling memberikan bimbingan intensif kepada  guru yang mengalami kesulitan. Pertanyan yang muncul dari kelompok dipersilahkan peneliti untuk dijawab kelompok lain sebelum ke peneliti, Untuk mengerjakan tugas tersebut kelihatannya tidak mencukupi waktu, artinya waktu yang tersedi dalam pertemuan tersebut sudah habis.

Pertemuan IV diakhiri dan peneliti menyampaikan bahwa penyelesaian tugas tersebut dikerjakan diluar pertemuan dan masing-masing kelompok menyepakati salah satu anggotanya untuk menerapkan RPP matematika realistik.

Pertemuan V dilaksanakan pada hari Kamis, 18 September 2012  pukul 8.00 s.d 12.00 WIB dengan jumlah yang hadir 24 orang , tindakan yang dilakukan adalah presentasi masing-masing kelompok bentuk micro teaching dengan materi penerapan pembelajaran tuntas yang dilanjutkan dengan Tanya jawab antara kelompok yang tampil dengan kelompok penanggab (belum tampil) kemudian diskusi tentang hal-yang yang sudah baik untuk dipertahankan dan hal-hal yang harus diperbaiki, peneliti bertindak sebagai fasilitator dan moderator.

Berdasarkan kesepakatan antar kelompok disepakati kelompok guru yang mengajar di kelas XII (kelompok C) yang duluan tampil. Ketika utusan kelompok tampil melaksanakan pembelajaran matematika realistik dengan RPP yang disusun kelompok C, maka yang lain berperan sebagai peserta didik.

Agar ada waktu untuk mendiskusikan  hasil penampilan masing-masing kelompok maka disepakati durasi waktu tampil  tiap kelompok adalah 2 x 30 menit. Setelah kelompok C tampil maka diberi untuk masing-masing A dan B memberi tanggaban berkaitan dengan perencanaan yang disusun dan pelaksanaan pembelajaran matematika realistik. Tercatat ada 2 pertanyaan dari kelompok A dan 3 berupa saran, sedangkan kelompok B menyampaikan 3 pertanyaan dan 1 saran. Peneliti mempersilahkan kelompok yang tampil untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Terlihat diskusi intensif dan bersemangat, namun karena waktu terbatas maka peneliti memberikan ulasan umum dan saran-saran perbaikan. Penampilan dua kelompok berikutnya akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Pertemuan VI  yang merupakan pertemuan akhir siklus ke II dilaksanakan pada hari Kamis, 25 September  2012 pukul 8.00 s.d 12.00 WIB, peserta yang hadir sebanyak 24 orang. Pada pertemuan ini peneliti membuka kegiatan dan memberikan semangat agar tetap termotivasi dalam melanjutkan kegiatan workshop dengan harapan peserta semua dapat menerapkan pembelajaran realistik di sekolah masing-masing sesuai dengan karakteristik materi dan peserta didik. Pada pertemuan enam dilanjutkan dengan menampilkan kelompok A dan B.

Peneliti mengusahakan agar semua tampil karena inti kegiatan adalah penerapan pembelajaran matematika realistik. Kelompok yang pertama menampilkan pembelajaran matematika realistik adalah kelompok A dengan durasi waktu tetap 2 x 30 menit setelah selesai penampilan utusan kelompok A diberi kesempatan kepada kelompok B dan C untuk memberikan masukan atau saran dan pertanyaan.

Dari kelompok B ada satu pertanyaan dan dua saran, sedangkan kelompok C ada tiga saran. Selanjutnya peneliti memberi penguatan dan saran-saran perbaikan. Kelompok yang terakhir tampil adalah kelompok B, dengan penampilan kelompok B peneliti berharap peserta workshop sudah semakin terampil dalam menerapkan matematika realistik.

Durasi waktu yang digunakan adala 2 x 30 menit, setelah penampilan  kelompok B maka kelompok A mengajukan satu saran perbaikan dan kelompok C memberikan satu saran.  Setelah penampilan ketiga kelompok peneliti memberikan penguatan dan masukan perbaikan dan pengembangan. Dan  sebelum kegiatan berakhir peneliti memberikan tes untuk melihat kemajuan kemampuan peserta tentang pembelajaran matematika relistik.

3. Observasi

Sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu mengupayakan agar terjadi peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan  pembelajaran matematika realistik  melalui workshop pada  MGMP maka pemantauan dilakukan melalui:

a. Lembaran pengamatan terhadap kegiatan  workshop
Proses pembelajaran yang dilakukan peneliti berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana yang ditetapkan, tidak ada kendala yang berarti. Tiap kelompok diberi kesempatan untuk mengekspresikan pendapatnya terhadap tugas yang dikerjakan kelompok lain.

Tanya jawab terbuka secara aktif dan kendala terhadap pengaturan waktu pada siklus I telah teratasi pada sikulus II. Frekuensi bertanya antar kelompok maupun  kepada peneliti meningkat dari siklus I khususnya terhadap penerapan pembelajaran matematika realistik yang ditampilkan masing-masing kelompok.

Bimbingan intensif yang diberikan peneliti terhadap masing-masing kelompok pada siklus II ini  sangat membantu guru untuk memahami materi dan menerapkannya.
b. Format penilaian hasil kegiatan workshop

   Tabel 5.   Hasil tes pada siklus I dan siklus II

Nilai
Tes siklus I
Tes siklus II
 Peningkatan
Rata-rata
59,50
77,26
17,76
Tertinggi
69
88
19
Terendah
35
65
30

Setelah diadakan tindakan sesuai dengan rencana pada siklus II ini, maka diperoleh tingkat penguasaan guru paling tinggi 88 % dan paling rendah 65 %, rata-rata tingkat penguasaan adalah 78,26%. Mencermati data tersebut, berarti bahwa apabila dibandingkan dengan tingkat penguasaan rata-rata siklus I dan II terjadi kenaikan tingkat penguasaan rata-rata sebesar 17,76. Data-data tersebut menunjukkan bahwa indikator keberhasilan yang ditetapkan sebesar 75% , sudah tercapai bahkan sudah terlampaui.

Tetapi apabila dilihat dari penguasaan individu, hanya 3 orang atau 12,50% guru yang tidak mencapai tingkat penguasaan sesuai indikator yang ditentukan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan  pembelajaran matematika realistik melalaui workshop MGMP berhasil secara sifnifikan.

4. Refleksi
 Mencermati hasil yang diperoleh baik dari segi proses maupun hasil belajar/kegiatan maka sampai siklus II kelihatannya tindakan yang dilakukan sudah mencapai hasil yang memuaskan. Dalam kegiatan workshop yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran matematika realistik.

Peserta  mengikuti kegiatan dengan antusias, secara individu maupun kelompok  menunjukkan partisipasi yang cukup baik selama kegiatan workshop, terjadi interaksi diantara sesama peserta  maupun dengan peneliti yang cukup produktif. Fenomena ini memberi pengaruh terhadap hasil yang dicapai , sehingga target yang telah ditentukan berupa indikator keberhasilan dapat tercapai bahkan terlampaui.

Secara kuantitatif, rata-rata tingkat penguasaan peserta terhadap materi dan praktik adalah 78,26 %. Jumlah guru yang telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan mencapai 78,26 %.  Keadaan ini memberikan makna bahwa tindakan berupa workshop  MGMP untuk siklus III sudah tidak diperlukan lagi.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian seperti dikemukakan pada bagian terdahulu, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Workshop penerapan Matematika realistik di MGMP SMA untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran matematika realistik cukup efektif, dapat  membuat  guru lebih aktif , kreatif dan antusias dalam kegiatan. Hasil belajar yang dicapai menunjukkan peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran tuntas secara signifikan.  .

2. Kegiaan workshop di  MGMP  sebaiknya dikelola dengan bentuk diskusi kelompok , curah pendapat , tanya jawab serta diberi kesempatan untuk menampilkan hasil pekerjaannya. Peneliti hendaknya bertindak sebagai fasilitator dan diberi peluang kepada peserta untuk sharing. Perlu dihindari pola menggurui atau berceramah karena hal itu membuat mereka tidak betah bertahan mengikuti kegiatan.

B. Saran

Berdasarkan simpulan di atas, peneliti menyarankan hal-hal seperti berikut;
1. Apabila pengawas/peneliti  melakukan pembinaan di MGMP, maka kegiatan sebaiknya direncanakan berupa workshop dan dikelola dalam bentuk diskusi, curah pendapat, tanya jawab. Berikan kesempatan untuk peserta untuk menampilkan hasil kerjanya dan mengkritisi pekerjaan kelompok lain. Hindari menggurui atau ceramah tapi lebih baik bertindak sebagai fasilitator.

2. Dalam rangka meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran tuntas  bagi mata pelajaran lain disarankan untuk melakukan pembinaan melalui workshop  MGMP karena kehadiran guru di MGMP cukup cepat memberikan informasi kepada guru lain di tempat mengajar yang sama. Hendaknya dilakukan secara dengan perencanaan yang matang sehingga tujuan yang dicapai dari kegiatan workshop itu dapat dicapai.