Alasan Penolakan Karya Tulis Pengawas Sekolah

Pada artikel sebelumnya sudah dijelaskan alasan penolakan karya tulis pengawas sekolah yang berkaitan dengan kriteria APIK (Asli, Perlu, Ilmiah dan Konsisten). Selanjutnya akan dibahas alasan penolakan karya ilmiah pengawas sekolah yang berkaitan dengan teknis seperti susunan, kelengkapan lampiran, kelengkapan tanda tangan, seminar dan lain-lain seperti dijelaskan di bawah ini. 

A. Buku laporan hasil penelitian yang diterbitkan secara nasional

1. Dinyatakan sebagai Buku hasil penelitian yng diterbitkan secara Nasional akan tetapi tidak ada bukti fisik yang menunjukkan hal itu misalnya tidak disahkan oleh BSNP atau Puskurbuk

Disarankan untuk melengkapi bukti fisik yang sesuai dengan kriteria, misalnya buku harus ber ISBN, dan ada bukti pengesahkan PUSKURBUK/BSNP

Baca Juga: Mengapa Karya Ilmiah Pengawas Ditolak?

2. Dinyatakan sebagai buku hasil Penelitian diterbitkan secara Nasional akan tetapi kerangka isi buku belum mengikuti kerangka isi penelitian

Disarankan untuk membuat pubikasi ilmiah baru yang sesuai tupoksi pengawas atau membuat buku baru dengan kerangka yang disesuikan denga kerangka laporan  penelitiannya

B. Makalah Hasil penelitian yang dimuat di Jurnal Ilmiah Nasional terakreditasi

1. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah dalam jurnal ilmiah namun belum ada ISSN, tidak jelas tingkat peredarannya, waktu terbitnya, dan/atau jumlah artikel dalam satu jurnal. Selain itu dalam jurnal tidak ditemukan SK Jurnal terakreditasi Nasional

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

2. Dinyatakan sebagai artikel dimuat dijurnal ilmiah terakreditasi nasional, namun juranl tersebut kurang atau tidak memenuhi syarat sebagai jurnal ilmiah terakreditasi/sebagai jurnal ilmiah

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru yang berisi aau mempermasalhkan permasalahan nyata di bidang pendidikan formal atau di sekolaah binaannya sesuai dengan tugas pengawas yang bersangkutan.

C. Laporan Hasil Penelitian Umum (Penelitian selain PTS)

1. Laporan hasil penelitian belum disajikan dengan kerangka dan sajian isi yang sesuai.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, atau memperbaiki laporan hasil penelitiannya dengan menggunakan kerangka isi sebagai berikut:

Bagian Awal  yang  terdiri dari: halaman judul; lembaran persetujuan; kata pengantar; daftar isi, daftar label, daftar gambar dan lampiran, serta abstrak atau ringkasan.

Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:

Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian;

Bab Kajian Teori / Tinjauan Pustaka;  

Bab Metode Penelitian;

Bab  Hasil-hasil dan Diskusi Hasil Penelitian;, serta

Bab Kesimpulan dan Saran.

Bagian Penunjang sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang selengkap-lengkapnya (seperti instrumen yang digunakan, contoh hasil kerja subyek penelitian, contoh isian instrumen, foto-foto kegiatan, surat ijin penelitian, dan dokumen pelaksanaan penelitian lain yang menunjang keaslian penelitian tersebut);

2. Laporan hasil penelitian namun latar belakang masalah tidak jelas sehingga tidak dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas. Latar belakang masalah penelitian harus dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas dan  hubungan masalah tersebut dengan upaya  Pengawas dalam  mengembangkan profesinya. Latar belakang masalah juga harus didukung oleh fakta spesifik yang berkaitan dengan masalah yang nyata terjadi di sekolah binaannya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Laporan hasil penelitian namun rumusan masalah tidak jelas sehingga kurang dapat diketahui apa sebenarnya yang akan diungkapkan pada publikasi ilmiah nya. Rumusan masalah harus benar-benar dapat menunjukkan variabel-variabel apa saja, dan bagaimana hubungan antar variablel tersebut yang akan dikaji dalam penelitian. Rumusan masalah hendaknya mampu memberikan gambaran yang jelas apa sebenarnya yang akan dikaji pada penelitian tersebut.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

4. Laporan hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) kebenarannya tidak terdukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta  dan kebenaran analisisnya, dan atau (b) metode penelitian,  sampling,  data, analisis hasil yang tidak /kurang  benar.

Kajian teori atau kajian hasil-hasil penelitian terdahulu hendaknya sesuai dengan variabel-variabel penelitian. Metode penelitian, sampling dan analisis hasil harus dapat mendukung ketercapaian hasil penelitian.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

5. Isi laporan hasil penelitiannya tidak atau kurang jelas mengungkapkan  laporan kegiatan yang dilakukan Pengawas  pada bidang pendidikan yang telah dilaksanakan Pengawas di sekolah dan  sesuai dengan tupoksinya,

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

6. Dinyatakan sebagai laporan penelitian pendidikan namun berisi pembahasan isi/materi pelajaran atau berupa penelitian keilmuan di bidang studi  tertentu dan  tidak terkait dengan kegiatan nyata yang bersangkutan dalam kegiatan pengembangan profesinya sebagai Pengawas dalam proses pembelajaran.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

7. Laporan penelitian berupa  laporan hasil penelitian perbandingan  tetapi, (a) tidak jelas kegiatan nyata apa yang telah dilakukan Pengawas dalam kegiatan penelitian pembandingan tersebut dalam kaitannya kegiatan pengembangan profesi., (b) bahasan hanya sebatas membandingkan  variabel yang telah jelas jawabannya dan tidak berkaitan dengan tindakan profesional Pengawas dalam peningkatan profesinya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

8. Dinyatakan sebagai laporan penelitian deskriptif, namun : (a) tidak jelas manfaat apa yang dihasilkan Pengawas sesuai dengan pengembangan profesinya, (b) bahasan hanya sebatas mendeskripsikan data tentang dalam kaitannya dengan sesuatu keadaan.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

9. Dinyatakan sebagai laporan penelitian laporan penelitian korelasi, tetapi, (a) tidak jelas manfaat apa yang telah dihasilkan sesuai dengan kegiatan pengembangan profesi, (b) bahasan hanya sebatas mengkorelasikan variabel-variabel yang telah jelas jawabannya, dan tidak berkaitan dengan tindakan professional Pengawas dalam peningkatan profesinya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

10. Dinyatakan sebagai penelitian eksperimen, belum dapat diterima karena tidak mengikuti kaidah penulisan laporan penelitian eksperimen. Penentuan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak tepat, dan pelaksanaan perlakuannya tidak jelas.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

11. Secara umum isi laporan penelitian ini telah cukup baik. Namun beberapa lampiran penting belum dilampirkan, untuk itu  segera di lampirkan.

Disarankan untuk memperbaiki melengkapi lampiran-lampirannya. Dokumen pelaksanaan penelitian yang harus dilampirkan paling tidak adalah: (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, (b) contoh pengisian  instrumen oleh responden (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, analisis perhitungan, surat ijin,  foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

D. Laporan PTS

1. Dinyatakan sebagai laporan PTS, namun:  tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan, juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuan siklus-siklus berikutnya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

2. Dinyatakan sebagai laporan PTS, namun apa yang dijelaskan dalam laporan tersebut hanya berupa  laporan pembelajaran yang  biasa, tidak ada tindakan yang merupakan pembaharuan dari kegiatan yang biasa dilakukan, tahapan dalam siklus sama dengan tahapan pembelajaran biasa. PTS bukan pembelajaran biasa tetapi merupakan proses mencoba dan menganalisis penggunaan metode baru yang  diutamakan bukan hanya hasil tetapi prosesnya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Publikasi ilmiah yang diajukan berupa penelitian tindakan Sekolah, namun  (a) metode penelitian belum mengemukakan tahapan dan tindakan tiap siklus dan indikator keberhasilannya, (b) pada laporan hasil dan pembahasan belum melaporkan data lengkap tiap siklus, perubahan yang terjadi pada subyek, Pengawas atau sekolah binaan serta bahasan terhadap keseluruhan hasil penelitian dan (c) lampiran belum lengkap.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, atau memperbaiki laporan hasil penelitiannya dengan menggunakan kerangka isi sebagai berikut:

Bagian Awal  yang  terdiri dari: halaman judul; lembaran persetujuan; kata pengantar; daftar isi, daftar label, daftar gambar dan lampiran, serta abstrak atau ringkasan.

Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:

Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian;

Bab Kajian Teori/ Tinjauan Pustaka;  

Bab Metode Penelitian;

Bab  Hasil-hasil dan Diskusi Hasil Penelitian; serta

Bab Simpulan dan Saran-Saran.

Bagian Penunjang sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang selengkap-lengkapnya (seperti instrumen yang digunakan, contoh hasil kerja subyek penelitian, contoh isian instrumen, foto-foto kegiatan, surat ijin penelitian, dan dokumen pelaksanaan penelitian lain yang menunjang keaslian penelitian tersebut).

4. Secara umum isi laporan PTS  ini telah cukup baik. Namun beberapa lampiran penting belum dilampirkan, untuk itu agar segera dilampirkan.

Disarankan untuk memperbaiki, melengkapi lampiran-lampirannya. Dokumen pelaksanaan penelitian yang harus dilampirkan paling tidak adalah: (a) semua Rencana untuk semua siklus, (b) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, (c) contoh hasil kerja subyek penelitian dan Pengawas  (d) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti misalnya, surat ijin,  foto-foto kegiatan beserta penjelasannya, daftar hadir untuk semua pertemuan, surat pernyataan dari kepala sekolah mengenai berita acara seminar, dan lain-lain.

5. Laporan PTS belum diseminarkan.

Disarankan untuk segera melakukan seminar disekolah penulis dengan mengundang 2 sekolah binaan dengan jumlah peserta seminar minimal 10 orang pengawas, 5 orang pengawas dan memenuhi segala kelengkapan kegiatan seminar di antaranya surat keterangan dari kepala sekolah dan panitia seminar, berita acara seminar, daftar hadir, notulen seminar dan persyaratan lain sesuai dengan aturan. 

E.  Buku Hasil Gagasan yang diterbitkan secara Nasional

Alasan penolakan dan saran : 

1. Dinyatakan sebagai Buku hasil gagasan yng diterbitkan secara Nasional akan tetapi tidak ada bukti fisik yang menunjukkan hal itu misalnya tidak disahkan oleh BSNP atau Puskurbuk

Disarankan untuk melengkapi bukti fisik yang sesuai dengan kriteria, misalnya buku harus ber ISBN, dan ada bukti pengesahkan PUSKURBUK/BSNP

F. Makalah Hasil Gagasan yang dimuat di Jurnal Ilmiah terakreditasi

1. Dinyatakan sebagai artikel dimuat dijurnal ilmiah terakreditasi nasional, namun juranl tersebut kurang atau tidak memenuhi syarat sebagai jurnal ilmiah terakreditasi/sebagai jurnal ilmiah. Selain itu dalam jurnal tidak ditemukan SK Jurnal terakreditasi Nasional

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru yang berisi aau mempermasalhkan permasalahan nyata di bidang pendidikan formal atau di sekolaah binaannya sesuai dengan tugas pengawas yang bersangkutan.

2. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah, namun isinya hanya berupa laporan penelitian biasa yg hanya mengkorelasikan, membandingkan hal-hal yang tidak bermanfaat dalam pembelajaran dan pengembangan profesi Pengawas serta Tidak ditemukan Gagasan atau Ide Pengawas yang bersangkutan

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah hasil gagasan dalam jurnal ilmiah namun belum ada ISSN, tidak jelas tingkat peredarannya, waktu terbitnya, dan/atau jumlah artikel dalam satu jurnal.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

G. Buku Hasil Gagasan tidak diterbitkan secara nasional

Alasan Penolakan dan Saran :

1. Dinyatakan sebagai Buku hasil gagasan yng diterbitkan tidak secara Nasional akan tetapi tidak ada bukti fisik yang menunjukkan hal itu misalnya tidak ada ISBN

Disarankan untuk melengkapi bukti fisik yang sesuai dengan kriteria, misalnya buku harus  ber ISBN

2. Dinyatakan sebagai buku hasil gagasan yang tidak diterbitkan secara nasional akan tetapi isinya diluar bidang Kepengawasan dan diluar Bidang Pendidikan dan Pembelajaran

Disarankan membuat publikasi ilmiah baru  yang sesuai dengan Pengembangan Profesi Pengawas di sekolah binaan Pengawas yang bersangkutan

G. Makalah Gagasan Ilmiah di jurnal tingkat Regional/Tidak terakreditasi Nasional atau Makalah Tinjauan Ilmiah

1. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah hasil gagasan dalam jurnal ilmiah namun belum ada ISSN, tidak jelas tingkat peredarannya, waktu terbitnya, dan/atau jumlah artikel dalam satu jurnal.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

2. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah, namun isinya hanya berupa laporan penelitian biasa yg hanya mengkorelasikan, membandingkan hal-hal yang tidak bermanfaat dalam pembelajaran dan pengembangan profesi Pengawas.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Dinyatakan sebagai Gagasan/Tinjauan Ilmiah, namun belum mengikuti sistematika penulisan dan alur berpikir ilmiah sebagai karya tinjauan ilmiah sesuai dengan pedoman.

Disarankan memperbaiki publikasi ilmiah  tersebut dengan memakai sistematika publikasi ilmiah  tinjauan ilmiah, yang paling tidak memuat:

  • Bagian Awal yang terdiri dari: halaman judul; lembaran persetujuan; kata pengantar; daftar isi, daftar label, daftar gambar dan lampiran, serta abstrak atau ringkasan.
  • Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:
  • Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah. 
  • Bab Kajian Teori/Tinjauan Pustaka.   
  • Bab Pembahasan Masalah yang didukung data-data yang ada di satuan pendidikannya. 

Yang sangat perlu disajikan pada bab ini adalah kejelasan ide atau gagasan asli  si penulis  yang terkait dengan upaya pemecahan masalah di satuan pendidikannya (di sekolah binaannya).

  • Bab  Kesimpulan.

Bagian Penunjang sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran tentang data yang dipakai untuk menunjang tinjauan atau gagasan ilmiah.

4. Dinyatakan sebagai Tinjauan Ilmiah, namun tidak dijumpai adanya data pendukung dan gagasan penulis dalam membahas/mengatasi masalah.

Disarankan memperbaiki publikasi ilmiah  tersebut dengan memakai sistematika publikasi ilmiah  tinjauan ilmiah, yang paling tidak memuat :

Bagian Awal yang terdiri dari: halaman judul; lembaran persetujuan; kata pengantar; daftar isi, daftar label, daftar gambar dan lampiran, serta abstrak atau ringkasan.

 Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:

  • Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah. 
  • Bab Kajian Teori/Tinjauan Pustaka.  
  • Bab Pembahasan Masalah yang didukung data-data yang ada di satuan pendidikannya. 

Yang sangat perlu disajikan pada bab ini adalah kejelasan ide atau gagasan asli  si penulis  yang terkait dengan upaya pemecahan masalah di satuan pendidikannya (di sekolah binaannya).

  • Bab Kesimpulan.

Bagian Penunjang sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran tentang data yang dipakai untuk menunjang tinjauan atau gagasan ilmiah.

5. Dinyatakan sebagai tinjauan ilmiah namun isinya terlalu luas, tidak terkait dengan tugas penulis dalam mengembangkan profesinya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada satuan pendidikannya/sekolah binaannya yang sesuai dengan tugas pengawas yang bersangkutan.

H. Karya Terjemahan yang diterbitkan jadi buku

Alasan penolakan dan saran:

1. Dinyatakan sebagai Buku hasil terjemahan yng diterbitkan secara Nasional akan tetapi tidak ada bukti fisik yang menunjukkan hal itu misalnya tidak disahkan oleh BSNP atau Puskurbuk

Disarankan untuk melengkapi bukti fisik yang sesuai dengan kriteria, misalnya buku harus ber ISBN, dan ada bukti pengesahkan PUSKURBUK/BSNP

2. Dinyatakan sebagai Buku hasil terjemahan yng diterbitkan tidak secara Nasional akan tetapi tidak ada bukti fisik yang menunjukkan hal itu misalnya tidak ada ISBN

Disarankan untuk melengkapi bukti fisik yang sesuai dengan kriteria, misalnya buku HARUS ber ISBN

3. Dinyatakan sebagai buku hasil terjemahan yang tidak diterbitkan secara nasional akan tetapi isinya diluar bidang Kepengawasan dan diluar Bidang Pendidikan dan Pembelajaran

Disarankan membuat publikasi ilmiah baru  yang sesuai dengan Pengembangan Profesi Pengawas di sekolah binaan Pengawas yang bersangkutan

4. Dinyatakan sebagai buku karya hasil terjemahan, namun belum mengikuti sistematika penulisan dari karya/buku yang diterjemahkan. 

Disarankan memperbaiki publikasi ilmiah  tersebut dengan memakai sistematika publikasi ilmiah  tinjauan ilmiah hasil terjemahan, yang disesuiakan dengan daftar isi karya yang diterjemahkan. 

5. Dinyatakan buku hasil terjemahan tetapi hanya menterjemahkan sebagian atau beberapa bab saja dari buku yang diterjemahkan.

Disarankan untuk Memperbaiki karya buku terjemahan tersebut dengan menterjemahkan seluruhnya dan menyesuiakan sistematika sesuai dengan daftar isi/sistematika buku yang diterjemahkan.

I. Makalah Terjemahan diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah

Alasan penolakan dan saran : 

1. Dinyatakan sebagai artikel terjemahan dimuat dijurnal ilmiah terakreditasi nasional, namun juranl tersebut kurang atau tidak memenuhi syarat sebagai jurnal ilmiah terakreditasi/sebagai jurnal ilmiah. Selain itu dalam jurnal tidak ditemukan SK Jurnal terakreditasi Nasional

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru yang berisi aau mempermasalhkan permasalahan nyata di bidang pendidikan formal atau di sekolaah binaannya sesuai dengan tugas pengawas yang bersangkutan.

2. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah hasil terjemahan, namun isinya hanya berupa laporan penelitian biasa yg hanya mengkorelasikan, membandingkan hal-hal yang tidak bermanfaat dalam pembelajaran dan pengembangan profesi Pengawas serta  Isinya tidak sesuai dengan karya yang diterjemahkan 

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Dinyatakan sebagai artikel ilmiah hasil terjemahan dalam jurnal ilmiah namun belum ada ISSN, tidak jelas tingkat peredarannya, waktu terbitnya, dan/atau jumlah artikel dalam satu jurnal.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

4. Dinyatakan sebagai tinjauan ilmiah hasil terjemahan namun isinya terlalu luas, tidak terkait dengan tugas penulis dalam mengembangkan profesinya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang  berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada satuan pendidikannya yang sesuai dengan tugas pengawas yang bersangkutan.

J. Alasan lain

1. Publikasi ilmiah sudah baik namun belum ada pengesahan terutama dari korwas

Untuk itu, segera dilengkapi dengan persetujuan/ pengesahan sesuai dengan pedoman. Terutama pengesahan dari Korwas.

2. Publikasi ilmiah  ini sudah cukup baik,  namun tidak jelas apa peran pengawas sekolah yang terkait dengan permasalahan yang dibahas dalam publikasi ilmiah -nya.

Disarankan untuk memperbaiki publikasi ilmiah  tersebut dengan menunjukkan dengan jelas dan rinci peran pengawas sekolah dalam permasalahan yang dibahas dalam publikasi ilmiah  tersebut.

Baca juga: Teknik dan Alat Pengumpulan Data 
















Mengapa Karya Ilmiah Pengawas Sekolah Ditolak ?

Tidak jarang pengawas sekolah mengeluh setelah mendapat informasi tertulis dari tim penilai pusat atau provinsi/kabupaten  bahwa karya tulis yang diajukan untuk naik pangkat belum dapat dinilai atau angka kreditnya nol. Kejadian seperti ini harusnya tidak perlu terjadi apabila pengawas sekolah bersangkutan memahami  syarat dan kriteria penilaian karya tulis pengawas yang dapat dinilai angka kreditnya. 

Dari pada kecewa tentang hasil penilaian bagi yang akan mengusulkan naik pangkat atau hasil karya tulisnya ditolak  sebaiknya perlu disiasati dan dipahami alasan-alasan karya tulis pengawas sekolah ditolak tim penilai dipropinsi maupun tim penilai pusat. 

Secara umum ada 2 bagian alasan penolakan, pertama terkait dengan kriteria bahwa karya tulis harus memenuhi APIK (Asli, Perlu, ilmiah dan Konsisten); kedua, terkait dengan teknis dan kelengkapan karya tulis seperti tanda tangan korwas, seminar , lampiran kurang lengkap dan lain-lain seperti dijelaskan di bawah ini. 

I. Penolakan yang berkaitan dengan Kriteria A P I K 

A. Terkait dengan alasan Keaslian

1 . Keaslian PUBLIKASI ILMIAH diragukan, sehubungan adanya berbagai data yang tidak konsisten seperti nama, nama sekolah, lampiran, foto dan data yang tidak sesuai.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, karya sendiri, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

2. Keaslian publikasi ilmiah  diragukan, sehubungan dengan waktu pelaksanaan kegiatan penelitian yang kurang wajar, terlalu banyak penelitian yang dilakukan dalam waktu yang terbatas (satu tahun maksimal dua penelitian).

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, karya sendiri, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Keaslian publikasi ilmiah diragukan, sehubungan   adanya  perbedaan kualitas, cara penulisan, gaya bahasa yang mencolok  di antara  karya-karya  yang dibuat oleh seorang Pengawas yang sama.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, karya sendiri, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

4. Keaslian publikasi ilmiah diragukan, sehubungan adanya terlalu banyak kesamaan mencolok di antara  publikasi ilmiah yang dinyatakan dibuat pada waktu yang berbeda. Seperti foto-foto, dokumen, surat pernyataan yang dinyataka dibuat dalam waktu yang berbeda, sama antara yang satu dengan yang lain.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, karya sendiri, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

5. Keaslian publikasi ilmiah diragukan, sehubungan adanya kemiripan yang mencolok dengan skripsi, tesis atau disertasi, baik mungkin karya yang bersangkutan maupun karya orang lain.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, karya sendiri, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan  yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

6. Keaslian publikasi ilmiah diragukan, sehubungan adanya   berbagai kesamaan mencolok dengan publikasi yang dibuat oleh orang lain, dari daerah yang sama, seperti di sekolah, kabupaten, kota, atau wilayah yang sama.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, karya sendiri, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

Baca juga: Cara Membuat Laporan Best Practice

B. Terkait dengan Alasan Perlu

1. Isi dari hal dipermasalahkan, merupakan tentang hal yang terlalu luas/terlalu umum, yang tidak terkait dengan permasalahan nyata yang ada di sekolah binaannya atau tidak ada hal yang berkaitan langsung dengan kegiatan ybs sebagai pegawas disekolah binaannya yang sesuai dengan tugas pengawas yang bersangkutan.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah  baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

2. Isi dari hal dipermasalahkan, merupakan kajian tentang hal spesifik bidang keilmuan, tidak terkait dengan permasalahan nyata yang ada di sekolah binaan atau tidak ada hal yang berkaitan langsung dengan kegiatan ybs sebagai Pengawas di sekolah binaan  yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Isi dari hal dipermasalahkan, merupakan kajian tentang hal di luar bidang pendidikan/pembelajaran, tidak terkait  dengan permasalahan nyata yang ada di sekolah atau tidak ada hal yang berkaitan langsung dengan kegiatan ybs sebagai Pengawas di sekolah binaan  yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

4. Isi dari hal dipermasalahkan, tidak termasuk dari macam publikasi ilmiah yang dapat diajukan untuk dinilai sebagai bagian kegiatan pengembangan Profesi, seperti misalnya RPP, contoh-contoh soal ujian, LKS, kumpulan kliping, dan sejenisnya.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berisi atau mempermasalahkan  permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

C. Terkait dengan Alasan Ilmiah

1. Kerangka penulisan dan isi sajian belum mengikuti kaidah yang umumnya digunakan dalam penulisan ilmiah.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan, dengan menggunakan kerangka penulisan dan isi sajian yang sesuai untuk suatu publikasi ilmiah.

D. Terkait dengan Alasan Konsisten

1. Isi permasalahan yang disajikan tidak atau kurang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan, pada lokasi dan sekolah binaan yang sesuai.

2. Publikasi ilmiah yang diajukan untuk dinilai telah kadaluwarsa.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang belum kadaluwarsa dan berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

3. Publikasi ilmiah yang diajukan pernah dinilai dan sudah pernah disarankan untuk melakukan perbaikan, namun perbaikan yang diharapkan belum sesuai.

Disarankan kembali memperbaiki sesuai dengan saran terdahulu, atau membuat publikasi ilmiah baru, berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

4. Publikasi ilmiah yang diajukan pernah dinilai dan sudah dinyatakan tidak dapat dinilai dan  disarankan untuk  membuat publikasi ilmiah baru tetapi diajukan lagi.

Disarankan kembali untuk  membuat publikasi ilmiah baru, yang belum kadaluarsa dan berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan.

Baca juga: Sistematika PTK (Edisi Revisi)

5. Publikasi ilmiah tidak dapat dinilai, karena tidak jelas jenis publikasi ilmiah-nya atau tidak termasuk yang dapat dinilai berdasar pada peraturan yang berlaku.

Disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berfokus pada laporan mengenai permasalahan nyata  di bidang pendidikan formal pada sekolah binaan yang sesuai dengan tugas Pengawas yang bersangkutan, pada lokasi dan sekolah binaan yang sesuai.

Penolakan Masalah Teknis BERSAMBUNG KLIK DISINI


Mengapa PTK Guru Ditolak?

Tidak sedikit guru kecewa ketika mengetahui laporan penelitian tindakan yang diajukan untuk memenuhi angka kredit dari publikasi ilmiah belum dapat dinilai angka kreditnya.  Tentunya tim penilai punya alasan yang kuat bahwa PTK yang diajukan tersebut belum dapat dihargai angka kreditnya karena berbagai alasan sesuai dengan ketentuan yang digariskan dalam pedoman penilaian publikasi ilmiah (Buku 5 Pedoman Penilaian PKB Tahun 2019). 

Laporan hasil penelitian tindakan kelas, berisi laporan hasil penelitian yang dilakukan guru pada bidang pendidikan yang telah dilaksanakan guru di sekolahnya dan berupa tindakan kelas. Penulisan laporan penelitian tindakan kelas harus memenuhi APIK (Asli, Perlu, Ilmiah dan Konsisten). 

Baca Juga: Langkah Analisis Data Penelitian 

Berdasarkan APIK tersebut berikut ini ada 5 jenis alasan atau penyebab  penolakan terhadap laporan penelitian tindakan kelas(PTK) dan solusi untuk perbaikannya.  

Alasan Penolakan Jenis 1

Dinyatakan sebagai laporan PTK, namun: tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan, tidak jelas tindakan yang dilakukan pada tiap sikulus dan  bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi untuk kelanjutan  siklus-siklus berikutnya.

Jika PTK yang disusun guru tidak dapat dinilai dengan alasana jenis 1 maka disarankan untuk membuat publikasi ilmiah baru, yang berisi atau mempermasalahkan permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada satuan pendidikannya yang sesuai dengan tugas guru yang bersangkutan.

Alasan Penolakan Jenis 2

Dinyatakan sebagai laporan PTK, namun apa yang dijelaskan dalam laporan tersebut hanya berupa laporan pembelajaran biasa, tidak ada tindakan yang merupakan pembaharuan dari kegiatan yang biasa dilakukan, tahapan dalam siklus sama dengan tahapan pembelajaran biasa (misalnya satu siklus hanya satu kali pertemuan). 

PTK bukan pembelajaran biasa tetapi  merupakan proses mencoba dan menganalisis penggunaan metode baru yang diutamakan bukan hanya hasil tetapi prosesnya (satu siklus minimal dua kali pertemuan).

Jika penolakan PTK dengan alasan jenis 2 maka  disarankan kepada guru agar membuat untuk membuat publikasi ilmiah baru atau PTK baru , yang berisi atau mempermasalahkan permasalahan nyata di bidang pendidikan formal pada satuan pendidikannya yang sesuai dengan tugas guru yang bersangkutan.

Alasan Penolakan jenis 3

PTK yang diajukan belum memenuhi isi dan lampiran sebuah laporan PTK seperti:  

1) metode penelitian belum mengemukakan tahapan dan tindakan tiap siklus dan indikator keberhasilannya, 2) pada laporan hasil dan pembahasan belum melaporkan data lengkap tiap siklus, perubahan yang terjadi pada peserta didik, guru atau kelas serta bahasan terhadap keseluruhan hasil penelitian dan 3) lampiran belum lengkap.

Jika alasan penolakan jenis 3 maka kepada guru yang mengajukan PTK disarankan  untuk membuat PTK yang  baru  atau memperbaiki laporan hasil penelitiannya dengan menggunakan kerangka isi sebagai berikut: Bagian Awal yang terdiri dari: halaman judul; lembaran persetujuan; kata pengantar; daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan lampiran, serta abstrak atau ringkasan. Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:

  • Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang : Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah , Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian;
  • Bab Kajian Teori/ Tinjauan Pustaka;
  • Bab Metode Penelitian;
  • Bab Hasil-hasil dan Diskusi Hasil Penelitian; serta
  • Bab Simpulan dan Saran-Saran.

Bagian Penunjang sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang selengkap-lengkapnya (seperti instrument yang digunakan, contoh hasil kerja peserta didik, contoh isian instrumen, foto-foto kegiatan, surat ijin penelitian, rencana pembelajaran (RPP), dan dokumen pelaksanaan penelitian lain yang menunjang keaslian penelitian tersebut).

Baca Juga: Kumpulan Contoh Judul PTK-PTS

Alasan Penolakan Jenis 4

Secara umum isi laporan PTK yang diajukan telah cukup baik, akan tetapi  beberapa lampiran penting belum dilampirkan. Jika masalahnya kelengkapan lampiran solusinya guru bersangkutan agar segera melampirkan minimal 

  • Semua RPP untuk semua siklus, 
  • Semua instrumen yang digunakan dalam penelitian,
  • Contoh hasil kerja peserta didik dan guru
  • Surat ijin penelitian 
  • Foto-foto kegiatan beserta penjelasannya, 
  • Daftar hadir untuk semua pertemuan, 
  • Bukti-bukti bahwa PTK telah diseminarkan 

Alasan Penolakan Jenis 5

Laporan PTK belum diseminarkan.

Jika PTK ditolak dengan alasan belum diseminarkan maka solusinya adalah untuk segera melakukan seminar di sekolahnya, dengan mengundang minimal 3 sekolah di sekitarnya dengan jumlah peserta seminar minimal 15 orang (kecualiuntuk daerah 3T dan SPILN) atau disemninarkan di forum MGMP tingkat kabupaten. Bukti seminar harus memenuhi segala kelengkapan kegiatan seminar seperti: 

  • Undangan peserta seminar 
  • Surat keterangan dari kepala sekolah /panitia seminar, 
  • Berita acara seminar
  • Daftar hadir (minimal 15 orang)  
  • Notulen seminar 
  • Foto-foto seminar 

Demikianlah alasan penolakan terhadap PTK yang diajukan guru dan solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi penolakan tersebut. 


`Langkah Analisis Data Penelitian

Setelah peneliti mengumpulkan data, maka data tersebut  perlu diolah dengan baik untuk nantinya memperoleh kesimpulan. Data yang terkumpul tersebut dapat digolongkan ke dalam dua jenis yaitu data kualitatif dan kuantitatif. 

Analisis kualitatif merupakan salah satu cara analisis yang mempergunakan data kualitatif. Wujud data kualitatif adalah kata-kata bukan angka. Cara memperolehnya tidak mempergunakan alat-alat pengukur seperti tes namun data diperoleh dengan cara seperti observasi, wawancara,angket ,  intisari dokumen, pita rekaman, gambar. 

Analisis Kuantitatif adalah analisis data yang berupa sebaran angka-angka dan dianalisis dengan statistik deskreptif atau statistik inferensial. 

1. Untuk Penelitian Kualitatif 

Langkah analisis data yang dilakukan dalam penelitian kualitatif adalah sebagai berikut:

a. Reduksi data

Data yang diperoleh dari responden ditulis dalam bentuk uraian/laporan yang rinci. Laporan dari responden itu masih merupakan data mentah. Oleh karena itu, laporan itu perlu direduksi/diringkas, disusun lebih sistematis, ditonjolkan pokok-pokok yang penting, sehingga lebih mudah dikendalikan.

b. Display data 

Data yang telah direduksi didisplay/ditampilkan dalam bentuk matriks, grafik, network atau charts agar dapat dilihat gambaran keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian.

c. Melakukan Triangulasi 

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Moloeng (2007:330), artinya data yang telah terkumpul perlu dicermati dan dibandingkan untuk memperoleh kesimpulan. 

d. Mengambil kesimpulan dan pembuktian (verivikasi)

Data yang sudah disusun berdasarkan kedua langkah di atas, maka dengan mudah ditentukan kesimpulannnya. Kesimpulan pertama bersifat sementara, masih sangat tentatif, kabur, atau diragukan. Namun, dengan bertambahnya data, maka akan terwujudlah kesimpulan kedua, dan seterusnya. 

Baca juga: Kegiatan Observasi dan Refleksi Dalam PTK

Kesimpulan ini harus diverivikasi selama penelitian berlangsung. Caranya adalah dengan mencari data baru atau pengambilan data dilakukan team. Hal tersebut berguna  agar lebih menjamin obyektivitasnya atau validitasnya.   

2. Untuk penelitian kuantitatif 

Untuk menganalisis data dari penelitian kuantitatif  dilakukan dengan langkah berikut:

a. Persiapan

Dalam persiapan yang penting dilakukan adalah pengecekan data terhadap kebenaran data diantaranya meliputi: 

1. Pengecekan nama dan kelengkapan identitas responden, 

2. Pengecekan kelengkapan data, 

3. Pengecekan macam isian data 

b. Tabulasi 

Dalam melakukan tabulasi data hal yang penting dilakukan adalah:

- Membuat kode-kode data

- Memberi skor terhadap butir yang perlu diskor 

- Membuat tabulasi data

- Merumuskan jenis data yang disesuaikan dengan teknik analisis yang akan digunakan 

c. Penentuan Tujuan Analisis Data 

Penentuan tujuan analisis data sangat erat hubungannya dengan statistik yang digunakan, yaitu deskriptif atau statistic inferensial. Jika tujuan analisisnya hanya bersifat deskripsi maka analisis yang digunakan adalah analisis sederhana yaitu analisis dengan menggunakan rumus statistik sederhana seperti rata-rata, distribusi frekuensi, dan presentase. 

Baca juga: Teknik Pengumpulan Data Dalam PTK

Apabila tujuan analisisnya bersifat inferensial, maka analisis yang dipergunakan adalah anlisis konfrenhensif yaitu mempergunakan statistiki t-tes, korelasi, anova, dan lain sebagainya. Apabila jenis penelitian berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), umumnya dianalisis dengan analisis dengan statistik sederhana (rata-rata, fekuensi dan presntase)

d. Menafsirkan Hasil

Dalam menafsirkan hasil data didasarkan pada jenis analisis yang dupergunakan atau dikehendaki. Jika analisis yang dikehendaki penelitian adalah analisis sederhana maka tafsirannya berbentuk deskripsi seperti rata-rata dan presentase. Apabila yang dikehendaki penelitian adalah analisis konfrehensif maka tafsirannya bisa menerima atau menolak hipotesis guna menggenerelasikan kepada populasi. 

Demikianlah langkah sederhana analisis data penelitian berupa data kualitatif maupun kuantitatif. 


Kegiatan Observasi dan Refleksi Dalam PTK

A. Kegiatan Observasi 

Kegiatan  dan pencatatan semua aktivitas PTK dilakukan bersamaan dengan saat pelaksanaan (tindakan) . Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.

Pada tahapan ini, apabila si peneliti (guru)  bertindak sekaligus observer maka pada saat melakukan tindakan juga harus melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan semua yang  terjadi selama pekasanaan tindakan berlangsung.

Baca juga: Cara Menulis PTK Bab I

Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian yang telah disusun. Termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan, dari waktu ke waktu dan dampaknya terhadap proses dan hasil pengamatan yang dilaksanakan.

Jika si peneliti didampingi oleh seorang observer maka tugas melakukan pengamatan ini dilakukan observer secermat mungkin dengan menggunakan format instrument yang telah disediakan sebelumnya.

Beberapa format yang harus ada dan dilampirkan sebagai bagian dari proses pengumpulan data, antara lain:
1) Lembar pengamatan
2) Lembar hasil kerja siswa.
3) Lembar penilaian kinerja kelompok
4) Lembar informasi balikan peserta
5) Jurnal

Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, hasil kuis, presensi, nilai tugas, dan lain-lain) tetapi juga data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusias mereka, mutu diskusi yang dilakukan, dan lain-lain.

Instrumen yang umum dipakai dalam PTK adalah: (a) soal tes, (b) kuis, (c) rubrik, (d) lembar observasi, dan (e) catatan lapangan yang dipakai untuk memperoleh data secara obyektif yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi, misalnya aktivitas selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau petunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.

Data yang dikumpulkan hendaknya dicek untuk mengetahui keabsahannya. Berbagai teknik dapat dilakukan untuk tujuan ini, misalnya teknik triangulasi atau cross check, membandingkan data yang diperoleh dengan data lain, atau kriteria tertentu yang telah baku, dan lain sebagainya.


Data yang telah terkumpul memerlukan analisis untuk dapat mempermudah penggunaan maupun dalam penarikan kesimpulan. Untuk itu berbagai teknik analisis statistika dapat digunakan. Namun umumnya dalam PTK cukup memakai analisis statistik deskriptif bukan analisis statistik inferensial.

Baca juga : Cara Menulis PTK Bab II

Bagaimana hubungan indikator keberhasilan dengan kegiatan pengamatan? Kegiatan pengamatan pada hakikatnya dilakukan untuk mengumpulkan data yang setelah dianalisis dapat mengetahui apakah tujuan PTK tercapai atau belum. Sebagai penanda atau petunjuk bahwa tujuan telah tercapai adalah indikator penelitian.

Untuk itu sangat penting untuk menjabarkan terlebih dahulu indikator sebuah penelitian Indikator inilah yang memberi petunjuk atau ukuran bahwa penelitian tersebut sudah mencapai tujuan  dari kegiatan PTK.

Oleh karena itu indikator PTK yang dirumuskan harus terukur. Dengan tercapainya indikator maka sipeneliti dapat memutuskan bahwa tindakan yang dilakukan sudah dapat dihentikan (stop).

BACA JUGA: CARA MEMBUAT LAPORAN BEST PRACTICE GURU

B. Kegiatan Refleksi 

Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasar data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya.

Refleksi merupakan kegiatan merenungkan, mencermati hasil analisis data apakah tindakan yang sudah terlaksana sesuai perencanaan, dan dimana letak kelemahan yang harus diperbaiki pada siklus berikutnya.

Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi (Hopkins, 1993).

Demikianlah kegiatan observasi dan refleksi dalam pelaksanaan sebuah Penelitian Tindakan Sekolah (PTK).

Cara Membuat Laporan Best Practice Guru

A. Pengertian Best Practice

Salah satu jenis publikasi ilmiah yang dapat dinilai angka kredit (sebesar 2) dalam usulan kenaikan pangkat guru adalah Best Practice yaitu karya tulis  yang berisi pengalaman  “Praktik Terbaik” dari keberhasilan seseorang guru atau kelompok guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran  termasuk dalam mengatasi berbagai masalah atau kendala yang dihadapinya.

Tulisan pengalaman terbaik guru tersebut disusun dalam bentuk laporan berisi  uraian pengalaman nyata guru sendiri (bukan pengalaman orang lain , saduran, terjemahan atau plagiasi.) dalam memecahkan berbagai masalah pelaksanaan pembelajaran dan/atau masalah pengelolaan yang ada di kelas (bagi guru) atau di satuan pendidikan (bagi kepala sekolah),

Di dalam laporan tersebut harus secara jelas ditulis tentang hal-hal berikut:
  1. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh guru/kepala sekolah yang terkait dengan pelaksanaan pembelajaran/pengelolaan kelas atau satuan pendidikan. 
  2. Uraian keterkaitan permasalahan yang dihadapi dengan berbagai teori, hasil penelitian atau kajian pustaka yang relevan.
  3. Pembahasan tentang bagaimana guru/kepala sekolah yang bersangkutan dalam memecahkan permasalahannya dan uraian hasilnya.
  4. Sajian simpulan dan saran.
  5. Kajian penulisan pengalaman terbaik ini juga merupakan bagian dari kegiatan pengembangan keprofsian berkelanjutan guru berupa Karya Tulis Ilmiah berjenis Tinjauan Ilmiah.
B. Ciri-ciri karya tulis Best Practice
  1. Outstanding result : membawa sebuah perubahan/ perbedaan sehingga sering dikatakan hasilnya luar biasa (outstanding result) baik secara kualitatif maupun kuantitatif;
  2. Efficient & effective : cara dan metoda yang dilakukan dan atau digunakan bersifat ekonomis dan efisien.
  3. Sustainable : mampu mengatasi persoalan tertentu secara berkelanjutan (keberhasilan lestari) atau dampak dan manfaatnya berkelanjutan/tidak sesaat
  4. Innovative :merupakan cara baru dan inovatif dalam memecahkan suatu masalah dalam pendidikan 
  5. Inspirative : mampu menjadi model dan memberi inspirasi kepada teman sejawat, guru/kepala sekolah  dan pembuat kebijakan (pejabat); dan 
C. Sistematika laporan best practice adalah sebagai berikut:

1. Bagian Awal terdiri atas
halaman judul;
lembaran persetujuan;
kata pengantar;
daftar isi,
abstrak atau ringkasan,
daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran (bila ada).
Lembar persetujuan ditandatangani  disahkan dan oleh  Kepala sekolah

2. Bagian Isi :

Bab I Pendahuluan berisi:
a. Latar belakang masalah,
b. Rumusan masalah,
c. Tujuan dan
d. Manfaat)

Bab II  Kajian/Tinjauan Pustaka berisi:
Bab ini menjelaskan keterkaitan antara permasalahan yang dihadapi dengan berbagai teori, hasil-hasil penelitian, atau pengalaman-pengalaman terdahulu sebagai dasar teoritis terhadap apa yang dilakukan oleh guru dalam pemecahan permasalahannya),

Bab III Pembahasan Masalah berisi:
Bab pembahasan masalah menguraikan langkah-langkah dalam memecahkan masalah yang dituangkan secara rinci yang merupakan inti tulisan Best Practice. Pembahasan masalah harus didukung data yang ada / diperoleh dalam melaksanakan pembelajaran.

Pada Bab ini harus ada kejelasan ide atau gagasan asli penulis yang terkait dengan upaya pemecahan masalah dans udah berhasil diterapkan

BabIV Simpulan dan Saran berisi:
Bab ini berisi uraian tentang hal-hal yang dapat dipetik sarinya dari  pengalaman berharga tersebut. Simpulan diikuti dengan saran atau  rekomendasi ditujukan kepada pihak-pihak terkait dengan pemecahan masalah tersebut.

3. Bagian Penunjang :

Bagian penunjang berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran tentang semua data yang dipakai untuk menunjang tulisan tersebut.

D. Aturan Penulisan  Laporan

  1. Best practice guru diketik umumnya  menggunakan huruf Times New Roman ukuran 12, spasi 1,5 di atas kertas ukuran A4 70 gr, tidak bolak balik. Jumlah halaman minimal 15 dan maksimal 50 (tidak termasuk bab awal dan lampiran)
  2. Jarak pengetikan bagian atas 3,0 cm dan bawah 2,5 cm, bagian tepi kiri 3,0 cm dan kanan 2,5 cm.

Demikian cara membuat laporankaraya tulis  best practice, semoga guru di sekolah dapat menuangkan pengalaman terbaiknya dalam bentuk karya tulis best practice.

Contoh Judul PTS Pengawas dan Kepala Sekolah


CLIK DISINI JUDUL PTK SD, SMP, DAN SMA/SMK

Contoh Judul PTS

  • Upaya Meningkatkan Kinerja Sekolah Melalui Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah Pada SMA Binaan Di ….
  •  Peningkatan Kemampuan Guru Praktek Melalui Pembinaan, Pengelolaan dan Mekanisme yang Efektif
  • Uapaya Peningkatan Profesionalisme Guru Bahasa Inggris Melalui Supervisi P2E Pengawas Sekolah di Kab…
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Untuk Menggunakan LKS Non-Eksperimen dalam Kegiatan Pembelajaran Biologi di SMA melalui Pembelajaran Kooperatif
  • Upaya Peningkatan Guru dalam Membelajarkan Siswa dengan Menggunakan Strategi Konstruktivisme untuk Memahami Nilai Perbandingan Trigonometri pada Segitiga Siku-Siku di Sekolah Binaan
  • Upaya Meningkatkan Keterampilan Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran melalui Teknik Total Physical Response (TPR) pada Sekolah Binaan
  • Upaya Meningkatkan Keterampilan Guru ... dalam Memilih dan Menggunakan Model-Model Pembelajaran Melalui Pembinaan dan Pembekalan intensif
  • Upaya Peningkatan Kemampuan Guru Biologi Menggunakan Labor untuk Pratek dalam Proses Pembelajaran
  •  Upaya Peningkatan Kemampuan Guru Kimia dalam Melaksanakan Pembelajaran Melalui Model Cooperative Learning
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Memotivasi Siswa dengan Menggunakan Media Kartu Domino Pada Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Di ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Bahasa Indonesi dalam Memotivasi Siswa Melalui Teknik Kunjungan Antar Kelas….
  • Peningkatkan Kemampuan Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Langsung Melalui Supervisi Pengembangan pada Mata Pelajaran Produktif  Di ….
  • Peningkatan Efektivitas Supervisi Akademik melalui Program Pengajaran Remidial Di ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Bahasa Indonesia  dalam Menyusun RPP melalui Pengenalan Model-Model Pembelajaran
  • Upaya Meningkatkan Kerjasama Unsur Terkait Dalam Pengelolaan Bimbingan Konseling Melalui Forum Rembuk Di ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Biologi Menerapkan Teknik Bertanya dalam Proses Belajar Mengajar Melalui Supervisi Klinis pada ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Fisika Dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Eksperimen Melalui Diskusi Kelompok Di….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Biologi Dalam Menyusun Bahan Ajar Melalui MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) pada ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Fisika dalam Melaksanakan Pembelajaran Melalui Pelatihan Penyusun Silabus pada Guru SMA ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Wali Kelas dalam Melaksanakan Kepemimpinan Terhadap Siswa dalam Pembelajaran Melalui Pembuatan Jadwal Pribadi Di….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Agama Dalam Menyusun Silabus Melalui Kegiatan MGMP Pendidikan Agama Islam Di ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Pegawai Tata Usaha SMK …. dalam Penulisan Surat Menyurat Dinas Melalui Penjelasan Petunjuk dan Contoh-contoh Surat Menyurat Dinas
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah dalam Pengelolaan Administrasi Laboratorium Melalui Bimbingan Intensif Pengawas Sekolah Di ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun Rencana Pembelajaran (RP) Melalui Team Work Pada ….
  • Meningkatkan Kualitas Guru dalam Melaksanakan PBM melalui Classroom Self Assessment (CSA) pada ….
  • Upaya Peningkatan Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran dengan Mengefektifkan Supervisi Kelas oleh Kepala Sekolah pada….
  • Upaya Peningkatan Kemampuan Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Focus Group Discission (FGD)
  • Penerapan Bimbingan Individual Untuk Meningkatkan Kemampuan Guru Sejarah Dalam Melaksanakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada ….
  • Peningkatan Kualitas Penyusunan Rencana Anggaran Dan Pendapatan Sekolah Melalui Lokakarya Dan Pendampingan Oleh Pengawas Di….
  • Penerapan Bimbingan Individual Plus Untuk Peningkatan Kinerja Kepala Sekolah Dalam Mengimplementasikan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
  • Penerapan Rapat Berkala Untuk Untuk Meningkatkan Kemampuan Bimbingan Individual Untuk Meningkatkan Kemampuan Administrasi Sekolah Bagi Staf Tata Usaha Di ….
  • Peningkatan Kemampuan Guru  Dalam Menyusun Silabus Melalui In House Training (LHT) Di….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Melaksanakan Strategi Pembelajaran Kontekstual Teanching and Learning melalui Supervisi Akademik
  • Pelaksanaan Supervisi Akademik Dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Mengajar Guru Melalui Model Cooperative Learning Dengan Teknik Jigsaw Di ….
  • Upaya Peningkatan Kreatifitas Guru dalam Meningkatkan Sarana Praktik melalui Teknik Inquiry
  • Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Menggunakan Metode Contextual Teaching And Learning (CTL) Dengan Metode Diskusi Pada Sekolah Binaan
  • Peningkatan Sikap Profesionalisme Guru Menggunakan Pendekatan Quantum Learning Melalui Metode Contextual Teaching Learning (CTL)
  • Upaya Peningkatan Kemampuan Kepala Sekolah Dalam Membuat Perencanaan Sister School Melalui Metode Problem Solving
  • Upaya Peningkatan Sistem Administrasi Sekolah melalui Implementasi Teknologi Informasi di....
  • Upaya Peningkatan Kemampuan Guru dalam Proses Pembelajaran melalui Sistems Lesson Study
  • Upaya Peningkatan Kepampuan Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran Kooperatif melalui Pembinaan Kolaboratif
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Merancang Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk Pelaksanaan Proses Pembelajaran di Kelas
  • Upaya Peningkatan Kinerja Kepala Sekolah dalam Mengubah Motivasi Ekstrinsik Menjadi Motivasi Intristik Bagi Guru Di….
  • Meningkatkan Kemampuan Profesional Kepala Sekolah Dalam Memotivasi Kerja Guru Melalui Pembinaan Personnel Development Di….
  • Upaya Peningkatan Motivasi Guru Dalam Menggunakan Model Pembelajaran Kontektual (CTL) pada Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Lomba Proses Pembelajaran Di .....
  • Peningkatan Profesionalitas Guru IPA dalam Melaksanakan Pembelajaran Kontekstual Historis Partisifative Reflection (CCPR) pada SMA Binaan
  • Upaya Mendorong Guru Mengunakan Ana Tes untuk Meningkatkan Indek Pencapaian Hasil Belajar Pada SMA Binaan
  • Upaya Peningkatan Kemampuan Guru Biologi dalam Pengelolaan Pembelajaran Melalui Supervisi Kunjungan Kelas pada….
  • Upaya Peningtkatan Kinerja Guru Melalui Supervisi Individual dengan Pendekatan Kolaboratif Terhadap Guru Mata Pelajaran Ekonomi pada ....
  • Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Mengorganisasikan Pembelajaran di Kelas dengan Konsisten melalui Perencanaan Pembelajaran yang Standar
  • Upaya Peningkatan Kemampuan Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran Berbasis Kompetensi Melalui Workshop Penyusunan Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP) Pada ….
  • Upaya Peningkatan Kinerja Guru Pembimbing dalam Memberikan Layanan Bimbingan Belajar Melalui Penerapan Target Prestasi Siswa Di ….
  • Upaya Peningkatan Kualitas Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif  Melalui Pembinaan Pengawas Di MGMP Sekolah
  • Optimalisasi Kemampuan Menyusun RPP melalui Efektivitas Bimbingan di MGMP Bagi Guru SMA Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyusun Silabus Berbasis Kompetensi Melalui Pemberian Bimbingan Berkelanjutan Bagi Guru ….
  • Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Melalui Supervisi Terpadu di SMA Binaan Di ….
  • Bimbingan Penulisan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Menulis Bahan Ajar Bagi Guru Di ….
  • Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Melaksanaan Pembelajaran Melalui Supervisi Klinis dalam Pelajaran Biologi Fisika Kimia pada ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Mengajar Guru Bahasa Inggris SMA Dengan Teater Boneka Di…
  • Meningkatkan Kemampuan Mengajar Guru Melalui Teknik Supervisi Observasi Kelas pada SMA Binaan ….
  •  Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Kontekstual Melalui Focus Group Discussion (FGD) pada SMA Binaan
  • Upaya Peningkatan Kemampuan Guru Fisika Dalam Metode Demonstrasi Disertai Tugas Terstruktur di Sekolah  Binaan
  • Supervisi Klinis Untuk Meningkatkan Kemampuan Guru Matematika dalam Menyusun RPP dan Pelaksanaannya di Kelas pada Sekolah Binaan
  • Peningkatan Kopetensi Pedagogik Guru Matematika dalam Penerapan Pembelajaran Kooperatif di SMA Binaan Kota Malang Melalui Supervisi Klinis
  • Peningkatan Pemanfaatan Perpustakaan Sebagai Sumber Balajar Bagi Guru SMA Binaan Melalui Workshop Di ….
  • Peningkatan Kemampuan Kepala Sekolah dalam Menyusun Program Supervisi Akademik pada Guru Mata Pelajaran Di SMK Binaan…
  • Peningkatan Pemahaman Guru Tentang Penulisan Metode Bertukar Pasangan di SMA Negeri Surabaya
  • Upaya Peningkatan Kemampuan Guru Matematika SMA dalam Mengevaluasi Hasil Belajar Siswa Melalui Lokakarya Di ….
  • Peningkatan Kemampuan Guru Metematika dalam Menyusun RPP Melalui Pelatihan pada SMK Binaan Di ….
  • Peningkatan Peran Ketua Program Keahlian dalam Perencanaan Kerja Tahunan Pada Bengkel Kerja Mesin Program Keahlian Teknik Pemesinan
  • Meningkatkan Kemampuan Guru Geografi dalam Melaksanakan Proses Pembelajaran dengan Menggunakan Metode Bervariasi Di ….
  • Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Mengajarkan Keterampilan Menulis Siswa melalui Pemodelan Pajanan Bahasa
  • Meningkatkan Keefektifan Guru dalam Mengajarkan Konsep Aljabar Menggunakn Problem Based Intrustion (PBI) Pola Kolaboratif di….
  • Meningkatkan Kemampuan Guru Menganalisis Penilian Hasil Belajar Siswa dengan MS. Exel Pada  ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Produktif Bidang Keahlian Teknik Mesin dalam Membuat Perangkat Persiapan Kegiatan Belajar Mengajar Melalui In House Training (IHT)
  • Meningkatkan Keterampilan Menyusun Silabus dan RPP melalui Pelatihan Terbimbing Guru Penjaskes Kelompok MGMP ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di … melalui In House Training (IHT)
  • Meningkatkan Kemampuan Guru Menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal melalui Supervisi Klinis di ….
  • Kemampuan Guru Dalam Meningkatkan Daya Serap Siswa Terhadap Mata Pelajaran Kewirausahaan pada Kegiatan Belajar Mengajar Dengan Metode Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Intruction ) di ….
  • Meningkatkan Kualitas Kemampuan Guru Bimbingan dan Konseling Dengan Metode Motivasi dan Kreativitas pada ….
  • Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran Matematika Melalui Cooperative Learning Metode Stad Pada ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam melaksanakan Penilaian Autentik melalui Team Teaching pada Guru-guru di ….
  • Upaya Meningkatkan Memampuan Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran Multi Trafic Communication melalui Supervisi Klinis pada Mata Diklat Dasar Kompetensi
  • Upaya Guru dalam Memanfaatkan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Proses pembelajaran Biologi melalui Supervisi Klinis di ….
  • Meningkatkan Keterampilan Bertanya Guru dengan Pengefektifan Supervisi Klinis pada ….
  • Upaya Meningkatkan Kreativitas Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran Melalui Strategi Cooperative Circel Of Learning di ….
  • Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Pembelajaran Materi Limit Fungsi Aljabar Melalui Latihan Berjenjang
  • Meningkatkan Kemamapuan Guru BK dalam Menyusun Rencana Program Satauan Layanan Kegiatan BK melalui Diskusi Kelompok Integrasi Pair Chek Pada ….
  • Penerapan Problem Solving untuk Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Terpadu Mata Pelajaran Bahasa Inggris pada Sekolah Binaan (An Integrated Skills Approach)
  • Optimalisasi Supervisi Klinis Kepala Sekolah Terhadap Guru Menggunakan Metode Think-Pair-Share pada….
  •  Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Melaksanakan Penilaian Berbasis Kompetensi dengan Pendekatan Pembelajaran Kerja Proyek Pertemuan Periodik Bulalan ….
  • Penerapan Metode Pembelajaran Konstektual dalam Pengajaran Remidial Studi Analisis Ketuntasan Belajar Ekonomi pada ….
  • Kemampuan Menajerial Kepala Sekolah Membangun Disiplin dan Etos Kerja Melalui Pola Supervisi dalam Peningkatan Kinerja Pada Sekolah Binaan
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Mengembangkan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) melalui Pelatihan Model MGMP di ….
  • Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Pembelajaran Apresiasi Sastra Indonesia di ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Sejarah dalam Penerapan Metode Diskusi Kelompok pada Kegiatan Pembelajaran di ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Merakit Kisi-Kisi Soal melalui Workshop Terbatas pada ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Melaksanakan Kemampuan Guru dalam Melaksanakan Strategi Pembelajaran Kooperatif Melalui Pelatihan dan Praktek Terbimbing pada SMA Binan
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menyusun Silabus dan Sistem Penilaian Serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Melalui Teaching (Metode Sistem Regu) Bagi Guru ….
  • Penerapan Model IAP (Input Analisis dan Presentasi) dalam Meningkatkan Kemampuan Penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal Mata Pelajaran Bahasa Inggris Bagi Guru ….
  • Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Menerapkan Materi Metabolisme Sel Melalui Pendekatan Kolaboratif Dengan Manusia Sumber (Resource Person) pada ….
  • Meningkatkan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Kewirausahaan Melalui Learning by Doing Pada ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Kepala Sekolah Dalam Pengelolaan dan Administrasi Sekolah Melalui Focus Discution Group (FDG) pada SMA ….
  • Upaya Optimalisasi Kemampuan Guru dalam Mengembangakan dan Menggunakan Media Pendidikan yang Relevan pada ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Menganalisis dan Menentukan Media Pembelajaran Melalui Model Matriks Analisis Media Pembelajaran pada SMA Binaan di ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran Berbasis Masalah Melalui Pendekatan Inquiry Training di ….
  • Peningkatan Kemampuan Sekolah Dalam Melaksanakan Evaluasi Diri Melalui Pembinaan Prosedur dan Petunjuk Teknis Evaluasi Diri di ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Mengevaluasi Hasil Belajar Melalui Workshop di ....
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Melaksanakan Model Strategi Pembelajaran Melelui Rapat Kerja Pada ….
  • Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Menyusun Rencan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Melalui Pendekatan Klinis Di ….
  • Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru dalam Menyusun Tes Sumatif Semester Genap Melelui Rapat Kerja di ….
  • Meningkatkan Kemampuan Guru Kewarganegaraan dalam Melaksanakan Keterampilan Bertanya Melalui Team Teaching di ….
  • Upaya Meningkatkan Kinerja Kinerja Guru Bahasa Inggris melalui Teknik Supervisi Klinis Kesejawatan di…
  • Upaya Meningkaktkan Kemampuan Konselor Sekolah dalam Melaksanakan Layanan Bimbingan Konseling Melalui Layanan Bimbingan Kelompok ….
  • Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Kimia dalam Pelaksanaan Penilaian dan Menganalisis Data Hasil Belajar Siswa Melalui Pembinaan Kelompok pada….
  • Upaya Pemberdayaan Mutu Guru Melalui Supervisi Klinis Perangkat Administrasi Kegiatan Belajar Mengajar Pada ….