Pengembangan Teknik Penilaian Formatif

1. Pengembangan teknik penilaian formatif untuk aspek sikap

Penilaian sikap bertujuan untuk mengetahui perkembangan sikap siswa baik sikap spiritual maupun sosial dan memfasilitasi tumbuhnya perilaku yang ingin dikembangkan di satuan pendidikan. Perkembangan sikap dapat terlihat. 

Dari kegiatan/ aktivitas sehari-hari siswa selama proses pembelajaran sehingga teknik yang dapat dikembangkan adalah teknik yang dapat melihat perkembangan sikap siswa tersebut disertai dengan tindak lanjut yang harus dilakukan sehingga terjadi perubahan dari sikap siswa. 

Teknik observasi (pengamatan) dengan menggunakan instrumen lembar observasi atau buku jurnal sangat mudah digunakan untuk mengamati perilaku siswa sehingga teknik ini dapat digunakan dan umpan balik dapat langsung diberikan kepada siswa untuk memperbaiki sikapnya. 

Baca juga: Teknik dan Lingkup Penilaian Formatif 

Penilaian sikap pada kegiatan yang dirancang dalam bentuk aktivitas di kelas atau bentuk kegiatan lainnya (misalnya praktik membuat pantun dan membacakannya di depan kelas, praktik di laboratorium, diskusi, konferensi) dapat dilakukan dengan baik apabila guru menginformasikan rubrik/kriteria untuk sikap yang baik dalam melakukan aktivitas tersebut. 

Teknik penilaian formatif dalam bentuk-bentuk kegiatan penilaian sikap lainnya  juga dapat menggunakan instrumen lembar observasi. Seperti kegiatan penilaian diri sendiri, penilaian antar teman  dapat juga digunakan untuk melihat  Objektivitas berdasarkaan masukan-masukan/umpan balik dari guru maupun teman sejawat.

Teknik penilaian formatif juga dapat dilakukan dengan jurnal berupa catatan guru tentang perilaku siswa yang bersifat positif maupun negatif. Sifat positif perlu dipresiasi untuk dipertahankan dan dikembangkan sedangkan sikap negatif secepatnya dicegah dengan cara pembinaan.

2. Pengembangan teknik penilaian formatif untuk aspek pengetahuan 

Penilaian aspek pengetahuan merupakan penilaian yang dilakukan guru untuk mengukur kemampuan siswa yang meliputi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif serta kecakapan berpikir tingkat rendah (LOT) hingga tingkat tinggi (HOT). 

Baca juga: Cara Praktis Membuat Soal HOTS

Penilaian formatif pada aspek pengetahuan dilakukan untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan penguasaan pengetahuan siswa selama proses pembelajaran sehingga teknik penilaian dan instrumen penilaian yang dikembangkan harus menunjukkan diagnosis dari kelemahan dan kekuatan penguasaan pengetahuan siswa tersebut. 

Kegiatan penilaian dapat dilakukan melalui bentuk-bentuk kegiatan penilaian yang sudah dijelaskan di atas (pemberian pertanyaan, diskusi, aktivitas, konferensi, intervieu, maupun penilaian diri). 

Pengembangan teknik penilaian formatif untuk aspek pengetahuan dapat mengacu pada bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilakukan untuk penilaian formatif disesuaikan dengan metode pembelajaran yang dilakukan.

Contoh pengembangan teknik penilaian formatif aspek pengetahuan:

a. Pada kegiatan penilaian bentuk pertanyaan, pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dapat bergradasi dimensi pengetahuannya (fakta, konseptual, procedural, dan metakognitif) dan juga level kognitifnya (LOTS – HOTS).

Pertanyaan juga harus menunjukkan diagnosis untuk konsep-konsep yang saling berkaitan, atau kesalahan konsep yang sering dilakukan siswa.

b. Kegiatan penilaian bentuk aktivitas dapat juga digunakan untuk meningkatkan penguasaan konsep pengetahuan siswa. Penguasaan konsep yang kuat dapat diterapkan dalam aktivitas untuk menunjukkan performance yang baik bahkan

akan muncul kreativitas untuk dapat melaksanakan aktivitas tersebut dengan baik. Penilaian formatif dalam bentuk aktivitas juga dapat disertai dengan kegiatan pertanyaan atau intervieu atau yang lainnya sehingga guru mengetahui betul penguasaan pengetahuan setiap siswa sehingga jika terdapat kelemahan konsep dapat langsung ditindaklanjuti.

c. Kegiatan penilaian bentuk diskusi dan konferensi sangat memungkinkan untuk meningkatkan kemampuan pengetahuan siswa dalam hal berpikir kritis dan pemecahan masalah serta kemampuan menyampaikan masalah (komunikasi).

d. Kegiatan bentuk penilaian diri dengan menggunakan/melihat portofolio hasil ulangan yang sudah diberi umpan balik. Portofolio adalah kumpulan karya/capaian hasil ulangan yang dapat menggambarkan perkembangan kemampuan siswa untuk kompetensi tertentu. Siswa dapat melihat kelemahan penguasaan pengetahuannya. Kegiatan ini juga bisa dilanjutkan dengan kegiatan interviu siswa untuk dapat meningkatkan kemampuannya.

3. Pengembangan teknik penilaian formatif untuk aspek keterampilan 

Penilaian aspek keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu di berbagai macam konteks sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi. Penilaian keterampilan meliputi ranah berpikir dan bertindak. 

Keterampilan ranah berpikir meliputi antara lain keterampilan membaca, menulis, menghitung, dan mengarang. Keterampilan dalam ranah bertindak meliputi antara lain menggunakan, mengurai, merangkai, modifikasi, membuat, merancang, dan lain-lain.  

Baca juga: Cara Penilaian Jenis Penilaian Portofolio

Penilaian formatif aspek keterampilan sangat banyak dilakukan dalam bentuk kegiatan aktivitas. Pada kegiatan aktivitas sangat memungkinkan semua aspek (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) teramati. Teknik yang dapat digunakan untuk kegiatan aktivitas antara lain penilaian kinerja (praktik, produk, atau rancangan proyek) atau yang diberikan berkaitan dengan proses pembelajaran. 

Instrumen penilaian yang dapat digunakan untuk menilai aktivitas siswa antara lain lembar observasi yang mengacu pada rubrik yang ada atau jurnal. Kegiatan diskusi dan konferensi juga dapat digunakan untuk melihat keterampilan berkomunikasi dan berpikir.

Contoh pengembangan penilaian formatif untuk aspek keterampilan antara lain:

a. Kegiatan penilaian dalam bentuk aktivitas dapat dilakukan dengan cara meminta siswa untuk melakukan tugas yang diberikan guru. 

Bentuk tugas yang dilakukan tergantung pada kemampuan keterampilan apa yang akan dicapai siswa (misalnya berpidato di depan kelas, bermain peran di kelas, melakukan percobaan di ruang laboratorium, merancang sebuah proyek, dll). 

Teknik portofolio yang meminta siswa untuk mengumpulkan hasil karyanya yang menonjol pada penugasan keterampilan yang sudah dilakukan juga merupakan teknik penilaian formatif dalam bentuk aktivitas. 

Teknik inisangat bagus untuk melihat perkembangan dan meningkatkan kualitas kemampuan keterampilan siswa secara individu untuk menunjukkan performancenya menjadi lebih baik.

b. Kegiatan penilaian dalam bentuk konferensi atau diskusi juga memungkinkan untuk meningkatkan kemampuan keterampilan, terutama pada keterampilan berpikir dan mengkomunikasikan. 

Teknik-teknik penilaian formatif di sekolah dapat dikembangkan oleh guru sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai selama pembelajaran dan metode pembelajaran yang digunakan. 

Teknik penilaian yang dipilih hendaknya menggunakan sarana dan prasarana yang ada di sekolah dan kegiatannya menyenangkan siswa sehingga siswa tidak merasa bahwa mereka sedang dinilai. 

Setiap pertemuan guru dapat menggunakan lebih dari satu teknik penilaian formatif sehingga guru dapat mengetahui dengan pasti peningkatan penguasaan kemampuan siswa.

Demikian pengembangan teknik penilaian formatif .  Semoga bermanfaat.



Teknik Dan Lingkup Penilaian Formatif

Seiring dengan perkembangan penilaian kurikulum 2013, akhir-akhir ini muncul lagi istilah penilaian formatif seperti bentuk penilaian yang dilakukan versi lama atau sebelum kurikulum 2013. 

Namun pada hakekatnya  sama dengan Penilaian Harian (PH) untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran dan pencapaian kompetensi dasar pada saat proses pembelajaran dilakukan yang meliputi sasesmen for learning dan assesmen as learning. 

Sedangkan assesmen of learning berkaitan dengan penilaian sumatif. Berikut ini akan dijelaskan teknik penilaian formatif yang dapat dilakukan guru.  

Teknik penilaian formatif tidak bisa lepas dari  metode pembelajaran yang dilakukan seorang guru. Metode pembelajaran yang tepat dalam kurikulum 2013 adalah metode pembelajaran yang dapat mengukur ketercapaian kompetensi yang diharapkan pada keterampilan abad ke-21. 

Baca juga: Jenis-Jenis Penilaian Non Tes 

 Metode pembelajaran yang memenuhi kriteria di tersebut atas adalah penerapan  metode ilmiah seperti inquiry learning, discovery learning, pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning), pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) dan coperative learning. 

Metode metode pembelajaran tersebut dapat mengukur kemampuan keterampilan abad ke-21 yang mencakup 3 hal, yaitu literasi dasar  yaitu kemampuan bagaimana siswa dapat menerapkan keterampilan dasar sehari-hari, kompetensi 4 C (critical thingking/problem solving, creativity, communication, dan colaboration), dan kualitas karakter (bagaimana siswa beradaptasi pada lingkungan yang dinamis). 

Berdasarkan metode pembelajaran yang digunakan, guru dapat merencanakan teknik penilaian formatif dan instrumen penilaian yang tepat untuk memantau ketercapaian kompetensi yang diharapkan. 

eknik penilaian yang dapat digunakan dalam penilaian formatif berkaitan dengan beberapa metode pembelajaran di atas dapat dikelompokkan dalam ke dalam beberapa bentuk  kegiatan antara lain:

1. Pertanyaan Lisan dan Tertulis

Teknik penilaian formatif dalam bentuk pertanyaan dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan terkait dengan materi yang sedang disampaikan. Pertanyaan dapat diberikan pada saat awal pembelajaran, selama proses pembelajaran, atau setelah pembelajaran selesai. 

Pertanyaan dapat diberikan secara lisan atau tertulis yang diberikan pada setiap siswa, kelompok, atau semua siswa di kelas. 

Pertanyaan dapat diberikan mulai dari pemahaman yang rendah atau Lower Order Thinking Skills (LOTS) sampai ke pemahaman yang tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) sehingga terlihat pada level mana siswa belum menguasai materi yang sudah disampaikan.

Baca juga: Tanya Jawab Asesmen Nasional (AN)

Pertanyaan yang dimaksud di atas harus benar-benar direncanakan guru dan dituangkan dalam lampiran RPP, sehingga tidak mendadak atau asal-asalan, akan tetapi harus mengacu ketercapaian tujuan pembelajaran dan tuntutan kompetensi dasar sesuai dengan mata pelajaran yang diampu guru. 

2. Diskusi

Teknik penilaian formatif dalam bentuk kegiatan diskusi dilakukan dengan cara menyajikan suatu masalah yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama dalam kelompok atau kelas berkaitan dengan materi yang akan disampaikan. 

Diskusi memungkinkan siswa untuk meningkatkan wawasan dan kedalaman pemahaman mereka untuk mengklarifikasi informasi yang terbaru atau informasi yang salah, kemampuan berargumentasi, dan kemampuan berkomunikasi.

3. Aktivitas

Teknik penilaian formatif dalam bentuk aktivitas dilakukan dengan cara meminta siswa untuk menunjukkan pemahaman konsep yang dimilikinya melalui aktivitas yang dilakukan di dalam kelas, di laboratorium, maupun di luar kelas. 

Teknik penilaian ini memungkinkan siswa untuk terampil/kreatif dalam melakukan/mengerjakan suatu tugas dengan menerapkan konsep-konsep yang sudah dipahaminya sesuai dengan capaian kompetensi yang diharapkan pada pembelajaran yang dilakukan. 

Penilaian seperti ini sering dikaitkan dengan pengerjaan tugas atau lembar kerja setelah guru memberikan konsep-konsep materi yang diperlukan. 

4. Konferensi

Konferensi adalah pertemuan untuk menyampaikan pendapat atau bertukar pendapat mengenai suatu masalah/topik tertentu yang dihadapi bersama. Dalam konteks penilaian formatif, konferensi dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman

siswa mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama sehingga kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan komunikasi dapat teramati dengan baik.

5. Interviu

Interviu dilakukan untuk mengetahui kesalah pahaman umum dengan cara memprediksi tentang kesalahan konsep, prinsip, atau proses yang sering dilakukan siswa. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara bertanya kepada siswa apakah mereka setuju atau tidak dengan pernyataan dari suatu masalah dan menjelaskan alasannya. 

Interviu biasanya dilakukan antara guru dan satu orang siswa atau lebih. Pertanyaan-pertanyaan pada interviu sangat fokus untuk menggali seberapa jauh pemahaman siswa untuk konsep tertentu.

6. Penilaian diri

Penilaian diri dilakukan dengan cara meminta siswa untuk menilai hasil pekerjaan dengan merujuk pada rubrik /kriteria yang harus dicapai, umpan balik yang ditulis guru pada hasil tugas yang dilakukan, atau masukan hasil diskusi pada saat siswa menunjukkan kinerjanya. 

Siswa diberi kesempatan untuk mengevaluasi proses pembelajarannya dengan mencermati kriteria yang sudah diberikan, berdiskusi dengan teman sejawatnya, dan diberi kesempatan untuk menunjukkan hasil evaluasi dirinya.

Pada saat tatap muka pembelajaran. pengembangan teknik penilaian formatif tidak harus satu jenis kegiatan saja, tetapi dapat mengacu pada lebih dari satu jenis kegiatan penilaian tergantung pada waktu yang disediakan, misalnya:

  • Kegiatan diskusi membahas suatu topik dapat dilanjutkan dengan kegiatan pemberian pertanyaan;
  • Kegiatan dalam bentuk aktivitas di laboratorium dapat dilanjutkan dengan diskusi terkait hasil percobaan atau kasus yang berkaitan dengan proses/hasil percobaan;
  • Pertanyaan tertulis dapat dilanjutkan dengan penilaian diri setelah diberi kunci jawaban setelah siswa selesai menjawab pertanyaannya.

Penilaian formatif dilakukan untuk mengetahui kemajuan dalam menguasai kompetensi yang diharapkan baik untuk aspek sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. 

Prinsip dari kegiatan penilaian formatif dilakukan terintegrasi dengan proses pembelajaran sehingga teknik penilaian formatif yang dapat dikembangkan diharapkan dapat mencakup ketiga aspek tersebut yaitu aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan.

Baca juga: Apa dan Bagaimana Penilaian Portofolio?

Demikianlah teknik dan lingkup penilaian yang dapat dilakukan guru untuk penilaian formatif sebelum, pada saat dan sesudah berlangsung proses pembelajaran. Semoga bermanfaat. 


Modul Ringkas dan Prediksi Soal KSN 2021

 Di bawah ini diberikan modul-modul ringkas permata pelajaran yang diharapkan dapat digunakan oleh guru dan peserta KSN untuk berlatih dalam menghadapi KSN Tahun 2021.

Selain itu, disediakan prediksi soal permata pelajaran untuk melatih apakah materi modul tersebut sudah dapat dipahami oleh peserta. Cara belajar yang baik dimulai dari memahami modul kemudian dilanjutkan untuk melatih soal-soal. Menurut rencana KSN di Kabupaten Kota dimulai tanggal 27 - 29 April 2021, namun jadwal ini bisa saja berubah. 

A. Modul Ringkas Mata Pelajaran 

1. Modul Ringkas KSN-K Matematika

2. Modul Ringkas KSN-K Kimia

3. Modul Ringkas KSN - K Fisika

4. Modul Ringkas KSN - K Boiologi

5. Modul Ringkas KSN - K Informatika

6. Modul Ringkas KSN - K Geografi

7. Modul Ringkas KSN - K Ekonomi

8. Modul Ringkas KNS - K Kebumian

9. Modul Ringkas KSN - K Astronomi

Semua Modul Ringkas Mata pelajaran di atas dapat di UNDUH DISINI

Baca Juga: ModelKompetensi Dalam  Pengemnbangan profesi Guru  

Selanjutnya peserta KSN dapat dilakukan uji coba dengan prediksi soal berikut:

1. Predisi Soal  KSN-K 2021 Matematika

2. Prediksi Soal KSN-K 2021  Kimia

3. Prediksi Soal  KSN - K 2021 Fisika

4. Prediksi Soal  KSN - K 2021 Boiologi

5. Prediksi Soal  KSN - K 2021 Informatika

6. Predisi Soal  KSN - K 2021 Geografi

7. Predisi Soal  KSN - K 2021 Ekonomi

8. Prediksi Soal  KSN - K 2021 Kebumian

9. Prediksi Soal KSN - K 2021 Astronomi

Semua Predidiksi Soal Mata Pelajaran 2021 Di atas dapat  UNDUH DISINI

Baca juga: Jenis Publikasi Ilmiah Dalam Kenaikan Pangkat Guru 

Semoga dengan modul dan prediksi soal-soal di atas peserta KSN dapat berlatih penuh semangat dan memberikan hasil yang memuaskan. 

Penilaian Pada Kondisi Khusus Di SMA

Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Penilaian  dilaksanakan melalui tiga pendekatan, yaitu penilaian atas pembelajaran (assessment of learning), penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning), dan penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning)

Penilaian atas pembelajaran dilakukan untuk mengukur capaian siswa terhadap kompetensi yang telah ditetapkan. Penilaian untuk pembelajaran memungkinkan guru menggunakan informasi kondisi siswa untuk memperbaiki pembelajaran, sedangkan penilaian sebagai pembelajaran  memungkinkan siswa melihat capaian dan kemajuan belajarnya untuk menentukan target belajar.

Penilaian pada kondisi khusus adalah penilaian yang dilakukan pada pembelajaran jarak jauh sehingga membutuhkan adaptasi (penyesuaian) dalam melakukan pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. 

Penyesuaianpenilaian pada kondisi khusus memiliki keterbatasan, antara lain: tatap muka langsung, sumber belajar, alat, dan bahan praktik, serta proses bimbingan dan pengawasan.

Penilaian yang dilakukan guru  dalam kondisi khusus tetap harus menilai tiga aspek yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran pada kondisi khusus di SMA adalah:

  1. Sikap terhadap materi pelajaran;
  2. Sikap terhadap guru/pengajar;
  3. Sikap terhadap proses pembelajaran; dan
  4. Sikap terhadap nilai dan norma dalam keluarga maupun di lingkungan.

Untuk memperoleh nilai sikap diatas digunakan 3 bentuk penilaian yaitu pengamatan (observasi), penilaian diri dan penilaian antar teman. Guru perlu menyusun lembar observasi untuk pengamatan  dan instrument berupa angket untuk penilaian diri dan antar teman.

Penilaian pengetahuan mencakup dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif. Dimensi pengetahuan mencakup pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif sedangkan dimensi proses kognitif terdiri atas mengingat, memahami,menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta (taksonomi Bloom/revisi Anderson). Untuk mendapatkan penilaian pengetahuan ini dapat dilakukan melalui tes tertulis, lisan  dan penugasan.

 Penilaian keterampilan meliputi ranah konkrit dan ranah abstrak. Keterampilan konkrit adalah kemampuan bertindak terkait dengan kemampuan motorik atau kemampuan anggota tubuh melakukan suatu tindakan atau kegiatan prosedural. 

Keterampilan abstrak adalah kemampuan berpikir dan belajar atau kemampuan menggunakan pengetahuan (konsep, prinsip, prosedur, dan metakognitif) dalam bertindak atau memecahkan masalah nyata (kontekstual).

Baca juga: Pentingnya Asesmen Diagonosis Kognitif 

Penilaian keterampilan digunakan untuk memperoleh informasi kemampuan berpikir (abstrak) dan bertindak (konkrit) yang dapat diamati dan diukur. Tingkat kompetensi ketrampilan dan contoh berpikir, dan atau bertindak yang dapat diukur adalah sebagai berikut.

  1. Mengamati, antara lain: melihat, membaca, meneropong, merekam, memotret, endengarkan, menonton.
  2. Menanya, antara lain: bertanya lisan/tertulis, mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, memancing pertanyaan. 

Penilaian keterampilan meliputi ranah konkrit dan ranah abstrak. Keterampilan konkrit adalah kemampuan bertindak terkait dengan kemampuan motorik atau kemampuan anggota tubuh melakukan suatu tindakan atau kegiatan prosedural. 

Keterampilan abstrak adalah kemampuan berpikir dan belajar atau kemampuan menggunakan pengetahuan (konsep, prinsip, prosedur, dan metakognitif) dalam bertindak atau memecahkan masalah nyata (kontekstual).

Penilaian keterampilan digunakan untuk memperoleh informasi kemampuan berpikir (abstrak) dan bertindak (konkrit) yang dapat diamati dan diukur. Tingkat kompetensi ketrampilan dan contoh berpikir, dan atau bertindak yang dapat diukur adalah sebagai berikut.

  1. Mengamati, antara lain: melihat, membaca, meneropong, merekam, memotret, endengarkan, menonton.
  2. Menanya, antara lain: bertanya lisan/tertulis, mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, memancing pertanyaan.
  3. Mencoba, antara lain: meniru, melakukan instruksi, mengoperasikan,menuliskan, melafalkan, membacakan, mempraktikan, mendemonstrasikan, mencoba resep.
  4. Menalar, antara lain: mengelompokan, mengurutkan, menyusun, menabelkan, membuat grafik, memadukan, menyimpulkan, merumuskan, mewarnakan, memantaskan, merangkai.
  5. Menyaji, antara lain: mempresentasikan, melaporkan, memilemkan, memerankan, endongeng, memainkan, memamerkan, menceritakan, memajang, menghidangkan, menjajakan, mementaskan, memasarkan.
  6. Mencipta, antara lain: meramu, menambahkan, mengganti, memodifikasi, merekomendasikan, mengusulkan, memperbaiki, mereviu, merekayasa, membuat, merancang, mendesain,  membentuk.

 Penilaian keterampilan tersebut dapat dilakukan dengan bentuk praktik/unjuk kerja, proyek, produk dan fortofolio.

 Untuk lebih jelas nya penilaian pada masa kondisi kusus pada guru dapat mempelajari dalam buku panduan penilaian kondisi khusus di SMA DOWNLOAD DISINI.

 

Tanya Jawab Seputar Asesmen Nasional

Pemerintah melalui Mendikbud telah mencanangkan Assesmen Nasional yang akan dimulai tahun 2021. Asesmen nasional terdiri dari Asesmen Kompotensi Minimum(AKM) dan Survei Karakter (SK) dan Survei Lingkungan Belajar (SLB)

Menurut rencana pemerintah  pelaksanaan AKM untuk murid kelas VIII jenjang SMP/MTs, serta kelas IX jenjang SMA/MA, dan SMK akhir Maret 2021, pelaksanaan AKM untuk murid kelas V jenjang SD/MI adalah di bulan Agustus 2021. Untuk mengetahui lebih jelas tentang asesmen nasional dapat dipahami dari tanyajawab berikut ini: 

1. Apa itu asesmen Nasional ?

Jawab. 

Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. 

Baca Juga: Memahami Konsep AKM dan Survei Karakter 

Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

2. Mengapa perlu ada Asesmen Nasional? 

Jawab

Asesmen Nasional perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Asesmen ini dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid. 

Asesmen Nasional menghasilkan informasi untuk memantau (a) perkembangan mutu dari waktu ke waktu, dan (b) kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya di satuan pendidikan: antara kelompok sosial ekonomi, di satuan wilayah antara sekolah negeri dan swasta, antar daerah, ataupun antar kelompok berdasarkan atribut tertentu).

3. Apa tujuan asesmen nasional ?

Jawab. 

Asesmen Nasional bertujuan untuk menunjukkan apa yang seha-rusnya menjadi tujuan utama sekolah, yakni pengembangan kompe¬tensi dan karakter murid. Asesmen Nasional juga memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah sekolah yang efektif untuk mencapai tujuan utama tersebut.

4. Apakah Asesmen Nasional menentukan kelulusan peserta didik? 

Jawab. 

Tidak, Asesmen Nasional tidak menentukan kelulusan. Asesmen Nasional diberikan kepada murid bukan di akhir jenjang satuan pendidikan. Asesmen Nasional juga tidak digunakan untuk menilai peserta didik yang menjadi peserta asesmen. 

Baca juga; Contoh AKM dan Survei Karakter 

Hasil Asesmen Nasional tidak akan memuat skor atau nilai peserta didik secara individual. Seperti dijelaskan sebelumnya, hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Dengan demikian, Asesmen Nasional tidak terkait dengan kelulusan peserta didik. Penilaian untuk kelulusan peserta didik merupakan kewenangan pendidik dan satuan pendidikan.

5. Siapa yang menjadi peserta Asesmen Nasional? 

Jawab. 

Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah di Indonesia, serta program kesetaraan yang dikelola oleh PKBM. Di tiap satuan pendidikan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh sebagian peserta didik kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh Pemerintah. Untuk program kesetaraan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh peserta didik yang berada pada tahap akhir program belajarnya. 

Selain peserta didik, Asesmen Nasional juga akan diikuti oleh guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan. Informasi dari peserta didik, guru, dan kepala sekolah diharapkan memberi informasi yang lengkap tentang kualitas proses dan hasil belajar di setiap satuan pendidikan.

6. Mengapa Asesmen Nasional hanya diikuti oleh sebagian murid? 

Jawab. 

Hal ini terkait dengan tujuan dan fungsi Asesmen Nasional. Asesmen Nasional tidak digunakan untuk menentukan kelulusan menilai prestasi murid sebagai seorang individu. Evaluasi hasil belajar setiap individu murid menjadi kewenangan pendidik. Pemerintah melalui Asesmen Nasional melakukan evaluasi sistem. 

Asesmen Nasional merupakan cara untuk memotret dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, tidak semua murid perlu menjadi peserta dalam Asesmen Nasional. Yang diperlukan adalah informasi dari sampel yang mewakili popu¬lasi murid di setiap sekolah pada jenjang kelas yang menjadi target dari Asesmen Nasional.

7. Mengapa yang menjadi sampel adalah murid kelas V, VIII dan XI? 

Jawab. 

Hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Pemilihan jenjang kelas V, VIII dan XI dimaksudkan agar murid yang menjadi peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di sekolah tersebut. 

Selain itu, Asesmen Nasional juga digu¬nakan untuk memotret dampak dari proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan. Murid kelas V,VIII, dan XI telah mengalami proses pembelajaran di sekolahnya, sehingga sekolah dapat dikatakan telah berkontribusi pada hasil belajar yang diukur dalam Asesmen Nasional.

8. Apakah Asesmen Nasional menggantikan UN? 

Jawab. 

Asesmen Nasional tidak menggantikan peran UN dalam mengeva-luasi prestasi atau hasil belajar murid secara individual. Namun Asesmen Nasional menggantikan peran UN sebagai sumber infor¬masi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan. 

Sebagai alat untuk mengevaluasi mutu sistem, Asesmen Nasional akan menghasilkan potret yang lebih utuh tentang kualitas hasil belajar serta proses pembelajaran di sekolah. Laporan hasil Asesmen Nasional akan dirancang untuk menjadi “cermin” atau umpan balik yang berguna bagi sekolah dan Dinas Pendidikan dalam proses evaluasi diri dan perencanaan program.

9. Mengapa yang diukur adalah literasi dan numerasi? 

Jawab. 

Asesmen Nasional mengukur dua macam literasi, yaitu Literasi Membaca dan Literasi Matematika (atau Numerasi). Keduanya dipilih karena merupakan kemampuan atau kompetensi yang mendasar dan diperlukan oleh semua murid, terlepas dari profesi dan cita-citanya di masa depan. 

Literasi dan numerasi juga merupakan kompetensi yang perlu dikembangkan secara lintas mata pelajaran. Kemampuan membaca yang diukur melalui AKM Literasi sebaiknya dikembangkan tidak hanya melalui pelajaran Bahasa Indonesia, tapi juga pela¬jaran agama, IPA, IPS, dan pelajaran lainnya. 

Kemampuan berpikir logis-sistematis yang diukur melalui AKM Numerasi juga sebaiknya dikembangkan melalui berbagai pelajaran. Dengan mengukur literasi dan numerasi, Asesmen Nasional mendorong guru semua mata pela¬jaran untuk berfokus pada pengembangan kompetensi membaca dan berpikir logis-sistematis.

10. Mengapa Asesmen Nasional juga mengukur karakter murid? 

Jawab. 

Asesmen Nasional bertujuan tidak hanya memotret hasil belajar kognitif murid namun juga memotret hasil belajar sosial emosional. Asesmen nasional diharapkan dapat memotret sikap, nilai, keyakinan, serta perilaku yang dapat memprediksi tindakan dan kinerja murid di berbagai konteks yang relevan. Hal ini penting untuk menyam¬paikan pesan bahwa proses belajar-mengajar harus mengembangkan potensi murid secara utuh baik kognitif maupun non kognitif.

11. Bagaimana kaitan antara Asesmen Nasional dengan kurikulum? 

Jawab. 

Asesmen Nasional mengukur kompetensi mendasar (general capa¬bilities) yang dapat diterapkan secara luas dalam segala situasi. Kompetensi mendasar ini perlu dipelajari oleh semua murid dan sekolah, sehingga dibangun melalui pembelajaran beragam materi kurikulum lintas mata pelajaran. 

Target asesmen yang sekedar mengukur penguasaan murid akan konten atau materi kurikulum menjadi tidak relevan karena di era informasi saat ini, pengetahuan faktual semakin mudah diperoleh dan diakses oleh hampir setiap orang. 

Sekedar mengetahui menjadi tidak cukup dan kurang relevan. Asesmen Nasional berfokus mengukur pada kemampuan murid untuk menggunakan dan mengevaluasi pengetahuan yang diperoleh dari beragam materi kurikulum untuk merumuskan serta menyelesaikan masalah. Asesmen Nasional menggeser fokus dari keluasan pe-ngetahuan menuju kedalaman kompetensi dari kurikulum.

12. Apa peran Asesmen Nasional dalam pendidikan jalur non-formal? 

Jawab. 

Warga belajar diwajibkan menempuh ujian kesetaraan untuk dinyatakan lulus pendidikan non-formal. Asesmen Nasional meru¬pakan ujian kesetaraan yang menjadi salah satu syarat kelulusan. 

Oleh karena itu, peserta Asesmen Nasional dalam pendidikan jalur non-formal tidak dipilih secara acak oleh Kemdikbud. Peserta Asesmen Nasional pendidikan jalur non formal adalah warga belajar yang mendaftarkan diri untuk ujian kesetaraan. Hasil ujian kese¬taraan tersebut sekaligus digunakan sebagai Rapor PKBM.

Baca Juga: Pelaksanaan Asesmen Nasional 

Sumber :

Assesmen Nasional Lembar Tanya Jawab Pusat Assesmen dan Pembelajaran Kemdikbud


Contoh Assesmen Kompetensi Minimal (AKM)

A. Pengertian 

Agar lebih mudah memahami contoh-contoh AKM, sebaiknya perlu memahami ulang konsep, komponen AKM, Jenis dan aspek yang diukur.  Seperti kita ketahui AKM terdiri dari dua komponen yaitu literasi dan numerasi 

1. Literasi

Kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan  mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat.

Baca juga: Konsep AKM dan Literasi

2. Numerasi

Kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia.

B. Komponen AKM

Komponen AKM dikelompokkan Komponen numerasi dan literasi yang ditinjau  dari tiga aspek yaitu konten, proses kognitig dan konteks maka soal AKM sangat berkaitan dalam 3 komponen seperti digambarkan tabel berikut : 

 Komponen Numerasi terdiri dari 1)  Konten (materi) yaitu bilangan, pengukuran dan geometri, data dan uncertainty serta aljabar. 2) Proses kognitif yaitu pemahaman, aplikasi, dan penalaran 3) Konteks yang terdiri dari personal, sosial kultural dan saintifik.

Baca juga: Pentingnya Assesmen Diagonosis Kognitif

Komponen Literasi terdiri  1) Konten (materi) yaitu teks informasi dan teks sastra; 2) Proses kognitif yaitu menemukan informasi (retrieve and access), interpretasi , evaluasi dan refleksi; 3) Konteks yaitu personal, sosial budaya dan saintifik

C. Jenis AKM Numerasi- Literasi

Asesmen Kompetansi  Minimal (AKM) dapat dibedakan atas 3 jenis yaitu:  

1. AKM Nasional  diberikan pada kelas 5,kelas  8, dan kelas 11 yang tujuanya untuk: 

  • Mengukur kinerja/mutu sekolah 
  • Administrasi terstandar 

2. AKM Kelas awal SD dilakukan untuk: 

  • Mengukur hasil belajar siswa 
  • Formatif, alat untuk teach at the right level
  • Administrasi tidak terstandar 

3. AKM Sertifikasi dilaksanakan pada jenjang SMA/SMK kelas 12 untuk : 

  • Mengukur hasil belajar siswa 
  • Administrasi terstandar

D. Model Pelaksanaan  AKM 

Hal yang diukur

 

Capaian kompetensi pada literasi

Membaca dan numerasi

•Karakter siswa

•Gambaran lingkungan belajar

Target Pengukuran

 

Semua satuan pendidikan dengan

Sampel peserta didik kelas5, 8, dan 11

Moda asesmen

Komputer

Metode asesmen

Multistage adaptive test

Pelaporan

Satuan pendidikan dan agregat wilayah

Fokus laporan

Perbaikan pembelajaran serta peningkatan

Lingkungan belajar yang kondusif

Kebutuhan pengakuan  Kompetensi individu

Peserta didik kelas12 yang memerlukan pengakuan  akan mendaftarkan diri untuk AKM individu/siswa

E. Bentuk soal AKM 

Bentuk soal AKM terdiri dari beberapa jenis misalnya 

1. Objektif

  • Pilihan Ganda (hanya1 jawaban benar)
  • Pilihan Ganda kompleks (jawaban benar lebih dari 1)
  • Menjodohkan
  • Benar-Salah

2. Isian Singkat (angka, nama/benda yang sudah fixed)

3. Non-Objektif (essay)

F. Contoh AKM 

Contoh AKM Literasi: Ironi Komsumsi Ikan Di Indonesia . Kenapa ?

Potensi sumber daya ikan di Indonesia selama ini dikenal sangat berlimpah. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, potensi sumber daya ikan saat ini sudah mencapai 9,9 ton. Selain itu, potensi luas lahan budi daya ikan juga mencapai 83,6 juta hectare. Namun, dari semua potensi tersebut, minat masyarakat untuk mengomsumsi ikan sebagai lauk masih harus terus ditingkatkan . 

Komsumsi masyarakat Indonesia terhadap ikan masih terbilang rendah. Rata-rata tingkat komsumsi ikan di Indonesia baru mencapai 14 kilogram (kg) per kapita per tahun.  Meski mengalami kenaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya di 37-38 kg per kapita per tahun, tingkat komsumsi ikan di Indonesia masih kalah jauh dibangdingkan negara tetangga seperti Malasya (70 kg per kapita per tahun) dan Singapura (80 kg perkapita per tahun), bahkan kalah telak telak dengan Jepang (mendekati 100 kg pe kapita per tahun ) 

Beberapa hal yang menjadi penyebab masih rendahnya tingkat komsumsi ikan di Indonesia, diantaranya adalah 1) Kurangnya pemahamanan masyarakat tentang gizi dan manfaat ikan bagi kesehatan dan kecerdasan, 2) Rendahnya supply ikan akibat kurang lancarnya distribusi, 3) Belum berkembangnya teknologi pengolahan dan atau pengaaetan ikan sebagai bentuk keanekaragaman dalam ikut memenuhi rendahnya komsumsi.

Pernyataan

Jawaban

Tingkat komsumsi ikan di Indonesia jauh lebih rendah dari negara tetangga

Fakta    

 

Opini

 

Pendestribusian ikan tidak berjalan baik

Fakta    

Opini

Pengolahan maupun pengawetan ikan masih tertingal                 

Fakta    

Opini

Potensi ikan di Indonesia hampir mencapai 10 juta ton     

Fakta    

 

Opini

 

Manakah pernyataan yang merupakan fakta atau opini terkait ironi komsumsi ikan di Indonesia.?

Dari contoh di atas termasuk  AKM jenis literasi setelah membaca teks di atas diharapkan  peserta didik mampu membedakan mana  fakta dan mampu opini dari suatu pernyataan . 

1. Bank Soal AKM UNDUH DISINI

 2. Contoh-contoh  yang lebih lengkap UNDUH DISINI 

3. Untuk pendalaman pemahaman dan contoh AKM Klik DISINI 

Memahami Konsep AKM dan SK

Tulisan ini mungkin dapat digunakan   sebagai  bahan diskusi dan informasi tentang pemahaman konsep AKM dan SK yang saat ini sedang banyak diperbincangkan dikalangan pendidik dan tenaga kependidikan.

Pemahaman  konsep  tersebut menjadi sesuatu yang sangat penting untuk menghindari kesalah pahaman yang dapat menimbulkan salah arah dalam implementasinya.

Setidaknya ada tiga alasan mendasar mengapa muncul program AKM dan SK yang direncanakan Pemerintah mulai 2021

  1. Hasil PISA Indonesia sejak tahun 2000 cenderung stagnan

Programme for International Student Assesment (PISA)  merupakan studi international tentang penilaian prestasi literasi membaca, matematika, dan sains yang dilaksanakan satu kali dalam 3 tahun  oleh OFCD ( Organisation for Economic Cooperation and Development) yang berkedudukan di Paris.

Adapun peserta PISA adalah peserta didik pada jenjang   menengah yang berusia 15 tahun  dari berbagai negara.  Posisi Indonesia  sejak tahun 2000 adalah sebagai berikut:

Tahun
Jml.
Negara
Rank/Posisi Indonesia
Membaca
Matematika
Sains
2000
41
39
39
38
2003
41
29
38
38
2009
65
57
61
60
2012
65
61
65
65
2015
72
66
65
64
2018
79
74
73
71
2024
Belum/menunggu











Dari tabel tersebut selama kurun 18 tahun  bahwa posisi Indonesia dalam tiga bidang PISA, membaca, matematika dan sains sangat jauh tertinggal dibelakang (pengekor).

Contoh  data terakhir 2018 posisi Indonesia bidang membaca 74 dari 79 Negara, matematika urutan 73 dan sains sedikit maju urutan 71, dimana saat itu Cina urutan pertama dan Singapura urutan kedua.

Baca juga: Tanyajawab Seputar Asesmen Nasional 

Hal ini menjadi renungan semua kita tentang kemampuan peserta didik kita yang selama ini diukur dengan ujian nasional.

2. Penilaian yang dilakukan selama ini  yang  kurang selaras dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas khususnya pasal 58 ayat 1 dan 2 

Ayat 1.Evaluasi hasil belajar peerta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan

Ayat 2. Evaluasi peserta didik satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan

Jika kita memahami pasal 58 ayat 1) dan 2) memang kurang selaras dengan penilaian yang selama ini diterapkan di sekolah.

3. Ujian Nasional(UN)  cenderung menilai hanya aspek kognitif dan penguasaan konten bukan penalaran 
  • Materi  UN dirasakan  terlalu padat sehingga siswa dan guru cenderung menguji penguasaan konten,bukan kompetensi penalaran
  • UN dianggap menjadi beban bagi siswa, guru, dan orang tua  karena UN digunakan menjadi indikator keberhasilan siswa  sebagai individu dimana ujian nasional seharusnya berfungsi untuk pemetaan mutu  sistem pendidikan nasional, bukan penilaian siswa
  • UN cenderung hanya menilai aspek kognitif dari hasilbelajar, belum menyentuh karakter siswa secara menyeluruh, pada hal karakter siswa sangat berpengaruh kepada keberhasilannya di kemudian hari. 
  • Kurikulum 2013 yang kita gunakan adalah kurikulum yang berbasis  kompetensi maka  perlu asesmen yang lebih holistik ntuk  mengukur kompetensi peserta didik 
Atas 3 alasan di atas maka Kemdikbud merancang Asesmen Kompetensi (AKM) dan Survey Karakter (SK) untuk diimplementasikan tahun 2021mulai melakukan persiapan sebagai berikut: 
  • Mempersiapkan perangkat IT untuk peningkatan kualitas pembelajaran serta pelaksanaan Asesmen Kompetensi dan Survey Karakter.
  • Menyimulasikan sistem dan mempersiapkan implementasi Asesmen Kompetensi dan Survey Karakter.
  • Mengembangkan aplikasi Asesmen Kompetensi dan Survey Karakter.
  •  Mengembangkan instrumen Asesmen Kompetensi dan Survey Karakter.
Uraian di atas menjadi dasar Kemendikbud mengganti UN dengan AKM dan SK. Berikut penjelasan AKM dan SK.

A. Konsep Asesmen Kompetensi Minimal (AKM)

Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) adalah alat ukur  yang mengukur kemampuan minimal yang dibutuhkan para siswa untuk mempelajari materi lain.

Kemampuan yang dimaksud mencakup kemampuan literasi dan numerasi ( analisa suatu bacaan untuk memahami konsep , berfikir atau bernalar ketika membaca teks, dan analisa angka-angka, interpretasi grafik , diagram dan lain-lain ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan pengetahuan matematika) .

Kata minimal diartikan bahwa  tidak semua konten di dalam kurikulum dalam hal ini  KD mata pelajaran   diukur di dalam AKM, akan tetapi yang diukur adalah keterampilan dasar yaitu  literasi dan numerasi.

Tujuan  dan fungsi AKM  bukan untuk kenaikan kelas tau kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan akan tetapi berfungsi  untuk memetakan sekolah-sekolah dan daerah-daerah berdasarkan kompetensi minimal yang ditentukan.

Dengan kata lain fungsi AKM bukan digunakan sebagai laporan hasil belajar kognitif dan keterampilan kepada orang tua peserta didik seperti selama ini kita laksanakan , akan tetapi memetakan kompetensi minimal antar sekolah satu dengan sekolah lain , antar satu daerah dengan  daerah lain .

AKM juga tidak  dilaporkan secara individu seperti rapor yang diterima peserta didik sekarang, namun berupa laporan agregat yang fokus kepada peningkatan internal dari waktu kewaktu sehingga bukan komparasi kelompok.

Ditinjau dari segi pelaksanaan AKM direncanakan tidak dilaksanakan diakhir jenjang akan tetapi dilaksanakan di kelas 4 SD, kelas 8 SMP dan kelas 11 SMA/SMK, dengan tujuan untuk memberikan waktu bagi peserta didik dan sekolah melakukan perbaikan sebelum lulus dari jenjang sekolah tersebut.

Pemerintah juga merencanakan bahwa dalam  pelaksanaan AKM  akan melibatkan kerjasama dengan OFCD sehingga pelaksanaan AKM dapat menjamin peningkatan mutu

Materi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) mencakup literasi dan numerasi . Literasi dan numerasi bukan mata pelajaran bahasa atau matematika, melainkan kemampuan menggunakan konsep   untuk menganalisis sebuah materi. Berikut penjelasan Literasi, numerasi dan survey karakter .
1. Literasi

Literasi berasal dari bahasa Yunani (literatus) yaitu orang yang belajar  kemudian berkembang sehingga literasi merupakan kemampuan bernalar dengan menggunakan bahasa, kemampuan menganalisa suatu bahan bacaan (teks) dan memahami konsep-konsep untuk dapat digunakan memahami materi  lain.

Menurut UNESCO Literasi diartikan kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, mengintrepretasi, mengkreasi dan mengkomunikasikan  sesuatu dalam mengembangkan potensi dalam komunitas dalam bentuk teks dan digital.

Dengan demikian literasi bukan sekedar keterampilan membaca akan tetapi kemampuan bernalar tentang teks dan angka. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan konsep literasi pun semakin luas sehingga dapat dibedakan atas beberapa jenis seperti:  literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital,, literasi finansial dan  literasi budaya dan kewargaan.

Sebagai contoh  dalam  aspek kompetensi membaca dikategorikan menjadi tiga jenis yang mencakup kemampuan mengungkapkan kembali informasi (retrieving Information), mengembangkan interpretasi (developing an interpretation),merefleksikan dan mengevaluasi teks.

2. Kemampuan Numerik

Numerik sering juga disebut literasi numerik merupakan kemampuan bernalar dengan menggunakan matematika. Pengetahuan dan kecakapan untuk: menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari, dan menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dan sebagainya)

Kemudian menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan.
Numerasi dalam AKM  mencakup .
  • Bilangan,
  • Operasi dan perhitungan,
  • Geometri
  • Pengukuran dan Pengolahan data
Dengan demikian numerik bukan mengarah kepada matematika murni akan tetapi penerapan dasar-dasar perhitungan yang mencakup empat bidang di atas untuk memecahkan berbagai persoalan dalam lingkup antar mata pelajaran dan kehidupan sehari-hari.

B. Survey Karakter  (SK)

Survey Karakter disingkat dengan  SK  adalah survey karakter  dilakukan untuk mengukur kondisi ekosistem sekolah lingkungan belajar yang lebih bersifat sosial emosional, serta kualitas proses belajar-mengajar di tiap sekolah sebagai implementasi nilai-nilai dari Pancasila seperti,  bagaimana karakter gotong royong berjalan disekolah, menghargai keberagaman, apakah toleransi sudah terlaksana dengan baik, kebhinnekaan di sekolah,  apakah peserta didik senang dan merasa bahagia (wellbeing) dalam belajar maupun berada dilingkungan sekolah dan lain-lain.

Survey karakter juga bukan untuk mengisi rapor, kenaikan kelas atau kelulusan namun sama dengan AKM untuk mengetahui implementasi nilai-nilai karakter bangsa di sekolah yang melibatkan peserta didik menjadi responden dan bukan tes kognitif.

Baca juga: Pentingnya Penilaian Diagonosis Kognitif Berkala 

Untuk dapat mewujudkan AKM dan SK tentu saja bukan hal mudah sebab sistem penilaian yang kita gunakan selama ini sudah terpola dan mengakar yang sulit dirombak, misalnya pihak orang tua yang selama ini sudah terbiasa melihat nilai rapor anaknya dengan rasa kepuasan tersendiri ternyata tidak dapat lagi mereka lihat , guru yang telah terbiasa merancang soal untuk ulangan dan ujian akan menghadapai situasi baru dengan instrument survey dan sebagainya.

Maka tugas utama sekolah saat ini adalah sosialisasi konsep, dan perubahan paradigma tentang asesmen yang dilakukan oleh guru, apakah itu penilaian dalam bentuk , tugas , harian atau semester  sudah harus dimulai soal yang mengarah ke AKM.


Tulisan Selanjutnya : Contoh Assesmen Kompetensi Minimal (AKM)