Asesmen dan Rapor Pada Sekolah Penggerak

 Asesmen atau biasa kita sebut penilaian merupakan komponen yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dalam proses pembelajaran. Untuk dapat melaksanakan asesmen yang baik dalam sekolah penggerak guru perlu memahami prinsip-prinsip asesmen yang sedikit berbeda dengan prinsip penilaian yang selama ini dilakukkan pada kurikulum 2013. 

Selain dari prinsip asesmen guru juga perlu memahami jenis penilaian yang digunakan dan bentuknya, alur penilaian dan pengolahan nilai formatif dan sumatif menjadi nilai raport. Berikut ini dibahas satu persatu.  

A. Prinsip Asesmen 

Pada pembelajaran paradigma baru, pendidik diharapkan  menyelenggarakan lebih banyak asesmen formatif ( asesmen as learning dan asesmen for learning ) dari pada asesmen sumatif (asesmen of learning) untuk  meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam pelaksanaannya guru perlu memahami 5 prinsip asesmen yaitu: 

1. Asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, memfasilitasi pembelajaran, menyediakan  informasi sebagai umpan balik untuk guru, peserta didik, dan orang tua dengan ketentuan:
  • Asesmen dirancang berpusat pada kompetensi siswa
  • Peserta didik dapat melanjutkan ke kelas di atasnya sesuai dengan ketercapaian tujuan  pembelajaran yang dikelompokkan ke dalam kriteria mulai berkembang, berkembang, mahir, dan  sangat mahir
  • Peserta didik diberikan intervensi sesuai dengan tingkat kompetensinya
  • Pemberian intervensi dapat dilakukan sebelum pemberian laporan kemajuan belajar maupun saat  pelaksanaan pembelajaran di tingkat selanjutnya
2. Asesmen perlu dirancang dan dilakukan sesuai dengan tujuan. Kegiatan yang dilakukan guru seperti:
  • Mendorong proses belajar, menjadi bagian dari pembelajaran,  mengembangkan kemampuan metakognitif dan refleksi (asesmen  formatif)
  • Menilai hasil belajar dan mengambil keputusan di akhir suatu tahapan (asesmen sumatif)
  • Menentukan kebutuhan belajar dan membentuk program pembelajaran  individual peserta didik (asesmen diagnosis). Asesmen menngacu pada pencapaian pembelajaran 
3. Asesmen dirancang secara adil, valid dan dapat dipercaya, memberikan informasi yang kaya bagi guru, peserta  didik dan orang tua mengenai kemajuan dan pencapaian pembelajaran, serta keputusan tentang langkah  selanjutnya yaitu:
  • Asesmen yang berkeadilan, berarti penilaian tidak menguntungkan atau  merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar  belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan  gender
  • Asesmen memiliki validitas yang tinggi sehingga informasi yang dihasilkan  terpercaya
  • Reliabel, dapat diperbandingkan hasilnya karena konsisten
  • Adil dan objektif, menggunakan kriteria dan prosedur yang logis, sistematis,  dan jelas, dengan pengaruh subjektivitas penilai yang rendah
4. Asesmen sebaiknya meliputi berbagai bentuk tugas, instrumen, dan teknik yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditargetkan.
  • Karakteristik mata pelajaran,
  • Karakteristik dan kemampuan peserta didik,
  • Capaian pembelajaran,
  • Tujuan pembelajaran
  • Sumber daya pendukung yang tersedia 
5. Laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana dan informatif, memberikan informasi  yang bermanfaat untuk peserta didik dan orang tua, dan data yang berguna untuk penjaminan dan peningkatan  mutu pembelajaran.
  • Hasil penilaian memberikan makna yang relatif sama untuk semua  mata pelajaran (misalnya nilai 100 bermakna sama antara satu  mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya)
  • Laporan kemajuan belajar mengacu pada ketercapaian kompetensi  berdasarkan hasil asesmen formatif dan sumatif
  • Asesmen mudah dipahami dan memberikan informasi yang  utuh bagi orang tua, asesmen juga harus menjawab kebutuhan  peserta didik akan umpan balik yang memotivasi untuk  mengembangkan diri.
  • Asesmen mudah dilakukan oleh Guru.
B. Jenis Asesmen 

1. Asesmen Diagnostik 
Asesmen diagonostik adalah assesmen yang dilakukan secara spesifik untuk mengidentifikasi kompetensi, materi prasyarat , kekuatan, kesulitan murid, sehingga pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan tingkat  kompetensi dan kondisi peserta didik atau dengan kata lain sesuai kebutuhan murid. Asesmen diagonostik dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu: 
  • Asesmen non kognitif, tujuannya adalah untuk mengetahui kesejahteraan psikologi , sosial emosi siswa, karakteristik, aktivitas murid dalam belajar  dan kondisi keluarga murid
  • Asesmen kognitif, tujuannya adalah untuk mengidentifikasi capaian kompetensi murid, materi prasyarat untuk menyesuaikan pembelajaran dikelas, serta dapat digunakan untuk menentukan materi tambahan yang akan diberikan kepada murid yang belum memenuhi prasyarat.  
2. Asesmen Formatif 
Dilaksanakan bersamaan dalam proses pembelajaran,  yang, kemudian ditindaklanjuti untuk memberi perlakuan  berdasarkan kebutuhan peserta didik serta perbaikan  proses pembelajaran. Pendidik dapat menggunakan berbagai teknik seperti  observasi, performa (kinerja, produk, proyek, portofolio),  maupun tes.

Tindak lanjut yang dilakukan bisa dilakukan langsung  dengan memberikan umpan balik atau melakukan  intervensi. Pendidik dapat mempersiapkan berbagai instrumen  seperti rubrik, catatan anekdotal, lembar ceklist untuk  mencatat informasi yang terjadi selama pembelajaran  berlangsung.

3. Asesmen Sumatif
Sumatif dilakukan pada akhir lingkup  materi untuk mengukur kompetensi  yang dikehendaki dalam tujuan  pembelajaran dan pada akhir semester Pendidik dapat menggunakan berbagai  teknik seperti portofolio, performa  (kinerja, produk, proyek, portofolio),  maupun tes. Hasil sumatif dapat ditindak lanjuti  dengan memberikan umpan balik atau  melakukan intervensi kepada peserta  didik maupun proses pembelajaran yang  telah dilakukan

C. Alur pelaksanaan Asesmen

Guru perlu memahami alur pelaksanaan asesmen yang dimulai dari perencanaan hingga pengolahan hasil asesmen sebagai berikut: 
  1. Menggunakan alur tujuan pembelajaran yang telah disusun, kemudian diidentifikasi tujuan pembelajaran yang menjadi kompetensi yang diinginkan 
  2. Mengidentifikasi bentuk asesmen yang hendak dilakukan untuk mengukur pembelajaran secara formatif dan sumatif
  3. Membuat Instrumen asesmen formatif dan sumatif bersamaan dengan menyusun model ajar
  4. Pelaksamaan asesmen formatif dan sumatif 
  5. Mengolah hasil asesmen 
C. Pengolahan  Hasil Asesmen 

Alternatif 1: Mengolah seluruh data formatif dan sumatif, untuk dijadikan nilai rapor
Alternatif 2: Mengolah seluruh data formatif dan sumatif, untuk dijadikan nilai rapor.
Alternatif 3: Mengolah seluruh data formatif dan sumatif, untuk dijadikan nilai rapor.

Ketiga alternatif di atas memiliki masing-masing kelebihan dan kekurangan , oleh sebab itu sekolah perlu melakukan penyesuaian kondisi dan kesepakatan alternatif mana yang dipilih. Dibawah ini dapat didownload bentuk pengolahan asesmen formatif dan sumatif serta pengolahannya dalam bentuk nilai rapor. Download  Disini 















Cara Membuat Makalah Tinjauan Ilmiah Bagi Guru

 Salah satu karya ilmiah yang dapat dibuat untuk diajukan naik pangkat guru adalah makalah tinjauan ilmiah . Makalah tinjauan ilmiah ini sangat menguntungkan dari sisi angka kredit  sebesar 2 per makalah dan penyusunannya tidak lah terlalu sulit, sayangnya  jenis karya ilmiah tersebut belum populer diantara guru dan kalaupun ada yang membuat sering ditolak karena tidak sesuai dengan kriteria yang ditetapkan (buku 4 PKB dan buku 5 PKB terbitan tahun 2019).

Dari pengalaman sebagai tim penilai angka kredit guru ternyata  mereka salah persepsi atau kurang memahami konsep, kriteria dan standar karya yang satu ini sehingga sering cara penyusunan dan penulisan seperti diktat tidak menggambarkan masalah yang dibahas.  

Tulisan di bawah ini mungkin bermanfaat bagi para guru yang tertarik membuat karya  jenis makalah  tinjauan ilmiah sehingga dapat berkontribusi dalam pengumpulan angka kredit  dalam pengusulan naik panggakat.

A. Konsep Makalah Tinjauan Ilmiah Guru 

Makalah tinjauan ilmiah adalah karya tulis guru yang berisi ide/gagasan penulis dalam upaya mengatasi berbagai masalah pendidikan formal dan pembelajaran yang ada di satuan pendidikannya (di sekolahnya). Dari pengertian ini dapat terlihat ciri makalah tinjauan ilmiah seperti :

  1. Ada masalah yang ditemui atau dirasakan guru dalam ruang lingkup pendidikan formal dan pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas dilingkungan sekolah.
  2. Ada ide /gagasan dari guru untuk mengatasi  masalah  yang terjadi tersebut  
  3. Ide yang dicetuskan didukung teori/pendapat para ahli/pengalaman orang lain 
  4. Tempat terjadi masalah tersebut disekolah tempat guru mengajar (satuan pendidikannya) 

Masalah yang dimaksud seperti kesulitan siswa dalam belajar pada materi tertentu , praktik, kebiasaan yang kurang baik, disiplin , sikap dan lain-lain . Penyelesaian masalah tersebut akan menjadi masukan yang baik bagi sekolah (refrensi) dalam meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan . 

Bukti bahwa guru bersangkutan benar membuat makalah dan terbuka dipelajari guru lain maka perlu disertakan  

  1. Surat pernyataan tentang keaslian dari kepala sekolah yang  disertai tanda tangan kepala sekolah/ dan cap sekolah
  2. Surat keterangan dari pengelola perpustakaan sekolah yang  menyatakan bahwa arsip dari makalah tersebut telah disimpan di perpustakaan sekolahnya

B. Struktur / Susunan Makalah Tinjauan Ilmiah

Struktur makalah tinjauan ilmiah terdiri dari tiga bagian seperti di bawah ini: 

Bagian Awal 

Halaman Judul, 

Lembar Persetujuan/Keaslian dari Kepala Sekolah 

Surat Keterangan dari kepala /pengelola perpustakaan 

Kata Pengantar,

Abstrak (Ringkasan)

Daftar Isi

Daftar Tabel (kalau ada)

Daftar Gambar (kalau ada)

Daftar Lampiran 

Bagian Isi  terdiri dari :

Bab I PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang Masalah 

B. Rumusan  Masalah 

C. Tujuan 

D. Manfaat

Baca juga: Langkah Analisis Dalam Penelitian 

Bab II KAJIAN TEORI /TINJAUAN PUSTAKA 

Dalam bab ini perlu dijelaskan masalah yang ditemui dalam lingkup pembelajaran/pendidikan formal disekolahnya , selanjutnya dijelaskan Teori yang dapat  mendukung pemecahan masalah  ide atau gagasan, seperti pendapat para ahli, pengalaman /hasil penelitian orang lain  dan hal lain yang terkait  dengan masalah dan pembahasannya 

Bab III PEMBAHASAN 

Uraian hasil yang dicapai dan indikator dengan menerapkan ide/gagasan tersebut .Jelaskan bahwa hasilnya dengan membanding data-data  bagaimana tindakan , cara langkah-langkah yang dilakukan guru , alat dan atau instrumen yang digunakan , tempat dan waktu 

Pihak yang mana yang menunjang pelaksanaan penyusunan makalah tinjauan ilmiah  hubungkan teori dengan yang ada . Langkah yang harus dibuat adalah inovatif dan keaslian , kecemerlangan 

Bab III PENUTUP 

A. Simpulan 

B. Saran/Rekomendasi 

Bagian Pendukung :

DAFTAR PUSTAKA 

LAMPIRAN –LAMPIRAN 


C. Alasan Makalah Tinjauan Ilmiah Sering ditolak (Tidak dapat dihitung angka kreditnya)

Makalah tinjauan ilmiah yang diajukan untuk memperoleh angka kredit dapat ditolak jika tidak sesuai dengan ketentuan yang dipersyaratkan. Dalam buku Pedoman Penilaian Kegiatan Pengembanagan Keprofesian Berkelanjutan dijelaskan dua alasan penolakan. Makalah tinjauan ilmiah ditolak jika:

1. Dinyatakan sebagai Tinjauan Ilmiah, namun belum mengikuti sistematika penulisan dan alur berpikir ilmiah sebagai karya tinjauan ilmiah sesuai dengan pedoman.

Disarankan memperbaiki  publikasi ilmiah tersebut dengan memakai sistematika publikasi tinjauan ilmiah, yang terdiri atas Bagian Awal, Bagian Isi, dan Bagian Penunjang sebagaimana yang dijelaskan pada bagian terdahulu.

2. Dinyatakan sebagai Tinjauan Ilmiah, namun tidak dijumpai adanya data-data dan gagasan penulis dalam membahas/mengatasi masalah.

Disarankan memperbaiki publikasi ilmiah tersebut dengan memakai sistematika publikasi ilmiah tinjauan ilmiah, yang paling tidak memuat:

  • Bagian Awal yang  terdiri dari: halaman judul; lembaran persetujuan; kata pengantar; daftar isi, daftar label, daftar gambar dan lampiran, serta abstrak atau ringkasan.
  • Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni: Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah. Bab Kajian Teori/Tinjauan Pustaka. Bab Pembahasan Masalah yang didukung data-data yang ada di satuan pendidikannya. Yang sangat perlu disajikan pada bab ini adalah kejelasan ide atau gagasan asli si penulis yang terkait dengan upaya pemecahan masalah di satuan pendidikannya (di sekolahnya). Bab Kesimpulan.
  • Bagian Penunjang  sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran tentang data yang dipakai untuk menunjang tinjauan atau gagasan ilmiah.

Demikianlah pembahasan mengenai karya tulis berupa tinjauan ilmiah semoga bermanfaat. 


Tanya Jawab Seputar Perangkat Ajar

1. Apa saja langkah besar dalam penyusunan perangkat ajar?

Secara umum, ada 2 langkah besar dalam penyusunan perangkat ajar untuk suatu mata pelajaran: Penyusunan alur dan tujuan pembelajaran dan pengembangan Modul Ajar.

2. Apa fungsi perangkat ajar?

Perangkat ajar diharapkan dapat membantu guru mengajar menggunakan metode terdiferensiasi.

3. Apa yang dimaksud dengan Alur Pembelajaran (AP)?

Alur Pembelajaran (AP) adalah rangkaian tujuan pembelajaran yang tersusun secara sistematis dan logis di dalam fase secara utuh dan menurut urutan pembelajaran sejak awal hingga akhir suatu fase. Alur ini disusun secara linear sebagaimana urutan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dari hari ke hari untuk mengukur Capaian Pembelajaran.

4. Apa fungsi Alur Pembelajaran (AP)?

Fungsi Alur Pembelajaran (AP) adalah sebagai panduan guru dan siswa untuk mencapai Capaian Pembelajaran di akhir fase tersebut.

5. Apa yang harus diperhatikan dalam mengembangkan Alur Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran?

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan Alur Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran antara lain:

  • Guru berhak untuk menyusun alur pembelajaran masing-masing, yang terdiri dari rangkaian tujuan pembelajaran.
  • Pemerintah menyediakan beberapa set alur untuk digunakan sebagai contoh pengembangan kurikulum yang siap digunakan satuan pendidikan, dan panduan untuk penyusunan perangkat ajar.

6. Apa yang dimaksud dengan Tujuan Pembelajaran (TP)?

Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan deskripsi pencapaian tiga aspek kompetensi yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh siswa dalam satu atau lebih kegiatan pembelajaran, disusun secara kronologis berdasarkan urutan pembelajaran dari waktu ke waktu yang menjadi prasyarat menuju Capaian Pembelajaran (CP).

7. Bagaimana rumusan Tujuan Pembelajaran (TP)?

Rumusan tujuan pembelajaran tidak hanya mencakup tahapan kognitif (mengingat, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta) dan dimensi pengetahuan (faktual, konseptual, procedural, metakognitif) tetapi juga mengikutsertakan perilaku capaian seperti kecakapan hidup (kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif) serta profil pelajar Pancasila (Beriman, berkebinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri).

Baca Juga: Tanya Jawab Seputar Penyusunan Modul Ajar

8. Aspek-aspek apa saja dalam operasional komponen Tujuan Pembelajaran (TP)?

Secara operasional komponen Tujuan Pembelajaran dapat memuat tiga aspek antara lain: Kompetensi, konten, dan variasi.

9. Apa yang dimaksud dengan aspek kompetensi dalam operasional komponen Tujuan Pembelajaran (TP)?

Kompetensi adalah kemampuan yang dapat didemonstrasikan oleh siswa atau diaktualisasikan dalam bentuk produk atau kinerja (abstrak dan konkret) yang menunjukkan siswa telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran.

Gunakan Kata Kerja Operasional dapat diamati, mengacu pada Taksonomi Bloom yang direvisi. Contoh: Peserta didik dapat menyajikan solusi utk menangani perubahan kondisi alam dipermukaan bumi akibat faktor manusia.

10. Apa yang dimaksud dengan aspek konten dalam operasional komponen Tujuan Pembelajaran (TP)?

Konten yaitu ilmu pengetahuan inti atau konsep utama yang diperoleh siswa melalui pemahaman selama proses pembelajaran di akhir satu unit pembelajaran. Apa ilmu pengetahuan inti atau konsep utama yang perlu dipahami di akhir satu unit pembelajaran? Pertanyaan apa yang perlu dapat dijawab siswa setelah mempelajari unit tersebut? Contoh: perubahan kondisi alam di permukaan bumi akibat faktor manusia.

Baca Juga: Standar Proses Pembelajaran Dalam PP 57 Tahun2021

11. Apa yang dimaksud dengan aspek variasi dalam operasional komponen Tujuan Pembelajaran (TP)?

Variasi adalah sebuah keterampilan berpikir apa saja yang perlu dikuasai siswa untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Penggunaan keterampilan berpikir kreatif, kritis, dan tingkat tinggi, seperti mengevaluasi, menganalisis, memprediksi, menciptakan, dan lain sebagainya. Keterampilan berpikir apa saja yg perlu dikuasai siswa untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran? Gunakan keterampilan berpikir yang bervariasi terutama HOTS.

Contoh: Menganalisa hubungan antara kegiatan manusia dengan perubahan alam dipermukaan bumi dan menarik kesimpulan penyebab-penyebab utamanya. --> Dimana untuk bisa menganalisa hubungan dan menarik kesimpulan, peserta perlu mengetahui, memahami, mengaplikasi materi tersebut.

12. Apa yang dimaksud dengan Alur Tujuan Pembelajaran?

Alur Pembelajaran (AP) adalah rangkaian tujuan pembelajaran yang tersusun secara sistematis dan logis di dalam fase secara utuh dan menurut urutan pembelajaran sejak awal hingga akhir suatu fase. Alur ini disusun secara linear sebagaimana urutan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dari hari ke hari untuk mengukur CP.

13. Apa prinsip-prinsip Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)?

Prinsip-prinsip Alur Tujuan Pembelajaran diantaranya: sederhana dan informatif, esensial dan konseptual, berkesinambungan, pengoptimalan tiga aspek kompetensi, Merdeka Belajar, operasional dan aplikatif, dan adaptif dan fleksibel.

14. Apa yang dimaksud dengan prinsip sederhana dan informatif dalam Alur Tujuan Pembelajaran?

Yang dimaksud dengan prinsip sedehana dan informatif dalam Alur Tujuan Pembelajaran adalah perumusan ATP dipahami oleh penulis sendiri maupun pengguna/pembaca. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan istilah atau terminologi yang umum dan tidak bermakna ambigu atau tafsir ganda. Untuk penggunaan istilah khusus, penulis dapat menyertakan penjelasan secukupnya dalam bentuk glosarium.

15. Apa yang dimaksud dengan prinsip esensial dan konseptual dalam Alur Tujuan Pembelajaran?

Yang dimaksud dengan prinsip esensial dan konseptual dalam Alur Tujuan Pembelajaran adalah memuat aspek pembelajaran yang sangat mendasar atau penting yakni kompetensi, Esensial dan Kontekstual konten, dan hasil pembelajaran. Selain itu, juga mempertimbangkan penyediaan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan atau dunia nyata berupa aktivitas yang menantang, menyenangkan dan bermakna.

Baca Juga: Seputar Asesmen Formatif dan Sumatif 

16. Apa yang dimaksud dengan prinsip berkesinambungan dalam Alur Tujuan Pembelajaran?

Yang dimaksud dengan prinsip berkesunambungan dalam Alur Tujuan Pembelajaran adalah antarfase dan antartujuan pembelajaran saling terkait dan merupakan capaian secara runtut, sistematis, dan berjenjang untuk memeroleh Capaian Pembelajaran yang telah ditetapkan dalam setiap mata pelajaran. Penyusunan dilakukan secara kronologis berdasarkan urutan pembelajaran dari waktu ke waktu.

17. Apa yang dimaksud dengan prinsip pengoptimalkan tiga aspek kompetensi dalam Alur Tujuan Pembelajaran?

Yang dimaksud dengan prinsip pengoptimalkan tiga aspek kompetensi dalam Alur Tujuan Pembelajaran adalah Pengoptimalan tiga aspek kompetensi yaitu: pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berjenjang selaras dengan tahapan kognitif (mengingat, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta) serta dimensi pengetahuan (faktual – konseptual – prosedural – metakognitif). Pengoptimalan juga dilakukan pada penumbuhan kecakapan hidup (kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif) serta P3 (Beriman, berkebinekaan global, bergotong-royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri).

18. Apa yang dimaksud dengan prinsip Merdeka Belajar dalam Alur Tujuan Pembelajaran?

Yang dimaksud dengan prinsip Merdeka Belajar dalam Alur Tujuan Pembelajaran adalah prinsip utama penyusunan ATP adalah pemahaman istilah merdeka belajar antara lain: (1) Memerdekakan siswa dalam berpikir dan bertindak pada ranah akademis dan bertanggung jawab secara moral,

(2) Memfasilitasi dan menginspirasi kreativitas siswa dengan mempertimbangkan keunikan individualnya (kecepatan belajar, gaya dan minat). (3) Mengoptimalkan peran dan kompetensi guru dalam merumuskan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.

19. Apa yang dimaksud dengan prinsip Operasional dan Aplikatif dalam Alur Tujuan Pembelajaran?

Yang dimaksud dengan prinsip operasional dan aplikatif dalam Alur Tujuan

Pembelajaran adalah rumusan ATP memvisualisasikan dan mendeskripsikan proses pembelajaran dan penilaian secara utuh yang dapat menjadi acuan operasional yang aplikatif untuk merancang modul ajar.

20. Apa yang dimaksud dengan prinsip Adaptif dan fleksibel dalam Alur Tujuan Pembelajaran?

Yang dimaksud dengan prinsip adaptif dan fleksibel dalam Alur Tujuan Pembelajaran adalah sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik siswa, dan karakteristik satuan pendidikan serta mempertimbangkan alokasi waktu dan relevansi antarmata pelajaran serta ruang lingkup pembelajaran yakni intra kurikuler, kokurikuler, dan ekstra kurikuler.

21. Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan dalam Prinsip Penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran?

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Prinsip Penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran antara lain:

  • Perumusan dan penyusunan Alur dan Tujuan Pembelajaran berfungsi mengarahkan guru dalam merencanakan, mengimplementasi dan mengevaluasi pembelajaran secara keseluruhan sehingga capaian pembelajaran diperoleh secara sistematis, konsisten, terarah dan terukur.
  • Penggunaan kata kerja operasional dalam rumusan tujuan pembelajaran memfasilitasi guru dalam mengidentifikasi indikator atau kegiatan/aktivitas pembelajaran yang tentunya sangat terkait dengan pemilihan materi ajar dan jenis evaluasi pembelajaran baik formatif maupun sumatif.

22. Apa saja langkah-langkah yang menjadi Prosedur dalam Penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran?

Ada tujuh langkah-langkah yang menjadi prosedur dalam Penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran antara lain:

  • Melakukan analisis Capaian Pembelajaran yang memuat materi dan kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
  • Identifikasi kompetensi-kompetensi di akhir fase dan kompetensi-kompetensi sebelumnya yang perlu dikuasai peserta didik sebelum mencapai kompetensi di akhir fase.
  • Melakukan analisis setiap elemen dan atau subelemen Profil Pelajar Pancasila yang sesuai dengan mata pelajaran dan Capaian Pembelajaran pada Fase tersebut. Ada enam dimensi, yaitu: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha, Esa dan berakhlak mulia, mandiri, bergotong-royong, berkebinekaan global, bernalar kritis, dan kreatif.
  • Berdasarkan  identifikasi  kompetensikompetensi  inti  di  akhir  fase, rumuskan tujuan pembelajaran dengan mempertimbangkan kompetensi yang akan dicapai, pemahaman bermakna yang akan dipahami dan variasi keterampilan berpikir apa yang perlu dikuasai siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
  • Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan, susun tujuan pembelajaran secara linear sebagaimana urutan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dari hari ke hari.
  • Tentukan lingkup materi dan materi utama setiap tujuan pembelajaran (setiap tujuan pembelajaran dapat memiliki lebih dari satu lingkup materi dan materi utama).
  • Berdasarkan perumusan TP tentukan jumlah jam pelajaran yang diperlukan. Contoh: TP untuk mencapai suatu kompetensi pengetahuan 120 menit, keterampilan 480, dan sikap 120 menit.

23. Apa saja prinsip-prinsip Pembelajaran?

Ada lima macam prinsip-prinsip Pembelajaran antara lain:

  • Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakter dan perkembangan mereka.
  • Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas belajar peserta didik dan kapasitas mereka untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, mendorong pengembangan kapasitas belajar.
  • Kegiatan belajar mendukung perkembangan kognitif dan karakter peserta didik secara berkelanjutan dan holistik.
  • Pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks kehidupan dan budaya peserta didik, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra.
  • Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.

24. Apa saja prinsip-prinsip Asesmen?

Ada lima macam prinsip-prinsip Asesmen antara lain:

  • Asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, memfasilitasi pembelajaran, menyediakan informasi sebagai umpan balik untuk guru, peserta didik, dan orang tua.
  • Asesmen perlu dirancang dan dilakukan sesuai dengan tujuan.
  • Asesmen dirancang secara adil, valid dan dapat dipercaya, memberikan informasi yang kaya bagi guru, peserta didik dan orang tua mengenai kemajuan dan pencapaian pembelajaran, serta keputusan tentang langkah selanjutnya.
  • Asesmen sebaiknya meliputi berbagai bentuk tugas, instrumen, dan teknik yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditargetkan.
  • Laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat untuk peserta didik dan orang tua, dan data yang berguna untuk penjaminan dan peningkatan mutu pembelajaran.

25. Prinsip-prinsip Asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, memfasilitasi pembelajaran, menyediakan informasi sebagai umpan balik untuk guru, peserta didik, dan orang tua dalam prinsip-prinsip Asesmen?

  • Guru merancang pembelajaran berdasarkan hasil asesmen.
  • Asesmen dikembangkan sejak awal perencanaan pembelajaran, sehingga kegiatan asesmen terintegrasi dan berkaitan erat dengan pembelajaran.
  • Keterkaitan antara tujuan pembelajaran dengan asesmen yang dirancang: Termasuk dengan kriteria penilaian hasil belajar siswa, Asesmen yang targeted sesuai kebutuhan belajar, dan Asesmen memberikan pengaruh pada apa dan bagaimana peserta didik belajar, dan juga sebaliknya.

26. Prinsip-prinsip Asesmen perlu dirancang dan dilakukan sesuai dengan tujuan dalam prinsip-prinsip Asesmen?

  • Asesmen dapat digunakan untuk: mendorong proses belajar, menjadi bagian dari pembelajaran, mengembangkan kemampuan metakognitif dan refleksi (asesmen formatif); menilai hasil belajar dan mengambil keputusan di akhir suatu tahapan (asesmen sumatif); menentukan kebutuhan belajar dan membentuk program pembelajaran individual peserta didik (asesmen diagnosis).
  • Mengacu pada Capaian Pembelajaran.

27. Bagaiman Asesmen dirancang secara adil, valid, dan dapat dipercaya, memberikan informasi yang kaya bagi guru, peserta didik dan orang tua mengenai kemajuan dan pencapaian pembelajaran, serta keputusan tentang langkah selanjutnya dalam prinsip-prinsip Asesmen?

  • Asesmen yang berkeadilan, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
  • Asesmen memiliki validitas yang tinggi sehingga informasi yang dihasilkan terpercaya.
  • Reliabel, dapat diperbandingkan hasilnya karena konsisten.
  • Adil dan objektif, menggunakan kriteria dan prosedur yang logis, sistematis, dan jelas, dengan pengaruh subjektivitas penilai yang rendah.

30. Bagaimana Asesmen sebaiknya meliputi berbagai bentuk tugas, instrumen, dan teknik yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditargetkan dalam prinsip-prinsip Asesmen?

Guru diberikan otonomi yang luas dalam merencanakan dan menggunakan jenis dan teknik asesmen dengan mempertimbangkan: Karakteristik mata pelajaran, karakteristik dan kemampuan peserta didik, Capaian pembelajaran, Tujuan pembelajaran, dan Sumber daya pendukung yang tersedia.

Baca juga: Implementasi Pembelajaran Berdifrensiasi di Kelas 

31. Bagaimana laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat untuk peserta didik dan orang tua, dan data yang berguna untuk penjaminan dan peningkatan mutu pembelajaran dalam prinsip-prinsip Asesmen?

Hasil penilaian memberikan makna yang relatif sama untuk semua mata pelajaran (misalnya nilai 100 bermakna sama antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya). Laporan kemajuan belajar mengacu pada ketercapaian kompetensi berdasarkan hasil asesmen formatif dan sumatif.

Asesmen mudah dipahami dan memberikan informasi yang utuh bagi orang tua, asesmen juga harus menjawab kebutuhan peserta didik akan umpan balik yang memotivasi untuk mengembangkan diri. Asesmen mudah dilakukan oleh Guru.

32. Apa keterkaitan Asesmen dengan Prinsip Pembelajaran? Keterkaitan Asesmen dengan prinsip pembelajaran antara lain:

  • Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakter dan perkembangan mereka.
  • Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas belajar peserta didik dan kapasitas mereka untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
  • Kegiatan belajar mendukung perkembangan kognitif dan karakter peserta didik secara berkelanjutan dan holistik.
  • Pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks kehidupan, menghargai budaya peserta didik, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra.
  • Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.

33. Bagaimana pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakter dan perkembangan mereka dalam keterkaitan Asesmen dengan Prinsip Pembelajaran?

  • Asesmen dirancang berpusat pada kompetensi siswa.
  • Peserta didik dapat melanjutkan ke kelas di atasnya sesuai dengan ketercapaian tujuan pembelajaran yang dikelompokkan ke dalam kriteria mulai berkembang, berkembang, mahir, dan sangat mahir.
  • Peserta didik diberikan intervensi sesuai dengan tingkat kompetensinya.
  • Pemberian intervensi dapat dilakukan sebelum pemberian laporan kemajuan belajar maupun saat pelaksanaan pembelajaran di tingkat selanjutnya.

34. Bagaimana pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakter dan perkembangan mereka dalam keterkaitan Asesmen dengan Prinsip Pembelajaran?

Menanamkan growth-mindset (pola pikir bertumbuh). Harapannya, asesmen bisa membangun kesadaran bahwa proses mencapai tujuan pembelajaran lebih penting daripada hasil akhir. Untuk itu, guru diharapkan mampu menerapkan prinsip pola pikir bertumbuh (Growth Mindset) dalam asesmen, sebagai berikut:

  • Guru dan peserta didik perlu membangun budaya ‘tidak takut salah dalam belajar’.
  • Belajar bukan tentang kecepatan, tetapi tentang pemahaman yang mendalam.
  • Menerapkan penilaian diri (self assessment), penilaian antara teman (peer assessment), refleksi diri, dan pemberian umpan balik antar teman (peer feedback).
  • Pemberian umpan balik dari Guru kepada peserta didik yang dilakukan dengan mendeskripsikan usaha terbaik untuk menstimulasi pola pikir bertumbuh dan memotivasi peserta didik.

35. Bagaimana kegiatan belajar mendukung perkembangan kognitif dan karakter peserta didik secara berkelanjutan dan holistik dalam keterkaitan Asesmen dengan Prinsip Pembelajaran?

  • Asesmen sebagai bagian dari pembelajaran mencakup kompetensi pada ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang saling terkait.
  • Menerapkan nilai-nilai yang sesuai untuk mengembangkan karakter dan kompetensi yang terkandung dalam Profil Pelajar Pancasila.
  • Sequence pembelajaran yang logis dan relevan dengan tingkat kesulitan yang sesuai untuk peserta didik.
  • Menstimulasi kemampuan berpikir tahap tinggi.

36. Bagaimana pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks kehidupan, menghargai budaya peserta didik, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra dalam keterkaitan Asesmen dengan Prinsip Pembelajaran?

  • Asesmen dirancang berpusat pada anak, mempertimbangkan di mana kehidupan dan latar belakang keluarga peserta didik.
  • Orangtua dan masyarakat dilibatkan dalam proses-proses pengambilan keputusan terkait pembelajaran dan asesmen.
  • Lingkungan belajar dengan iklim yang positif untuk semua peserta didik, sehingga setiap individu merasa aman untuk berada di lingkungan belajar.

Baca Juga: Tanya Jawab Seputar Profil Pelajar Pancasila 

37. Bagaimana   pembelajaran   berorientasi   pada   masa   depan   yang berkelanjutan dalam keterkaitan Asesmen dengan Prinsip Pembelajaran?

  • Membangun wawasan peserta didik tentang isu-isu ini dalam tingkat global dan menumbuhkembangkan rasa peka mereka terhadap masalah-masalah ini dan kesadaran akan kebutuhan diri sendiri, lingkungan, dan dunia yang lebih baik.
  • Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan asesmen.
Demikian tanya jawab tentang Perangkat Ajar (AP) semoga ada manfaatnya.

Bahan Tulisan: Materi pelatihan Program Sekolah Penggerak

Tanya Jawab Seputar Penyusunan Modul Ajar

Salah satu materi dalam sekolah pengerakadalah pengembangan modul, apa yang dimaksud dengan modul ajar dan langkah-langkah penyusunannya dapat dijelaskan dari hasil  tanya jawab berikut:  

1. Apa yang dimaksud dengan Pengembangan Modul Ajar?

Seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), namun dilengkapi dengan berbagai materi pembelajaran, lembar aktivitas siswa, dan asesmen untuk mengecek apakah tujuan pembelajaran dicapai siswa.

2. Apa saja Konsep Modul Ajar? 

Konsep Modul Ajar antara lain:

  • Modul ajar adalah sejumlah alat atau sarana media, metode, petunjuk, dan pedoman yang dirancang secara sistematis dan menarik.
  • Modul ajar merupakan implementasi dari Alur Tujuan Pembelajaran yang dikembangkan dari Capaian Pembelajaran dengan Profil Pelajar Pancasila sebagai sasaran.
  • Modul ajar disusun sesuai dengan fase atau tahap perkembangan peserta didik, mempertimbangkan apa yang akan dipelajari dengan tujuan pembelajaran, dan berbasis perkembangan jangka panjang.
  • Guru perlu memahami konsep mengenai modul ajar agar proses pembelajaran lebih menarik dan bermakna.

Baca juga: Tanya Jawab Seputar Assesmen Formatif dan Sumatif

3. Apa saja Prinip-prinsip Penyusunan Modul Ajar? 

Pendekatan melalui tahap perkembangan ini memperhitungkan:

  • Karakteristik, kompetensi dan minat peserta didik di setiap fase.
  • Perbedaan tingkat pemahaman, dan variasi jarak (gap) antar tingkat kompetensi yang bisa terjadi di setiap fase.
  • Melihat dari sudut pandang pelajar, bahwa setiap peserta didik itu unik.
  • Bahwa belajar harus berimbang antara intelektual, sosial, dan personal dan semua hal tersebut adalah penting dan saling berhubungan.
  • Tingkat kematangan setiap peserta didik tergantung dari tahap perkembangan yang dilalui oleh seorang peserta didik, dan merupakan dampak dari pengalaman sebelumnya.

4. Kriteria apa saja yang harus dimiliki dalan Penyusunan Modul Ajar? 

Kriteria dalam penyusunan Modul Ajar antara lain:

  • Esensial: Pemahaman konsep dari setiap mata pelajaran melalui pengalaman belajar dan lintas disiplin.
  • Menarik, Bermakna, dan Menantang: Menumbuhkan minat untuk belajar dan melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses belajar, berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya, sehingga tidak terlalu kompleks, namun juga tidak terlalu mudah untuk tahap usianya.
  • Relevan dan konseptual: Berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya, dan sesuai dengan konteks di waktu dan tempat peserta didik berada.
  • Berkesinambungan: Keterkaitan alur kegiatan pembelajaran sesuai dengan fase belajar peserta didik.

Baca Juga: Tanya Jawab Seputar Profil Pelajar Pancasila

5. Enam langkah-langkah/prosedur apa saja yang harus ditempuh dalan Penyusunan Modul Ajar?

Enam langkah-langkah/prosedur yang harus ditempuh dalam penyusunan Modul Ajar antara lain:

  • Analisis kondisi dan kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan Guru perlu mengetahui kondisi dan kebutuhan peserta didik berdasarkan latar belakang serta sarana dan prasarana sekolah. Pengembangan modul ajar disesuaikan dengan kemampuan dan kreatifitas guru.
  • Identifikasi dan tentukan dimensi Profil Pelajar Pancasila
  • Guru memilih dimensi Profil Pelajar Pancasila yang paling memungkinkan untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran.
  • Tentukan Alur Tujuan Pembelajaran yang akan dikembangkan menjadi Modul Ajar
  • Guru dapat memilih Alur Tujuan Pembelajaran yang dikembangkan oleh sekolah atau mengacu pada Alur Tujuan Pembelajaran yang ada.
  • Susun Modul Ajar berdasarkan komponen yang tersedia
  • Selain komponen inti, guru dapat memilih komponen sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
  • Pelaksnaan pembelajaran. 
  • Guru melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan Modul Ajar yang telah disusun.
  • Tindak lanjut

Setelah guru melakukan pembelajaran, guru melakukan evaluasi efektifitas modul ajar dan tindak lanjut untuk pembelajaran berikutnya.

6. Apa saja komponen Modul Ajar? 

Komponen Modul Ajar antara lain:

  • Guru dalam satuan pendidikan diberi kebebasan untuk mengembangkan modul ajar sesuai dengan konteks lingkungan dan kebutuhan belajar peserta didik.
  • Modul ajar dilengkapi dengan komponen yang menjadi dasar dalam proses penyusunan.
  • Komponen modul ajar dalam panduan dibutuhkan untuk kelengkapan persiapan pembelajaran.
  • Komponen modul ajar bisa ditambahkan sesuai dengan mata pelajaran dan kebutuhan.

7. Apa saja komponen Informasi Umum Modul Ajar? 

Informasi tentang modul ajar yang dikembangkan terdiri dari:

  •  Nama penyusun, institusi, dan tahun disusunnya Modul Ajar.
  • Jenjang sekolah (SD/SMP/SMA)
  • Kelas
  • Alokasi waktu (penentuan alokasi waktu yang digunakan adalah alokasi waktu sesuai dengan jam pelajaran yang berlaku di unit kerja masing-masing).

8. Apa Kompetensi Awal Modul Ajar?

Kompetensi awal adalah pengetahuan dan/atau keterampilan yang perlu dimiliki siswa sebelum mempelajari topik tertentu. Kompetensi awal merupakan ukuran seberapa dalam modul ajar dirancang.

9. Apa Profil Pelajar Pancasila Modul Ajar?

Merupakan tujuan akhir dari suatu kegiatan pembelajaran yang berkaitan erat dengan pembentukan karakter peserta didik. Profil Pelajar Pancasila (PPP) dapat tercermin dalam konten dan/atau metode pembelajaran.

Di dalam modul pembelajaran, Profil Pelajar Pancasila tidak perlu mencantumkan seluruhnya, namun dapat memilih Profil Pelajar Pancasila yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran dalam modul ajar.

Enam dimensi Profil Pelajar Pancasila saling berkaitan dan terintegrasi dalam seluruh mata pelajaran melalui (terlihat dengan jelas di dalam): materi/isi pelajaran, pedagogi, dan/atau kegiatan projek atau asesmen. Setiap modul ajar memuat satu atau beberapa unsur dimensi Profil Pelajar Pancasila yang telah ditetapkan.

Baca Juga : Cara Membuat Handout Berkualitas

10. Bagaimana Sarana dan Prasarana dalam Modul Ajar?

Merupakan fasilitas dan bahan yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Sarana merujuk pada alat dan bahan yang digunakan, sementara prasarana di dalamnya termasuk materi dan sumber bahan ajar lain yang relevan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Ketersediaan materi disarankan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik baik dengan keterbatasan atau kelebihan. Teknologi, termasuk sarana dan prasarana yang penting untuk diperhatikan, dan juga dimanfaatkan agar pembelajaran lebih dalam dan bermakna.

11. Apa Target Peserta Didik dalam Modul Ajar? 

Peserta didik yang menjadi target yaitu:

  • Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar. 
  • Peserta didik dengan kesulitan belajar: memiliki gaya belajar yang terbatas hanya satu gaya misalnya dengan audio. Memiliki kesulitan dengan bahasa dan pemahaman materi ajar, kurang percaya diri, kesulitan berkonsentrasi jangka panjang, dsb.
  • Peserta didik dengan pencapaian tinggi: mencerna dan memahami dengan cepat, mampu mencapai keterampilan berfikir aras tinggi (HOTS), dan memiliki keterampilan memimpin.

12. Bagaimana Model Pembelajaran dalam Modul Ajar?

Merupakan model atau kerangka pembelajaran yang memberikan gambaran sistematis pelaksanaan pembelajaran. Model pembelajaran dapat berupa model pembelajaran tatap muka, pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (PJJ Daring), pembelajaran jarak jauh luar jaringan (PJJ Luring), dan blended learning.

13. Apa Tujuan Pembelajaran dalam Modul Ajar?

Tujuan pembelajaran harus mencerminkan hal-hal penting dari pembelajaran dan harus bisa diuji dengan berbagai bentuk asesmen sebagai bentuk dari unjuk pemahaman. Tujuan pembelajaran menentukan kegiatan belajar, sumber daya yang digunakan, kesesuaian dengan keberagaman murid, dan metode asesmen yang digunakan.

Tujuan pembelajaran bisa dari berbagai bentuk: pengetahuan yang berupa fakta dan informasi, dan juga prosedural, pemahaman konseptual, pemikiran dan penalaran keterampilan, dan kolaboratif dan strategi komunikasi.

14. Apa saja komponen Informasi Umum dalam Modul Ajar? 

Komponen informasi umum dalam Modul Ajar diantaranya:

  • Identitas sekolah
  • Kompetensi awal
  • Profil Pelajar Pancasila
  • Sarana dan Prasarana
  • Target peserta didik
  • Model yang digunakan

15. Apa saja komponen Inti dalam Modul Ajar? 

Komponen inti dalam Modul Ajar diantaranya:

  • Tujuan pembelajaran
  • Pemahaman permakna
  • Pertanyaan pemantik
  • Persiapan pembelajaran
  • Kegiatan pembelajaran
  • Asesmen
  • Pengayaan dan remedial
  • Refleksi peserta didik dan guru.

Baca Juga : Implementasi Pembelajaran Berdifrensiasi

16. Apa saja komponen Lampiran dalam Modul Ajar? 

Komponen lampiran dalam Modul Ajar diantaranya:

  • Lembar Kerja Peserta Didik
  • Bahan bacan guru dan peserta didik
  • Glosarium
  • Daftar pustaka

17. Apa yang dimaksud pemahaman bermakna dalam Modul Ajar?

Pemahaman bermakna adalah informasi tentang manfaat yang akan peserta didik peroleh setelah mengikuti proses pembelajaran. Manfaat tersebut nantinya dapat peserta didik terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh kalimat pemahaman bermakna:

• Manusia berorganisasi untuk memecahkan masalah dan mencapai suatu tujuan.

Melalui 17 pertanyan dan jawaban seperti disajikan di atas guru di sekolah akan semakin memahami dan dapat menyusun modul ajar yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Semoga 

Sumber : Ringkasan Materi Sekolah Penggerak 2021

Tanya Jawab Seputar Assesmen Formatif dan Sumatif

 1. Apa saja konsep Asesmen Formatif? 

     Konsep Asesmen formatif diantaranya:

  • Metode evaluasi yang dilakukan untuk evaluasi proses pemahaman murid, kebutuhan pembelajaran, dan kemajuan akademik selama pembelajara
  • Asesmen formatif memantau pembelajaran murid dan memberikan umpan balik yang berkala, dan berkelanjutan.
  • Bagi murid, asesmen formatif berfungsi membantu murid mengidentifikasi kekuatan dan aspek yang perlu dikembangkan.
  • Bagi guru dan sekolah, asesmen formatif berfungsi memberikan informasi mengenai tantangan apa saja yang dihadapi murid dalam proses pembelajaran projek sehingga dukungan yang memadai dapat diberikan.
  • Asesmen formatif dapat diberikan oleh guru, teman, atau diri sendiri.

2.Apa saja konsep Asesmen Sumatif ? 

   Konsep Asesmen sumatif diantaranya:

  • Metode evaluasi yang dilakukan di akhir pembelajaran.
  • Asesmen sumatif seringkali memiliki taruhan tinggi karena berpengaruh terhadap nilai khir murid sehingga sering diprioritaskan murid daripada asesmen formatif.
  • Umpan balik dari asesmen hasil akhir ini (sumatif) dapat digunakan untuk mengukur perkembangan murid untuk memandu guru dan sekolah merancang aktivitas mereka untuk projek berikutnya.

3. Apa fungsi Asesmen Formatif? Fungsi Asesmen formatif diantaranya:

  • Untuk guru: Mengawasi pembelajaran murid, memastikan perkembangan murid, mengecek pemahaman murid.
  • Untuk siswa: Mengevaluasi pembelajaran sendiri, membangun pengetahuan, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, dan meningkatkan kemampuan.

4. Apa fungsi Asesmen Sumatif? 

    Fungsi Asesmen sumatif diantaranya:

  •  Untuk guru: Mengukur apakah murid sudah memenuhi Capaian Pembelajaran dan sejauhmana sudah mencapai akhir unit pembelajaran, meningkatkan pengajaran dan pembelajaran selanjutnya.
  • Untuk siswa: Memahami performa di akhir unit pembelajaran, memahami apakah mereka sudah memenuhi Capaian Pembelajaran dan sejauhmana sudah mencapai akhir unit pembelajaran.

5. Apa penekanan fungsi Asesmen Formatif dan Sumatif?   

    Penekanan fungsi Asesmen formatif dan sumatif diantaranya:

  • Pada kurikulum ini guru diharapkan memberikan proporsi lebih banyak pada pelaksanaan asesmen formatif daripada menitikberatkan orientasi pada asesmen sumatif.
  • Harapannya, ini akan mendukung proses penanaman kesadaran bahwa proses lebih penting daripada sebatas hasil akhir.

6. Apa fungsi Membangun Keseimbangan Asesmen Formatif dan Sumatif Asesmen Formatif dan Sumatif?

Fungsi membangun keseimbangan asesmen formatif dan sumatif asesmen formatif dan sumatif diantaranya:

  • Jumlah asesmen formatif sebaiknya lebih banyak dari jumlah asesmen sumatif.
  • Jelaskan tujuan asesmen formatif adalah untuk perbaikan dan pengembangan diri. Asesmen formatif dapat membantu mereka mendapatkan nilai yang lebih baik dalam asesmen sumatif di akhir, juga untuk mengoptimalkan kegiatan pembelajaran.
  • Bangun keterkaitan antara asesmen sumatif dan formatif. Dengan merancang asesmen formatif yang berkontribusi pada tugas sumatif dapat menurunkan beban kerja murid dan memperjelas relevansi tugas formatif.

7. Apa fungsi Mengapa Keseimbangan Asesmen Formatif dan Sumatif penting Asesmen Formatif dan Sumatif?

Fungsi mengapa keseimbangan asesmen formatif dan sumatif penting asesmen formatif dan sumatif diantaranya:

  • Mengubah paradigma belajar yang menitikberatkan pada nilai menjadi belajar yang menitikberatkan pada proses.
  • Jika ketergantungan pada asesmen sumatif masih terjadi dengan umpan balik yang sedikit, maka dapat menghambat proses murid untuk “mengalami pengetahuan”.

 8. Apa saja bentuk-bentuk Tes Lisan Asesmen Formatif dan Sumatif ? 

     Bentuk-bentuk tes lisan asesmen formatif dan sumatif diantaranya:

a. Diskusi kelas

  • Mengembangkan kemampuan berkomunikasi murid di depan publik dan mengemukakan pendapat.
  • Melatih murid untuk belajar berdemokrasi, mendengarkan dan menerima pendapat orang lain yang mungkin berbeda dengannya, juga merespons pendapat tersebut dengan cara yang sopan dan simpatis.

b. Produk

  • Membuat model miniatur 3 dimensi (diorama), produk digital, produk seni, dll.
  • Mengembangkan kreativitas.
  • Menanamkan pengertian mengenai sebuah peristiwa.

c. Drama

  • 1) Mengembangkan kemampuan seni peran dan berkomunikasi murid.
  • 2) Mendorong murid untuk melihat sebuah masalah dari perspektif yang berbeda sehingga dapat menumbuhkan jiwa empati dan berpikiran kritis murid.

d. Presentasi

  • Mengembangkan kemampuan berkomunikasi.
  • Mendorong murid untuk memahami topik presentasi dengan mendalam.

e. Tes lisan

  • Kuis tanya jawab secara lisan.
  • Mengonfirmasi pemahaman murid.
  • Menerapkan umpan balik.

9. Apa saja bentuk-bentuk Tes Tertulis Asesmen Formatif dan Sumatif ? 

    Bentuk-bentuk tes tertulis asesmen formatif dan sumatif diantaranya:

a. Refleksi

  • Melatih murid untuk berperan aktif dalam mengevaluasi pembelajaran mereka sendiri dan memikirkan bagaimana cara mereka dapat memperbaiki diri.
  • Hasil refleksi ini dapat digunakan guru untuk melihat sisi lain proses pembelajaran murid.

b. Esai

  • Mengasah keterampilan menulis akademis murid, seperti mengembangkan argumen, menyajikan bukti, mencari sumber terpercaya untuk mendukung argumen, dan menggunakan referensi dengan tepat.
  • Mengembangkan cara berpikir kritis dan daya analisis murid.

c. Jurnal

  • Melatih kemampuan murid untuk mengorganisasi dan mengekspresikan ide/pemikiran mereka dalam bentuk tulisan.
  • Biasanya ditulis dengan bahasa yang kurang formal sehingga memberikan murid kebebasan berpikir kreatif.
  • Menjadi alat untuk murid merefleksikan perkembangan mereka secara berkesinambungan.

d. Poster

Mendorong kemampuan murid untuk mengeksplorasi topik dan mengkomunikasikan pemahaman mereka dengan cara semenarik mungkin.

e. Tes tertulis

  • Kuis pilihan ganda
  • Kuis pertanyaan
  • Menerapkan umpan balik
Dengan memahami tanyajawab di atas diharapkan guru dapat mendesain, dan melakukan penilaian formatif dan sumatif terhadap peserta didik yang diajarnya. Semoga bermanfaat.

Bahan Materi: Diambil dari Ringkasan Materi Guru Penggerak

Tanya Jawab Seputar profil Pelajar Pancasila

 1. Apa Profil Pelajar Pancasila itu?

Profil Pelajar Pancasila adalah profil lulusan yang bertujuan menunjukkan karakter dan kompetensi yang diharapkan diraih dan menguatkan nilai-nilai luhur Pancasila peserta didik dan para pemangku kepentingan.

2. Terdiri dari berapa dimensi Profil Pelajar Pancasila itu?

Profil Pelajar Pancasila terdiri dari enam dimensi, diantaranya: (1) Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, (2) Berkebinekaan Global, (3) Mandiri, (4) Bergotong royong, (5) Bernalar kritis, dan (6) Kreatif.

3. Bagaimanakah Pelajar yang Berdimensi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia?

Pelajar Indonesia yang menghayati keberadaan Tuhan dan selalu berupaya mentaati perintah serta menjauhi larangan sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaan yang dianutnya.

Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa diwujudkan ke dalam akhlak yang mulia, baik dalam beragama, akhlak yang baik kepada diri sendiri, kepada sesama manusia, kepada alam dan kepada negara Indonesia.

4. Bagaimanakah Pelajar yang Berdimensi Berkebinekaan Global?

Pelajar Indonesia yang berkebinekaan global memiliki identitas diri yang matang, mampu menunjukan dirinya sebagai representasi budaya luhur bangsanya, sekaligus memiliki wawasan serta keterbukaan tentang eksistensi ragam budaya daerah, nasional dan global. Pelajar Indonesia memiliki sikap menghormati keberagaman dan toleransi terhadap perbedaan.

Untuk mencapai Berkebinekaan Global, pelajar Indonesia harus dapat mengenal dan menghargai budaya, dapat berkomunikasi dan berinteraksi antar budaya, berefleksi dan bertanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan serta berkeadilan sosial.

5. Bagaimanakah Pelajar yang Berdimensi Mandiri?

Pelajar Indonesia memiliki prakarsa atas pengembangan dirinya yang tercermin dalam kemampuan untuk bertanggung jawab, memiliki rencana strategis, melakukan tindakan dan merefleksikan proses dan hasil pengalamannya.

Untuk itu, pelajar Indonesia perlu memiliki kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta memiliki regulasi diri.

6. Bagaimanakah Pelajar yang Berdimensi Bergotong royong?

Pelajar Indonesia memiliki kemampuan untuk melakukan kolaborasi dengan sukarela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan untuk kebaikan bersama. Pelajar Indonesia selalu berusaha melihat kekuatan-kekuatan yang dimiliki setiap orang di sekitarnya, yang dapat memberi manfaat bersama. Mencegah terjadinya konflik dan tidak memaksakan kehendak pada orang lain.

Hal-hal yang harus dilakukan pelajar Indonesia untuk mewujudkan gotong royong adalah melakukan kolaborasi, memiliki kepedulian yang tinggi, dan berbagi dengan sesama.

7. Bagaimanakah Pelajar yang Berdimensi Bernalar kritis?

Pelajar Indonesia yang bernalar kritis berpikir secara objektif, sistematik dan saintifik dengan mempertimbangkan berbagai aspek berdasarkan data dan fakta yang mendukung, sehingga dapat membuat keputusan yang tepat dan berkontribusi memecahkan masalah dalam kehidupan, serta terbuka dengan penemuan baru.

Untuk bernalar kritis, pelajar Indonesia perlu memperoleh dan memproses informasi serta gagasan dengan baik, lalu menganalisa dan mengevaluasinya, kemudian merefleksikan pemikiran dan proses berpikirnya.

8. Bagaimanakah Pelajar yang Berdimensi Kreatif?

Pelajar Indonesia mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak, dalam bentuk gagasan, tindakan, dan karya nyata secara proaktif dan independen untuk menemukan cara-cara lain dan berbeda untuk bisa berinovasi.

Pelajar Indonesia yang kreatif adalah pelajar yang bisa menghasilkan gagasan, karya dan tindakan yang orisinil, memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan.

9. Apa kegunaan Profil Pelajar Pancasila?

Profil Pelajar Pancasila merupakan upaya menerjemahkan tujuan dan visi pendidikan ke dalam format yang lebih mudah dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

Baca juga: Pengembangan Teknik Penilaian Formatif

Rumusan Profil Pelajar Pancasila dibuat dengan tujuan sebagai kompas bagi pendidik dan Pelajar Indonesia. Segala pembelajaran, program, dan kegiatan di satuan pendidikan bertujuan akhir ke Profil Pelajar Pancasila.

10. Bagaimana Profil Pelajar Pancasila diterapkan dalam pembelajaran dengan kurikulum Sekolah Penggerak?

Profil Pelajar Pancasila adalah karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu pelajar melalui budaya sekolah, pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.

11. Bagaimana Profil Pelajar Pancasila diterapkan melalui Budaya Sekolah?

Profil Pelajar Pancasila diterapkan melalui Budaya Sekolah meliputi: Iklim sekolah, kebijakan, pola interaksi dan komunikasi, serta norma yang berlaku di sekolah.

12. Bagaimana Profil Pelajar Pancasila diterapkan melalui Pembelajaran Intrakurikuler?

Profil Pelajar Pancasila diterapkan melalui pembelajaran intrakurikuler meliputi: Muatan Pelajaran Kegiatan/pengalaman belajar.

13. Bagaimana Profil Pelajar Pancasila diterapkan melalui Pembelajaran Intrakurikuler?

Profil Pelajar Pancasila diterapkan melalui pembelajaran berbasis projek yang kontekstual dan interaksi dengan lingkungan sekitar.

14. Bagaimana Profil Pelajar Pancasila diterapkan melalui Pembelajaran Ekstrakurikuler?

Profil Pelajar Pancasila diterapkan melalui pembelajaran ekstrakurikuler kegiatan untuk mengembangkan minat dan bakat.

15. Bagaimana tahapan-tahapan dalam mengelola projek penguatan Profil Pelajar Pancasila?

Penting bagi siswa belajar lintas mata pelajaran berbasis projek. Namun demikian, pembelajaran berbasis projek saat ini belum menjadi kebiasaan dikebanyakan sekolah di Indonesia, sehingga perlu dukungan kebijakan pusat.

Baca Juga: Strategi menumbuhkan 6 Profil Karakter Pelajar Pancasila

Projek penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah terjemahan dari pengurangan beban belajar di kelas (intrakurikuler) agar siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar di setting yang berbeda (less formal, less structured, more interactive, engaged in community).

Beban kerja guru perlu dipertahankan (tidak dikurangi) sehingga alokasi waktu 1 mata pelajaran “terbagi” 2, intrakurikuler dan kokurikuler (projek penguatan PPP).

16. Apa yang menjadi fondasi kegiatan utama pada Mata Pelajaran?

Semua mapel wajib di SD dan SMP serta mapel fondasi di SMA terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu: Kegiatan pembelajaran regular (intrakurikuler) dan projek Profil Pelajar Pancasila (ko-kurikuler).

17. Apa yang dimaksud dengan Projek Profil Pelajar Pancasila?

Projek Profil Pelajar Pancasila adalah unit pembelajaran terintegrasi, bukan tematik (webbed). Webbed atau unit pembelajaran tematik (seperti gado- gado): Mata pelajaran dirangkai atau dipadu dengan menggunakan satu tema. Pengetahuan dan keterampilan dari masing-masing mata pelajaran dapat diuraikan.

Pengetahuan dan keterampilan (kompetensi) yang dipelajari dari setiap mata pelajaran berpadu dan melebur, tidak dipisahkan lagi mana yang merupakan bagian dari mapel Agama, PPKn, Bahasa Indonesia, dsb.

18. Apa saja yang perlu disiapkan untuk dapat menerapkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila?

a. Guru: Pengelolaan jam pelajaran dan kolaborasi guru dan Pengaturan agar alokasi jam mengajar guru tetap sama.

b. Pengelolaan waktu dan kegiatan: Menyiapkan sistem dari perencanaan hingga penilaian, Sistem pendokumentasian projek untuk dapat digunakan sebagai portofolio, dan Kolaborasi dengan narasumber pengaya projek: masyarakat, komunitas, universitas, praktisi.

c. Kemendikbud: Menentukan tema* untuk setiap projek yang diimplementasi di satuan pendidikan.

d. Pemerintah daerah dan Satuan Pendidikan: Merancang muatan lokal berupa projek berdasarkan tema yang ditetapkan, Mengembangkan menjadi topik yang lebih spesifik dan kontekstual di satuan pendidikan.

19. Berapa Tema untuk Dipilih Satuan Pendidikan?

Tujuh Tema untuk Dipilih Satuan Pendidikan diantaranya:

a. Perubahan Iklim Global

b. Kearifan Loka.

c. Bhinneka Tunggal Ika

d. Bangunlah Jiwa dan Raganya

e. Suara demokrasi

f. Berekayasa dan Berteknologi untuk membangun NKRI Kewirausahaan

20. Bagaimana tahapan sekolah dalam menerapkan Pembelajaran Berbasis Projek?

a. Tahap awal

1) Sekolah belum pernah melaksanakan Pembelajaran Berbasis Proyek.

2) Konsep pembelajaran berbasis projek baru diketahui guru.

3) Sekolah fokus menjalankan projek secara internal (tidak melibatkan pihak luar).

b. Tahap berkembang

1) Sekolah sudah pernah menjalankan pembelajaran berbasis projek.

2) Konsep pembelajaran berbasis projek sudah dipahami sebagian guru.

3) Sekolah mulai melibatkan pihak di luar sekolah untuk membantu salah satu aktivitas projek.

c. Tahap lanjutan

1) Pembelajaran berbasis projek sudah menjadi kebiasaan sekolah.

2) Konsep pembelajaran berbasis projek sudah dipahami semua guru.

3) Sekolah sudah menjalin kerjasama dengan pihak mitra di luar sekolah agar dampak projek dapat diperluas dan direplikasi secara berkelanjutan.

21. Bagaimana menentukan waktu dan durasi pelaksanaan tema projek?

a. Menentukan durasi pelaksanaan untuk setiap tema projek yang dipilih dapat disesuaikan dengan pembahasan tema.

b. Durasi dapat dipilih antara dua minggu sampai 3 bulan, tergantung tujuan dan kedalaman eksplorasi tema. Jika sekolah bertujuan untuk memberikan dampak sampai pada lingkungan di luar sekolah maka bisa jadi durasi pelaksanaan projek membutuhkan waktu yang lebih lama.

c. Sekolah diharapkan dapat mengatur jadwal belajar yang membuka ruang untuk kolaborasi mengajar antar guru dari mata pelajaran yang berbeda.

22. Bagaimana tahapan sekolah dalam menentukan waktu dan durasi pelaksanaan tema projek?

a. Tahap awal

Setiap tema dilakukan dengan jadwal belajar yang seragam untuk semua kelas.

b. Tahap berkembang

Setiap tema dilakukan dengan jadwal belajar yang seragam per 2-3 kelas.

c. Tahap lanjutan

Setiap kelas dapat memilih waktu pelaksanaan projek yang berbeda (Waktu pelaksanaan dapat ditentukan sendiri oleh masing-masing kelas).

23. Bagaimana pengajaran yang sesuai dengan capaian atau tingkat kemampuan?

a. Merupakan sebuah pendekatan belajar yang mengacu pada tingkatan capaian atau kemampuan peserta didik. Seringkali disebut juga sebagai Teaching at the Right Level (TaRL).

b. Pendekatan pembelajaran ini tidak mengacu pada tingkatan kelas.

c. Pembelajaran dibuat disesuaikan dengan capaian, tingkat kemampuan, kebutuhan peserta didik, untuk mencapai capaian pembelajaran yang diharapkan.

d. Ini adalah bentuk implementasi yang sesuai dengan filosofi Pendidikan KiHadjar Dewantara. Dengan memperhatikan capaian,tingkat kemampuan, kebutuhan peserta didik sebagai acuan untuk merancang pembelajaran, maka kita melakukan segala upaya kita untuk berpusat pada peserta didik.

24. Hal-hal mengenai pengajaran yang sesuai dengan capaian atau tingkat kemampuan?

a. Tujuan pengajaran dengan menggunakan pendekatan ini adalah penguatan kemampuan numerasi dan literasi pada peserta didik, serta pengetahuan pada mata pelajaran yang menjadi capaian pembelajaran.

b. Peserta didik tidak terikat pada tingkatan kelas. Namun dikelompokkan berdasarkan fase perkembangan ataupun sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik yang sama.

c. Setiap fase, ataupun tingkatan tersebut mempunyai capaian pembelajaran yang harus dicapai. Proses pembelajaran peserta didik akan disusun mengacu pada capaian pembelajaran tersebut, namun disesuaikan dengan karakteristik, potensi, kebutuhan peserta didiknya.

d. Kemajuan hasil belajar akan ditentukan berdasarkan evaluasi pembelajaran.Peserta didik yang belum mencapai capaian pembelajaran di fasenya, akan mendapatkan pendampingan oleh pendidik untuk bisa mencapai capaian pembelajarannya.

25. Tahapan-tahapan apa yang harus dilakukan dalam pengajaran yang sesuai dengan capaian atau tingkat kemampuan?

a. Asesmen

1) Untuk bisa membuat pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, maka asesmen menjadi tahap pertama yang harus kita lakukan.

2) Asesmen ini biasa disebut juga asesmen diagnostik.

3) Yang perlu dikenali antara lain: potensi, karakteristik, kebutuhan, tahap perkembangan peserta didik, tahap capaian pembelajaran anak, dll.

Baca Juga: Model Kompetensi Dalam Pengembangan Profesi Guru

b. Perencanaan

1) Setelah berhasil mengidentifikasi potensi, karakteristik, tingkat capaian, kemampuan, maka bagian berikutnya adalah menyusun proses pembelajaran yang sesuai dengan data asesmen kita.

2) Perencanaan ini juga termasuk pengelompokkan peserta didik dalam tingkat yang sama.

3) Dengan penyusunan pembelajaran yang sesuai dengan capaian ataupun tingkat kemampuan peserta didik ini, maka kita

menempatkan peserta didik sebagai pusat utama pembelajarannya, sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara

c. Pembelajaran

1) Selama proses pembelajaran ini, perlu dibuat adanya asesmen-asesmen berkala untuk melihat proses pemahaman murid, kebutuhan, kemajuan selama pembelajaran atau biasa disebut asesmen formatif.

2) Adapun asesmen sumatif, sebagai proses evaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran di akhir suatu pembelajaran juga diperlukan untuk membantu pendidik merancang projek berikutnya.

Sumber : Diambil dari ringkasan Materi Guru Penggerak