Bagaimana Mengelola Keuangan Di Sekolah ?

Salah satu tugas kepala sekolah dalam bidang manajerial adalah mengelola keuangan sekolah. Tugas tersebut merupakan bagian yang sangat penting karena setiap kegiatan di sekolah tidak terlepas dari anggaran  yang dibutuhkan untuk  membiayai kegiatan yang akan dilaksanakan. 

Pengelolaan keuangan  disekolah merupakan rangkaian aktivitas mengatur keuangan mulai dari perencanaan, pembukuan, pembelanjaan, pengawasan dan pertanggungjawaban. Rangkaian kegiatan tersebut harus  di tata dengan baik sesuai aturan yang berlaku, sebab pengelolaan yang kurang baik akan menimbulkan resiko terhadap jabatan kepala sekolah dan semua aktivitas di sekolah.  


Pengelolaan keuangan yang baik di sekolah diharapkan dapat 1)meningkatkan efektivitas dan efesiensi penggunaan biaya; 2) meningkatkan akuntabilitas dan transparansi penggunaan anggaran  3) mengurangi penyalahgunaan anggaran yang sudah ditetapkan di sekolah.


Agar pengelolaan keuangan sekolah terkelola dengan baik, maka kepala sekolah dan bendahara sekolah perlu memahami  beberapa ketentuan pengelolaan keuangan diantaranya: 


A. Memahami Prinsip-Prinsip Pengelolaan Keuangan 


1. Prinsip Transparansi


Prinsip tranparansi diartikan adanya keterbukaan dalam mengelola keuangan. Keterbukaan yang dimaksud yaitu keterbukaan sumber keuangan dan jumlahnya, rincian penggunaan, dan pertangungjawaban yang jelas sehingga memudahkan pihak yang berkepentingan untuk mengetahuinya. 


Tranparansi dapat menciptakan kepercayaan dari pemerintah, orang tua peserta didik, masyarakat, dan semua warga sekolah. Transparansi ini dapat dilakukan dengan melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan untuk memperoleh informasi tersebut secara lengkap. 

2. Prinsip Akuntabilitas 


Akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan berarti bahwa semua penggunaan uang di sekolah dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Pertanggungjawaban dapat dilakukan kepada orang tua peserta didik, warga sekolah, masyarakat dan pemerintah. 


Transparansi ini dapat dibangun dengan cara kepala sekolah menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai komponen dalam mengelola sekolah, adanya standar kinerja yang ditetapkan sekolah, membangun suasana kondusif dengan prosedur yang mudah, biaya murah, cepat dan tepat. 

3. Prinsip Efektifitas 


Pengelolaan keuangan yang memiliki prinsip efektivitas adalah dimana semua kegiatan yang dilakukan dapat mengatur keuangan untuk membiayai aktivitas dalam rangka mencapai tujuan. Efektifitas dimana kegiatan yang dilakukan dapat mencapai tujuan dengan kualitas yang memadai. 


4. Prinsip Efisiensi


Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara msukan (input) dan keluaran (out put) atau perbandingan antara daya ( tenaga, pikiran, waktu dan biaya) dan hasil.
Kegiatan dapat dikatakan efisien apabila penggunaan waktu, tenaga dan biaya yang minimum namun dapat mencapai hasil yang ditetapkan baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. 


B. Memahami Sumber-sumber keuangan di sekolah


Pengelola keuangan di sekolah harus dapat mengidentifikasi sumber-sumber keuangan di sekolah untuk dimasukkan kedalam perencanaan keuangan sekolah. Berikut ini dijelaskan sumber-sumber pendapatan di sekolah:


1. Sumber keuangan dari Pemerintah


Sumber pendapatan dari pemerintah pusat  berupa dana rutin  melalui APBN dan BOP  seperti gaji dan tunjangan pegawai, tunjangan beras, uang lembur, keperluan sehari-hari perkantoran, inventaris kantor, langganan daya dan jasa, pemeliharaan gedung, pengadaan kertas dan lain-lain. Khusus penggunaan dana BOS sudah ditentukan dengan aturan tersendiri setiap tahun melalui peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan.  


2. Dana Masyarakat


Dana masyarakat berasal dari orang tua peserta didik melalui komite sekolah, sponsor maupun donator.Dana dari masyarakat tersebut ada yang berbentuk bantuan, sumbangan maupun pungutan seperti diatur dalam permendikbud nomor 75 tahun 2016. 


3. Dana Swadaya


Dana swadaya merupakan dana yang bersumber dari usaha mandiri sekolah seperti: pengelolaan kantin, pengelolaan koperasi sekolah, pengelolaan kebun sekolah, pengelolaan wartel sekolah, dana dari sponsor , dana dari kegiatan lomba-lomba, dana dari seminar/lokakarya dan sebagainya. 


4. Dana Yang Berasal dari Sumber lain
 


Sumber pembiayaan alternatif yang berasal dari proyek pemerintah baik yang bersifat block grant maupun bersifat matching grant (imbal swadaya) 

Pengunaan dana dari masyarakat , swadaya dan sumberlain dapat digunakan untuk menunjang kegiatan rutin, pembangunan gedung ,  pembelian peralatan, kegiatan peningkatan mutu pendidikan, kegiatan ekstrakurikuler, bahan praktik dan keterampilan, pengembangan perpustakaan, pembangunan sarana fisik, biaya listrik, telepon , air , surat menyurat, dana sosial dan lain-lain sesuai dengan kesepakatan dengan pemberi dana.  

Dalam pengelolaan keuangan yang sumber anggaran berasal dari Dana Isisn Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dapat digunakan untuk:

  1.  Belanja pegawai seperti  gaji dan honorarium 
  2. Belanja barang seperti: operasional perkantoran, perawatan gedung kantor, perawatan sarana prasarana , pembinaan administrasi, penyusunan program kerja dan lain-lain
  3. Belanja Modal seperti : pembangunan gedung, pengelolaan kenderaan, penyediaan sarana prasarana, dan lain-lain
  4. Belanja Bantuan Sosial seperti Beasiswa, peningkatan SDM dan lain-lain 

C. Memahami Pembelanjaan Keuangan Sekolah


Pembelanjaan keuangan sekolah mengacu kepada perencanaan yang telah ditetapkan. Mekanisme yang ditempuh di dalam pelaksanaan kegiatan harus benar, efektif dan efisien. Pembukuan uang masuk dan keluar dilakukan secara cermat dan transparan. 


Setiap melaksanakan kegiatan yang menggunakan anggaran belanja, ada ikatan-ikatan berupa pembatasan, keharusan, dan prinsip yang harus diperhatikan setiap petugas yang diberi wewenang dan kewajiban mengelola uang Negara. 

D. Melengkapi Pembukuan Keuangan 


Pembukuan setiap transaksi berupa penerimaan dan pengeluaran yang dilakukan oleh bendaharawan wajib di catat dalam buku kas. Untuk membukukan pemasukan dan pengeluaran secara cermat dibutuhkan beberapa jenis pembukuan diantaranya:

  1. Buku Kas Umum (BKU) yaitu buku harian yang digunakan untuk mencatat semua penerimaan dan pengeluaran uang hal ini dilakukan sepanjang waktu setiap ada transaksi.
  2. Buku Kas Pembantu (BKP) merupakan buku harian yang digunakan untuk membantu pencatatan semua pengeluaran dan penerimaan uang menurut jenis sumber pembiayaan. Pembukuan yang dilakukan dalam BKU akan dilanjutkan bendaharawan ke pembukuan BKP. Maka BKU dan BKP akan ditutup setiap akhir bulan ditandatangani oleh bendaharawan dan kepala sekolah. 
  3. Buku bank : digunakan untuk setiap transaksi dengan bank
  4. Buku pajak : digunakan untuk mencatat semua besaran pajak akibat transaksi yang dilakukan sesuai dengan besaran pajak menurut jenisnya. 

E. Melakukan Pengawasan Keuangan Sekolah


Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen untuk mencegah timbulnya penyimpangan atau kesalahan dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan sekolah. Pengawasan keuangan sekolah dilakukan oleh kepala sekolah dan instansi vertical di atasnya.


 Kepala sekolah bertugas untuk melakukan pengawasan rutin terhadap pengelolaan keuangan sekolah, menggerakkan semua unsure untuk melengkapi data dan administrasi keuangan sehingga pengawasan dapat berjalan lancar

F. Menyusun Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Sekolah

Penerimaan dan pengeluaran keuangan sekolah harus dilaporkan dan dipertanggungjawabkan secara rutin sesuai peraturan yangb berlaku. Anggaran yang berasal dari orang tua peserta didik dan masyarakat dilakukan secara rinci dan transparan sesuai dengan sumber dananya.

Anggaran yang berasal dari usaha mandiri sekolah dilakukan secara rinci dan transparan kepada dewan guru dan staf sekolah. Pertanggungjawaban dana rutin dan pembangunan dilakukan dengan aturan yang berlaku.

Bahan Bacaan
1. Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Tenaga Kependidikan 2007. Manajemen Keuangan Sekolah.

2. Kemendikbud, LPPKS Indonesia 2015.  Bahan pembelajaran Diklat Calon Kepala Sekolah .

3. Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 Tentang Komite Sekolah

Strategi Membangun Literasi Di Sekolah

A. Konsep Dasar Literasi 

 Literasi  di sekolah sering  identikkan  dengan aktivitas peserta didik dalam membaca dan menulis. Namun, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003).

Subjek dalam kegiatan literasi di sekolah adalah peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan (pustakawan, pengawas), dan kepala sekolah. Semua komponen warga sekolah ini berkolaborasi dalam Tim Literasi Sekolah (TLS) di bawah koordinasi kepala sekolah dan dikuatkan dengan SK kepala sekolah.

TLS bertugas untuk membuat  perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen program.
TLS dapat memastikan terciptanya suasana akademik yang kondusif, yang mampu membuat seluruh anggota komunitas sekolah antusias untuk belajar.

B. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) 

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan suatu kegiatan di sekolah yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah  mulai dari peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/peserta didik, akademisi, penerbit, media massa, dan masyarakat.

Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca peserta didik. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca (guru membacakan buku dan warga sekolah membaca dalam hati, yang disesuaikan dengan konteks atau target sekolah). Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke tahap pengembangan, dan pembelajaran (disertai tagihan berdasarkan Kurikulum 2013).

Pelaksanaannya GLS pada periode tertentu yang terjadwal, dilakukan asesmen agar dampak keberadaan GLS dapat diketahui dan terus-menerus dikembangkan. GLS diharapkan mampu menggerakkan warga sekolah, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk bersama-sama memiliki, melaksanakan, dan

C. Prinsip-prinsip Literasi Sekolah 

Menurut Beers, 2009 (dalam Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah Ditjen Dikdasmen Kemdikbud), praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi sekolah menekankan prinsip-prinsip sebagai berikut.

1.  Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang dapat diprediksi.

Tahap perkembangan anak dalam belajar membaca dan menulis saling beririsan antar tahap perkembangan. Memahami tahap perkembangan literasi peserta didik dapat membantu sekolah untuk memilih strategi pembiasaan dan pembelajaran literasi yang tepat sesuai kebutuhan perkembangan mereka.

2. Program literasi yang baik bersifat berimbang 

Sekolah yang menerapkan program literasi berimbang menyadari bahwa tiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, strategi membaca dan jenis teks yang dibaca perlu divariasikan dan disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Program literasi yang bermakna dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan bacaan kaya ragam teks, seperti karya sastra untuk anak dan remaja.

3. Program literasi terintegrasi dengan kurikulum 

Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua guru di semua mata pelajaran sebab pembelajaran mata pelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Dengan demikian, pengembangan profesional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran.

4. Kegiatan membaca dan menulis dilakukan kapanpun 

Misalnya, “menulis surat kepada presiden” atau “membaca untuk ibu” merupakan contoh-contoh kegiatan literasi yang bermakna.

5. Kegiatan literasi mengembangkan budaya lisan 

Kelas berbasis literasi yang kuat diharapkan memunculkan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas. Kegiatan diskusi ini juga perlu membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat agar kemampuan berpikir kritis dapat diasah. Peserta didik perlu belajar untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan pandangan.

6. Kegiatan literasi perlu mengembangkan kesadaran terhadap keberagaman 

Warga sekolah perlu menghargai perbedaan melalui kegiatan literasi di sekolah. Bahan bacaan untuk peserta didik perlu merefleksikan kekayaan budaya Indonesia agar mereka dapat terpajan pada pengalaman multikultural.

C. Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah 

Stategi 1. Mengkondisikan Lingkungan Fisik 

 Untuk mengkondisikan lingkungan fisik kegiatan yang perlu dilakukan sekolah adalah:
a. Karya peserta didik dipajang di sepanjang lingkungan sekolah, termasuk koridor dan kantor (kepala sekolah, guru, administrasi, bimbingan konseling).
b. Karya peserta didik dirotasi secara berkala untuk memberi kesempatan yang  seimbang kepada semua peserta didik.
c. Buku dan materi bacaan lain tersedia di pojok-pojok baca di semua ruang kelas.
d. Buku dan materi bacaan lain tersedia juga untuk peserta didik dan orang tua/ pengunjung di kantor dan ruangan selain ruang kelas.
f. Kantor kepala sekolah memajang karya peserta didik dan buku bacaan untuk anak.
g. Kepala sekolah bersedia berdialog dengan warga sekolah

Strategi 2. Mengkodisikan Lingkungan Sosial dan Afektif 

Kegiatan yang perlu dilakukan untuk mengkondisikan lingkungan sosial dan afektif adalah 
a. Penghargaan terhadap prestasi peserta didik (akademik dan nonakademik) diberikan secara rutin (tiap minggu/bulan). Upacara hari Senin merupakan salah satu kesempatan yang tepat untuk pemberian penghargaan mingguan. 
c. Kepala sekolah terlibat aktif dalam pengembangan literasi 
d. Merayakan hari-hari besar dan nasional dengan nuansa literasi, misalnya merayakan Hari Kartini dengan membaca surat-suratnya 
e. Terdapat budaya kolaborasi antarguru dan staf, dengan mengakui kepakaran masing-masing .
f. Terdapat waktu yang memadai bagi staf untuk berkolaborasi dalam menjalankan program literasi dan hal-hal yang terkait dengan pelaksanaannya. 
g. Staf sekolah dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, terutama dalam  menjalankan program literasi. 

Strategi 3:  Menata Lingkungan Akademik 

a. Tim Literasi Sekolah (TLS)   melakukan perencanaan dan monev  tentang kegiatan literasi. Bila diperlukan, ada pendampingan dari pihak eksternal.
b. Sekolah menyediakan  waktu khusus (cukup)  untuk pembelajaran dan pembiasaan literasi: seperti membaca dalam hati ,  membacakan buku dengan nyaring , membaca bersama , membaca terpandu diskusi buku, bedah buku, presentasi , lomba-lomba literasi.
c. Waktu berkegiatan literasi dijaga agar tidak dikorbankan untuk kepentingan lain.
d. Secara berkala Tim Literasi Sekolag (TLS)  membahas pelaksanaan gerakan literasi  sekolah.
e. Sekolah menyediakan buku fiksi dan non fiksi dengan  jumlah cukup banyak di sekolah.
f. Sekolah menyediakan  buku yang wajib dibaca oleh warga sekolah.
g. Seluruh warga sekolah antusias menjalankan program literasi, dengan tujuan membangun organisasi sekolah yang suka belajar.

Dalam pelaksanaannya, sekolah dapat mengadaptasinya sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah. Kepala sekolah, guru dan tenaga pendidik perlu bekerja sama untuk mengimplementasikan strategi tersebut.

6 Langkah Kerja Pembelajaran Discovery learning

Model pembelajaran Discovery Learning (DL)  memiliki 6 langkah kerja(sintaks)  atau disebut juga fase yaitu:

1. Pemberian rangsangan (Stimulation);

2. Pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement);

3. Pengumpulan data (Data Collection);

4. Pengolahan data (Data Processing);

5. Pembuktian (Verification), dan

6. Menarik simpulan/generalisasi (Generalization).

Baca Juga : Apa itu Dimensi Pengetahuan 

Setiap langkah model pembelajaran discovery learning tentunya ada aktivitas guru dan peserta didik yang perlu dipahami, sehingga penerapannya dapat terlaksana dengan baik. Adapun aktivitas guru dan peserta didik dapat dirumuskan sebagai berikut:


Langkah Kerja
Aktivitas Guru
Aktivitas Siswa
1. Pemberian Rangsangan (Stimulation)
Guru memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas  lain.
Peserta didik dihadapkan pada suatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Stimulasi pada fase ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengekplorasi bahan /materi
2. Pernyataan /Identifikasi masalah
Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin permaslahan  dengan bahan pembelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara permasalahan)
Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai jawaban sementara atas permasalahan yang diajukan
3. Pengumpulan Data (Data Collection)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis
Peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan melalui membaca literatur, mengamati objek, wawan cara dengan nara sumber , melakukan percobaan, observasi terhadap kegiatan tertentu dan lain-lain (tergantung topik yang dibahas)
4. Pengolahan Data (Data Prosesing)
Guru melakukan bimbingan pada saat peserta didik melakukan pengolahan data
Peserta didik melakukan pengolahan data dan informasi dengan berbagai cara misalnya wawan cara , observasi, dan lain-lain kemudian ditafsirkan semua informasi hasil bacaan wawancara, obervasi dan sebagainya. Semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, dihitung dan dihitung pada tingkat tertentu.

5. Pembuktian (Verification)
Verivikasi bertujuan agar proses belajar terlaksana dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-conth yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan hipotesis yang sebelumnya dirumuskan apakah benar atau tidak. Tentunya dihubungkan dengan hasil yang diperolehnya
6. Menarik simpulan ( Generalization)
Menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verivikasi
Berdasarkan hasil verivikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari genaralisasi

Aktivitas  yang dirumuskan di atas tentunya masih dapat  dikembangkan oleh guru masing-masing sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang diampu.

Taya jawab Seputar Pembinaan Guru 2019


Sampai sat ini masih banyak guru yang mengalami permasalahan terkait dengan pemahaman tentang  beban kerja guru,  Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependikan (NUPTK), Sertifikasi guru, Nomor Registrasi Guru (NRG), Info GTK,  Surat Keputusan Tunjangan Profesi (SKTP) , Penilaian Kinerja Guru (PKG),  Penilaian Prestasi Kerja (PPK)  Pengembangan Karir dan Penetapan Angka Kredit Guru (PAK),  penyetaraan jabatan dan pangkat bagi guru bukan PNS dan permasalahan lain yang terkait dengan administrasi. 

Akibat kurangnya informasi dan pemahaman terhadap hal di atas maka  tidak jarang guru mengalami kesulitan dan menimbulkan permasalahan dilapangan. Agar guru mendapat kan informasi yang tepat dan akurat dalam menjalankan kewajiban dan mendapatkan hak yang sesuai, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar menerbitkan buku Tanya Jawab Seputar Pembinaan Guru.


Buku ini meliputi tentang beban kerja guru, tunjangan profesi guru, pengembangan karir guru PNS, maupun penyetaraan jabatan dan pangkat bagi guru bukan PNS Berikut ini disajikan Tanya jawab  seputar pembinaan tersebut 



1.Apa saja beban kerja guru?

Jawab :

Beban kerja Guru mencakup kegiatan/tugas utama pokok:

a. merencanakan pembelajaran atau pembimbingan;

b. melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan;

c. menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan;

d. membimbing dan melatih peserta didik; dan

e. melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada fungsi sekolah/madrasah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

2. Apakah kegiatan pokok yang merupakan beban kerja guru harus dilaksanakan di sekolah?

Jawab :

Ya. Guru harus berada di sekolah paling sedikit 37,5 (tiga puluh tujuh koma lima) jam kerja dalam 1 (satu) minggu untuk melaksanakan tugas pokok guru.

3. Apakah yang dimaksud dengan ‘melaksanakan pembelaja-ran’?

Jawab :

Pelaksanaan pembelajaran adalah kegiatan tatap muka di kelas yang jumlah jamnya sesuai dengan struktur kurikulum.

4.Berapa jumlah jam tatap muka yang menjadi beban kerja Guru ketika melaksanakan pembelajaran?

Jawab :

Beban kerja Guru untuk melaksanakan pembelajaran paling sedikit memenuhi 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan paling banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam I (satu) minggu, yang merupakan bagian jam kerja dari jam kerja sebagai pegawai yang secara keseluruhan paling sedikit 37,5 (tiga puluh tujuh koma lima) jam kerja dalam 1 (satu) minggu.

5. Apakah guru yang mendapat tugas tambahan dan tugas tambahan lainnya harus memenuhi Beban kerja Guru paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan paling banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam I (satu) minggu?

Jawab :

Tidak. Pemenuhan beban kerja Guru dengan tugas tambahan sebagai berikut:

a. 12 (dua belas) jam tatap muka untuk tugas tambahan wakil kepala satuan pendidikan; ketua program keahlian satuan pendidikan; kepala perpustakaan satuan pendidikan; kepala laboratorium, bengkel, atau unit produksi satuan pendidikan;

b. 6 (enam) jam tatap muka untuk pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusi atau pendidikan terpadu.

Sedangkan bagi guru dengan tugas tambahan lainnya paling banyak 6 (enam) jam tatap muka untuk untuk tugas tambahan lain.

6. Apakah yang dimaksud dengan Guru yang mendapat tugas tambahan?
Guru yang mendapatkan tugas tambahan adalah guru yang selain mengajar, juga mendapatkan tugas-tugas sebagai berikut:

a. wakil kepala satuan pendidikan;

b. ketua program keahlian satuan pendidikan;

c. kepala perpustakaan satuan pendidikan;

d. kepala laboratorium, bengkel, atau unit produksi satuan pendidikan;

e. pembimbing  khusus  pada  satuan  pendidikan  yang
Guru yang mendapatkan tugas tambahan adalah guru yang selain mengajar, juga mendapatkan tugas-tugas sebagai berikut: menyelenggarakan pendidikan inklusi atau pendidikan terpadu; atau

f. tugas tambahan selain huruf a sampai dengan huruf e yang terkait dengan pendidikan di satuan pendidikan

7. Apa yang dimaksud dengan tugas tambahan selain huruf a sampai dengan huruf e yang terkait dengan pendidikan di satuan pendidikan?

Jawab :

Tugas tambahan lain yang dimaksud antara lain adalah koor-dinator pengembangan keprofesian berkelanjutan/penilaian ki­ nerja Guru, pembina ekstrakurikuler, Pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), wali kelas, pengurus organisasi profesi, guru piket, koordinator bursa kerja khusus, ketua Lembaga Sertifikasi Profesi 1 (LSP1), dan tutor pada pendidikan dasar dan menengah.

8. Apakah beban kerja kepala sekolah sama dengan guru?

Jawab :

Tidak. Beban kerja kepala satuan pendidikan sepenuhnya un-tuk melaksanakan tugas manajerial, pengembangan kewirausa-haan, dan supervisi kepada Guru dan tenaga kependidikan.

9. Apakah kepala sekolah tidak lagi melaksanakan pembelajaran tatap muka?

Jawab :

Ya. Namun dalam keadaan tertentu apabila terdapat guru yang berhalangan atau untuk mengisi kekosongan guru, kepala satuan pendidikan dapat melaksanakan tugas pembelajaran atau pembimbingan untuk memenuhi kebutuhan Guru pada satuan pendidikan.


10. Apa yang dimaksud dengan tugas tambahan selain huruf a sampai dengan huruf e yang terkait dengan pendidikan di satuan pendidikan?

Jawab :

Tugas tambahan lain yang dimaksud antara lain adalah koor-dinator pengembangan keprofesian berkelanjutan/penilaian ki­ nerja Guru, pembina ekstrakurikuler, Pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), wali kelas, pengurus organisasi profesi, guru piket, koordinator bursa kerja khusus, ketua Lembaga Sertifikasi Profesi 1 (LSP1), dan tutor pada pendidikan dasar dan menengah.

11. Apakah beban kerja kepala sekolah sama dengan guru?

Jawab :

Tidak. Beban kerja kepala satuan pendidikan sepenuhnya un-tuk melaksanakan tugas manajerial, pengembangan kewirausa-haan, dan supervisi kepada Guru dan tenaga kependidikan.

12. Apa yang dimaksud dengan NUPTK?

Jawab :

NUPTK kepanjangan Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan NUPTK ini menjadi PTK ID bagi setiap Guru maupun Tenaga Kependidikan sebagai legalitas.

13. Siapa saja yang berhak untuk mendapatkan NUPTK?

Jawab :

NUPTK diberikan Bagi Guru/ Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang sudah melaksanakan tugas minimal 2 tahun mengajar.

14. Instansi apa yang menerbitkan NUPTK?

Jawab :

NUPTK diterbitkan oleh PDSPK (Pusat Data Statistik Pendidikan dan Kebudayaan) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

15. Satu (1) NUPTK dimiliki oleh dua (2) guru. Bagaimana hal ini diperbaiki?

Jawab:

Melakukan verval NUPTK pada Aplikasi Verval PTK PDSPK, setelah itu melakukan perbaikan data NUPTK pada SIMTUN, dan berkoordinasi juga dengan operator dapodik sekolah, dapodik kab/kota/provinsi maupun dapodik pusat.

16. Bagaimana alur penerbitan NUPTK?

Jawab:...


Secara Lengkap Dwonload Buku Taya Jawab Seputar Pembinaan Guru 2019
DISINI 













Apa itu Dimensi Pengetahuan ?

Istilah dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif bukan istilah baru dalam dunia pendidikan, walapun  demikian masih guru yang ragu akan istilah tersebut. Keraguan ini mengakibatkan sulitnya mereka menjabarkan materi yang dimuat oleh kompetensi dasar (KD), sulit juga merumuskan indikator pencapaian dan menyusun instrument penilaian .

Kita sudah mengenal Ranah Kognitif yang dikemukanan oleh Bloom, kemudian  ranah kognitif ini dikembangkan lagi oleh  Anderson dan Krathwoll  menjadi dua dimensi  yaitu dimensi pengetahuan (dimensi kognitif)  dan dimensi proses kognitif .

Dimensi pengetahuan ini muncul sebagai hasil dari proses kognitif (cognitive product) yang kita kenal  dengan enam kategori mulai dari (C1-C6): Baca: Penjelasan Dimensi Proses Kognitif. Dimensi pengetahuan  dikembangkan lagi oleh para ahli seperti yang kita kenal di kurikulum 2006 dan perubahannya di  kurikulum 2013.

Dimensi Pengetahuan
Kur.2006
Kur. 2013
Fakta
Faktual
Konsep
Konseptual
Prinsip
Prosedural
Prosedur
Meta Kognitif







Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: 
1. Pengetahuan faktual
Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus diketahui para peserta didik jika mereka akan dikenalkan dengan suatu disiplin atau untuk memecahkan masalah apapun di dalamnya. Elemen-elemen biasanya merupakan simbol - simbol yang berkaitan dengan beberapa referensi konkret, atau "benang-benang simbol" yang menyampaikan informasi penting.

Sebagian terbesar, pengetahuan faktual muncul pada level abstraksi yang relatif rendah. Pengetahuan factual bisa berupa kejadian atau peristiwa yang dapat dilihat, didengar, diraba.

Dua bagian jenis pengetahuan faktual adalah

a. Pengetahuan terminologi meliputi nama-nama dan simbol-simbol verbal dan non-verbal tertentu (contohnya kata-kata, angka-angka, tanda-tanda, dan gambar-gambar, lambang dst. ).

b. Pengetahuan yang detail dan elemen-elemen yang spesifik mengacu pada pengetahuan seperti peristiwa-peristiwa, tempat-tempat, orang-orang, tanggal, sumber informasi, dan semacamnya.

2. Pengetahuan konseptual
Pengetahuan konseptual meliputi skema-skema, model-model mental, atau teori-teori eksplisit dan implisit dalam model -model psikologi kognitif yang berbeda. Pengetahuan konseptual meliputi tiga jenis:

a. Pengetahuan klasifikasi dan kategori meliputi kategori, kelas, pembagian, dan penyusunan spesifik yang digunakan dalam pokok bahasan yang berbeda.

b. Prinsip dan generalisasi cenderung mendominasi suatu disiplin ilmu akademis dan digunakan untuk mempelajari fenomena atau memecahkan masalah-masalah dalam disiplin ilmu.

c. Pengetahuan teori, model, dan struktur meliputi pengetahuan mengenai prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi bersama dengan hubungan-hubungan diantara mereka yang menyajikan pandangan sistemik, jelas, dan bulat mengenai suatu fenomena, masalah,  atau pokok bahasan yang kompleks.

3. Pengetahuan procedural
Pengetahuan mengenai bagaimana" melakukan sesuatu. Hal ini dapat berkisar dari melengkapi latihan-latihan yang cukup rutin hingga memecahkan masalah-masalah baru.

Pengetahuan prosedural sering mengambil bentuk dari suatu rangkaian langkah-langkah mengerjakan sesuatu. Hal ini meliputi pengetahuan keahlian-keahlian, algoritma-algoritma, tehnik-tehnik, dan metode-metode secara kolektif disebut sebagai prosedur-prosedur.

a. Pengetahuan keahlian dan algoritma spesifik suatu subjek
Pengetahuan prosedural dapat diungkapkan sebagai suatu rangkaian langkah-langkah, yang secara kolektif dikenal sebagai prosedur. Kadangkala langkah-langkah tersebut diikuti perintah yang pasti; di waktu yang lain keputusan-keputusan harus dibuat mengenai langkah mana yang dilakukan selanjutmya.

Dengan cara yang sama, kadang- kadang hasil akhirnya pasti; dalam kasus lain hasilnya tidak pasti. Meskipun proses tersebut bisa pasti atau lebih terbuka, hasil akhir tersebut secara umum dianggap pasti dalam bagian jenis pengetahuan.

b. Pengetahuan tehnik dan metode spesifik suatu subjek
Pengetahuan tehnik dan metode spesifik suatu subjek meliputi pengetahuan yang secara luas merupakan hasil dari konsesus, persetujuan, atau norma-norma disipliner daripada pengetahuan yang lebih langsung merupakan suatu hasil observasi, eksperimen, atau penemuan.

Bagian jenis pengetahuan ini secara umum menggambarkan bagaimana para ahli dalam bidang atau disiplin ilmu tersebut berpikir dan menyelesai kan masalah-masalah daripada hasil-hasil dari pemikiran atau pemecahan masalah tersebut.

c. Pengetahuan kriteria untuk menentukan kapan menggunakan prosedur-prosedur yang tepat
Sebelum terlibat dalam suau penyelidikan, para peserta didik dapat diharapkan mengetahui metode-metode dan tehnik-tehnik yang telah digunakan dalam penyelidikan-penyelidikan yang sama.

Pada suatu tingkatan nanti dalam penyelidikan tersebut, mereka dapat diharapkan untuk menunjukkan hubungan-hubungan antara metode-meode dan teknik-teknik yang mereka benar-benar lakukan dan metode-metode yang dilakukan oleh peserta didik lain.

4. Pengetahuan metakognitif
Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai kesadaran secara umum sama halnya dengan kewaspadaan dan pengetahuan tentang kesadaran pribadi seseorang. Penekanan kepada peserta didik untuk lebih sadar dan bertanggung jawab untuk pengetahuan dan pemikiran mereka sendiri.

Perkembangan para peserta didik akan menjadi lebih sadar dengan pemikiran mereka sendiri sama halnya dengan lebih banyak mereka mengetahui kesadaran secara umum, dan ketika mereka bertindak dalam kewaspadaan ini, mereka akan cenderung belajar lebih baik.

a. Pengetahuan strategi
Pengetahuan strategis adalah pengetahuan mengenai strategi-strategi umum untuk  pembelajaran, berpikir, dan pemecahan masalah.

b. Pengetahuan mengenai tugas kognitif, termasuk pengetahuan kontekstual dan kondisional
Para peserta didik mengembangkan pengetahuan mengenai strategi-trategi pembelajaran dan berpikir, pengetahuan ini mencerminkan baik strategi-strategi umum apa yang digunakan dan bagaimana menggunakan mereka.

c. Pengetahuan diri
Kewaspadaan-diri mengenai kaluasan dan kelebaran dari dasar pengetahuan dirinya merupakan aspek penting pengetahuan-diri. Para peserta didik perlu memperhatikan terhadap jenis strategi yang berbeda. Kesadaran seseorang cenderung terlalu bergantung pada strategi tertentu, dimana terdapat strategi-strategi yang lain yang lebih tepat untuk tugas tersebut, dapat mendorong ke arah suatu perubahan dalam penggunaan strategi.

Baca: Kata Kerja Operasional dan Taksonomi (Revisi)

Pemahaman  tentang pengetahuan faktual, pengetahuan  konseptual, pengetahuan prosedural dan pengetahuan metakognitif akan sangat bermanfaat untuk  memudahkan guru  mendeskripsikan materi pembelajaran yang dimuat/dikandung KD, memudahkan guru untuk membuat rumusan indikator yang dijabarkan dari KD.

Maka dalam perencanaan pembelajaran guru diharapkan menguraikan garis garis besar tentang materi yang akan dibahas menurut dimensi pengetahuan:

Pengetahuan factual          : uraikan garis besarnya
Pengetahuan konseptual    : uraikan garis besarnya
Pengetahuan procedural    : uraikan garis besarnya
Pengatahuan metakognitif : uraikan garis besarnya

Bahan Bacaan : 
1. Permendikbud nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.  Jakarta: Kemendikbud.
2. Kemendikbud.(2018). Buku Pengangan pembelajaran Berorientasi pada keterampilan Berfikir Tingkat Tinggi. Jakarta: Kemendikbud
3. Kemendikbud.(2018). Program PKB Berbasis Zonasi. Jakarta: Kemendikbud

Konsep Dimensi Proses Kognitif.

Dimensi proses kognitif berkaitan erat dengan taksonomi yang dikenal dengan taksonomi Bloom yaitu suatu ilmu yang mempelajari tentang klasifikasi yang dibuat berdasarkan data penelitian berbagai hal yang dikelompokkan dalam sistematika .

Taksonomi berasal dari bahasa Yunani " tassein" yang artinya mengklasifikasikan dan "nomos" artinya aturan. Sehingga taksonomi dapat didefenisikan sebagai hierarkhi klasifikasi atas prinsip dasar atau aturan.

Oleh Bloom tujuan pendidikan dibagi menjadi tiga ranah yang kita kenal ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Selanjutnya ranah kognitif terdapat tingkatan proses berfikir, maka dimensi proses kognitif dapat diartikan ukuran tingkatan atau tahapan proses berfikir seseorang (peserta didik) yang selanjutnya tingkatan proses berfikir iru disebut taksonomi.

Kategori
Proses Berfikir
Taksonomi
Bloom(Asli)
Anderson(Revisi)
C1
Pengetahuan
Mengingat
C2
Pemahaman
Memahami
C3
Aplikasi
Mengaplikasikan
C4
Analisis
Menganalisis
C5
Sintesis
Mengevaluasi
C6
Evaluasi
Mencipta

Kur. 2006
Kur. 2013


 
Ada dua hal perubahan yang dilakukan murid Bloom yaitu Anderson, dkk.yaitu perubahan dari kata benda menjadi kata kerja, kemudian sintesis menjadi bagian dari analisis dan kemampuan tertinggi
bukan lagi evaluasi melainkan mencipta.

Baca Juga: Dimensi Pengetahuan 

Dalam hubungannya dengan penyusunan tes/soal, dikelompokkan lagi atas tiga level yaitu level satu, level dua dan level tiga.

Soal
Kategori
Level 1
Pengetahuan dan pemahaman (C1-C2)
Level 2
Penerapan (C3)
Level 3
Penalaran (C4-C6)

Berikut masing-masing penjelasan tingkatan proses berfikir. 

1. Mengingat (C1)
Mengingat adalah mengambil pengetahuan yang relevan dari memori jangka panjang, termasuk didalamnya mengenali(recognizing) dan recalling (menuliskan, menyebutkan). Mengingat merupakan proses yang paling rendah tingkaannya Kata kunci :  kemampuan menghafal, mengingat menjawab  pertanyaan, karakteristik C1 : siapa, kapan, di mana?

2. Memahami (C2): 
Memahami adalah mengkonksi makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, mengaitkan pengetahuan baru dengan informasi yang telah dimiliki sebelumnya, mengintegrasikan pengetahuan baru ke dalam skema yang telah ada dalam pemikiran seseorang.

Seseorang disebut memahami ketika mereka mampu untuk membangun makna dari pesan instruksional termasuk lisan, tertulis, dan grafis komunikasi dan materi yang disampaikan.

Memahami (C2) dapat dibagi dua 
a. Kemampuan mengolah pengetahuan seperti menggantikan  suatu kata/istilah dengan kata/istilah lain yang sama  maknanya;
b. Menulis kembali suatu kalimat/paragraf/tulisan dengan  kalimat/paragraf/tulisan sendiri dengan tanpa mengubah  artinya informasi aslinya.

3. Mengapilkasikan (Applying) (C3)
Mengaplikasikan atau menerapkan, menggunakan prosedur untuk melakukan latihan atau memecahkan masalah yang berhubungan erat dengan procedural. Kata kunci  menggunakan informasi, konsep, prosedur, prinsip, hukum, teori yang sudah dipelajari pada konsep yang baru/belum  dipelajari.

4. Menganalisis (C4)
Menganalisis yaitu kemampuan mengurai suatu masalah menjadi  bagian-bagian yang spesifik, mengelompokkan informasi,  membandingkan, membedakan , menentukan keterhubungan antara satu  kelompok/informasi dengan kelompok/informasi lainnya.

Mengevaluasi (C5)
Mengevaluasi adalah membuat suatu pertimbangan atau penilaian berdasarkan criteria dan  standar yang ada. Kriteria yang sering dipakai adalah kualitas, efesiensi, efetivitas, dan konsistensi  menyimpulkan informasi berdasarkan suatu kriteria,  memprediksi, hipotesa, memeriksa dan mengkritisi

Mencipta (C6)
Mengkreasi atau mencipta adalah membuat sesuatu yang baru dari apa yang sudah ada  sehingga hasil tersebut merupakan satu kesatuan utuh dan berbeda dari  komponen yang digunakan untuk membentuknya. Mencipta juga dimaknai reorganisasi unsure ke dalam pola atau struktur baru, merencanakan dan menghasilkan.

Baca: Kata Kerja Operasional dan Taksonomi (Revisi)

Bahan Bacaan : 
1. Permendikbud nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.  Jakarta: Kemendikbud.
2. Kemendikbud.(2018). Buku Pengangan pembelajaran Berorientasi pada keterampilan Berfikir Tingkat Tinggi. Jakarta: Kemendikbud
3. Kemendikbud.(2018). Program PKB Berbasis Zonasi. Jakarta: Kemendikbud