Tupoksi Kepala Laboratorium di Sekolah

Salah satu tugas tambahan yang mengurangi jam mengajar di sekolah adalah menjadi kepala laboratorium sekolah. Jika seorang guru diangkat menjadi kepala laboratorium sekolah maka tugas tambahan yang diemban setara dengan 12 jam mengajar. Artinya jika jumlah beban mengajar (tatap muka) guru minimal 24 jam maka seorang guru yang ditugaskan kepala sekolah sebagai kepala laboratorium cukup mengajar 12 jam tatap muka.

Beban mengajar sebagai kepala laoratorium tentu sangat menarik, apa lagi di sekolah tersebut guru masih ada yang kekurangan jam mengajar. Namun demikian tidak semua guru dapat diangkat menjadi kepala laboratorium, karena menjadi kepala laboratorium harus memenuhi syarat kualifikasi dan standar kompetensi yang telah ditentukan pemerintah.

Agar dapat diangkat menjadi kepala laboratorium di sekolah harus memenuhi syarat berikut:
1. Jika diangkat dari jalur guru
    a. Pendidikan minimal sarjana (S1);
    b. Berpengalaman minimal 3 tahun sebagai pengelola praktikum;
    c. Memiliki sertifikat kepala laboratorium sekolah/madrasah dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan oleh pemerintah.

2.Jika diangkat dari  jalur laboran/teknisi
   a. Pendidikan minimal diploma tiga (D3);
   b. Berpengalaman minimal 5 tahun sebagai laboran atau teknisi;
   c. Memiliki sertifikat kepala laboratorium sekolah/madrasah dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan oleh pemerintah.

Selain syarat di atas, sebagai kepala laboratorium harus memenuhi 4 kompetensi yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi professional, dan kompetensi sosial. (Baca Permendiknas no. 26 tahun 2008) Dari kompetensi tersebut maka dapat dijabarkan tugas pokok kepala laboratorium sekolah (tupoksi) dalam mengelola laboratorium sekolah.

Mengelola laboratorium sekolah adalah serangkaian kegiatan mulai dari perencanaan kegiatan laboratorium, pengoperasian peralatan dan penggunaan bahan , pemeliharaan/perawatan peralatan dan bahan, pengevaluasian sistem kerja laboratorium , dan pengembangan kegiatan laboratorium baik untuk pendidikan , penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga dapat menambah/menerapkan pengetahuan dan keterampilan  peserta didik sesuai dengan tuntutan kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum.

Adapun tupoksi kepala laboratorium dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Menyusun rencana pengembangan laboratorium
    a. Merencanakan pengelolaan laboratorium
    b. Mengembangkan sistem administrasi laboratorium
    c. Merencanakan kegiatan dan pengembangan laboratorium sekolah/madrasah
    d. Menyusun prosedur operasi standar (POS) kerja laboratorium

2. Mengelola kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
    a. Mengkoordinasikan kegiatan praktikum dengan guru
    b. Menyusun jadwal kegiatan laboratorium
    c. Memantau pelaksanaan kegiatan laboratorium
    d. Mengevaluasi kegiatan laboratorium
    e. Menyusun laporan kegiatan laboratorium

3. Membagi tugas teknisi dan laboran laboratorium sekolah/ madrasah
   a. Merumuskan rincian tugas teknisi dan laboran
   b. Menentukan jadwal kerja teknisi dan laboran
   c. Mensupervisi teknisi danlaboran
   d. Membuat laporan secara periodik

4. Memantau sarana dan prasarana laboratorium sekolah/madrasah
   a. Memantau kondisi dan keamanan bahan serta alat laboratorium
   b. Memantau kondisi dan keamanan bangunan laboratorium
   c. Membuat laporan bulanan dan tahunan tentang kondisi dan pemanfaatan  laboratorium

5. Mengevaluasi kinerja teknisi dan laboran serta kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
   a. Menilai kinerja teknisi dan laboran laboratorium
   b. Menilai hasil kerja teknisi dan laboran
   c. Menilai kegiatan laboratorium
   d. Mengevaluasi program laboratorium untuk perbaikan selanjutnya

6. Menerapkan gagasan, teori, dan prinsip kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
   a. Mengikuti perkembangan pemikiran tentang pemanfaatan kegiatan laboratorium sebagai wahana pendidikan
   b. Menerapkan hasil inovasi atau kajian laboratorium
   c. Mengikuti perkembangan pemikiran tentang pemanfaatan kegiatan laboratorium sebagai wahana pendidikan
   d. Menerapkan gagasan, teori, dan prinsip kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
   e. Menerapkan hasil inovasi atau kajian laboratorium

7. Memanfaatkan laboratorium untuk kepentingan pendidikan dan penelitian di sekolah /madrasah
   a. Menyusun panduan/penuntun(manual) praktikum
   b. Merancang kegiatan laboratorium untuk pendidikan dan penelitian
   c. Melaksanakan kegiatan laboratorium untuk kepentingan pendidikan dan penelitian
   d. Mempublikasikan karya tulis ilmiah hasil kajian/inovasi

8.  Menjaga kesehatan dan keselamatan kerja di laboratorium sekolah/madrasah
   a. Menetapkan ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja
   b. Menerapkan ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja
   c. Menerapkan prosedur penanganan bahan berbahaya dan beracun
   d. Memantau bahan berbahaya dan beracun, serta peralatan keselamatan kerja

Agar tupoksi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik maka kepala laboraorium menyusun program jangka pendek, menengah dan program jangka panjang. Adapun struktur program minimal dapat disusun sebagai berikut:

HALAMAN PEMBUKA
 Halaman Judul
 Lembaran Pengesahan
 Kata Pengantar
 Daftar Isi
 Daftar Tabel /Gambar/Grafik

I. PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang/Rasional
 B. Dasar Hukum
 C. Tujuan
 D. Manfaat
II. PROGRAM DAN RUANG LINGKUP
 A. Struktur Organisasi Laboratorium
 B. Rincian Tugas Pengelola Laboratorium
 C. Program Jangka Pendek
 D. Program Jangka menengah
 E. Program Jangka Panjang
III. PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS)
 A. Tata Tertib Penggunaan Laboratorium
 B. Prosedur Operasional Standar (POS)
 C. Monitoring dan Evaluasi
IV. PENUTUP
 A. Kesimpulan
 B. Saran/Rekomendasi

Semoga guru yang diangkat menjadi kepala laboratorium dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Keterampilan Bertanya Dalam Pembelajaran Kurikulum 2013

Salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru dalam pembelajaran kurikulum 2013 adalah keterampilan bertanya dan menjawab pertanyaan peserta didik. Hal ini selaras dengan pendekatan saintifik dimana peserta didik diharapkan dapat mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin dari apa yang diamati, dirasakan dan dialami.

Apabila peserta didik belum atau tidak ada yang bertanya maka guru harus aktif mengajukan beberapa pertanyaan untuk memotivasi mereka berfikir kritis dan memecahkan permasalahan yang dihadapi.

Dalam pembelajaran yang  berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOTS, peran guru tidak banyak menerangkan.  Sebaliknya guru diharapkan banyak melakukan stimulasi pertanyaan untuk mendorong memunculkanya pikiran-pikiran orsinil peserta didik, pertanyaan-pertanyaan tersebut mencakup:
  • Pertanyaan untuk memfokuskan perhatian atau kajian untuk diperdalam. 
  • Pertanyaan untuk mendorong peserta didik berpikir menemukan alasan atau mengambil posisi pendapat. 
  • Pertanyaan untuk mengklarifikasi suatu konsep dengan arah bisa merumuskan definisi yang jelas lewat memperbandingkan, menghubungkan dan mencari perbedaan atas konsep-konsep yang ada. 
  • Pertanyaan untuk mendorong munculnya gagasan-gagasan yang kreatif dan alternative lewat imajinasi. 
  • Pertanyaan untuk mendorong peserta didik mencari data dan fakta pendukung serta bukti-bukti untuk mengambil keputusan atau posisi. 
  • Pertanyaan untuk mendorong peserta didik mengembangkan pikiran lebih jauh dan lebih mendalam, dengan mencoba mengaplikasikan sesuatu informasi pada berbagai kasus dan kondisi yang berbeda-beda, sehingga memiliki lebih banyak argumentasi. 
  • Pertanyaan untuk mengembangkan kemampuan mengaplikasikan aturan atau teori yang lebih umum pada kasus yang tengah dikaji. 
Dalam praktik pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir ingkat tinggi atau HOTS, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diklasifikasikan kedalam empat macam pertanyaan yang menjadi sarana penting bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik. Pertanyaan tersebut adalah.

1. Pertanyaan Inferensial. 

Pertanyaan inferensial adalah pertanyan yang segera dijawab setelah peserta didik melakukan pengamatan maupun pengkajian atas bahan yang diberikan oleh guru. Bahan informasi tersebut bias berupa potret, gambar, tulisan singkat, sanjak, berita, dan sebagainya.

Pertanyaan ini bertujuan mengungkap apa yang dilihat atau didapati dan apa yang difahami oleh peserta didik setelah mengamati atau membaca bahan yang disajikan oleh guru.

Pertanyaan inferensial juga mencakup membangkitkan minat peserta didik, dagonese atau checking, mengingat sesifik informasi dari suatu peristiwa dan manejerial.

Contoh:
  • Apa yang saudara temukan ? 
  • Apa yang saudara ketahui dengan … Ini? 
  • Bagaimana pendapat saudara? 
  • Adakah saudara menemukan kelebihan atau kelemahan apa yang saudara baca? 
  • Bagaimana sikap saudara dengan makna yang saudara peroleh … 
  • Siapakah orang paling heibat di Indonsia? Bagaimana proses kehidupannya? 
  • Apa yang saudara ketahui dengan korupsi? 
  • Kapan terjadi tsunami di aceh? Berapa kurban nyawa akibat gempa tersebut? 
  • Bagaimana cara menegakan disiplin di sekolah? 
2. Pertanyaan pertanyaan interpretasi. 

Pertanyaan interpretasi diajukan pada peserta didik berkaitan dengan informasi yang tidak lengkap, atau tidak ada dalam bahan yang disajikan oleh guru, dan para peserta didik mesti bisa memberikan makna.

Pertanyaan ini ditujukan agar para peserta didik bisa memberikan makna suatu konswensi dari suatu gejala atau sebab yang ada.

Pertanyaan interpretasi juga untuk mendorong proses berfikir, struktur dan mengarahkan learning, membangkitkan sikap emosi, mendalami masalah, dan intrepretasi, apa akibat yang terjadi.

Contoh :
  • Mengapa saudara memiliki pendapat itu?,
  • Apa penyebab kegagalan dari upaya untuk ...? 
  • Apa penyebab banjir besar hang terjadi di …? 
  • Pertanyaan interptretasi mencakup pula, 
  • Apa yang saudara ketahui dengan vandalisme? 
  • Apa penyebabnya? 
  • Bagaimana cara mengatasinya? 
  • Ada beberapa bentuk korupsi: terpaksa, tamak, dan dirancang secara berjamaah? 
  • Bentuk mana yang paling berbahaya? 
  • Bagaimana seandainya saudara menjadi orang miskin yang ditolak berobat di rumah sakit, karena tidak mampu membayar? 
  • Apa kesimpulan sauadara setelah melihat film tersebut? 
  • Bagaimana dengan karakter pemainnya? 
  • Setelah membaca trilogi Andra Herata, kira-kira apa novel keempat? 
3. Pertanyaan pertanyaan transfer. 

Apabila dua macam pertanyaan sebelumnya merupakan upaya untuk mendalami masalah atau hakekat sesuatu, pertanyaan transfer merupakan upaya untuk memperluas wawasan atau bersifat horizontal, Mengaplikasikan ilmu pada kasus yang lain. Contoh:
  • Apakah perbedaan teori … dengan teori …? 
  • Bisakah saudara menjelaskan lebih detail jawaban saudara? 
  • Apabila didetailkan ada berapa macam gagasan saudara ini? 
  • Bagaimana, apabila jawaban saudara dipisah antara yang negatif dan positif? 
  • Bagaimana kalau teori ini diterapkan pada kasus …? 
  • Apakah mungkin apabila hal tsb dilaksanakan di …? 
  • Adakah kemungkinan lain dari upaya untuk …?
4. Pertanyaan pertanyaan hipotetik 

Pertanyaan hipotesis memiliki arah untuk mendorong peserta didik melakukan prediksi atau peramalan dari sesuatu permasalahan yang dihadapi dan/atau mengambil kesimpulan untuk generalisasi.

Sudah barang tentu hipotesis dan kesimpulan ini merupakan hasil pemahaman permasalahan ditambah data atau informasi yang telah dimiliki dan/atau data yang sengaja telah diperoleh karena untuk mengkaji permasalahan tersebut lebih jauh.

Pertanyaan Hipotetik mencakup,pertanyaan sebab akibat, pertanyaan reflektif, mempertanyakan kebenaran. Contoh:
  • Apa yang terjadi manakala cuaca panas dingin berubah cepat silih berganti? 
  • Bagaimana hasilnya kalua orang tidur diatas banyak paku dan bagaimana pula kalau tidur diatas dua atau tiga paku? 
  • Bagaimana seandainya, kebijakan kendaraan genap ganjil yang dijalankan di Jakarta dilaksanakan di kota saudara.Adaah yang perlu direvisi atau dikembangkan? 
  • Bagaimanakah kalau suporter yang melakukan kekerasan kesebelasannya dibekukan dilarang bertanding? 
  • Apa yang akan terjadi apabila minyak bumi habis? 
  • Bagaimana saudara tahu kalau yang disajikan di tayangan infonet itu benar? 
Selain jenis pertanyaan seperti dijelaskan jika  ditinjau dari bentuk-bentuk  pertanyaan yang diajukan maka bentuk pertanyaan yang diajukan dapat dibagi menjadi :

1. Pertanyaan untuk klarifikasi atas sesuatu hal 

Misalnya guru IPS membahas materi tentang demokrasi maka contoh  pertanyaan yang dapat dikembangkan berkaitan pertanyaan klarifikasi :
  • Dapatkah saudara menjelaskan apa yang dimaksud dengan sistem politik yang demokratis? 
  • Apa yang saudara maksudkan dengan demokrasi? 
  • Dapatkan saudara memberikan contoh negara yang demokratis dan yang tidak? 
2. Pertanyaan untuk menggali bukti

Contoh :
  • Dapatkan saudara memberikan bukti bahwa Negara “X” adalah Negara yang demoktratis? 
  • Apa data dan fakta yang ada? 
  • Bagaimana kita tahu suatu Negara dikatakan tidak demokratis? 
  • Coba saudara memberikan alas an yang jelas 
  • Apakah Alasan saudara memiliki bukti? Jelaskan. 
  • Apakah saudara bisa memberikan contoh lain. 
3. Pertanyaan untuk mendalami jawaban 

Contoh :
  • Bisakah saudara menjelaskan dengan cara lain bahwa Negara “X” adalah Negara bersistem politisi demokrasi dan Negara “Y” tidak bersistim demokrasi? 
  • Mungkinkah suatu Negara tidak termasuk diantara kedua system tersebut? 
  • Adakah diantara saudara berpendapat lain? 
  • Apa perbedaan diantara pendapat diatas? 
4. Pertanyaan untuk testing implikasi dan konsekuensi 

Contoh:
  • Jika suatu Negara semula tidak bersistem demokrasi kemudian berubah ke sistem demokrasi, apa yang akan terjadi? 
  • Apa saudara yang lain setuju dengan yang telah disampaikan ini? 
  • Kalau demikian apa yang harus dilakukan agar semua Negara menjadi Negara demokrasi? 
  • Dapatkan saudara memberikan bukti bahwa ini benar? 
5. Pertanyaan tentang evaluasi diskusi 

Contoh:
  • Apakah saudara ada pertanyaan tentang apa yang kita bicarakan 
  • Kalau ada jelaskan pertanyaan saudara 
  • Apakah pendapat saudara ini berkaitan dengan apa yang sudah kita bicarakan? 
  • Apakah kita sudah memiliki kesimpulan? 
  • Apakah pembicaraan kita sudah menjawab pertanyaan apa Negara demokrasi itu? 
Nah, dengan memahami jenis dan bentuk-bentuk pertanyaan di atas diharapakan guru dapat melaksanakan proses pembelajaran  yang aktif, kreatif dan memotivasi peserta didik untuk berfikir kritis.

KLIK UNTUK AKSES CEPAT

Tupoksi Kepala Laboratorium di Sekolah

Salah satu tugas tambahan yang mengurangi jam mengajar di sekolah adalah menjadi Kepala Laboratorium Sekolah. Jika seorang guru diangkat menjadi kepala laboratorium sekolah maka tugas tambahan yang diemban setara dengan 12 jam mengajar. Artinya jika jumlah beban mengajar (tatap muka) guru minimal 24 jam maka seorang guru yang ditugaskan kepala sekolah sebagai kepala laboratorium cukup mengajar 12 jam tatap muka.

Beban mengajar sebagai kepala laoratorium tentu sangat menarik, apa lagi di sekolah tersebut guru masih ada yang kekurangan jam mengajar. Namun demikian tidak semua guru dapat diangkat menjadi kepala laboratorium, karena menjadi kepala laboratorium harus memenuhi syarat kualifikasi dan standar kompetensi yang telah ditentukan pemerintah.

Agar dapat diangkat menjadi kepala laboratorium di sekolah harus memenuhi syarat berikut:
1. Jika diangkat dari jalur guru
  a. Pendidikan minimal sarjana (S1);
  b. Berpengalaman minimal 3 tahun sebagai pengelola praktikum;
  c. Memiliki sertifikat kepala laboratorium sekolah/madrasah dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan oleh pemerintah.

2.Jika diangkat dari  jalur laboran/teknisi
  a. Pendidikan minimal diploma tiga (D3);
  b. Berpengalaman minimal 5 tahun sebagai laboran atau teknisi;
  c. Memiliki sertifikat kepala laboratorium sekolah/madrasah dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan oleh pemerintah.

Selain syarat di atas, sebagai kepala laboratorium harus memenuhi 4 kompetensi yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi professional, dan kompetensi sosial. (Baca Permendiknas no. 26 tahun 2008) Dari kompetensi tersebut maka dapat dijabarkan tugas pokok kepala laboratorium sekolah (tupoksi) dalam mengelola laboratorium sekolah.

Mengelola laboratorium sekolah adalah serangkaian kegiatan mulai dari perencanaan kegiatan laboratorium, pengoperasian peralatan dan penggunaan bahan , pemeliharaan/perawatan peralatan dan bahan, pengevaluasian sistem kerja laboratorium , dan pengembangan kegiatan laboratorium baik untuk pendidikan , penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga dapat menambah/menerapkan pengetahuan dan keterampilan  peserta didik sesuai dengan tuntutan kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum.

Adapun tupoksi kepala laboratorium dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Menyusun rencana pengembangan laboratorium
  a. Merencanakan pengelolaan laboratorium
  b. Mengembangkan sistem administrasi laboratorium
  c. Merencanakan kegiatan dan pengembangan laboratorium sekolah/madrasah
  d. Menyusun prosedur operasi standar (POS) kerja laboratorium

2. Mengelola kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
  a. Mengkoordinasikan kegiatan praktikum dengan guru
  b. Menyusun jadwal kegiatan laboratorium
  c. Memantau pelaksanaan kegiatan laboratorium
  d. Mengevaluasi kegiatan laboratorium
  e. Menyusun laporan kegiatan laboratorium

3. Membagi tugas teknisi dan laboran laboratorium sekolah/ madrasah
  a. Merumuskan rincian tugas teknisi dan laboran
  b. Menentukan jadwal kerja teknisi dan laboran
  c. Mensupervisi teknisi danlaboran
  d. Membuat laporan secara periodik

4. Memantau sarana dan prasarana laboratorium sekolah/madrasah
  a. Memantau kondisi dan keamanan bahan serta alat laboratorium
  b. Memantau kondisi dan keamanan bangunan laboratorium
  c. Membuat laporan bulanan dan tahunan tentang kondisi dan pemanfaatan  laboratorium

5. Mengevaluasi kinerja teknisi dan laboran serta kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
  a. Menilai kinerja teknisi dan laboran laboratorium
  b. Menilai hasil kerja teknisi dan laboran
  c. Menilai kegiatan laboratorium
  d. Mengevaluasi program laboratorium untuk perbaikan selanjutnya

6. Menerapkan gagasan, teori, dan prinsip kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
  a. Mengikuti perkembangan pemikiran tentang pemanfaatan kegiatan laboratorium sebagai wahana pendidikan
  b. Menerapkan hasil inovasi atau kajian laboratorium
  c. Mengikuti perkembangan pemikiran tentang pemanfaatan kegiatan laboratorium sebagai wahana pendidikan
  d. Menerapkan gagasan, teori, dan prinsip kegiatan laboratorium sekolah/madrasah
  e. Menerapkan hasil inovasi atau kajian laboratorium

7. Memanfaatkan laboratorium untuk kepentingan pendidikan dan penelitian di
sekolah/madrasah
  a. Menyusun panduan/penuntun(manual) praktikum
  b. Merancang kegiatan laboratorium untuk pendidikan dan penelitian
  c. Melaksanakan kegiatan laboratorium untuk kepentingan pendidikan dan penelitian
  d. Mempublikasikan karya tulis ilmiah hasil kajian/inovasi

8.  Menjaga kesehatan dan keselamatan kerja di laboratorium sekolah/madrasah
  a. Menetapkan ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja
  b. Menerapkan ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja
  c. Menerapkan prosedur penanganan bahan berbahaya dan beracun
  d. Memantau bahan berbahaya dan beracun, serta peralatan keselamatan kerja

Agar tupoksi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik maka kepala laboraorium menyusun program jangka pendek, menengah dan program jangka panjang. Adapun struktur program minimal dapat disusun sebagai berikut:

HALAMAN PEMBUKA
Halaman Judul
Lembaran Pengesahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel /Gambar/Grafik

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang/Rasional
B. Dasar Hukum
C. Tujuan
D. Manfaat

II. PROGRAM DAN RUANG LINGKUP
A. Struktur Organisasi Laboratorium
B. Rincian Tugas Pengelola Laboratorium
C. Program Jangka Pendek
D. Program Jangka menengah
E. Program Jangka Panjang

III. PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS)
A. Tata Tertib Penggunaan Laboratorium
B. Prosedur Operasional Standar (POS)
C. Monitoring dan Evaluasi

IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran/Rekomendasi

Semoga guru yang diangkat menjadi kepala laboratorium dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Kepres No. 11 Tahun 2019 dan Jabatan Pengawas Sekolah

Pada tanggal 15 April 2019 yang lalu , Presiden Republik Indonesia  Ir.  Joko Widodo telah menandatangani Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Program Penyusunan Peraturan Pemerintah Tahun 2019. 

Dalam Lampiran Keputusan tersebut dinyatakan  sebanyak 33 (tiga puluh tiga)  judul Rancangan Peraturan Pemerintah Tahun 2019 yang akan ditetapkan menjadi peraturan pemerintah dalam jangka waktu 1 tahun  dan pemrakarsa melaporkan perkembangan penyusunan rancangan peraturan pemerintah tersebut setiap triwulan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. 

Dari 33 judul rancanganperaturan pemerintah tersebut ada dua poin yang membahas tentang kepala sekolah dan pengawas sekolah yaitu: 
.
1. RPP tentang  perubahan kedua atas PP Nomor 74 tahun 2008 tentang guru dengan materi perubahan  

a.Tunjangan yang diberikan kepada guru dan guru yang mendapat tugas tambahan 

b.Guru yang diangkat sebagai  kepala satuan pendidikan akan mendapat tunjangan kepala satuan pendidikan 

c.Kepala sekolah yang diangkat sebagai pengawas pengawas sekolah  akan mendapat tunjangan pengawas sekolah

d.Pemberian maslahat tambahan bagi guru 

Dari materi rancangan perubahan peraturan pemerintah atas PP 74 tahun 2008 (perubahan ke dua) terlihat beberapa hal :

1) bahwa tunjangan profesi pengawas /sertifikasi yang selama ini diterima pengawas dan kepala sekolah akan diganti dengan sebutan nama tunjangan kepala satuan pendidikan dan tunjangan pengawas sekolah yang besaranya belum ditentukan; 

2) Pengankatan menjadi pengawas sekolah tidak lagi langsung  berasal dari guru akan tetapi harus melalui jenjang atau pernah menjabat satuan pendidikan terkecuali bagi pengawas yang diangkat sebelum ditetapkan  peraturan pemerintah tersebut;

3) tersirat dalam rancangan perubahan tersebut bahwa  adanya perbedaan besaran tunjangan guru, kepala satuan pendidikan dan pengawas sekolah yang selama ini disamakan menurut besaran gaji pokok. Sinyal besaran tunjangan kepala sekolah dan pengawas sekolah sudah pernah dikemukakan oleh Dirjen  GTK  pada bulan April 2019 di Medan  yaitu sebesar 2-3 kali lipat dari sebelumnya;

Baca Juga: Menanti Regulasi Tunjangan Profesi Pengawas Sekolah 

4) Dalam rancangan tersebut tersirat pula bahwa jabatan pengawas sekolah ke depan akan semakin bergensi, karena harus melalui jenjang karir dimulai dari  guru kemudian  kepala satuan pendidikan.  
  
2. RPP perubahan ketiga atas PP nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan dengan materi perubahan:

a.Mengatur kualifikasi dan kompetensi minimum persyaratan kepala sekolah TK/RA/SD/MI/SMP/MTS/SMA/MA/SMK/MAK dan Pengawas sekolah;

b.Standar kompetensi kepala satuan pendidikan dabn pengawas sekolah dikembangkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi;

c.Mengatur tentang penilik satuan pendidikan pada pendidikan  nonformal

Rancangan Peraturan Pemerintah (perubahan ketiga) atas peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 menyangkut kualifikasi dan kompetensi minimum yang harus dipenuhi untuk dapat diangkat sebagai kepala satuan pendidikan dan pengawas sekolah. Kualifikasi dan kompetensi kepala sekolah yang selama ini diatur oleh permendikbud nomor 13 tahun 2007, dan pengawas sekolah diatur dalam Permendikbud nomor 12 tahun 2007dan PermenPAN&RB Nomor 21 Tahun 2010.

Dalam  peraturan tersebut bahwa kualifikasi kepala sekolah dan pengawas sekolah adalah S-1. Ada kemungkinan kualifikasi minimum tersebut akan tingkatkan menjadi minimal S-2. 

Demikian juga dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah akan semakin ditingkatkan dari yang sebelumnya, dalam hal ini akan dikembangkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Target pemerintah bahwa Peraturan Pemerintah yang mengatur poin 1) dan 2)   harus selesai paling lambat 1 tahun, dan berkemungkinan akan dipercepat khususnya yang mengatur pengawas sekolah sesuai amanat Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 terhitung November 2019 bahwa masa dasar hukum pemberian tunjangan profesi pengawas sudah habis.  Selamat menanti regulasi baru.   

Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) Bagi Siswa Baru Tahun 2019/2020


A. Pengertian

Setelah penerimaan siswa baru, kegiatan pertama yang harus dilakukan sekolah adalah melaksanakan Pengenalan lingkungan Sekolah (PLS) bagi siswa baru. Dalam permendikbud nomor 18 tahun 2016 yang menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan PLS 2019/2020 dijelaskan bahwa Pengenalan Lingkungan Sekolah  adalah kegiatan pertama masuk Sekolah  untuk pengenalan program, sarana dan prasarana sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri, dan pembinaan awal kultur Sekolah.

B. Tujuan PLS Tahun 2019/2020

Tujuan kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi Siswa Baru Tahun 2019/2020 adalah agar peserta didik dapat  1) mengenali potensi diri siswa baru; 2) membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan sekitarnya, antara lain terhadap aspek keamanan, fasilitas umum, dan sarana prasarana sekolah;3) menumbuhkan motivasi, semangat, dan cara elajar efektif sebagai siswa baru; 4) mengembangkan interaksi positif antar siswa dan warga sekolah lainnya; dan 
     5) menumbuhkan perilaku positif antara lain kejujuran, kemandirian, sikap saling menghargai, menghormati keanekaragaman dan persatuan, kedisiplinan, hidup bersih dan sehat untuk mewujudkan siswa yang memilki nilai integritas, etos kerja, dan semangat gotong royong

C. Waktu Pelaksanaan PLS  
Kegiatan PLS dilaksanakan pada minggu pertama awal tahun ajaran baru dengan durasi waktu paling lama 3 (tiga ) hari pada hari sekolah dan pada jam pelajaran. Pengecualian bagi sekolah berasrama dapat menambah waktu dengan terlebih dahulu melaporkan ke Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota.

D. Personil yang Terlibat Dalam Kegiatan
Personil yang terlibat dalam kegiatan PLS adalah Kepala Sekolah sebagai penanggungjawab penuh dan guru sebagai pelaksana. Namun jika guru tidak mencukupi dapat dibantu siswa dengan persyaratan 1) siswa yang masuk pengurus OSIS,  atau. anggota MPK maksimum 2 orang per kelas; 2) apabila pengurus OSIS belum ada  sekolah dapat memilih perwakilan siswa yang  dipastikan bebas dari sifat buruk dan tindak kekerasan

E. Ruang Lingkup Materi Kegiatan
Sesuai dengan Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 pada Lampiran I Kegiatan yang dilakukan sekolah dalam PLS ada dua yaitu Kegiatan wajib dan Kegiatan Pilihan

1. Kegiatan wajib terdiri dari:
·      Pengisian formulir siswa baru oleh orang tua/wali;
·      Kegiatan pengenalan siswa (khusus SD, siswa dapat dikenalkan oleh orang tua
·      Kegiatan pengenalan warga sekolah;
·      Kegiatan pengenalan visi-misi, program, kegiatan, cara belajar, dan tata tertib sekolah;
·      Kegiatan pengenalan fasilitas sarana dan prasarana sekolah dengan memegang prinsip persamaan hak seluruh siswa;
·      Pengenalan stakeholders sekolah lainnya.
·      Simulasi penyelesaian suatu masalah untuk menumbuhkan motivasi dan semangat belajar siswa;
·      Kegiatan pengenalan etika komunikasi, termasuk tata cara menyapa/berbicara menggunakanBahasa Indonesia yang baik dan benar.
·      Pembiasaan salam, senyum, sapa, sopan, dan santun;
·      Pengenalan etika pergaulan antar siswa serta antara siswa dengan guru dan tenaga kependidikan, termasuk kepada sikap simpati, empati, dan saling menghargai, serta sportif.
·       Kegiatan penanaman dan penumbuhan akhlak dan karakter;
·       Pengenalan budaya dan tata tertib sekolah;
·       Pemilihan tema kegiatan pengenalan lingkungan sekolah yang sesuai dengan nilai-nilai positif.

2. Kegiatan pilihan  terdiri dari :   :

·       Diskusi konseling.
·       Mengenalkan kegiatan ekstra kurikuler yang ada di sekolah.
·       Melibatkan siswa secara aktif dalam setiap diskusi.
·       Pengenalan tata cara dan etika makan, tata cara penggunaan fasilitas toilet, dan tata cara berpakaian/sepatu.
·       Mengajak siswa berkeliling ke seluruh area sekolah, sambil menjelaskan setiap fasilitas, sarana, dan prasarana yang terdapat di sekolah serta kegunaannya.
·       Menginformasikan fasilitas-fasilitas umum di sekitar sekolah.
·       Menginformasikan kewajiban pemeliharaan fasilitas dan sarana prasarana sekolah dan fasilitas-fasilitas umum.
·       Kegiatan simulasi penanggulangan bencana.
·       Menginformasikan daerah rawan di sekitar sekolah.
·       Kegiatan pengenalan manfaat dan dampak teknologi informasi, termasuk sanksi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan terkait
·       Pengenalan metode pembelajaran dalam bentuk quantum learning (speed reading, easy writing, mind mapping, super memory system).
·       Mendatangkan narasumber dari berbagai profesi untuk berbagi pengalaman.
·       Kegiatan pengenalan kewirausahaan.
·       Kegiatan pengenalan institusi pasangan pada sekolah kejuruan.
·       Kegiatan atraksi masing-masing kelas, antara lain perlombaan bidang kesenian, dan olahraga.
·       Kegiatan yang menjalin keakraban antar siswa dengan warga sekolah antara lain dengan permainan atau diskusi kelompok.
·       Beribadah keagamaan bersama, pengenalan pendidikan anti korupsi, cinta lingkungan hidup, dan cinta tanah air.
·       Kegiatan kebanggaan terhadap keanekaragaman dan kebhinekaan, antara lain pengenalan suku dan agama, penggunaan pakaian adat di sekolah.
·       Kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah dan pengenalan tata cara membuang sampah sesuai dengan jenis sampah.
·       Penggunaan sumber daya sekolah (air, listrik, telepon, dsb) secara efisien.
·       Mengajarkan simulasi antri melalui baris sebelum masuk kelas, dan pada saat bergantian memakai fasilitas sekolah.
·       Kegiatan pendidikan bahaya pornografi, narkotika psikotropika, dan zat adiktif lainnya antara lain bahaya merokok.
·       Kegiatan pengenalan dan keselamatan berlalu lintas.
·       Wawasan wiyata mandala
·       Kepramukaan
·       Kesadaran berbangsa dan bernegara
·       Pendidikan karakter
·       Tata karma
·       Pengenalan kurikulum
·       Pembinaan mental dan Pengenalan bahanya narkoba.
\
F. Hal yang perlu diperhatikan/dipatuhi sekolah

·       Perencanaan dan penyelenggaraan kegiatan hanya menjadi hak guru;
·       Dilarang melibatkan siswa senior (kakak kelas) dan/atau alumni sebagai penyelenggara;
·       Dilakukan di lingkungan sekolah kecuali sekolah tidak memiliki fasilitas yang memadai;
·       Dilarang melakukan pungutan biaya maupun bentuk pungutan lainnya.
·       Wajib melakukan kegiatan yang bersifat edukatif;
·       Dilarang bersifat perpeloncoan atau tindak kekerasan lainnya; 
·       Wajib menggunakan seragam dan atribut resmi dari sekolah;
·       Dilarang memberikan tugas kepada siswa baru berupa kegiatan maupun penggunaan atribut yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran siswa;
·       Dapat melibatkan tenaga kependidikan yang relevan dengan materi kegiatan pengenalan lingkungan sekolah; dan
·       Dilarang melakukan pungutan biaya maupun bentuk pungutan lainnya. 

G.Larangan

Hal yang harus diperhatikan sekolah  adalah bahwa kegiatan pengenalan lingkungan bagi peserta didik baru tidak sama dengan kegiatan MOS pada tahun-tahun sebelumnya berikut ini  Contoh larangan dalam penggunaan atribut dan larangan dalam pelaksanaannya. 
Contoh Atribut Yang Dilarang Dalam Pelaksanaan Pengenalan Lingkungan Sekolah:
·    Tas karung, tas belanja plastik, dan sejenisnya.
·     Kaos kaki berwarna-warni tidak simetris, dan sejenisnya.
·     Aksesoris di kepala yang tidak wajar.
·      Alas kaki yang tidak wajar.
·     Papan nama yang berbentuk rumit dan menyulitkan dalam pembuatannya dan/atau berisi konten yang tidak bermanfaat. 
·     Atribut lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran.

Contoh Aktivitas Yang Dilarang Dalam Pelaksanaan Pengenalan Lingkungan Sekolah:
Memberikan tugas kepada siswa baru yang wajib membawa suatu produk dengan merk tertentu.

·       Menghitung sesuatu yang tidak bermanfaat (menghitung nasi, gula, semut, dsb).
·       Memakan dan meminum makanan dan minuman sisa yang bukan milik masing-masing siswa baru.
·       Memberikan hukuman kepada siswa baru yang tidak mendidik seperti menyiramkan air serta hukuman yang bersifat fisik dan/atau mengarah pada tindak kekerasan.
·       Memberikan tugas yang tidak masuk akal seperti berbicara dengan hewan atau tumbuhan serta membawa barang yang sudah tidak diproduksi kembali.
·       Aktivitas lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran.

H. Saran Pelaksanaan
Agar pelaksanaan gegiatan ini dapat terlaksana dengan baik, memberikan hasil yang baik dan memenuhi standar aturan yang ditetapkan oleh pemerintah maka sekolah perlu:

1. Menyusun program  pengenalan lingkungan sekolah terhadap siswa baru  minimal terdiri dari:
    Bab I : Pendahuluan
·     Latar Belakang/Rsional
·     Dasar Hukum
·     Tujuan
·     Manfaat
·     Sasaran  
    Bab II : Ruang Lingkup dan Pelaksanaan
·     Jenis Kegiatan
·     Personil yang terlibat/Kepanitiaan
·     Jadwal  Pelaksanaan
·     Materi kegiatan
·     Mekanisme/Prosedur Pelaksanaan 
·     Monitoring/Pengawasan
    Bab III. Penutup
    Lampiran : SK kepanitiaan, daftar majelis guru, tata tertib dll.   
             
2. Kepala sekolah membentuk kepanitiaan dengan surat keputusan (SK) pelaksana
3. Dalam surat keputusan dijabarkan pula rincian tugas masing-masing personil
4. Sosialisasi terhadap program yang disusun
5. Melengkapi sarana yang dibutuhkan saat kegiatan
6. Kepala sekolah memberikan pengawasan/monitoring terhadap kegiatan dimaksud
7.  Program/rencana yang disusun oleh sekolah  disampaikan/sosialisasi kepada orang tua/wali pada saat lapor diri sebagai siswa baru
I. Sanksi
Sanksi terhadap pelanggaran pelaksanaan kegiatan pengenalan lingkungan terhadap peserta didik baru diberikan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan secara personal atau institusi.
Sekolah memberikan sanksi kepada siswa dalam rangka pembinaan berupa teguran lisan; dan tindkan yang bersifat edukatif