Home » » Model Pembelajaran VCT

Model Pembelajaran VCT

A. Pengantar 

Pendidikan nilai pada saat ini menjadi sangat penting  sebagimana yang diungkapkan oleh Dedi Supriadi (Mulyana, 2004) bahwa pada beberapa dasawarsa terakhir, terjadi kecenderungan baru di dunia yaitu tumbuhnya kembali kesadaran nilai. Kecenderungan ini terjadi secara global. Dimana-mana orang berbicara tentang nilai, bahkan untuk bidang yang sebelumnya dianggap “bebas nilai” (value free) sekalipun, kedudukan dan peran nilai makin banyak diangkat.

Seiring dengan hal di atas, kurikulum 2013 didalamnya sudah terintegrasi pendidikan karakter dan menjadi keharusan agar setiap pendidik melakukan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).  Dengan nilai karakter peserta didik yang sudah tertanam baik, mereka akan siap untuk hidup di abad 21, abad revolusi industri 4.0. Oleh karena itu pendidikan nilai merupakan tindakan mendidik para peserta didik mulai dari usaha penyadaran nilai sampai pada perwujudan perilaku=perilaku yang bernilai.

B. Konsep Model Value Clarification Technique

VCT  adalah singkatan Value Clarification Technique atau  Teknik Mengkarifikasi Nilai dapat diartikan sebagai teknik   pembelajaran  untuk membantu peserta didik dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri peserta didik (Wina, 2010: 283).

VCT (Value clarification technique ) merupakan sebuah cara menanamkan dan menggali/ mengungkapkan nilai-nilai tertentu dari peserta didik. Dalam hal ini mengajak/mengarahkan peserta didik  untuk mencari nilai-nilai yang terkandung atau terintegrasi dalam setiap materi pembelajaran.

Nilai (value) merupakan suatu sistem, dimana aneka jenis nilai seperti nilai keagamaan, sosial budaya, ekonomi, hukum, etis dan lain sebagainya berpadu serta saling meradiasi (mempengaruhi secara kuat) sebagai suatu satu kesatuan yang utuh (Ahmad Kosasih, 1985).

Mardiatmadja (1986) mendefinisikan Pendidikan Nilai sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai- nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya.

VCT adalah sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran moral bertujuan: 1) mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran peserta didik tentang suatu nilai; 2)membina kesadaran peserta didik tentang nilai-nilai yang dimilikinya, baik tingkatannya maupun sifatnya (positif dan negatifnya) untuk dibina ke arah peningkatan dan perbaikannya; 3)menanamkan nilai-nilai tertentu kepada peserta didik melalui cara yang rasional dan diterima peserta didik sehingga pada akhirnya nilai tersebut menjadi milik peserta didik; 4)melatih peserta didik cara menilai, menerima, dan mengambil keputusan terhadap suatu persoalan dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat (Qiqi Yuliati Zakiyah, 2014).

Untuk mencapai hal di atas  Piaget mengemukakan tiga  tahapan yaitu :

1. Tahap mengakomodasi
 Pada tahap ini peserta didik diberi  kesempatan mempelajari dan menginternalisasi nilai dan moral yang terkandung atau terkait dengan materi yang dipelajari.

2. Tahap asimilasi 
 Tahap asimilasi yaitu pengintegrasikan nilai dengan sistem nilai lain yang telah ada dalam dirinya

3. Tahap equilibrasi 
 Tahap equilibrasi yaitu tahap membina keseimbangan dan membakukannya sebagai sistem nilai baru yang baku.

Teknik klarifikasi nilai atau sering disebut dengan values clarification technique merupakan teknik pembelajaran untuk membentuk peserta didik dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanan dalam diri peserta didik.  Pendidikan nilai tidak hanya merupakan program khusus yang diajarkan melalui sejumlah mata pelajaran, akan tetapi mencakup keseluruhan program pendidikan.

Hers(1980) dalam  Qiqi dan Rusdiana, (2014:72) mengemukakan empat model pendidikan nilai, yaitu sebagai berikut:

1. Model teknik pengungkapan nilai
Teknik pengungkapan nilai adalah teknik yang memandang pendidikan moral dalam pengertian promoting self-awareness and self caring dan bukan mengatasi masalah moral yang membantu mengungkapkan moral yang dimiliki peserta didik tentang hal-hal tertentu. Pendekatannya dilakukan dengan cara membantu peserta didik menemukan dan menilai/menguji nilai yang mereka miliki untuk mencapai perasaan diri.

2. Model analisis nilai
Model analisis nilai adalah model yang membantu peserta didik mempelajari pengambilan keputusan melalui proses langkah demi langkah dengan cara yang sangat sistematis. Model ini akan memberi makna bila dihadapkan pada upaya menangani isu-isu kebijakan yang kompleks.

3. Model pengembangan kognitif moral
Model yang membantu peserta didik berpikir melalui pertentangan dengan cara yang lebih jelas dan menyeluruh melalui tahapan-tahapan umum dan pertimbangan moral.

4. Model tindakan sosial
Tindakan sosial adalah model yang bertujuan meningkatkan keefektifan peserta didik mengungkap, meneliti, dan memecahkan masalah sosial. Terdapat empat hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan model pendidikan moral, yaitu: berfokus kepada kehidupan, penerimaan akan sesuatu, memerlukan refleksi lebih lanjut, dan harus mengarah pada tujuan.


Model-model tersebut melihat pendidikan moral sebagai upaya menumbuhkan kesadaran diri dan kepedulian diri siswa. Implementasi pendidikan nilai di sekolah sangat membantu peserta didik supaya mereka mampu menggunakannya secara bersama-sama antara kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional untuk memahami perasaan, nilai-nilai, sikap, dan pola tingkah laku mereka sendiri dan akhirnya didorong untuk menghayatinya secara mendalam.

C.Sintaks Model Pembelajaran VCT

Sintaks model pembelajaran VCT terbagi atas tujuh tahapan yang dibagi dalam tiga tingkat, yakni.

1. Kebebasan memilih 
Pada tingkatan ini terdapat tiga tahapan, yaitu: (1) memilih secara bebas, artinya peserta didik diberi kesempatan untuk menentukan suatu masalah/kasus/ kejadian yang diambil dari buku atau yang dibuat guru; (2) memilih dari beberapa solusi alternative pilihan secara bebas yang menurutnya baik, nilai yang dipaksakan berdampak kurang baik bagi pembelajaran nilai itu sendiri; dan (3) memilih setelah dilakukan analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya.

2. Menghargai 
Tingkatan ini terdiri atas dua tahap pembelajaran, yaitu: (1) adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya sehingga nilai tersebut menjadi bagian dari dirinya; dan (2) menegaskan nilai yang telah menjadi integral dalam dirinya di depan umum.

3. Berbuat
Tingkatan ini terdiri atas dua tahap, yaitu: (1) kemauan dan kemampuan untuk mencoba melaksanakannya; dan (2) mengulangi perilaku sesuai dengan nilai pilihannya. Artinya, nilai  yang menjadi pilihan itu harus tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.

D. Metode pembelajaran VCT

Metode yang layak digunakan pada model pembelajaran VTC, sebagaimana beberapa ahli mengakumulasikan metode-metode tersebut, antara lain:

1. Metode diskusi bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran dan  informasi/pengalaman peserta didik sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran;

2. Metode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi untuk menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan dan pengalaman dari semua peserta;

3. Metode bermain peran (role play) menekankan pada masalah bukan pada kemampuan pemain dalam bermain peran;

4. Metode wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada responden dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Teknik klarifikasi nilai ini menjadi alternative strategi sebagai proses penanaman nilai yang dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada sebelumnya pada diri peserta didik kemudian diselaraskan dengan nilai baru yang akan ditanamkan (Qiqi Yuliati Zakiyah, 2014).

E. Teknik Pembelajaran VCT

John Jarolimek (1970) menjelaskan beberapa teknik pengajaran nilai sebagai berikut yaitu:

1. Teknik self evaluasi (menilai diri sendiri) dan group evaluation (evaluasi kelompok) yaitu peserta didik diajak berdiskusi atau tanya jawab tentang apa yang dilakukan serta diarahkan untuk perbaikan atau penyempurnaan oleh peserta didik itu sendiri.

2. Teknik lecturing yaitu guru bercerita dan mengangkat tema atau materi apa yang menjadi topik bahasannya dalam pembelajaran.

3. Teknik menarik dan memberikan percontohan yaitu guru memberikan serta meminta contoh-contoh baik dalam diri peserta didik ataupun kehidupan masyarakat kemudian dianalisa, dinilai dan didiskusikan.

4. Teknik indoktrinasi dan pembakuan kebiasaan yaitu dalam teknik ini peserta didik dituntut untuk menerima atau melakukan sesuatu yang dinyatakan baik oleh guru. Peserta didik diwajibkan melaksanakannya seperti patuh pada tata tertib.

5. Teknik tanya jawab yaitu guru mengangkat suatu masalah, lalu mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dan peserta didik aktif menjawab atau mengemukakan pendapatnya.

6. Teknik menilai suatu bahan tulisan baik dari buku ataupun khusus dibuat guru. Dalam hal ini peserta didik dipersilahkan memberikan penilaian dengan kode misalnya (baik-buruk, benar-tidak benar, adil-tidak adil dll).

7. Teknik mengungkapkan nilai melalui permainan. Dalam hal ini dapat menggunakan model yang sudah ada ataupun ciptaan guru.

8. Teknik inkuiri merupakan suatu proses berpikir yang ditempuh peserta didik untuk menemukan suatu konsep melalui langkah perumusan masalah, pengajuan hipotesis, merencanakan  pengujian hipotesis, melalui eksperimen dan demonstrasi, mencatat data hasil eksperimen, mengolah data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.

F. Sistem Pendukung Model Pembelajaran VCT

Sistem pendukung merupakan penunjang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. Sistem pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan model pembelajaran VCT adalah sebagai berikut.

1. Sarana prasarana pembelajaran meliputi adanya sumber belajar, adanya sumber/media belajar, narasumber yang dapat dimanfaatkan, dan tersedianya perpustakaan mendukung proses pembelajaran.

2. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan VCT melalui proses dialog, diantaranya; (1) hindari penyampaian pesan melalui proses pemberian nasehat yang menurut guru baik; (2) jangan memaksa peserta didik memberikan respon yang tidak dikehendaki; (3) melakukan dialog terbuka sehingga peserta didik mengungkapkan perasaan dengan jujur dan apa adanya; (4) dialog dilakuakn pada individu bukan pada kelompok kelas; (5) hindari respon yang dapat menyebabkan peserta didik terpojok sehingga ia menjadi defensive; dan (6) tidak  mendesak peserta didik pada pendirian tertentu.

G.Kelebihan dan Kelemahan Model VCT

1. Kelebihan VCT, meliputi: (1) pendidikan nilai membantu peserta didik untuk berproses menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain; (2) pendidikan niali membantu peserta didik untuk mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berhubungan dengan nilai-nilainya sendiri; dan (3) pendidikan nilai membantu peserta didik supaya mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosional, untuk memahami perasaan, nilai-nilai, sikap dan pola tingkah laku (Sutarjo, 2012).

2. Kelemahan VCT yang sering terjadi dalam proses pembelajaran nilai atau sikap adalah proses pembelajaran yang dilakukan secara langsung oleh guru, artinya guru menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik tanpa memperhatikan nilai yang sudah tertanam dalam diri peserta didik. Akibatnya sering terjadi konflik dalam diri peserta didik karena ketidakcocokan antara nilai lama yang sudah terbentuk dengan nilai baru yang ditanamkan oleh guru.

H. Implementasi Pendidikan Nilai Berbasis VCT

Dalam proses pendidikan, Pendidikan Nilai dapat dianalogikan sebagai darah yang ada dalam tubuh manusia. Pendidikan adalah tubuh sedangkan nilai-nilai adalah darahnya. Darah itu harus ada di setiap tubuh, dan ia senantiasa mengalir dalam tubuh membawa sari-sari makanan yang diperlukan organ-organ tubuh lainnya dan mengeluarkan zat-zat yang tidak dibutuhkan.

Oleh karena itu idealnya pendidikan nilai/karakter  harus ada pada seluruh mata pelajaran yang diprogramkan oleh lembaga pendidikan. Setiap guru memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan Pendidikan Nilai kepada peserta didik.

Djahiri (1996) mengemukakan delapan pendekatan dalam Pendidikan Nilai atau budi pekerti, yaitu 1.  Evocation
Pendekatan yang dilakukan guru agar peserta didik diberi kesempatan dan keleluasaan untuk secara bebas mengekspresikan respon afektifnya terhadap stimulus yang diterimanya,

2.Inculcation
Pendekatan yang dilakukan guru  agar peserta didik menerima stimulus yang diarahkan menuju kondisi siap.

3.Moral Reasoning
Pendekatan yang dilakukan guru agar terjadi transaksi intelektual taksonomik tinggi dalam mencari pemecahan suatu masalah.

4.Value clarification
Pendekatan yang dilakukan guru melalui stimulus terarah agar siswa diajak mencari kejelasan isi pesan keharusan nilai moral.

5.Value Analyisis
Pendekatan yang dilakukan guru agar peserta didik  termotivasi untuk melakukan analisis nilai moral,

6.Moral Awareness 
Pendekatan yang dilakukan guru  agar peserta didik  menerima stimulus dan dibangkitkan kesadarannya akan nilai tertentu.

7.Commitment Approach
Pendekatan yang dilakukan guru agar peserta didik  sejak awal diajak menyepakati adanya suatu pola pikir dalam proses pendidikan nilai.

8.Union Approach
Pendekatan yang dilakukan guru  agar peserta didik mau  untuk melaksanakan secara riil dalam suatu kehidupan.

Dalam Pembelajaran VCT guru sebaiknya mempersiapkan  lembar kerja untuk diberikan kepada peserta didik  sehingga peserta didik menentukan nilai ke dalam lembar kerja yang diberikan guru  secara individu maupun berkelompok. Hal ini bertujuan agar timbul sikap saling menghargai pendapat orang lain, pantang menyerah, saling membantu dll dalam diri siswa.

Langkah-langkah implementasi pendidikan nilai dalam pembelajaran antara lain:

1. Spiritual untuk meletakkan nilai-nilai etik dan moral serta religiusitas sebagai dasar dan arah pengembangan sains. Character based approach perlu diterapkan pada pembelajaran Akidah Akhlak. Artinya tidak ada kesenjangan yang memisahkan antara mata pelajaran yang bermuatan materi umum dengan mata pelajaran bermuatan agama;

2. Akademis untuk menunjukkan kaidah-kaidah normatif yang harus dipatuhi dalam menggali dan mengembangkan ilmu;

3. Mondial untuk menyadarkan bahwa siapapun pada masa depan harus siap mengadaptasi diri dengan perubahan dalam mengatasi masalah yang dihadapi. (Qiqi dan Rusdiana, (2014:73)

Pendidikan nilai yang diberikan merupakan proses bimbingan melalui suri tauladan, pendidikan yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai kehidupan yang di dalamnya mencakup nilai agama, budaya, etika, dan estetika menuju pembentukan pribadi peserta didik yang memiliki kecerdasan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian yang utuh, berakhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, dan negara.

Adisusilo, Sutarjo (2012). Pembelajaran Nilai Karakter Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Ekasari Dyah Kartika. (2013) Pengaruh Value Clarification Technique (teknik klarifikasi nilai) Terhadap Materi Perilaku Harga Diri Pada Mata Pelajaran PKN Siswa Tunarungu Kelas III SLB Siti Hajar Sidoarjo. Jurnal Pendidikan Khusus.



0 komentar:

Post a Comment