Home » » 3 Praktik Pengajaran Guru Dalam Merdeka Belajar

3 Praktik Pengajaran Guru Dalam Merdeka Belajar


MERDEKA BELAJAR
Ungkapan “Merdeka Belajar” sangat populer saat ini bukan hanya dikalangan  siswa, guru dan tenaga kependidikan, pejabat,  lembaga pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi  juga  dikalangan orang tua, dan masyarakat.
Memang kalimat ‘ Merdeka Belajar” enak diungkapkan, sangat mudah diingat, menjadi sebuah slogan yang mudah meresap dipikiran.

Namun tidak semua yang dapat memahami makna “merdeka belajar” seolah merdeka belajar bebas tanpa ikatan , tanpa bingkai,  tanpa rambu-rambu, tanpa regulasi, norma  dan tardisi yang selama ini sudah baik.
    
Pandangan seperti itu jelas salah, merdeka yang dimaksud tetap ada bingkai yang tidak bisa ditabrak, merdeka belajar mengarahkan kepada cara untuk mencapai tujuan belajar, tujuan pendidikan dengan pola yang berbeda yang selama ini dilakukan tapi tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, budaya dan kemajuan teknologi.

Siapa yang merdeka ?  semua instansi dalam sistem pendidikan terutama guru sebagai ujung tombak dalam  pelaksanaan pembelajaran  dan peningkatan mutu. 

Seperti pernah diungkapkan oleh Mendikbud dalam pertemuan CEO Forum di Ritz Carlton Hotel Kuningan, Jakarta Selatan tahun yang lalu bahwa kebijakan merdeka belajar diwarnai beberapa alasan.

1. Keberagaman di Indonesia begitu besar sehingga apapun yang dilakukan untuk menstandardisasi akan ada dampak buruk,  daerah di Indonesia sangat banyak maka tidak bisa  satu cara yang dilakukan untuk seluruhnya.

2. Sistemnya dalam pembelajaran yang  selama ini sifatnya administratif  tidak ada kelonggaran. 

Selama ini sekolah fokus  mengejar silabus  sampai tuntas sehingga banyak nak-anak yang tertinggal,”maka diperlukan perubahan. 

Perubahan yang dimaksud  adalah konsep merdeka belajar, dan yang merdeka bukan hanya peserta didik, guru akan tetapi   semua instansi dalam sistem pendidikan

3. Sekolah yang selama ini  sifatnya mengawasi harus dirubah menjadi konsep melayani. 

Guru sebagai pelayan bagi anak didiknya, kepala sekolah sebagai pelayan bagi gurunya dan pengawas sekolah sebagai pelayan bagi sekolah yang dibinanya bukan lagi konsep mengawasi. 

Merdeka dari aturan administratif,  kemerdekaan guru dalam berkreasi dalam kelasnya sendiri dan kemerdekaan murid dalam menentukan arah dan level yang cocok untuk dia,”

Baca juga: Tips Agar Program Belajar Dirumah Efeftif
Sebagai tindak lanjut merdeka belajar tersebut maka ada tiga  praktik pengajaran merdeka belajar yang perlu diketahui dan diimplementasikan oleh guru  dalam proses pembelajaran yaitu:
1. Membangun Komitmen Pada Tujuan

Guru harus fokus dan mengarahkan siswa dalam mencapai tujuan yang dicapai dalam belajar dengan melakukan kegiatan berikut: 

a. Menyuburkan motivasi internal

b. Melibatkan murid menetapkan tujuan

c. Menunjukkan murid manfaat belajar

d. Memberi umpan balik yang konstruktif

e. Menyediakan tantangan yang bertingkat dan bermanfaat

2. Membangun kemandirian Belajar

Guru perlu membangun kebiasaan kemandirian bagi siswa dengan kegiatan sebagai berikut: 

a. Meminta murid mencari informasi

b. Menfasilitasi pengalaman sukses

c. Membangun rutinitas kelas yang positif

d. Menantang murid memantau kemajuan

e. Melakukan diferensiasi pengajaran

Baca Juga Penerapan Model Pembelajaran TSTS 

3. Menumbuhkan Kebiasaan Refleksi

Guru dalam menumbuhkan kebiasaan refleksi melakukan kegiatan sebagai berikut:
a. Memvariasikan pertanyaan saat belajar

b. Dokumentasikan proses dan hasil belajar

c. Melibatkan murid melakukan asesmen diri

d. Sediakan waktu belajar tidak terstruktur

e. Menunjukkan toleransi terhadap kekeliruan
 
Demikianlah tiga praktik pengajaran guru dalam merdeka belajar sesuai dengan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 

Semoga para guru dapat mempraktikkannya.


0 komentar:

Post a Comment