Home » » Cara Membuat Laporan Tracer Study Dalam Akreditasi

Cara Membuat Laporan Tracer Study Dalam Akreditasi

Metode tracer study umumnya digunakan oleh perguruan tinggi, yaitu studi pelacakan jejak lulusan atau alumi setelah mereka lulus (biasanya 2 tahun) apakah mereka sudah bekerja, belum bekerja, melanjut, jenis pekerjaan dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk mengetahui outcome pendidikan dalam bentuk transisi dari dunia pendidikan tinggi ke dunia kerja. 

Dari hasil tracer studi tersebut akan diketahui penyebaran, informasi kompetensi yang relevan didunia kerja sehingga dapat digunakan sebagai evaluasi  untuk perbaikan, dan pengembangan kualitas dalam sistem pendidikannya. 

Bagaimana Tracer Study yang dimaksud dalam instrument akreditasi satuan pendidikan?

Konsep tracer study yang biasa dilakukan perguruan tinggi tidak sepenuhnya sama  dengan yang dimaksud dalam instrument akreditasi satuan pendidikan. 

Tracer studi dalam IASP adalah pengumpulan data tingkat kepuasan  pemangku kepentingan (stakehorders) satuan pendidikan tentang terpenuhinya atau tidak terpenuhi kebutuhan, keinginan, harapan pemangku kepentingan tersebut. 

Baca juga: Instrumen Pemenuhan Mutlak dan relatif Akreditasi

Pemangku kepentingan (stakeholder) yang dimaksud adalah pengguna lulusan terdiri dari: 

1. Perwakilan orang tua siswa

2. Komite sekolah/madrasah;

3. Sekolah/madrasah yang menerima lulusan;

4. Dunia kerja; 

5. Perguruan Tinggi.

Lalu apa saja yang mereka butuhkan dari lulusan tersebut ? 

Ada tiga  kompetensi yang dimiliki lulusan satuan pendidikan yang dibutuhkan, diinginkan oleh  pemangku kepentingan yaitu. 

1. Kepuasan terhadap sikap lulusan dari satuan pendidikan sikap ini terdiri dari :

   a. sikap religiusitas;

   b. sikap kejujuran;

   c. sikap tanggung jawab; dan

   d. kedisiplinan.

2. Kepuasan terhadap pengetahuan lulusan. Pengetahuan dapat dilihat dari : 

   a. bidang ilmu pengetahuan;

   b. bidang teknologi;

   c. bidang seni; dan

   d. bidang budaya.

3. Kepuasan terhadap keterampilan lulusan. Keterampilan dapat dilihat dari:

   a. kreativitas;

   b. produktivitas;

   c. komunikasi; dan

   d. kolaborasi

Baca juga: Tips mempersiapkan Akreditasi Sekolah

Untuk mengetahui kepuasan pemangku kepentingan tersebut sekolah dapat melakukan pengumpulan data berbagai cara diantaranya 

1. Menyusun kuisioner angket  untuk diisi oleh pemangku kepentingan

2. Melakukan wawancara dengan pemangku kepentingan

3. Mengumpulkan semacam testimoni dalam bentuk catatan/rekomendasi dari orang tua

4. Membuat video /youtub pemangku kepentingan tentang tinggakt kepuasan mutu lulusan 

5. Menggunakan goggle form untuk melacak pendapat pemangku kepentingan  

Sekolah akan mengalami kesulitan jika semua cara di atas digunakan, langkah yang paling sederhana adalah menyusun angket (kuisioner) untuk disebarkan kepada pemangku kepentingan. 

Angket ini diusahakan memuat kompetensi lulusan yang diinginkan pemangku kepentingan dengan tingkat keterbacaan yang mudah dipahami karena pemangku kepentingan terdiri dari berbagai macam latar belakang. 

Penyusunan instrumennya boleh menggunakan skala Likert, Truston, semantic difrensial, Huston atau cukup pilihan ganda saja. Kalau memungkinkan hasil kuisioner ini dikuatkan dengan metode pengumpulan data yang lain seperti wawancara.  

Selanjutnya data hasil kuisioner tracer studi dikumpulkan kemudian di olah oleh sekolah dan disusun laporannya. Laporan tracer studi yang dimaksud minimal dapat menjawab hal berikut:

1. Apa kegiatannya 

2. Dimana dilakukan 

3. Kapan dilakukan 

4. Siapa saja yang terlibat 

5. Hasilnya seperti apa

6. Dokumen pendukung apa saja ? (apakah foto, daftar hadir dan lain-lain) 

Apablia Pemangku kepentingan menyatakan sangat puas terhadap mutu lulusan sekolah / madrasah terkait sikap, pengetahuan, dan keterampilan mereka maka sekolah sudah mencapai budaya mutu atau dalam penilaian akreditasi masuk level 4. 

Demikian  cara membuat laporan tracer study , semoga ada manfaatnya.

Tulisan selanjutnya Contoh Instrumen Tracer Study. 


0 komentar:

Post a Comment