Home » » Teknik Pengumpulan Data Dalam PTS-PTK

Teknik Pengumpulan Data Dalam PTS-PTK

Dua  hal utama yang mempengaruhi kulaitas data hasil penelitian tindakan sekolah atau tindakan kelas yaitu kualitas instrument penelitian dan kualitas pengumpulan data penelitian.

Kualitas instrument penelitian berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrument sedangkan kualitas pengumpulan data berkenaan  dengan ketepatan cara-cara yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data.

Instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya belum tentu dapat menghasilkan data yang valid dan reliabel, pabila instrument tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya.

Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, sumber dan cara. Jika ditinjau dari segi settingnya data dapat dikumpulkan pada setting alamiah, pada laboratorium (metode eksperimen), dalam suatu seminar, diskusi dijalan, bahkan dirumah dengan berbagai responden.

Jika data dilihat dari sumbernya , maka data yang terkumpul dapat berupa data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang langsung memberikan data pada pengumpul data dan data sekunder data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpulnya akan tetapi dapat lewat orang lain atau lewat dokumen.

Jika ditinjau dari segi teknik pengumpulan data maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa macam (biasa dilakukan dalam PTS/PTK) yaitu:Interview (Wawancara), Kuesioner (angket), Observasi (pengamatan), Gabungan ketiganya, dan Tes  (pre tes dan post tes). 

A. Interview (Wawan cara)

Wawan cara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang akan diteliti.

Salah satu hal yang perlu diingat oleh peneliti dalam mengunakan interview dan kuesioner adalah

1. Subyek atau responden adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
2. Bahwa apa yang dikatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
3. Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan yang diajukan peneliti kepada subyek sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.

Wawan cara dapat dilakukan  peneliti secara terstruktur dan tidak terstruktur.

1. Wawancara terstruktur 

Wawancara terstruktur digunakan dimana pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Dalam melakukan wawan cara selain instrument yang digunakan sebaiknya dibantu dengan alat bantu lain misalnya tape recorder, gambar, brosur dan lain-lain sehingga wawancara menjadi lancar.

Contoh wawancara terstruktur:

Bagaimanakah pendapat ananda terhadap pembelajaran trigonometri yang disajikan bapak guru tadi ?
a. sangat bagus
b. bagus
c. tidak bagus
d. sangat tidak bagus

2. Wawan cara tidak terstruktur 

Wawancara tidak tersruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya, akan tetapi dibuat hanya garis-garis besarnya saja.

Contoh:
Bagaimanakan pendapat ananda tentang pembelajaran matematika di sekolah ini ?

Dalam wawancara tidak terstruktur , peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang diperoleh sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan yang diceritakan responden.

Berdasarkan analisis jawaban responden peneliti dapat mengajukan pertanyaan berikutnya yang lebih spesifik.  Informasi yang diperoleh dari responden sering bias, sehingga dapat data yang terkumbut menjadi subyektif atau tidak akurat.

B. Kuesioner (Angket)

Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab. Pertanyaan dapat berupa pertanyaan tertutup atau terbuka yang dilakukan secara langsung atau tidak langsung.

Beberapa prinsip penulisan angket yang harus diingat dengan menggunakan teknik kuesioner yaitu.

1. Isi dan tujuan pertanyaan
Apakah merupakan bentuk pengukuran atau bukan? Jika bentuk pengukuran maka pertanyaan harus punya skala pengukuran dan mencukupi item untuk mengukur variabel.

2. Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan bahasa responden.

3. Tipe dan bentuk pertanyaan
Pertanyaan yang diajujan dapat terbuka atau tertutup, dan bentuknya dapat mengunakan kalimat positif atau negatif.

4. Pertanyaan tidak mendua
Setiap pertanyaan yang diajukan tidak mendua yang dapat menyulitkan responden untuk memberikan jawaban.

5. Panjang pertanyaan
Pertanyaan diajukan tidak terlalu panjang yang dapat membuat  responden jenuh untuk menjawabnya.

6. Urutan pertanyaan
Urutan pertanyaan dalam angket dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik, dari mudah ke hal yang sulit.

7. Penampilan fisik angket
Penampilan fisik angket agar ditata dengan baik sehingga dapat menarik perhatian responden.

C. Observasi (Pengamatan)

Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan jika penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam. Observasi ada beberapa jenis.

1. Observasi berperan serta

Dalam observasi ini peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang diamati. Sambil melakukan pengamatan , peneliti juga melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data.

2. Observasi non partisipan 

Dalam observasi ini peneliti tidak terlibat melakukan kegiatan orang yang diamati. Tetapi hanya terlibat sebagai pengamat saja. Observasi non partisipan dibagi dua

a. observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya.

b. Observasi tidak terstruktur yaitu observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi.

D. Tes 

Umumnya tes yang dibuat adalah tes hasil belajar . Jenis  tes dapat berupa lisan atau tulisan . Bentuk tes tulisan dapat digunakan pilihan ganda , uraian, isian, benar salah, menjodohkan

Demikian teknik pengumpulan data yang dapat digunakan dalam penelitian tindakan kelas atau tindakan sekolah.

Bahan Bacaan
Sugiyono (2006). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta: Bandung.

0 komentar:

Post a Comment