Teknik Dan Lingkup Penilaian Formatif

Seiring dengan perkembangan penilaian kurikulum 2013, akhir-akhir ini muncul lagi istilah penilaian formatif seperti bentuk penilaian yang dilakukan versi lama atau sebelum kurikulum 2013. 

Namun pada hakekatnya  sama dengan Penilaian Harian (PH) untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran dan pencapaian kompetensi dasar pada saat proses pembelajaran dilakukan yang meliputi sasesmen for learning dan assesmen as learning. 

Sedangkan assesmen of learning berkaitan dengan penilaian sumatif. Berikut ini akan dijelaskan teknik penilaian formatif yang dapat dilakukan guru.  

Teknik penilaian formatif tidak bisa lepas dari  metode pembelajaran yang dilakukan seorang guru. Metode pembelajaran yang tepat dalam kurikulum 2013 adalah metode pembelajaran yang dapat mengukur ketercapaian kompetensi yang diharapkan pada keterampilan abad ke-21. 

Baca juga: Jenis-Jenis Penilaian Non Tes 

 Metode pembelajaran yang memenuhi kriteria di tersebut atas adalah penerapan  metode ilmiah seperti inquiry learning, discovery learning, pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning), pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) dan coperative learning. 

Metode metode pembelajaran tersebut dapat mengukur kemampuan keterampilan abad ke-21 yang mencakup 3 hal, yaitu literasi dasar  yaitu kemampuan bagaimana siswa dapat menerapkan keterampilan dasar sehari-hari, kompetensi 4 C (critical thingking/problem solving, creativity, communication, dan colaboration), dan kualitas karakter (bagaimana siswa beradaptasi pada lingkungan yang dinamis). 

Berdasarkan metode pembelajaran yang digunakan, guru dapat merencanakan teknik penilaian formatif dan instrumen penilaian yang tepat untuk memantau ketercapaian kompetensi yang diharapkan. 

eknik penilaian yang dapat digunakan dalam penilaian formatif berkaitan dengan beberapa metode pembelajaran di atas dapat dikelompokkan dalam ke dalam beberapa bentuk  kegiatan antara lain:

1. Pertanyaan Lisan dan Tertulis

Teknik penilaian formatif dalam bentuk pertanyaan dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan terkait dengan materi yang sedang disampaikan. Pertanyaan dapat diberikan pada saat awal pembelajaran, selama proses pembelajaran, atau setelah pembelajaran selesai. 

Pertanyaan dapat diberikan secara lisan atau tertulis yang diberikan pada setiap siswa, kelompok, atau semua siswa di kelas. 

Pertanyaan dapat diberikan mulai dari pemahaman yang rendah atau Lower Order Thinking Skills (LOTS) sampai ke pemahaman yang tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) sehingga terlihat pada level mana siswa belum menguasai materi yang sudah disampaikan.

Baca juga: Tanya Jawab Asesmen Nasional (AN)

Pertanyaan yang dimaksud di atas harus benar-benar direncanakan guru dan dituangkan dalam lampiran RPP, sehingga tidak mendadak atau asal-asalan, akan tetapi harus mengacu ketercapaian tujuan pembelajaran dan tuntutan kompetensi dasar sesuai dengan mata pelajaran yang diampu guru. 

2. Diskusi

Teknik penilaian formatif dalam bentuk kegiatan diskusi dilakukan dengan cara menyajikan suatu masalah yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama dalam kelompok atau kelas berkaitan dengan materi yang akan disampaikan. 

Diskusi memungkinkan siswa untuk meningkatkan wawasan dan kedalaman pemahaman mereka untuk mengklarifikasi informasi yang terbaru atau informasi yang salah, kemampuan berargumentasi, dan kemampuan berkomunikasi.

3. Aktivitas

Teknik penilaian formatif dalam bentuk aktivitas dilakukan dengan cara meminta siswa untuk menunjukkan pemahaman konsep yang dimilikinya melalui aktivitas yang dilakukan di dalam kelas, di laboratorium, maupun di luar kelas. 

Teknik penilaian ini memungkinkan siswa untuk terampil/kreatif dalam melakukan/mengerjakan suatu tugas dengan menerapkan konsep-konsep yang sudah dipahaminya sesuai dengan capaian kompetensi yang diharapkan pada pembelajaran yang dilakukan. 

Penilaian seperti ini sering dikaitkan dengan pengerjaan tugas atau lembar kerja setelah guru memberikan konsep-konsep materi yang diperlukan. 

4. Konferensi

Konferensi adalah pertemuan untuk menyampaikan pendapat atau bertukar pendapat mengenai suatu masalah/topik tertentu yang dihadapi bersama. Dalam konteks penilaian formatif, konferensi dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman

siswa mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama sehingga kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan komunikasi dapat teramati dengan baik.

5. Interviu

Interviu dilakukan untuk mengetahui kesalah pahaman umum dengan cara memprediksi tentang kesalahan konsep, prinsip, atau proses yang sering dilakukan siswa. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara bertanya kepada siswa apakah mereka setuju atau tidak dengan pernyataan dari suatu masalah dan menjelaskan alasannya. 

Interviu biasanya dilakukan antara guru dan satu orang siswa atau lebih. Pertanyaan-pertanyaan pada interviu sangat fokus untuk menggali seberapa jauh pemahaman siswa untuk konsep tertentu.

6. Penilaian diri

Penilaian diri dilakukan dengan cara meminta siswa untuk menilai hasil pekerjaan dengan merujuk pada rubrik /kriteria yang harus dicapai, umpan balik yang ditulis guru pada hasil tugas yang dilakukan, atau masukan hasil diskusi pada saat siswa menunjukkan kinerjanya. 

Siswa diberi kesempatan untuk mengevaluasi proses pembelajarannya dengan mencermati kriteria yang sudah diberikan, berdiskusi dengan teman sejawatnya, dan diberi kesempatan untuk menunjukkan hasil evaluasi dirinya.

Pada saat tatap muka pembelajaran. pengembangan teknik penilaian formatif tidak harus satu jenis kegiatan saja, tetapi dapat mengacu pada lebih dari satu jenis kegiatan penilaian tergantung pada waktu yang disediakan, misalnya:

  • Kegiatan diskusi membahas suatu topik dapat dilanjutkan dengan kegiatan pemberian pertanyaan;
  • Kegiatan dalam bentuk aktivitas di laboratorium dapat dilanjutkan dengan diskusi terkait hasil percobaan atau kasus yang berkaitan dengan proses/hasil percobaan;
  • Pertanyaan tertulis dapat dilanjutkan dengan penilaian diri setelah diberi kunci jawaban setelah siswa selesai menjawab pertanyaannya.

Penilaian formatif dilakukan untuk mengetahui kemajuan dalam menguasai kompetensi yang diharapkan baik untuk aspek sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. 

Prinsip dari kegiatan penilaian formatif dilakukan terintegrasi dengan proses pembelajaran sehingga teknik penilaian formatif yang dapat dikembangkan diharapkan dapat mencakup ketiga aspek tersebut yaitu aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan.

Baca juga: Apa dan Bagaimana Penilaian Portofolio?

Demikianlah teknik dan lingkup penilaian yang dapat dilakukan guru untuk penilaian formatif sebelum, pada saat dan sesudah berlangsung proses pembelajaran. Semoga bermanfaat. 


Langkah Efektif Penerapan Metode Pembelajaran Brainstorming

A. Pengertian 

Untuk memahami pengertian metode pembelajaran Brainstorming atau metode curah pendapat mari kita pahami pendapat para ahli tentang pengertian metode brainstorming seperti di bawah ini: 

Menurut Mufidah (2010) bahwa, Metode brainstorming adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman dari semua peserta. 

Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode brainstorming pendapat orang lain tidak perlu ditanggapi. 

Sedangkan Aqib, Zainal (2013) mengemukakan bahwa, Metode brainstorming adalah suatu teknik atau cara mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Metode ini digunakan dengan melontarkan suatu masalah oleh guru kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru. 

Metode ini dapat pula di artikan sebagai suatu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang sangat singkat

Selanjutnya Widowati (2008) mendefinisikan metode brainstorming adalah suatu situasi di mana sekelompok orang berkumpul untuk menggeneralisasikan ide-ide baru seputar area spesifik yang menarik. 

Brainstorming dapat juga diartikan sebagai suatu teknik konferensi di mana tiap-tiap kelompok berusaha mencari suatu solusi pada suatu permasalahan yang spesifik melalui pemunculan ide-ide secara spontan oleh masing-masing anggota kelompok. Brainstorming merupakan alternatif upaya pengembangan kemampuan berpikir kreatif. 

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran brainstorming(curah pendapat) merupakan metode pembelajaran yang digunakan guru dengan cara mengumpulkan pendapat , gagasan, informasi dan pengalaman  dari semua  peserta didik berkaitan dengan topik atau materi pelajaran yang dibahasnya, dari berbagai pendapat yang dihimpun guru tersebut kemudian dilakukan evaluasi sejauh mana pemahaman peserta didiknya. 

Metode brainstorming digunakan dengan cara  melontarkan suatu masalah oleh guru kemudian masing-masing  peserta didik secara bergiliran  menyatakan pendapat , gagasan , informasi atau komentar dan guru atau pemimpin kelompok mengumpulkannya. 

Metode ini dapat pula di artikan sebagai suatu cara untuk mendapatkan banyak ide dari peserta didik  dalam waktu yang sangat singkat, pendapat yang dikemukakan peserta didik tidak langsung ditanggapi oleh peserta lain. 

Metode  brainstorming dapat yang merangsang berpikir kritis  peserta didik  dan membandingkan pendapatnya dengan pendapat peserta didik lain sehingga memperluas wawasan mereka. 

Dalam pelaksanaannya tiap peserta didik di beri kesempatan untuk menyampaikan  pendapat atau gagasannya terhadap topik atau permasalahan yang dikemukakan guru. Peserta didik yang tidak dibolehkan  mengkritik atau mendebat terhadap gagasan atau pendapat yang  disampaikan temannya. 

Pendapat atau gagasan itu di tulis di papan tulis atau pada kertas lebar yang disediakan. Selesai di tulis pendapat atau gagasan itu di kaji dan di nilai oleh kelompok tersebut atau oleh tim yang di tunjuk untuk melakukan kajian. 

Metode Brainstorming merupakan cara cerdas untuk menggeneralisasikan ide-ide baru ataupun ide-ide yang kreatif. Dalam brainstorming seseorang dapat mengkombinasikan ide-ide sendiri dengan ide orang lain untuk memunculkan ide baru atau pun menggunakan ide orang lain untuk merangsang munculnya ide. 

Baca juga: Model Kompetensi Dalam Pengembangan Profesi Guru

Proses pembelajaran yang menggunakan teknik tersebut, siswa akan merasa lebih bebas dalam berpikir dan berpindah menuju suatu area pikiran baru sehingga dapat menghasilkan sejumlah ideide baru dan pemecahan masalah.

B. Tujuan Pembelajaran Brainstorming

Menurut Wahyudi (2008) bahwa tujuan brainstorming adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mind map) untuk menjadi pembelajaran bersama". 

Pembelajaran brainstorming merupakan salah satu metode pembelajaran yang memiliki manfaat agar tujuan pembelajaran tercapai melalui kegiatan belajar mandiri dan peserta didik mampu menjelaskan temuannya pada pihak lain. Yang diharapkan, selain agar tujuan pembelajaran tersebut tercapai, maka kemampuan siswa dalam belajar mandiri dan mengemukakan pendapat kritis dapat ditingkatkan.

C. Langkah-langkah Efektif Penerapan Metode Brainstorming

Langkah ke -1

Guru melakukan analisis Kompetensi Dasar (KD)  sehingga dapat di pilih materi mana yang tepat di bahas dengan metode brainstorming. Selanjutnya guru menuangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Langkah ke - 2 

Guru menyusun pertanyaan-pertanyaan atau kasus berupa tulisan atau gambar untuk diajukan kepada peserta didik, memilih sumber -sumber, memperkirakan waktu yang digunakan, hambatan yang mungkin ditemui dan menentukan apakah peserta didik dikelompokkan atau disajikan secara klasikal.

Langkah ke - 3

Pemberian Informasi dan motivasi, membuka pelajaran, memberikan informasi, mengajukan pertanyaan-pertanyan secara berurutan kepada seluruh peserta didik dalam kelompok, mengajak mereka untuk memberikan gagasan. Dalam hal ini guru memberikan waktu berfikir kepada peserta didik sebelum mereka memberikan tanggaban.  

Selain itu, guru menjelaskan aturan-aturan yang harus diperhatikan oleh para peserta didik, seperti : setiap orang menyampaikan satu pendapat atau gagasan dengan cepat, menyampaikan jawaban secara langsung dan  tidak boleh mengeritik atau menyela (mengintrupsi) pendapat orang lain.

Langkah ke - 4

Identifikasi, pada langkah ini peserta didik diberi kesempatan untuk memberikan sumbang saran secara bergiliran. Guru dapat mencatat/manampung semua tanggaban peserta didik atau ditunjuk dari pemimpin kelompok, hal ini sesuai dengan kesepakatan yang dibangun di awal. 

Langkah ke - 5

Klasifikasi, tanggaban atau sumbang saran yang terkumpul dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria atau struktur yang telah direncanakan guru  atau disepakati dengan peserta didik.

Langkah ke - 6

Verivikasi, secara klasikal atau kelompok diberi kesempatan untuk meninjau kembali tanggaban/ sumbang saran yang telah diklasifikasikan 

Langkah ke - 7

Konklusi, pemimpin kelompok atau secara bersama mencoba menyimpulkan (penyepakatan) butir-butir alternatif pemecahan masalah atau topik yang dibahas.

Dalam penerapan metode brainstorming guru perlu menggondisikan agar peserta didik tidak ada yang mendominasi, dan semua peserta didik harus mendapat giliran. Jika ada peserta didik yang kesulitan dalam mengajukan pendapat guru perlu menuntun dan memotivasi. 

Sebaiknya guru menunjuk seseorang penulis untuk mencatat pendapat dan jawaban yang diajukan peserta didik dan dapat pula menunjuk sebuah tim untuk mengevaluasi bagaimana proses dan hasil penggunaan teknik ini. 

Guru dapat memimpin kelompok agar kelompok itu dapat mengevaluasi jawaban dan pendapat yang terkumpul. Pendidik menghindarkan dominasi seseorang peserta dalam menyampaikan gagasan dan pendapat.

Baca juga: 5 Metode Terbaik Dalam pembelajaran PJJ

D. Keunggulan dan Kelemahan Metode Brainstorming

Menurut Sudjana (2005) bahwa bahwa keunggulan dan kelemahan teknik atau metode brainstorming yaitu:

1. Keunggulan 

  • Merangsang semua peserta didik untuk mengemukakan pendapat dan gagasan baru
  • Menghasilkan jawaban atau pendapat melalui reaksi berantai
  • Penggunaan waktu dapat dikontrol dan teknik ini dapat digunakan dalam kelompok besar atau kelompok kecil
  • Tidak memerlukan banyak alat tenaga profesional 
  • Peserta didik termotivasi dalam belajar
  • Melatih peserta didik untuk berfikir kritis 
  • Melatih diri untuk menghormati pendapat orang lain
  • Suasana pembelajaran demokratis dan menumbuhkan disiplin dalam diri peserta didik

2. Kelemahan 

  • Peserta didik yang kurang perhatian dan kurang berani mengemukakan pendapat akan merasa terpaksa untuk menyampaikan buah pikirannya.
  • Jawaban cenderung mudah terlepas dari pendapat yang berantai
  • Peserta didik cenderung beranggapan bahwa semua pendapat diterima
  • Memerlukan evaluasi lanjutan untuk menentukan prioritas pendapat yang disampaikan 
  • Menggunakan waktu yang lebih lama sehinga tidak semua materi dapat dibelajarkan dengan metode brainstorming
  • Peserta didik tidak segera mengetahui apakah pendapat yang dikemukakan itu salah atau sudah benar
  • Topik yang dibahas bisa melebar keluar dari yang diharapkan
  • Tidak menjamin bahwa masalah atau topik yang dibahas dapat tuntas terselesaikan

Metode pembelajaran brainstorming memiliki kelebihan dan kekurangan, guru perlu memperhatikan agar kelebihan dapat tetap dipertahankan sedangkan kekurangan diminimalisir atau jika mungkin dihindarkan. 

Baca juga; Tanya Jawab Seputar Assesmen Nasional 

E. Kesimpulan 

Metode ini tepat digunakan karena dalam waktu singkat dapat terhimpun gagasan, pendapat dan jawaban inovatif dimana tidak menghambat spontanitas penyampaian pernyataan peserta didik. Dengan teknik ini akan terjadi situasi belajar yang saling memupuk dan saling melengkapi saran dan pendapat di antara peserta didik

Perlu diketahui tidak semua materi dapat diajarkan dengan metode brainstorming, sangat tergantung karakteristik materi yang dimuat kompetensi dasar. 

Guru perlu melakukan identifikasi materi maupun karakteristik peserta didiknya apakah cocok metode ini digunakan. Selanjutnya tidak satu pun metode pembelajaran yang dapat berdiri sendiri, tapi harus dilengkapi dengan metode lain. 

Baca juga: Cara Membuat Handout Yang Berkualitas

Penerapan metode ini diawali dengan melakukan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pada bagian inti dilangkah-langkah pembelajaran dituangkan/dituliskan langkah-langkah metode pembelajaran brainstorming. Selamat mencoba.

Bahan Bacaan:
Budiyanto, Moch. Agus Krisno.(2016).  Sintaks 45 Metode Pembelajaran Dalam Student Centered Learning, Malang : UMM Pres

PP Nomor 63 Tahun 2021 Tentang THR


Presiden Republik Indonesia telah menerbitkan Peraturan pemerintah Nomor 63 Tahun 2001 tentang pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji ke -13  kepada  PNS, PPPK,TNI, POLRI, Pejabat Negara dan Penerima Pensiun.

Pemberian Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas merupakan kebijakan Pemerintah sebagai wujud penghargaan atas pengabdian Aparatur Negara, Pensiunan, Penerima pensiun, dan penerima tunjangan dalam mencapai tujuan pembangunan nasional. 

Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas diberikan sebesar gaji/pensiun pokok dan tunjangan yang melekat pada gaji/pensiun pokok atau dengan sebutan lain (tanpa tunjangan kinerja atau dengan sebutan lain) dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara termasuk kemampuan Keuangan daerah. 

Namun demikian, diantara Aparatur Negara dan Pensiunan yang memenuhi persyaratan untuk menerima lebih dari 1 (satu) Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas, hanya diberikan Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas yang nilainya paling besar.

1. Tunjangan Hari Raya dan Gaji ke-13 bagi PNS, PPPK, Prajurit TNI, Anggota Polri, Pejabat Negara, Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi, Pimpinan Lembaga Penyiaran Publik, dan Pegawai Non-Pegawai Aparatur Sipil Negara yang bertugas pada Lembaga Penyiaran Publik, terdiri atas:

a. gaji pokok;

b. tunjangan keluarga;

c. tunjangan pangan; dan

d. tunjangan jabatan atau tunjangan umum, sesuai jabatannya dan I atau pangkatnya.

2. Tunjangan Hari Raya dan Gaji ke-13 bagi Calon PNS terdiri atas:

a. 80% (delapan puluh persen) dari gaji pokok PNS;

b. tunjangan keluarga;

c. tunjangan pangan; dan

d. tunjangan umum, sesuai jabatannya dan / atau pangkat golongan/ruang

3. Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas bagi Pensiunan dan Penerima Pensiun terdiri atas:

a. pensiun pokok;

b. tunjangan keluarga;

c. tunjangan pangan; dan

d. tambahan penghasilan.

Adapun besaran gaji ASN untuk golongan I hingga IV sesuai dengan PP No. 15 Tahun 2019 adalah sebagai berikut:


Golongan I

Golongan Ia : Rp. 1.560.800 - Rp. 2.335.800

Golongan Ib : Rp. 1.704.500 - Rp. 2.472.900

Golongan Ic : Rp. 1.776.600 - Rp. 2.577.500

Golongan Id : Rp. 1.851.800 - Rp. 2.686.500

Golongan II

Golongan IIa : Rp. 2.022.200 - Rp. 3.373.600

Golongan IIb : Rp. 2.208.400 - Rp. 3.516.300

Golongan IIc : Rp. 2.301.800 - Rp. 3.665.000

Golongan IId : Rp. 2.399.200 - Rp. 3.820.000

Golongan III

Golongan IIIa. Rp. 2.579.400 - Rp.4.236.400

Golongan IIIb. Rp. 2.688.500 - Rp. 4.415.600

Golongan IIIc : Rp. 2.802.300 - Rp. 4.602.400

Golongan IIId : Rp. 2.920.800- Rp. 4.797.000

Golongan IV

Golongan IVa : Rp.3.044.300 - Rp. 5.000.000

Golongan IVb : Rp. 3.173.100 - Rp.5.211.500

Golongan IVc : Rp. 3.307.300- Rp. 5.431.900

Golongan IVd : Rp. 3.447.200 - Rp. 5.661.700

Golongan IVe : Rp. 3.593.100 - Rp. 5.901.200

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 32 tahun 2018, tunjangan makan sebesar Rp. 35.000 per hari untuk golongan I dan II, Rp. 37.000 per hari untuk golongan III, dan Rp. 41.000 per hari untuk golongan IV.

Tunjangan suami atau istri besarannya adalah 5 persen dari gaji pokok PNS, sedangkan tunjangan anak sebesar 2 persen dari gaji pokok dengan ketentuan maksimal 2 orang anak. 

Masing-masing ASN telah dapat memperkiran besaran THR yang akan mereka terima, sedangkan  pencairan Tunjangan hari Raya ini diperkiran dilakukan H-10 sebelum raya Idul fitri. 

PP Nomor 63 Tentang THR DAN GAJI KE-13 UNDUH DISINI

PMK Nomor 42 Tahun 2021 Tentang JUKNIS THR DAN GAJI KE-13 DISINI

Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas tidak termasuk:

a. tunjangan kinerja;

b. tunjangan kinerja daerah atau sebutan lain;

c. tambahan penghasilan pegawai atau sebutan lain;

d. insentif kinerja;

e. insentif kerja;

f. tunjangan pengelolaan arsip statis;

g. tunjangan bahaya, tunjangan resiko, tunjangan kompensasi, atau tunjangan lain yang sejenis;

h. tunjangan pengamanan;

i. tunjangan profesi atau tunjangan khusus guru dan dosen atau tunjangan kehormatan;

j. tambahan penghasilan bagi guru PNS;

k. insentif khusus;

l. tunjangan khusus;

m. tunjangan pengabdian;

n. tunjangan operasi pengamanan;

o. tunjangan selisih penghasilan;

p. tunjangan penghidupan luar negeri;

q. tunjangan atau insentif yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan atau peraturan internal instansi pemerintah;

Adapun gaji ke-13 akan disalurkan pada Juni 2021. Gaji ke-13 bagi ASN, TNI/POLRI adalah gaji pokok dan tunjangan melekat. 

Dengan recana baik ini semoga seluruh ASN, PPPK, CPNS, TNI/POLRI pejabat negara diseluruh tanah air semakin dapat meningkatkan kinerjanya untuk Nusa dan Bangsa.  




Peran Guru BK Dalam Penetapan Peminatan Peserta Didik

Mekanisme penetapan peminatan peserta didik baru SMA dapat dilaksanakan dengan menggunakan salah satu alternatif yang meliputi pemilihan dan penetapan peminatan bersamaan dengan proses penerimaan peserta didik baru dan penetapan peminatan pada minggu pertama awal tahun pelajaran baru setelah calon peserta didik baru dinyatakan diterima sebagai peserta didik baru. 

Baca juga: Mekanisme dan Strategi Layanan BK di Sekolah

Penetapan peminatan peserta didik dilaksanakan oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK)  bekerja sama dengan wakil kepala sekolah, panitia PPDB dan Tenaga Administrasi Sekolah.

A. Peminatan Dilakukan Bersamaan dengan PPDB

Apabila sekolah memutuskan bahwa peminatan dilakukan bersamaan dengan PPDB maka guru BK memiliki peran yang sangat penting sebagai berikut: 

1. Memberikan usulan dalam musyawarah bersama Kepala Sekolah, Wakasek dan Panitia PPDB berkaitan dangn kriteria calon peserta didik, tata cara peminatan sampai dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) tentang penetapan peminatan yang dikeluarkan oleh Kepala Sekolah.

2. Membagikan instrumen non tes untuk mengungkap kecenderungan peserta didik sehingga dapat  ditempatkan pada peminatan tertentu. 

3. Menyiapkan dan menyampaikan informasi peminatan yang meliputi kuota, macam peminatan, cara, komponen, dan kriteria dalam penetapan pemilihan peminatan kepada calon peserta didik.

4. Mengumpulkan data peminatan: nilai rapor SMP/MTs, nilai ujian sekolah , pemilihan peminatan dari peserta didik dengan persetujuan orang tua, rekomendasi guru BK SMP/MTs.

5. Melakukan anailis data,  menetapkan, dan mengelompokkan peserta didik pada kelompok peminatan tertentu, serta menempatkan pada kelas tertentu. 

6. Memberikan layanan konsultasi kepada orang tua atau peserta didik yang memerlukan atau yang merasa tidak sesuai antara penetapan peminatan dengan pilihan peminatan peserta didik atau orang tua.

7. Menyelenggarakan pendampingan dalam pembelajaran sesuai dengan peminatan peserta didik dengan memberikan layanan konseling individual, konseling kelompok, bimbingan kelompok, dan bimbingan klasikal.

8. Melakukan evaluasi penyelenggaraan program peminatan dan tindak lanjut untuk pengembangan potensi peserta didik.

9. Menyusun laporan kegiatan penetapan peminatan. Format laporan berisi: judul laporan, nomor urut, nama kegiatan, waktu pelaksanaan, pelaksana, hasil kegiatan, kendala yang dihadapi, kesimpulan dan saran. Laporan diserahkan kepada kepala satuan pendidikan segera setelah selesai kegiatan.

Baca juga: Cara Menghitung Beban Kerja BK di Sekolah

B. Peminatan Dilakukan Setelah dengan PPDB

Peminatan bisa juga dilakukan setelah selesai dilaksanakan PPDM, maka guru BK melakukan kegiatan dalam penetapan peminatan sebagai berikut: 

1. Pemberian informasi dan orientasi kepada peserta didik  tentang macam dan kuota peminatan, mekanisme, komponen yang dipergunakan dalam penetapan, krtiteria penetapan.

2. Menyiapkan dan menggunakan instrumen dan atau format peminatan untuk mengumpulkan data peminatan peserta didik dan orang tua.

3. Mengumpulkan data peminatan peserta didik seperti:  nilai rapor SMP/MTs, nilai Ujian Nasional, pemilihan peminatan dari peserta  didik dengan persetujuan orang tua, dan rekomendasi guru BK SMP/MTs.

4. Melakukan analisis  data, menetapkan, dan mengelompokkan peserta didik pada kelompok peminatan tertentu, serta menempatkan pada kelas tertentu.

5. Memberikan layanan konsultasi kepada orang tua atau peserta didik yang memerlukan atau yang merasa tidak sesuai antara penetapan peminatan dengan pilihan peminatan peserta didik atau orang tua.

6. Menyenggarakan pendampingan dalam pembelajaran sesuai dengan peminatan peserta didik dengan memberikan layanan konseling individual, konseling kelompok, bimbingan kelompok, dan bimbingan klasikal.

7. Melakukan evaluasi penyelenggaraan program peminatan dan tindak lanjut untuk pengembangan potensi peserta didik.

8. Menyusun laporan kegiatan penetapan peminatan. Format laporan berisi tentang: judul laporan, nomor urut, nama kegiatan, waktu pelaksanaan, pelaksana, hasil kegiatan, kendala yang dihadapi, kesimpulan dan saran. 

Format laporan berisi: judul laporan, nomor urut, nama kegiatan, waktu pelaksanaan, pelaksana, hasil kegiatan, kendala yang dihadapi, kesimpulan dan saran. Laporan diserahkan kepada kepala satuan pendidikan segera setelah selesai kegiatan.

Baca Juga: Sistematika Laporan PTK

Peran guru BK dalam membantu peserta didik untuk menentukan peminatan di sekolah sangat besar, karena peminatan peserta didik yang tepat akan menetukan keberhasilan mereka dalam mengikuti pembelajaran dan sukses masa depannya. 

Cara Membuat Laporan Tracer Study Dalam Akreditasi

Metode tracer study umumnya digunakan oleh perguruan tinggi, yaitu studi pelacakan jejak lulusan atau alumi setelah mereka lulus (biasanya 2 tahun) apakah mereka sudah bekerja, belum bekerja, melanjut, jenis pekerjaan dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk mengetahui outcome pendidikan dalam bentuk transisi dari dunia pendidikan tinggi ke dunia kerja. 

Dari hasil tracer studi tersebut akan diketahui penyebaran, informasi kompetensi yang relevan didunia kerja sehingga dapat digunakan sebagai evaluasi  untuk perbaikan, dan pengembangan kualitas dalam sistem pendidikannya. 

Bagaimana Tracer Study yang dimaksud dalam instrument akreditasi satuan pendidikan?

Konsep tracer study yang biasa dilakukan perguruan tinggi tidak sepenuhnya sama  dengan yang dimaksud dalam instrument akreditasi satuan pendidikan. 

Tracer studi dalam IASP adalah pengumpulan data tingkat kepuasan  pemangku kepentingan (stakehorders) satuan pendidikan tentang terpenuhinya atau tidak terpenuhi kebutuhan, keinginan, harapan pemangku kepentingan tersebut. 

Baca juga: Instrumen Pemenuhan Mutlak dan relatif Akreditasi

Pemangku kepentingan (stakeholder) yang dimaksud adalah pengguna lulusan terdiri dari: 

1. Perwakilan orang tua siswa

2. Komite sekolah/madrasah;

3. Sekolah/madrasah yang menerima lulusan;

4. Dunia kerja; 

5. Perguruan Tinggi.

Lalu apa saja yang mereka butuhkan dari lulusan tersebut ? 

Ada tiga  kompetensi yang dimiliki lulusan satuan pendidikan yang dibutuhkan, diinginkan oleh  pemangku kepentingan yaitu. 

1. Kepuasan terhadap sikap lulusan dari satuan pendidikan sikap ini terdiri dari :

   a. sikap religiusitas;

   b. sikap kejujuran;

   c. sikap tanggung jawab; dan

   d. kedisiplinan.

2. Kepuasan terhadap pengetahuan lulusan. Pengetahuan dapat dilihat dari : 

   a. bidang ilmu pengetahuan;

   b. bidang teknologi;

   c. bidang seni; dan

   d. bidang budaya.

3. Kepuasan terhadap keterampilan lulusan. Keterampilan dapat dilihat dari:

   a. kreativitas;

   b. produktivitas;

   c. komunikasi; dan

   d. kolaborasi

Baca juga: Tips mempersiapkan Akreditasi Sekolah

Untuk mengetahui kepuasan pemangku kepentingan tersebut sekolah dapat melakukan pengumpulan data berbagai cara diantaranya 

1. Menyusun kuisioner angket  untuk diisi oleh pemangku kepentingan

2. Melakukan wawancara dengan pemangku kepentingan

3. Mengumpulkan semacam testimoni dalam bentuk catatan/rekomendasi dari orang tua

4. Membuat video /youtub pemangku kepentingan tentang tinggakt kepuasan mutu lulusan 

5. Menggunakan goggle form untuk melacak pendapat pemangku kepentingan  

Sekolah akan mengalami kesulitan jika semua cara di atas digunakan, langkah yang paling sederhana adalah menyusun angket (kuisioner) untuk disebarkan kepada pemangku kepentingan. 

Angket ini diusahakan memuat kompetensi lulusan yang diinginkan pemangku kepentingan dengan tingkat keterbacaan yang mudah dipahami karena pemangku kepentingan terdiri dari berbagai macam latar belakang. 

Penyusunan instrumennya boleh menggunakan skala Likert, Truston, semantic difrensial, Huston atau cukup pilihan ganda saja. Kalau memungkinkan hasil kuisioner ini dikuatkan dengan metode pengumpulan data yang lain seperti wawancara.  

Selanjutnya data hasil kuisioner tracer studi dikumpulkan kemudian di olah oleh sekolah dan disusun laporannya. Laporan tracer studi yang dimaksud minimal dapat menjawab hal berikut:

1. Apa kegiatannya 

2. Dimana dilakukan 

3. Kapan dilakukan 

4. Siapa saja yang terlibat 

5. Hasilnya seperti apa

6. Dokumen pendukung apa saja ? (apakah foto, daftar hadir dan lain-lain) 

Apablia Pemangku kepentingan menyatakan sangat puas terhadap mutu lulusan sekolah / madrasah terkait sikap, pengetahuan, dan keterampilan mereka maka sekolah sudah mencapai budaya mutu atau dalam penilaian akreditasi masuk level 4. 

Demikian  cara membuat laporan tracer study , semoga ada manfaatnya.

Tulisan selanjutnya Contoh Instrumen Tracer Study. 


Modul Ringkas dan Prediksi Soal KSN 2021

 Di bawah ini diberikan modul-modul ringkas permata pelajaran yang diharapkan dapat digunakan oleh guru dan peserta KSN untuk berlatih dalam menghadapi KSN Tahun 2021.

Selain itu, disediakan prediksi soal permata pelajaran untuk melatih apakah materi modul tersebut sudah dapat dipahami oleh peserta. Cara belajar yang baik dimulai dari memahami modul kemudian dilanjutkan untuk melatih soal-soal. Menurut rencana KSN di Kabupaten Kota dimulai tanggal 27 - 29 April 2021, namun jadwal ini bisa saja berubah. 

A. Modul Ringkas Mata Pelajaran 

1. Modul Ringkas KSN-K Matematika

2. Modul Ringkas KSN-K Kimia

3. Modul Ringkas KSN - K Fisika

4. Modul Ringkas KSN - K Boiologi

5. Modul Ringkas KSN - K Informatika

6. Modul Ringkas KSN - K Geografi

7. Modul Ringkas KSN - K Ekonomi

8. Modul Ringkas KNS - K Kebumian

9. Modul Ringkas KSN - K Astronomi

Semua Modul Ringkas Mata pelajaran di atas dapat di UNDUH DISINI

Baca Juga: ModelKompetensi Dalam  Pengemnbangan profesi Guru  

Selanjutnya peserta KSN dapat dilakukan uji coba dengan prediksi soal berikut:

1. Predisi Soal  KSN-K 2021 Matematika

2. Prediksi Soal KSN-K 2021  Kimia

3. Prediksi Soal  KSN - K 2021 Fisika

4. Prediksi Soal  KSN - K 2021 Boiologi

5. Prediksi Soal  KSN - K 2021 Informatika

6. Predisi Soal  KSN - K 2021 Geografi

7. Predisi Soal  KSN - K 2021 Ekonomi

8. Prediksi Soal  KSN - K 2021 Kebumian

9. Prediksi Soal KSN - K 2021 Astronomi

Semua Predidiksi Soal Mata Pelajaran 2021 Di atas dapat  UNDUH DISINI

Baca juga: Jenis Publikasi Ilmiah Dalam Kenaikan Pangkat Guru 

Adapun PANDUAN Pelaksanaan KSN Provinsi dapat di akses DISINI 

Semoga dengan modul dan prediksi soal-soal di atas peserta KSN dapat berlatih penuh semangat dan memberikan hasil yang memuaskan.