Cara Membuat Laporan Tracer Study Dalam Akreditasi

Metode tracer study umumnya digunakan oleh perguruan tinggi, yaitu studi pelacakan jejak lulusan atau alumi setelah mereka lulus (biasanya 2 tahun) apakah mereka sudah bekerja, belum bekerja, melanjut, jenis pekerjaan dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk mengetahui outcome pendidikan dalam bentuk transisi dari dunia pendidikan tinggi ke dunia kerja. 

Dari hasil tracer studi tersebut akan diketahui penyebaran, informasi kompetensi yang relevan didunia kerja sehingga dapat digunakan sebagai evaluasi  untuk perbaikan, dan pengembangan kualitas dalam sistem pendidikannya. 

Bagaimana Tracer Study yang dimaksud dalam instrument akreditasi satuan pendidikan?

Konsep tracer study yang biasa dilakukan perguruan tinggi tidak sepenuhnya sama  dengan yang dimaksud dalam instrument akreditasi satuan pendidikan. 

Tracer studi dalam IASP adalah pengumpulan data tingkat kepuasan  pemangku kepentingan (stakehorders) satuan pendidikan tentang terpenuhinya atau tidak terpenuhi kebutuhan, keinginan, harapan pemangku kepentingan tersebut. 

Baca juga: Instrumen Pemenuhan Mutlak dan relatif Akreditasi

Pemangku kepentingan (stakeholder) yang dimaksud adalah pengguna lulusan terdiri dari: 

1. Perwakilan orang tua siswa

2. Komite sekolah/madrasah;

3. Sekolah/madrasah yang menerima lulusan;

4. Dunia kerja; 

5. Perguruan Tinggi.

Lalu apa saja yang mereka butuhkan dari lulusan tersebut ? 

Ada tiga  kompetensi yang dimiliki lulusan satuan pendidikan yang dibutuhkan, diinginkan oleh  pemangku kepentingan yaitu. 

1. Kepuasan terhadap sikap lulusan dari satuan pendidikan sikap ini terdiri dari :

   a. sikap religiusitas;

   b. sikap kejujuran;

   c. sikap tanggung jawab; dan

   d. kedisiplinan.

2. Kepuasan terhadap pengetahuan lulusan. Pengetahuan dapat dilihat dari : 

   a. bidang ilmu pengetahuan;

   b. bidang teknologi;

   c. bidang seni; dan

   d. bidang budaya.

3. Kepuasan terhadap keterampilan lulusan. Keterampilan dapat dilihat dari:

   a. kreativitas;

   b. produktivitas;

   c. komunikasi; dan

   d. kolaborasi

Baca juga: Tips mempersiapkan Akreditasi Sekolah

Untuk mengetahui kepuasan pemangku kepentingan tersebut sekolah dapat melakukan pengumpulan data berbagai cara diantaranya 

1. Menyusun kuisioner angket  untuk diisi oleh pemangku kepentingan

2. Melakukan wawancara dengan pemangku kepentingan

3. Mengumpulkan semacam testimoni dalam bentuk catatan/rekomendasi dari orang tua

4. Membuat video /youtub pemangku kepentingan tentang tinggakt kepuasan mutu lulusan 

5. Menggunakan goggle form untuk melacak pendapat pemangku kepentingan  

Sekolah akan mengalami kesulitan jika semua cara di atas digunakan, langkah yang paling sederhana adalah menyusun angket (kuisioner) untuk disebarkan kepada pemangku kepentingan. 

Angket ini diusahakan memuat kompetensi lulusan yang diinginkan pemangku kepentingan dengan tingkat keterbacaan yang mudah dipahami karena pemangku kepentingan terdiri dari berbagai macam latar belakang. 

Penyusunan instrumennya boleh menggunakan skala Likert, Truston, semantic difrensial, Huston atau cukup pilihan ganda saja. Kalau memungkinkan hasil kuisioner ini dikuatkan dengan metode pengumpulan data yang lain seperti wawancara.  

Selanjutnya data hasil kuisioner tracer studi dikumpulkan kemudian di olah oleh sekolah dan disusun laporannya. Laporan tracer studi yang dimaksud minimal dapat menjawab hal berikut:

1. Apa kegiatannya 

2. Dimana dilakukan 

3. Kapan dilakukan 

4. Siapa saja yang terlibat 

5. Hasilnya seperti apa

6. Dokumen pendukung apa saja ? (apakah foto, daftar hadir dan lain-lain) 

Apablia Pemangku kepentingan menyatakan sangat puas terhadap mutu lulusan sekolah / madrasah terkait sikap, pengetahuan, dan keterampilan mereka maka sekolah sudah mencapai budaya mutu atau dalam penilaian akreditasi masuk level 4. 

Demikian  cara membuat laporan tracer study , semoga ada manfaatnya.

Tulisan selanjutnya Contoh Instrumen Tracer Study. 


Modul Ringkas dan Prediksi Soal KSN 2021

 Di bawah ini diberikan modul-modul ringkas permata pelajaran yang diharapkan dapat digunakan oleh guru dan peserta KSN untuk berlatih dalam menghadapi KSN Tahun 2021.

Selain itu, disediakan prediksi soal permata pelajaran untuk melatih apakah materi modul tersebut sudah dapat dipahami oleh peserta. Cara belajar yang baik dimulai dari memahami modul kemudian dilanjutkan untuk melatih soal-soal. Menurut rencana KSN di Kabupaten Kota dimulai tanggal 27 - 29 April 2021, namun jadwal ini bisa saja berubah. 

A. Modul Ringkas Mata Pelajaran 

1. Modul Ringkas KSN-K Matematika

2. Modul Ringkas KSN-K Kimia

3. Modul Ringkas KSN - K Fisika

4. Modul Ringkas KSN - K Boiologi

5. Modul Ringkas KSN - K Informatika

6. Modul Ringkas KSN - K Geografi

7. Modul Ringkas KSN - K Ekonomi

8. Modul Ringkas KNS - K Kebumian

9. Modul Ringkas KSN - K Astronomi

Semua Modul Ringkas Mata pelajaran di atas dapat di UNDUH DISINI

Baca Juga: ModelKompetensi Dalam  Pengemnbangan profesi Guru  

Selanjutnya peserta KSN dapat dilakukan uji coba dengan prediksi soal berikut:

1. Predisi Soal  KSN-K 2021 Matematika

2. Prediksi Soal KSN-K 2021  Kimia

3. Prediksi Soal  KSN - K 2021 Fisika

4. Prediksi Soal  KSN - K 2021 Boiologi

5. Prediksi Soal  KSN - K 2021 Informatika

6. Predisi Soal  KSN - K 2021 Geografi

7. Predisi Soal  KSN - K 2021 Ekonomi

8. Prediksi Soal  KSN - K 2021 Kebumian

9. Prediksi Soal KSN - K 2021 Astronomi

Semua Predidiksi Soal Mata Pelajaran 2021 Di atas dapat  UNDUH DISINI

Baca juga: Jenis Publikasi Ilmiah Dalam Kenaikan Pangkat Guru 

Adapun PANDUAN Pelaksanaan KSN Provinsi dapat di akses DISINI 

Semoga dengan modul dan prediksi soal-soal di atas peserta KSN dapat berlatih penuh semangat dan memberikan hasil yang memuaskan. 

Instrumen Pemenuhan Mutlak dan Relatif Akreditasi

 A. Indikator Pemenuhan Mutlak (IPM)

Pada pelaksanaan akreditasi (IASP2020) sekolah/madrasah sasaran harus memenuhi persyaratan mutlak yang telah ditentukan oleh BAN-S/M agar sekolah tersebut dapat diakreditasi. 

Penentuan kelayakan sekolah/madrasah dilakukan berdasarkan Data Isian Akreditasi (DIA) dalam Sispena-S/M yang telah dilengkap sekolah/madrasah sasaran. Data-data yang diperlukan harus mutlak ada dimiliki sekolah/madrasah agar layak diakreditasi. Namun dalam penilaian akhir tidak menjadi acuan (diperhitungkan) IPM hanya berfungsi syarat mutlak akreditasi. 

Adapun Instrumen Mutlak (IPM) adalah sebagai berikut: 

                               Indikator Pemenuhan Mutlak (IPM)

NO

          BUTIR PERNYATAAN

KETERPENUHAN

YA

TIDAK

1.

Sekolah/madrasah telah memiliki izin operasional yang dibuktikan dengan telah mengunggah didapodik

 

 

2.

Kepala sekolah/madrasah memiliki surat tanda tamat pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah/madrasah

 

 

3.

Sekolah/madrasah pernah meluluskan siswa

 

 

4.

Sekolah/madrasah menyelenggarakan alokasi waktu proses pembelajaran sesuai kurikulum nasional

 

 

5.

Sekolah/madrasah menyelenggarakan seluruh mata pelajaran yang diwajibkan sesuai kurikulum nasional di seluruh kelas

 

 


Intrumen Pemenuhan Mutlak Dapat di UNDUH DISINI

Sekolah yang tidak memenuhi kelima kriteria di atas, maka sekolah tersebut belum layak diakreditasi. 

Baca juga: Tips Mempersiapkan Akreditasi Sekolah

B. Indikator Pemenuhan Relatif (IPR)

Indikator Pemenuhan Relatif (IPR) adalah indikator penentuan kelayakan dilakukan melalui kegiatan asesmen kecukupan DIA untuk memastikan sekolah/madrasah memenuhi persyaratan administrasi minimal dan kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan dalam akreditasi. Persyaratan minimal dan kelengkapan administrasi harus terpenuhi 60% dari pemenuhan yang telah dipersyaratkan. 

Pada penilaian akhir akreditasi didasarkan hasil dari penilaian terhadap indikator pemenuhan relatif (IPR) dan penilaian indikator kinerja hasil visitasi asesor dengan menggunakan instrumen akreditasi. Skor IPR memiliki bobot sebesar 15%, sedangkan skor indikator kinerja sebesar 85%.

Indikator Pemenuhan Relatif (IPR) masing-masing sekolah/madrasah berbeda tuntutan pemenuhannya yaitu : Untuk Indikator Pemenuhan Relatif (IPR) untuk jenjang SD/MI sebanyak 8 butir,  SMP/MTSsebanyak 9 butir, SMA/MA  sebanyak 9  butir, SMK sebanyak 10 butir, dan SDLB/MLB sebanyak 10 butir, dimana  pernyataan pada masing-masing butir memiliki bobot yang sama. 

Baca juga: 58 Dokumen yang Harus Diupload ke Sispena

Setiap butir memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang masingmasing memiliki skor 1, 2, 3, dan 4, sehingga skor maksimum IPR misalnya untuk jenjang SMA/MA sebesar 9 x 4 = 36. Skor IPR dihitung dari hasil perolehan dari 9 (sembilan) butir pernyataan dalam satuan 100 dihitung dengan rumus:

Skor IPR  =  Jumlah Skor IPR   x 100%

                               36   

IPR minimal terpenuhi 60%, agar sekolah/madrasah dapat diakreditasi. 

Instrumen Pemenuhan Relatif (IPR) UNTUK SEMUA JENJANG UNDUH DISINI

Sekolah perlu mempersiapkan pemenuhan IPR  karena memberi konstrimbusi 15% pada penilaian akhir sedangkan IPM perlu dilihat ulang apakah sekolah/madrasah sudah layak di akreditasi. Selamat bekerja untuk mempersiapkan akreditasi. 















Tata Cara Pelaporan Dana BOS Reguler

Merujuk kepada Permendikbud Nomor 6 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Dana Bos reguler maka pelaporan dana BOS tahap I menjadi syarat penyaluran dana BOS tahap III. Penyaluran dana BOS tahap I ini dilakukan sekolah setelah sekolah menyampaikan laporan penggunaan dana BOS tahap II tahun sebelumnya. 

Sedangkan penyaluran dana BOS tahap II dilakukan setelah sekolah menyampaikan laporan penggunaan dana BOS tahap III tahun sebelumnya. Selanjtnya penyaluran dana BOS tahap III dilakukan setelah sekolah menyampaikan laporan tahap I tahun anggaran berjalan.  

Baca juga: Tata Cara Pengelolaan Dana Bos Reguler

Penyampaian laporan tahap I paling lambat bulan September tahun anggaran berjalan dan penyampaian pelaporan tahan II paling lambat bulan Desember tahun anggaran berjalan. Sedangkan penyampaian pelaporan tahap III paling lambat bulan April tahun anggaran berikutnya. 

Adapun pelaporan Dana BOS Reguler oleh sekolah dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Sekolah harus menyusun pembukuan secara lengkap.

Pembukuan yang harus disusun oleh sekolah  secara lengkap dan teratur disertai dengan dokumen pendukung seperti kitansi, daftar hadir, surat tugas, foto kegiatan dan lain-lain. Adapun pembukuan yang harus lengkap adalah sebagai berikut: 

1) RKAS tahun berjalan, 

2) Buku kas umum;

3) Buku pembantu kas;

4) Buku pembantu bank;

5) Buku pembantu pajak; dan

6) Dokumen lain yang diperlukan;

2. Sekolah harus menyusun laporan secara lengkap dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Melakukan rekapitulasi realisasi penggunaan Dana BOS reguler yaitu melakukan rekapitulasi penggunaan Dana BOS Reguler berdasarkan standar pengembangan sekolah dan komponen pembiayaan Dana BOS Reguler;

b. Realisasi penggunaan dana yang dilaporkan merupakan seluruh penggunaan Dana BOS Reguler yang diterima sekolah pada tahun berkenaan;

c. Laporan dibuat tiap tahap dan ditandatangani oleh Bendahara, kepala sekolah, dan Komite Sekolah serta disimpan di sekolah; dan

d. Sekolah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah menyampaikan laporan realisasi penggunaan Dana BOS Reguler kepada Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

3. Sekolah harus memublikasikan semua pelaporan baik penerimaan dan penggunaan Dana BOS Reguler 

Sekolah melakukan penggunaan Dana BOS Reguler kepada masyarakat secara terbuka. Dokumen yang harus dipublikasikan yaitu rekapitulasi Dana BOS Reguler berdasarkan komponen pembiayaan. Publikasi laporan dilakukan pada papan informasi sekolah atau tempat lainnya yang mudah diakses oleh masyarakat.

Dalam hal terdapat sisa dana BOS Reguler tahun anggaran sebelumnya sekolah tetap dapat menggunakan sisa dana BOS Reguler sesuai dengan petunjuk teknis BOS reguler tahun anggaran berjalan. 

Adapun penggunaan sisa dana BOS Reguler dilaksanakan dengan ketentuan telah dicatatkan dalam rencana kerja dan anggaran sekolah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan. 

Baca juga: Bagaimana Mengelola SIM Sekolah  yang Efektif 

Demikianlah pelaporan dana BOS Reguler yang penting diketahui sekolah sehingga memenuhi prinsip transparasi dan akuntabilitas penggunaan dana BOS Reguler di sekolah. 

Permendikbud Nomor 6 Tahun 2021 UNDUH DISINI

Bahan Bacaan:

Permendikbud Nomor 6 Tahun 2021 Tentang Juknis Pengelolaan  Dana BOS Reguler 

PMK. No. 197/PMK.07/2020 tentang Pengelolaan DAK Nonfisik

Mengenal Gaya Belajar Peserta Didik dan Instrumennya

Mengenal Gaya Peserta Didik Dan Instrumennya
Gaya Belajar Peserta Didik

Strategi Menumbuhkan 6 Profil Karakter Pelajar Pancasila

Sumber daya manusia yang unggul di masa depan adalah pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesui dengan nilai-nilai Pancasila. Pengembangan Sumber Daya Manusia yang unggul harus menyentuh keseluruhan dan melibatkan berbagai pihak melalui kemitaraan yang solid antara orang tua siswa, masyarakat dan satuan pendidikan. 

Baca juga: Apa itu Asesmen Nasional 

Pelajar Pancasila  sebagai generasi masa depan bangsa ditunjukkan dengan 6 profil karakter, yaitu 1) Pribadi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak mulia 2) Mandiri, 3) Bernalar kritis, 4) Berkebhinekaan global, 5) Gotong royong dan 6) Kreatif.  

1. Beriman, Bertaqwa kepada  Tuhan YME, dan Berakhlak  Mulia

Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME , dan berakhlak  mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang  Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan  pemahaman tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Hal ini ditandai dengan:

a. Iman dan Taqwa kepada Tuhan YME: Menerapkan pemahamannya tentang  kualitas atau sifat-sifat Tuhan dalam kehidupan

b. Akhlak pribadi: Menyadari bahwa menjaga dan merawat diri penting  dilakukan bersamaan dengan menjaga dan merawat orang lain dan  lingkungan sekitarnya

c. Akhlak kepada manusia: Mengutamakan persamaan dan kemanusiaan di atas perbedaan serta menghargai perbedaan yang ada dengan orang lain

d. Akhlak kepada alam: Menyadari pentingnya merawat lingkungan sekitarnya  sehingga dia tidak merusak atau menyalahgunakan lingkungan alam, agar  alam tetap layak dihuni oleh seluruh makhluk hidup saat ini maupun  generasi mendatang

e. Akhlak bernegara: Memahami serta menunaikan hak dan kewajibannya  sebagai warga negara yang baik serta menyadari perannya sebagai warga  negara

2. Kebinekaan Global

Kebinekaan global adalah kemampuan mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, dan  tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga  menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya  baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa.

Ciri-ciri seseorang yang memiliki  kebinekaan golbal adalah:

a. Mengenal dan Menghargai Budaya: mengenali, mengidentifikasi dan mendeskripsikan berbagai macam kelompok berdasarkan perilaku, cara komunikasi dan budayanya, serta mendeskipsikan pembentukan identitas dirinya dan kelompok, juga menganalisis bagaimana menjadi anggota kelompok sosial di tingkat lokal, regional, nasional dan global 

b. Komunikasi dan interaksi Antar Budaya: Kemampuan berkomunikasi  dengan budaya yang berbeda dari dirinya secara setara dengan memperhatikan,  memahami, menerima keberadaan, dan menghargai keunikan masing-masing  budaya sebagai sebuah kekayaan perspektif sehingga terbangun  kesalingpahaman dan empati terhadap sesama 

Baca Juga: Tanya Jawab Seputar Asesmen Nasional

c. Refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan: secara  reflektif memanfaatkan kesadaran dan pengalaman kebhinekaannya agar  terhindar dari prasangka dan stereotip terhadap budaya yang berbeda, sehingga  dapat menyelaraskan perbedaan budaya agar tercipta kehidupan yang harmonis  antar sesama; dan kemudian secara aktif-partisipatif membangun masyarakat  yang damai dan inklusif, berkeadilan sosial, serta berorientasi pada  pembangunan yang berkelanjutan.

3. Gotong Royong

Kemampuan gotong-royong, adalah  kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan  suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah  dan ringan.

Ciri-ciri seseorang yang  memiliki kemampuan  bergotong royong adalah:

a. Kolaborasi: bekerja bersama dengan orang lain disertai perasaan  senang ketika berada bersama dengan orang lain dan menunjukkan  sikap positif terhadap orang lain atau keadaan di lingkungan fisik sosial.

b. Berbagi: memberi dan menerima segala hal yang penting bagi kehidupan pribadi dan bersama, serta mau dan mampu menjalani  kehidupan bersama  yang  mengedepankan penggunaan bersama  sumber daya dan ruang yang ada di masyarakat secara sehat

4. Mandiri

Pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu  kemampuan bertanggung jawab atas proses dan hasil  belajarnya atau tindakannya, dengan karakteristik sebagai berikut: 

a. Kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi : Melakukan refleksi  terhadap kondisi dirinya dan situasi yang dihadapi dimulai dari memahami  emosi dirinya dan kelebihan serta keterbatasan dirinya, sehingga ia akan  mampu mengenali dan menyadari kebutuhan pengembangan dirinya yang  sesuai dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi.

b. Regulasi diri: mampu mengatur pikiran, perasaan, dan perilaku dirinya untuk mencapai tujuan belajarnya

5. Bernalar Kritis

Kemampuan bernalar kritis yaitu mampu secara objektif memproses informasi baik        kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai nformasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Kemampuan bernalar kritis ditandai dengan  :

a. Memperoleh dan memproses informasi dan gagasan: memiliki rasa  keingintahuan, mengajukan pertanyaan yang relevan, mengidentifikasi dan  mengklarifikasi gagasan dan informasi yang diperoleh, serta mengolah  informasi tersebut

b. Menganalisis dan mengevaluasi penalaran: dalam pengambilan keputusan,  menggunakan nalarnya sesuai dengan kaidah sains dan logika dalam  pengambilan keputusan dan tindakan dengan melakukan analisis serta  evaluasi dari gagasan dan informasi 

c. Merefleksi pemikiran dan proses berpikir: melakukan refleksi terhadap  berpikir itu sendiri (metakognisi) dan berpikir mengenai bagaimana jalannya  proses berpikir tersebut sehingga ia sampai pada suatu simpulan

d. Mengambil keputusan: mengambil keputusan dengan tepat berdasarkan  informasi yang relevan dari berbagai sumber, fakta dan data yang mendukung.

6. Kreatif

Merupakan kemampuan memodifikasi dan menghasilkan sesuatu  yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Kemampuan ini ditandai dengan: 

a. Menghasilkan gagasan yang orisinal: menghasilkan gagasan yang terbentuk dari hal paling sederhana, seperti ekspresi pikiran dan/ata perasaan, sampai dengan  gagasan yang  kompleks untuk  kemudian  mengaplikasikan ide baru sesuai dengan konteksnya guna mengatasi  persoalan dan memunculkan berbagai alternatif penyelesaian.

b. Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal: menghasilkan karya yang  didorong oleh minat dan kesukaannya pada suatu hal, emosi yang ia  rasakan, sampai dengan  mempertimbangkan dampaknya  terhadap   lingkungan sekitarnya.

Bagaimana strategi agar kita dapat menjadikan pelajar yang memiliki profil Pancasila. Pekerjaan ini tidaklah mudah namun dapat dicapai dengan secara bertahap dimulai dari tahap: aware, understand, join,  and do. 

Tahap 1. Awere 

Membuat orang sadar (peserta didik) melalui sosialisasi  di kelas , sekolah dan pertemuan-pertemuan dimasyarakat. 

Tahap 2. Understand 

Membuat peserta didik  paham melalui pengajaran oleh guru mata pelajaran, ektrakurikuler  dan berbagai pelatihan yang diadakan di sekolah. 

Tahap 3. Join  

Membuat orang untuk dapat bergabung menjadi orang yang turut bersama bauik kelompok atau organisasi untuk ikut dalam berbagai kegiatan 

Tahap 4. Do    

Membuat orang melakukan kebiasaan baik, melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan penanaman karakter.  

Agar dapat memenuhi karakter seperti diuraikan di atas harus  dimulai dari mengajarkan, dibiasakan, dilatih konsisten, menjadi kebiasaan, menjadi karakter, dan menjadi budaya. 

Enam profil karakter pelajar Pancasila dapat ditumbuhkan melalui strategi yaitu  pembelajaran dikelas seperti teringtegrasi dalam mata pelajaran, optimalisasi muatan lokal, manajemen kelas. Hal ini dapat dilakukan semua guru mata pelajaran, wali kelas dan guru muatan lokal.

Melalui  budaya sekolah seperti, pembiasaan nilai-nilai dalam keseharian sekolah, menumbuhkan budaya literasi, branding sekolah, keteladanan guru dan tenaga pendidik serta ekosistem sekolah. 

Melalui masyarakat seperti keteladanan dan pengawasan  orang tua, komite sekolah, dunia usaha, pelaku seni, pelaku budaya, pelaku bahsa dan sastra, pemerintah pusat maupun daerah. 

Baca juga: Jenis Publikasi Ilmiah Dalam Kenaikan Pangkat Guru

Tulisan ini diambil dari ringkasan penjelasan Ir. Hendarman, M.Sc., Ph.D Kepala Pusat Penguatan Karakter dalam acara webinar disampaikan pada Sosialisasi Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila (PPP) mewujudkan Generasi Madani Provinsi Sumatera Barat kepada Kepala Cabang Dinas, Pengawas, Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran PKN, Pembina,  dan Anggota OSIS SMA, SMK dan SLB.