Teori Belajar Orang Dewasa

Sebagai pengawas atau kepala sekolah maupun instruktur yang sering terlibat dalam menyajikan materi bagi orang dewasa, maka perlu memahami metode pembelajaran yang tepat sehingga apa maksud dan tujuan dapat tercapai. 

Menurut ahli pendidikan bernama Edwart L. Thorndike (1928)  mengemukakan teori belajar dan mengajar orang dewasa yang disebut dengan aliran “ Scientific Stream dan artistic” bahwa dalam belajar orang dewasa yang terpenting adalah pengalaman. Asumsi tentang pembelajar orang dewasa yang dijadikan teori belajar dewasa yaitu : 

  1. Pembelajar dewasa akan termotivasi untuk belajar karena kebutuhan dan minat dimana belajar akan memberikan kepuasan.
  2. Orientasi pembelajar orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan sehingga unit-unit pembelajar sebaiknya adalah kehidupan nyata (penerapan) bukan subjek matter,
  3. Pengalaman  adalah sumber terkaya  bagi pembelajar orang dewasa, sehingga  metode pembelajaran adalah analisa pengalaman (experiental learning),
  4.  Perbedaan diantara pembelajar orang dewasa semakin meningkat dengan bertambahnya usia, oleh karena itu pendidikan orang dewasa harus memberi pilihan dalam perbedaan gaya belajar, waktu, tempat dan kecepatan belajar.   

Carl R.Rogers (1951) mengajukan konsep pembelajaran pada orang dewasa yaitu “Student- Centered Learning” yang intinya :

  1. Kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya bisa memfasilitasi belajarnya,Seseorang akan belajar secara signifikan hanya pada hal-hal yang dapat memperkuat/menumbuhkan selfnya.
  2. Manusia tidak bisa belajar kalau berada dibawah tekanan,
  3. Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara signifikan bila tidak ada tekanan terhadap peserta dan adanya perbedaan persepsi/pendapat difasilitasi dikoordinir.

Konsep pembelajaran yang dikemukakan di atas sangat sesuai dengan model pembelajaran orang dewasa yaitu  andragogi. Andragogi  mulai digunakan di Netherlands oleh Professor T.T Ten Have pada tahun 1959.  

Model andragogi mempunyai konsep bahwa : kebutuhan untuk tahu (the need to know), konsep diri pembelajar (the learner,s concept), peran pengalaman pembelajar (the role of the leaner,s experience), kesiapan belajar (readiness to learn), orientasi belajar (orientation of learning) dan motivasi lebih banyak ditentukan dari dalam diri si pembelajar itu sendiri.  

Baca juga: 7 Pendekatan Supervisi Dalam Kurikulum 2013

Maka dalam pembelajaran orang dewasa seseorang instruktur  kurang tepat melakukan pembelajaran seperti kepada siswa atau  menggurui, tetapi memancing dan memfasilitasi peserta sehingga peserta dapat belajar dari pengalamannya dan mekanisme yang sudah disepakati.   

Dalam pendekatan andragogi, seorang instruktur perlu mempersiapkan lebih dahulu sejumlah prosedur untuk melibatkan pembelajar dalam belajar. Ada pun prosedur adalah sebagai berikut: 

  1. Menciptakan kondisi yang kondusif untuk belajar bagi pembelajar orang dewasa,
  2. Menciptakan mekanisme perencanaan,
  3. Mendiagonosis kebutuhan belajar,
  4. Memformulasikan tujuan program yang memenuhi kebutuhan institusi, pembelajar dan masyarakat,
  5. Merencanakan pola pengalaman belajar,
  6. Melaksanakan pengalaman belajar (kegiatan) yang sesuai dengan materi dan metode pembelajaran, 
  7. Melaksanakan evaluasi hasil belajar dan mendiagonosa ulang kebutuhan belajar (Knowles, 1980)

Penekanan pembelajaran pada andragogi adalah menyediakan prosedur dan sumber-sumber untuk membantu belajar peserta untuk meningkatkan pengetahuan, skill, kebiasaan, nilai-nilai, dan kemampuan yang dibutuhkan. 

Langkah-Langkah Supervisi Klinis

Supervisi akademik yang menggunakan model pendekatan berbasis kebutuhan guru disebut supervisi klinis. Supervisi klinis berlangsung dalam bentuk hubungan tatap muka antara supervisor  dan guru.

Supervisor dimaksud boleh pengawas sekolah, kepala sekolah atau guru senior yang ditugaskan kepala sekolah untuk melakukan supervisi. Namun dalam praktiknnya supervisi klinis lebih banyak dilakukan pengawas sekolah dan kepala sekolah. 

Fokus pengamatan pada  supervisi klinis adalah hal yang menjadi permasalahan bagi guru yang disupervisi, dan pengamatan harus dilakukan secara teliti dan mendetail dengan menggunakan instrument supervisi dan catatan pendukung yang telah dipersiapkan oleh supervisor.

Hubungan antara supervisor dan guru  yang disupervisi harus dijaga sebagai hubungan kolegial, bukan otoriter, terbuka dan dipusatkan pada unsur-unsur yang akan diperbaiki.

Baca juga: 7 Pendekatan Supervisi Dalam Kurikulum 2013 

Supervisor melakukan supervisi klinis atas dasar permintaan guru yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Karena itu, supervisor  dalam melaksanakan supervisi klinis   haruslah didasarkan pada semangat tolong- menolong atau membantu memecahkan permasalahan guru.

Berikut ini langkah-langkah supervisi klinis 

1. Tahap Pertemuan Awal 

Pertemuan awal, disebut juga dengan preobservation conference atau planning conference, yang bertujuan agar supervisor  dan guru bersama-sama mengembangkan kerangka kerja observasi kelas yang akan dilaksanakan.

Guru yang akan disupervisi menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran , dan supervisor mempelajari dan memahami tujuan pembelajaran yang akan dicapai,  menetapkan waktu dan tempat pelaksanaan supervisi proses pelaksanaan pembelajaran, dan menentukan aspek-aspek yang akan diobservasi dan cara mengobservasinya. Hasil akhir pertemuan awal ini adalah kesepakatan (contract) kerja antara supervisor dan guru.

Tujuan supervisi klinis dapat dicapai apabila dalam pertemuan awal tercipta kerja sama, hubungan kemanusiaan dan komunikasi yang baik antara kepala sekolah sebagai supervisor dengan guru yang akan disupervisi.

Kualitas hubungan yang baik antara supervisor  dan guru akan berdampak secara signifikan terhadap kesuksesan tahap berikutnya dalam proses supervisi klinis.

Hal-hal yang penting diperhatikan supervisor  dalam tahap pertemuan awal  supervisi klinis ini, yaitu:
  • menciptakan hubungan yang akrab dan terbuka antara kepala sekolah dan guru, 
  • mengidentifikasi hal yang perlu dikembangkan guru dalam proses pembelajaran, 
  • menerjemahkan permasalahan guru dalam perilaku yang bisa diobservasi, 
  • menentukan langkah-langkah untuk memperbaiki proses pembelajaran guru, 
  • membantu guru menentukan tujuan perbaikannya sendiri, 
  • menentukan waktu pelaksanaan dan instrumen observasi kelas, 
  • memperjelas konteks proses pembelajaran dengan menentukan data apa yang akan peroleh. 
2. Tahap Observasi Pembelajaran 

Tahap kedua dalam proses supervisi klinis adalah mengamati proses pembelajaran secara sistematis dan objektif, dimana supervisor mengamati guru mengajar sebagaimana yang dituangkan  dalam RPP (Quiroz, 2015).

Aspek-aspek yang akan diobservasi harus sesuai dengan hasil diskusi antara kepala sekolah dan guru pada pertemuan awal. Apa yang dilihat, didengar, diamati dan dirasakan oleh supervisor dituliskan dalam lembar observasi (instrumen dan catatan pengamatan)

3. Tahap Pertemuan Balikan 

Pertemuan balikan atau pertemuan pemberian umpan balik dilakukan segera setelah melaksanakan observasi proses pembelajaran, dengan ketentuan bahwa hasil observasi sudah dianalisis terlebih dahulu..

Tujuan utama pertemuan balikan ini adalah bersama-sama membahas hasil pengamatan proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Baca Juga: Tindak Lanjut Hasil Supervisi Akademik

Pertemuan balikan dapat dilakukan dengan cara wawancara atau diskusi tentang penampilan guru. Inti pembicaraan dalam pertemuan balikan ini difokuskan pada identifikasi dan analisis persamaan dan perbedaan antara perilaku guru dan peserta didik, identifikasi keberasilan dan kelemahan , keterampilan yang perlu ditingkatkan dan gagasan untuk memperbaikinya,  serta membuat keputusan tentang apa dan bagaimana langkah yang seharusnya diambil untuk menindaklanjuti perbedaan tersebut.

Ada lima manfaat pertemuan balikan bagi guru yaitu:
  • guru bisa termotivasi dalam pekerjaannya dengan diberikannya penguatan dan kepuasan; 
  • kepala sekolah dan guru dapat bersama-sama mendefinisikan secara tepat isu-isu dalam pengajaran; 
  • bila perlu dan memungkinkan, kepala sekolah dapat mengintervensi secara langsung untuk memberikan bantuan didaktis dan bimbingan bagi guru; 
  • guru bisa dilatih untuk melakukan supervisi terhadap dirinya sendiri; dan 
  • guru bisa diberi pengetahuan tambahan untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan  kemampuan analisis diri secara profesional pada masa yang akan datang. (Goldhammer, Anderson, & Krajewski, 1981),
Demikian langkah supervisi klinis, setelah tahap umpan balik atau pertemuan akhir guru perlu melaksanakan tindak lanjut yang telah dirumuskan dan disepakati bersama antara supervisor dengan guru. Dapat pula supervisi klinis ini dilanjutkan ke siklus berikutnya sesuai dengan kebutuhan guru.

Supervisi Akademik Dengan Teknik Observasi

Supervisi akademik merupakan kegiatan pembinaan dengan memberi bantuan teknis kepada guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, yang bertujuan untukmeningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Supervisi akademik  teknik observasi dilaksanakan melalui tahapan pra-observasi, observasi pembelajaran, dan pasca observasi.

A. Pra-observasi (Pertemuan awal)
Kegiatan yang perlu dilakukan adalah:
  1. Menciptakan suasana akrab dengan guru
  2. Membahas persiapan yang dibuat oleh guru dan membuat kesepakatan mengenai aspek yang menjadi fokus pengamatan
  3. Menyepakati instrumen observasi yang akan digunakan
Supervisor menggunakan  Panduan Wawancara Pra Observasi yang berisi pertanyaan yang dilakukan sebelum supervisor  melakukan pengamatan pembelajaran. Jawaban guru direkam dengan mencatat kata-kata kuncinya di lembar pra observasi. Hal lain  yang perlu dilakukan supervisor adalah melakukan telaah RPP.

B. Observasi (Pengamatan pembelajaran)
Tahap observasi  ini dilakukan untuk mengamati proses pembelajaran secara utuh dengan kegiatan sebagai berikut:
  1. Pengamatan difokuskan pada aspek yang telah disepakati
  2. Menggunakan instrumen observasi
  3. Di samping instrumen perlu dibuat catatan (fieldnotes)
  4. Catatan observasi meliputi perilaku guru dan siswa
  5. Tidak mengganggu proses pembelajaran

C. Pasca-observasi (Pertemuan balikan)
  1. Dilaksanakan segera setelah observasi
  2. Tanyakan bagaimana pendapat guru mengenai proses pembelajaran yang baru berlangsung
  3. Tunjukkan data hasil observasi (instrumen dan catatan) –beri kesempatan guru  mencermati dan menganalisisnya
  4. Diskusikan secara terbuka hasil observasi, terutama pada aspek yang telah disepakati (kontrak) –Berikan penguatan terhadap penampilan guru. Hindari kesan menyalahkan. Usahakan guru menemukan sendiri kekurangannya
  5. Berikan dorongan moral bahwa guru mampu memperbaiki kekurangannya
  6. Tentukan bersama rencana pembelajaran dan supervisi berikutnya
  7. Wawancara dilakukan tidak di dalam kelas yang diamati beberapa saat setelah pengamatan pembelajaran selesai.
  8. Format yang digunakan berisi pertanyaan yang dilakukan setelah supervisor melakukan pengamatan pembelajaran. Jawaban guru direkam dengan mencatat kata-kata kuncinya di lembar  pra obser .

D. Pengolahan Hasil Supervisi

Pengolahan data hasil supervisi dilakukan supervisor setelah pra observasi dan observasi dilakukan. Hasil penilaian dapat di buat  secara kualitatif yaitu amat baik, baik, cukup dan kurang  yang dikonversi dari nilai kuantitatif.
Contoh penilaian
Skala nilai
Kualifikasi
Keterangan
86 - 100
71 - 85
56 - 70
< 56

A
B
C
D

Amat baik
Baik
Cukup
Kurang


E. Tindak Lanjut  Hasil Supervisi Akademik
Tindak lanjut hasil supervisi adalah bentuk kegiatan  yang diberikan/tugaskan/sarankan  oleh supervisor terhadap guru yang disupervisi sebagai lanjutan untuk memperbaiki kelemahan/kekurangan guru dalam pembelajaran.
  
No
Nama Guru
Mapel
Kelas
Hasil Skor
Catatan Khusus
Tindak Lanjut
Realisasi Tindak Lanjut
Kualitas
Kuantitas

















7 Pendekatan Supervisi Akademik pada Kurikulum 2013

Pendekatan berasal dari kata approach yang berarti cara mendekatkan diri kepada objek atau langkah-langkah menuju objek. Pendekatan Supervisi akademik  secara sederhana adalah cara mendekatkan diri kepada guru yang disupervisi sehingga tercipta kondisi yang memungkinkan bantuan profesional yang diberikan supervisor tepat sasaran.

Pendekatan supervisi akademik yang digunakan oleh supervisor (pengawas, kepala sekolah dan guru senior yang ditunjuk) sangat tergantung kepada kondisi yang meliputi tingkat kompetensi(IQ/abstraksi/kreativtas) dan motivasi(komitmen/dedikasi) guru.

Kondisi atau tipe guru di sekolah sangat beragam, secara umum ada empat kondisi guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran di sekolah yaitu :

1) guru yang  kompetensinya rendah dan motivasinya juga rendah,

2) guru yang kompetensinya rendah tapi motivasinya tinggi

3) sebaliknya guru yang kompetensinya tingi tapi motivasinya rendah,  dan

4)guru yang kompetensinya tinggi dan motivasinya juga tinggi.

Kondisi tersebut harus dahulu dipahami oleh supervisor sehingga pendekatan yang digunakan tepat dan efektif. Berdasarkan temuan para ahli sedikitnya ada tujuh pendekatan dalam supervisi akademik.

Baca juga : Teknik Supervisi Manajerial Pengawas Sekolah 

Supervisor dapat memilih salah satu  dari tujuh pendekatan dan menerapkannya  pada kurikulum 2013 tergantung kondisi atau tipe guru dalam pembelajaran. Tujuh pendekatan  tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pendekatan Direktif
Pendekatan direktif adalah pendekatan dimana supervisor memberikan arahan langsung terhadap guru yang mengalami masalah atau kelemahan, perilaku supervisor lebih  mendominasi (mengendalikan) kegiatan atau pembicaraan.

Oleh karena guru memiliki kekurangan atau permasalahan dalam tugas pembelajaran, maka supervisor  perlu memberikan rangsangan agar ia bisa bereaksi lebih baik.

Rangsangan yang dimaksud dapat berupa penguatan (reinforcement) atau hukuman (punishment). Pendekatan direktif lebih tepat digunakan kepada guru kelompok guru “drop out teacher”   yaitu guru-guru yang kondisi kompetensi (abbstraksi/kreativitas) dan motivasi(komitmen/dedikasi) rendah.  Penerapan pendekatan direktif dilakukan dengan perilaku supervisor seperti:

a. Menjelaskan materi atau materi yang harus diperbaiki guru,

b. Menyajikan materi,alternatif perbaikan

c. Mengarahkan guru untuk melakukan perbaikan

d. Memberi contoh,

e. Menetapkan  tolok ukur dalam melaksanakan tugas, dan

f. Menguatkan hal-hal yang sudah dicapai dengan baik.

2. Pendekatan Non- Direktif atau Indirektif

Pendekatan non-direktif adalah cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Artinya perilaku supervisor tidak secara langsung menunjukkan permasalahan, tapi ia terlebih dulu mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakan oleh guru.

Ia memberi kesempatan sebanyak mungkin kepada guru untuk mengutarakan hal-hal yang dialami dalam pembelajaran untuk mengemukakan permasalahan yang mereka alami. Guru mengemukakan masalahnya. Supervisor mencoba mendengarkan, dan memahami apa yang dialami.

Pendekatan non-direktif lebih tepat digunakan kepada guru kelompok profesional teacher yaitu guru-guru yang kondisi kompetensi (abbstraksi/kreativitas) dan motivasi(komitmen/dedikasi) tinggi. Perilaku supervisor dalam pendekatan non-direktif adalah sebagai berikut.

a. Mendengarkan,

b. Memberi penguatan,

c. Menjelaskan,

d. Menyajikan, dan

e. Memecahkan masalah.

3. Pendekatan Kolaboratif Control

Pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non-direktif menjadi suatu cara pendekatan baru. Pada pendekatan ini, baik supervisor maupun guru bersama-sama bersepakat untuk menetapkan struktur proses dan kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru.

Dengan demikian, pendekatan dalam supervisi berhubungan pada dua arah; dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Pendekatan kolaboratif control  lebih tepat digunakan kepada guru kelompok “analytic and observer teacher” yaitu guru-guru yang kondisi kompetensi (abstraksi/kreativitas) tinggi tetapi  motivasi(komitmen/dedikasi) rendah  Perilaku supervisor dalam pendekatan ini adalah sebagai berikut.

a. Menyajikan

b. Menjelaskan

c. Mendengarkan

d. Memecahkan masalah

e. Negosiasi

f. Pengawas

4. Pendekatan Kolaboratif Partisipatif

Pendekatan kolaboratif  partisipatif hampir sama dengan pendekatan kolaboratif control yang membedakan adalah tipe gurunya dan perlakuan sedikit berbeda yang diberikan supervisor.

Pendekatan kolaboratif partisipatif  lebih tepat digunakan kepada guru kelompok “un focus teacher” yaitu guru-guru yang kondisi kompetensi (abstraksi/kreativitas) rendah tetapi  motivasi (komitmen/dedikasi) tinggi.

Perilaku supervisor dalam pendekatan ini adalah sebagai berikut.

a. Menyajikan

b. Menjelaskan

c. Mendengarkan

d. Memecahkan masalah

e. Negosiasi

Empat pendekatan supervisi akademik diatas dapat digambarkan tabel berikut:

IQ/ABSTRAKSI/KREATIVITAS

3. Analiytic teacher
Kolaboratif Control
4. Professional teacher
Non- Direktif
KO
MIT
MEN
/DE
DI
KA
SI

1. Drop Out Teacher
Direktif
2. Un focus teacher
Kolaboratif Partisipatif





Secara umum  empat pendekatan supervisi akademik diatas dalam kurikulum 2013 dilakukan dengan  tahapan kegiatan sebagai berikut:

1. Percakapan awal (pre-conference)
2. Observasi 
3. Analisis/interpretasi hasil supervisi
4. Percakapan akhir(pasconference)
5. Analisis akhir untuk menarik kesimpulan
6. Diskusi antara supervisor dengan guru

Selain empat  pendekatan supervisi akademik  di atas supervisor dapat menggunakan pendekatan laian. Menurut Achecon, Keith A, at al, (1997)  dalam Modul Kemendikbud, (2014: 78) adalah sebagai berikut:

5.Pendekatan Ilmiah ( Scientific)

Pendekatan Scientific (ilmiah) adalah pendekatan supervisi akademik yang didasarkan atas data yang dikumpulkan oleh supervisor. Data yang terkumpul dapat diperoleh dari  hasil pengamatan dengan  pencatatan yang teliti, objektif dan valid.

Dari data yang terkumpul tersebut dicermati untuk selanjutnya diambil langkah-langkah  perbaikan yang diperlukan.

Dalam hal ini supervisor harus mengumpulkan data dengan menggunakan instrument yang benar dan tepat(validitas dan reliabel) Supervisor perlu merumuskan masalah berdasarkan kerangka teori pengajaran, menyusun hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data dengan menggunakan teknik analisis yang relevan, menguji hipotesis, dan akhirnya menarik suatu kesimpulan.

Dengan menerapkan tersebut supervisor akan mendapat gambaran yang benar mengenai pembelajaran yang dilakukan oleh guru bersama dengan peserta didiknya.

Supervisor harus bersikap ilmiah, objektif, dan jernih dalam memandang persoalan, dan menjaga jarak dengan yang diamati. Adapun cara yang digunakan untuk memperbaiki pembelajaran adalah:

a. mengimplementasikan hasil temuan dari para peneliti,

b. mengadakan penelitian di bidang pembelajaran, dan

c. menerapkan metode ilmiah dan bersikap ilmiah dalam

d. menentukan efektivitas pembelajaran.

6. Pendekatan Artistik (Artistic)

Pendekatan artistic adalah pendekatan dimana supervisor menggunakan seni tertentu(dilakukan secara tidak to the point). Pendekatan artistik merekomendasikan agar supervisor turut mengamati, merasakan, dan mengapresiasikan pembelajaran  yang dilakukan oleh guru.

Supervisor bagaikan menyaksikan tampilan-tampilan karya seni, namun harus dilihat secara menyeluruh dengan pengamatan yang cermat, turut merasakan dan mencoba menangkap maknanya.

Dari pengalaman tersebut supervisor dapat menyusun langkah-langkah perbaikan dengan seni atau kreatifitas tertentu.

Baca juga: Tindak Lanjut Hasil Supervisi Akademik 

Langkah-langkah pendekatan artistik, yaitu:

a. Ketika hendak berangkat ke lapangan, kepala sekolah tidak boleh mempunyai pretensi apa pun tentang pengajaran yang akan diamati.

b. Melakukan pengamatan terhadap guru dengan cermat, teliti, utuh, menyeluruh serta berulang-ulang.

c. Memberikan interpretasi atas hasil pengamatan secara formal.

d. Menyusun hasil interpretasi dalam bentuk narasi.

e. Menyampaikan hasil interpretasi yang sudah dinarasikan kepada guru.

f. Menerima umpan balik dari guru terhadap pengamatan yang telah dilakukan

7. Pendekatan Klinis (Clinic)

Pendekatan klinis adalah pendekatan yang didasarkan atas diagnosis kekurangan (kelemahan/penyakit) untuk langkah perbaikan selanjutnya (Kemdikbud, 2014). Hasil diagonosis tersebut boleh atas kesadaran guru memminta bantuan untuk mengatasi persoalan yang dihadapi dalam pembelajaran(ibarat orang sakit ke dokter).

Setelah supervisor mendiagonosa kelemahannya , maka selanjutnya dilakukan bantuan agar guru tersebut dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi.

Langkah-langkah Pendekatan Klinik:

1. Tahap Pertemuan Awal 

a. Menciptakan suasana kolegialitas.

b. Membicarakan rencana pengajaran yang telah dibuat guru.

c. Memilih jenis keterampilan tertentu yang akan dilatihkan.

d. Mengembangkan instrumen yang akan digunakan untuk mengobservasi keterampilan mengajar guru dan menyepakatinya.

2. Tahap Observasi Kelas 

Supervisor mengadakan pengamatan terhadap guru yang sedang mengajar dengan menggunakan lembar observasi yang telah disepakati

Aktivitas yang dilakukan pada tahap ini:

a. memasuki ruang kelas bersama dengan guru yang akan mengajar,

b. guru menjelaskan pada siswa maksud kedatangan supervisor ke ruang kelas,

c. guru mempersilahkan supervisor untuk menempati tempat duduk yang telah disediakan,

d. supervisor mengobservasi proses pembelajaran terhadap guru.

e. setelah selesai proses belajar mengajar, guru bersama-sama supervisor meninggalkan ruang kelas dan pindah ke ruangan khusus untuk melaksanakan aktivitas pembinaan 

3. Pertemuan Balikan 
Aktivitas yang dilakukan: 

a. supervisor memberikan penguatan kepada guru  dalam suasana yang akrab, 

b. supervisor bersama guru membicarakan kembali kontrak yang pernah dilakukan mulai dari tujuan pengajaran sampai evaluasi pembelajaran, 

c. supervisor menunjukkan hasil observasi yang telah dilakukan berdasarkan format yang disepakati, 

d. supervisor berdiskusi dengan guru tentang hasil observasi yang telah dilakukan 

e. bersama-sama guru membuat kesimpulan tentang hasil pencapaian latihan pengajaran yang telah dilakukan yang diakhiri dengan pembuatan

Satu pendekatan supervisi akademik tidak dapat digunakan untuk semua guru, maka supervisor perlu memilih pendekatan yang sesuai dengan karakteristik guru yang disupervisi. Dengan demikian supervisi yang dilakukan akan bermakna dan menjadi bantuan perbaikan professional bagi guru. Semoga


Bahan Bacaan: 
Depdiknas (2011). Modul Supervisi Akademik Suplemen Materi Pelatihan Penguatan Pengawas Sekolah. BPSDM: Jakarta

Depdiknas (2003), pedoman Supervisi Pengajaran, Dikdasmen: Jakarta

Sehertian, A. Piet. (1987). Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, Usaha Nasional: Surabaya.

Sudjana. (2004). Manajemen Program Pendidikan. Bandung: Falah Pruduction.




Tindak Lanjut Hasil Supervisi Akadermik

                                  
Hasil supervisi perlu ditindaklanjuti agar memberikan dampak yang nyata bagi peningkatkan profesionalisme guru. Dampak nyata ini diharapkan dapat dirasakan guru, peserta didik dan sekolah. 

Tindak lanjut dapat dberikan  berupa penguatan dan penghargaan  kepada guru yang telah memenuhi standar, pembinaan, teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada guru yang belum memenuhi standar dan guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan, penataran untuk meningkatkan kompetensnya lebih lanjut.

Bagi guru yang belum memenuhi standar dilakukan pembinaan untuk membangkitkan dan memelihara kegairahan kerja guru untuk mencapai prestasi kerja yang semakin baik. 

Dalam hal ini guru-guru di dorong untuk mempraktikan gagasan-gagasan baru yang dianggap baru serta membawa ke arah penyempurnaan proses pembelajaran, kerjasama kelompok, serta memotivas lahirnya ide-ide baru dan menciptakan suasana  yang memungkinkan guru dapat memperbaiki dirinya dalam melaksanakan tugas pembelajaran.

Bagi guru yang telah memenuhi standar didorong untuk meningkatkan kegairahan kerja guru untuk mencapai prestasi kerja yang semakin baik, didorong untuk mempraktikan gagasan-gagasan baru yang dianggap baru serta membawa ke arah penyempurnaan proses pembelajaran, kerjasama kelompok, desiminasi pengetahuan  serta memotivasi lahirnya  ide-ide baru.

Untuk dapat melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:

1. Menganalisis Evaluasi Hasil Supervisi

Menurut Patton (Katiah, 2005: 125) analisis data adalah: Proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan suatu uraian dasar yang membedakannya dengan penafsiran, yaitu memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian, dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian.        
          
 Baca Juga : Konsep dan Teknik Supervisi Akademik

Ada dua cara dalam menganalisis data hasil supervisi yang berupa:

a. Data kualitatif dapat terdiri dari catatan lapangan dan komentar supervisor, gambar, foto, dokumen, biografi, artikel dan sebagainya. Pekerjaan dalam hal ini adalah mengartikan, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode dan mengkategorikannya.

b. Data kuantitatif dilakukan dengan cara menyusun data, mengolah data, dan menganalisis data hasil supervisi.

2. Teknik analisis data


Analisis yang paling sederhana untuk menafsirkan data kuantitatif secara deskriptif ialah dengan cara menguji skor dari setiap item yang ada dalam instrumen.

3. Mengembangkan Program Tindak lanjut Hasil Supervisi

Tindak lanjut hasil supervisi yang dilakukan pengawas sekolah ada dua pertama, untuk pembinaan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pembinaan yang dilakukan dapat secara langsung maupun tdak langsung; kedua, pengawas sekolah melakukan pemantapan instrumen yang digunakannya. 

a. Pembinaan Guru
Kegiatan pembinaan dapat berupa pembinaan langsung dan tidak langsung.
1)  Pembinaan Langsung
Pembinaan langsung adalah bentuk pembinaan yang dilakukan terhadap hal-hal  yang bersifat khusus serta perlu perbaikan segera dari hasil analisis pelaksanaan supervisi dengan pendekatan directive.

2) Pembinaan Tidak Langsung
Pembinaan tidak langsung dilakukan untuk mereka yang hasil analisis supervisinya telah memenuhi standar dan hampir memenuhi standar melalui pendekatan collaborative dan self assesment. Pembinaan dapat dilakukan dengan memberi informasi umum melalui berbagai media komunikasi seperti; e-mail, whatsapp (WA), facebook, line, telepon, faximili, dan media lain yang relevan.

Pembinaan ini dilakukan terhadap hal-hal yang sifatnya umum yang perlu perbaikan dan perhatian setelah memperoleh hasil analisis supervisi.

Beberapa cara dan teknik yang dapat dilakukan supervisor untuk memperbaiki proses pembelajaran melalui program tindak lanjut hasil supervisi, antara lain:

  • menerapkan model pembelajaran yang efektif yang dapat dilakukan selama pelatihan/  In House Training (IHT).
  • mengembangkan teknik pembelajaran yang telah dimiliki menjadi pembelajaran berbasis TIK.
  • menggunakan metodologi yang luwes dan dinamis sesui KI-KD
  • menggunakan teknik Discovery Learning untuk merespon berbagai kebutuhan  individual peserta didik berdasarkan perkembangan teknologi informasi terkini
  • menggunakan buku teks/buku pegangan guru  secara efektif.
  • menerapkan model pembelajaran yang efektif yang dapat mereka pelajari selama  pelatihan profesional
  •  menggunakan lingkungan sekitar sebagai alat bantu pembelajaran dan sumber belajar dalam penerapan ekosistem pendidikan
  • teknik mengelompokan peserta didik secara lebih efektif dengan mengenali karakteristik peserta didik
  • merespon kebutuhan dan kemampuan individual siswa.
  •  menggunakan lingkungan sekitar sebagai alat bantu pembelajaran.
  •  mengelompokkan siswa secara lebih efektif.
  •  mengevaluasi siswa dengan lebih akurat/teliti/seksama.
  •  berkolaborasi dengan guru lain agar lebih berhasil.
  •  mengevaluasi peserta didik dengan authentic assessment teliti dan akurat berbasis bukti (evidence
  •  membantu peserta didik dalam meningkatkan Higher Order Thinking Skills (HOTS).
  •  meningkatkan motivasi mereka sendiri.
  •  meningkatkan keterampilan berpikir kritis, menyelesaikan masalah dan pengambilan keputusan.
  •  menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.
Ada lima langkah pembinaan kemampuan guru melalui supervisi akademik, yaitu: 
(1)  menciptakan hubungan-hubungan yang harmonis,
(2)   analisis kebutuhan,
(3)   mengembangkan strategi dan media,
(4)   menilai, dan
(5)   revisi.

Baca Juga : 7 Pendekatan Supervisi Akademik Dalam Kurikulum 2013

b. Pemantapan Instrumen Supervisi 
Mengembangkan hasil pengukuran  supervisi dapat dilakukan dengan cara diskusi kelompok oleh para supervisor dengan menggunakan instrumen supervisi akademik maupun instrumen supervisi non akademik. Dalam memantapkan hasil pengukuran supervisi, dikelompokkan seperti berikut:
1) Persiapan guru untuk mengajar terdiri dari:
  •  Silabus.
  •  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
  •  Program Tahunan.
  •  Program Semesteran.
  •  Pelaksanaan proses pembelajaran.
  •  Penilaian hasil pembelajaran.
  •  Pengawasan proses pembelajaran.
2) Instrumen supervisi kegiatan belajar mengajar
  •   lembar pengamatan.
  •   suplemen observasi (ketrampilan mengajar, karakteristik mapel, pendekatan klinis, dan dst.).

3) Komponen dan kelengkapan instrumen, baik instrumen supervisi akademik maupun instrumen supervisi non akademik. 
4) Penggandaan instrumen dan informasi kepada guru bidang studi binaan atau kepada karyawan untuk instrumen non akademik.

Dengan demikian, dalam tindak lanjut supervisi dapat disimpulkan sebagai berikut.
  • Dalam pelaksanaannya kegiatan tindak lanjut supervisi akademik sasaran utamanya adalah kegiatan belajar mengajar.
  • Hasil analisis, catatan supervisor, dapat dimanfaatkan untuk perkembangan keterampilan mengajar guru atau meningkatkan profesionalisme guru dan karyawan, setidak-tidaknya dapat mengurangi kendala-kendala yang muncul atau yang  mungkin akan muncul.
  • Umpan balik akan memberi pertolongan bagi supervisor dalam melaksanakan tindak lanjut supervisi.
  • Dari umpan balik itu pula dapat tercipta suasana komunikasi yang tidak menimbulkan ketegangan, menonjolkan otoritas yang mereka miliki, memberi kesempatan untuk mendorong guru memperbaiki penampilan, dan kinerjanya.
4. Langkah –langkah  pelaksanakan tindak lanjut hasil supervisi akademik dapat dilakukan sebagai berikut:
  •  Mengkaji rangkuman hasil penilaian.
  •  Apabila ternyata tujuan supervisi akademik dan standar-standar pembelajaran belum tercapai,maka sebaiknya dilakukan penilaian ulang terhadap pengetahuan, keterampilan dan sikap guru yang menjadi tujuan pembinaan.
  • Apabila ternyata  tujuannya belum tercapai maka mulailah merancang kembali program supervisi akademik guru untuk masa berikutnya.
  •  Membuat rencana aksi supervisi akademik berikutnya.
  • Mengimplementasikan rencana aksi tersebut pada masa berikutnya.
Melalui tindak lanjut yang diberikan pengawas, diharapkan guru semakin professional dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Bahan bacaan:
Peraturan Menteri Pendidikan, Nomor 13 Tahun 2007, Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Supervisi Akademik dalam peningkatan profesionalisme guru.  2010. Kompetensi Supervisi Kepala Sekolah Pendidikan Dasar. Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK :  Depdiknas.


Konsep dan Teknik Supervisi Akademik

Salah satu dari enam kompetensi pengawas sekolah adalah kompetensi supervisi akademik. Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989, Glickman, et al. 2007).

Cara Menyusun Instrumen Pengawasan Sekolah

A. Pengertian dan Prinsip

Instrumen pengawasan sekolah merupakan perangkat yang digunakan oleh  pengawas sekolah/supervisor untuk  mengumpulkan data  (aspek pengawasan manajerial) ,dan  mengidentifikasi profil kemampuan guru dalam pembuatan rencana,  pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran (aspek pengawasan akademk)

Teknik Supervisi Manajerial Pengawas Sekolah

Supervisi manajerial adalah supervisi yang dilakukan oleh pengawas sekolah  yang berkenaan dengan  pengelolaan sekolah yang terkait langsung dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas sekolah yang mencakup (a) perencanaan, (b) koordinasi, (c) pelaksanaan, (d) penilaian, (e) pengembangan kompetensi SDM kependidikan dan sumberdaya lainnya.

Supervisi manajerial berfungsi sebagai pembinaan, penilaian dan bantuan kepada kepala sekolah, guru dan seluruh tenaga kependidikan lainnya di sekolah untuk meningkatkan kinerja sekolah,    kepala sekolah, guru serta tenaga kependidikan lainnya.


Baca juga : Konsep dan Teknik Supervisi Akademik

Adapun Sasaran supervisi manajerial adalah membantu kepala sekolah dan staf sekolah lainnya dalam mengelola administrasi pendidikan, yaitu: 

(1) perencanaan sekolah, yaitu EDS/PMP, RKS/RKJM, RKT/RKAS
(1) administrasi kurikulum, 
(2) administrasi keuangan, 
(3) administrasi sarana prasarana/perlengkapan, 
(4) administrasi personal atau ketenagaan, 
(5) administrasi kesiswaan, 
(6) administrasi hubungan sekolah dan masyarakat, 
(7) administrasi budaya dan lingkungan sekolah, dan 
(8) aspek-aspek administrasi lainnya (administrasi persuratan dan pengarsipan) dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan untuk mencapai 8 standar nasional pendidikan.  

Supervisi manajerial dapat dilakukan dengan dua teknik yaitu   teknik supervisi individual atau teknik supervisi kelompok.
Teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok masing-masing terdiri dari beberapa jenis.  


Pengawas sekolah dapat memilih teknik yang mana yang akan dilakukan berdasarkan urgensi, kondisi, karakteristik,  kendala manajerial di  sekolah yang dibina.  Berikut ini penjelasan teknik supervisi individual dan serta kelompok serta jenisnya.

1. Teknik Supervisi Individual

Teknik supervisi individual artinya bantuan individual yang dilakukan pengawas sekolah untuk mengatasi atau menyelesaikan pemasalahan manajerial yang dialami sendiri oleh kepala sekolah, guru, atau tenaga kependidikan lainnya. 

Bantuan yang diberikan oleh pengawas disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi masing-masing kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya. 

Teknik  individual yang dapat digunakan oleh pengawas sekolah dalam melakukan supervisi manajerial adalah sebagai berikut:  


a. Kunjungan dan Observasi kelas

Kunjungan kelas biasanya digunakan dalam supervisi akademik akan tetapi kunjungan kelas dapat juga digunakan untuk mengumpulkan data manajerial dari guru. 

Kunjungan kelas ialah kunjungan pada waktu tertentu yang dilakukan oleh supervisor  pengawas sekolah  untuk melihat atau mengamati pelaksanaan proses pembelajaran sehingga diperoleh data empiris objektif untuk menemukan kebutuhan tenaga pendidik dalam melaksanakan tugasnya. 

Di samping itu, hasil kunjungan dan observasi kelas ini menjadi bahan bagi pengawas atau kepala sekolah untuk menyusun program pengawasan manajerial.

b. Pertemuan Individu (Individual Conference)

Pertemuan individu dilakukan melalui dialog  yaitu percakapan pribadi antara pengawas dengan seorang kepala sekolah atau guru dan tenaga kependidikan lainya  berkaitan dengan usaha-usaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkaitan dengan pengelolaan sekolah 


Dialog atau pertemuan Individu (Individual Conference) ini digunakan sebagai tindak lanjut hasil kunjungan atau obervasi kelas, penyampaian informasi terkini yang harus segera ditindaklanjuti, atau adanya permasalahan manajerial yang segera harus diselesaikan.

c. Kunjungan Antar Kepala Sekolah


Saling mengunjungi antar-kepala sekolah, terutama kunjungan ke sekolah yang dianggap lebih maju/berkembang dalam pengelolaan sekolahnya merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kinerja sekolah. 


Pengawas sekolah dapat membantu kepala sekolah dalam melaksanakan kunjungan tersebut tentang hal-hal apa yang akan dipelajari terkait dengan pengelolaan sekolah.

d. Evaluasi Diri/Menilai Diri


Salah satu tindakan atau tugas yang paling sukar dilakukan oleh para kepala sekolah, pengawas, guru, atau tenaga kependidikan lainnya yaitu melaksanakan penilaian terhadap dirinya sendiri dengan melihat kinerjanya dalam pengelolaan sekolah. 

Dalam penilaian diri kepala sekolah,  guru, atau tenaga kependidikan lainnya diminta untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam pelaksanaan tugas-tugasnya.

Untuk mengukur kemampuan manajerialnya, kepala sekolah,  guru, dan tenaga kependidikan lainnya bisa melihat ketercapaian standar-standar yang sudah ditetapkan sekolahnya.


Langkah-langkah yang dapat dikerjakan adalah: 

1) menentukan aspek-aspek kompetensi yang akan dinilai, 
2) menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan, 
3) merumuskan format atau pedoman penskoran, 
4) meminta kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya melakukan penilaian diri, dan 
5) pengawas bersama kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan mengkaji hasil penilaian diri untuk pembimbingan atau pendampingan.

e. Wawancara

Untuk mendapatkan informasi yang objektif mengenai kondisi pengelolaan sekolah dan mengidentifikasi masalah dan kebutuhan pembinaan, wawancara dapat dilakukan dengan kepala sekolah, guru, tenaga adminsitrasi sekolah, dan orang tua siswa/warga masyarakat (stakeholder sekolah). 

Hasil wawancara digunakan sebagai dasar pembinaan maupun  penyusunan program supervisi manajerial yang sesuai dengan kebutuhan sekolah binaan.

f. Pendampingan


Pendampingan merupakan proses pembimbingan yang dilakukan oleh pengawas sekolah kepada kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya yang

bertujuan untuk perbaikan mutu secara berkelanjutan. Misalnya pendampingan tentang penyusunan RKS/RKJM, RKT/RKAS , KTSP dan lain-lain. 


Pengelolaan yang sudah baik sesuai dengan SNP harus dipertahankan, bahkan dengan pendampingan mutu pengelolaannya ditingkatkan.

g. Refleksi


Refleksi diri adalah sebuah proses melihat kembali pengalaman/mencermati, melihat ulang kegiatan  yang telah dijalani untuk dapat menarik lessons learned bagi diri sendiri dan dilanjutkan dengan penyusunan sebuah action plan untuk mengurangi kesenjangan (gap) yang masih ada antara harapan dan kenyataan. Pengawas sekolah dapat membantu melakukan refleksi tersebut

h. Bimbingan Teknis (Bimtek)


Bimbingan teknis merupakan bagian dari pembinaan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya sebagai upaya meningkatkan kompetensi dan kinerja dalam mencapai standar pengelolaan sekolah sebagaimana ditetapkan oleh badan standar nasional pendidikan. 

Bantuan dan tuntunan diberikan sesuai dengan kasus dan masalah yang dihadapi oleh kepala sekolah, guru atau tenaga kependidikan. Agar dapat pengawas sekolah melaksanakan bimtek maka sangat dibutuhkan penguasaan materi dan cara menyampaikannya. 

i. Buletin Supervisi

Buletin supervisi adalah salah satu alat/bentuk komunikasi tertulis yang dipublikasikan oleh asosiasi pengawas sekolah atau kelompok kerja kepala sekolah. 

Publikasi seperti ini berisi beragam informasi yang dapat membantu kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan menyelesaikan masalah manajerial di sekolahnya.

Misalnya, laporan cara kerja kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan yang dinilai berhasil atau praktik yang baik (good practice), informasi mengenai sumber-sumber bahan pembelajaran bagi kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya sebagai bahan acuan dalam pengelolaan adminsitrasi, dan informasi-informasi terbaru mengenai metode kerja yang efektif. 


Buletin juga dapat di susun pengawas sekolah secara mandiri untuk dibagikan kepada sekolah yang berisikan informasi manajerial.

j. Membaca Terpimpin


Pengawas mengarahkan kepala sekolah, guru, atau tenaga kependidikan yang sudah teridentifikasi kesulitan atau masalah yang dihadapinya untuk membaca sumber-sumber yang dirujuk oleh pengawas, baik sumber yang tercetak maupun sumber-sumber on-line (daring).


Kepala sekolah, guru, atau tenaga kependidikan memungkinkan menemukan sendiri sumber-sumber selain dari pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh pengawas. 


Diskusi antara pengawas dan kepala sekolah, guru, atau tenaga kependidikan dapat dilakukan setelah membaca sumber-sumber yang dirujuk untuk menemukan tindakan yang dinilai dapat mengatasi kesulitan dan masalah yang dihadapi. 

Pengawas juga dapat membuat bacaan dalam web atau blog dan sekolah di arahkan untuk membaca.

2. Teknik Supervisi Kelompok


Teknik supervisi kelompok adalah cara melaksanakan program supervisi manajerial maupun akademik yang ditujukan pada dua orang atau lebih yang mengalami permasalahan yang sama. Kepala sekolah, guru, atau tenaga kependidikan dikelompokkan berdasarkan masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama sesuai hasil analisis kebutuhan.


Mereka kemudian diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi. 


Dalam supervisi kelompok ini disampaikan satu materi atau sekelompok materi kepada sekelompok guru, kepala sekolah, atau tenaga kependidikan lainnya yang menjadi sasaran supervisi.

Materi tersebut diterima bersama, dibahas bersama, dan disimpulkan bersama. Semua dilakukan di bawah bimbingan/bantuan supervisor. 


Dengan demikian, dalam waktu yang relatif singkat dapat dibina sejumlah guru, kepala sekolah, atau tenaga kependidikan lain dari sekolah binaan.

Beberapa teknik supervisi kelompok disajikan secara singkat berikut ini.


a. Kepanitiaan/Rapat Staf Sekolah

Rapat adalah pertemuan formal suatu organisasi untuk membahas masalah tertentu agar menghasilkan keputusan atau solusi yang akan dilaksanakan oleh sekolah.

Ciri-ciri rapat antara lain:

  • memiliki agenda yang disampaikan kepada peserta rapat beberapa hari sebelumnya baik melalui surat tertulis maupun melalui email.
  • secara khusus menyampaikan kepada peserta mengenai bahan-bahan yang mereka harus bawa/siapkan.
  • biasanya berlangsung sekitar 2 (dua) jam, jika akan berlangsung lama, guru peserta rapat harus menyiapkan pengganti jika mempunyai jadwal mengajar.
  • pengawas atau kepala sekolah bertindak sebagai fasilitator.
  • menyampaikan undangan dan memastikan yang diundang dapat hadir.
  • Memastikan kesiapan semua fasilitas rapat yang diperlukan. 
Kelebihan rapat antara lain: 

(a) masalah yang dihadapi dapat dipecahkan bersama; 
(b) belajar, berbagi, dan menambah pengalaman dari peserta; 
(c) memperoleh informasi mengenai perkembangan baru atau inovasi dalam bidang kerja; 
(d) memperoleh umpan balik untuk perbaikan kinerja.

Di sisi lain, rapat juga memiliki kelemahan, antara lain: 

(a) jika berlangsung lama, peserta harus meninggalkan pekerjaan cukup lama; 
(b) memerlukan persiapan yang baik untuk tiap masalah yang akan dibahas; 
(c) jika cakupan masalah yang dibahas luas, seringkali rapat tidak dapat menyelesaikan masalah.

Dalam kaitannya dengan supervisi manajerial, rapat ini diadakan untuk membahas masalah-masalah yang terjadi pada aspek pengelolaan sekolah. 

Misalnya, pelaksanaan penerimaan peserta didik baru. Bentuk pelaksanaan teknik supervisi ini bertujuan menyatukan dan menyamakan pandangan dalam menyukseskan proses PPDB tersebut.

b. Diskusi dan Kerja kelompok

Diskusi dan kerja kelompok adalah suatu teknik bimbingan yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka, yang di dalamnya peserta diskusi akan mendapatkan suatu kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing, berbagi pengalaman dan informasi dalam memecahkan masalah bersama.

Forum ini merupakan sarana pertukaran pendapat/pikiran antara peserta diskusi. Kesulitan dan masalah yang dihadapi oleh seorang kepala sekolah, guru, atau tenaga kependidikan dapat dibahas dalam kelompok dan secara bersama-sama membantu menemukan cara penyelesaian masalah itu. 

Yang penting diperhatikan oleh pengawas adalah memberikan kesempatan kepada semua peserta diskusi untuk terlibat secara aktif selama berlangsungnya diskusi.

Sagala (2010:181) menekankan bahwadalam diskusi kelompok pengawas harus mampu “
1) melihat bahwa setiap anggota diskusi senang dengan keadaan tempat yang disediakan, 
2) melihat bahwa masalah yang dibahas dapat dimengerti oleh semua anggota diskusi, 
3) melihat bahwa kelompok merasa diperlukan atau diikutsertakan untuk mencapai hasil bersama (peserta diperlakukan secara adil), dan 
4) mengakui bahwa setiap anggota yang dipimpinnya mempunyai kontribusi dan peranan yang penting dalam merumuskan hasil diskusi.”

c. Lokakarya

Lokakarya atau workshop adalah suatu usaha untuk mengembangkan kemampuan/ kompetensi berpikir dan bekerja bersama-sama menangani masalah pengelolaan sekolah yang dihadapi oleh kepala sekolah, guru, atau tenaga kependidikan untuk meningkatkan kualitas serta profesionalisme. 

Dalam lokakarya ada fasilitator yang membimbing dan memfasiltasi peserta dalam menemukan penyelesaian masalahnya.

Fasilitator dapat berasal dari pengawas sekolah atau seorang yang ahli dan terampil dalam fokus masalah yang dibahas. 

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam lokakarya diterapkan oleh masing-masing kepala sekolah, guru, atau tenaga kependidikan peserta lokakarya sebagai bagian dari penyelesaian masalahnya.

d. Wawancara Kelompok

Wawancara kelompok adalah wawancara yang dilakukan terhadap lebih dari satu orang kepala sekolah, guru, atau tenaga kependidikan, antara 2 sampai dengan 10 orang. 

Dalam wawancara kelompok, jumlah dan komposisi kelompok perlu mempertimbangkan latar belakang, homogenitas, dan cakupan masalah yang akan dibahas/ diselesaikan oleh para kepala sekolah, guru, atau tenaga kependidikan.

e. Pertemuan Ilmiah (Seminar/Konferensi)

Pertemuan ilmiah adalah pertemuan yang menggunakan forum-forum ilmiah seperti seminar, konferensi. Dalam pertemuan ilmiah, seminar atau konferensi, berbagai karya tulis disajikan untuk menginformasikan gagasan, konsep, dan temuan penelitian. 

Dalam seminar, peserta belajar dan berbagi gagasan dan temuan-temuan penelitian yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan pengelolaan sekolah secara lebih baik.

f. Diskusi Panel

Diskusi panel merupakan forum diskusi pertukaran pikiran yang menampilkan panelis, pakar pada bidang masalah yang sedang dibahas yang bisa saja berasal dari guru, kepala sekolah, pengawas, dosen dari perguruan tinggi, atau praktisi yang menguasai bidang yang dibahas.

Umumnya dalam diskusi panel peserta terdiri dari: 1) panelis, yaitu 3 – 4 orang yang dinilai ahli dan menguasai pengetahuan dan keterampilan yang luas di bidangnya, 2)  moderator, yaitu orang yang memandu dan mengatur jalannya diskusi tentang problem yang akan dibahas, 3) peserta, yaitu orang-orang yang mengikuti jalannya diskusi.  

Langkah-langkah pelaksanaan diskusi panel sebagai berikut:
1) menetapkan masalah yang akan dibahas; 
2) merumuskan tujuan yang ingindicapai, baik tujuan yang bersifat umum maupun tujuan khusus; 
3) mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pelaksanaan diskusi, misalnya ruangan dengan segala fasilitasnya, petugas-petugas diskusi seperti: moderator, notulis, dan tim perumus, jika diperlukan; 
4) pelaksanaan paparan panelis; dan 
5) Kegiatan beriskusi. 

Pada akhir diskusi, peserta dapat membentuk kelompok kecil untuk mendiskusikan gagasan-gagasan yang telah dipaparkan oleh para panelis untuk memperoleh kesepahaman dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.


Baca Juga: Pendekatan Supervisi Akademik

Kelebihan diskusi panel antara lain: 

1) memperoleh gagasan yang beragam dan berbeda-beda, 
2) mendorong untuk melakukan analisis lebih lanjut dan menemukan paduan gagasan yang kemungkinannya dapat diterapkan untuk menyelesaikan masalah, dan 
3) memanfaatkan para ahli untuk berbagi pendapat yang dapat membelajarkan peserta. 

Di sisi lain, diskusi panel memiliki kelemahan, antara lain: 


1) pembahasan dapat keluar fokus masalah jika moderator kurang terampil, 
2) panelis cenderung berbicara terlalu banyak atau tampak seperti serial pidato pendek, dan 
3) tidak memberi kesempatan kepada peserta untuk berbicara.

Direktorat Tenaga Kependidikan. 2007. Penilaian Kinerja Guru. Modul 04 A3. Jakarta: Depdiknas.
Direktorat Tenaga Kependidikan. 2007. Evaluasi Program Supervisi Pendidikan. Modul A3-2. Jakarta: Depdiknas.
Konsep Supervisi Manajerial Direktorat Tenaga Kependidikan. 2008. Metode dan Teknik Supervisi: Modul 02-BI. Jakarta: Depdiknas.