Pentingnya Asesmen Diagonosis Kognitif Berkala

A. Konsep Asesmen Diagonosis Kognitif

Sebagai guru professional tentu akan merasa bahagia apabila dapat membantu peserta didiknya sehinga dapat mencapai kemajuan belajar secara maksimal sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Akan tetapi dalam kondisi pandemi covid-19 saat ini harapan tersebut sulit terpenuhi, dimana pembelajaran tatap muka belum dapat dilaksanakan di sekolah maka banyak peserta didik yang tidak mampu mengikuti pembelajaran apakah pembelajaran pola daring , luring atau kombinasi  secara maksimal.

Tentunya kendala atau kesulitan yang mereka alami beragam ada yang tidak punya fasilitas, tempat tingga yang sulit dijangkau sinyal dan lain-lain . Salah satu kegiatan penting agar kesulitan belajar peserta didik dapat teratasi maka  guru perlu  melakukan asesmen diagonosis kognitif secara berlala. 

Asesmen diagonosis kognitif adalah asesmen yang digunakan untuk mengetahui kelemahan – kelemahan peserta didik khususnya  dalam materi esensial dan materi prasyarat sehingga berdasarkan kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.

Menurut buku panduan yang dikeluarkan Kemdikbud (2020) Asesmen Diagnosis Kognitif adalah asesmen diagnosis yang dapat dilaksanakan secara rutin, pada awal ketika guru akan memperkenalkan sebuah topik  pembelajaran baru, pada akhir ketika guru sudah selesai menjelaskan dan membahas sebuah topik, dan waktu yang lain selama semester (setiap dua minggu/ bulan/ triwulan/ semester).

B. Tujuan Asesmen Kognitif 

Asesmen Diagnosis Kognitif bertujuan untuk mendiagnosis kemampuan dasar peserta didik  dalam topik/materi esensial pada   mata pelajaran. Asesmen diagnosis dapat mengandung satu atau lebih dari satu topik/materi pokok termasuk dari semester sebelumnya.

Dengan kata lain asesmen diagonosis kognitif bertujuan untuk mendapatkan potret kesulitan belajar peserta didik untuk dijadikan bahan perbaikan pembelajaran.

C. Pentingnya  Asesmen Diagnosis Kognitif  Secara Berkala 

Seperti kita ketahui bahwa kemampuan dan keterampilan peserta didik  di dalam sebuah kelas berbeda-beda. Ada yang lebih cepat paham dalam topik tertentu, namun ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami topik tersebut. Peserta didik  yang cepat paham dalam satu topik, belum tentu cepat paham dalam topik lainnya.

Asesmen diagnosis memetakan kemampuan semua peserta didik  di kelas secara cepat, untuk mengetahui siapa saja yang sudah paham, siapa saja yang agak paham, dan siapa saja yang belum paham.

Baca juga: KI-KD Kurikulum 13 Untuk Kondisi Khusus

Dengan demikian guru dapat menyesuaikan materi pembelajaran dengan kemampuan peserta didik sesuai dengan KI-KD yang telah disusun pemerintah.

Dalam buku petunjuk pelaksanaan Asesmen Diagnosis Berkala, kegiatan terdiri dari tiga tahap: (1) Persiapan; (2) Pelaksanaan; (3) Diagnosis dan Tindak Lanjut.

D. Langkah-Langkah Asesmen Diagonosis Kognitif

1. Tahap Persiapan 

a. Menyusun rencana pelaksanaan asesmen
Kegiatan yang dilakukan misalnya menentukan mata pelajaran, untuk kelas berapa, jadwal, tempat pelaksanaan dan lain-lain

b. Identifikasi materi asesmen 
Kegiatan yang dilakukan dalam identifikasi materi adalah mengenali materi esensial dan materi prasyarat untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya  sesuai KD yang telah ditentukan pemerintah

c. Menyusun soal asesmen kognitif 
Soal yang disusun tidak perlu banyak namun soal yang dibuat berasal dari materi esensial dan prasyarat dengan rincian sebagai berikut:

- Soal berasal dari materi esensial  2 tingkat dibawah kelasnya sekarang 20%
- Soal berasal dari materi esensial 1 tingkat dibawah kelasnya sekarang 60%
- Soal berasal dari materi esensial yang akan dipelajari semester ini 20%

Ketentuan ini dapat dimodifikasi sesuai karakteristik mata pelajaran. Selanjutnya disusun kisi-kisi soal kemudian  penulisan butir soal. Bentuk soal yang dibuat boleh isian singkat , pilihan ganda  dan lainnya.

Pilihan  jawaban peserta didik  harus dapat ditafsirkan gambaran kesulitan yang dialami oleh peserta didik tersebut, apakah kesalahan konsep, prinsip, prosedur, dan lain-lain.

Dengan demikian alternatif pilihan jawaban tes diagonosis kognitif akan dapat memberi gambaran tentang kesulitan yang dialami peserta didik.

2. Pelaksanaan Asesmen Diagonosis Kognitif
Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan tes  asesmen untuk semua peserta didik  di kelas, baik secara tatap muka, daring  ataupun belajar dari rumah, selanjutnya hasil tes tersebut diperiksa.

3 Diagnosis dan Tindak Lanjut Asesmen 
Kegiatan dalam tahap ini adalah:

a. Lakukan pengolahan hasil asesmen dan lakukan analisis 
Tentukan distribusi jawaban peserta didik, cari rata-rata pencapaian , tentukan dan cermati dimateri mana yang sudah dikuasai dan yang belum dikuasai.

b. Berdasarkan hasil penilaian, bagi siswa menjadi 3 kelompok 
Pengelompokan dapat menurut kemampuan atau hasil yang diperoleh. berdasarkan kelompok soal , atau kategori pencapaian misalnya rendah, sedang dan tinggi atau belum tuntas, tuntas , percepatan kondisinya situasional

c. Lakukan remidi (perbaikan) dengan perlakuan yang berbeda menurut kesulitan yang dialami peserta didik tersebut.

d. Ulangi proses yang sama, sampai siswa mencapai tingkat kompetensi yang diharapkan

Buku Saku Asesmen Diagonosis Kognitif UNDUH DISINI 

Dengan melakukan asesmen diagnosis berkala, guru dapat menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan rata-rata kemampuan peserta didik. Dengan demikian, landasan pengetahuan dan keterampilan dasar peserta didik  menjadi lebih kuat, sebelum mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang lebih sulit.

Asesmen Pada Kondisi Khusus Di Sekolah

Asesmen adalah proses sistematis dalam pengumpulan, pengolahan, dan penggunaan data aspek kognitif dan non-kognitif untuk meningkatkan kualitas belajar peserta didik.

Asesmen atau penilaian  pembelajaran dalam kondisi khusus dilakukan dengan berpedoman kepada Permendikbud Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan Dalam Kondisi Khusus.

Bacajuga: Contoh RPP Daring, Luring dan kombinasi

1. Asesmen dalam Kondisi Khusus

Asesmen dalam kondisi khusus dilakukan dengan memenuhi prinsip:

a. Valid yaitu asesmen menghasilkan informasi yang sahih mengenai pencapaian peserta didik;

b. Reliabel yaitu asesmen menghasilkan informasi yang konsisten dan dapat dipercaya tentang pencapaian peserta didik;

c. Adil yaitu asesmen yang dilaksanakan tidak merugikan peserta didik tertentu;

d. Fleksibel yaitu asesmen yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan;

e. Otentik yaitu asesmen yang terfokus pada capaian belajar peserta didik dalam konteks  penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari;

f. Terintegrasi yaitu asesmen dilaksanakan sebagai bagian integral dari pembelajaran sehingga menghasilkan umpan balik yang berguna untuk memperbaiki proses dan hasil belajar peserta
didik.

2. Hasil asesmen digunakan oleh pendidik, peserta didik, dan orang tua/wali sebagai umpan balik dalam perbaikan pembelajaran.

Kondisi saat ini (pandemi covid-19)  pembelajaran yang dilakukan sekolah ada yang pola daring, luring maupun  kombinasi dengan media beraneka ragam seperti google clasroom, edmodo, sicadiak pandai dan lain-lain.

Baca Juga: Pelaksanaan Kurikulum Pada kondisi Khusus

Dalam melakukan asesmen atau penilaian   guru perlu mempedomani aturan pemerintah di atas dalam melaksanakan  penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Penilaian sikap dapat dilakukan dari sisi kehadiran, keaktifan memberi respon saat pembelajaran, ketaatan mengumpulkan tugas.

Penilaian pengetahuan dapat dilakukan melalui tes, kuis dan penugasan. Tes dapat dilakukuan dengan bentuk pilihan ganda, uraian, isian singkat, menjodohkan, benar salah, sebab akibat.

Kuis dapat dilakukan diawal, saat dan akhir pembelajaran.  Sedangkan penugasan dapat dilakuan dengan melalui penugasan terstruktur atau tidak terstruktur dengan pertimbangan tingkat kesulitan, jumlah dan waktu yang digunakan untuk menyelesaikan.

Penilaian keterampilan pola pembelajaran daring atau luring dapat dilakukan melalui penugasan proyek atau portofolio.

Nilai sikap  kemudian diadministrasikan dengan baik, nilai pengetahuan dan keterampilan dilakukan analisis yang kemudian dilakukan tindak lanjut.

Demikian uraian asesmen/penilaian dalam kurikulum khusus, semoga bermanfaat.




UN Batal: Ini Opsi Kelulusan Siswa

UN DIBATALKAN
Terbitnya Surat Edaran Mendikbud (SE)  Nomor 4 Tahun 2020 , memastikan bahwa Ujian Nasional (UN) resmi ditiadakan atau batal. 

Mengapa dan Bagaimana Menyusun Soal HOTS ?

A. Mengapa Dianjurkan  Soal HOTS

Seiring perkembangan kurikulum maka semua guru dalam melaksanakan penilaian hasil belajar diharapkan dapat membuat soal HOTS.  Dalam penilaian hasil belajar peserta didik  difokuskan pada aspek pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan KD pada KI-3 dan KI-4.

Soal-sol bentuk HOTS bertujuan untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi. Jika ditinjau dari taksonomi Blom (revisi) atau proses kognitif adalah C4 sampai C6 sedangkan dari sisi dimensi pengetahuan mulai dari konseptual, prosedural dan metakognitif.

Mungkin masih ada yang bertanya mengapa disarankan  harus  soal HOTS dalam penilaian hasil belajar ?  Berikut ini ada beberapa alasan sehingga  guru sangat perlu menyusun soal bentuk HOTS yaitu.

1. Mempersiapkan kompetensi peserta didik  menyongsong abad ke-21

Penilaian hasil belajar pada aspek pengetahuan yang dilaksanakan oleh sekolah diharapkan dapat membekali peserta didik  untuk memiliki sejumlah kompetensi yang dibutuhkan pada abad ke-21. yaitu:
a) memiliki karakter yang baik (religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas);
b) memiliki kemampuan 4C (critical thinking=berfikir kritis, creativity=kreativitas, collaboration=kerja sama, dan communication= komunikasi ); serta
c) menguasai literasi mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori.

Penyajian soal-soal HOTS dalam penilaian hasil belajar dapat melatih peserta didik  untuk mengasah kemampuan dan keterampilannya sesuai dengan tuntutan kompetensi abad ke-21 di atas.

Melalui penilaian berbasis pada soal-soal HOTS, keterampilan berpikir kritis (critical thinking), kreativitas (creativity) dan rasa percaya diri (learning self reliance), akan dibangun melalui kegiatan latihan menyelesaikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (problem-solving).

2. Memupuk rasa cinta dan peduli terhadap kemajuan daerah 

Soal-soal HOTS dapat memupuk rasa cinta dan kepedulian lingkungan maupun daerah dimana peserta didik tinggal.Hal ini dapat bertumbuh ketika  kreativitas guru dalam hal pemilihan stimulus yang berbasis permasalahan daerah di lingkungan satuan pendidikan apakah itu menyangkut pendidikan, kesehatan , ekonomi,  budaya, politik, keamanan dan sebagainya.

Berbagai permasalahan yang terjadi di daerah tersebut dapat diangkat sebagai stimulus kontekstual.  Dengan demikian stimulus yang dipilih oleh guru dalam soal-soal HOTS menjadi sangat menarik karena dapat dilihat dan dirasakan secara langsung oleh peserta didik .

Selain  itu, penyajian soal-soal HOTS dalam penilaian hasil belajar dapat meningkatkan rasa memiliki dan cinta terhadap potensi-potensi yang ada di daerahnya. Sehingga peserta didik  merasa terpanggil untuk ikut ambil bagian dalam memecahkan berbagai permasalahan yang timbul di daerahnya.

3. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik 

Soal-soal HOTS dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik karena  ilmu pengetahuan yang dipelajari di dalam kelas  dikaitkan  langsung dengan pemecahan masalah di masyarakat. Dengan demikian peserta didik  merasakan bahwa materi pelajaran yang diperoleh di dalam kelas berguna dan dapat dijadikan bekal untuk terjun di masyarakat.

Tantangan-tantangan yang terjadi di masyarakat dapat dijadikan stimulus kontekstual dan menarik dalam penyusunan soal-soal penilaian hasil belajar, sehingga munculnya soal-soal berbasis soal-soal HOTS, yang dapat menambah motivasi belajar peserta didik . Motivasi tersebut  yang  diharapkan membentuk  peserta didik  menjadi insan pembelajar sepanjang hayat

4. Meningkatkan mutu dan akuntabilitas penilaian hasil belajar

Soal tes yang  baik apabila tes tersebut  dapat memberikan informasi yang akurat terhadap kemampuan peserta tes. Penggunaan soal-soal HOTS dapat meningkatkan kemampuan  ketrampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik dan mutu penilaian hasil belajar.

Akuntabilitas pelaksanaan penilaian hasil belajar oleh guru dan sekolah menjadi sangat penting dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat kepada sekolah.

Pada Kurikulum 2013 sebagian besar tuntutan KD ada pada level 3 (menganalisis, mengevaluasi, atau mencipta). Soal-soal HOTS dapat menggambarkan kemampuan peserta didik  sesuai dengan tuntutan KD.
Alasan-alasan di atas menjadikan penerapan soal HOTS dalam penilaian hasil belajar di satuan pendidikan sangat penting dikembangkan.

Baca Juga: TIPS Menulis SOAL Yang Baik Dan Benar 

B. Bagaimana Menulis Soal HOTS 

Untuk menulis butir soal HOTS, terlebih dahulu penulis soal menentukan perilaku yang hendak diukur dan merumuskan materi yang akan dijadikan dasar pertanyaan (stimulus) dalam konteks tertentu sesuai dengan perilaku yang diharapkan. Pilih materi yang akan ditanyakan menuntut penalaran tinggi, kemungkinan tidak selalu tersedia di dalam buku pelajaran.

Oleh karena itu dalam penulisan soal HOTS, dibutuhkan penguasaan materi ajar, keterampilan dalam menulis soal, dan kreativitas guru dalam memilih stimulus soal yang menarik dan kontekstual. Berikut dipaparkan langkah-langkah penyusunan soal-soal HOTS.

1. Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS

Langkah pertama yang harus dilakukan guru adalah  memilih KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS. Tidak semua KD dapat dibuatkan model soal HOTS. KD yang dapat dibuat soal HOTS adalah KD yang memuat KKO yang pada ranah C4, C5, atau C6 atau soal level 3.

Guru dapat secara mandiri atau melalui forum MGMP dapat melakukan analisis terhadap KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS

2. Menyusun kisi-kisi soal

Langkah ke- 2 adalah menyusun kisi-kisi soal HOTS bertujuan untuk membantu para guru menulis butir soal HOTS. Kisi-kisi tersebut diperlukan untuk memandu guru dalam: (a) menentukan kemampuan minimal tuntutan KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS, (b) memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji (pilih materi UKRK ( memiliki sifat urgensi, kontiniutas, relevansi dan keterpakaian) , (c) merumuskan indikator soal, dan (d) menentukan level kognitif.

3. Merumuskan Stimulus yang Menarik dan Kontekstual

Lankah ke -3 adalah membuat stimulus yang menarik artinya stimulus harus dapat mendorong peserta didik  untuk membaca stimulus tersebut sebagai dasar menjawab soal. Stimulus yang menarik umumnya baru, belum pernah dibaca oleh peserta didik , atau isu-isu yang sedang mengemuka.

Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, mendorong peserta didik  untuk membaca.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menyusun stimulus soal HOTS: (1) pilihlah beberapa informasi dapat berupa gambar, grafik, tabel, wacana, dll yang memiliki keterkaitan dalam sebuah kasus; (2) stimulus hendaknya menuntut kemampuan menginterpretasi, mencari hubungan, menganalisis, menyimpulkan, atau menciptakan; (3) pilihlah kasus/permasalahan konstekstual dan menarik (terkini) yang memotivasi peserta didik  untuk membaca (pengecualian untuk mapel Bahasa, Sejarah boleh tidak kontekstual); dan (4) terkait langsung dengan pertanyaan (pokok soal), dan berfungsi.

4. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal

Langkah ke -4 adalah menulis butir-butir pertanyaan  dengan kaidah penulisan butir soal HOTS. Kaidah penulisan butir soal HOTS, pada dasarnya hampir sama dengan kaidah penulisan butir soal pada umumnya.

Perbedaannya terletak pada aspek materi (harus disesuaikan dengan karakteristik soal HOTS di atas), sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama. Setiap butir soal ditulis pada kartu soal, sesuai format terlampir.

5. Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban

Langkah ke -5 adalah membuat pedoman penskoran atau kunci jawaban . Setiap butir soal HOTS yang ditulis harus dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban. Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian. Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda, dan isian singkat.

Baca Juga: Penilaian Pengetahuan Dalam Kurikulum 2013

Demikian alasan mengapa guru harus menyusun soal HOTS dan langkah apa yang harus ditempuh dalam menyusun soal tersebut. Semoga guru dapat membuat soal HOTS.

“Selamat Datang AKM Dan Selamat Tinggal UN”

Salah satu arah  kebijakan baru dalam bidang pendidikan sebagai wujud  merdeka belajar yang mulai dilaksanakan tahun 2021 adalah Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) dan Survei Karakter (SK) yang mengantikan Ujian Nasional (UN).

Masa Ujian Nasional  sudah hampir habis tinggal menunggu waktu di bulan April 2020.  Walaupun belum ada regulasi secara resmi tentang AKM dan SK namun arah untuk perubahan itu sudah hampir pasti karena sudah dimulai sosialisasi dikalangan kepala dinas pendidikan  dan tenaga pendidik lainnya pada bulan Desember 2019.  Bahkan soal-soal AKM  sudah mulai diperkenalkan kepada guru mata pelajaran melalui media oline.

Alasan utama  sehingga  UN akan diganti dengan AKM  dan SK  ada beberapa hal yaitu:
  1. Materi Ujian Nasional UN dirasakan  terlalu padat sehingga siswa dan guru cenderung menguji penguasaan konten,bukan kompetensi penalaran
  2. Ujian Nasional dianggap menjadi beban bagi siswa, guru, dan orang tua  karena UN digunakan menjadi indikator keberhasilan siswa  sebagai individu dimana ujian nasional seharusnya berfungsi untuk pemetaan mutu  sistem pendidikan nasional, bukan penilaian siswa
  3. Ujian Nasional cenderung hanya menilai aspek kognitif dari hasilbelajar, belum menyentuh karakter siswa secara menyeluruh, pada hal karakter siswa sangat berpengaruh kepada keberhasilannya di kemudian hari. 
  4. Kurikulum 2013 yang kita gunakan adalah kurikulum yang berbasis  kompetensi maka  perlu asesmen yang lebih holistik ntuk  mengukur kompetensi peserta didik 
  5. Berdasarkan hal tersebut  di atas,  Kemendikbud  melihat bahwa sistem penilaian di satuan pendidikan perlu diselaraskan dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 khususnya pasal 58 ayat 1) dan 2)  serta kesesuain dengan kurikulum yang saat ini digunakan. 
A. Asesmen Kompetensi Minimal (AKM)

Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) adalah alat ukur  yang mengukur kemampuan minimal yang dibutuhkan para siswa untuk mempelajari materi lain. Kemampuan yang dimaksud mencakup kemampuan literasi dan numerasi ( analisa suatu bacaan untuk memahami konsep dan analisa angka-angka) .

Kata minimal diartikan bahwa  tidak semua konten di dalam kurikulum diukur di dalam AKM, akan tetapi yang diukur adalah keterampilan dasar yaitu  literasi dan numerasi.
Adapun fungsi AKM  adalah untuk memetakan sekolah-sekolah dan daerah-daerah berdasarkan kompetensi minimal yang ditentukan.

Dengan kata lain fungsi AKM bukan digunakan sebagai laporan hasil belajar kognitif dan keterampilan kepada orang tua peserta didik seperti selama ini, akan tetapi memetakan kompetensi minimal antar sekolah dan daerah.

AKM juga tidak  dilaporkan secara individu seperti rapor yang diterima peserta didik sekarang, namun berupa laporan agregat yang fokus kepada peningkatan internal dari waktu kewaktu sehingga bukan komparasi kelompok.

Ditinjau dari segi pelaksanaan AKM tidak dilaksanakan diakhir jenjang akan tetapi dilaksanakan di kelas 4 SD, kelas 8 SMP dan kelas 11 SMA/SMK, dengan tujuan untuk memberikan waktu bagi peserta didik dan sekolah melakukan perbaikan sebelum lulus dari jenjang sekolah tersebut.

Materi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) mencakup literasi dan numerasi . Literasi dan numerasi bukan mata pelajaran bahasa atau matematika, melainkan kemampuan menggunakan konsep   untuk menganalisis sebuah materi.

1. Literasi 

Literasi merupakan kemampuan bernalar dengan menggunakan bahasa, kemampuan menganalisa suatu bahan bacaan (teks) dan memahami konsep-konsep untuk dapat digunakan memahami materi  lain.

Dengan demikian literasi bukan sekedar keterampilan membaca akan tetapi kemampuan bernalar tentang teks dan angka. Materi literasi nantinya akan diperluas menurut jenisnya seperti:  literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital,, literasi financial dan  literasi budaya dan kewargaan.

Sebagai contoh  dalam  aspek kompetensi membaca dikategorikan menjadi tiga jenis yang mencakup kemampuan mengungkapkan kembali informasi (retrieving Information), mengembangkan interpretasi (developing an interpretation),merefleksikan dan mengevaluasi teks.

2. Kemampuan Numerik 

Merupakan kemampuan bernalar dengan menggunakan matematika. Pengetahuan dan kecakapan untuk: menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari, dan menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.)

Kemudian menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan.Numerasi yang dimaksud mencakup Bilangan, Operasi dan perhitungan, Geometrid an pengukuran dan Pengolahan data

Menurut Kemendikbud bahwa soal AKM menyerupai soal  PISA ( Programme for International Student Assesment)  merupakan studi international tentang penilaian prestasi literasi membaca, matematika, dan sains peserta didik berusia 15 tahun yang dikoordinasikan  oleh OFCD ( Organisation for Economic Cooperation and Development) yang berkedudukan di Paris.

Menurut rencana pelaksanaan AKM juga akan melibatkan kerjasama dengan OFCD sehingga pelaksanaan AKM dapat menjamin peningkatan mutu.

B. Survey Karakter  (SK)

Survey Karakter (SK) adalah survey yang dilakukan untuk mengukur kondisi ekosistem sekolah lingkungan belajar yang lebih bersifat sosial emosional, serta kualitas proses belajar-mengajar di tiap sekolah sebagai implementasi nilai-nilai dari Pancasila seperti,  bagaimana karakter gotong royong berjalan disekolah, apakah toleransi sudah terlaksana dengan baik, kebhinnekaan di sekolah,  apakah peserta didik senang dan merasa bahagia dalam belajar maupun berada dilingkungan sekolah dan lain-lain

BACA JUGA: KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS

Untuk dapat mewujudkan AKM dan SK tentu saja bukan hal mudah sebab sistem penilaian yang kita gunakan selama ini sudah terpola dan mengakar yang sulit dirombak, misalnya pihak orang tua yang selama ini sudah terbiasa melihat nilai rapor anaknya dengan rasa kepuasan tersendiri ternyata tidak dapat lagi mereka lihat , guru yang telah terbiasa merancang soal untuk ulangan dan ujian akan menghadapai situasi baru dengan instrument survey dan sebagainya.

Agar hal-hal seperti tidak menjadi kendala maka mulai sekarang guru dan orang tua sudah harus dimulai untuk sosialisasinya. Semoga kebijakan baru ini dapat meningkatkan kualitas dan karakter anak bangsa dimasa depan. Mari kita sambut dengan baik kebijakan ini “Selamat Datang AKM dan SK  2021”


Ujian Sekolah dan Kelulusan Peserta Didik 2020

Sebagai  tindak lanjut Permendikbud Nomor 43 tahun 2019  tentang penyelenggaraan ujian  oleh satuan pendidikan , Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Surat Edaran nomor 01 tahun 2020 tentang kebijakan merdeka belajar dalam penentuan kelulusan peserta didik dan pelaksanaan penerimaan peserta didik baru tahun 2020/2021

Dalam  Permendikbud Nomor 43 tahun 2019 dan Surat Edaran tersebut dinyatakan bahwa ujian yang diselenggarakan oleh Satuan Pendidikan merupakan penilaian hasil belajar oleh Satuan Pendidikan yang bertujuan untuk menilai pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran dengan ketentuan:

  1. Kelulusan peserta didik ditentukan melalui ujian sekolah  diselenggarakan oleh satuan pendidikan berdasarkan penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh guru,
  2. Bahan ujian sekolah untuk kelulusan peserta didik (seperti tes tertulis, portofolio, penugasan, dan penilaian bentuk kegiatan lain) dibuat oleh guru pada masing-masing satuan pendidikan.
  3. Satuan pendidikan yang belum siap membuat bahan ujian sekolah dapat menggunakan bahan penilaian (tes tertulis, tugas, dan/atau bentuk ujian lain) yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti soal-soal yang dibuat oleh Kelompok Kerja Guru dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran.
  4. Dinas pendidikan tidak dapat memaksa satuan pendidikan untuk menggunakan bahan tertentu dalam pelaksanaan ujian sekolah
  5. Kementerian Pendidikan dan kebudayaan menyediakan contoh-contoh ujian praktik maupun ujian tulis. klik di  https://puspendik.kemdikbud.go.id/publikasi

Kelima ketentuan di atas menjadi tugas dan tanggungjawab satuan pendidikan yang harus dikelola dengan baik dengan bukti-bukti otentik yang harus dapat dipertanggungjawabkan mulai perencanaan, proses dan hasil yang diperoleh.

Pasal 9 Permendikbud nomor 43 bahwa,  satuan pendidikan wajib menyampaikan nilai ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan dan nilai rapor kepada Kementerian melalui data pokok pendidikan untuk kepentingan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan.

Agar ketentuan di atas dapat dilakukan dengan baik maka satuan pendidikan perlu memahami hal- hal berikut :

1. Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.

Pada pasal 6 Permendikbud Nomor 43 tahun 2019, dinyatakan peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan setelah:
a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
b. memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik; dan
c. mengikuti Ujian yang diselenggarakan

Poin a) menyelesaikan seluruh program pelajaran artinya peserta didik telah berada pada tahun terakhir di masing-masing jenjang  yang dibuktikan kelengkapan laporan nilai tiap semester hingga sampai pada tingkat tahun terakhir.

Dalam hal ini satuan pendidikan harus dapat menunjukkan rekap nilai semester 1, 2, 3, 4 dan 5 secara lengkap (pada setiap mata pelajaran harus ada nilai). Menyelesaikan seluruh program bukan berarti harus tuntas semua mata pelajaran, karena bisa saja peserta didik tidak tuntas dalam 1 atau 2 mata pelajaran namun masih naik kelas.

Sekolah tidak perlu memaksakan peserta didik harus mengikuti remedial untuk memperbaiki nilai rapor supaya tuntas semua mata pelajaran, karena hal tersebut dapat berakibat kesalahan data rapor di dapodik atau perubahan nilai rapor sebelumnya.

Karena sekolah yang menentukan kelulusan peserta didik  yang didasarkan pada penilaian hasil belajar maka sekolah memiliki wewenanng menentukan nilai akhir peserta didik yang akan dicantumkan dalam ijazah, misalnya NA = 30 % rerata Nilai rapor semester 1s/d 5 + 70 % nilai ujian akhir.

Namun penentuan bobot  ini harus matang dipertimbangkan sesuai karakteristik sekolah dan tidak harus sama dengan sekolah lain yang harus dituangkan dalam POS Ujian Satuan Pendidikan.

Point b) Memperoleh nilai sikap/perilaku minimal nilai baik.

Artinya kalau seorang peserta didik tidak memiliki perilaku minimal nilai baik maka peserta didik tersebut tidak dapat dinyatakan lulus dari satuan pendidikan.

Karakteristik penilaian sikap adalah kondisi akhir, maksudnya ketika peserta didik yang  sebelumnya sikapnya kurang baik, namun diakhir semester (penilaian akhir sudah ada perubahan kearah sikap yang baik) maka yang menentukan adalah nilai akhir tersebut, perilaku yang kurang baik sebelumnya  tidak perlu diperhitungkan karena yang diharapkan dari sikap adalah adanya perubahan kearah yang lebih baik.

Untuk membuktikan hal tersebut maka sekolah perlu membuat instrumen mengukur sikap/perilaku melalui observasi oleh guru mata pelajaran atau guru agama/BK/PKn  maupun wali kelas. Hasil pengamatan akhir melalui instrumen satuan dapat mempertanggungjawabkan bahwa peserta didik telah memenuhi sikap/perilaku/karakter minimal baik. (Contoh Instrumen Klik)

Point c) Mengikuti ujian yang diselengarakan satuan pendidikan

Peserta didik agar dapat dinyatakan lulus dari satuan pendidikan  harus mengikuti ujian satuan pendidikan, batas pencapaian nilai ujian dalam aturan tersebut tidak ditentukan, karena hasil akhir penilaian ditentukan satuan pendidikan yang didasarkan dengan penilaian hasil belajar.

Arinya batas pencapaian nilai ujian dan hasil belajar sebelumnya menjadi pertimbangan dengan bobot yang ditentukan masing-masing satuan pendidikan. Namun yang paling penting dalam hal ini adalah bagaimana ujian tersebut dikelola satuan pendidikan mulai dari penyusunan soal yang handal yang menyangkut aspek pengetahuan dan keterampilan sehingga memiliki kontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan.

Bentuk ujian yang disusun oleh sekolah diharapkan  variatif dan terbuka untuk menguji kompetensi peserta didik , bukan lagi fokus kepada satu jenis alat ukur (hanya bentuk soal PG). Dengan demikinan satuan pendidikan  mengukur dimensi pengetahuan dan keterampilan dengan alat ukur yang tepat.

Dalam hal ini sekolah dapat menyusun  bentuk ujian   tertulis dengan variasi instrument pilihan ganda, benar- salah, menjodohkan, pilihan sebab-akibat, assosiasi pilihan, uraian singkat, uraian terstruktur untuk aspek pengetahuan.  Untuk menguji aspek keterampilan bentuk ujian dapat dilakukan seperti fortofolio, proyek, produk, dan praktik/kinerja/unjuk kerja.

Semua instrument/soal tes yang disusun   harus  melalui  tahapan yang benar seperti  berikut:
1. Menetapkan tujuan tes
2. Menyusun kisi-kisi tes
3. Menulis butir soal/perintah tugas untuk praktik
4. Merakit soal
5. Melakukan telaah soal (analisis kualitatif)
6. Membuat kunci, pedoman pensskoran atau rubrik penilaian

Hal-hal lain yang penting diperhatikan guru dalam menyusun soal ujian adalah :

1. Mermilih  KD yang memuat materi paling esensial dari setiap tigkat.
    Materi esensial ditandai dengan ciri UKRK (urgensi, kontiniutas, relevansi dan keterpakaian)

2. Menetapkan komposisi level soal yaitu:
    Level 1 (C1, C2)                = …  soal
    Level 2 (C3)                       = …  soal
    Level 3 (C4,C5, C6) )         = …..soal

3. Perhatikan sebaran kunci dengan rumus  (jumlah soal : jumlah obtion)  + - 3

4. Perhatikan kehomogenan pengecoh

5. Perhatikan kaidah penyusunan soal.

Demikian uraian tentang ujian dan kelulusan peserta didik tahun 2020 ini  semoga bermanfaat.

Cara Melakukan Penilaian Proyek

Untuk menilai kompetensi keterampilan peserta didik , selain penilaian praktik, produk dan portofolio guru dapat melakukan dengan cara penilaian proyek, baik untuk penilaian harian, semester, kenaikan kelas maupun  ujian sekolah . Berikut ini penjelasannya :

A. Pengertian 

Penilaian proyek adalah kegiatan penilaian  yang dilakukan guru terhadap suatu tugas yang telah ditentukan dalam periode tertentu.   Tugas tersebut berupa suatu investigasi mulai dari perencanaan,  pengumpulan  data,    pengorganisasian,  pengolahan,  dan  penyajian data.

Penilaian proyek digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan,  inovasi  dan  kreativitas,  kemampuan  penyelidikan  dan kemampuan peserta didik menginformasikan matapelajaran tertentu secara jelas.

Penilaian proyek dapat dilakukan secara individual atau berkelompok dengan jumlah yang diatur oleh guru. Cakupan tugas yang diberikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan yang dapat dikerjakan pada saat pembelajaran di sekolah dan diluar jam pembelajaran.

Penilaian proyek dapat dilakukan dalam satu atau lebih KD, satu mata pelajaran, beberapa mata pelajaran serumpun atau lintas mata pelajaran yang bukan serumpun.

Penilaian proyek umumnya menggunakan metode belajar pemecahan masalah sebagai langkah awal dalam pengumpulan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata

B. Langkah-langkah merencanakan penilaian proyek 

  1. Guru Menentukan satu KD atau lebih  yang berasal  dari KI-4 yang sesuai untuk dinilai melalui projek. Pemilihan KD ini ditentukan apabila KD menuntut aktivitas penugasan, atau materi tersebut dapat diselesaiakan melalui tugas yang diberikan guru. 
  2. Penilaian proyek yang akan dilakukan guru mencakup perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan projek
  3. Guru menyusun indikator proses dan hasil belajar yang akan dicapai peserta didik   sesuai kompetensi
  4. Guru menentukan kriteria yang menunjukkan capaian indikator pada setiap tahapan pengerjakan projek
  5. Merencanakan apakah tugas bersifat individu atau kelompok
  6. Merencanakan teknik-teknik dalam penilaian individual untuk tugas yang dikerjakan secara kelompok
  7. Menyusun tugas sesuai dengan rubrik penilaian

C. Pertimbangan Guru dalam Penilaian Proyek 

Pada penilaian proyek setidaknya ada empat hal yang perlu dipertimbangkan yaitu pengelolaan, relevansi, keaslian, inovasi, dan kreativitas.

  1. Pengelolaan yaitu kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
  2. Relevansi yaitu kesesuaian topik, data, dan hasilnya dengan KD atau mata pelajaran.
  3. Keaslian yaitu proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karya  sendiri  dengan  mempertimbangkan  kontribusi  guru  dan  pihak  lain berupa  bimbingan  dan  dukungan  terhadap  proyek  yang  dikerjakan  peserta didik.
  4. Inovasi  dan  kreativitas  yaitu  proyek  yang  dilakukan  peserta  didikterdapat unsur-unsur baru (kekinian) dan sesuatu yang unik, berbeda dari biasanya.

D. Contoh Lembar Penugasan

Identitas Mata pelajaran
Ditulis  identitas
KD
Ditulis KD
Indikator
Isikan indikator tugas
Rumusan tugas/Judul tugas
Buat perintah tugas
Syarat, linggup dan waktu pengumpulan
Tulis syarat yang diperlukan misalnya kelompok, batasan tugas, dan waktu pengumpulan

 E. Rubrik Penilaian Proyek
      Rubrik penilaian proyek harus direncanakan guru dengan kriteria, kualitas cakupan tugas mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan lengkap dengan skor nilai.  

No.
Aspek
Skor
1
2
3
4
1.
Perencanaan
1. Latar belakang
2. Rumusan maslah




2.
Pelaksanaan
1. Kelengkapan data
2. Pengolahan data
3. Kesimpulan




3.
Pelaporan Hasil
1. Sistematika
2. Penulisan
3. Penggunaan Bahasa
4. Tampilan laporan





Jumlah Skor

Keterangan :
Skor 4 = sangat baik
Skor 3 = baik
Skor 2 = cukup

E. Contoh Penilaian Proyek 

Penilaian Proyek di Kelas : IV

Bahasa Indonesia :
KD 4.4 Menyajikan petunjuk penggunaan alat dalam bentuk teks tulis dan visual menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif.

Indikator proyek:
Siswa dapat menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif dalam laporan hasil pengamatan

IPA :  
KD 4.5 Menyajikan laporan hasil pengamatan dan penelusuran informasi tentang berbagai perubahan bentuk energi.

Indikator proyek:

Siswa dapat merencanakan, melaksanakan, dan melaporkan secara tertulis hasil pengamatan dan penelusuran informasi tentang berbagai perubahan bentuk energi

Proyek : Membuat Laporan Hasil Pengamatan dan Penelusuran Informasi tentang 5 perubahan bentuk energi

Judul : Perubahan Bentuk Energi di Lingkungan Sekitar

Contoh Penilaian Proyek (SMA)

Mata Pelajaran         : Sosiologi
Kelas/Semester        : X / 1
Tahun pelajaran       : 2019/2020

Kompetensi Dasar   : 4.4   Melakukan   penelitian   sosial   yang   sederhana   untuk mengenali ragam gejala sosial dan hubungan sosial di masyarakat.

Indikator Soal          : Peserta   didik   mampu   melakukan   penelitian   mengenai permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat di lingkungan sekitarnya.

Rumusan tugas proyek:
   
  1. Lakukan penelitian mengenai permasalahan sosial yang berkembang pada masyarakat di lingkungan sekitar tempat tinggalmu, misalnya pengaruh keberadaan pasar modern (mall) bagi masyarakat sekitarnya (kamu bisa memilih masalah lain yang sedang berkembang di lingkunganmu).
  2. Tugas dikumpulkan  sebulan  setelah hari  ini. Tuliskan  rencana penelitianmu, lakukan, dan buatlah laporan. Laporan sekurang-kurangnya memuat latar belakang, perumusan masalah, kebenaran informasi/data, kelengkapan data, dan simpulan. Dalam membuat laporan perhatikan sistematika laporan, penggunaan bahasa, dan tampilan laporan.



Cara Membuat Tes Ujian Praktik Dalam Kurikulum 2013

Tes praktik adalah tes yang digunakan guru untuk  mengukur kemampuan  unjuk kerja/ kinerja/praktik.  Penilaian praktik merupakan  salah satu dari 4 cara (praktik, proyek, produk, dan fortofolio) untuk menilai aspek keterampilan.