Peran Guru BK Dalam Penetapan Peminatan Peserta Didik

Mekanisme penetapan peminatan peserta didik baru SMA dapat dilaksanakan dengan menggunakan salah satu alternatif yang meliputi pemilihan dan penetapan peminatan bersamaan dengan proses penerimaan peserta didik baru dan penetapan peminatan pada minggu pertama awal tahun pelajaran baru setelah calon peserta didik baru dinyatakan diterima sebagai peserta didik baru. 

Baca juga: Mekanisme dan Strategi Layanan BK di Sekolah

Penetapan peminatan peserta didik dilaksanakan oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK)  bekerja sama dengan wakil kepala sekolah, panitia PPDB dan Tenaga Administrasi Sekolah.

A. Peminatan Dilakukan Bersamaan dengan PPDB

Apabila sekolah memutuskan bahwa peminatan dilakukan bersamaan dengan PPDB maka guru BK memiliki peran yang sangat penting sebagai berikut: 

1. Memberikan usulan dalam musyawarah bersama Kepala Sekolah, Wakasek dan Panitia PPDB berkaitan dangn kriteria calon peserta didik, tata cara peminatan sampai dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) tentang penetapan peminatan yang dikeluarkan oleh Kepala Sekolah.

2. Membagikan instrumen non tes untuk mengungkap kecenderungan peserta didik sehingga dapat  ditempatkan pada peminatan tertentu. 

3. Menyiapkan dan menyampaikan informasi peminatan yang meliputi kuota, macam peminatan, cara, komponen, dan kriteria dalam penetapan pemilihan peminatan kepada calon peserta didik.

4. Mengumpulkan data peminatan: nilai rapor SMP/MTs, nilai ujian sekolah , pemilihan peminatan dari peserta didik dengan persetujuan orang tua, rekomendasi guru BK SMP/MTs.

5. Melakukan anailis data,  menetapkan, dan mengelompokkan peserta didik pada kelompok peminatan tertentu, serta menempatkan pada kelas tertentu. 

6. Memberikan layanan konsultasi kepada orang tua atau peserta didik yang memerlukan atau yang merasa tidak sesuai antara penetapan peminatan dengan pilihan peminatan peserta didik atau orang tua.

7. Menyelenggarakan pendampingan dalam pembelajaran sesuai dengan peminatan peserta didik dengan memberikan layanan konseling individual, konseling kelompok, bimbingan kelompok, dan bimbingan klasikal.

8. Melakukan evaluasi penyelenggaraan program peminatan dan tindak lanjut untuk pengembangan potensi peserta didik.

9. Menyusun laporan kegiatan penetapan peminatan. Format laporan berisi: judul laporan, nomor urut, nama kegiatan, waktu pelaksanaan, pelaksana, hasil kegiatan, kendala yang dihadapi, kesimpulan dan saran. Laporan diserahkan kepada kepala satuan pendidikan segera setelah selesai kegiatan.

Baca juga: Cara Menghitung Beban Kerja BK di Sekolah

B. Peminatan Dilakukan Setelah dengan PPDB

Peminatan bisa juga dilakukan setelah selesai dilaksanakan PPDM, maka guru BK melakukan kegiatan dalam penetapan peminatan sebagai berikut: 

1. Pemberian informasi dan orientasi kepada peserta didik  tentang macam dan kuota peminatan, mekanisme, komponen yang dipergunakan dalam penetapan, krtiteria penetapan.

2. Menyiapkan dan menggunakan instrumen dan atau format peminatan untuk mengumpulkan data peminatan peserta didik dan orang tua.

3. Mengumpulkan data peminatan peserta didik seperti:  nilai rapor SMP/MTs, nilai Ujian Nasional, pemilihan peminatan dari peserta  didik dengan persetujuan orang tua, dan rekomendasi guru BK SMP/MTs.

4. Melakukan analisis  data, menetapkan, dan mengelompokkan peserta didik pada kelompok peminatan tertentu, serta menempatkan pada kelas tertentu.

5. Memberikan layanan konsultasi kepada orang tua atau peserta didik yang memerlukan atau yang merasa tidak sesuai antara penetapan peminatan dengan pilihan peminatan peserta didik atau orang tua.

6. Menyenggarakan pendampingan dalam pembelajaran sesuai dengan peminatan peserta didik dengan memberikan layanan konseling individual, konseling kelompok, bimbingan kelompok, dan bimbingan klasikal.

7. Melakukan evaluasi penyelenggaraan program peminatan dan tindak lanjut untuk pengembangan potensi peserta didik.

8. Menyusun laporan kegiatan penetapan peminatan. Format laporan berisi tentang: judul laporan, nomor urut, nama kegiatan, waktu pelaksanaan, pelaksana, hasil kegiatan, kendala yang dihadapi, kesimpulan dan saran. 

Format laporan berisi: judul laporan, nomor urut, nama kegiatan, waktu pelaksanaan, pelaksana, hasil kegiatan, kendala yang dihadapi, kesimpulan dan saran. Laporan diserahkan kepada kepala satuan pendidikan segera setelah selesai kegiatan.

Baca Juga: Sistematika Laporan PTK

Peran guru BK dalam membantu peserta didik untuk menentukan peminatan di sekolah sangat besar, karena peminatan peserta didik yang tepat akan menetukan keberhasilan mereka dalam mengikuti pembelajaran dan sukses masa depannya. 

Mengenal Gaya Belajar Peserta Didik dan Instrumennya

Mengenal Gaya Peserta Didik Dan Instrumennya
Gaya Belajar Peserta Didik

Mekanisme dan Strategi Layanan BK di Sekolah

Dalam Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 disebudkan bahwa Bimbingan dan Konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh guru Bimbingan Konseling (BK) untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik untuk mencapai kemandirian dalam kehidupannya.

Agar pelaksanaan layanan bimbingan konseling   dapat terlaksana dengan baik  maka guru bimbingan konseling  dan  kepala sekolah perlu memahami mekanisme pengelolaanya yang dimulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut pengembangan program.

Baca juga: Cara Menghitung Beban Kerja Guru BK Di Sekolah 

Selain itu, guru BK mampu pula memilih strategi yang tepat dalam melaksanakan layanan terhadap peserta didik.Enam  tahapan mekanisme  dan stategi layanan akan dijelaskan dalam  uraian di bawah ini.

A. Mekanisme Layanan Bimbingan dan Konseling 

1. Analisis Kebutuhan 
Langkah pertama yang harus dilakukan guru bimbingan dan konseling sebelum menyusun programnya  adalah melakukan analisis kebutuhan. Program BK   dirancang berdasarkan data dan kebutuhan peserta didik, sekolah dan orang tua.

Maka tugas guru BK dalam analisis kebutuhan adalah melakukan identifikasi dengan berbagai instrumen baik dengan instrumen non tes maupun tes atau dengan fakta, laporan diri, observasi yang diselenggarakan guru BK atau sekolah.

Hasil identifikasi tersebut kemudian dianalisis dan diinterpretasi untuk menentukan skala prioritas layanan bimbingan dan konseling di tahun berjalan.

2. Perencanaan 
Tahap ke dua setelah dilakukan analisis kebutuhan adalah menyusun perencanaan sebagai alat yang berguna untuk merespon kebutuhan yang telah terindentifikasi , menyusun tahapan implementasi, menentukan orang yang bertanggungjawab, jadwal yang dituangkan ke dalam program tahunan, semester, bulan , minguan dan satuan layanan

3. Pelaksanaan 
Pelaksanaan bimbingan dan konseling harus memperhatikan aspek penggunaan data dan penggunaan waktu yang tersebar kedalam kalender akademik.

a. Penggunaan data
Kumpulan data akan memberikan informasi penting dalam pelaksanaan program yang akan diperlukan untuk mengevaluasi program dalam kaitannya dengan kemajuan yang diraih peserta didik atau konseli.

Data dikumpulkan sepanjang proses pelaksanaan bimbingan dan konseling tentang apa yang dikerjakan, apa yang berubah, apa yang perlu ditingkatkan.

Data yang dikumpulkan dikelompokkan menjadi 1) data jangka pendek(data setiap akhir aktivitas); 2) data jangka menengah (data dalam satu periode tertentu misalnya dalam satu semester); dan 3) data jangka panjang yaitu data akhir serangkaian program misalnya program tahunan yang merupakan data hasil seluruh aktivitas dan dampaknya pada perkembangan pribadi , sosial, belajar, dan karir peserta didik.

b. Penggunaan waktu
Proporsi waktu perencanaan dan pelaksanaan setiap komponen dan bidang bimbingan dan konseling harus memperhatikan tingkat satuan pendidikan , kebutuhan peserta didik , jumlah guru BK, dan jumlah peserta didik yang dilayani.

Perhatian pertama diberikan kepada kebutuhan peserta didik sebagai hasil analisis kebutuhan. Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling sekitar (80-85)% waktu untuk pelayanan langsung kepada peserta didik,  sisanya (15-20)% digunakan untuk aktivitas manajemen dan administrasi.

4. Evaluasi 
Kegiatan evaluasi dalam bimbingan konseling merupakan proses pembuatan pertimbangan secara sistematis mengenai keefektifan dalam mencapai tujuan program BK.

Dengan demikian evaluasi merupakan proses sistematis dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang efesiensi, keefektivan, dan dampak dari program dan layananan bimbingan terhadap perkembangan pribadi, sosial belajar, dan karir peserta didik.

Evaluasi berkaitan dengan akuntabilitas yaitu sebagai ukuran seberapa besar tujuan bimbingan dan konseling  telah tercapai.

5. Pelaporan 
Pelaporan hasil pelaksanaan program dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan bagaimana peserta didik berkembang sebagai hasil dari layanan bimbingan dan konseling.

Laporan akan digunakan sebagai program lanjutan untuk menjamin keberhasilan pelaksanaan program selanjutnya. Laporan jangka pendek akan memfasilitasi evaluasi aktivitas program jangka pendek.

Laporan jangka menengah dan jangka panjang akan merefleksikan kemajuan ke arah perubahan dalam diri semua peserta didik.

Isi dan format laporan sejalan dengan kebutuhan untuk menyampaikan informasi secara efektif kepada seluruh pemangku kepentingan, dan menjadi informasi penting kinerja /profesionalitas guru bimbingan konseling. 

6. Tindak Lanjut
Tindak lanjut atas laporan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling digunakan untuk mengambil keputusan berupa tindak lanjut seperti:  apakah program dilanjutkan, direvisi, atau dihentikan. Dapat juga digunakan untuk meningkatkan program atau memperbaiki program untuk mendukung perubahan-perubahan dalam sistem sekolah.

Enam tahapan dalam mekanisme yang diuraikan di atas penting dilakukan guru bimbingan dan konseling secara berurutan setiap tahunnya, sehingga layanan bimbingan dan konseling dapat  memfasilitasi perkembangan peserta didik untuk mencapai kemandirian dalam kehidupannya.

B. Strategi Layanan BK

Strategi layanan bimbingan dan konseling berkenaan dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh guru bimbingan konseling dalam menfasilitasi peserta didik untuk mencapai kemandirian dalam kehidupan.

Baca juga: Strategi Membangun Literasi Di Sekolah 

Strategi layanan bimbingan dan konseling dibedakan atas jumlah peserta didik yang dilayani, jenis dan intensitas masalah yang dihadapi dan cara komunikasi layanan.

1. Strategi layanan bimbingan dan konseling berdasarkan jumlah individu yang dilayani dilaksanakan melalui layanan individual, layanan kelompok, layanan klasikal, atau layanan kelas besar atau lintas kelas.

2. Strategi layanan bimbingan konseling berdasarkan jenis dan intensitas masalah yang dihadapi peserta didik dilaksanakan melalui bimbingan klasikal , bimbingan kelompok, bimbingan individual, konseling individual, konseling kelompok, atau advokasi.

3. Strategi layanan bimbingan konseling berdasarkan cara komunikasi layanan dilaksanakan melalui tatap muka antara guru BK dengan peserta didik, atau menggunakan media tertentu, baik media cetak maupun elektronik seperti: papan bimbingan, kotak masalah, leaflet, website, email, buku, telepon, dan media lainnya.]

Baca juga: 10 Jenis Layanan BK Di Sekolah 

Strategi yang digunakan guru bimbingan dan  konseling sangat tergantung dengan jumlah layanan, jenis masalah, intensitas masalah dan cara komunikasi layanan yang didasarkan kepada data-data yang sebelumnya telah dikumpulkan dan dianalisis.

Bahan Bacaan:
1. Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 Tentang Guru Bimbingan dan Konseling
2. Modul Pengelolan Supervisi Manajerial Tahun 2018  untuk Pengawas Sekolah

10 Jenis Layanan BK Di Sekolah

Keberadaan guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah sangatlah urgen, karena mereka menjadi ujung tombak yang  langsung  terlibat dalam membantu dan melayani peserta didik untuk mengatasi berbagai permasalahan baik secara individu maupun kelompok.

Permasalahan/kesulitan peserta didik yang dimaksud  berkaitan dengan permasalahan dalam   pembelajaran, sosialisasi, pergaulan, tata krama, karakter, kepribadian, perkembangan remaja,  informasi dan lain-lain.

Baca Juga: Cara Menghitung Beban Kerja Guru BK 

Berkaitan dengan hal tersebut maka guru bimbingan dan konseling sedikitnya harus melakukan 10 jenis layanan dalam satu tahun yang dijabarkan lagi kedalam beberapa topik yang berkaitan dengan permasalahan saat ini kemudia di tuangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL). Adapun 10 layanan yang harus dilaksanakan guru BK adalah sebagai berikut:


1.Layanan Orientasi

Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinkan peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah, budaya sekolah, ruang lingkup  yang dipelajari untuk mempermudah dan memperlancar perannya sebagai peserta didik dilingkungan yang baru.

Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.

2. Layanan Informasi

Layanan informasi adalah layanan yang memungkinkan peserta didik menerima dan memamahami berbagai imnformasi seperti : informasi diri, sosial, belajar, pergaulan , karier, pendidikan lanjutan.

Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajarmaupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi ini juga berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.

3. Layanan Pembelajaran

Layanan pembelajaran merupakan layanan yang memungkinkan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam mengusai materi belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemempuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.

Tujuan layanan pembelajaran  adalah  agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik produktif. Layanan ini berfungsi untuk pengembangan.

4. Layanan Penempatan dan Penyaluran

Layanan penempatan dan penyaluran merupakn layanan yang memungkinkan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, programn latihan, magang, kegiatan kokurikuler/ekstrakurikuler sesuai dengan potensi , bakat, minat serta kondisi pribadinya. Tujuan layanan ini agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat, minat, dan segenap potensi lainnya. Layanan penempatan dan penyaluran berfungsi untuk pengembangan.

5. Layanan Penguasaan Konten

Layanan penguasaan konten merupakan layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terutama kompetensi dan kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.

6. Layanan Konseling Perorangan

Layananan konseling perorangan merupakan layanan yang memungkinkan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka secara perorangan dengan guru BK untuk membahas dan mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya.

Tujuan layanan perorangan ini adalah agar peserta didik dapatr dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya . Layanan ini berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

7. Layanan Bimbingan Kelompok

Layanan bimbingan kelompok merupakan layanan yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan tertentu yang menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, baik secara individu maupun sebagai pelajar , kegiatan belajar , karir/jabatan, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan ini berfungsi untuk pemehaman dan pengembangan.

8. Layanan Konseling Kelompok

Layanan konseling kelompok merupakan layanan yang memungkinkan peserta didik  (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok.

Masalah yang dibahas itu adalah masalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok. Layanan konseling kelompok berfungsi untuk pengentasan advokasi.

9. Layanan Konsultasi

Layanan konsultasi merupakan layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan masalah peserta didik.

Pengertian konsultasi yang dimaksud adalah sebagai proses penyediaan bantuan teknis untuk konselor, orang tua, administrator dan konselor lainnya dalam mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang membatasi aktivitas peserta didik atau sekolah konseling  atau fisioterapi sebab konsultasi tidak merupakan layanan yang lansung ditujukan kepada klien, tetapi secara tidak langsung melayani klien melalui bantuan yang diberikan orang lain.

10. Layanan Mediasi

Layanan mediasi merupakan layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan ataupun perselisihan dan memperbaiki hubungan antar peserta didik dengan konselor sebagai mediator.

Layanan-layanan di atas dapat dijabarkan ke bentuk-bentuk layanan yang lebih konstektual kemudian disusun Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) seperti :

-RPL : Menyontek penyebab dan solusinya
-RPL : Pilihan karir setelah lulus SMSA
-RPL : Kepribadian manusia
-RPL : Membimbing persahabatan sejati
-RPL : Profesi pekerjaan dalam meningkatkan taraf hidup
-RPL : Kenakalan remaja dan cara menghindarinya
-RPL : Komunikasi efektif
-RPL : Kesehatan reproduksi remaja
-RPL : Bahaya narkoba dan dampaknya
-RPL : Kiat sukses studi lanjut ke perguruan tinggi
-RPL : Etika pergaulan dengan teman sebaya
-RPL : Sikap sopan santun dalam kehidupan
-RPL : Perilaku sosial yang bertanggungjawab
-RPL: Kiat sukses masuk dalam dunia kerja
-RPL: Mental Disorder

Dan banyak lagi kondisi ke kinian yang perlu bantuan terhadap peserta didik dalam memenuhi pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan layanan dari guru bimbingan konseling.

Contoh-contoh  RPL dengan judul di atas keseluruhan  dapat Unduh DISINI

Cara Menghitung Beban Kerja Guru BK Di Sekolah


Sampai saat ini beberapa sekolah masih mengalami kesulitan dalam menghitung beban kerja guru BK yang ada disekolahnya.

Ada yang menghitung berdasarkan jam tatap muka 2 jam per kelas, ada pula menggunakan pola lama dengan 150 orang peserta didik yang diampu setara dengan 24 jam  dan  apabila kurang dari 150 maka ditambah dengan kegiatan ekstra kurikuler.

Namun jika lebih 150 orang lansung dihitung kelebihan proporsional tanpa memperhitungkan jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar. 

Berdasarkan fakta lapangan ini maka dalam tulisan ini diuraikan bagaimana cara yang tepat dalam menghitung beban kerja guru BK dan bagaimana menghitung kekurangan dan kelebihan beban kerjanya.

Untuk memudahkan memahami  topik tersebut ada baiknya  terlebih dahulu  memahami  konsep dan pelaksanaan tugas guru bimbingan konseling di sekolah.

Baca juga:10 Jenis Layanan BK Di Sekolah

A. Konsep dan Pelaksanaan Tugas Guru BK

Dalam Permendikbud Nomor 111 tahun 2014 dinyatakan bahwa Guru Bimbingan dan Konseling (BK) adalah pendidik yang berkualifikasi akademik minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling dan memiliki kompetensi di bidang Bimbingan dan Konseling. 

Bimbingan dan Konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh guru BK untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik untuk mencapai kemandirian dalam kehidupannya.

Dalam melaksanakan tugas  layanan bimbingan dan konseling seorang  guru BK menyelenggarakan di dua tempat yaitu  di dalam kelas dan  di luar kelas.  

Layanan bimbingan yang diselenggarakan  di dalam kelas meliputi aspek perkembangan pribadi, sosial, belajar dan karir dalam kerangka pencapaian perkembangan optimal peserta didik dan tujuan pendidikan nasional. 

Durasi waktu untuk layanan dalam kelas dilakukan  2 ( dua) jam perminggu untuk semua kelas  secara rutin dan terjadwal.

Layanan bimbingan dan konseling dalam kelas bukan merupakan mata pelajaran  tapi  kebutuhan layanan bagi peserta didik yang bersifat pencegahan , perbaikan, penyembuhan dan pemeliharaan secara klasikal.  

Sedangkan  tugas yang diselenggarakan di luar kelas dihitung berdasarkan jumlah jenis kegiatan layanan bimbingan dan konseling  (22 jenis kegiatan) , meliputi konseling individual, konseling kelompok, bimbingan kelompok, bimbingan kelas besar atau lintas kelas, konsultasi, konferensi kasus, kunjungan rumah (home visit), advokasi, alih tangan kasus, pengelolaan media informasi yang meliputi website dan/atau leaflet dan/atau papan bimbingan dan konseling, pengelolaan kotak masalah,dan lain-lain dimana setiap kegiatan layanan disetarakan (ekivalensi) dengan beban belajar rata-rata  2 (dua) jam per minggu seperti diuraikan di berikut ini.  

B. Cara Menghitung Beban Kerja guru BK  

Dasar hukum yang digunakan untuk menghitung beban kerja guru BK(versi terbaru) adalah  permendikbud Nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan Konseling  Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah. 

Beban kerja seorang Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling tetap dihitung berdasarkan jumlah peserta didik yang dibimbing bukan berdasarkan jam tatap muka dalam kelas. Adapun cara menghitungnya sebagai berikut: 

1. Standar minimal beban kerja guru BK adalah mengampu peserta didik antara 150 – 160 orang  ekuivalen dengan  24 jam pembelajaran (setara beban kerja minimal guru mata pelajaran)  

2. Guru BK yang mengampu 150 peserta didik sampai dengan guru yang mengampu 160 peserta didik dihitung sama yaitu setara dengan 24 jam (ekivalen 24 tatap muka) 

3. Guru BK yang mengampu lebih dari 160 ke atas peserta didik dapat dihitung beban kerjanya melebihi 24 jam dengan perhitungan sebagai berikut: 

a. Kelebihan dari 160 yang diampu dihitung berdasarkan jumlah rombel/kelas  bukan berdasarkan jumlah peserta didik  

b. Dapat dihitung kelebihan penambah ke 24 jam jika kelas tersebut memenuhi standar minimal 32 per kelas . Apabila kurang dari 32 orang maka tidak dapat dihitung kelebihan dari 24 jam. 

c. Satu rombongan belajar yang memenuhi paling sedikit 32 orang peserta didik,  dapat dihitung setara 2 jam beban kerja 

Contoh :
Guru A mengampu 158 peserta didik , maka beban kerjanya di hitung  setara 24 jam 

Guru B mengampu 190 peserta didik , lebih (190-160) = 30 maka beban kerjanya masih  ekivalen  24 jam , dengan alasan  kelebihan jumlah peserta didik  belum cukup 32 orang (belum dapat dihitung 1 rombel)

Guru C mengampu 202 orang , lebih (210-160) = 50, ekivalen 24 jam + 2 jam = 26 jam
18 orang tidak di hitung kelebihan  karena belum cukup 1 rombel 

4. Apabila jumlah peserta didik yang diampu  kurang dari 150 maka untuk mengetahui kekurangan beban kerja digunakan rumus perhitungan :

Kekurangan Beban Kerja  = JSA/160 x 24 jam
JSA = 150 - Jumlah  yang diampu

Contoh:
Jumlah peserta didik diampu guru BK = 90 Untuk memenuhi persyaratan jumlah minimal dihitung JSA = 150-90 = 60
Kekurangan beban  kerja yang harus dipenuhi : 60/160 x 24 = 9 jam 
Maka untuk memenuhi 9 jam dilakukan layanan bimbingan diluar kelas

C. Jenis Kegiatan guru BK di luar kelas yang dapat diekivalensikan dengan beban kerja penambah jam minimal

1. Konseling individual  untuk satu pertemuan dengan durasi 40 menit untuk SMP dan 45 menit untuk SMA ekivalen dengan 2 jam pelajaran .

2. Konseling kelompok untuk satu pertemuan dengan durasi 40 menit untuk SMP dan 45 menit untuk SMA setara dengan 2 jam pelajaran 

3. Bimbingan kelompok untuk satu kali pertemuan  selama 40 mnenit untuk SMP dan 45 menit untuk SMA setara dengan 2 jam pelajaran

4. Bimbingan klasikal untuk satu kali pertemuan 80 menit untuk SMP dan 90 menit untuk SMA setara dengan 2 jam pelajaran

5. Bimbingan kelas besar atau lintas kelas  untuk stu kali pertemuan dengan durasi 100-120meit setara dengan 3 jam pelajaran
.
6. Konsultasi untuk 2 kali pertemuan dengan waktu kurang lebih 20 menit setara dengan 1 jam pelajaran

7. Kolaborasi guru dengan 1 guru bidang studi dan 1 kali pertemuan setara dengan 1 jam pelajaran

8. Kolaborasi dengan 1 orang tua  dari 1 orang peserta didik setara dengan 1 jam pelajaran sedangkan pertemuan dengan orang tua dari  1 kelas peserta didik dihitung setara dengan 2 jam 

9. Kolaborasi dengan ahli lain untuk 1 orang ahli dan satu kali pertemuan setara dengan 1 jam pelajaran 

10. Kolaborasi dengan lembaga lain, untuk 1 lembaga dan 1 kali pertemuan dihitung setara dengan 2 jam pelajaran

11. Konfrensi kasus untuk satu kali konfrensi kasus setara dengan 2 jam pelajaran

12. Kunjungan rumah (home visit) , untuk satu kali kunjungan dengan durasi waktu 40 – 60 menit bertemu langsung dengan orang tua setara dengan 1 jam pelajaran 

13. Layanan advokasi untuk satu kali pertemuan setara dengan 1 jam pelajaran 

14. Pengelolaan papan bimbingan untuk 1 karya dengan 1 kali dalam 10 sampai 15 hari dihitung setara dengan 2 jam pelajaran

15. Pengelolaan kotak masalah untuk 1 masalah dengan 1kali pertemuan dihitung setara dengan 1 jam pelajaran

16. Pengelolaan leaflet untuk 1 karya dengan 1 kali cetak dihitung setara dengan 2 jam pelajaran

17. Pengembang media BK untuk 1 karya dengan 1 kali pertemuan dihitung setara dengan 2 jam pelajaran

18. Kegiatan tambahan misalnya sebagai pembina ekstrakurikuler , wali kelas, instruktur dan lain-lain tidak dihitung sebagai beban kerja , namun dapat dihitung tugas tambahan dalam naik pangkat.  

19. Melaksanakan dan menindaklanjuti assessment kebutuhan yang sudah diprogramkan setara dengan 2 jam pelajaran

20. Menyusun dan melaporkan program kerja setiap tahun tidak dihitung sebagai beban kerja tetapi harus dilakukan

21. Membuat evaluasi pelaksanaan program tidak dihitung sebagai beban kerja tetapi harus dilakukan

22. Melaksanakan administrasi dan manajemen bimbingan konseling setiap minggu setara dengan 1 jam pelajaran

Tugas seperti diuraikan di atas dikerjakan diluar kelas dan   harus ada bukti fisik agar dapat dihitung sebagai beban kerja bagi seorang guru Bimbingan Konseling (BK).

Dengan adanya tugas-tugas yang dikerjakan guru BK di luar kelas yang dapat digunakan untuk menutupi kekurangan beban kerja  hingga tercapai beban kerja minimal 24 jam termasuk disekolah kecil sekalipun.

Perlu di ingat tugas tambahan berupa kegiatan ekstrakurikuler yang ditugaskan  kepada guru BK tidak dapat dihitung jam nya untuk memenuhi 24 jam tatap muka, namun dapat digunakan untuk tugas tambahan dalam perhitungan angka kredit.

Sekolah diharapkan membenahi manajemen pelaksanaan tugas guru Bimbingan dan Konseling sesuai dengan aturan serta  menfasilitasi sehingga guru BK dapat melakukan layanan bimbingan yang prima kepada semua peserta didik yang bermuara sukses belajar. Semoga

Cara Melaksanakan Program Induksi Di Sekolah

Bahan Bacaan:
1. Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 Tentang Guru Bimbingan dan Konseling
2. Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses