Kegiatan Observasi dan Refleksi Dalam PTK

A. Kegiatan Observasi 

Kegiatan  dan pencatatan semua aktivitas PTK dilakukan bersamaan dengan saat pelaksanaan (tindakan) . Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.

Pada tahapan ini, apabila si peneliti (guru)  bertindak sekaligus observer maka pada saat melakukan tindakan juga harus melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan semua yang  terjadi selama pekasanaan tindakan berlangsung.

Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian yang telah disusun. Termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan, dari waktu ke waktu dan dampaknya terhadap proses dan hasil pengamatan yang dilaksanakan.

Jika si peneliti didampingi oleh seorang observer maka tugas melakukan pengamatan ini dilakukan observer secermat mungkin dengan menggunakan format instrument yang telah disediakan sebelumnya.

Beberapa format yang harus ada dan dilampirkan sebagai bagian dari proses pengumpulan data, antara lain:
1) Lembar pengamatan
2) Lembar hasil kerja siswa.
3) Lembar penilaian kinerja kelompok
4) Lembar informasi balikan peserta
5) Jurnal

Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, hasil kuis, presensi, nilai tugas, dan lain-lain) tetapi juga data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusias mereka, mutu diskusi yang dilakukan, dan lain-lain.

Instrumen yang umum dipakai dalam PTK adalah: (a) soal tes, (b) kuis, (c) rubrik, (d) lembar observasi, dan (e) catatan lapangan yang dipakai untuk memperoleh data secara obyektif yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi, misalnya aktivitas selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau petunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.

Data yang dikumpulkan hendaknya dicek untuk mengetahui keabsahannya. Berbagai teknik dapat dilakukan untuk tujuan ini, misalnya teknik triangulasi atau cross check, membandingkan data yang diperoleh dengan data lain, atau kriteria tertentu yang telah baku, dan lain sebagainya.

Data yang telah terkumpul memerlukan analisis untuk dapat mempermudah penggunaan maupun dalam penarikan kesimpulan. Untuk itu berbagai teknik analisis statistika dapat digunakan. Namun umumnya dalam PTK cukup memakai analisis statistik deskriptif bukan analisis statistik inferensial.

Bagaimana hubungan indikator keberhasilan dengan kegiatan pengamatan? Kegiatan pengamatan pada hakikatnya dilakukan untuk mengumpulkan data yang setelah dianalisis dapat mengetahui apakah tujuan PTK tercapai atau belum. Sebagai penanda atau petunjuk bahwa tujuan telah tercapai adalah indikator penelitian.

Untuk itu sangat penting untuk menjabarkan terlebih dahulu indikator sebuah penelitian Indikator inilah yang memberi petunjuk atau ukuran bahwa penelitian tersebut sudah mencapai tujuan  dari kegiatan PTK.

Oleh karena itu indikator PTK yang dirumuskan harus terukur. Dengan tercapainya indikator maka sipeneliti dapat memutuskan bahwa tindakan yang dilakukan sudah dapat dihentikan (stop).

BACA JUGA: CARA MEMBUAT LAPORAN BEST PRACTICE GURU

B. Kegiatan Refleksi 

Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasar data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya.

Refleksi merupakan kegiatan merenungkan, mencermati hasil analisis data apakah tindakan yang sudah terlaksana sesuai perencanaan, dan dimana letak kelemahan yang harus diperbaiki pada siklus berikutnya.

Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi (Hopkins, 1993).

Demikianlah kegiatan observasi dan refleksi dalam pelaksanaan sebuah Penelitian Tindakan Sekolah (PTK).

“Selamat Datang AKM Dan Selamat Tinggal UN”

Salah satu arah  kebijakan baru dalam bidang pendidikan sebagai wujud  merdeka belajar yang mulai dilaksanakan tahun 2021 adalah Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) dan Survei Karakter (SK) yang mengantikan Ujian Nasional (UN).
]
Masa Ujian Nasional  sudah hampir habis tinggal menunggu waktu di bulan April 2020.  Walaupun belum ada regulasi secara resmi tentang AKM dan SK namun arah untuk perubahan itu sudah hampir pasti karena sudah dimulai sosialisasi dikalangan kepala dinas pendidikan  dan tenaga pendidik lainnya pada bulan Desember 2019.  Bahkan soal-soal AKM  sudah mulai diperkenalkan kepada guru mata pelajaran melalui media oline.

Alasan utama  sehingga  UN akan diganti dengan AKM  dan SK  ada beberapa hal yaitu:
  1. Materi Ujian Nasional UN dirasakan  terlalu padat sehingga siswa dan guru cenderung menguji penguasaan konten,bukan kompetensi penalaran
  2. Ujian Nasional dianggap menjadi beban bagi siswa, guru, dan orang tua  karena UN digunakan menjadi indikator keberhasilan siswa  sebagai individu dimana ujian nasional seharusnya berfungsi untuk pemetaan mutu  sistem pendidikan nasional, bukan penilaian siswa
  3. Ujian Nasional cenderung hanya menilai aspek kognitif dari hasilbelajar, belum menyentuh karakter siswa secara menyeluruh, pada hal karakter siswa sangat berpengaruh kepada keberhasilannya di kemudian hari. 
  4. Kurikulum 2013 yang kita gunakan adalah kurikulum yang berbasis  kompetensi maka  perlu asesmen yang lebih holistik ntuk  mengukur kompetensi peserta didik 
  5. Berdasarkan hal tersebut  di atas,  Kemendikbud  melihat bahwa sistem penilaian di satuan pendidikan perlu diselaraskan dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 khususnya pasal 58 ayat 1) dan 2)  serta kesesuain dengan kurikulum yang saat ini digunakan. 
A. Asesmen Kompetensi Minimal (AKM)

Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) adalah alat ukur  yang mengukur kemampuan minimal yang dibutuhkan para siswa untuk mempelajari materi lain. Kemampuan yang dimaksud mencakup kemampuan literasi dan numerasi ( analisa suatu bacaan untuk memahami konsep dan analisa angka-angka) .

Kata minimal diartikan bahwa  tidak semua konten di dalam kurikulum diukur di dalam AKM, akan tetapi yang diukur adalah keterampilan dasar yaitu  literasi dan numerasi.
Adapun fungsi AKM  adalah untuk memetakan sekolah-sekolah dan daerah-daerah berdasarkan kompetensi minimal yang ditentukan.

Dengan kata lain fungsi AKM bukan digunakan sebagai laporan hasil belajar kognitif dan keterampilan kepada orang tua peserta didik seperti selama ini, akan tetapi memetakan kompetensi minimal antar sekolah dan daerah.

AKM juga tidak  dilaporkan secara individu seperti rapor yang diterima peserta didik sekarang, namun berupa laporan agregat yang fokus kepada peningkatan internal dari waktu kewaktu sehingga bukan komparasi kelompok.

Ditinjau dari segi pelaksanaan AKM tidak dilaksanakan diakhir jenjang akan tetapi dilaksanakan di kelas 4 SD, kelas 8 SMP dan kelas 11 SMA/SMK, dengan tujuan untuk memberikan waktu bagi peserta didik dan sekolah melakukan perbaikan sebelum lulus dari jenjang sekolah tersebut.

Materi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) mencakup literasi dan numerasi . Literasi dan numerasi bukan mata pelajaran bahasa atau matematika, melainkan kemampuan menggunakan konsep   untuk menganalisis sebuah materi.

1. Literasi 

Literasi merupakan kemampuan bernalar dengan menggunakan bahasa, kemampuan menganalisa suatu bahan bacaan (teks) dan memahami konsep-konsep untuk dapat digunakan memahami materi  lain.

Dengan demikian literasi bukan sekedar keterampilan membaca akan tetapi kemampuan bernalar tentang teks dan angka. Materi literasi nantinya akan diperluas menurut jenisnya seperti:  literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital,, literasi financial dan  literasi budaya dan kewargaan.

Sebagai contoh  dalam  aspek kompetensi membaca dikategorikan menjadi tiga jenis yang mencakup kemampuan mengungkapkan kembali informasi (retrieving Information), mengembangkan interpretasi (developing an interpretation),merefleksikan dan mengevaluasi teks.

2. Kemampuan Numerik 

Merupakan kemampuan bernalar dengan menggunakan matematika. Pengetahuan dan kecakapan untuk: menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari, dan menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.)

Kemudian menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan.Numerasi yang dimaksud mencakup Bilangan, Operasi dan perhitungan, Geometrid an pengukuran dan Pengolahan data

Menurut Kemendikbud bahwa soal AKM menyerupai soal  PISA ( Programme for International Student Assesment)  merupakan studi international tentang penilaian prestasi literasi membaca, matematika, dan sains peserta didik berusia 15 tahun yang dikoordinasikan  oleh OFCD ( Organisation for Economic Cooperation and Development) yang berkedudukan di Paris.

Menurut rencana pelaksanaan AKM juga akan melibatkan kerjasama dengan OFCD sehingga pelaksanaan AKM dapat menjamin peningkatan mutu.

B. Survey Karakter  (SK)

Survey Karakter (SK) adalah survey yang dilakukan untuk mengukur kondisi ekosistem sekolah lingkungan belajar yang lebih bersifat sosial emosional, serta kualitas proses belajar-mengajar di tiap sekolah sebagai implementasi nilai-nilai dari Pancasila seperti,  bagaimana karakter gotong royong berjalan disekolah, apakah toleransi sudah terlaksana dengan baik, kebhinnekaan di sekolah,  apakah peserta didik senang dan merasa bahagia dalam belajar maupun berada dilingkungan sekolah dan lain-lain

BACA JUGA: KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS

Untuk dapat mewujudkan AKM dan SK tentu saja bukan hal mudah sebab sistem penilaian yang kita gunakan selama ini sudah terpola dan mengakar yang sulit dirombak, misalnya pihak orang tua yang selama ini sudah terbiasa melihat nilai rapor anaknya dengan rasa kepuasan tersendiri ternyata tidak dapat lagi mereka lihat , guru yang telah terbiasa merancang soal untuk ulangan dan ujian akan menghadapai situasi baru dengan instrument survey dan sebagainya.

Agar hal-hal seperti tidak menjadi kendala maka mulai sekarang guru dan orang tua sudah harus dimulai untuk sosialisasinya. Semoga kebijakan baru ini dapat meningkatkan kualitas dan karakter anak bangsa dimasa depan. Mari kita sambut dengan baik kebijakan ini “Selamat Datang AKM dan SK  2021”


Tata Cara Pendaftaran KIP Kuliah

Ibarat kata pepatah " Dimana ada kemauan disitu ada jalan" . Bagi peserta didik  yang memiliki potensi akademik yang ingin melanjutkan kuliah diperguruan tinggi tahun 2020 namun ekonomi tidak mendukung pemerintah telah menyediakan  pendanaan  melalui  KIP Kuliah.

Kartu Indonesia Pintar Kuliah biasa disebut KIP kuliah  merupakan bantuan biaya pendidikan dari pemerintah bagi lulusan SMA atau sederajat yang memiliki potensi akademik, tetapi mengalami keterbatasan ekonomi di jenjang perguruan tinggi.

Peserta didik yang memenuhi   kualifikasi di atas dan ingin melanjutkan kuliah ke Perguruan tinggi dapat mendaftar menjadi penerima KIP Kuliah  dimulai  awal Maret 2020. Proses pendaftaran dilakukan peserta didik tersebut secara online melalui laman resmi Kemendikbud, yakni kip-kuliah.kemdikbud.go.id. 

Lulusan SMA atau sederajat (Calon mahasiswa baru) dari keluarga tidak mampu tapi tidak memiliki KIP atau orang tuanya belum terdaftar sebagai penerima Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), masih bisa menerima KIP Kuliah.

Syaratnya, mereka harus lolos proses seleksi dan verifikasi kondisi ekonomi yang dilaksanakan oleh perguruan tinggi terkait.

Pendaftaran peserta KIP Kuliah juga terbuka bagi calon mahasiswa baru yang hendak mendaftar ke perguruan tinggi melalui Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN).

Khusus bagi calon mahasiswa baru yang membutuhkan dukungan KIP Kuliah dan ingin mendaftar SNMPTN, dapat mendaftar ke laman KIP Kuliah terlebih dulu guna memperoleh nomor pendaftaran dan kode akses. Pendaftaran dapat dilakukan pada awal Maret hingga 31 Maret 2020. 

Sedangkan  calon mahasiswa baru yang tidak membutuhkan dukungan KIP Kuliah dan ingin mendaftarSNMPTN dapat melakukan pendaftaran pada 14 sampai 27 Februari 2020.

A. Tahapan Pendaftaran KIP Kuliah Tahun 2020
  1. Siswa dapat langsung melakukan pendaftaran secara mandiri di web Sistem KIP Kuliah pada laman kip-kuliah.kemdikbud.go.id atau melalui KIP Kuliah mobile apps*;
  2. Pada saat pendaftaran, siswa memasukkan NIK, NISN, NPSN dan alamat email yang valid dan aktif;
  3. Sistem KIP Kuliah selanjutnya akan melakukan validasi NIK, NISN dan NPSN serta kelayakan mendapatkan KIP Kuliah**;
  4. Jika proses validasi berhasil, Sistem KIP Kuliah selanjutnya akan mengirimkan Nomor Pendaftaran dan Kode Akses ke alamat email yang didaftarkan;
  5. Siswa menyelesaikan proses pendaftaran KIP Kuliah dan memilih jalur seleksi yang akan diikuti (SNMPTN/SBMPTN/SMPN/UMPN/Mandiri);
  6. Selanjutnya, Siswa menyelesaikan proses pendaftaran di portal atau sistem informasi seleksi nasional masuk perguruan tinggi sesuai jalur seleksi yang dipilih. Sebelum Sistem Pendaftaran KIP Kuliah dibuka, siswa dapat melakukan pendaftaran terlebih dahulu di portal atau sistem informasi seleksi nasional (seperti SNMPTN dan SNMPN). Proses sinkronisasi dengan sistem tersebut akan dilakukan kemudian dengan skema host-to-host. 
  7. Bagi calon penerima KIP Kuliah yang telah dinyatakan diterima di Perguruan Tinggi, dapat dilakukan verifikasi lebih lanjut oleh Perguruan Tinggi sebelum diusulkan sebagai calon mahasiswa penerima KIP Kuliah.
** NIK digunakan untuk memperoleh informasi tentang sosial ekonomi di Data Terpadu Kesenjangan Sosial (DTKS) Kemensos. Siswa yang tidak/belum terdaftar di DTKS harus melengkapi data ekonomi dan aset.

B. Syarat Pendaftaran KIP Kuliah

Persyaratan untuk mendaftar Program KIP Kuliah Tahun 2020 adalah sebagai berikut:
  1. Penerima KIP-KULIAH adalah siswa SMA atau sederajat yang lulus atau akan lulus pada tahun berjalan atau telah dinyatakan lulus maksimal 2 tahun sebelumnya, serta memiliki NISN, NPSN dan NIK yang valid;
  2. Memiliki potensi akademik baik tetapi memiliki keterbatasan ekonomi yang didukung bukti dokumen yang sah;
  3. Siswa SMA/ SMK/ MA atau sederajat yang lulus  pada tahun berjalan  dengan  potensi akademik baik dan mempunyai Kartu KIP;
  4. Siswa SMA/ SMK/ MA atau sederajat yang lulus  pada tahun berjalan  dengan  potensi akademik baik dan mempunyai Kartu Keluarga  Sejahtera;
  5. Lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru, dan diterima di PTN atau PTS pada Prodi dengan Akreditasi A atau B, dan dimungkinkan dengan pertimbangan tertentu pada Prodi dengan Akreditasi C.
C. Keunggulan KIP Kuliah

Beberapa  keunggulan  KIP Kuliah:
  1. Jumlahnya lebih banyak dari Bidikmisi yakni lebih dari 400.000 orang untuk tahun 2020. (bidikmisi 2019 130.000 beasiswa)
  2. Lebih banyak memberi akses kepada Pendidikan vokasi
  3. Sistem terintegrasi dengan Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar di Perguruan Tinggi.
  4. KIP Kuliah terbagi menjadi 2 kekompok yaitu KIP Kuliah dan KIP Kuliah Afirmasi 
  5. KIP Kuliah Afirmasi, antara lain meliputi Bantuan Biaya Program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) untuk ADik Papua, ADik Papua Barat dan ADik 3T.
Sumber Tulisan : kip-kuliah.kemdikbud.go.id

Strategi Pembelajaran HOTS

Istilah HOTS bukan lagi istilah baru bagi kalangan guru karena selalu dikaitkan dengan penilaian misalnya setiap penyusunan soal atau tes guru selalu dianjurkan agar soal yang disusun diarahkan kedalam bentuk  soal HOTS .

Hal ini bisa saja dilakukan oleh guru, namun perlu dikritisi apakah selama ini pembelajaran yang dilakukan sudah HOTS, karena tidaklah seimbang jika peserta didik diminta mengerjakan soal bentuk HOTS, namun mereka tidak dibelajarkan atau dibiasakan belajar dengan cara pembelajaran HOTS.

Pertanyaannya apa yang dimaksud pembelajaran HOTS ? dan bagaimana cara yang harus dilakukan guru agar pembelajaran yang dilakukannya memenuhi pembelajaran HOTS.

Baca Juga: Bagaimana Membuat RPP HOTS

Untuk menjawab pertanyaan di atas penulis mencoba menguraikan strategi atau  yang dapat dilakukan guru agar pembelajaran menjadi HOTS.

A. Pengertian pembelajaran HOTS

Pembelajaran HOTS adalah pembelajaran yang dirancang dan dilakukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik agar memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS).

Sedangkan Keterampilan berfikir tingkat tinggi dapat diartikan sebagai  kemampuan peserta didik untuk menghasilkan pengetahuan baru melalui kemampuan menyelesaikan masalah, mempelajari sesuatu yang baru berdasarkan hasil belajar yang dimilikinya (transfer of learning), berpikir kreatif (creative thinking) dan kreatif (creativity).

Selain itu jika ditinjau dari proses kognitif (Revisi Taxonomi Bloom oleh Anderson), maka pembelajaran HOTS adalah pembelajaran yang menggiring peserta didik untuk melakukan dan memiliki kemampuan menganalisis(C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6)

Secara umum penerapan model pembelajaran yang disarankan dalam kurikulum 2013 seperti penerapan model pembelajaran Problem Based Learning(PBL),Projec Based Learning ( PjBL), Inquiry Learning(IL), Discovery Learning (DL) dan beberapa jenis Coperative Learning (CL) sudah mengarah kepada pembelajaran HOTS, namun perlu ada penekanan khusus sehingga terfokus kepada tuntutan terhadap proses dan hasil belajar yang diharapkan.

B. Tujuan Pembelajaran HOTS

Adapun tujuan/manfaat  pembelajaran  HOTS adalah sebagai berikut:
  1. Dapat menstimulasi siswa berpikir tentang sebuah kasus. Misalnya, tugas siswa dalam menjawab pertanyaan tentang cerita yang ditujukan bukan untuk mengingat isi cerita, tetapi pertanyaan yang menstimulasi siswa untuk berpikir tentang cerita tersebut;
  2. Menuntut siswa untuk mampu memecahkan masalah kontekstual dengan memberikan alasan yang jelas, target yang akan dicapai serta mampu menunjukan bukti pendukung;
  3. Mengembangkan kreativitas dan inovasi.
  4. Menyiapkan siswa menghadapi perubahan yang sangat dinamis.
  5. Melatih siswa untuk menginterpretasi pemecahan masalah kontektual sesuai dengan pemahaman siswa, berdasarkan hasil analisis yang dilakukan.
C. Kemampuan dan Strategi yang Dalam pembelajaran HOTS 

1. Kemampuan Menganalisis 
Yang dimaksud dengan kemampuan menganalisis adalah kemampuan yang ditandai:
  • Mencari informasi.
  • Menguraikan informasi tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih rinci.
  • Menggali keterkaitan antar bagian tersebut.
  • Menyajikan jawaban.
  • Mengolah bagian-bagian tersebut dengan cara yang logis, berdasar pada pemikiran tertentu.
Agar kemampuan diatas dapat diperoleh maka Strategi Pembelajaran HOTS yang dapat dilakukan:
  • Guru memberikan stimulus seperti pernyataan, masalah, kebijakan, penelitian, percobaan dan hasilnya.
  • Guru menanyakan inti bacaan/wacana/teks/stimulus.
  • Guru menanyakan kriteria untuk melihat masalah tersebut terkait kualitas, benar/salahnya, ada tidaknya, argumentasi atau kesimpulan yang diberikan.
2. Kemampuan Mengevaluasi 
Kemampuan mengevaluasi terlihat ketika  peserta didik telah memiliki:
  • Kemampuan memberikan penilaian atau pertimbangan atas sesuatu. 
  • Membandingkan penilaian dengan kriteria yang ditetapkan.
  • Mengevaluasi bukan pilihan yang sifatnya pribadi (subjektif), tetapi didasarkan pada penilaian bernalar, yaitu berdasarkan bukti dan logika yang baik.
Strategi Pembelajaran HOTS yang dilakukan:
  • Guru memberikan beberapa bahan dan meminta siswa untuk memberikan penilaian terhadap bahan itu sesuai tujuan pembelajaran.
  • Siswa diminta merumuskan kriteria/acuan.
  • Siswa dilatih menyimpulkan menggunakan bukti pendukung dari stimulus yang dberikan.
3. Kemampuan Mencipta 

Kemampuan mencipta dapat terlihat ketika peserta didik mampu mengorganisir hal-hal yang tidak sama menyatu dengan cara atau susunan yang baru, atau menyusun ulang hal yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru , atau memberikan alternatif untuk menyelesaikan /mengerjakan sesuatu.

Strategi Pembelajaran HOTS yang dilakukan:
  • Guru bisa menberikan tugas ke siswa untuk memecahkan masalah sehingga siswa mencari serangkaian solusi atas masalah, merencanakan serangkaian langkah untuk mencapai tujuan, atau menghasilkan sesuatu yang baru.
  • Mensintesa konsep, yang bersumber dari beberapa sumber belajar.
4. Kemampuan Penalaran dan Logika 

Peserta didik dikatakan telah memiliki kemampuan penalaran dan logika apabila mampu:
  • Deduksi: kemampuan menarik kesimpulan dari suatu pokok pikiran bersifat umum disertai kasus-kasus
  • Induksi: menarik kesimpulan berdasarkan data-data, kasus-kasus, contoh-contoh khusus, dan bagian-bagian informasi untuk menarik kesimpulan atau menarik suatu pokok pikiran.
  • Analogi: kemampuan membaca pola dalam data atau bukti lain.
Strategi Pembelajaran HOTS yang dilakukan:
  • Guru meminta siswa untuk menuliskan contoh-contoh sesuai dengan konsep tertentu.
  • Guru meminta siswa untuk membuat contoh-contoh sesuatu, lalu membuat generasisasi.
5. Kemampuan Pemecahan Masalah (Problem Solving) 

Peserta didik dikatakan memiliki kemampuan pemecahan masalah, apabila dalam kekiatan pembelajaran mampu:
  • Mengidentifikasi masalah.
  • Mengidentifikasi ketidakrelevanan.
  • Menjelaskan dan mengevaluasi berbagai strategi.
  • Membuat model masalah.
  • Menentukan penyelesaian masalah.
Strategi Pembelajaran HOTS yang dilakukan:
  • Guru memberikan masalah kepada siswa, dan meminta siswa menyelesaikan maslah tersebut sesuai dengan langkah-langkah yang diberikan.
  • (2) Guru melakukan evaluasi terhadap kinerja siswa dan memberikan umpan balik terhadap pekerjaan siswa.
6. Kemampuan Kreativitas dan Berpikir Kreatif 

Peserta didik dikatakan telah memiliki kreativitas dan berfikir kreatif ditandai dengan adaya kemampuan untuk:
  • Kreativitas:  menempatkan sesuatu secara bersama-sama dengan cara-cara yang baru (baik konseptual atau artistik), mengamati hal-hal lain yang mungkin terlewatkan, membangun sesuatu yang baru, menggunakan citra yang tidak biasa atau konvensional untuk membuat hal menjadi menarik, dan sejenisnya.
  • Berpikir Kreatif: curah pendapat atau menyusun ide-ide baru, dan kemudian berpikir  kritis
Strategi Pembelajaran HOTS yang dilakukan:
  • Siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru, dan mereka juga menyajikan kepada guru hasil pekerjaan mereka.
  • Guru melihat apakah yang telah mereka kerjakan (proyek, esai, puisi, makalah), sejauh mana hasilnya memenuhi persyaratan tugas, dan menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan sebagai umpan balik.
Selain strategi yang diatas dalam proses pembelajaran guru perlu memberikan unpan balik yang tepat sehingga peserta didik termotivasi . Umpan balik yang dimaksud adalah sebagai berikut:
  • Performance feedback: difokuskan pada ketepatan kerja, termasuk informasi yang bersifat menilai;
  • Motivational feedback: memberikan perbandingan kemampuan antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya;
  • Attributional feedback: mengaitkan antara performa siswa yang satu dengan faktor lainnya dalam sebuah usaha untuk meningkatkan motivasi;
  • Strategy feedback: umpan balik yang mengungkapkan kepada siswa bagaimana sebaiknya mereka mengaplikasikan sebuah cara atau strategi dan bagaimana cara tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan mereka.
Demikian strategi yang dapat dilakukan guru sehingga pembelajaran menjadi HOTS yang dapat ditagih dengan penilaian  berbentuk soal HOTS. Semoga

Bahan Bacaan :
1. Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016
2. Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016
3. Modul Pembelajaran HOTS Tahun 2019

Begini Kebijakan Dana BOS Reguler 2020

A. Pengertian 

Bantuan Operasional Sekolah Reguler yang selanjutnya disingkat BOS Reguler adalah program Pemerintah Pusat untuk penyediaan pendanaan biaya operasional bagi Sekolah yang bersumber dari dana alokasi khusus nonfisik.


Dalam Kepmendikbud Nomor 231/P/2020 ditetapkan bahwa satuan pendidikan penerima bantuan operasional sekolah reguler tahap I gelombang I tahun 2020 yang selanjutnya disebut Satuan Pendidikan Penerima Bantuan Operasional Sekolah Reguler sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri tersebut.
Rekapitulasi jumlah Satuan Pendidikan Penerima Bantuan Operasional Sekolah Reguler tiap jenjang tiap provinsi tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri.
Alokasi bantuan operasional sekolah reguler yang diberikan kepada Satuan Pendidikan Penerima Bantuan Operasional Sekolah Reguler untuk digunakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Permendikbud Nomor 8 Tahun 2020 diterbitkan berisi petunjuk teknis untuk mengatur tentang pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Reguler wajib dibaca dan dipahami pengelola keuangan di sekolah. 
Bantuan Operasional Sekolah Reguler yang selanjutnya disingkat BOS Reguler adalah program Pemerintah Pusat untuk penyediaan pendanaan biaya operasional bagi Sekolah yang bersumber dari dana alokasi khusus nonfisik.

B. Tujuan Alokasi Dana BOS

Pengalokasikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.

C. Prinsip Penggunaan Dana BOS

Penggunaan dana BOS Reguler dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut.

1. Fleksibilitas
Penggunaan dana BOS Reguler harus dikelola sesuai dengan kebutuhan Sekolah.

2. Efektivitas
Penggunaan dana BOS Reguler diupayakan dapat memberikan hasil, pengaruh, dan daya guna untuk mencapai tujuan pendidikan di Sekolah.

3. Efisiensi
Penggunaan dana BOS Reguler diupayakan untuk meningkatan kualitas belajar siswa dengan biaya
seminimal mungkin dengan hasil yang optimal.

4. Akuntabilitas
Penggunaan dana BOS Reguler dapat dipertanggungjawabkan secara keseluruhan berdasarkan
pertimbangan yang logis sesuai peraturan perundang-undangan.

e. Transparansi
Penggunaan dana BOS Reguler dikelola secara terbuka dan mengakomodir aspirasi pemangku kepentingan sesuai dengan kebutuhan sekolah.

D. Persyaratan Penerima Dana BOS

Penyaluran dana BOS Reguler dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai penyaluran dana alokasi khusus nonfisik.

Sekolah dapat langsung menggunakan dana BOS Reguler untuk membiayai penyelenggaraan operasional Sekolah setelah dana BOS Reguler masuk ke rekening Sekolah.

Download  Permendikbud Nomor 8 tahun 2020 tentang Juknis BOS Reguler

Dana BOS Reguler diberikan kepada sekolah yang  memenuhi persyaratan sebagai berikut.
  1. Mengisi dan melakukan pemutakhiran Dapodik sesuai dengan kondisi riil di Sekolah sampai dengan batas waktu yang ditetapkan setiap tahun.
  2. Memiliki nomor pokok sekolah nasional yang terdata pada Dapodik.
  3. Memiliki izin operasional yang berlaku bagi Sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat yang terdata pada Dapodik.
  4. Memiliki jumlah Peserta Didik paling sedikit 60 (enam puluh) Peserta Didik selama 3 (tiga) tahun terakhir.
  5. Bukan satuan pendidikan kerja sama.
Persyaratan jumlah Peserta Didik paling sedikit 60 (enam puluh) Peserta Didik selama 3 (tiga) tahun terakhir dikecualikan bagi:
  1. Sekolah Terintegrasi, SDLB, SMPLB, SMALB, dan SLB;
  2. Sekolah yang berada pada wilayah tertinggal, terdepan, terluar atau daerah khusus sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
  3. Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang berada pada wilayah dengan kondisi kepadatan penduduk yang rendah dan secara geografis tidak dapat digabungkan dengan Sekolah lain.
Sekolah penerima dana BOS harus diusulkan oleh kepala dinas yang menangani urusan pendidikan di daerah dan disetujui oleh Kementerian.

Penetapan Sekolah penerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Reguler berdasarkan data pada Dapodik per tanggal 31 Agustus.

Data pada Dapodik per tanggal 31 Agustus merupakan batas akhir pengambilan data oleh Kementerian yang digunakan untuk penetapan penyaluran dana BOS Reguler pada:
  1. penyaluran dana BOS Reguler tahap III tahun berjalan; dan
  2. penyaluran dana BOS Reguler tahap I dan tahap II tahun berikutnya.
E. Besaran Alokasi Dana BOS

Besaran alokasi dana BOS Reguler yang diberikan kepada sekolah penerima dihitung berdasarkan besaran satuan biaya dikalikan dengan jumlah Peserta Didik. Besaran  dana BOS sebagai berikut.
  1. Rp. 900.000,00 (sembilan ratus ribu rupiah) per 1 (satu) orang Peserta Didik SD setiap 1 (satu) tahun.
  2. Rp. 1.100.000,00 (satu juta seratus ribu rupiah) per 1 (satu) orang Peserta Didik SMP setiap 1 (satu) tahun.
  3. Rp. 1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah) per 1 (satu) orang Peserta Didik SMA setiap 1 (satu) tahun.
  4. Rp. 1.600.000,00 (satu juta enam ratus ribu rupiah) per 1 (satu) orang Peserta Didik SMK setiap 1 (satu) tahun.
  5. Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah) per 1 (satu) orang Peserta Didik SDLB, SMPLB, SMALB, dan SLB setiap 1 (satu) tahun.
Jumlah Peserta Didik sebagaimana dimaksud berdasarkan data jumlah Peserta Didik yang memiliki NISN pada Dapodik.

Penghitungan alokasi dana BOS Reguler untuk Sekolah Terintegrasi, SDLB, SMPLB, SMALB, dan SLB yang memiliki jumlah Peserta Didik kurang dari 60 (enam puluh), Peserta Didik tetap dihitung sebesar 60 (enam puluh) Peserta Didik dikalikan satuan biaya.

Penghitungan alokasi dana BOS Reguler untuk SMP terbuka dan SMA terbuka didasarkan pada jumlah Peserta Didik yang memiliki NISN dan perhitungannya disatukan dengan Sekolah induk.

F. Komponen Penggunaan Dana BOS

Dana BOS Reguler yang diterima oleh sekolah digunakan untuk membiayai operasional penyelenggaraan pendidikan di sekolah untuk membiayai: 
  1. Penerimaan Peserta Didik baru;
  2. Pengembangan perpustakaan;
  3. Kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler;
  4. Kegiatan asesmen/evaluasi pembelajaran;
  5. Administrasi kegiatan sekolah;
  6. Pengembangan profesi guru dan tenaga kependidikan;
  7. Langganan daya dan jasa;
  8. Pemeliharaan sarana dan prasarana Sekolah;
  9. Penyediaan alat multi media pembelajaran;
  10. Penyelenggaraan bursa kerja khusus, praktik kerja industri atau praktik kerja lapangan di dalam negeri, pemantauan kebekerjaan, pemagangan guru, dan lembaga sertifikasi profesi pihak pertama;
  11. Penyelenggaraan kegiatan uji kompetensi keahlian, sertifikasi kompetensi keahlian dan uji kompetensi kemampuan bahasa Inggris berstandar internasional dan bahasa asing lainnya bagi kelas akhir SMK atau SMALB; dan/atau
  12. Pembayaran honor (pembayaran honor hanya dapat digunakan paling banyak 50% dari keseluruhan jumlah alokasi dana BOS Reguler yang diterima oleh Sekolah).
G. Larangan Penggunaan Dana BOS

Pembelanjaan dana BOS Reguler dilaksanakan melalui mekanisme pengadaan barang dan/atau jasa di Sekolah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tim BOS Sekolah tidak boleh menggunakan dana BOS Reguler untuk:
  1. Disimpan dengan maksud dibungakan;
  2. Dipinjamkan kepada pihak lain;
  3. Membeli perangkat lunak untuk pelaporan keuangan dana BOS Reguler atau perangkat lunak lainnya yang sejenis;
  4. Sewa aplikasi pendataan atau aplikasi penerimaan peserta didik baru dalam jaringan;membiayai kegiatan yang tidak menjadi prioritas sekolah;
  5. Membiayai kegiatan dengan mekanisme iuran;
  6. Membeli pakaian, seragam, atau sepatu bagi guru atau Peserta Didik untuk kepentingan pribadi (bukan inventaris Sekolah);
  7. Digunakan untuk pemeliharaan prasarana Sekolah dengan kategori kerusakan sedang dan berat;
  8. Membangun gedung atau ruangan baru;
  9. Membeli saham;
  10. Membiayai kegiatan dalam rangka mengikuti pelatihan, sosialisasi, pendampingan terkait program BOS Reguler atau perpajakan program BOS Reguler yang diselenggarakan lembaga di luar dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota, dan/atau Kementerian;
  11. Membiayai kegiatan yang telah dibiayai secara penuh dari sumber dana Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, atau sumber lainnya;
  12. Melakukan penyelewengan penggunaan dana BOS Reguler untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu; dan/atau bertindak menjadi distributor atau pengecer pembelian buku kepada Peserta Didik di Sekolahyang bersangkutan.
Tim BOS provinsi dan tim BOS kabupaten/kota tidak boleh untuk:
  1. Melakukan pungutan dalam bentuk apapun kepada Sekolah;
  2. Melakukan pemaksaan pembelian barang dan/atau jasa dalam pemanfaatan dana BOS Reguler;
  3. Mendorong Sekolah untuk melakukan pelanggaran terhadap ketentuan penggunaan dana BOS Reguler; dan/atau
  4. Bertindak menjadi distributor atau pengecer dalam proses pembelian, pengadaan buku, atau barang melalui dana BOS Reguler.
Tim BOS Sekolah, tim BOS provinsi, dan tim BOS kabupaten/kota yang melanggar ketentuan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Baca Juga : Tugas dan Tanggungjawab Tim BOS Sekolah

Tim BOS Sekolah harus melaporkan semua penggunaan atas penyaluran dana BOS Reguler pada setiap tahap ke dalam sistem pelaporan Kementerian melalui laman bos.kemdikbud.go.id;

Dalam hal tim BOS Sekolah tidak melakukan pelaporan penggunaan  maka penyaluran dana BOS Reguler pada tahap berikutnya tidak dapat dilakukan.

Baca Juga:  Implementasi Manajemen Resiko Di Sekolah 

Demikian informasi tentang penggunaan dana BOS reguler tahun 2020, diharapkan sekolah dapat memenuhi ketentuan yang telah dituangkan dalam Kemmendikbud nomor 231 dan Permendikbud nomor 8 tahun 2020. 

Tulisan ini sebagian besar diambil dari: 
https://dvcodes.com/kepmendikbud-nomor-231-p-2020-tentang-penerima-bos-reguler-tahap-1

Ujian Sekolah dan Kelulusan Peserta Didik 2020

Sebagai  tindak lanjut Permendikbud Nomor 43 tahun 2019  tentang penyelenggaraan ujian  oleh satuan pendidikan , Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Surat Edaran nomor 01 tahun 2020 tentang kebijakan merdeka belajar dalam penentuan kelulusan peserta didik dan pelaksanaan penerimaan peserta didik baru tahun 2020/2021

Dalam  Permendikbud Nomor 43 tahun 2019 dan Surat Edaran tersebut dinyatakan bahwa ujian yang diselenggarakan oleh Satuan Pendidikan merupakan penilaian hasil belajar oleh Satuan Pendidikan yang bertujuan untuk menilai pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran dengan ketentuan:

  1. Kelulusan peserta didik ditentukan melalui ujian sekolah  diselenggarakan oleh satuan pendidikan berdasarkan penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh guru,
  2. Bahan ujian sekolah untuk kelulusan peserta didik (seperti tes tertulis, portofolio, penugasan, dan penilaian bentuk kegiatan lain) dibuat oleh guru pada masing-masing satuan pendidikan.
  3. Satuan pendidikan yang belum siap membuat bahan ujian sekolah dapat menggunakan bahan penilaian (tes tertulis, tugas, dan/atau bentuk ujian lain) yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti soal-soal yang dibuat oleh Kelompok Kerja Guru dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran.
  4. Dinas pendidikan tidak dapat memaksa satuan pendidikan untuk menggunakan bahan tertentu dalam pelaksanaan ujian sekolah
  5. Kementerian Pendidikan dan kebudayaan menyediakan contoh-contoh ujian praktik maupun ujian tulis. klik di  https://puspendik.kemdikbud.go.id/publikasi

Kelima ketentuan di atas menjadi tugas dan tanggungjawab satuan pendidikan yang harus dikelola dengan baik dengan bukti-bukti otentik yang harus dapat dipertanggungjawabkan mulai perencanaan, proses dan hasil yang diperoleh.

Pasal 9 Permendikbud nomor 43 bahwa,  satuan pendidikan wajib menyampaikan nilai ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan dan nilai rapor kepada Kementerian melalui data pokok pendidikan untuk kepentingan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan.

Agar ketentuan di atas dapat dilakukan dengan baik maka satuan pendidikan perlu memahami hal- hal berikut :

1. Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.

Pada pasal 6 Permendikbud Nomor 43 tahun 2019, dinyatakan peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan setelah:
a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
b. memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik; dan
c. mengikuti Ujian yang diselenggarakan

Poin a) menyelesaikan seluruh program pelajaran artinya peserta didik telah berada pada tahun terakhir di masing-masing jenjang  yang dibuktikan kelengkapan laporan nilai tiap semester hingga sampai pada tingkat tahun terakhir.

Dalam hal ini satuan pendidikan harus dapat menunjukkan rekap nilai semester 1, 2, 3, 4 dan 5 secara lengkap (pada setiap mata pelajaran harus ada nilai). Menyelesaikan seluruh program bukan berarti harus tuntas semua mata pelajaran, karena bisa saja peserta didik tidak tuntas dalam 1 atau 2 mata pelajaran namun masih naik kelas.

Sekolah tidak perlu memaksakan peserta didik harus mengikuti remedial untuk memperbaiki nilai rapor supaya tuntas semua mata pelajaran, karena hal tersebut dapat berakibat kesalahan data rapor di dapodik atau perubahan nilai rapor sebelumnya.

Karena sekolah yang menentukan kelulusan peserta didik  yang didasarkan pada penilaian hasil belajar maka sekolah memiliki wewenanng menentukan nilai akhir peserta didik yang akan dicantumkan dalam ijazah, misalnya NA = 30 % rerata Nilai rapor semester 1s/d 5 + 70 % nilai ujian akhir.

Namun penentuan bobot  ini harus matang dipertimbangkan sesuai karakteristik sekolah dan tidak harus sama dengan sekolah lain yang harus dituangkan dalam POS Ujian Satuan Pendidikan.

Point b) Memperoleh nilai sikap/perilaku minimal nilai baik.

Artinya kalau seorang peserta didik tidak memiliki perilaku minimal nilai baik maka peserta didik tersebut tidak dapat dinyatakan lulus dari satuan pendidikan.

Karakteristik penilaian sikap adalah kondisi akhir, maksudnya ketika peserta didik yang  sebelumnya sikapnya kurang baik, namun diakhir semester (penilaian akhir sudah ada perubahan kearah sikap yang baik) maka yang menentukan adalah nilai akhir tersebut, perilaku yang kurang baik sebelumnya  tidak perlu diperhitungkan karena yang diharapkan dari sikap adalah adanya perubahan kearah yang lebih baik.

Untuk membuktikan hal tersebut maka sekolah perlu membuat instrumen mengukur sikap/perilaku melalui observasi oleh guru mata pelajaran atau guru agama/BK/PKn  maupun wali kelas. Hasil pengamatan akhir melalui instrumen satuan dapat mempertanggungjawabkan bahwa peserta didik telah memenuhi sikap/perilaku/karakter minimal baik. (Contoh Instrumen Klik)

Point c) Mengikuti ujian yang diselengarakan satuan pendidikan

Peserta didik agar dapat dinyatakan lulus dari satuan pendidikan  harus mengikuti ujian satuan pendidikan, batas pencapaian nilai ujian dalam aturan tersebut tidak ditentukan, karena hasil akhir penilaian ditentukan satuan pendidikan yang didasarkan dengan penilaian hasil belajar.

Arinya batas pencapaian nilai ujian dan hasil belajar sebelumnya menjadi pertimbangan dengan bobot yang ditentukan masing-masing satuan pendidikan. Namun yang paling penting dalam hal ini adalah bagaimana ujian tersebut dikelola satuan pendidikan mulai dari penyusunan soal yang handal yang menyangkut aspek pengetahuan dan keterampilan sehingga memiliki kontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan.

Bentuk ujian yang disusun oleh sekolah diharapkan  variatif dan terbuka untuk menguji kompetensi peserta didik , bukan lagi fokus kepada satu jenis alat ukur (hanya bentuk soal PG). Dengan demikinan satuan pendidikan  mengukur dimensi pengetahuan dan keterampilan dengan alat ukur yang tepat.

Dalam hal ini sekolah dapat menyusun  bentuk ujian   tertulis dengan variasi instrument pilihan ganda, benar- salah, menjodohkan, pilihan sebab-akibat, assosiasi pilihan, uraian singkat, uraian terstruktur untuk aspek pengetahuan.  Untuk menguji aspek keterampilan bentuk ujian dapat dilakukan seperti fortofolio, proyek, produk, dan praktik/kinerja/unjuk kerja.

Semua instrument/soal tes yang disusun   harus  melalui  tahapan yang benar seperti  berikut:
1. Menetapkan tujuan tes
2. Menyusun kisi-kisi tes
3. Menulis butir soal/perintah tugas untuk praktik
4. Merakit soal
5. Melakukan telaah soal (analisis kualitatif)
6. Membuat kunci, pedoman pensskoran atau rubrik penilaian

Hal-hal lain yang penting diperhatikan guru dalam menyusun soal ujian adalah :

1. Mermilih  KD yang memuat materi paling esensial dari setiap tigkat.
    Materi esensial ditandai dengan ciri UKRK (urgensi, kontiniutas, relevansi dan keterpakaian)

2. Menetapkan komposisi level soal yaitu:
    Level 1 (C1, C2)                = …  soal
    Level 2 (C3)                       = …  soal
    Level 3 (C4,C5, C6) )         = …..soal

3. Perhatikan sebaran kunci dengan rumus  (jumlah soal : jumlah obtion)  + - 3

4. Perhatikan kehomogenan pengecoh

5. Perhatikan kaidah penyusunan soal.

Demikian uraian tentang ujian dan kelulusan peserta didik tahun 2020 ini  semoga bermanfaat.

Metode Pembelajaran Buzz Group Dalam Kurikulum 2013

A. Memahami Konsep MetodePembelajaran  Buzz Group

Dalam pembelajaran kurikulum 2013, guru senantiasa diharapkan dapat berinovasi dan mengembangkan pembelajaran sehingga tumbuh budaya 4c (critical thingking, collaborative, creative dan communication),  penguatan nilai-nilai karakter dan literasi

Untuk menwujudkan hal tersebut guru perlu mencari cara-cara baru maupun melakukan inovasi terhadap cara lama.  Salah satu bentuk metode pembelajaran yang sudah sering digunakan guru  namun belum dikelola  dengan baik  adalah metode pembelajaran buzz group. Apa itu metode pembelajaran buzz group ?, mari kita pahami dulu pendapat para ahli seperti berikut:

Dimyati & Moedjiono, (1999) dalam Yulianda, Dwi P.(2012)  bahwa metode  buzz group adalah salah satu bentuk diskusi kelompok yang beranggotakan 4-5 orang yang bertemu secara
Bersama sama membicarakan suatu topik yang sebelumnya telah dibahas secara klasikal".

Roestiyah (2001) mengemukakan  bahwa buzz group adalah suatu metode diskusi kelompok dimana suatu kelompok besar dibagi menjadi 2 sampai 8 kelompok yang lebih kecil jika diperlukan kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 6 orang untuk mendiskusikan masalah tertentu dalam waktu yang singkat, misalnya 5 menit atau tidak lebih dari 15 menit Sesi buzz kemudian harus ditindaklanjuti dengan diskusi kelas utuh untuk menyimpulkan hasil temuan dari kelompok kecil.

Seorang pemimpin yang telah ditunjuk oleh masing-masing kelompok buzz melaporkan temuannya ke kelompok besar. Lalu sebuah daftar dapat dibuat dengan menggabungkan ide-ide yang berguna dari setiap kelompok

Sudjana, (2005) mengemukakan bahwa: Metode buzz group digunakan dalam kegiatan pembelajaran pemecahan masalah yang di dalamnya mengandung bagian-bagian khusus dalam masalah itu. Kegiatan belajar biasanya melalui diskusi di dalam kelompokk kecil (sub-groups) dengan jumlah anggota masing-masing kelompok sekitar 3-4 orang. Awal nya dilaksanakan diskusi secara klasikal kemudian dibagi menjadi beberapa anggota diskusi kelompok kecil

Yulianda, Dwi P. (2012) menyatakan bahwa Metode diskusi jenis buzz group diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk mendorong siswa berpikir kritis, mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas mendorong siswa menyumbangkan buah pikirannya untuk memecahkan masalah bersama dan mengambil satu alterntaif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan yang seksama.

Hasibuan & Moedjiono dalam Fujianti, Hikmah et al (2014) menyatakan bahwa metode diskusi tipe buzz group adalah pembelajaran yang dimulai dengan memberikan masalah atau pertanyaan, kemudian siswa menyelesaikan secara berkelompok dan berbagi informasi antara anggota kelompok.

Dari berbagai pendapat ahli tersebut di atas  dapat  diartikan  bahwa metode buzz group adalah salah satu metode diskusi kelompok yang terdiri dari 4 – 6 orang , yang pelaksanaanya diawali dengan diskusi atau penjelasan guru  pada  kelompok besar atau klasikal , kemudian diberikan tugas/masalah yang harus diselesaikan dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang .

Kelompok kecil ini nantinya akan menampilkan hasil diskusi di hadapan kelompok besar/klasikal dan pada saat itu juga akan diterima masukan dari kelompok lain untuk perbaikan.

B.Tujuan dan Manfaat Metode Pembelajaran Buzz Group

Dari pengertian dan karakteristik metode pembelajaran Buzz Group maka tujuan dan manfaat dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.Memupuk adanya kerja sama atau kolaborasi

2.Siswa turut dan terbiasa memecahkan masalah dan melatih berfikir kritis terhadap uraian dari teman-temannya

3.Meningkatkan partisipasi di antara semua anggota kelompok.

4.Siswa aktif dan melatih mereka untuk menghargai pendapat orang lain

5.Melatih siswa untuk literasi, ekplorasi  dan mengkonstruksi pengetahuan

6.Menumbuhkan keberanian siswa untuk  mengajukan pendapat

7.Mendorong refleksi kelompok.

8.Melatih siswa untuk belajar   saling membantu dan tolong-menolong dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama

BACA JUGA: KETERAMPILAN BERTANYA PADA KURIKULUM 2013

C. Cara Menerapkan Metode Buzz Group

Untuk menerapkan metode pembelajaran buzz group guru guru perlu memahami langkah-langkah  sebagai berikut.

1.Guru mempelajari KD kemudian memilih dan menentukan masalah dan bagian-bagian masalah yang akan dibahas dan perlu dipecahkan dalam kegiatan belajar. Bahan-bahan ini sudah dipersiapkan dengan matang yang dituangkan dalam RPP

2.Guru menunjuk /membentuk kelompok kecil. Jumlah kelompok yang akan dibentuk dan banyaknya peserta dalam setiap kelompok kecil disesuaikan dengan jumlah bagian masalah yang akan dibahas umumnya 4-6 orang dalam satu kelompok. Pembentukan kelompok dapat dengan cara berhitung, kartu bergambar, atau dengan hanya menunjuk para siswa.

3.Guru membuka pembelajaran dan menjelaskan konsep /bagian-bagian tertentu sebagai pengantar pembelajaran

4.Guru membagikan bagian-bagian masalah kepada masingmasing kelompok kecil. Satu kelompok membahas satu bagian masalah. Selanjutnya, guru menjelaskan tentang tugas kelompok yang harus dilakukan, waktu pembahasan (biasanya 5-15 menit). Dalam kelompok kecil yang dibentuk ada dipilih sebagai  pelapor,dan juru tulis.

5.Kelompok-kelompok kecil berdiskusi untuk membahas bagian masalah yang telah ditentukan. Para peserta didik dalam kelompok kecil itu memperjelas bagian masalah, serta memberikan solusi tentang masalah yang menjadi tanggungjawab kelompok..

6.Apabila waktu yang ditentukan telah selesai, guru mengundang kelompok-kelompok kecil untuk berkumpul kembali dalam kelompok besar, kemudian mempersilahkan para pelapor dari masing-masing kelompok kecil secara bergiliran untuk menyampaikan/presentasi laporannya kepada kelompok besar.

7.Guru, atau seorang peserta didik yang ditunjuk, mencatat pokok-pokok laporan yang telah disampaikan. Selanjutnya para peserta didik diminta untuk menambah, mengurangi, atau
mengomentari laporan itu.

8.Guru dapat menugaskan salah seorang atau beberapa orang peserta untuk merangkum hasil pembahasan akhir laporan itu.

9.Guru bersama peserta didik dapat mengajukan kemungkinan kegiatan lanjutan yang dapat
dilakukan berdasarkan hasil diskusi dan selanjutnya melakukan evaluasi terhadap hasil diskusi itu.

10.Guru memberikan umpan balik dari hasil diskusi tersebut.

D. Kelebihan  Metode Pembelajaran Buzz Group

Kelebihan metode pembelajaran buzz group perlu diketahui untuk tetap dipertahankan dan ditinkatkan lagi variasinya

1.Peserta didik yang kurang biasa menyampaikan pendapat dalam kelompok belajar dibantu untuk
berbicara dalam kelompok kecil.

2.Menumbuhkan suasana yang akrab, penuh perhatian terhadap pendapat orang lain, dan
mungkin akan menyenangkan.

3.Dapat menghimpun berbagai pendapat tentang bagian-bagian masalah dalam waktu singkat.

4.Dapat digunakan bersama teknik lain sehingga penggunaan teknik ini bervariasi.

E. Kekurangan Metode Pembelajaran Buzz Group

Kekurangan metode pembelajaran buzz group perlu diketahui sehingga guru dapat melakukan antisipasi untuk mengatasi kelemahan tersebut, adapun kelemahan dimaksud adalah …

1.Memungkinkan terjadinya pengelompokan yang yang tidak seimbang misalnya siswa yang kurang mampu mengelompok tugas yang dikerjakan tidak selesai

2.Laporan kelompok kecil tidak tersusun secara istematis dan tidak terarah

3.Pembicaraan mungkin dapat berbelit-belit atau bertele-tele

4.Guru membutuhkan waktu untuk mempersiapkan bahan dan masalah yang harus dibagikan kemasing-masing kelompok.

5.Tidak semua materi cocok untuk dibelajarkan dengan metode buzz group

Demikian metode pembelajaran buzz group semoga ada manfaatnya dan dapat diterapkan guru sehingga para siswa berkarakter, literasi yang kuat dan berkembangnya 4c.

Sinambela, P. N. J. M. (2013). Kurikulum 2013 dan Implementasinya dalam Pembelajaran. Jurnal Generasi Kampus, 6(2)
Roestiyah, K. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Rineka Cipta

Cara Melakukan Penilaian Proyek

Untuk menilai kompetensi keterampilan peserta didik , selain penilaian praktik, produk dan portofolio guru dapat melakukan dengan cara penilaian proyek, baik untuk penilaian harian, semester, kenaikan kelas maupun  ujian sekolah . Berikut ini penjelasannya :

A. Pengertian 

Penilaian proyek adalah kegiatan penilaian  yang dilakukan guru terhadap suatu tugas yang telah ditentukan dalam periode tertentu.   Tugas tersebut berupa suatu investigasi mulai dari perencanaan,  pengumpulan  data,    pengorganisasian,  pengolahan,  dan  penyajian data.

Penilaian proyek digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan,  inovasi  dan  kreativitas,  kemampuan  penyelidikan  dan kemampuan peserta didik menginformasikan matapelajaran tertentu secara jelas.

Penilaian proyek dapat dilakukan secara individual atau berkelompok dengan jumlah yang diatur oleh guru. Cakupan tugas yang diberikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan yang dapat dikerjakan pada saat pembelajaran di sekolah dan diluar jam pembelajaran.

Penilaian proyek dapat dilakukan dalam satu atau lebih KD, satu mata pelajaran, beberapa mata pelajaran serumpun atau lintas mata pelajaran yang bukan serumpun.

Penilaian proyek umumnya menggunakan metode belajar pemecahan masalah sebagai langkah awal dalam pengumpulan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata

B. Langkah-langkah merencanakan penilaian proyek 

  1. Guru Menentukan satu KD atau lebih  yang berasal  dari KI-4 yang sesuai untuk dinilai melalui projek. Pemilihan KD ini ditentukan apabila KD menuntut aktivitas penugasan, atau materi tersebut dapat diselesaiakan melalui tugas yang diberikan guru. 
  2. Penilaian proyek yang akan dilakukan guru mencakup perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan projek
  3. Guru menyusun indikator proses dan hasil belajar yang akan dicapai peserta didik   sesuai kompetensi
  4. Guru menentukan kriteria yang menunjukkan capaian indikator pada setiap tahapan pengerjakan projek
  5. Merencanakan apakah tugas bersifat individu atau kelompok
  6. Merencanakan teknik-teknik dalam penilaian individual untuk tugas yang dikerjakan secara kelompok
  7. Menyusun tugas sesuai dengan rubrik penilaian

C. Pertimbangan Guru dalam Penilaian Proyek 

Pada penilaian proyek setidaknya ada empat hal yang perlu dipertimbangkan yaitu pengelolaan, relevansi, keaslian, inovasi, dan kreativitas.

  1. Pengelolaan yaitu kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
  2. Relevansi yaitu kesesuaian topik, data, dan hasilnya dengan KD atau mata pelajaran.
  3. Keaslian yaitu proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karya  sendiri  dengan  mempertimbangkan  kontribusi  guru  dan  pihak  lain berupa  bimbingan  dan  dukungan  terhadap  proyek  yang  dikerjakan  peserta didik.
  4. Inovasi  dan  kreativitas  yaitu  proyek  yang  dilakukan  peserta  didikterdapat unsur-unsur baru (kekinian) dan sesuatu yang unik, berbeda dari biasanya.

D. Contoh Lembar Penugasan

Identitas Mata pelajaran
Ditulis  identitas
KD
Ditulis KD
Indikator
Isikan indikator tugas
Rumusan tugas/Judul tugas
Buat perintah tugas
Syarat, linggup dan waktu pengumpulan
Tulis syarat yang diperlukan misalnya kelompok, batasan tugas, dan waktu pengumpulan

 E. Rubrik Penilaian Proyek
      Rubrik penilaian proyek harus direncanakan guru dengan kriteria, kualitas cakupan tugas mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan lengkap dengan skor nilai.  

No.
Aspek
Skor
1
2
3
4
1.
Perencanaan
1. Latar belakang
2. Rumusan maslah




2.
Pelaksanaan
1. Kelengkapan data
2. Pengolahan data
3. Kesimpulan




3.
Pelaporan Hasil
1. Sistematika
2. Penulisan
3. Penggunaan Bahasa
4. Tampilan laporan





Jumlah Skor

Keterangan :
Skor 4 = sangat baik
Skor 3 = baik
Skor 2 = cukup

E. Contoh Penilaian Proyek 

Penilaian Proyek di Kelas : IV

Bahasa Indonesia :
KD 4.4 Menyajikan petunjuk penggunaan alat dalam bentuk teks tulis dan visual menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif.

Indikator proyek:
Siswa dapat menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif dalam laporan hasil pengamatan

IPA :  
KD 4.5 Menyajikan laporan hasil pengamatan dan penelusuran informasi tentang berbagai perubahan bentuk energi.

Indikator proyek:

Siswa dapat merencanakan, melaksanakan, dan melaporkan secara tertulis hasil pengamatan dan penelusuran informasi tentang berbagai perubahan bentuk energi

Proyek : Membuat Laporan Hasil Pengamatan dan Penelusuran Informasi tentang 5 perubahan bentuk energi

Judul : Perubahan Bentuk Energi di Lingkungan Sekitar

Contoh Penilaian Proyek (SMA)

Mata Pelajaran         : Sosiologi
Kelas/Semester        : X / 1
Tahun pelajaran       : 2019/2020

Kompetensi Dasar   : 4.4   Melakukan   penelitian   sosial   yang   sederhana   untuk mengenali ragam gejala sosial dan hubungan sosial di masyarakat.

Indikator Soal          : Peserta   didik   mampu   melakukan   penelitian   mengenai permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat di lingkungan sekitarnya.

Rumusan tugas proyek:
   
  1. Lakukan penelitian mengenai permasalahan sosial yang berkembang pada masyarakat di lingkungan sekitar tempat tinggalmu, misalnya pengaruh keberadaan pasar modern (mall) bagi masyarakat sekitarnya (kamu bisa memilih masalah lain yang sedang berkembang di lingkunganmu).
  2. Tugas dikumpulkan  sebulan  setelah hari  ini. Tuliskan  rencana penelitianmu, lakukan, dan buatlah laporan. Laporan sekurang-kurangnya memuat latar belakang, perumusan masalah, kebenaran informasi/data, kelengkapan data, dan simpulan. Dalam membuat laporan perhatikan sistematika laporan, penggunaan bahasa, dan tampilan laporan.