Home » » Cara Menyusun Instrumen Pengawasan Sekolah

Cara Menyusun Instrumen Pengawasan Sekolah


A. Pengertian dan Prinsip

Instrumen pengawasan sekolah merupakan perangkat yang digunakan oleh  pengawas sekolah/supervisor untuk  mengumpulkan data  (aspek pengawasan manajerial) ,dan  mengidentifikasi profil kemampuan guru dalam pembuatan rencana,  pelaksanaan pembelajaran dan  penilaian pembelajaran (aspek pengawasan akademk) .  Untuk memperoleh hasil pelaksanaan pengawasan yang lebih baik, penyusunan instrumen pengawasan/supervisi harus didasarkan pada prinsip-prinsip:

1. Komprehensif, instrument harus dapat  mengambil/menangkap  seluruh objek yang diawasi/disupervisi terkait data sekolah, 8 standar nasional pendidkan,  standar kompetensi guru yang sudah ditetapkan serta meliputi seluruh kegiatan guru dalam pelaksanaan tugasnya.
2. Objektif, didasarkan atas kenyataan (data dan fakta) yang sebenarnya sesuai dengan rambu-rambu regulasi yang berlaku, bukan hasil manipulasi atau rekayasa.
3. Praktis, mudah digunakan untuk memperoleh data sesuai dengan yang standar. Untuk itu harus diperhatikan bahasa, substansi yang merujuk pada regulasi, dan petunjuk menggunakan instrumen.

B. Langkah-langkah Penyusunan Instrumen

Terdapat dua cara dalam mengembangkan instrumen (alat ukur), yaitu:
1.  Instrumen  dikembangkan sendiri oleh pengawas sekolah
2. Instrumen dibuat dengan cara menyadur (adaptation).

Sehubungan dengan pengembangan instrumen pengawasan sekolah, untuk mengawasi bidang-bidang garapan manajemen sekolah, seorang pengawas dapat mengembangkan sendiri instrumen pengawasannya. Di samping itu, ia pun dapat menggunakan instrumen yang sudah ada, baik instrumen yang telah digunakan dalam pengawasan sekolah sebelumnya maupun berupa instrumen baku literatur yang relevan.
Langkah-langkah penyusunan instrumen. pengawasan sekolah. perlu mengikuti tahapan berikut:
1. Menentukan masalah pada bidang yang akan diawasi)
2. Menentukan variabel apa (yang diawasi)
3. Menentukan instrumen yang akan digunakan.
4. Menjabarkan bangun setiap variabel.
5. Menyusun kisi-kisi instrumen.
6. Menulis butir-butir insrtrumen.
7. Mengkaji ulang instrumen tersebut oleh (pengawas) sendiri dan oleh ahli ahli (melalui judgement).
8. Penyusunan perangkat instrumen sementara.
9. Melakukan uji coba dengan tujuan untuk mengetahui: (a) apakah instrumen itu dapat diadministrasikan; (b) apakah setiap butir instru- men itu dapat dan dipahami oleh subjek penelitian (pengawasan); (c) mengetahui validitas; dan (d) mengetahui reliabilitas.
10. Perbaikan instrumen sesuai hasil uji coba.
11. Penataan kembali perangkat instrumen yang terpakai untuk memper- oleh data yang akan digunakan.
Untuk mengembangkan instrumen dengan prosedur adaptasi (menyadur),, langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Menelaah instrumen asli dengan mempelajari panduan umum (manual) instrumen dan butir-butir instrumen.
Kegiatan itu dilakukan untuk memahami (a) bangun variabel; (b) kisi-kisinya; (c) butir-butirnya; (d) cara penafsiran jawaban;
2. Menerjemahkan setiap butir instrumen ke dalam bahasa Indonesia yang dilakukan oleh dua orang secara terpisah;
3. memadukan kedua hasil terjemahan oleh keduanya;
4. menerjemahkan kembali ke dalam bahasa aslinya untuk mengetahui kebenaran penerjemahannya;
5. memperbaiki butir instrumen bila diperlukan;
6. uji pemahaman subjek terhadap butir instrumen;
7. uji validitas instrumen;
8. uji reliabilitas instrumen.

C. Jenis Instrumen Pengawasan

Instrumen yang dapat digunakan dalam mengumpulkan data  aspek manajerial dan aspek akademik adalah: angket, observasi, wawancara, dan dokumentasi.
1. Angket

Ada dua jenis angket yaitu angket tertutup dan angket terbuka. Angket tertutup berisi sejumlah butir pertanyaan yang menghendaki jawaban pendek, dengan alternatif jawaban 2 atau lebih. Alternatif berupa jawaban dalam bentuk YA atau TIDAK; a, b, c, d, e; atau 1, 2, 3, 4 dan seterusnya. Alternatif jawaban menunjukan skala nominal sehingga angka-angka pada alternatif jawaban merupakan kode.

Sedangkan angket terbuka biasa disebut angket tidak terbatas, karena menghendaki jawaban bebas dengan menggunakan kalimat atau kata-kata responden sendiri. Jawaban responden sangat bervariasi karena tidak ada aturan atau rambu-rambu dalam butir pertanyaan, sangat tergantung pada pendidikan dan pengalaman responden, dan membutuhkan waktu yang relatif lebih lama daripada angket tertutup.

Contoh :
Jika sekolah ini membuka kompetensi keahlian kendaraan ringan, bagaimana pendapat Saudara? Jawabannya bisa berbeda-beda oleh responden, maka pengawas sekolah harus menyusun standar jawaban.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun angket :
a. Isi atau materi pertanyaan disesuaikan dengan kemampuan ataupun pengetahuan responden.
b. Pertanyaan atau pernyataan yang dituliskan harus menggunakan kata dan kalimat yang mudah difahami responden.
c. Butir pertanyaan/pernyataan tidak terlalu banyak.
d. Kemasan instrumen menarik.
e. Tata letak pertanyaan/pernyataan.

Pemberian skor pada alternatif jawaban dapat digunakan model pisah (model semantik), skala tipe Likert atau Thurstone.

1. Skala Likert

Skala Likert paling banyak digunakan daripada yang lain, karena dipandang lebih sederhana dan relatif lebih mudah membuatnya. Rentangan skala dapat bervariasi antara 4 sampai dengan 7, dapat ganjil atau genap. Pernyataan kata dalam skala mulai dari sangat setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS),

2. Skala Semantic Defferential

Instrumen jenis ini hampir sama dengan skala Likert, dapat dipergunakan untuk mengumpulkan informasi tentang sikap seseorang terhadap suatu kebijakan yang diambil oleh pimpinan. Perbedaannya terletak pada alternatif jawaban pada setiap butir pertanyaan. Pada Skala Semantic Defferential, alternatif jawaban pada setiap butirnya diberikan dengan pertanyaan yang berbeda, tergantung pada hal yang ditanyakan.

Pernyataan dua kata diletakkan pada sebelah kiri dan kanan skala, yang  menunjukan ukuran tertinggi dan terendah dari skala. Sehingga sistem skala Semantic disebut juga dengan skala bipolar. Kelebihan instrumen jenis Semantic Defferential dibanding dengan skala Likert adalah lebih adaptif terhadap responden dan mengurangi kejenuhan dari responden.

Pengumpulan data dengan angket ini memiliki keuntungan dan kelemahan. Keuntungannya dapat menjangkau responden secara luas dan dalam jumlah banyak. Kelemahannya hanya dapat menanyakan permasalahan yang umum saja dan tidak dapat secara mendalam. Kadang-kadang responden juga menjawab tidak sesuai dengan keadaannya, tetapi menjawab sesuai dengan norma-etika-aturan yang berlaku di masyarakat, misalnya jika ditanyakan tentang pelaksanaan kegiatan agama, perilaku seksual, pendapatan dan lain-lain, tentu akan menjawab yang baik-baik saja. Hal inilah yang dinamai dengan social desirability bias.

3. Observasi

Pengamatan atau observasi adalah teknik pengumpulan data dengan mengamati secara langsung kejadian atau proses di lapangan. Jenis informasi yang diperoleh dapat berupa karakteristik benda, proses interaksi benda, atau perilaku manusia baik interaksinya dengan benda/alat maupun interaksinya dengan manusia lain.

Beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang observer:
a. Melakukan pengamatan secara terencana dan sistematis;
b. Mengetahui skenario aktivitas yang akan diamati;
c. Mengetahui hal-hal pokok yang perlu diperhatikan/difokuskan; dan
d. Membuat/menggunakan alat bantu berupa alat pencatat dan perekam.
Dalam pengamatan, diperlukan alat untuk mencatan atau merekam peristiwa penting yang terjadi. Alat bantu yang dipakai dalam observasi antara lain: alat perekam, checklist, skala penilaian, dan kartu skor.

Kelebihan dari metode ini adalah pelaksana Monev dapat mengamati secara langsung realitas yang terjadi, sehingga dapat memperoleh informasi yang mendalam. Namun metode ini kurang dapat mengamati suatu fenomena yang lingkupnya lebih luas, terkait dengan keterbatasan pengamat.

4.Wawancara

Wawancara (interview) merupakan proses untuk memperoleh data dengan mengadakan tanya-jawab antara pelaksana Monev dengan responden. Dalam wawancara, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
a. Membuat panduan wawancara agar pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan kepada responden tidak ada yang terlewatkan atau jika berimprovisasi tidak melenceng terlalu jauh.
b. Memperhatikan situasi dan waktu yang tepat, disesuaikan dengan kesempatan yang dimiliki oleh responden. Penampilan pewawancara disesuaikan dengan keadaan responden.
c. Pewawancara perlu bersikap netral terhadap semua jawaban.
5. Dokumentasi

Dalam kegiatan Monev, kadang-kadang pelaksana tidak perlu melakukan pengumpulan/penjaringan data secara langsung dari responden. Untuk suatu tujuan tertentu, pelaksana pengawasan selain menggunakan data primer bisa menggunakan data sekunder. Data sekunder ini merupakan data yang telah ada, atau data yang telah dikumpulkan oleh pengawas lain ataupun hal-hal yang telah dilakukan oleh orang lain. Cara mengumpulkan data semacam ini merupakan cara pengumpulan data dengan dokumentasi.

Kelebihan metode ini dapat menghemat waktu dan biaya yang diperlukan. Kekurangannya pengawas sekolah  hanya dapat memperoleh data yang telah ada dan terbatas pada apa yang telah dikumpulkan. Kadang-kadang untuk dapat memperoleh datanya terhambat oleh sistem birokrasi sehingga dapat menggunakan waktu yang lebih banyak.

Pengawas sekolah dalam melaksanakan tugas kepengawasan , kelengkapan instrumen merupakan yang sangat penting. Maka sebelum pengawas terjun kelapangan persiapan instrument yang akan digunakan sudah harus lengkap dan siap digunakan.

0 komentar:

Post a Comment