Kepemimpinan Pembelajaran Yang Efektif Di Sekolah

Daresh dan Playco (1995) mendefinisikan kepemimpinan pembelajaran sebagai upaya memimpin para guru agar mengajar lebih baik, yang pada gilirannya dapat memperbaiki prestasi belajar siswanya.

Wilma Smith dan Richard Andrews (1989) dalam Marzano (2005), yang  mengidentifikasi empat dimensi atau peran, bahwa seorang pemimpin pembelajaran berperan sebagai: penyedia sumber daya, sumber daya pembelajaran, komunikator, dan kehadirannya yang dapat terlihat. Sebagai penyedia sumber daya, kepala sekolah memastikan bahwa guru memiliki bahan, fasilitas, dan anggaran yang diperlukan untuk melakukan tugas mereka secara memadai.

Kepemimpinan pembelajaran  adalah tindakan yang dilakukan Kepala sekolah dengan maksud mengembangkan lingkungan kerja yang produktif dan memuaskan bagi guru, serta pada akhirya mampu menciptakan kondisi belajar siswa meningkat (Eggen & Kauchak 2004)

Dari tiga  pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan atau menekankan pada kegiatan   pembelajaran di sekolah  yang meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, penilaian hasil belajar, penilaian serta pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah

Untuk menerapkan kepemimpinan pembelajaran yang efektif di sekolah Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan (2011:36-40), menberikan  15 cara  yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah yaitu: 

Baca juga: Konsep dan Strategi Pengembangan Kewirausahaan di Sekolah

1. Merumuskan dan mengartikulasi tujuan pembelajaran
Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus memfasilitasi/membantu  guru dalam penyusunan tujuan pembelajaran masing-masing mata pelajaran  yang mengacu kepada  standar kompetensi lulusan dan standar isi .
Kegiatan tersebut dilakukan secara berkala diawal tahun pelajaran melalui berbagai macam kegiatan seperti workshop, lokakarya, in house training, diskusi kelompok tutorial dan lain-lain.

Adapun kegiatan  guru dalah  melakukan analisis tujuan pembelajaran, ruanglingkup mata pelajaran, analisis standar kompetensi ,  perumusan indikator masing-masing KD dari mata pelajaran dan penentuan kriteria ketuntasan yang harus dicapai peserta didik.  

Setelah perumusan tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran selesai, dilanjutkan dengan  sosialisasi kepada para siswa, karyawan, dan orang tua siswa tentang kedua hal tersebut dan juga upaya-upaya kolaboratif yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan pembelajaran

2. Mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum
Kepala sekolah harus memfasilitasi guru dalam dalam bentuk kerja kelompok untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum mata pelajaran dengan mengacu pada pedoman pengembangan kurikulum yang berlaku.
Kepala sekolah harus membentuk tim pengembang kurikulum (TPK) yang solid disekolah dengan agenda/kegiatan  yang jelas, dan kinerjanya dievaluasi secara berkala. 

3. Membimbing pengembangan dan perbaikan proses pembelajaran
 Pengembangan dan perbaikan proses pembelajaran menjadi prioritas kepala sekolah dengan cara memfasilitasi guru untuk melakukan pembaruan pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif. Pembelajaran harus menyenangkan dan  berpusat pada siswa serta  kontekstual terhadap kondisi peserta didik.

Hasil kelompok kerja guru ini adalah model-model, pendekatan, strategi, metode, teknik dan taktik pembelajaran yang efektif untuk dilaksanakan oleh masing-masing guru secara konsisten dan berkelanjutan

4. Mengevaluasi kinerja guru dan mengembangkannya
 Kepala sekolah secara reguler melakukan evaluasi kinerja guru yang berbasis data akurat  untuk mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Kekuatan yang dimiliki guru harus senantiasa dipertahankan dan dikembangkan sedangkan kelemahan harus segera diberu bantuan melalui supervisi. Hasil evaluasi kinerja dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu di atas standar, sesuai standar, atau di bawah standar.

Bagi yang hasil evaluasi kinerjanya di atas standar perlu diberi reword dan diberi dukungan untuk mengembangkan dirinya. Bagi yang hasil evaluasi kinerjanya sudah sesuai dengan standar dan yang masih di bawah standar, perlu diciptakan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka dan didukung oleh kepala sekolah dan dinas dalam pembiayaannya.

5. Membangun komunitas pembelajaran
Kepala sekolah senantiasa memotivasi, mengarahkan  dan mengajak warganya untuk menjadi pembelajar yang selalu belajar terus karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni, dan regulasi mengalami perubahan yang sangat cepat.
Di samping itu, sekolahnyapun harus pro perubahan sehingga kepala sekolah berkewajiban memfasilitasi warganya untuk melakukan perubahan-perubahan terhadap sekolahnya agar menjadi sekolah pembelajar (learning school).

6. Menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional
Kepala sekolah dalam menerapkan kepemimpinannya berdasarkan pada visi dan misi yang telah dirumuskan bersama serta menyesuaikan dengan kondisi nyata yang ada di sekolah, dengan member inspirasi dan mendorong terjadinya pembelajaran yang futuristik dan kontekstual. Semua kegiatan guru disekolah harus mengacu dan mengejar tercapainya visi misi yang telah ditetapkan.

7. Melayani siswa dengan prima.
Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus memahami dan menyadari sepenuhnya bahwa melayani dengan prima kepada guru, siswa, dan orangtua siswa merupakan prioritas karena urusan utamanya adalah  pembelajaran yang melibatkan ketiga unsur tersebut.
Jadi, kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus lebih menekankan pada pelayanan prima dari pada menggunakan kekuasaannya.

8. Melakukan perbaikan secara terus menerus
Kepala sekolah harus memfasilitasi dan melaksanakan proses perbaikan terhadap masalah dan kendala yang dihadapi sekolah dengan konsep pengembangan berkelanjutan melalui siklus perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, refleksi, dan revisi terhadap perencanaan berikutnya, dan siklusnya diulang secara terus menerus.

9. Menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif
Kepala sekolah dalam menerapkan kepemimpinan pembelajaran perlu memiliki karakteristik  luwes dalam pengendalian, komitmen yang kuat dalam pencapaian visi dan misi sekolah, memberi penghargaan kepada warga sekolah, memecahkan masalah secara kolaboratif, melakukan pendelegasian tugas yang fokus pada proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.

Kepala sekolah tidak mungkin memonopoli semua tugas maka sebagai manajer kepala sekolah harus mampu memposisikan guru-guru dengan tepat sesuai dengan kompetensinya.

10. Membangun warga sekolah agar pro perubahan
Kepala sekolah memfasilitasi seluruh warga sekolah untuk dapat melakukan perubahan dengan melakukan pengarahan, bimbingan, memotivasi dan mempengaruhi timbulnya prakarsa baru, kreativitas, inovasi, dan inisiasi dalam pengembangan pembelajaran. Kepala sekolah harus mampu menampung dan mengembangkan ide-ide pembaharuan dalam pembelajaran seperti kemajuan teknologi, budaya dan informasi terkini.

11. Membangun teamwork yang kompak
Kegiatan pembelajaran melibatkan guru, siswa, dan orangtua siswa harus dikoordinasikan dengan baik sehingga menjadi  kekuatan yang tangguh untuk mensukseskan hasil belajar siswa.

Koordinasi mengandung dua hal yaitu integrasi permasalahan yang dapat ditampung dalam perencanaan pembelajaran, dan yang kedua adalah sinkronisasi ketatalaksanaan yang dilakukan sewaktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

12. Memberi contoh dan menginspirasi warga sekolah
Kepala sekolah sebagai teladan bagi seluruh warga sekolah dalam berbagai hal; komitmen terhadap visi dan misi sekolah, disiplin, semangat kerja yang tinggi, yang dapat menginspirasi terjadinya pengembangan dan kemajuan sekolah.

13. Menciptakan kultur bagi pembelajaran yang progresif dan kondusif
Kepala sekolah menanamkan nilai-nilai, keyakinan, dan norma-norma yang kondusif bagi pengembangan pembelajaran peserta didik.

Untuk itu, kepala sekolah perlu menciptakan suasana/iklim akademik yang dibangun melalui kebijakan-kebijakan dan program-program sekolah untuk memajukan siswa berdasarkan hasil belajar siswa seperti  pelaksanaan remedial, pengayaan,  tugas terstruktur dan tidak terstruktur.

Disamping itu, kepala sekolah membangun kondisi kelas yang kondusif, menyediakan waktu ekstra bagi siswa yang memerlukan bimbingan tambahan, dan melakukan obervasi kelas secara rutin dan memuji perilaku positif guru dan siswa.


14. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan pembelajaran
Kepala sekolah perlu melakukan monitoring dan evaluasi secara cermat untuk mengetahui tingkat keberhasilan (kemajuan) hasil belajar, hambatan, dan tantangan yang dihadapi.

Tanpa monitoring dan evaluasi yang cermat, tidak ada hak untuk mengatakan apakah ada kemajuan hasil belajar atau tidak. Dengan kata lain, monitoring dan evaluasi akan memberi informasi apakah hasil nyata pembelajaran telah sesuai dengan hasil yang diharapkan dari pembelajaran.

15. Menyediakan sebagian besar waktu untuk pembelajaran.
Kepala sekolah mengalokasikan sebagian besar waktunya untuk pembelajaran dan untuk guru serta siswa. Saat ini dengan pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 dimana kepala sekolah tidak lagi harus mengajar di kelas, akan tetapi lebih fokus mengelola sekolah sehingga waktu untuk membina guru dalam pembelajaran akan semakin banyak.  

 BACA :  GAYA KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF DI SEKOLAH

Kenyataannya, kepala sekolah hanya sedikit mengalokasikan waktunya untuk pembelajaran, guru, dan siswa. Sebagian besar waktunya digunakan untuk pekerjaan administratif, pertemuan, dan sebagainya. Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran sudah saatnya melakukan perubahan terhadap manajemen waktu sehingga lebih banyak kepada urusan pembelajaran guru, dan siswa. Dengan demikian visi, misi serta standarisasi mutu yang ditetapkan dapat dicapai. Semoga. 


LPPKS .(2013). Modul Latihan Kepemimpinan Calon kepala Sekolah . Surakarta:  LPPKS

Depdikbud.1999. Panduan manajemen Sekolah . Jakarta: Dirjen Dikdasmen



Tanya Jawab Seputar Pembuatan/Modifikasi Alat Pelajaran

Pembuatan alat pelajaran dan modifikasi alat pelajaran adalah jenis karya inovatif yang dapat dibuat masing-masing guru untuk memudahkan peserta didiknya belajar sekaligus  dapat dinilai angka kreditnya untuk dalam pengusulan naik pangkat. Untuk lebih jelas pemahaman tentang jenis karya ini dapat dibantu dengan pendekatan tanya jawab seperti di bawah ini. 

1. Apa yang disebut alat pelajaran ?

Alat pelajaran adalah alat yang digunakan untuk membantu kelancaran proses pembelajaran/ bimbingan pada khususnya dan proses pendidikan di sekolah/madrasah pada umumnya.

2. Apa  Kriteria Alat Pelajaran itu?

Kriteria alat pelajaran tersebut adalah ada empat macam yaitu: 

Berupa alat kelengkapan yang digunakan dalam pembelajaran/bimbingan atau  pendidikan di sekolah/madrasah.

Pelaksanaan pembelajaran/bimbingan atau pendidikan di  sekolah menjadi lebih mudah/sederhana  dan lebih efektif.

Bermanfaat untuk pelajaran/bimbingan di sekolah/madrasah (di dalam maupun di  luar ruang kelas)

Ada unsur modifikasi/inovasi bila sebelumnya sudah pernah ada di sekolah/madrasah tersebut.

3. Apa jenis alat pelajaran yang dapat di buat ?
Jenis alat pelajaran yang dapat dibuat guru seperti:

   a. Alat bantu presentasi

   b. Alat bantu olahraga

   c. Alat bantu praktik

   d. Alat bantu musik.

   e. Alat lain yang membantu kelancaran proses  pembelajaran/bimbingan atau pendidikan di sekolah

4. Apa kriteria Alat pelajaran kategori kompleks atau sederhana?

Alat pelajaran dikategorikan kompleks apabila memenuhi kriteria:

  a. memiliki tingkat inovasi yang tinggi;

  b. tingkat kesulitan pembuatan yang tinggi

  c. memiliki konstruksi atau alur kerja yang rumit atau apabila berupa hasil modifikasi, memiliki tingkat modifikasi yang tinggi;

  d. Waktu pembuatannya relatif lama.

  e. Biaya pembuatannya relatif tinggi.

Alat pelajaran dikategorikan sederhana apabila memenuhi kriteria:

  a. Memiliki tingkat inovasi yang rendah;

  b. Tingkat kesulitan pembuatan yang rendah;

  c. Memiliki konstruksi atau alur kerja yang tidak rumit atau apabila berupa hasil modifikasi  maka memiliki tingkat modifikasi yang rendah;

  d. Waktu pembuatannya relatif pendek;

  e. Biaya pembuatannya relatif rendah.

5. Bagaimana format laporan membuat alat pelajaran  ?

Format laporan pembuatan alat pelajaran adalah sebagai berikut:

1. Halaman judul, memuat jenis laporan (tuliskan Laporan Pembuatan Alat Pelajaran), nama alat pelajaran, nama pembuat, NIP , dan nama sekolah.


2. Halaman pengesahan oleh kepala sekolah/madrasah.

3. Halaman pernyataan dari pembuat bahwa alat pelajaran ini benar-benar asli hasil karya guru bersangkutan.

4. Kata Pengantar

5. Daftar Isi

6. Daftar Gambar/Foto

7. Nama Alat Pelajaran

8. Tujuan

9. Manfaat

10. Rancangan/desain alat pelajaran/bimbingan (dilengkapi dengan gambar rancangan atau  diagram alir serta daftar dan foto alat dan bahan yang digunakan).

11. Prosedur pembuatan alat pelajaran/ bimbingan (dilengkapi dengan foto pembuatan).

12. Penggunaan alat pelajaran di sekolah/madrasah (dilengkapi dengan foto penggunaan).

5. Apa bukti fisik yang perlu disertakan ?

Bukti Fisik yang perlu disertakan untuk mendapatkan Angka Kredit adalah sebagai berikut:

a. Laporan tertulis tentang cara pembuatan dan penggunaan alat  pelajaran yang dilengkapi  dengan gambar/foto alat pelajaran tersebut dan lain-lain yang dianggap perlu.

b. Lembar pengesahan/pernyataan dari kepala sekolah/madrasah bahwa alat pelajaran    tersebut dipergunakan di sekolah/madrasah.

6. Berapa besaran angka kreditnya?

Besaran angka kredit pembuatan alat pelajaran itu adalah sebagai berikut.

a. Kategori kompleks, diberi angka kredit 2.

b. Kategori sederhana, diberi angka kredit 1.

c. Angka kredit diberikan setiap kali menghasilkan karya alat pelajaran dan dapat dilakukan oleh perorangan atau tim.

Semoga rekan-rekan guru semakin tertarik dan bersemangat membuat alat pelajaran yang memudahkan peserta didik kita memahami materi pelajaran dan 

Tanya Jawab Seputar Alat Peraga Sebagai Karya Inovatif

Dalam pengumpulan  angka kredit guru khususnya  terkait dengan publikasi ilmiah dan karya inovatif, masih banyak guru yang hanya bertumpu pada jenis publikasi ilmiah sehingga mereka sulit mendapatkan angka kredit pada hal,  guru dapat membuat karya inovatif yang lebih sederhana yaitu alat peraga dan alat pelajaran.

Dengan  banyak pertanyaan guru terkait dengan karya inovatif ini maka penulis membuat dalam bentuk tanya jawab yang dimulai dari jenis alat peraga seperti di bawah ini:

1. Apa  yang disebut Alat Peraga itu?

Alat peraga adalah alat yang digunakan untuk memperjelas  konsep/teori/cara kerja tertentu yang dipergunakan dalam proses pembelajaran atau bimbingan.
2. Bagaimana kriteria alat peraga yang dapat dinilai?

Berupa alat yang berfungsi untuk memperjelas konsep/teori/cara kerja tertentu yang diper- gunakan dalam proses  pembelajaran/bimbingan. Pelaksanaan proses pembelajaran/bimbingan menjadi lebih jelas dan lebih efektif.
   
Alat peraga tersebut mempunyai ciri yaitu: memperjelas konsep/teori/cara kerja suatu alat, ada unsur modifikasi/inovasi bila sebelumnya sudah pernah ada di sekolah/madrasah tersebut.
     
Alat peraga dikategorikan kompleks apabila memenuhi kriteria:memiliki tingkat inovasi yang tinggi;tingkat kesulitan pembuatannya tinggi;memiliki konstruksi atau alur kerja yang rumit atau apabila berupa hasil modifikasi, memiliki tingkat modifikasi yang tinggi;waktu pembuatannya relatif lama, danbiaya pembuatannya relatif tinggi.


Alat peraga dikategorikan sederhana apabila memenuhi kriteria:memiliki tingkat inovasi yang rendah;tingkat kesulitan pembuatannya yang rendah;memiliki konstruksi atau alur kerja yang tidak rumit atau apabila berupa hasil modifi- kasi, memiliki tingkat modifikasi yang rendah;waktu pembuatannya relatif pendek; danbiaya pembuatannya relatif rendah.

3. Apa saja Jenis alat peraga yang dapat di buat  guru?

a. Poster atau gambar untuk pelajaran


b. Alat permainan pendidikan


c. Model benda atau barang atau alat tertentu


d. Benda potongan (cutaway object)


e. Film/video pelajaran pendek


f. Gambar animasi komputer, dan


g. Alat peraga lain
4.  Bagaimana format  laporan pembuatan alat peraga itu?
Format Laporan Pembuatan Alat Peraga sebagai berikut:

Halaman judul, memuat jenis laporan (tuliskan Laporan Pembuatan Alat Pelajaran), nama alat pelajaran, nama pembuat, NIP bagi PNS, dan nama sekolah/ lokasi.


Halaman pengesahan oleh kepala sekolah.


Halaman pernyataan dari pembuat bahwa alat peraga ini benar-benar asli hasil karya  guru bersangkutan.


Kata Pengantar


Daftar Isi


Daftar Gambar/Foto


Nama Alat Peraga


Tujuan


Manfaat


Rancangan/desain alat peraga (dilengkapi dengan gambar rancangan atau diagram  alir serta daftar dan foto alat dan bahan yang digunakan).


Prosedur pembuatan alat peraga (dilengkapi dengan foto pembuatan)


Penggunaan alat peraga di sekolah/madrasah (dilengkapi dengan foto penggunaan).
5. Apa saja bukti fisik yang disertakan  pembuatan alat peraga ?

Bukti Fisik yang harus disertakan untuk mendapatkan Angka Kredit pembuatan alat peraga itu adalah:


Laporan tertulis tentang cara pembuatan dan penggunaan alat peraga yang dilengkapi  dengan gambar/foto alat peraga tersebut bila alat peraga tidak memungkinkan untuk dikirim.


Laporan tertulis tentang cara pembuatan dan penggunaan alat peraga yang dilengkapi dengan alat peraga yang dibuat bila alat peraga tersebut memungkinkan untuk dikirim.


Lembar pengesahan/pernyataan dari Kepala Sekolah/madrasah bahwa alat peraga tersebut  dipergunakan di sekolah/madrasah.


6.  Berapa besaran angka kredit pembuatan alat peraga ? 

Besaran angka kredit pembuatan alat peraga itu adalah sebagai berikut.

Kategori kompleks, diberi angka kredit 2.


Kategori sederhana, diberi angka kredit 1


Angka kredit diberikan setiap kali menghasilkan alat peraga dan dapat dilakukan oleh  perorangan atau tim.
Dari enam jawaban pertanyaan di atas, para guru diharapkan telah dapat  memahami apa yang disebut alat peraga, kriteria sehingga dapat dinilai angka kreditnya, jenis alat peraga yang dapat dibuat guru dan format laporan yang harus disiapkan sebagai bukti fisik. 

Angka kredit pembuatan alat peraga kategori kompleks 2 dan sederhana 1. Semoga guru dapat membuatnya agar cepat naik pangkat. 



Cara Menulis Daftar Pustaka Dalam Karya Tulis


Daftar pustaka menggambarkan rujukan, refrensi, atau sumber yang digunakan penulis karya tulis ilmiah dapat berupa buku, artikel dalam jurnal, proposal penelitian dan  laporan penelitian. Dalam menuliskan rujukan, refrensi, atau sumber dalam pustaka tersebut perlu diperhatikan beberapa hal diantaranya : 

1. Daftar pustaka dapat bersumber dari buku, jurnal, internet, atau sumber lain yang sesuai dengan penelitian;

2. Daftar pustaka dapat bersumber dari buku, jurnal, internet, maupun surat kabar;

3. Daftar pustaka ditulis dengan susunan berurut alfabetis

4. Sumber yang tidak digunakan atau tidak ada kaitannya dalam kajian teori tidak perlu dicantumkan dalam daftar pustaka.

5. Untuk penulisan nama, gelar akademis, gelar keagamaan, dan sebagainya tidak dicantumkan. 

Daftar pustaka yang bersumber dari buku

Kalau daftar pustaka bersumber dari  buku maka urutan-urutan penulisannya aalah: nama belakang penulis, nama depan (dapat disingkat), titik,  tahun penerbitan dalam kurung,titik,   judul buku digarisbawahi atau cetak miring, edisi, kota asal, penerbit.

Daftar pustaka berupa buku diulis dengan memperhatikan keragaman sebagai berikut :

1.   Jika buku ditulis oleh satu orang saja:
Sukardi.(2006). Guru Powerful Guru Masa Depan: Kunci Sukses Menjadi Guru Efektif. Bandung: Kolbu.

Purwanto, M. Ngalim. (1987). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. 

2.   Jika buku ditulis oleh dua atau tiga orang, maka semua nama ditulis:
Dunkin, M.J. dan Biddle, B.J. (1974). Study of teaching. New York: Holt Rinehart and Winston.Lyon, B., Rowen, H.H. and Homerow, T.S. (1969). A History of the Western World. Chicago: Rand McNally.

3.   Jika buku ditulis oleh lebih dari tiga orang, digunakan et al. (dicetak miring atau digarisbawahi):
Ghiseli, E. te al. (1981).  Measurement theory for The behavioral Sciences. San Francisco: W.H. Freeman and Co.

4.   Jika penulis sebagai penyuting:
Philips, H.W.S. dan Simpson, G.L. (Eds)(1979). Australia in the World of Education Today and TomorrowCanberra: Australia natioanl Commission.

5.   Jika sumber itu merupakan karya tulis seseorang dalam suatu kumpulan tulisan banyak orang:
Pujianto. (1984). “Etika Sosial dalam Nilai Bangsa Indonesia”, dalam Dialog Manusia, Falsafah Budaya, dan Pembangunan. Malang: YP2LPM.

6.   Jika buku itu berupa edisi:
Gabriel, J. (1970). Children Growing Up: Development of Children’ Personality(third ed.). London: University of London Press.

Daftar pustaka yang bersumber dari Jurnal

Daftar pustaka yang bersumber dari  jurnal ditlulis dengan  mengikuti urutan: nama belakang penulis, nama depan penulis (disingkat), tahun penerbitan (dalam tanda kurung), dulu artikel (ditulis antara tanda petik), judul jurnal dengan huruf miring/digarisbwahi dan ditulis penuh, nomor volume dengan angka Arab dan digarisbawahi tanpa didahului dengan singkatan “vol”, nomor penerbitan (jika ada) dengan angak Arab dan ditulis di antara tanda kurung, nomor halaman dari nomor halaman pertama sampai dengan nomor halaman terakhir tanpa didahului singkatan “pp” atah “h”.

Misalnya:
Barrett-Lennard, G.T. (1983). “The Empathy cycle:Refinement of A Nuclear Concept”.Journal of Counseling Psychology.28,(2),91-100.

Daftar pustaka yang  sumbernya di luar jurnal dan buku

1.   Berupa skripsi, tesis, atau disertasi

Soelaeman. M.I. (1985). Suatu Upaya Pendekatan Fenomenologis terhadap Situasi Kehidupan dan Pendidikan Dalam Keluarga dan Sekolah. Disertasi Doktor pada FS IKIP Bandung: tidak diterrbitkan.

2.   Berupa publikasi Departemen

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1998). Petunjuk Pelaksanaan Beasiswa dan Dana Bantuan Operasional, Jakarta: Depdikbud.

3.   Berupa dokumen

Proyek Pengembangan Pendidikan Guru. (1993). Laporan Penilaian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru. Jakarta: Depdikbud.

4.   Berupa makalah

Kartadinata, S. (1998). “Kualifikasi Profesional Petugas Bimbingan Indonesia: Kajian Psikologis”. Makalah pada Konvensi 7 IPBI, Denpasar.
5.   Berupa surat kabar

Sanusi, A. (2003). “Menyimak Mutu Pendidikan dengan Konsep Takwa dan Kecerdasan, Meluruskan Konsep Belajar dalam Arti Kualitatif”. Pikiran Rakyat(8 September 1986).

Daftar pustaka jika sumbernya dari internet

1.   Bila karya perorangan
Cara penulisannya: Pengarang/penyuting. (tahun). Judul (edisi), [jenis medium]. Tersedia:alamat di internet.(tanggal diakses)

Thompson, A. (1998). The Adult and the Curriculum. (Online). Tersedia:http://www.ed.uiuc.edu/EPS/PES-Yearbook/1998/thompson.html (30 Maret 2000)

2.   Bila bagian dari karya kolektif
Cara penulisannya: Pengarang/penyuting. (Tahun). Dalam Sumber (edisi), (Jenis media). Penerbit. Tersedia: alamat di internet. (Tanggal di akses)

Daniel, R.T. (1995). The history of Westrn Music. in Britanica online: macropedia [Online]. Tersedia: http://www.eb.com:180/cgi-bin/g:DocF=macro/5004/45/0.html (28 Maret 2000)

Daftar pustaka yang sumbernya  artikel dalam jurnal

Cara penulisannya: Pengarang. (Tahun). Judul. Nama Jurnal (Jenis media), volume (terbitan), halaman. Tersedia: alamat di inetrenet. (tanggal di akses)


Supriadi, D. (1999). Restructuring the Schoolbook Provision System in Indonesia: Some Recent Initiatives. Dalam Education Policy Analysis Archives[Online], vol 7 (7), 12 halam. tersedia: http: //epaa.asu.edu/epaa/v7n7.html (17 maret 2000)

Daftar pustaka yang sumbernya  artikel dalam majalah

Cara penulisannya: Pengarang. (tahun, tanggal, bulan). Judul. nama majalah (Jenis media), volume, jumlah halaman. Tersedia: alamat di internet [tanggal diakses].

Goodstein, C. (1991, September). Healers from the deep. American Health [CD-ROM], 60-64. Tersedia: 1994 SIRS/SIRS 1992 Life Science / Article 08A (13 Juni 1995)

Daftar pustaka yang sumbernya artikel di surat kabar

Cara penulisannya: Pengarang. (Tahun, tanggal, bulan). Judul. Nama Surat kabar (Jenis media), jumlah halaman. Tersedia: alamt di internet (tanggal di kases)
Cipto, B. (2000, 27 April). Akibat Perombakan Kabinet Berulang, Fondasi Reformasi Bisa Runtuh. Pikiran Rakyat (Online), halaman 8. Tersedia: http: //www.pikiran-rakyat.com. (9 Maret 2000)

Daftar pustaka yang bersumber dari pesan melalui  E-mail

Cara penulisannya: Pengirim (alamat e-mail pengirim). (tahun, tanggal, bulan). judul pesan. E-mail kepada penerima [alamat e-mail penerima]


Wisnurat, Yuyus (wisnurat @okeguru.com). (2000, 25 April). Bab V Laporan Penelitian. E-mail kepada dedi Supriadi (Supriadi @gmail.com)

RPP Dengan Model Pembelajaran Problem Basic Learning (PBL)

Problem Basic Learning (PBL) adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sehari-hari (otentik) yang bersifat terbuka (open-ended) untuk diselesaikan oleh peserta didik dalam rangka mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan sosial, keterampilan untuk belajar mandiri, dan membangun atau memperoleh pengetahuan baru.
Pemilihan masalah nyata tersebut dilakukan atas pertimbangan kesesuaiannya dengan pencapaian kompetensi dasar. Berikut fase/sintaks yang dilakukan:

1. Orientasi terhadap masalah:

Guru menyajikan masalah nyata kepada peserta didik . Dalam tahap ini guru dapat  langsung menyodorkan sebuah masalah, tetapi dapat juga menyajikan “situasi masalah”. Caranya dengan  mengajak siswa mengamati  suatu fenomena baik langsung maupun  tidak langsung (lewat video, gambar, teks).
Dari kegiatan ini siswa diminta untuk menetapkan masalah atau pengetahuan yang belum dan ingin diketahui (gap of knowledge)

2. Organisasi belajar:

Tahap ini guru memfasilitasi peserta didik untuk memahami masalah nyata yang telah disajikan, yaitu  dengan mengidentifikasi apa  yang perlu mereka ketahui dan apa yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang sudah diidentifikasi. Peserta didik berbagi peran/tugas untuk menyelesaikan masalah tersebut.

3. Penyelidikan individual maupun kelompok :

Guru membimbing peserta didik melakukan pengumpulan data/informasi  (dapat berupa pengetahuan, konsep, teori) melalui berbagai macam cara , misalnya dengan  observasi mendalam, membaca, survey, wawancara, dan sebagainya untuk menemukan berbagai alternatif penyelesaian masalah.  Langkah ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.

4. Pengembangan dan penyajian hasil penyelesaian masalah:

Pada tahap ini  guru membimbing peserta didik untuk menentukan penyelesaian masalah yang dipandang paling tepat dari berbagai alternatif pemecahan masalah yang peserta didik temukan.
Peserta didik menyusun laporan hasil penyelesaian masalah, secara tertulis maupun dalam bentuk power point slides untuk dipresentasikan.

5. Analisis dan evaluasi proses penyelesaian masalah: 

Lewat presentasi  laporan  penyelesaian masasah, guru membimbing peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses penyelesaian masalah yang dilakukan.

Baca juga: Langkah-langkah Pembelajaran berbasis Proyek (Project Based Learning)

Contoh RPP Model 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Satuan Pendidikan     : SMA
Kelas/Semester          : X/2
Mata Pelajaran           : Matematika-Wajib
Topik                          : Peluang
Waktu                         : 4 × 45 menit

A.     Kompetensi Inti SMA kelas X:
1.     Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2.  Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
3.   Memahami,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang  ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4.  Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

B.     Kompetensi Dasar
1.1        Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2.1 Memiliki motivasi inernal, kemampuan kerjasama, konsisten, sikap disiplin, dan sikap toleransi dalam perbedaaan strategi berpikir dalam memilih dan menerapkan strategi menyelesaikan masalah2.2 Mampu mentransformasikan diri dalam berprilaku jujur, tangguh menghadapi masalah, kritis dan disiplin dalam melakukan tugas belaar matematika
2.3 Menunjukkan sikap bertanggung jawab, rasa ingin tahu, jujur, dan perilaku peduli lingkungan
3. 22 Mendeskripsikan konsep peluang suatu kejadian menggunakan berbagai objek nyata dalam suatu percobaan
4.18 Menyajikan hasil penerapan konsep peluang untuk menjelaskan berbagai objek nyata melalui percobaan menggunakan frekuensi relatif

C.     Indikator Pencapaian Kompetensi 
1.    Menuliskan konsep peluang
2.    Menuliskan   titik sampel suatu kejadian
3.    Menuliskan ruang sampel dari suatu kejadian
4.    Menghitung frekuensi relatif dari suatu kejadian
5.    Menentukan peluang suatu kejadian
6.    Menentukan  peluang kejadian majemuk
7.    Menerapkan konsep dan aturan peluang dalam pemecahan masalah nyata
8.    Membuktikan berbagai sifat peluang.
9.    Menentukan kejadian dan ruang sampel dari suatu fenomena
10. Menentukan banyak kejadian dan ruang sampel dari suatu fenomena

D.     Tujuan Pembelajaran
1.   Melalui suatu percobaan (pelemparan sebuah dadu atau koin) peserta didik dapat menjelaskan suatu kejadian
2.  Melalui suatu percobaan (pelemparan sebuah dadu , koin atau pengambilan sebuah kartu)) peserta didik dapat menentukan titik sampel  dan ruang sampel
3.    Melalui percobaan pelemparan sebuah dadu peserta didik dapat menetukan frekuensi relatif dari suatu kejadian;
4.   Melalui penjelasan guru peserta didik dapat membedakan kejadian bebas dengan kejadian saling lepas;
5.   Melalui pemberian contoh peserta didik dapat menentukan peluang suatu kejadian.
6.    Dengan demonstrasi pelemparan dadu peserta didikdapat  menentukan kejadian dan ruang sampel dari suatu fenomena secara teliti, tepat, dan sistematis.
7.  Dengan demonstrasi pelemparan dadu peserta didik dapat menentukan banyak kejadian dan ruang sampel dari suatu fenomena secara tepat, sistematis, dan menggunakan simbol yang benar.

E.      Materi Pembelajaran
1.    Konsep peluang suatu kejadian , titik sampel dan ruang sampel suatu percobaan
2.    Frekuensi relatif dan peluang
3.    Peluang suatu kejadian majemuk

F.      Model/Metode Pembelajaran
Model/Pendekatan  Pembelajaran : Problem-Based Learning (PBL)
Metode Pembelajaran : Ekspositori, Penemuan terbimbing, Pemecahan Masalah, Diskusi, Tanya jawab, tugas.



A.     Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
Pen dahu luan
Komunikasi
1.    Memimpin doa (Meminta seorang peserta didik untuk memimpin doa)
2.Mengecek kehadiran peserta didik dan meminta peserta didik untuk menyiapkan perlengkapan dan peralatan yang diperlukan, misalnya buku peserta didik.
3. Meminta peserta didik untuk menanyakan kesulitan mengenai materi sebelumnya dan /atau pekerjaan rumah
4.Meminta peserta didik untuk memberi tanggapan terhadap kesulitan yang muncul
5.Memberikan penguatan terhadap jawaban peserta didik atau memberikan scaffolding untuk menyelesaikan masalah tersebut, apabila tidak ada peserta didik yang memberikan jawaban yang benar.

Apersepsi
1.       Guru memberikan gambaran tentang pentingnya memahami ruang sampel dan kejadian dari suatu fenomena, yaitu materi ini akan sangat penting untuk pembelajaran selanjutnya, misalnya menentukan banyak kejadian dan peluang dari suatu kejadian.
2.       Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis, peserta didik diajak memecahkan masalah mengenai banyak titik sampel. Misalnya, Budi mempunyai 3 kertas yang berukuran sama, tetapi dengan warna yang berbeda, misalnya merah, putih, dan biru. Berapa banyak bendera dua warna yang dapat dibuat oleh Budi?
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu (1) menentukan kejadian dan ruang sampel dari suatu fenomena, dan (2) menentukan banyak kejadian dan titik sampel dari suatu fenomena.
10 menit
Inti
1.       Fase 1: Orientasi peserta didik pada masalah:
(a)    Guru mengajukan masalah 1 yang tertera pada Lembar Aktivitas Peserta didik (LAS) dengan bantuan IT (power point).
(b) Guru meminta peserta didik mengamati (membaca) dan memahami masalah secara individu dan mengajukan hal-hal yang belum dipahami terkait masalah yang disajikan.
(c)    jika ada peserta didik yang mengalami masalah, guru mempersilahkan peserta didik lain untuk memberikan tanggapan. Bila diperlukan, guru memberikan bantuan secara klasikal melalui pemberian scaffolding.
(d)    Guru meminta peserta didik menuliskan informasi yang terdapat dari masalah tersebut secara teliti dengan menggunakan bahasa sendiri.
2.       Fase 2: Mengorganisasikan peserta didik belajar
(a)  Guru meminta peserta didik membentuk kelompok heterogen (dari sisi kemampuan, gender, budaya, maupun agama) sesuai pembagian kelompok  yang telah direncanakan oleh guru.
(b)     Guru menyediakan logistik (media) untuk setiap kelompok berupa, misalnya 3 biji halma merah untuk nasi campur, 3 biji halma putih untuk nasi goreng, dan 3 biji halma hijau untuk bakso, 3 kertas merah yang bertuliskan Rp 5.000, 3 kertas putih yang bertuliskan Rp 4.000, dan 3 kertas hijau yang bertuliskan Rp 4.500.
(c)   Guru membagikan Lembar Aktivitas Peserta didik (LAS) yang berisikan masalah dan langkah-langkah pemecahan serta meminta peserta didik berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah.
(d)  Guru berkeliling mencermati peserta didik bekerja, mencermati dan menemukan berbagai kesulitan yang dialami peserta didik, serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya hal-hal yang belum dipahami.
(e)     Guru memberi bantuan (scaffolding) berkaitan kesulitan yang dialami peserta didik secara individu, kelompok, atau klasikal.
(f)       Meminta peserta didik bekerja sama untuk menghimpun berbagai konsep dan aturan matematika yang sudah dipelajari serta memikirkan secara cermat strategi pemecahan yang berguna untuk pemecahan masalah.
(g)     Mendorong peserta didik agar bekerja sama dalam kelompok.
3.       Fase 3: Membimbing penyelidikan individu dan kelompok.
(a) Meminta peserta didik melihat hubungan-hubungan berdasarkan informasi/data terkait membangun
(b) Guru meminta peserta didik melakukan eksperimen dengan media yang disediakan  untuk menyelesaikan masalah, yaitu  (a) mencatat semua jenis pesanan yang mungkin beserta harganya, (b) menghitung banyak pesanan yang mungkin, (c) menghitung banyak pesanan yang mungkin dipesan yang mana harganya tidak lebih dari Rp. 13.000,00.
(c)      Guru meminta peserta didik mendiskusikan cara yang digunakan untuk menemukan semua kemungkinan dari jenis pesanan tersebut, misalnya dengan tabel, diagram pohon, koordinat kartesius, cara mendaftar. Bila peserta didik belum mampu menjawabnya, guru memberi scaffolding dengan mengingatkan peserta didik mengenai cara mereka menentukan jenis pesanan.
4.       Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
(a)     Guru meminta peserta didik menyiapkan laporan hasil diskusi kelompok secara rapi, rinci, dan sistematis.
(b)   Guru berkeliling mencermati peserta didik bekerja menyusun laporan hasil diskusi, dan memberi bantuan, bila diperlukan.
(c) Guru meminta peserta didik menentukan perwakilan kelompok secara musyawarah untuk menyajikan (mempresentasikan) laporan di depan kelas.
5.       Fase 5: Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
(a)     Guru meminta semua kelompok bermusyawarah untuk menentukan satu kelompok yang mempresentasikan (mengkomunikasikan) hasil diskusinya di depan kelas secara runtun, sistematis, santun, dan hemat waktu.
(b)     Guru memberi kesempatan kepada peserta didik dari kelompok penyaji untuk memberikan penjelasan tambahan dengan baik.
(c)      Guru memberi kesempatan kepada peserta didik dari kelompok lain untuk memberikan tanggapan terhadap hasil diskusi kelompok penyaji dengan sopan.
(d)     Guru melibatkan peserta didik mengevaluasi jawaban kelompok penyaji serta masukan dari peserta didik yang lain dan membuat kesepakatan, bila jawaban yang disampaikan peserta didik sudah benar.
(e)     Guru memberi kesempatan kepada kelompok lain yang mempunyai jawaban berbeda dari kelompok penyaji pertama untuk mengkomunikasikan hasil diskusi kelompoknya secara  runtun, sistematis, santun, dan hemat waktu. Apabila ada lebih dari satu kelompok, maka guru meminta peserta didik bermusyawarah menentukan urutan penyajian.
(f)       Langkah (c), (d), dan (e) sebagai satu siklus dapat dilaksanakan lagi dan disesuaikan dengan waktu yang tersedia.
6.       Selanjutnya, guru membuka cakrawala penerapan ide dari penyelesaian masalah tersebut untuk menemukan rumus (ide) umum untuk menentukan banyak kemungkinan yang terjadi dari suatu fenomena. Misalkan terdapat n orang dan m jenis makanan. Setiap orang memesan satu jenis makanan. Berapa banyak variasi jenis makanan yang dapat dipesan oleh semua orang tersebut?
7.       Guru mendorong agar peserta didik secara aktif terlibat dalam diskusi kelompok serta saling bantu untuk menyelesaikan masalah tersebut.
8.       Selama peserta didik bekerja di dalam kelompok, guru memperhatikan dan mendorong semua peserta didik untuk terlibat diskusi, dan mengarahkan bila ada kelompok yang melenceng jauh pekerjaannya.
9.       Salah satu kelompok diskusi (tidak harus yang terbaik) diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas. Sementara kelompok lain, menanggapi dan menyempurnakan apa yang dipresentasikan.
10. Guru mengumpulkan semua hasil diskusi tiap kelompok
11. Dengan tanya jawab, guru mengarahkan semua peserta didik pada kesimpulan mengenai permasalahan tersebut.
80 menit
Penu tup
1. Peserta didik diminta menyimpulkan tentang bagaimana menentukan banyak ruang sampel dan kejadian.
2. Dengan bantuan presentasi komputer, guru menayangkan apa yang telah dipelajari dan disimpulkan mengenai cara menentukan banyak ruang sampel dan kejadian.
3.     Guru memberikan tugas PR beberapa soal mengenai penerapan rumus yang diperoleh.
4.   Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan untuk tetap belajar.
10 menit

B.     Alat/Media/Sumber Pembelajaran
             1.       Dadu, koin, kartu
             2.       Lembar aktivitas peserta didik (LAS).: Terlampir
             3.       Lembar penilaian   : Terlampir
C.     Penilaian Hasil Belajar
             1.       Teknik Penilaian: pengamatan, tes tertulis
             2.       Prosedur Penilaian:


No
Aspek yang dinilai  
 Teknik Penilaian
   Waktu Penilaian
1.
Sikap
a.       Terlibat aktif dalam pembelajaran peluang.
b.       Bekerjasama dalam kegiatan kelompok dan melakukan percobaan.
c.        Toleran terhadap proses dan selesaian pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
Pengamatan
Selama pembelajaran dan saat diskusi dan melakukan percobaan
2.
Pengetahuan
a.       Menjelaskan cara menyajikan (menemukan) semua kemungkinan yang mungkin muncul dari suatu fenomena secara tepat, sistematis, dan kreatif.
b.       Menentukan banyak kemungkinan yang mungkin muncul dari suatu fenomena secara tepat, sistematis, dan menggunakan simbol yang benar.

     Pengamatan 
dan tes

Penyelesaian kelompok
3.

Keterampilan
Terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan penyajian semua kemungkinan yang mungkin muncul dari suatu fenomena dan menentukan banyak darisemua kemungkinan tersebut.

Pengamatan

Penyelesaian
     tugas (kelompok) dan saat diskusi
D.     Instrumen Penilaian Hasil belajar 
Tes tertulis : Terlampir