Home » » Konsep dan Langkah-Langkah Menyusun Soal HOTS

Konsep dan Langkah-Langkah Menyusun Soal HOTS


1. Pengertian Soal Higher Order Thinking Skill (HOTS)
     
Soal-soal Higher Order Thinking Skill (HOTS) merupakan alat ukur (soal) yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu kemampuan peserta didik untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).

Dari dimensi pengetahuan, soal HOTS tidak sekedar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja tetapi sampai ke dimensi metakognitif, yang menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah, memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen, dan mengambil keputusan yang tepat.

Oleh sebab itu dalam membuat soal HOTS guru perlu mempertimbangkan dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom (edisi revisi oleh Anderson & Krathwohl, 2001), yang terdiri atas kemampuan: mengetahui (C1), memahami (C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mengkreasi (C6). Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah menganalisis , mengevaluasi , dan mengkreasi.

Apabila kita merumuskan indikator soal HOTS, perlu diperhatikan proses berfikir apa yang diperlukan dalam menjawab pertanyaan yang kita buat. Misalnya, kata kerja ‘menentukan’ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ‘menentukan’ bisa jadi ada pada ranah C5 (mengevaluasi) jika dipakai untuk menentukan keputusan yang didahului proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus kemudian peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. 

Bahkan kata kerja ‘menentukan’dapat digolongkan C6 (mengkreasi) bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir yang kita harapkan dari peserta didik.

Pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus yang bersifat kontekstual dan menarik. Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

2. Karakteristik Soal Higher Order Thinking Skill (HOTS)

 Karakteristik soal-soal HOTS dapat digambarkan oleh hal berikut:
a. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).

b. Berbasis permasalahan kontekstual. Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.

c. Menggunakan bentuk soal beragam . Bentuk-bentuk soal yang beragam dalam sebuah perangkat tes, bertujuan agar dapat memberikan informasi yang lebih rinci dan menyeluruh tentang kemampuan peserta tes.

BACA JUGA: PENILAIAN SIKAP PADA KURIKULUM 2013

Soal-soal HOTS mengukur kemampuan :
1) Transfer engetahuan satu konteks ke konteks lainnya
2) Memproses dan menerapkan informasi
3) Mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda
4) Menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah
5) Menelaah ide dan informasi secara kritis

3. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat soal HOTS

a. Harus ada stimulus dapat berupa wacana, illustrasi , gambar, tabel data, grafik, informasi diagram dll. Yang menarik
b. Sitimulus sangat dianjurkan diambil dari konteks dunia nyata dan bersifat kebaruan
c. Pernyataan yang diberikan menuntut pertanyaan logis, kritis, meta kognisi dan kreatif
d. Tetap berlaku kaidah penulisan soal pilihan ganda, uraian dan isian
e. Soal HOTS harus kontekstual yaitu sesuai dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari atau otentik. Ruang lingkup stimulus /konteks seperti: kesehatan, pendidikan/moral, pekerjaan, sumberdaya alam, lingkungan hidup, bencana alam atau pemanfaatan alam dan teknologi.

            Tabel dibawah ini menunjukkan ciri level soal yang disusun guru:

Level 1 (LOTS)
Level 2(MOTS)
Level 3(HOTS)
1.Menanyakan tentang teori/rumus
2.Menanyakan pemahaman dasar tentang data/ tabel /grafik/visual
3.Pengertian istilah-istilah atau nama-nama
4.Menanyakan Pemahaman konsep
5.Menanyakan Isi defenisi
1.Pada kognitif penerapan
2.Aplikasi teori dan rumus.
3.Interprestasi grafik/  label/visual  yang diberikan
4.Aplikasi gagasan dan konsep dalam konteks
5.Inteprestasi informasi/ data dalam konteks
6.Memecahkan masalah  dari informasi dalam konteks.
1.   Aplikasi teori dan rumus.
2.   Memecahkan dari informasi dalam konteks.
3.   Interprestasi grafik/ label /visual yangdiberikan
4.   Aplikasi gagasan dari konsep dalam konteks
5.   Inteprestasi informasi/data dalam konteks
6.   Konsep lain diluar konteks
7.   Perlakuan dalam stimulus mencari prediksi , keputusan, atau kesimpulan dst.


Agar soal yang belum HOTS menjadi HOTS maka hal-hal yang perlu dilakukan adalah 1) ubah konteks; 2) ubah stimulus jika stimulus berupa wacana dapat diubah menjadi grafik , tabel, diagram, gambar dll. ; 3) mengubah pertanyaan .

4. Langkah-langkah penyusunan soal-soal HOTS adalah sebagai berikut:


a. Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS
Guru menentukan KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS sebab tidak semua KD dapat dibuat soal HOTS. Selanjutnya guru melakukan analisis terhadap KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS.

b. Menyusun kisi-kisi soal
Kisi-kisi tersebut diperlukan untuk memandu guru dalam: 1) memilih KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS; 2) memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji, 3) merumuskan indikator soal, dan 4) menentukan level kognitif.

c. Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual
Stimulus yang menarik, artinya mendorong peserta didik untuk membaca stimulus. Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk membaca, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah setempat.

d. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal
Soal ditulis sesuai dengan kaidah penulisan pada umumnya. Perbedaannya terletak pada aspek materi, sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama.

e. Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban
Setiap butir soal HOTS yang ditulis dalam bentuk uraian, pilihan ganda, dan isian singkat perlu dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban.

Adapun jenis soal yang dapat dijadikan soal HOTS adalah pilihan ganda, uraian , benar salah, uraian singkat dll. Pemilihan bentuk soal hendaknya dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian yaitu assessment of learning, assessment for learning, dan assessment as learning. Semoga rekan-rekan guru dapan membuat soal HOTS.


0 komentar:

Post a Comment