Konsep dan Langkah-Langkah Menyusun Soal HOTS


1. Pengertian Soal Higher Order Thinking Skill (HOTS)
     
Soal-soal Higher Order Thinking Skill (HOTS) merupakan alat ukur (soal) yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu kemampuan peserta didik untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).

Dari dimensi pengetahuan, soal HOTS tidak sekedar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja tetapi sampai ke dimensi metakognitif, yang menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah, memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen, dan mengambil keputusan yang tepat.

Oleh sebab itu dalam membuat soal HOTS guru perlu mempertimbangkan dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom (edisi revisi oleh Anderson & Krathwohl, 2001), yang terdiri atas kemampuan: mengetahui (C1), memahami (C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mengkreasi (C6). Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah menganalisis , mengevaluasi , dan mengkreasi.

Apabila kita merumuskan indikator soal HOTS, perlu diperhatikan proses berfikir apa yang diperlukan dalam menjawab pertanyaan yang kita buat. Misalnya, kata kerja ‘menentukan’ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ‘menentukan’ bisa jadi ada pada ranah C5 (mengevaluasi) jika dipakai untuk menentukan keputusan yang didahului proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus kemudian peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. 

Bahkan kata kerja ‘menentukan’dapat digolongkan C6 (mengkreasi) bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir yang kita harapkan dari peserta didik.

Pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus yang bersifat kontekstual dan menarik. Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

2. Karakteristik Soal Higher Order Thinking Skill (HOTS)

 Karakteristik soal-soal HOTS dapat digambarkan oleh hal berikut:
a. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).

b. Berbasis permasalahan kontekstual. Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.

c. Menggunakan bentuk soal beragam . Bentuk-bentuk soal yang beragam dalam sebuah perangkat tes, bertujuan agar dapat memberikan informasi yang lebih rinci dan menyeluruh tentang kemampuan peserta tes.

BACA JUGA: PENILAIAN SIKAP PADA KURIKULUM 2013

Soal-soal HOTS mengukur kemampuan :
1) Transfer engetahuan satu konteks ke konteks lainnya
2) Memproses dan menerapkan informasi
3) Mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda
4) Menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah
5) Menelaah ide dan informasi secara kritis

3. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat soal HOTS

a. Harus ada stimulus dapat berupa wacana, illustrasi , gambar, tabel data, grafik, informasi diagram dll. Yang menarik
b. Sitimulus sangat dianjurkan diambil dari konteks dunia nyata dan bersifat kebaruan
c. Pernyataan yang diberikan menuntut pertanyaan logis, kritis, meta kognisi dan kreatif
d. Tetap berlaku kaidah penulisan soal pilihan ganda, uraian dan isian
e. Soal HOTS harus kontekstual yaitu sesuai dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari atau otentik. Ruang lingkup stimulus /konteks seperti: kesehatan, pendidikan/moral, pekerjaan, sumberdaya alam, lingkungan hidup, bencana alam atau pemanfaatan alam dan teknologi.

            Tabel dibawah ini menunjukkan ciri level soal yang disusun guru:

Level 1 (LOTS)
Level 2(MOTS)
Level 3(HOTS)
1.Menanyakan tentang teori/rumus
2.Menanyakan pemahaman dasar tentang data/ tabel /grafik/visual
3.Pengertian istilah-istilah atau nama-nama
4.Menanyakan Pemahaman konsep
5.Menanyakan Isi defenisi
1.Pada kognitif penerapan
2.Aplikasi teori dan rumus.
3.Interprestasi grafik/  label/visual  yang diberikan
4.Aplikasi gagasan dan konsep dalam konteks
5.Inteprestasi informasi/ data dalam konteks
6.Memecahkan masalah  dari informasi dalam konteks.
1.   Aplikasi teori dan rumus.
2.   Memecahkan dari informasi dalam konteks.
3.   Interprestasi grafik/ label /visual yangdiberikan
4.   Aplikasi gagasan dari konsep dalam konteks
5.   Inteprestasi informasi/data dalam konteks
6.   Konsep lain diluar konteks
7.   Perlakuan dalam stimulus mencari prediksi , keputusan, atau kesimpulan dst.


Agar soal yang belum HOTS menjadi HOTS maka hal-hal yang perlu dilakukan adalah 1) ubah konteks; 2) ubah stimulus jika stimulus berupa wacana dapat diubah menjadi grafik , tabel, diagram, gambar dll. ; 3) mengubah pertanyaan .

4. Langkah-langkah penyusunan soal-soal HOTS adalah sebagai berikut:


a. Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS
Guru menentukan KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS sebab tidak semua KD dapat dibuat soal HOTS. Selanjutnya guru melakukan analisis terhadap KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS.

b. Menyusun kisi-kisi soal
Kisi-kisi tersebut diperlukan untuk memandu guru dalam: 1) memilih KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS; 2) memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji, 3) merumuskan indikator soal, dan 4) menentukan level kognitif.

c. Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual
Stimulus yang menarik, artinya mendorong peserta didik untuk membaca stimulus. Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk membaca, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah setempat.

d. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal
Soal ditulis sesuai dengan kaidah penulisan pada umumnya. Perbedaannya terletak pada aspek materi, sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama.

e. Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban
Setiap butir soal HOTS yang ditulis dalam bentuk uraian, pilihan ganda, dan isian singkat perlu dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban.

Adapun jenis soal yang dapat dijadikan soal HOTS adalah pilihan ganda, uraian , benar salah, uraian singkat dll. Pemilihan bentuk soal hendaknya dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian yaitu assessment of learning, assessment for learning, dan assessment as learning. Semoga rekan-rekan guru dapan membuat soal HOTS.


Prinsip dan Langkah-Langkah Menyusun RRP Kurikulum 2013


 Kurikulum 2013  kini sudah memasuki tahun kelima, namun dalam faktanya  masih  banyak guru kesulitan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).  Agar RPP  yang disusun sesuai dengan tuntutan kompetensi dasar (KD) khususnya kurikulum   2013,  guru perlu memahami ketentuan dan langkah berikut:

1.  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih yang disusun  berdasarkan KD atau subtema

2.  RPP dikembangkan dari silabus,   maka disusun dulu silabus kemudian RPP dan bukan sebaliknya, silabus digunakan untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD).

3.  Sebelum menyusun RPP, guru perlu mempersiapkan berbagai dokumen seperti : program tahunan, program Semester, silabus yang telah disusun , Permendikbud nomor 20, 21,22 dan 23  tahun 2016, Dokumen ini sangat penting dimiliki dan dipahami setiap guru.

4.  Guru perlu memahami kompetensi yang harus dimiliki peserta didik yaitu, sikap , pengetahuan dan keterampilan. Ketiga kompetensi tersebut memiliki proses pemerolehan yang berbeda. Sikap dibentuk melalui aktivitas-aktivitas: menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Pengetahuan dimiliki melalui aktivitas-aktivitas: mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas-aktivitas: mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Karakteristik  ketiga kompetensi harus terjabarkan dalam RPP dengan baik.


5.    Khusus untuk kompetensi pengetahuan, agar RPP yang disusun memuat tuntutan kompetensi yang diharapkan kurikulum,  maka guru perlu memahami kembali dimensi  Perkembangan Berfikir sesuai Taksonomi Bloom Rivised Anderson  peserta didik: Mengingat (C1),  memahami (C2), menerapkan (C3,  menganalisis (C4),  mengevaluasi (C5) dan mengkreasi (C6), Sedangkan dimensi pengetahuan (knowledge dimention) yaitu Pengetahuan faktual merupakan pengetahuan terminologi atau pengetahuan detail yang spesifik seperti nama-nama objek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, dsb. 
    
     Pengetahuan konseptual,  merupakan pengetahuan yang lebih kompleks berbentuk klasifikasi, kategori, prinsip dan generalisasi. pengertian, defenisi, ciri khusus, komponen, atau bagian suatu subjek,  dalil, rumus, adigium, postulat, teorema, hubungan antarkonsep. Pengetahuan procedural,  merupakanpengetahuan bagaimana melakukan sesuatu termasuk pengetahuan keterampilan, algoritma (urutan langkah-langkah logis pada penyelesaian masalah yang disusun secara sistematis), langkah-langkah mengerjakan sesuatu ,  teknik, dan metoda. Pengetahuan metakognitif yaitu pengetahuan tentang kognisi yang merupakan tindakan atas dasar suatu pemahaman meliputi kesadaran dan pengendalian berpikir, serta penetapan keputusan tentang sesuatu. Pengetahuan tentang kemampuan memahami, mengukur diri  sendiri.  

Hubungan Dimensi Proses Kognitif dan Dimensi Pengetahuan

No
Dimensi Proses Kognitif ,Bloom Rivisi Anderson
Dimensi engetahuan (Knowledge Dimension)
Keterangan
1.
Mengetahui (C1)
Pengetahuan Faktual
Lower Order Thinking Skills (LOT’s)
2.
(Memahami C2)
Pengetahuan Konseptual
3.
Menerapkan (C3)
Pengetahuan prosedural
Midle Order Thingking Skills (MOT’s)
4.
Menganalisis (C4) Mengevaluasi (C5) dan Mengkreasi(C6)
Pengetahuan Metakognitif
Higher Order Thinking Skills (HOT’s)

6.    Memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan RPP diantaranya 
 a) perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan siswa.  
 b) partisipasi aktif peserta didik, guru perlu memikirkan bagian-bagian/aktivitas yang membuat peserta didik berpartisipasi aktif.  
 c) berpusat pada peserta didik  untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian; 
 d) pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan;  
 e) pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedy; 
 f) penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar; 
 g) mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek  belajar, dan keragaman budaya; 
 h) penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

7.    Lakukan pengkajian ualang terhadap  silabus sesuai dengan Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016, silabus dikembangkan oleh guru mengacu pada komponen yang tercantum pada Permendikbud tersebut.

8.  Melakukan analisis keterkaitan SKL, KI, KD dalam rangka merumuskan IPK, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan rencana penilaian sesuai dengan muatan KD. Untuk mata pelajaran Agama dan PPKn merumuskan IPK dari pasangan KD pada KI-1, KD pada KI-2, KD pada KI 3, dan KD pada KI 4, sedangkan mata pelajaran lain IPK dari pasangan KD pada KI 3 dan KD pada KI 4 . Indikator yang disusun harus dapat mewakli tuntutan KD, satu KD minimal dua atau lebih indikator. 

9.    Menentukan alokasi waktu untuk setiap pertemuan. Penentuan ini berdasarkan hasil analisis waktu yang dibutuhkan untuk pencapaian tiap IPK dan disesuaikan dengan karakteristik siswa di satuan pendidikan.

10. Merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan KD dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hendaknya tujuan yang dirumuskan memenuhi aspek ABCD ( Auidence, Behaevior, Condition dan Degree)

11.  Menyusun materi pembelajaran. Materi pembelajaran dapat berasal dari buku teks pelajaran, buku panduan guru, sumber belajar lain berupa muatan lokal, materi kekinian, atau konteks pembelajaran dari lingkungan sekitar. Materi yang disusun harus sesuai dengan tuntutan KD/Indikator, apakah pengetahuan factual, konseptual, proseduran dan meta kognitif. Materi pembelajaran ini kemudian dikelompokkan menjadi materi untuk pembelajaran reguler, pengayaan, dan remedial.

12. Menentukan Pendekatan/Model/Metode Pembelajaran yang sesuai. Misalnya pendekatan  scientific approach, project based learning , discovery learning , cooperatif learning , tematik integratif ,  problem based Learning dan pendekatan lain yang dapat menjadikan peserta didik aktif, kreatif dan menyenangkan.

13. Menentukan media, alat, bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran. Missal  video/film:, rekaman audio, model yang digunakan, gambar  realia,  dan sebagainya , dan harus dituliskan secra lengkap identitasnya.

14.  Memastikan sumber belajar yang dijadikan referensi yang akan digunakan dalam langkah penjabaran proses pembelajaran, misalnya  koran, situs internet, narasumber ditulis lengkap identitas sumber belajar yang digunakan. 
15. Menjabarkan langkah-langkah pembelajaran ke dalam bentuk yang lebih operasional (mengutamakan pembelajaran aktif/active leaning ) dengan tiga bagian Pendahuluan, kegiatan inti dan penutup.).

16.  Mengembangkan penilaian proses dan hasil belajar meliputi lingkup, teknik, dan instrumen penilaian, serta pedoman penskoran, untuk merencanakan peniaian ini perlu dibaca Permendikbud nomor 23 Tahun 2016 tentang Standur Penilaian, dan pedoman penilaian sesuai dengan jenjang pendidikan masing-masing. 
  
17.  Terkait dengan format RPP,  hal  tersebut sangat fleksibel tanpa mengubah substansi RPP dalam permendikbub  nomor 22 tahun 2016. Untuk itu guru dapat memilih 3 alternatif berikut:

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 103 Tahun 2014
(Susunan Versi 1)
Nomor 22 Tahun 2016
(Susunan Versi 2)
Tahun 2014 & 22 Tahun 2016
(Susunan Versi 3)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sekolah               :
Mata Pelajaran  :
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu   :

A. Kompetensi Inti (KI)
B. Kompetensi Dasar/KD
1. KD pada KI-1 (khusus untuk mapel Agama dan PPKn)
2. KD pada KI-2 (khusus untuk mapel Agama dan PPKn)
3. KD pada KI-3
4. KD pada KI-4
C. Indikator Pencapaian Kompetensi/IPK
1. Indikator KD pada KI-1
2. Indikator KD pada KI-2
3. Indikator KD pada KI-3
4. Indikator KD pada KI-4
D. Materi Pembelajaran (**)
E. Kegiatan Pembelajaran
1. Pertemuan Pertama: (...JP)
a. Kegiatan Pendahuluan
b. Kegiatan Inti (***)
c. Kegiatan Penutup
2. Pertemuan Kedua: (...JP)
a. Kegiatan Pendahuluan
b. Kegiatan Inti (***)
c. Kegiatan Penutup
3. Pertemuan seterusnya.
F. Penilaian, Pembelajaran Remedial dan Pengayaan
1. Teknik penilaian
2. Instrumen penilaian
a. Pertemuan Pertama
b. Pertemuan Kedua
c. Pertemuan seterusnya
3. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan
Pembelajaran remedial dilakukan segera setelah kegiatan penilaian.
G. Media/alat, Bahan, dan Sumber Belajar
1. Media/alat
2. Bahan
3. Sumber Belajar

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sekolah               :
Mata Pelajaran  :
Kelas/Semester :
Materi Pokok     :
Alokasi Waktu    :

A. Tujuan Pembelajaran (*)
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
C. Materi Pembelajaran (**)
D. Metode Pembelajaran (***)
E. Media Pembelajaran
F. Sumber Belajar
G. Langkah – Langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan
2. Kegiatan Inti
3. Kegiatan Penutup
H. Penilaian Hasil Pembelajaran

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sekolah              :
Mata Pelajaran :
Kelas/Semester :
Materi Pokok     :
Alokasi Waktu   :

A. Kompetensi Inti/KI
B. Kompetensi Dasar/KD dan Indikator Pencapaian Kompetensi/IPK
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
KD pada KI 1
( khusus Guruan Agama dan PPKn)
KD pada KI 2
( Khusus Guruan Agama dan PPKn)
KD pada KI 3
KD pada KI 4

C. Tujuan Pembelajaran (*)
D. Materi Pembelajaran (**)
E. Pendekatan/Model/Metode Pembelajaran (***)
F. Media/Alat dan Bahan Pembelajaran
G. Sumber Belajar
H. Langkah – Langkah Pembelajaran
Pertemuan Pertama : (….JP)
1. Kegiatan Pendahuluan
2. Kegiatan Inti
3. Kegiatan Penutup

Pertemuan kedua : (….JP)
1. Kegiatan Pendahuluan
2. Kegiatan Inti
3. Kegiatan Penutup

Pertemuan ketiga : (….JP)
Pertemuan seterusnya

I. Penilaian Proses dan Hasil Pembelajaran


Demikianlah tips yang bisa digunakan guru dalam menyusun RPP  sehingga proses pembelajaran akan semakin baik. Yang tak kalah pentingnya adalah bahwa RPP yang telah disusun harus konsisten melaksanakannya dalam proses pembelajaran, bukan hanya sekedar administrasi atau dokumen keperluan sertifikasi. 

Revisi RPP yang baik dilakukan setelah selesai proses pembelajaran , RPP bersifat dinamis dan terus berkembang sesuai dengan tuntutan perkembangan pengetahuan. Apabila ada guru mengembangkan RPP selain format diatas,  silahkan yang penting substansinya tetap sama.    Semoga sukses .


Bahan Bacaan:
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 tahun 2014
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2016
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2016
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2016
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2016



8 Keterampilan Dasar Guru Yang Tidak Boleh Dilupakan

Guru adalah ujung tombak peningkatan mutu pendidikan, peningkatan mutu ini melalui proses  yang dinamis di depan kelas. Ketika proses tersebut tidak produktif maka dipastikan mutu yang diharapkan tidak pernah tercapai. 

Maka guru lebih bertindak sebagai fasilitator dan motivator agar peserta didik mau dan dapat belajar, dengan demikian guru bukan lagi mengajar tapi membelajarkan

Untuk itu selain penguasaan materi pembelajaran (kemampuan) professional,  guru sangat penting memiliki pengetahuan tentang didaktik dan metodik.  Sebagian dari ilmu didaktik dan metodik tersebut adalah kemampuan guru dalam menerapkan delapan keterampilan dasar dalam pembelajaran yaitu:  

1.Kemampuan membuka dan menutup pelajaran

Setiap proses pembelajaran selalu ada pembukaan dan penutup. Pembukaan pembelajaran yang baik sangat berpengaruh kepada kegiatan proses pembelajaran selanjutnya. Beberapa kegiatan pembukaan pembelajaran yang dapat dilakukan guru adalah introduksi (kegiatan mempersiapkan peserta didik dalam belajar), memberikan apersepsi, memberikan motivasi, dan pemberian acuan pembelajaran. Sekarang ini sudah dikembangkan pelaksanaan literasi di kelas, dimana siswa diberi kesempatan membaca topik atau tema tertentu sebelum pembelajaran dimulai. Literasi seperti ini belum masuk bagian pendahuluan pembelajaran.  

Sedangkan kegiatan penutup esensinya adalah kegiatan untuk menuntut peserta didik memahami hubungan antara bahan-bahan atau pengalaman yang telah dimiliki dengan materi/kegiatan yang baru dilakukan. Kegiatan penutup dapat diberikan dengan cara memberikan umpan balik, refleksi, merangkum pembelajaran, memberikan tugas untuk dikerjakan diluar pembelajaran dan informasi tentang pembelajaran berikutnya. 

Keterampilan membuka dan menutup pembelajaran ini sangat penting dipahami guru dan harus diterapkan, agar hal ini dapat terlaksana maka setting waktu sangat penting disusun dalam sebuah RPP.

2.  Keterampilan Bertanya

Salah satu aktivitas peserta didik dalam pembelajaran kurikulum  2013 mereka harus dapat dan berani bertanya, maka komunikasi dalam pembelajaran menjadi multi arah tidak lagi  hanya komunikasi satu arah yaitu antara guru dengan  siswa.

Untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan maka guru harus mampu mengajukan pertanyaan yang berkualitas. Pertanyaan yang berkualitas adalah pertanyaan yang dapat menggelitik, merangsang, dan membuat peserta didik berfikir. Guru sangat perlu merencakan menyusun pertanyaan yang baik, dan dihindari pertanyaan yang jawabannya bersifat koor/serenta

3.  Keterampilan memberi penguatan 


Penguatan (reinforcement)  merupakan respon terhadap suatu  perilaku yang dapat meningkatkan terulangnya kembali perilaku baik tersebut.  Pemberian penguatan bertujuan  meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pembelajaran, meningkatkan motivasi belajar, meningkatkan produktivitas belajar dan membuat perilaku baik terulang kembali. 

Penguatan dapat dilakukan dengan bentuk verbal  yaitu dalam bentuk kata-kata, kalimat pujian dan non verbal dapat dilakukan dengan cara mendekati , sentuhan, acungan jempol dan kegiatan yang menyenangkan. Penguatan dapat ditujukan kepada perorangan atau kepada semua peserta didik dalam satu kelas.

Penguatan diberikan dengan segera dan bervariasi ketika anak sedang atau telah melakukan aktivitas yang baik. Kalau kita jujur, banyak rekan-rekan guru yang terlalu miskin dan pelit memberikan penguatan.

4.  Keterampilan Mengadakan Variasi

Variasi dalam pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan gairah belajar  peserta didik serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan. Tujuan variasi ini diberikan guru adalah; meningkatkan perhatian peserta didik terhadap materi yang sedang dibahas, memberi kesempatan bagi perkembangan bakat peserta didik terhadap berbagai hal yang baik, memupuk perilaku positif dan kreatif, memberi peluang kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya. 

Variasi pembelajaran ini dapat diberikan guru dengan cara variasi gaya mengajar, variasi metode/pendekatan/model pembelajaran, variasi dengan pemanfaatn media pembelajaran, pola interaksi bahkan variasi tempat duduk siswa. Oleh sebab itu guru dituntut untuk senantiasa belajar dan mengikuti perkembangan tentang metode/strategi/pendekatan dan model pembelajaran yang efektif, kreatif, aktif dan kolaboratif

5.  Keterampilan Menjelaskan Materi Pembelajaran

Guru yan professional senantiasa meningkatkan keterampilan  menjelaskan, mereka paham tentang  apa dan  kapan saatnya  menjelaskan. Perlu di ingat orientasi pembelajaran saat ini adalah peserta didik, bukan guru.

Keterampilan menjelaskan adalah kemampuan guru dalam mendeskripsikan secara lisan tentang  suatu keadaan, fakta, konsep, prinsip, prosedur  yang dikandung suatu  materi sehingga pengetahuan dan keterampilan dan sikap dapat dipahami dan dilakukan oleh peserta didik. Keterampilan menjelaskan sangat terkait dengan kemampuan guru dalam  menguasai materi  ajarnya dan kemampuan berkomunikasi yang baik. 

6.  Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok kecil

Pola pembelajaran saat ini harus diarahkan ke dalam kemampuan bekerja sama (kolaboratif), bukan lagi menonjolkan kompetitif. Untuk itu guru harus mampu membentuk dan menggerakkan kelompok-kelompok belajar dalam kelas dan tetap dalam bingkai kebersamaan, peserta didik penting belajar berbagi, menerima dan memberi gagasan/ide/tanggaban terhadap sesuatu yang dipelajari. 

Agar hal ini dapat dicapai maka guru sangat penting untuk memahami bagaimana peserta didiknya dapat melaksanakan diskusi kelompok yang kondusif.

7.  Keterampilan Mengelola kelas

Pengelolaan kelas merupakan kemampuan guru mengatur kondisi kelas (learning manager) sehingga menjadi lingkungan belajar yang kondusif, tertib dan bersemangat . Lingkungan dan kelas harus dikelola sebaik mungkin sehingga dapat menantang dan merangsang peserta didik untuk belajar. 

Fungsi manajerial dan pengawasan kelas secara menyeluruh harus terkelola baik termasuk manajemen waktu. Dalam hal ini guru harus mampu mengendalikan, menjaga, merubah dan memberi warna aktivitas peserta didik.

8. Melakukan Pendekatan Individual dan Kelompok

Kemampuan melakukan pendekatan individual dan kelompok sangat terkait dengan kemampuan guru mengorganisasikan , memberikan perhatian, menjalin hubungan akrab terhadap peserta didik dan antar peserta didik. Maka kegiatan guru disini adalah memberikan bimbingan, membangun interaksi, memberi bantuan  serta memahami karakteristik peserta didiknya. 

Guru perlu bergerak untuk mendekati peserta didik tentang apa dan bagaimana peserta didiknya belajar, bagi yang mengalami kesulitan diberi bantuan dan yang cepat belajarnya disemangati dan diberi tugas tambahan lain, jika perlu dimanfaatkan peserta didik yang cepat membantu yang mengalami kesulitan.

Demikianlah delapan keterampilan dasar guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas/sekolah yang peting diingat kembali , sehingga pembelajaran yang dilakukan memberikan hasil yang  sesuai dengan harapan . Semoga